Marrying Uchiha Sasuke - Epilogue

Marrying Uchiha Sasuke

Epilogue

Tokyo Skytree
Image source : jpkedaibiao.com

Disclaimer : I do not own Naruto


Waktu adalah salah satu misteri dan hadiah yang begitu luar biasa. Satu jam bisa terasa seperti satu tahun, sedangkan satu tahun bisa terasa seperti satu hari. Entah kenapa, bagi Sakura, lima tahun telah berlalu dengan cepat. Seakan-akan kemarin Itachi baru saja menjabat menjadi penerus Perusahaan Uchiha. 

Uchiha Sakura memandang Ibukota Jepang dari ketinggian 634 m. Tokyo Skytree yang terdiri dari kaca-kaca besar memperlihatkan pemandangan gedung-gedung kota yang indah. Sakura telah lahir di sini, hidup di sini dan melewati banyak pergumulan di sini. Tentu saja, ia juga sempat berkeliling dunia dan melewati banyak rintangan, tapi Tokyo tetap memiliki tempat kecil di hati Sakura.

Jujur saja, berjalan-jalan bersama keluarga adalah salah satu impian setiap wanita. Namun, pagi itu, Sakura tersenyum tipis. Ia sedang berada di tempat ini sendirian, jauh dari suami, ayah, ibu dan mertuanya. Ia hanya menikmati waktunya sendirian dan untuk sejenak ia bersyukur... bahwa ia masih memiliki waktu untuk berdiam sendiri dan memikirkan tentang kehidupannya.

Ada banyak hal yang terjadi lima tahun ini. Ia berjuang untuk mengandung dan gagal berkali-kali. Ia berangkat ke luar negeri dan masih terus gagal untuk mendapatkan anak. Kemudian ia belajar untuk mensyukuri proses berat ini, berusaha untuk bersabar dan menghargai hidup. Sasuke dan dirinya akhirnya menyerah untuk memiliki anak di tahun kedua. Sakura sempat stress luar biasa dan berangkat ke Korea untuk mengambil jurusan Operasi Plastik lagi. Awalnya ia mengambil ini karena sejak lama, ia memang ingin berguru dengan pakar-pakar Korea. Untungnya, suaminya itu berangkat bersamanya dan mereka sempat menetap dua tahun di Korea. Jika ia berpikir-pikir lagi, ia bersyukur belum memiliki anak saat itu. Ia jadi bisa memiliki pengalaman yang tidak pernah ia bayangkan, bersekolah lagi di Korea.


Tokyo Skytree
Image source : tripadvisor.com
Jepang tidak banyak berubah. Namun, keluarga mereka berubah banyak. Mikoto tidak sedingin dulu, Fugaku sudah sering mengajak keluarganya makan malam dan berlibur bersama. Ayah Sakura sudah berani berbicara soal Konan. Ternyata selama ini ayahnya malu dan menyesal karena telah mencintai wanita yang lebih muda. Namun, pada akhirnya Sakura tetap menghargai keputusan ayahnya. Paling tidak sekarang ayahnya dan Konan hidup bahagia. Bersama dengan Konan, ayahnya menjadi lebih bersemangat dan memulai bisnis dengan lebih bekerja keras dan jujur. Oh ya, Ino sudah tidak lagi bersama dengan Kisame dan kembali berteman dengan Sakura. Wanita bermarga Yamanaka itu berkata, lebih baik single daripada berada di hubungan yang merusak dirinya. 

Apa lagi yang berubah? Ah, Hinata dan Naruto telah memiliki dua anak. Sakura sempat mengajarkan anak Hinata yang pertama melipat origami dan menulis kaligrafi. Ya, sekarang anak mereka yang pertama sudah bersekolah. Luar biasa bukan?

Walau ada banyak yang berubah, ada banyak hal yang tetap sama. Itachi tetap sibuk dan ambisius. Kisame tetap melakukan bisnis ilegal dan mengejar Konan. Sayangnya, Konan selalu menolak cinta Kisame. Kelihatannya wanita itu memang benar-benar mencintai ayah Sakura. 

Lalu bagaimana dengan Sakura dan Sasuke? Mungkin ini masuk ke kategori berubah dan tidak berubah. Yang berubah adalah komunikasi mereka. Sakura merasa mereka menjadi lebih dekat, lebih erat dan lebih dewasa secara emosional. Sekarang mereka bisa membicarakan masalah dengan lebih tenang. Mencari titik tengah dan saling mengerti satu sama lain. Mereka berdua memang melewati banyak masalah, tapi dalam setiap cobaan, mereka saling belajar dan membangun satu sama lain. 

Yang tidak berubah dari hubungan mereka? Ah. Sasuke masih tidak bisa bernyanyi dengan indah. Suara pria itu tetap sangat sumbang. Mungkin jika anak Naruto mendengar suaranya, anak itu akan segera menangis dan lari ketakutan. Entah kenapa Sakura hanya bisa tertawa jika membayangkan hal itu. Satu lagi yang tidak berubah adalah kesabaran Sasuke. Walaupun Sakura masih belum bisa memiliki anak, pria itu masih saja terus mengajarkan Sakura untuk bersyukur bersama. 


Sakura's Marchesa-Notte Resort 2017, Lanvin Resort 2017
Image source : marchesa.com , thedapifer.com 
“Apakah Anda tidak apa-apa?”

Suara seorang wanita paruh baya di sampingnya membuat Sakura menoleh ke samping.

Wajah ibu itu tampak khawatir. Sakura hanya bisa tersenyum tipis dan mengangguk.

“Wajahmu terlihat pucat,” ibu itu melanjutkan.

Sebenarnya Sakura merasa tidak enak badan dan agak mual. Tiga minggu ini Sakura terus mual dan muntah-muntah. Jika ini terjadi padanya dua tahun yang lalu, mungkin ia akan berpikir bahwa ini adalah gejala kehamilan. Sekarang ia tidak ingin berharap banyak. Mungkin ia hanya stress atau maag. Lima tahun menunggu kehamilan membuat Sakura terbiasa dengan harapan palsu.

“Aku tidak apa-apa.” Sakura tersenyum lagi, “Sungguh.”

Sakura akhirnya berjalan menuju ke lift Skytree Tokyo. Ia menekan tombol lift dan termenung sebentar sambil menunggu lift itu sampai ke lantai paling atas. 

“Bagaimana kalau aku benar-benar hamil?”

Sakura kali ini menatap lift itu dengan semakin bingung. Mungkin tidak ada salahnya ia pergi ke rumah sakit setelah ini. Walaupun jawabannya tidak hamil, Sakura merasa ia sudah cukup kuat untuk menerimanya. Ia sudah bersikeras apapun jawabannya, ia akan mengucap syukur. Ia masih hidup, masih memiliki ayah dan ibu. Suaminya sayang padanya, mertuanya juga baik padanya. Kurang apa lagi? Ya. Ia akan bersyukur, apapun jawabannya.

XXX


Armani Store, Ginza
Image source : japan-photo.de
Uchiha Sasuke melangkah masuk ke lantai sepuluh Armani Store di Ginza. Di lantai itu, terletak restoran mewah berbintang yang bernama Armani Ristorante. Restoran bergaya modern kontemporer itu memiliki unsur-unsur emas dan hitam. Ruangan itu terkesan mewah, tapi masih ada garis-garis kehangatan di setiap desainnya.


Armani Ristorante
Image source : e-architect.co.uk
Hangat seperti senyuman ayahnya dari kejauhan. Dengan sopan, Sasuke melambai ke meja di dekat jendela. Ayah dan ibunya sedang duduk berbincang-bincang di sana. Namun, Sasuke hanya bisa menatap ponselnya dan memikirkan istrinya. Sebenarnya Sasuke sudah setuju ingin mengantar Sakura ke rumah sakit, tapi wanita itu bersikeras tidak ingin membatalkan acara makan keluarga Sasuke.

Jujur saja, ia agak khawatir. Bagaimana jika Sakura kecewa lagi? Wanita itu sempat berkali-kali menahan tangis setiap kali dokter berkata bahwa tidak ada bayi di kandungannya. Kalau saja wanita itu mendengar kabar buruk lagi— Entah apa yang harus Sasuke lakukan. Mungkin malam ini, Sasuke akan membeli Apel Fuji favorit Sakura beserta Pocky rasa stroberi. Istrinya mungkin akan merasa lebih baik. Kekanak-kanakkan mungkin, tapi terkadang hal-hal simple bisa membawa senyuman di wajah istrinya.

“Sasuke, apa kabar?” Ayahnya bangkit dari tempat duduk dan menjabat tangan Sasuke, “Itachi tidak bisa datang hari ini, tapi ia menitipkan salam lewat telepon. Oh ya dimana Sakura?”


Fugaku's Maison Margiela, Sasuke's Ermenegildo Zegna
Image Source : mrporter.com , mrporter.com 
“Sakura ada urusan penting, tapi ia juga menitipkan salam. Aku baik, bagaimana dengan ayah?” Sasuke merasakan kehangatan dari sikap Fugaku.

“I’m good, Son,” Ayahnya tersenyum hangat, “Ibumu dan aku akan berjalan-jalan ke Machu Picchu besok.”

“Sounds like an adventure.” Sasuke langsung menatap ibunya dengan heran, “Sejak kapan Ibu suka mendaki gunung?”

“Ayahmu memaksaku berolahraga bersama setiap pagi,” Mikoto menghela napasnya, “Mungkin ia sudah lupa umur kita berapa.”

“Olahraga itu baik untuk kesehatanmu Ibu.” Sasuke akhirnya duduk dan merapihkan kemejanya, “Oh ya, apakah kalian sudah memesan makanan?”

“The usual degustation,” Mikoto berbicara dengan singkat dan sopan.

“Menu itu lagi?” Sasuke menghela napasnya, “Ibu tidak bosan?”


Armani's Degustation, Mikoto's Elizabeth Kennedy F/W 2017 Dress
Image source : pinterest.com , modaoperandi.com
“Ibumu tidak suka mencoba hal-hal baru.” Fugaku tersenyum hangat, “Mungkin ini salahku juga, karena saat kami muda dulu, aku terlalu sibuk bekerja.”

“Aku saja kaget ayah berhasil mengajak ibu pergi mendaki gunung.”

“Ia sudah menolak berkali-kali.” Fugaku meneguk air putihnya, “Untungnya aku tidak menyerah.”

“Kalian berhati-hati di Machu Picchu ya.” Sasuke tampak khawatir, “Ingat, jangan lupa stand by helikopter dan security. Ayah, kau memang sudah sehat sekali sekarang, tapi ingat kau pernah punya sejarah stroke. Ibu, kau juga hati-hati, kau tidak pernah mendaki gunung sebelumnya.”

“Sejak menikah dengan Sakura, kau jadi sangat perhatian dan cerewet.” Fugaku menjahili anaknya.

“Aku berlatih lebih bersuara agar tidak ada kesalahpahaman,” Sasuke melanjutkan.

“Well, that helps a lot,” Fugaku mengangguk, “Now, we know you care about us.”

“Hn.” 

Kali ini Sasuke terdiam sejenak. Walau ia sudah dewasa tapi agak malu juga mengakui bahwa ia semakin menyayangi orangtuanya. Yah, mau diapakan lagi, mungkin ini harga diri pria.

Kali ini ponsel Sasuke berdering. Ia tidak menggunakan silent mode karena ia khawatir akan ada sesuatu yang terjadi dengan istrinya. Benar saja, ternyata Sakura menelponnya saat ia dan keluarganya masih menunggu makanan.

“Ayah, ibu, sebentar ya, aku mengangkat telepon ini dulu.”

Setelah Sasuke ke luar restoran, ia langsung mengangkat teleponnya. Hatinya berdetak luar biasa keras. Entah kenapa ia khawatir, bercampur penasaran. Kenapa Sakura menelponnya?

“Halo? Sakura?”

“Sasuke, tadinya... aku ingin memberi tahu kabar ini sampai kita bertemu secara langsung, tapi—”

“Tapi?”

“Well, jadi aku ternyata sudah hamil hampir satu bulan.”

Kali ini Sasuke dapat merasakan kebahagiaan luar biasa meliputi seluruh jiwanya. Mungkin jika ia dapat melayang, ia sudah melayang sekarang. Ia akan menjadi ayah! Penantiannya selama lima tahun akhirnya datang. Ternyata memang benar, semuanya terjadi tepat pada waktunya. Jika ia bersabar dan bersyukur— penantian itu pasti akan datang sendiri.

“Sakura, aku sangat senang mendengarnya—”

“Jangan senang dulu.”

“Kenapa?”

Kali ini Sasuke dapat merasakan rasa khawatir di dadanya. Firasat buruk mulai menghiasi pikirannya.

“Ada kemungkinan aku bisa keguguran.”

“Apa ini karena usia?”

“Bukan soal itu sih—” Sakura terdengar agak percaya diri, “Aku sudah menjaga kesehatanku dan aku sudah mengikuti program agar janinku kuat... tapi—”

“Tapi?”

“Saat aku pulang dari rumah sakit. Aku menemukan Kisame pingsan di tengah jalan.”

“Lalu?”

“Aku berlari mengangkat Kisame yang pingsan ke dalam mobilku. Saat aku sampai di rumah sakit, aku khawatir janinku mungkin akan terganggu karena kontraksi yang berlebihan. Perutku terasa agak sakit.”

Kali ini Sasuke hanya bisa mendengar Kisame dan janin yang terganggu. Kenapa ada dua kombinasi aneh ini di satu kalimat yang sama? Pada tahun ketiga pernikahan mereka, Sakura bercerita soal kegugurannya yang dikarenakan oleh Kisame. Sebenarnya, Sasuke sudah memaafkan dan merelakan kejadian itu. Namun, kenapa Sakura harus bertemu dengan Kisame di saat penting seperti ini? Menyelamatkannya lagi. Bagaimana jika bayi mereka—

“Tapi, jangan khawatir.” Sakura terdengar lebih lembut dari biasanya, “Kau sendiri yang bilang, apapun yang terjadi kita harus bersyukur.”

“Sakura...”

“Aku akan tinggal di rumah sakit lebih lama lagi untuk pemeriksaan ulang. Kalau kau sudah selesai makan, boleh temui aku di rumah sakit?”

“Ya, tentu saja.” Sasuke menarik napasnya dalam-dalam, “Oh ya, Sakura...”

“Hm?”

“Stay strong. I’ll be there soon.”

Entah kenapa Sasuke bisa membayangkan senyuman wanita itu dari kejauhan.

XXX


University of Tokyo Hospital
Image source : u-tokyo.ac.jp
Uchiha Sakura dapat merasakan air mata turun dari wajahnya. Biasanya ia selalu menahan tangis, tapi kali ini ia tidak bisa menahannya. Sebenarnya ia sempat ragu ingin menyelamatkan Kisame. Pria itu telah melakukan banyak hal jahat padanya dan pada banyak orang. Namun, pria itu tergeletak di tepi jalan yang sepi dan wajahnya pucat. Jika Sakura tidak menolongnya, ia tidak tahu kapan orang lain akan segera menolongnya.

Sebagai seorang dokter, ia tahu tenaga medis harus bekerja dengan cepat... Jika tidak, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi pada pasien. Mungkin saja Kisame bisa meninggal dunia dan itu akan menjadi salah Sakura. Jika sudah melihat dan tidak menolong, apa bedanya Sakura dengan seorang pembunuh?

“Kenapa kau menangis?”

Kali ini suara suaminya membuat Sakura menghapus air matanya dengan cepat.


Sakura's Vilshenko pants, Sasuke's Ermenegildo Zegna
Image source : modaoperandi.com , mrporter.com
“Sasuke...”

“Apakah kau tidak apa-apa? Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi.”

“Aku menangis terharu.”

“Terharu?”

Sebenarnya Sakura tahu kemungkinan janinnya keguguran tidak sebesar Kisame meninggal. Masalahnya adalah apakah ia akan memilih kepentingannya sendiri atau kepentingan orang lain. 

Ia bersyukur ia akhirnya memilih untuk benar-benar memaafkan dan melakukan apa yang benar.

“Kisame hampir meninggal... Jika aku tidak datang tepat waktu, mungkin ia tidak akan ada di sini.”

“Bagaimana dengan anak kita?”

“Anak kita sehat. Dokter sudah melakukan pemeriksaan ulang dan janinku benar-benar masih kuat. Kata dokter, perasaan tidak enak di perut tadi, hanyalah faktor psikologis saja.”

“Sakura, that’s really good to hear.”

Kali ini suaminya memberikan sapu tangan dan menghapus air mata Sakura. Pria itu tampak lega dan turut berbahagia mendengar kabar dari istrinya. Akhirnya setelah sekian lama Sasuke dan Sakura akan menjadi orangtua. Penantian mereka, pengorbanan mereka, semuanya membuahkan hasil yang luar biasa.

“Aku bersyukur, aku tidak meninggalkan Kisame.” Sakura tersenyum tulus, “Kau tau apa kata-kata Kisame di ranjang rumah sakit tadi?”

“Apa?”

“Kisame berkata ia menyesal. Ia mengejar kekayaan, Konan, kekuasaan, tapi tidak merasa puas sampai sekarang. Aku dapat merasakan luka batin yang luar biasa di hati Kisame... Kemudian ia menangis, meminta maaf dan berterimakasih padaku.”

Kali ini Sakura menangis lagi. Ia tidak menyangka kata-kata itu akan keluar dari mulut Kisame. Ekspresi Kisame yang biasanya percaya diri berubah menjadi lemah dan tidak berdaya. Pria itu telah melewati begitu banyak hal di dalam kehidupannya.

“Kau tahu bahwa itu alasan ketiga aku menyukaimu bukan?”

“Eh?”

“Alasan ketiga adalah kau mau memaafkan.”

“Tapi waktu pertama kali menikah, aku masih belum memaafkanmu bukan?”

“Ya.” Sasuke mengangguk, “Tapi sebagian dari hatiku berpikir, kalau orang ini bisa memaafkan perbuatanku. Aku pasti akan mencintainya dengan segenap hatiku.”

Kali ini Sakura ikut mengangguk, “Semoga kita bisa mengajarkan itu pada anak kita, untuk saling memaafkan.”

Sakura mengelus perutnya dan berpikir sejenak. Sebenarnya selain bersyukur, ia belajar untuk memaafkan. Ia memaafkan ayahnya, Kisame dan Sasuke. Terlebih lagi, Sakura memaafkan dirinya sendiri dan masa lalunya yang penuh dengan kesalahan. Ia ingin bersyukur, menjalani hidupnya yang baru dengan penuh semangat.

Sebenarnya hidup ini seperti sebuah lomba lari, estafet. Kita hanya bisa berlari dengan sekuat tenaga dan memberikan baton kepada pelari berikutnya. Untuk saat ini, Sakura tahu pelari berikutnya adalah anaknya. Ia tidak lagi hidup untuk dirinya, tapi untuk masa depan sebuah generasi baru. Tidak hanya anaknya, tapi juga anak Naruto dan anak-anak negeri ini.

Apapun yang Sakura pelajari dan alami, akan menjadi elemen dalam hidup baru generasi berikutnya. Karena itulah ia hanya bisa terus belajar, bersyukur dan berlari sekuat tenaga.

Mungkin ini adalah alasan ia lama memiliki seorang anak. Ia harus dibuat dewasa dan matang terlebih dahulu. Ia juga dibuat lebih mudah berkomunikasi dengan Sasuke dan tidak lagi marah karena hal-hal kecil. Suaminya juga telah berubah menjadi lebih dewasa dan tidak lagi dingin dan jauh darinya. Sekarang Sasuke jauh lebih perhatian, tidak takut memberikan pendapatnya dan lebih hangat. Ia telah belajar untuk memaafkan dan bersyukur. Bahkan ia sudah menjadi lebih dekat dengan keluarganya dan mertuanya. Sekarang, jika anaknya lahir di kondisi seperti ini. Alangkah baiknya. 

Ia sadar sekarang...

Kita semua adalah bibit masa depan seseorang di luar sana.

We are building someone else’s future.

XXX

EPILOGUE END

XXX

A/N:

Thank you for reading this story until the end. Aku sangat senang kalian membaca cerita ini sampai epilog. Sebenarnya epilog ini terinspirasi dari kisah nyata. Temanku memiliki tante yang sangat sulit punya anak, kemudian saat punya anak, ia harus menyelamatkan temannya dan menggendong temannya ke rumah sakit. Ini bisa membahayakan kandungannya, tapi ia berdoa dan berserah pada Tuhan. Ia tahu bahwa meninggalkan temannya memang bisa membuat kandungannya aman, tapi itu adalah tindakan yang egois dan temannya bisa sekarat. Namun, ia akhirnya memilih tindakan yang benar. Ia mengedepankan kepentingan orang lain daripada kepentingannya sendiri dan menggendong temannya ke rumah sakit.

Tuhan baik dan mujizat sungguh nyata, tante ini sekarang punya dua anak kembar. Ia bersyukur juga lama baru bisa memiliki anak karena ia jadi lebih dewasa dan lebih bisa menghargai anaknya yang merupakan hadiah dari Tuhan.

Soal waktu, aku belajar banyak dari quotes orang bijak ini:

“New York memiliki perbedaan waktu 3 jam di depan California tetapi tidak berarti bahwa California lambat, atau bahwa New York lebih cepat. Keduanya bekerja berdasarkan waktu mereka sendiri "Time Zone."

Seseorang masih single. Seseorang menikah dan menunggu 10 tahun sebelum memiliki anak. Ada lagi yang punya bayi dalam waktu satu tahun pernikahan.

Seseorang lulus pada usia 22, namun menunggu 5 tahun sebelum mengamankan pekerjaan yang baik. Ada lagi yang lulus di 27 dan sudah bekerja di tempat impiannya. Seseorang menjadi CEO pada 25 dan meninggal pada 50, sementara yang lain menjadi CEO pada 50 dan hidup sampai 90 tahun.

Semua orang bekerja berdasarkan adanya 'Time Zone', Kolegamu, teman-temanmu, yang lebih muda mungkin "tampak" untuk mendahului kamu. Beberapa orang lain mungkin "tampak" di belakangmu. Ini hanyalah ‘Time Zone’
.
Kamu tidak terlambat ... Kamu tidak terlalu awal ... kau tepat waktu!
You are in your Time Zone.”


Dan aku juga jadi selalu belajar, aku sendiri juga tidak tahu hidupku akan menjadi seperti apa. Masa depan siapa yang akan terpengaruh oleh keputusan-keputusan hidupku. Aku hanya bisa terus berlari dan berusaha memilih yang tepat.

“He has made everything appropriate in its time. He has also set eternity in their heart, yet so that man will not find out the work which God has done from the beginning even to the end.” - Ecclesiastes 3:11 –

Sekali lagi terima kasih sudah membaca ini, aku belajar banyak dari menulis ini.  Saat aku awal menulis cerita ini aku masih SMA, masih banyak melakukan kesalahan dan harus banyak belajar. Aku merasa bertambah dewasa bersama dengan kalian. I can’t believe we’re already at the end of the story guys. Sungguh, kalian sangatlah berharga dan akan menaruh bibit dalam masa depan seseorang. Semua tindakan dan keputusan kalian bisa berpengaruh dalam kehidupan seseorang karena kalian penting, berharga dan luar biasa. You are loved, precious and gifted. 

Special thanks to my beloved best friend and beta reader: bitterchoco23.

Without her, I wouldn’t have made it this far. She is lovely, brave, an aspiring doctor-to-be and a life coach. Thank you for being my real life best friend, beta, I love you.

Once again thank you for your support dear readers and my beautiful beta reader! God bless!

<<Previous chapter

My First Love is My Housekeeper - Chapter 8

My First Love is My Housekeeper 

Chapter 8

Genmaicha

Tokyo Palace Hotel
Image source : visa.com

Disclaimer : I do not own Naruto


Uzumaki Naruto mengatur nafasnya dengan perlahan. Satu, dua, tiga, empat. Tarik napas pelan-pelan, keluarkan pelan-pelan. Ya. Ia yakin seratus persen, hal yang sedang ia lakukan sekarang bukanlah hal yang baik. Sejak kecil ia sudah ditanamkan nilai-nilai moral dari ibunya.

Tentu saja ia tahu bahwa menguping pembicaraan orang lain bukanlah hal yang patut untuk dilakukan. Namun, Hinata dan Itachi sedang berada di ruangan yang sama, berdua saja! Tentu saja Naruto harus mendengar pembicaraan mereka. 

Hinata pernah berbicara dengannya di Pulau Bintan mengenai hal ini. Wanita itu akan berbicara terlebih dahulu dengan Itachi mengenai keputusannya untuk menyerahkan diri ke kepolisian. 

Sebagai orang yang mencintai Hinata, tentu saja Naruto menghormati semua keputusan wanita itu. Di penjara pun, Naruto akan tetap mengunjungi Hinata. Siapa tahu dengan berjalanannya waktu, wanita itu akan mencintainya. Ia siap melewati segala rintangan untuk memperjuangkan gadis itu. Namun, perjuangan ini juga diliputi dengan rasa khawatir. Bagaimana jika ada hal yang buruk yang terjadi kepada Hinata?

Naruto menatap layar-layar CCTV yang ada di hapadannya dengan gugup. Sebenarnya ruangan VIP Palace Hotel, Tokyo tidak memiliki CCTV, tapi Naruto menyedikannya khusus untuk hari ini. Ia bekerja sama dengan pemilik hotel untuk mengurus semuanya. Ia melakukan ini untuk keamanan Hinata. 

Di balik layar CCTV, ruangan VIP itu terlihat dengan jelas. Sang artis kekinian dapat melihat dinding dan lantai kayu yang terlihat tradisional. Tirai-tirai kayu dan lentera kuno membuat ruangan itu terlihat kaku. Namun, ada sentuhan modern dari sofa dan jendela kaca yang memperlihatkan kota Tokyo. 

Sebenarnya ruangan ini mirip dengan Hinata... begitu tradisional, tapi juga begitu elegan dan modern. Wanita cantik itu tampak formal dengan blazer dan kemeja. Mungkin ini adalah pakaian yang biasa Hinata kenakan saat menjadi pengacara. Entah apa yang akan dikatakan pengacara cantik ini pada Itachi. Apakah Hinata akan mengeluarkan undang-undang hukum? Ataukah justru bernegosiasi soal kasus ini? Naruto sangat gugup menatap mereka berdua. Semoga saja, tidak ada hal buruk yang terjadi.

Hinata's Alexander McQueen Blazer & Itachi's Thom Sweeney Tux
net-a-porter.com , mrporter.com
“Itachi-san.” Suara Hinata yang halus bergema di ruangan CCTV, “Kau mungkin sudah mendengar bahwa kepolisian sedang mencurigaiku.”

Fokus Naruto langsung berpindah pada Itachi. Kakak laki-laki Sasuke itu sangat mirip dengan adiknya. Hanya saja kerutan di dahinya dan wajah yang cukup serius membuat pria itu tampak sedikit berbeda. 

“Apakah itu alasan kau menghilang dari Jepang?” 

Hinata menatap ke lantai dengan masam, kemudian ia menarik napas yang panjang.

“Ya.” Hinata tersenyum pahit, “Aku sudah gagal menjadi seorang pengacara.”

Kali ini Itachi mengangguk dan menatap Hinata dengan lebih lembut dari sebelumnya. Entah mengapa Naruto dapat merasakan rasa kasihan datang dari dalam hati pria itu. Meskipun Itachi terlihat seperti orang yang serius dan dingin, tapi kelihatannya pria ini lebih memiliki rasa empati daripada Sasuke.

“Kau tidak gagal.” Suara Itachi terdengar lebih lembut. 

“Jika aku menyerahkan diri ke kepolisian sekarang, karirku sebagai pengacara pasti akan berakhir...” Suara Hinata terdengar semakin samar-samar, “Namun, aku tahu... keputusan ini lebih baik daripada terus berlari dari kenyataan.”

“Kau tidak gagal,” Itachi melanjutkan, “Kau tahu kenapa?”

Kali ini Hinata terdiam. Meskipun ekspresi wajah gadis terlihat lesu, tapi Hinata masih mempertahankan tatapan matanya yang serius. Wanita itu masih mendengarkan Itachi dengan seksama... Entah kenapa Naruto merasa, ada sebagian dari diri wanita itu yang terus berharap. 

Harapan untuk terus menjadi seorang pengacara ada di bola mata hitamnya. Seakan-akan dokumen-dokumen palsu itu tidak ada. Seakan-akan Hinata bisa memulai lembaran yang baru. Tatapan itu sangat Naruto kenali. Tatapan itu adalah tatapan yang penuh dengan ambisi dan harapan.

Itachi melanjutkan, “Apakah kau tidak merasa aneh? Saat kau ditangkap waktu itu, polisi terus mencari bukti, tapi mereka tidak menemukan apa-apa.”

“Itu...”

“Saat kau dilepaskan dan kau kabur dari rumahmu, polisi tidak mengirim detektif untuk mencarimu.” Itachi terdengar semakin serius, “Kau hanya digosipkan di beberapa majalah dan tabloid, tapi namamu sama sekali tidak muncul di surat kabar.”

Kalau dipikir-pikir, Naruto tidak pernah mendengar kabar serius mengenai Hinata. Ia hanya tahu ada kasus semacam ini saat Kushina bertemu dengannya di Singapore. Sebenarnya kata-kata Itachi benar juga. Kenapa bisa seperti ini?

“Polisi tidak bisa menangkapmu, karena kau memang tidak bersalah.”

“Apa maksudmu Itachi-san?”

“Aku tidak jadi menyerahkan dokumen palsu itu ke pengadilan.  Semua sudah kubakar. Aku menjalankan proses hukum dengan jujur.”

Naruto dapat melihat kelegaan muncul di wajah Hinata. Sebenarnya latar belakang Naruto hanyalah sebagai artis dan pembisnis. Ia tidak tahu banyak soal hukum. Namun, secara logika... Jika tidak ada dokumen palsu di pengadilan, itu artinya Hinata tidak bersalah. Jika Hinata tidak bersalah itu artinya wanita itu bebas! Tidak perlu bersembunyi lagi, tidak perlu ditentang oleh Kushina lagi. 

Sekarang Naruto bisa dengan bebas mengejar wanita pujaannya! 

“Itachi-san.” Suara Hinata kembali terdengar, “Kenapa kau memutuskan untuk menjalani prosedur hukum dengan jujur? Bukankah dengan ini dendamu akan lebih besar?” 

“Hutang budi.”

“Atas?”

“Kau telah menyelamatkan nyawaku dulu. Ingat CPR yang kau berikan padaku?” Itachi melanjutkan, “Kau sebenarnya sangat baik Hinata-san. Maafkan aku, waktu itu aku terbawa emosi dan memaksamu.”

“Tidak. Aku tidaklah baik hati...” Hinata menutup matanya sejenak.

“Kalau kau tidak baik hati, aku apa?” Itachi menaikan satu alisnya, “Sudahlah, jika kasus ini selesai, aku harap kau bisa berhenti murung seperti itu.”

“Ah, maaf.” Hinata berhenti terlihat murung dan langsung memaksakan senyuman yang kaku.

“Untuk apa minta maaf?” Itachi menggelengkkan kepalanya, “Daripada tersenyum kaku, lebih baik kau pergi dan temui artis terkenal itu.”

“Naruto-kun?”

“Aku sudah mendengar gosipnya. Walau majalah hanya sempat memotret bayanganmu dari belakang. Namun aku tahu, wanita misterius Uzumaki Naruto itu kau bukan?”

“Aku tidak pantas untuk bersama dengannya. Aku bahkan tidak pernah berpacaran. CPR waktu itu adalah ciuman pertamaku. Aku tidak berhak untuk bersama dengan siapapun.”

Naruto langsung tersenyum senang. Jika CPR itu adalah ciuman pertama Hinata. Itu artinya... ciuman yang cepat dan dingin yang Hinata katakan waktu itu adalah CPR? Hanya prosedur kedokteran? Entah kenapa Naruto merasa sangat lega... Namun, di saat yang sama ia merasa kasihan. Meskipun Naruto tidak pernah berpacaran, itu karena ia memang cuek. Namun, Hinata berbeda. Wanita itu tidak pernah berpacaran, karena ia tidak punya kepercayaan diri. Hinata tidak mencintai dirinya sendiri. 

Apakah kita bisa menerima cinta orang lain, jika kita tidak mencintai diri kita sendiri terlebih dahulu? 

“Kau selalu seperti itu.” Itachi melipat tangannya dan menatap Hinata dengan serius.

“Seperti apa?”

“Menkritik dirimu sendiri, merasa tidak pantas, merasa tidak berhak untuk bersama dengan siapapun.”

Kali ini Naruto terdiam dan menatap Hinata dengan lembut. Sebenarnya kata-kata Itachi benar. Walaupun di Pulau Bintan, Hinata sudah terlihat lebih berani, tapi ternyata di hati Hinata masih ada rasa benci terhadap diri sendiri. Masih ada kritik yang begitu besar... Padahal di mata Naruto wanita itu begitu luar biasa.

“Itachi-san... aku memang tidak pantas dan tidak berhak untuk bersama dengan siapapun.”

“Lalu? Kita semua manusia. Kita tidak sempurna, tapi kita akan terus berkembang setiap hari.” Itachi mulai merapikan dasinya dan bangkit berdiri.

Pengacara itu terdiam sejenak. Entah kenapa ditegur oleh orang seperti Itachi tajam juga. Naruto merasa jika Itachi yang cukup jahat saja punya kepercayaan diri, masa seorang Hinata yang seperti bidadari itu malah membenci dirinya sendiri?

“Hinata-san, maaf tapi aku harus pergi setelah ini.” Itachi membungkuk, “Jangan terlalu banyak pikiran... Semoga saja setelah ini kau bisa menerima dirimu apa adanya.”

Ya... Jika saja Naruto bisa membuat Hinata melihat dirinya sendiri dengan lensa mata Naruto.  Mungkin wanita itu bisa melihat kebaikan hati, keberanian, kegigihan dan kelemah lembutan. Jika saja ia bisa meminjamkan bola mata ini... Wanita itu mungkin bisa melihat cahaya yang sebenarnya terpancar dari dalam diri Hinata. 

XXX

Naruto's Penthouse
Image source : interiii.com
Sang artis kekinian itu langsung kabur dari ruangan CCTV dan pulang ke rumah. Jika ia bertemu dengan Hinata di hotel, bisa rumit masalahnya nanti. Namun, jika dipikir lagi, ia jadi ingat percakapan di hotel tadi. Ia memandang dinding ruang tamunya dan menghela napas panjang. 

“Bagaimana caranya membuat orang lain percaya diri-ttebayo?” 

Naruto menaikan satu alisnya sambil berbicara sendirian.

Entah kenapa menyukai seseorang itu sangat memusingkan. Padahal ia pikir semuanya itu mudah, seperti di sinetron. Kalau sudah jatuh cinta, sudah melewati larangan ibu yang galak, kemudian melewati masa lalu yang kelam... Harusnya pasangan itu saling bersama bukan?

Naruto sudah jatuh cinta dengan Hinata, kemudian ia sudah menentang Kushina, Hinata juga sudah melewati jeratan hukum penjara. Sebenarnya Naruto harus bagaimana lagi? Semua rintangan sudah dilalui... Kenapa wanita itu masih tidak bisa menerima cintanya?

Apakah memang karena tidak percaya diri?

Kalau begitu harus bagaimana agar wanita itu percaya diri?

“Apakah aku harus terlihat bodoh?” 

Naruto menatap bayangannya di depan kaca, “Mungkin kalau aku terlihat bodoh, Hinata bisa lebih percaya diri.”

Ya, bisa juga bukan? Namun, selama ini Naruto sudah banyak berbuat hal bodoh. Lihat, wajahnya saja sudah cukup untuk membuat orang lain tertawa. Sebenarnya, peran-peran film Naruto juga rata-rata pasti punya unsur humornya. Jika dia sudah bodoh dan Hinata tetap tidak percaya diri.... Maka ia harus lebih bodoh lagi begitu?

“Argh! Tapi kalau aku tambah bodoh, nanti aku semakin tidak keren!” Naruto menggaruk-garuk rambutnya.

Ia sudah benar-benar pusing. Otaknya tidak pernah digunakan untuk mengejar wanita sebelumnya. Selama ini ia selalu mengikuti aba-aba dari direktur film dan membaca script. Ia benar-benar tidak tahu ternyata jatuh cinta di dunia nyata itu penuh dengan kegalauan.

Perlahan Naruto dapat mendengar suara pintu rumahnya terbuka. Kemudian ia langsung berlari ke pintu masuk, menunggu-nunggu Hinata yang baru pulang dari hotel.

Hinata's D&G Dress, Naruto's ASOS Shirt
Image source net-a-porter.com , asos.com
“Naruto-kun?”

Saat ia sampai di foyer, ia langsung menatap wanita pujaannya. Gadis itu sudah mengganti baju formal kantoran tadi dengan dress santai. Senyuman ringan di wajahnya terlihat lebih damai, berbeda sekali dengan ekspresi gugupnya sebelum berbicara dengan Itachi.

Sebenarnya kalau dilihat sekilas, Hinata yang elegan dan cantik memang terlihat percaya diri. Namun, kata orang memang benar, orang yang paling banyak tersenyum di depan umum.... biasanya paling sedih saat sendirian. Biasanya orang yang terlihat percaya diri, justru memiliki kegelisahan yang tinggi.

“Bagaimana percakapanmu dengan Itachi?”

Sebenarnya Naruto sudah tahu apa jawaban wanita itu, tapi rasanya aneh jika ia berkata ia menguping dari CCTV. Mungkin pengacara pintar ini justru yang akan membawa Naruto ke pengadilan. 

“Ternyata Itachi-san tidak menggunakan dokumen palsu yang kubuat, karena itulah selama ini polisi tidak mencariku.” Hinata tersenyum tipis, “Itu artinya aku masih bisa menjadi pengacara seperti dulu.”

“Lalu apa rencanamu sekarang-ttebayo?” 

Kali ini senyuman Hinata terlihat lebih cerah dari sebelumnya, “Paginya aku ingin menjadi pengacara dan saat pulang aku ingin terus bekerja di sini.”

“Kau masih ingin menjadi pengurus rumahku?” Naruto tersenyum senang.

“Iya bekerja di sini tetaplah kewajibanku. “ Hinata tersenyum, “Lagipula saat memasak di rumahmu, aku juga bisa mengolah resep baru.”

“Mengolah resep apa?”

“Aku ingin bereksperimen dengan teh dan mousse.”

“Teh dan tikus?!” Naruto langsung berteriak kaget, “Hinata kau ingin membuat teh yang diseduh dengan mayat tikus?!”

Kali ini Hinata menahan tawanya. Sang artis tidak tahu kenapa gadis itu ingin tertawa. Seingat Naruto mousse itu memang Bahasa Inggris dari tikus. 

“Naruto-kun... Mousse bukan mouse.” Hinata membetulkan.

“Memangnya berbeda ya?” Naruto menaikan satu alisnya.

“Mousse adalah makanan penutup yang bahan utamanya terbuat dari putih telur, krim dan gelatin.”

“Oh!”

Sekarang Naruto merasa dirinya bodoh sekali. Luar biasa, ia tidak mencoba untuk bodoh saja sudah bodoh. Jika ini tidak membuat percaya diri Hinata naik, ia tidak tahu ia harus menjadi sebodoh apa.

“Aku bisa memasak untukmu sekarang kalau kau mau.”

“Benarkah?” Naruto tersenyum lebar.

Hinata dengan cepat berjalan ke dapur. Wanita itu mulai membuka kulkas dan mengeluarkan beberapa bahan dasar seperti putih telur dan bahan-bahan lainnya. Eskpresi wajah wanita itu penuh dengan semangat. Jemari-jemari halus Hinata bekerja dengan cepat. Dalam sekejap bahan-bahan sudah tertata rapih di atas meja.

Seperti biasa, Naruto akan menonton televisi jika Hinata memasak. Dengan santai, Naruto memilih saluran televisi dengan remote control. Tidak ada acara yang menarik, sampai ia akhirnya menatap saluran televisi Uchiha.

“Hinata!” Naruto langsung berteriak kaget, “Sasuke telah menyiarkan Masterchef Selebriti!”

Acara itu sudah setengah jalan. Naruto dapat melihat Sasuke dan juri lainnya mulai mencicipi makanan-makanan peserta. Adegan Sakura dan Sasuke yang bertengkar langsung membuat Naruto kaget. Seingat Naruto, ia sudah meminta pihak televisi untuk memotong bagian pertunangan Sakura dan Naruto. Semoga saja adengan itu tidak disiarkan, kalau sampai disiarkan entah bagaimana jadinya.

“Ah, apakah itu Masterchef yang ada di Singapore waktu itu?” Hinata berbicara sambil mengocok telur.

“Iya.” Naruto langsung merasa lega, ternyata bagian pertunangan waktu itu dipotong.

Setelah banyak peserta dievaluasi, acara itu akhirnya selesai. Pemenangnya adalah pemenang yang waktu itu. Lucunya, jadi tidak ada sesi eliminasi. Sasuke telah membuat acara itu berakhir di satu episode saja.

Loh? Kenapa setelah ini malah ada ekstra klip? Naruto dapat melihat adegan terakhir Masterchef itu sekarang penuh dengan behind the scene. Di sana ada Naruto yang sedang bersin berkali-kali karena tepung terigu. Ah! Lagi-lagi dia sama sekali tidak keren! Bagaimana ini?

Kali ini Hinata tertawa kecil. Wanita itu melihat layar televisi sambil menata adonannya. Sebenarnya Naruto memang terlihat bodoh, tapi kalau kebodohannya bisa membuat gadis itu tertawa... Mungkin tidak apa-apa.

“Hinata, kalau kau tertawa kau terlihat lebih santai,” Naruto tersenyum hangat.

Kali ini Hinata tampak agak merona. Wanita itu langsung membungkuk dan mengucakan terimakasih. Lucu sekali!

Meringue
Image source : yuppiechef.com
Kali ini Naruto berjalan mendekati Hinata sambil menatap adonan mousse yang sedang dibuat. Adonan itu terdiri dari krim kocok yang kental, kemudian Hinata aduk dengan putih telur yang sudah naik. Putih telur yang mirip dengan awan itu Hinata aduk perlahan seakan-akan Naruto sedang melihat busa ringan dari wonderland.

“Wah seperti busa ya...” Naruto menatap adonan.

“Iya, mousse memiliki tekstur yang ringan dan halus.” Hinata menjelaskan, “Biasanya mousse dibuat dengan cokelat.”

“Loh, tapi hari ini kau membuatnya dengan teh bukan?”

“Iya, aku ingin bereksperimen dengan teh Gemaicha.” Hinata tersenyum hangat.

“Apakah ini teh yang kau suka?”

“Aku suka rasa dan sejarahnya... Apakah Naruto-kun tahu bahwa teh Genmacha dibuat secara tidak sengaja... Seorang pengerajin teh tanpa sengaja menjatuhkan beras di dalam teh hijaunya.”

Naruto dapat melihat tatapan Hinata semakin segar membahas teh ini. Kelihatannya teh Geinmacha ini sangat spesial.

“Teh ini lahir karena kecerobohan seseorang.” Hinata tersenyum hangat, “Terkadang apa yang dianggap kegagalan justru bisa membuahkan sesuatu yang baru dan indah.”

“Ah! Kau melakukannya lagi!” 

“Eh?” Hinata tampak bingung, “Bolehkah aku tahu apa yang aku lakukan?”

“Kau menatap ke langit pelan-pelan dengan wajah dreamy... Lalu mengatakan kata-kata mutiara.” 

“Ah. Maafkan aku.” Hinata langsung membungkuk.

“Tidak perlu minta maaf-ttebayo!” Naruto tertawa, “Justru menurutku kau terlihat seperti putri-putri dongeng ketika melakukannya.”

Kali ini wajah Hinata merona lagi.

“Sebenarnya hidup itu mirip Genmaicha.” Naruto mengambil serpihan daun teh itu dan menikmati aroma berasnya sejenak.

Genmaicha Tea
Image source : myjapanesegreentea.com
“Bolehkah aku tahu kenapa mirip?”

“Kita melewati banyak kegagalan... tapi di balik itu semua, kita justru menemukan hal baru yang indah.”

“Kau benar...”

“Contohnya aku gagal merapihkan rumah, jadi aku membutuhkan pengurus rumah. Lalu kau muncul Hinata. Kau adalah hal yang indah itu.”

Kali ini Hinata tidak berani menatap wajah Naruto... Mungkin ia malu. Mungkin saja kali ini kepercayaan Hinata bisa bangkit lebih tinggi lagi.

XXX

Minato telah menghabiskan waktu lima tahun untuk mencari anaknya. Keputusannya buat... ia akan menemukan anak itu. Sebenarnya ia mendengar bahwa mantan pacarnya, Kushina sebenarnya telah melahirkan di rumah sakit sahabatnya. Ia kenal sifat Kushina, ia tahu anak itu pasti miliknya.

Sebenarnya hatinya penuh dengan rasa khawatir. Bagaimana caranya Kushina tega tidak memberitahu padanya soal anak ini. Jika saja wanita itu mengatakan padanya, Minato pasti akan mengasuh anak itu.

Jujur saja cinta antara Minato dan Kushina tidak lagi ada. Minato sudah memiliki istri lain, walau hanya karena pernikahan bisnis. Namun, entah kenapa hatinya terus merindukan anak itu. 

“Bagaimana jika kau menemukan anak itu?” Detektif itu bertanya pada Minato.

“Aku akan melakukan segala cara untuk mendapatkannya kembali.”

XXX

TBC

XXX

Marrying Uchiha Sasuke - Chapter 21

Marrying Uchiha Sasuke

Chapter 21

Jam dan Waktu

Sydney Opera House
Image source : remotetraveler.com

Disclaimer : I do not own Naruto

Uchiha Itachi dapat merasakan keringat dingin turun di pelipisnya. Sydney Opera House malam itu tidak dingin dan juga tidak panas. Namun, ruangan opera yang besar ini berhasil membuat Itachi panas dingin. Struktur kayu dan emasnya yang kompleks berpadu dengan sempurna. Begitu sempurna sampai-sampai Mozart’s Requiem Lacrimosa yang dimainkan oleh Konan terdengar semakin kompleks. Hari ini ekspresi wajah wanita itu terlihat lebih misterius dan dingin.



Mozart menulis lagu ini sebagai lagu kematiannya sendiri. Requiem adalah komposisi terakhir Mozart yang tidak selesai karena ia meninggal sebelum lagu ini berakhir. Menurut Itachi, komposisi ini adalah salah satu komposisi klasik yang terdengar menakutkan. Tidak hanya karena sejarahnya, tapi juga karena nada-nadanya yang dingin dan menyayat-nyayat. 



“Itachi.”



Suara Kisame membuat Itachi semakin tidak tenang. Entah kenapa berada di dekat pria itu selalu membuatnya semakin khawatir. Itachi sudah tidak ingin bekerja sama dengan Kisame lagi. Kasus Menma sudah cukup untuk Itachi. Ia belajar dari kesalahannya. Walaupun ia ingin mengejar harta dan kekuasaan, tapi ambisinya tidak sebesar Kisame... Itachi tidak ingin menghalalkan segala cara hanya untuk kekuasaan. Ia sudah sangat menyesali apa yang terjadi pada Menma... Ia tidak ingin ada pihak lain yang terluka.

Kisame's Tom Ford Suit, Konan's Zuhair Murad Fall 2016 Couture, Itachi's YSL Suit
Image source: mrporter , vogue.com , mrporter.com



“Itachi, kau masih menyukai Konan bukan?”



Suara Kisame terdengar jelas di telinganya. Suara itu berpadu sempurna dengan suara orkestra Mozart’s Requeim. Kemudian suara soporano paduan suara menggema dengan serentak. Seakan-akan Itachi sedang berada di dimensi dunia yang berbeda. 



“Hubunganku dan Konan sudah berakhir. Aku tidak mengharapkan apa-apa.”



Kali ini Kisame tersenyum lagi. Kelicikan tidak luput dari wajahnya, “Kalau kau tidak suka Konan kenapa kau masih ada di sini? Ini sudah kesekian kalinya kau pergi ke konser Konan.”



Berusaha untuk menghindari tatapan mata yang tajam itu, Itachi akhirnya kembali melihat Konan yang ada di panggung.



Konan.



Wanita itu begitu anggun dan elegan. Jemari-jemari kecilnya memainkan flute dengan gemulai, layaknya putri raja yang sedang melukiskan kewibawaannya di atas kanvas. Jujur saja, Itachi tidak mengerti kenapa Konan yang lemah lembut dan elegan pernah berpacaran dengan Kisame. 



“Kau pasti merasa Konan tidak pantas untukku, tidak pantas untuk ayah Sakura... Jadi kau merasa kau lebih pantas untuknya bukankah begitu?”



Itachi tampak kaget, Kisame mungkin bisa membaca pikiran orang lain. Namun perkataan Kisame benar. Ia memang lebih baik dari Kisame, ia memang lebih baik dari banyak orang.



“Itachi, harga dirimu terlalu tinggi. Kau menghancurkan Perusahaan Konan karena takut wanita itu lebih sukses darimu. Lalu, ketika Konan didapatkan lelaki lain, kau malah tidak terima.”



“Tidak usah menerka-menerka sifatku.” Itachi mulai merasa tidak nyaman.



“Harga dirimu merusak orang-orang terdekatmu.” Itachi tersenyum licik, “Entah apa yang akan kau lakukan ketika adikmu yang akan dipilih menjadi penerus Keluarga Uchiha.”



“Aku akan menjadi Penerus Keluarga Uchiha,” Itachi menjawab dengan percaya diri, “Jadi kau tidak perlu berkhayal yang tidak-tidak.”



“Kau tahu tidak ada yang mustahil bukan?” Kisame melanjutkan, “Walau Sasuke tidak punya penerus dan proyeknya tidak sebanyak kau... Tapi kita tidak pernah tahu apa yang bisa adikmu lakukan.”



Mata-mata Sasuke untuk mengamati gerak-gerik Fugaku mungkin hebat, tapi mata-mata Itachi lebih hebat. Ia punya ibunya untuk mengawasi gerak-gerik ayahnya. Mikoto ada di pihak Itachi. Belakangan ini ibunya tidak berbicara banyak soal ayahnya. Jika ibunya tidak berbicara banyak, itu artinya tidak ada masalah. 


Kali ini lagunya berakhir. Lagu terakhir dari konser malam ini benar-benar memberi kesan yang berat di hati Itachi. Saat semua orang bertepuk tangan, Itachi ikut bertepuk tangan dengan kaku. Bahkan tangan Itachi pun terasa dingin seperti es.


Para penonton perlahan keluar dari concert hall, begitu juga dengan Itachi dan Kisame. Kedua pria itu segera pergi menuju ke restoran michelin yang berada di dalam gedung Sydney Opera House. Mereka bertiga sudah berjanji untuk menikmati post-theatre dining bersama di Bennelong.  

Bennelong Restaurant
Image source : sydneyoperahouse.com


Saat mereka masuk ke dalam restoran itu, Itachi terdiam sejenak. Bukan karena view pelabuhan Sydney dan bintang-bintang yang terlihat jelas dari kaca. Bukan juga karena fitur meja polimer-kuningan yang indah. Memang benar, perpaduan granit-baja dan cahaya keemasan restoran itu terlihat indah. Namun, Itachi terdiam karena hal lain.

Itachi's Hermes Apple Watch
Image Source : maguirephoto.com



Itachi menatap Apple Watch Hermes Blue Jean yang sejak tadi ia silent. Ia mendapat pesan dari ibunya.



“Ayahmu sakit di Paris. Kelihatannya ia akan segera mewariskan Perusahaan Uchiha. Ibu punya firasat warisan itu akan jatuh kepadamu.’



“Kisame, aku tidak bisa ikut makan malam.” Itachi menepuk pundak Kisame.



“Ada apa?”



“Urusan pribadi.”



Kali ini suara tawa Kisame membuat keringat dingin turun dari pelipis Itachi, “Apakah ini soal ayahmu?”



“Darimana kau tahu soal hal ini?”



“Aku membaca pesanmu di Apple Watch tadi. Fugaku sakit, tapi...”



“Tapi?”



“Kenapa kau tersenyum Itachi?”



Tersenyum? 



Ya. 



Itachi sedang tersenyum puas. Seharusnya ia merasa khawatir untuk kesehatan ayahnya. Namun ia justru tidak sabar untuk pergi ke Paris, untuk mengklaim haknya. Posisi yang seharusnya ia miliki. Kemenangan yang ia nantikan. Ia bekerja keras demi ini bahkan memalsukan identitas Menma demi ini... Perjuangannya selama ini berhasil. Ia tahu Sasuke belum punya anak, ia tahu ia memiliki lebih banyak proyek sukses. Itachi sudah menang. Itachi sudah menang telak. Waktu telah berbicara dan ini adalah waktu dimana ia mengambil segalanya.



“Aku tahu selama ini kau merasa aku jahat dan tidak berhak bersama dengan Konan. Namun, Itachi, kau harusnya bercermin sekali lagi. Siapa yang sebenarnya lebih jahat?”



Ia melihat wajah Kisame lagi.



“Siapa yang sebenarnya lebih jahat?”



Suara itu membuat Itachi merinding seketika.



XXX



Hôpital Européen Georges-Pompidou
Image source : hopital-georgespompidou.aphp.fr
Kabar gembira datang di Hôpital Européen Georges-Pompidou pagi itu. Uchiha Fugaku yang sempat dirawat inap di suite Ritz Paris, akhirnya menjalani tes-tes kesehatan di rumah sakit. Dokter menyatakan bahwa kesehatan Fugaku semakin baik.



Ya. Semakin baik.



Bukan semakin parah.



Padahal pria itu terkena stroke, tapi mujizat benar-benar nyata. Stroke Fugaku tidak mengancam nyawanya. Meskipun Sakura sudah lama lulus kuliah kedokteran, ia pernah mempelajari sedikit soal penyakit stroke. Penyakit ini terjadi ketika aliran darah ke otak terputus atau pecah akibat penyumbatan dari pembuluh darah. Kematian sebagian sel-sel di dalam otak membuat pasien dapat menjadi lumpuh atau susah bergerak. Jika pembuluh darah yang pecah atau tersumbat berkaitan dengan organ vital bagi kelangsungan hidup seseorang, orang itu bisa meninggal. Jika tidak vital, orang itu akan tetap hidup, tapi kelumpuhan bisa saja terjadi secara temporer.



Fugaku sungguh beruntung. Pembuluh darahnya tidak ada yang pecah, hanya tersumbat saja. Sumbatan itu juga bukan bagian vital. Hanya kaki dan tangan kanannya saja yang susah untuk digerakkan. Dengan terapi, obat-obatan dan makanan yang sehat Fugaku akan baik-baik saja. Meskipun hasil MRI sudah keluar dan nyawa Fugaku terbukti aman Sasuke masih saja terlihat tidak tenang. 

Sakura's Solace London Suit, Sasuke's Massimo Alba Top
Image Source : net-a-porter.com , mrporter.com



Tangan Sasuke begitu dingin, layaknya mengenggam bongkahan es batu. Terkadang tangan itu sedikit gemetar, seakan-akan dunia sebentar lagi kiamat. Sakura yakin bahwa suaminya sedang khawatir bukan main, tapi pria itu masih saja berusaha agar terlihat tenang. 



“Tenang saja Sasuke.” Sakura menatap wajah suaminya dengan lembut, “Bukankah dokter sudah berkata bahwa ayahmu akan baik-baik saja? Dengan terapi, ayahmu akan segera berjalan seperti biasa lagi.”



“Hn.”



Kali ini suara pintu yang terbuka bergema di lorong rumah sakit.


Mikoto's Luisa Beccaria Dress
Image source: modaoperandi.com
Mikoto yang elegan, pucat dan kaku keluar dari ruangan itu. Wanita yang seperti ratu musim dingin itu tampak serius. Rahangnya yang tajam dan tatapannya yang menusuk seakan-akan membuat semua orang yang memandangnya terdiam seperti batu. Layaknya medusa yang menawan dan berbahaya.



“Sasuke, ayahmu ingin berbicara denganmu.” Suara Mikoto pun terdengar tajam, “Kau juga Sakura.”



Kali ini Sasuke mengenggam tangan Sakura lebih erat. Mereka berdua berjalan masuk ke dalam ruangan dimana Fugaku berada. Aroma bunga Lilly menyambut Sakura, dilanjutkan dengan tatapan Fugaku yang lemas tapi tetap terlihat kuat. 



“Kalian tahu kenapa aku memanggil kalian ke sini?”



Meskipun Fugaku terbaring di rumah sakit, tapi pria itu masih memiliki karisma dan wibawa yang luar biasa. Nada bicaranya tetap penuh dengan kepercayaan diri, tapi tidak menjajah seperti Mikoto. Tatapan matanya tajam seperti Itachi, tapi masih memiliki kelembutan. Uchiha Fugaku, jika pria itu berbicara pasti ada hal yang sungguh penting yang ingin ia sampaikan.



“Aku hanya ingin mengatakan ini sebelum terlambat.” Fugaku menatap Sakura dan Sasuke dengan semakin dalam, “Seorang pemimpin yang benar adalah pemimpin yang tahu akan kelemahannya.”



Kali ini Sakura terdiam. Apakah ini artinya Fugaku ingin mengakui suatu kesalahan? Padahal ia begitu sukses. Apa sebenarnya kesalahan pria itu?



“Sasuke, Sakura, dengarkan aku.” Fugaku melanjutkan, “Aku pandai membangun hubungan bisnis, tapi aku gagal membangun hubungan keluargaku sendiri.”



Kali ini Sakura merasa iba terhadap Fugaku. Jika dipikir-pikir lagi, Mikoto tampak tidak peduli pada suaminya sendiri. Itachi masih ada di Sydney sekarang dan Sasuke juga tadinya tidak tahu apa-apa soal Fugaku. Keluarga Uchiha jarang berkumpul bersama di luar pertemuan bisnis— Jikalau mereka bertemu pun hanya berbicara soal proyek-proyek baru yang akan mereka selesaikan.



“Keluarga sebenarnya adalah hal yang sangat penting.” Fugaku tersenyum pahit, “Namun keluarga kita tidak punya kehangatan.”



“Aku tidak setuju.” Sasuke tampak serius.



Kali ini Fugaku terdengar agak terkejut, “Kenapa kau tidak setuju?” 



“Setiap keluarga punya kehangatan.” Sasuke melanjutkan, “Hanya tersembunyi saja. Aku belajar bahwa kita harus mencari kehangatan itu terus setiap kali.”



“Dimana kau mempelajari itu?” Tanya Fugaku.



“Pernikahanku.”


Dalam sekejap pipi Sakura terasa hangat. Satu kata itu berhasil membuatnya tersentuh. Ternyata Sasuke mempelajari hal ini dari pernikahan mereka berdua. Jika dipikir-pikir, Sakura juga merasa begitu. Menikah bukan berarti semuanya berakhir, happy ending selamanya. Justru Sakura dan Sasuke selalu berusaha untuk saling mengerti, bersabar dan mencari kehangatan keluarga mereka bersama. 


“Sasuke. Aku merasa lega, sebelum aku meninggal aku sempat berkata bahwa aku bangga padamu.” Fugaku tersenyum hangat.



“Jangan berkata begitu.” Sasuke melanjutkan, “Dokter berkata kau baik-baik saja. Nyawamu tidak terancam.”



“Ya, itu benar.” Fugaku terbatuk-batuk, “Namun kita tetap tidak tahu kapan kita akan dipanggil pergi dari dunia ini.”



“Fugaku-san, apakah kau tidak apa-apa?” Sakura tampak khawatir.



“Aku tidak apa-apa.” Fugaku tersenyum.



“Benarkah?” Sakura tampak lega.



“Ya.” Fugaku tampak tenang, “Sakura, Sasuke. Aku ingin meminta tolong, ada sebuah kotak di yang kusembunyikan di Bordeaux, di kebun anggur yang pertama kali kubeli.”



Kali ini wajah Sasuke terlihat kaget, “Bordeaux? Kotak? Maksudmu...”



“Sasuke apakah kau ingat? Di dalam kebun anggur Bordeaux kita ada villa besar. Di sana ada lukisan Menara Eiffel bukan? Di balik lukisan itu ada brankas dengan kode 1306.”



“Ayah... kau ingin aku membawa kotak itu ke sini?”



“Ya.” Fugaku tampak serius, “Aku akan segera pensiun dan aku ingin memberikan kotak itu beserta isinya untuk penerus Perusahaan Uchiha.” 



“Maksud ayah….”



“Sasuke. Aku ingin kau yang meneruskan Perusahaan Uchiha.”



XXX



Bordeaux Vineyard
Image source : djsdestinations.com

Uchiha Sasuke menatap perkebunan anggur yang pertama kali dibeli oleh ayahnya. Vineyard di pinggiran Kota Bordeaux itu terlihat begitu sejuk dan penuh dengan memori lama. Sebenarnya tempat ini adalah tempat terakhir dimana Sasuke, Itachi, Mikoto dan ayahnya berlibur keluarga. Saat itu Sasuke masih tujuh tahun, Perusahaan Uchiha belum sebesar sekarang... Ayahnya masih sempat berlibur bersama-sama dengan mereka.
Sasuke's Giorgio Armani Top
Image Source : pixabay.commrporter.com
Sasuke ingat, ia dan Itachi dulu bermain petak umpet di sela-sela pohon anggur dan berlari-lari di dalam villa. Kemudian, ayahnya selalu kebingungan mencari Sasuke dan Itachi untuk mengajak mereka makan malam. Setelah sudah ditemukan oleh ayah mereka, Mikoto pasti akan mengambil rotan dan memukul kedua putranya karena berkeliaran di kebun anggur sampai malam hari. 



Kali ini Sasuke tertawa. Entah apakah pengurus kebun anggur di sini masih menyimpan rotan menyeramkan ibunya.

“Ada apa Sasuke?” Suara istrinya membuat ia berhenti melamun.

Sakura's Ralph & Russo Couture Dress
Image source : zsazsabellagio.blogspot.com.au
“Hanya bernostalgia sebentar saja.”



Kali ini Sasuke mengetuk pintu villa tiga kali. Saat pintu itu terbuka, wajah pengurus kebun anggur yang sangat Sasuke kenal terlihat.

“Ibu Kurenai dan Paman Asuma, apa kabar?”



Wajah Ibu Kurenai terlihat sedikit berkeriput. Rambutnya masih hitam legam dan parasnya masih segar. Namun, Sasuke dapat melihat Ibu Kurenai semakin berumur. Paman Asuma justru terlihat lebih tua lagi. Kulitnya yang kecoklatan kontras dengan Kurenai yang putih pucat. Mungkin karena hasil bekerja di kebun anggur seharian, tapi Sasuke bisa melihat pria itu tampak lebih berusia. 

Kurenai & Asuma's Apron
Image source:pinterest.com

“Uchiha kecil bukan?” Asuma langsung menyambut mereka masuk, “Aku sudah mendengar dari Fugaku-sama. Apakah kau ingin mengambil kotak itu?”



Seperti biasa, Asuma selalu memanggilnya dengan sebutan Uchiha kecil. Walaupun Asuma bekerja untuk ayahnya, tapi mereka sempat dekat dulu. Asuma sering bermain dengan Sasuke dan Itachi di kebun anggur.



“Ya.” Sasuke mengangguk, “Oh ya, perkenalkan ini istriku, Sakura.”



“Yuhi Kurenai.” Ibu Kurenai membungkuk dan tersenyum ramah.



“Paman Asuma, walau bukan paman kandung, tapi Uchiha kecil sudah biasa memanggilku paman.” 



Sasuke dapat melihat istrinya membungkuk juga. Setelah formalitas kecil itu, Asuma kembali memimpin mereka ke ruang baca. Tempat di mana lukisan menara Eiffel itu berada. Ya, ruang baca dimana kotak misterius itu disimpan. Namun, Sasuke malah lebih memikirkan hal lain. Ia tidak bisa berkonsentrasi pada kotak itu, karena bau rokok dari tubuh Asuma.



“Paman Asuma apakah kau masih sering merokok?” Tanya Sasuke.



Sebenarnya Sasuke sudah tahu jawaban dari pertanyaannya. Sama dengan Fugaku, mereka berdua suka merokok. Sasuke tidak asing dengan bau yang menusuk dan tajam itu.



“Ya, bisa dibilang begitu.” 



“Dokter bilang salah satu penyebab stroke ayah adalah rokok,” Sasuke melanjutkan, “Ini hanya saran, tapi mungkin lebih baik paman mengurangi pemakaian rokok.”



Kali ini Asuma justru tertawa lepas. Sasuke tahu Asuma bekerja sebagai bawahan ayahnya, tapi pria itu memang sangat santai. Ia tidak segan-segan untuk bercanda dan mencairkan es.



“Uchiha kecil sudah dewasa sekarang.” Paman Asuma menepuk pundak Sasuke, “Dulu kau masih ngompol di celana dan bertindak seenaknya... tapi sekarang kau sudah peduli orang-orang sekitarmu!”



“Ngompol di celana?” Sakura kali ini tertawa lepas.



“Iya, padahal waktu itu dia sudah tujuh tahun.” Paman Asuma melanjutkan, “Ya kan Uchiha kecil?”



“Sudah. Sudah. Sudah.” Sasuke langsung berjalan lebih cepat, “Tidak usah di bahas lagi.”



Memalukan sekali. Ia jadi tidak terlihat keren di depan istrinya sendiri. Mungkin lebih baik memang ia mengambil kotak itu dan langsung terbang ke Paris. Entah apa lagi yang akan diceritakan Paman Asuma tentang masa kecilnya.



Sasuke menatap istrinya dengan agak gugup. Menerka-nerka apa yang sedang dipikirkan Sakura. Seorang lelaki berumur tujuh tahun masih ngompol di celana. Image Sasuke harus di taruh di mana sekarang? Sudah tidak pintar bernyanyi, suka ngompol di celana lagi. Jujur saja, Sasuke ingin kabur sekarang. Lebih cepat lebih baik.



Library
Image source : pinterest.com
“Ah. Kita sudah sampai di ruang baca,” Asuma tersenyum dan membuka pintu, “Kalian masuk berdua saja. Ini perintah dari Fugaku. Hanya kau dan Sakura-sama saja yang tahu kode brankas itu.”



Sasuke mengangguk, ia dan Sakura masuk ke dalam ruangan itu dengan perlahan. Akhirnya saat ini tiba juga. Saat dimana ia menjadi penerus Perusahaan Uchiha. Rasanya Sasuke merasa seperti sedang mengambil barang pusaka yang sangat ia tunggu-tunggu.



Namun entah kenapa perasaan di hatinya tidak seperti yang ia kira. Dulu, ia pikir ia akan merasa luar biasa bahagia. Ini yang sebenarnya ia mau bukan? Ayahnya pensiun, tapi tetap hidup sehat. Kemudian ia meneruskan perusahaan keluarganya dan membuat ayahnya bangga. 



Di tengah tumpukan buku dan laci-laci kayu mahoni, Sasuke melihat sebuah lukisan menara Eiffel kecil yang indah. Lukisan itu begitu mungil dan terlihat biasa, tapi dibaliknya ada pusaka yang berharga. 

Sasuke menghela napas panjang, kemudian ia menggeser lukisan itu. Seperti kata ayahnya, di balik lukisan itu ada brankas. Dengan teliti, Sasuke memutar nomor 1306.
Louis Vuitton Vintage Box
Image source : danielsantiques.com
Saat brankas itu terbuka, Sasuke dapat melihat sebuah kotak kecil.



Kotak yang sebentar lagi akan menjadi miliknya. Lucu sekali, ternyata semua usahanya selama ini dibayar dengan kotak sekecil ini. Kotak yang ukurannya sama seperti sebuah kotak kamera SLR. Entah apa isi dari kotak ini. Mungkinkah berlian? Ataukah barang antik yang mahal? 



“Sakura.” Sasuke mengambil kotak itu dan memberikannya kepada Sakura, “Maukah kau membuka kotak ini?”



“Eh?” Sakura tampak kaget, “Kenapa aku?”



“Tidak apa-apa.”



Sebenarnya Sasuke merasa tidak pantas membuka kotak itu. Ia merasa, kotak itu terlalu berat untuknya. Seakan-akan bendera kemenangan ini tidak benar-benar ia inginkan. Hatinya merasa ada yang salah ada yang kurang dan ia tidak tahu apa itu. Mungkin jika Sakura yang membuka kotak itu, Sasuke tidak akan merasa semakin pusing. 



“Sasuke.” Sakura membuka kotak itu dengan wajah yang kaget, “Ini...”



“Ada apa?” 



Sasuke yang tadinya sempat menutup matanya, akhirnya memberanikan diri untuk melihat isi kotak itu.



Patek Philippe Supercomplication
Image source : hodinkee.com
Sebuah jam tangan pocket watch kuno yang terbuat dari emas tampak begitu mempesona. Sasuke mengingat kelinci dari Alice in Wonderland membawa jam juga. Kebetulan jam yang ada di dalam kotak itu memiliki model yang sama, tapi Sasuke tahu ini bukan jam biasa.



Ayahnya menyimpan jam ini di dalam brankas karena jam ini hanya ada satu di dunia. Harganya $24,000,000 atau mungkin lebih. Sebuah karya legendaris dari Patek Phillippe yang bernama ‘Supercomplication’.



“Ini bukan jam biasa bukan?” Sakura tampak kaget, “Jam ini indah sekali.”



“Supercomplication adalah jam tangan terumit yang dibuat oleh Patek Phillipe.” Sasuke menatap jam itu dengan kagum.  



Jam itu memiliki desain paling kompleks yang berhasil dibuat tanpa bantuan komputer. Jam saku emas 18 karat ini memiliki 24 fungsi yang berbeda, termasuk kalender abadi, matahari terbit dan terbenam. Namun salah satu yang paling mempesona adalah peta rasi bintang New York yang ada di tengah-tengah jam itu. Butuh waktu tiga tahun untuk merancang jam ini dan lima tahun lagi untuk memproduksinya. 



“Jam ini terlahir karena persaingan antara banker sukses Henry Graves dan James Ward Packard, pendiri dari Packard Motor Car Company,” Sasuke menjelaskan, “Mereka berdua berlomba, siapa yang berhasil memiliki jam paling kompleks di dunia.”



“Kemudian siapa yang menang?” Tanya Sakura.



“Apakah penting siapa yang menang?” Sasuke tersenyum pahit, “Mereka mencoba untuk membeli jam terbaik, tapi mereka tidak bisa membeli waktu. Pada akhirnya keduanya meninggal dunia dan jam ini ada di tanganku.”



Sasuke terdiam dan menatap jam itu sekali lagi. Apakah yang Sasuke cari dari kemenangan? Ia dan kakaknya dulu sempat bermain bersama di kebun anggur ini, bercanda dan tertawa. Namun, mereka sekarang terus bersaing. 



Sebenarnya Sasuke sudah mendapatkan apa yang paling ia inginkan... Menjadi anak yang membuat bangga ayahnya. Menjadi penerus perusahaan besar ini hanyalah bukti bahwa ayahnya sudah bangga padanya. Ia tidak memimpikan berada di ruang rapat dan menjadi seorang pemimpin tertinggi. Ia juga tidak memimpikan harta warisan. Ia hanya ingin ayahnya bangga dan ia sudah mencapainya. Sekarang apa? 



Apa yang akan terjadi sekarang? Bagaimana perasaan kakaknya nanti saat tahu bahwa Sasuke yang menang? Malu? Sasuke tidak memikirkan itu sebelumnya. Ia hanya memikirkan dirinya sendiri... Ia tidak membayangkan perasaan seorang Uchiha Itachi. 



Seorang kakak, kalah oleh adiknya sendiri... Entah bagaimana perasaannya. Kehangatan keluarga mereka harus Sasuke cari, harus Sasuke pertahankan. Secara logika seharusnya Itachi yang menang. Ia anak sulung dan punya leadership skill yang luar biasa. Kemenangan ini tidak adil.



Lagipula...



“Sasuke?” Sakura menatap suaminya dengan bingung.



Wanita itu tampak cantik hari ini— Well, selalu lebih cantik setiap hari. Namun, hari ini Sasuke memandang istrinya dan jam klasik itu. Ia melihat betapa berharganya jam mahal itu... Namun sebuah benda mati tetaplah tidak bisa mengalahkan kecantikan seseorang yang kita sayangi.



Jika Sasuke mengambil jam ini dan menjadi penerus Perusahaan Uchiha, waktunya dengan Sakura akan semakin berkurang drastis. Kemudian siapa yang akan mendukung Sakura? Selama ini Sasuke rela membatalkan beberapa proyek besar agar bisa mendukung Sakura di tengah masalah-masalah wanita itu. Namun, sekarang Sakura membutuhkan Sasuke lebih lagi dari yang dulu.



Sekarang wanita itu sedang sulit untuk memiliki anak jika Sasuke tidak ada di sana... Siapa yang akan berada di sisi Sakura? Jika Sasuke menjadi penerus Perusahaan Uchiha, Sasuke bisa mengenakan jam paling mahal di dunia, tapi ia akan kehilangan sesuatu yang paling berharga...



Waktu.



Waktu bersama orang yang ia cintai.



Jika ia mengambil posisi itu ia akan kehilangan waktu bersama Sakura, kesempatan kedua untuk berbaikan dengan Itachi dan waktu untuk merawat ayah dan ibunya di masa tua. 



“Aku... tidak ingin menjadi penerus Perusahan Uchiha.”



“Kenapa?”



“Karena aku menemukan sesuatu yang lebih penting dari itu.”



XXX

Place de la Bourse
Image source : bordeaux-tourism.co.uk



Uchiha Sasuke dan Sakura akhirnya meninggalkan kebun anggur dan menonton teater di kota. Sakura mengenggam tangan suaminya di Place de la Bourse. Bagi Sakura, tempat ini adalah tempat terindah di Bordeaux.



Sebenarnya tempat ini berperan sebagai alun-alun kota. Namun, bangunan yang terletak di tengahnya sungguh mempesona. Sakura mengagumi bangunan elegan neoklasik abad ke-18 ini. Menurutnya, La Place de la Bourse adalah tempat yang mengingatkannya akan istana-istana di dalam cerita dongeng. Ada air mancur besar di tengah-tengah istana, kemudian ada taman kecil di sekitarnya.



Meskipun tempat ini indah, tapi mereka sudah menghabiskan waktu yang cukup lama di tempat ini. Memang sih, Sakura senang bisa berbicara banyak dengan Sasuke di tempat yang indah. Namun, mungkin sekarang sudah waktunya mereka pergi ke tempat yang lain.



“Sasuke.” Sakura menatap wajah suaminya, “Tempat ini indah, tapi kita lama sekali diam di sini. Kau tidak ingin menjelajahi tempat lain?”



“Bersabarlah,” Sasuke melanjutkan, “Sebentar lagi kau akan melihatnya.”



“Melihat apa?”



Place de la Bourse itu mulai menghasilkan kabut. Sekarang Sakura mengerti kenapa ia harus menunggu. Keindahan tempat ini terlihat begitu mistikal karena gumpalan kabut yang menghiasi mereka. Rasanya benar-benar seperti berada di negeri dongeng. Ada istana, air mancur dan kabut sihir. 

Kabut
Image source : bordeaux.fr
“Le Miroir D’eau.” Sasuke melanjutkan, “Ini tempat yang sangat kukagumi.”



“Indah sekali.... Aku tidak menyangka hal ini akan terjadi.” Sakura tersenyum, “Tempat ini sama sepertimu, sulit diterka.”



“Jangan diterka.” Sasuke mencubit pipi istrinya, “Lebih baik tanya saja.”



“Kenapa kau memberikan posisi itu pada kakakmu?”



“Bukankah sudah kujawab tadi?” Sasuke menaikan alisnya, “Aku sudah menemukan hal yang lebih penting dari itu.”



“Ah. Iya juga ya.” Sakura mengangguk, “Tapi aku ingin jawaban yang lebih detail. Apa yang lebih penting dari posisi itu?”

Sakura's Ralph & Russo 2016 A/W Couture, Sasuke's Polo Ralph Lauren
Image Source: trendprivemagazine.com , mrporter.com
“Keluargaku, waktuku bersama mereka... dan keluarga baru yang akan kubangun denganmu.” Sasuke menjawab dengan perlahan, “Apakah masih kurang detail?”



Kali ini Sakura merasakan perasaan hangat yang ada di hatinya. Sasuke merelakan jabatan penting agar memiliki waktu lebih dengan keluarga. Itu adalah sebuah pengorbanan yang luar biasa. Bagaimana dengan diri Sakura? Ia tidak terlalu sibuk menjadi dokter operasi plastik karena pasien-pasiennya hanya operasi kecil saja. Sebenarnya Sakura punya banyak waktu... tapi terkadang ia justru tidak memanfaatkan waktu itu dengan baik.



“Meski kita memiliki waktu... kuantitas tetap saja tidak bisa mengalahkan kualitas.” Wanita bermarga Uchiha itu menggenggam tangan Sasuke dengan lebih erat.



“Apa maksudmu?”



“Begini contohnya. Aku punya waktu banyak dengan ibuku, tapi terkadang aku terlalu sibuk menatap ponselku.” Sakura menjelaskan.



“Oh...” Sasuke mengangguk.



“Aku harap aku bisa menghabiskan waktu yang berharga ini dengan lebih berkualitas,” Sakura tersenyum.



“Apakah kau sedang melakukannya sekarang?”



“Aku harap begitu.”



“Bagus kalau begitu.” Sasuke mengusap kepala Sakura dengan hangat.



“Aku harap aku juga bisa menerapkannya untuk ibu dan ayahku. Terutama ayahku, aku masih kesal dengan ia dan Konan. Oh ya, Ino juga... Kami masih belum berbicara.”



“Apakah kau tidak ingin mencoba untuk menghabiskan waktu dengan mereka?” Sasuke bertanya dengan tulus, “Mungkin belajar menyelesaikan masalahmu dan mereka dengan baik-baik.”



“Terakhir kali aku berbicara soal Konan, ayahku mengurung diri di kamar. Lalu terakhir kali aku bertemu dengan Ino, ia marah besar.” Sakura tertawa masam, “Kurasa lebih baik tidak perlu.” 



“Terakhir kali itu kapan?” Sasuke menaikan satu alisnya, “Waktu merubah banyak orang.”



Kali ini Sakura terdiam. 



“Setiap orang selalu berubah, kau juga sama,” Sasuke melanjutkan, “Saat SMA kau stalker yang aneh tapi sekarang kau telah menjadi orang yang sukses dan cantik.”



“Stalker yang aneh? Kurang ajar! Lalu kenapa kau berkata pada Hinata, kau hanya ingin menikah denganku saja? Kenapa kau tidak mencari wanita lain? Apakah sebenarnya kau sudah diam-diam menyukaiku?”



“Menyukaimu? Saat itu?” Sasuke tertawa seakan-akan itu tidak mungkin.



“Sasuke, kau membuat adegan ini berubah menjadi sangat tidak romantis,” Sakura terdengar kecewa, “Jadi sebenarnya kenapa kau menikah denganku? Apakah sejak awal kau sudah suka padaku?”



“Kau ingin jawaban yang jujur atau bohong?”



“Bohong.” Sakura 



“Karena aku mencintaimu sejak awal.”



Kali ini hati Sakura berdebar kencang luar biasa. Ia tidak pernah mendengar Sasuke berkata bahwa ia mencintai Sakura. Walaupun ia sudah bisa menerka perasaan cinta itu dari setiap hal yang Sasuke lakukan. Namun, kata-kata ini sungguh membuatnya kaget.



“Itu jawaban yang jujur atau bohong?” Suara Sakura terdengar lemas.



“Bohong.”



“Sasuke!” Kali ini Sakura memukul bahu suaminya dengan kesal.



“Katanya kau ingin jawaban yang bohong!” Sasuke mengelak.



“Sekarang aku mau yang jujur!”



“Hn...” Sasuke berjalan menjauhi istrinya.



Kemudian Sakura berjalan lebih dekat. “Jadi jawabannya apa?”



“Ada tiga alasan.”



“Apa itu?”



“Alasan pertama: karena aku ingin menebus kesalahanku,” Sasuke melanjutkan, “Alasan kedua: karena kau bukan putri perusahaan besar, kau tidak mungkin mencuri informasi dari perusahaanku untuk keuntungan perusahaanmu.”



Kenapa jawabannya logis semua? Sebenarnya Sakura tidak heran karena saat ia menikahi Sasuke ia juga tahu pria ini memang pembisnis sukses yang egois. Sekarang Sakura jadi agak kecewa karena ia menanyakan alasan Sasuke menikahinya.



“Alasan ketiga?”



“Rahasia.”



“Sasuke!” Sakura memukul pundak itu lagi, “Kenapa kau membuatku penasaran terus?”



“Kalau tidak penasaran nanti kau tidak mau menghabiskan waktu denganku lagi.”



“Sasuke jawab aku...” Sakura makin penasaran.



“Ah!”



Kali ini Sakura terjatuh tersandung. 



Kabut-kabut tadi mulai hilang dan berubah menjadi... air?



Ternyata sekarang Sakura sekarang berada di jalan yang licin. Ia seharusnya lebih berhati-hati. Namun, setelah ia sadari, air yang ada di jalanan itu semakin banyak. Tunggu— Lebih tepatnya kelihatannya tempat ini sebentar lagi akan menjadi kolam air.



“Sakura, kau baik-baik saja?” Sasuke berjalan mendekati istrinya dan mengulurkan tangannya.



“Terima kasih.” Sakura menerima uluran tangan itu.



Saat ia dibantu berdiri oleh suaminya, ia dapat merasakan kakinya semakin dingin karena genangan air itu semakin tinggi.



“Sasuke... tempat ini banjir?”



“Tenang saja.” Sasuke tampak santai, “Tempat ini memang akan menjadi kolam, tapi kolamnya dangkal, hanya 2 cm, bahkan tidak lebih dari mata kaki.”



“Tapi—”



“Sudah tidak usah khawatir...” Sasuke memberikan jaketnya untuk menutupi baju Sakura yang basah, “Kau selalu saja khawatir berlebihan.”



“Ya. Sebenarnya jika dipikir-pikir lagi, aku juga agak khawatir akan masa depan.”



Entah kenapa kata ‘khawatir’ mengingatkan Sakura akan banyak hal. Apa mungkin ini masalah wanita? Jika di lihat mungkin otak Sakura mirip dengan benang kusut sekarang. Dari satu kata ‘khawatir’ mengalir menjadi pikiran-pikiran lain. Apa yang membuat Sakura khawatir?



Sebenarnya saat ia melihat Sasuke dan pengorbanan pria itu demi keluarga, Sakura jadi khawatir. Apa jangan-jangan Itachi akan menggunakan kebaikan hati Sasuke untuk hal yang buruk? Atau mungkin Itachi akan menjadi tambah jahat dan bekerja sama dengan Kisame?



Berpikir soal Kisame dan Itachi, ia jadi ingat Konan. Entah kenapa mengingat wanita itu, ia jadi mengingat ayahnya. Sakura juga tidak begitu dekat dengan ayahnya. Ada banyak masalah. Walau tadi ia pikir ia bisa lebih dekat lagi dengan ayahnya dan mencoba menghabiskan waktu lebih banyak lagi—tapi entahlah. Bagaimana jika tidak bisa?



“Ada apa Sakura?” Sasuke menghentikkan lamunannya.



“Bagaimana jika Itachi justru memanfaatkanmu, semakin jahat—”



“Ya dijalanji saja.”



“Kenapa kau santai sekali?” 



“Kita sudah berusaha dengan apa yang bisa dilakukan sekarang,” Sasuke menjelaskan, “Setelahnya ya kita lihat saja.”



“Tapi...”



“Aku sudah merelakan posisiku agar dekat denganmu dan keluarga. Kalau memang kakakku tetap jauh dariku dan penuh kecurigaan ya sudah, kalau mau dekat ya bagus.” Sasuke melanjutkan, “Kalau terlalu berpikir jauh, berpikir soal banyak rekan bisnisku, Kisame dan lain-lain tidak akan pernah habis.”



“Iya sih... Intinya menghabiskan waktu untuk hal yang sebenarnya tidak perlu ya? Yang penting aku sudah tahu aku harus berbuat apa, contohnya nanti aku akan mencoba lebih dekat lagi dengan ayahku. Kalau ia tidak mau ya sudah begitu?”


“Ya, disederhanakan saja.” Sasuke mengangguk, “Kau sendiri yang berkata waktu itu yang penting kualitas bukan kuantitas.”


Seperti biasa. Logis sekali dan pintar menyindir.



Kali ini di tengah kolam air itu, Sasuke membisikkan sesuatu di telinga Sakura.



“Tapi yang paling penting ini.” Bisikan Sasuke terdengar lembut, “Vivre sans aimer n’est pas proprement vivre.”



Bahasa Perancis itu tidak terdengar asing di telinga Sakura. Ia mengerti apa yang Sasuke katakan padanya. Kalimat itu terdengar tulus dan hangat.



To live without loving is to not really live.



Dengan waktu yang ada sekarang seharusnya Sakura tidak terlalu berpikir soal hal-hal negatif terus. Ia tidak benar-benar hidup jika ia tidak menjalani apa yang ia miliki dan alami sekarang dengan kasih. 



Sasuke telah memutuskan untuk fokus dalam mengasihi daripada bersaing. Suaminya telah menemukan bahwa kasih itu yang benar-benar mengisi waktunya. Yang benar-benar membuatnya hidup.

Pada akhirnya, masalah akan selalu ada di dunia... tapi Sasuke memutuskan untuk lebih mencintai kasih daripada membenci kejahatan.



Sakura juga harusnya belajar dari pria itu.



Kasih yang sabar dan penuh rasa syukur itu seharusnya lebih besar dari apapun— bahkan lebih besar dari waktu.



Entah kenapa waktu terkesan lebih lama ketika Sasuke menatapnya dengan kedua mata yang tulus itu.



Seharusnya ia bersyukur telah dicintai seperti ini.


Place de la Bourse
Image source : megicaleurope.blog.hu


XXX



THE END



XXX



A/N:

Terima kasih sudah membaca cerita ini, I will see you next year for the epilogue!

Chapter ini berkesan untukku karena akhirnya MUS berakhir. Masih ada banyak konflik yang tidak terselesaikan, tapi menurutku konflik utamanya telah selesai. Sasuke dan Sakura telah menemukan apa yang benar-benar penting. Kau tidak bisa merubah orang lain, tapi kau bisa merubah cara pikirmu sendiri. Sisanya hanya waktu yang berbicara.

Akan selalu ada hal yang buruk, tapi kebaikan juga akan tetap ada. Jika kita lebih melihat kebaikan itu, kedamaian pasti datang ke hati kita.

Akhir cerita ini juga seperti kado Natal untukku, karena Natal juga mengingatkanku akan kehangatan kasih. Aku sedang belajar ukulele untuk pertama kalinya, dan entah kenapa susah banget belajar O Holy Night! Padahal itu lagu natal favoritku. Apakah ada yang tahu chords yang lebih mudah dari ini? If you do, please let me know! Hehehe.  Entah kenapa susah sekali bagiku untuk memainkan Dm, B dan G7.

C        C7        F                  C
O holy night, the stars are brightly shining;
C                      G                C
It is the night of the dear Savior's birth.
C             C7         F             C
Long lay the world in sin and error pining,
          Em                    B               Em
Till he appeared and the soul felt its worth.


[Chorus]

  G                        C
A thrill of hope, the weary soul rejoices,
    G                 C
For yonder breaks a new and glorious morn.
Am              Em
Fall on your knees,
    Dm               Am
Oh, hear the angel voices!
  C G   C F
O night divine,
  C        G            C
O night when Christ was born!
  G G7    C Dm  C           G       C
O night, O holy night, O night divine!


Thank you so much guys!

Aku merasa waktu-waktu yang aku habiskan untuk cerita ini sangatlah berharga juga, aku berterimakasih kepada kalian yang sudah membaca dan menunggu cerita ini. Kalian telah memberikan kehangatan ke dalam hatiku.

Selamat natal dan tahun baru! Semoga kalian juga bisa menikmati akhir tahun ini bersama dengan orang-orang terdekat kalian ! 

Merry Christmas and happy new year!!! 

Sampai jumpa di epilog cerita ini di tahun depan! 


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...