Marrying Uchiha Sasuke Chapter 10

08:51 Melissa Gabriele 6 Comments

Marrying Uchiha Sasuke

Chapter 10

Berdarah Dingin



Sasuke's Private Jet
Image source : airlinereporter
Sudah tiga hari berlalu semenjak dirinya selesai dirawat di rumah sakit dingin itu. Ada perasaan tidak enak yang masih menyelimuti Sakura. Jujur saja, ia merasa beruntung dirinya tidak menjadi gila. Jika ia cacat mental, mungkin sekarang Sakura sudah berada di rumah sakit jiwa. Untungnya Sakura menegakan bahunya dan mengenakan topengnya. Sakura tidak membuka mulut mengenai Itachi, Kisame maupun apapun. Ia hanya berwajah pucat dan sedih. Seperti layaknya seorang ibu yang baru kehilangan bayinya. Karena perilaku itulah Sakura sekarang berada di jet pribadi Sasuke... Jet yang nyaman itu dengan cepat membawa mereka berdua ke tempat terindah di dunia... Bali. Ya, berlibur itu penting. Dokter menganjurkan agar Sakura pergi berlibur untuk memulihkan pikirannya. Hanya saja Sakura memilih Bali bukan untuk berlibur.

Sakura memilih Bali, karena ia tahu Kisame dan Itachi akan segera kesana. Ia mendengar dari Sasuke bahwa setelah rapat di Barcelona, Kisame dan Itachi berencana menghadiri pesta bisnis di Bali. Tentu saja Sasuke dan Sakura juga diundang. Di saat itulah Sakura akan meneliti semuanya. Sakura akan mengatur apapun yang ia bisa untuk menghancurkan Kisame dan Itachi. Kedua orang itu harus membayar apa yang mereka lakukan terhadap bayi Sakura.

“Sakura...” Suara Sasuke mengejutkan Sakura, “Kau belum makan apa-apa pagi ini... makanlah sedikit.”


Sakura's Alice + Olivia Dress via net-a-porter
Sasuke's Bottega Veneta Shirt via mr-porter
Sakura berhenti memandang jendela. Ketika ia menoleh ke samping, Uchiha Sasuke sudah meninggalkan tempat duduknya dan berjalan mendekat. Pria itu membawa piring beserta makanan. Di piring itu ada nasi putih dan salmon panggang yang terlihat lezat. Mungkin Sasuke sudah memanggil koki jetnya untuk memasak menu itu.

“Tidak terima kasih,” Sakura dengan lemas membalas pernyataan pria dingin di sebelahnya.

“Tidak? Aneh sekali, padahal dulu kau yang selalu mengingatkanku untuk sarapan pagi. Jangan menjadi orang yang munafik Sakura,” Sasuke menyuapkan sesendok nasi ke dekat mulut Sakura, ia dapat melihat istrinya menggelengkan kepalanya, menunjukan bahwa ia tidak mau menerimanya.

“Sasuke... sudah kubilang aku tidak mau makan,” Sakura menjauhkan mulutnya dari sendok itu, namun sendok itu mengikutinya terus.

“Sakura,” Kali ini suaminya itu menatap Sakura dalam-dalam, “Aaa.”

Kali ini Sakura berhenti menjauhkan mulutnya. Seorang Uchiha Sasuke yang dingin dan tidak berperasaan itu mengutarakan kata ‘aaa’ dengan nada terdatar sejagad raya. Suara ‘aaa’ itu begitu datar sampai-sampai Sakura pikir pria itu sedang bersendawa. Dokter spesialis bedah plastik itu pikir Sasuke hanya payah dalam bernyanyi, namun kelihatannya pria itu payah dalam intonasi sehari-hari juga.

Really Sasuke? ‘aaa’?” Sakura mencoba mengikuti nada bicara Sasuke. Kelihatannya pria itu merasa cukup tersindir.

“Ya sudah terserah lah,” Sasuke meletakkan sendoknya ke atas piring dan kembali ke sikap coolnya yang menyebalkan.

“Ya sudah, terserah lah,” Sakura kembali mengikuti mimik bicara Sasuke, kemudian pria itu menatap Sakura dengan tampang tidak senang.

“Apa?”

“Apa?”

“Sakura, berhenti mengikuti kata-kataku,” Sasuke mengerutkan dahinya.

“Tidak apa-apa kan? Aku hanya ingin belajar menjadi seorang Uchiha Sasuke,” Sakura juga mengerutkan dahinya, mengikuti ekspresi wajah suaminya itu.

“Hn, teruskan saja,” Sasuke membalasnya dengan nada menyindir, “Kau sudah sangat cocok Sakura.”

Sakura kemudian mengambil pena dan pulpen dari tasnya dan menuliskan sesuatu di nota kecilnya. Pria yang tadinya mengerutkan dahinya itu sekarang menatap tulisan tangan Sakura. Tulisan dokter memang cepat dan berantakan, tapi Sasuke dapat mengenali tulisan itu.

1.     Kerutkan dahimu
2.     Tetap tenang
3.     Jangan pernah berkata jujur
4.     Analisa musuhmu dengan teliti
5.     Pasang senyum palsumu


Saat itu sudah ada lima poin di kertas Sakura. Poin-poin itu terlihat aneh di mata Sasuke, namun pria itu tahu Uchiha Sakura menuliskannya dengan serius. Saat Sakura menulis angka enam, Sasuke hanya bisa mengerutkan dahinya lagi. Sakura pasti sedang bercanda bukan?

6.     Ketika kau tidak menyukai seseorang, sindirlah mereka

Sindirlah mereka? Apa Sakura sedang menuliskan perilaku Sasuke? Sakura ingin menjadi dirinya? Apa?! Sebenarnya apa yang ada di benak Sakura? Sejujurnya Sasuke merasa sedikit khawatir akan keadaan Sakura. Pria itu tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk menghibur istrinya itu. Tentu saja Sasuke sedih bayinya hilang. Untuk pertama kali dalam hidupnya dirinya tidak bisa tidur di malam hari... Ia bahkan meneteskan air mata karena kehilangan bayinya itu. Tidak ada orang yang tahu. Ah, tidak ada yang perlu tahu. Tapi Uchiha Sasuke mengurung diri di kamarnya dan merenungkan semua yang gagal ia lakukan. Ia gagal membuat Sakura bahagia dan ia gagal melindungi bayinya. Ia terus merenungkannya sampai-sampai ia tersadar. Sebenarnya apa yang bisa Sasuke lakukan? Ia tidak bisa menghidupkan orang yang sudah tiada… Sekarang yang bisa ia lakukan adalah menghibur orang yang memang ada di dunia ini... Sakura. Ia ingin menghibur Sakura.

Liburan ke Bali terdengar seperti solusi yang paling baik, apalagi besok ada pesta bisnis juga. Pas sekali. Mungkin dengan liburan pendek di Bali ini Sakura akan segera pulih kembali. Mungkin Sakura akan kembali menjadi Sakura yang Sasuke kenal. Jujur... Sasuke merindukan senyuman Sakura yang hangat itu. Pebisnis muda itu jarang mendapatkan kehangatan semacam itu di dunia bisnisnya yang dingin. Ketika Sakura datang ke kehidupannya, kehangatan itu muncul. Sayangnya sekarang kehangatan itu pergi lagi darinya.

“Hey, Sasuke,” Sakura menatap suaminya dengan serius, “Bagaimana caranya bisa menjadi dingin sepertimu?”

“Jangan,” Sasuke dengan cepat menjawab pertanyaan Sakura, “Percayalah kau tidak ingin menjadi diriku.”

“Selama ini aku selalu menjadi orang yang baik, menuruti kata-kata orang lain, terdiam ketika dicaci-maki, tersenyum ketika direndahkan...” Sakura menerawang jauh, “Ketika kejadian itu selesai, aku akan merenung dan berpikir, kenapa aku diam saja? Kenapa aku begitu lemah?”

Sasuke ingin mengatakan sesuatu, namun pilotnya sudah mengumumkan pendaratan mereka.

“Mr and Ms. Uchiha, as we start our descent. Make sure your seat belt is securely fastened please turn off all electronic devices until we are safely parked at the gate. Thank you for your attention.”

Sasuke hanya bisa menghela napasnya dan berjalan pergi dari Sakura. Pria itu akhirnya duduk di tempat duduknya dan mengenakan sabuk pengamannya. Jet pribadi memang luas, namun jarak duduk antara Sasuke dan isterinya itu benar-benar jauh.

“Kebaikanmu itu bukan sebuah kelemahan Sakura,” Pria bermarga Uchiha itu akhirnya membuka mulutnya, “Terkadang aku justru ingin menjadi seperti itu. Yah, memang melukai orang lain dan membela diri sendiri itu punya prestisenya sendiri, namun itu semua punya after-effectnya. Pada akhirnya kau juga akan merenung dan bertanya kepada dirimu sendiri, ‘kenapa aku melakukan itu?’ Perasaan bersalah dan membenci diri sendiri akan datang. Orang yang kau lukai akan terluka dan sebagian dari dirimu akan merasa kasihan. Kemudian kau akan membenci dirimu sendiri karena kau tidak bisa menarik kembali apa yang sudah kau lakukan.”

Sasuke dapat melihat ekspresi yang berbeda dari Sakura. Wanita itu seperti sedang berpikir keras, seakan-akan pikirannya penuh dengan pertanyaan. Wajah dingin istrinya itu perlahan berkurang. Ada sepercik kehangatan yang muncul di wajah wanita itu. Mungkin wanita itu akhirnya tersadar bahwa kehangatannya adalah kekuatannya. Mungkin juga tidak. Sasuke benar-benar tidak bisa membaca pikiran Sakura.

Istrinya itu hampir saja membuka mulutnya, namun jet pribadinya sudah mendarat dengan cepat di atas bandara internasional Bali. Pendaratan yang mulus itu memberikan goncanagan pelan dan kemudian jet itu mulai mencari posisi yang tepat untuk berhenti. Sebelum Sakura dapat mengatakan apa-apa, pilot Sasuke sudah menyiarkan pendaratan mereka.

“Mr and Ms. Uchiha, welcome to Ngurah Rai International Airport. Local time is 09:00 AM and tempreture is 28°C.”

Sakura menghela napasnya, wanita itu tidak jadi mengatakan apa-apa. Sasuke ingin membuka mulutnya juga, namun pilot jetnya itu kembali memberikan pengumuman.

“For your safety and comfort, please remain seated with your seat belt fastened until the Captain turns off the Fasten Seat Belt sign. This will indicate that we have parked at the gate and that it is safe for you to move about. That is all, have a nice day and enjoy your time in Bali.”

Setelah pilot itu selesai berbicara, Sasuke dan Sakura terdiam di tempat duduk mereka masing-masing. Keduanya saling bertatapan. Tatapan Sasuke yang dingin bertemu dengan tatapan Sakura. Hm. Seberapa kerasnya Sakura berusaha untuk terlihat dingin dan kuat, wanita itu memang tetap memiliki kehangatannya sendiri. Walau kehangatan itu masih redup, namun Uchiha Sasuke dapat melihat kehangatan itu mulai kembali. Ia berharap suatu saat nanti dirinya bisa merubah Sakura yang dingin itu kembali hangat lagi.

XXX

Rooftop Double-Six Bali
Image source : baligo
Pesta bisnis selalu membuat Sakura merasa tidak nyaman. Ia masih ingat pertama kali ia menghadiri pesta seperti ini. Pesta pertamanya diadakan di Ritz-Carlton Jepang, hari ini pestanya diadakan di Double-six Rooftop Bali. Tempat ini terletak 15 meter di atas permukaan laut. Dengan luas 1700 meter persegi, Double-six Rooftop adalah salah satu Rooftop Bar terbesar di dunia. Kolam air kecil menghiasi atap itu. Sofa-sofa melingkar ada di tengah kolam, memberikan kesan yang unik. Biasanya tempat ini adalah bar yang terbuka untuk umum, namun malam itu hanya investor dan rekan-rekan bisnis terpilih sajalah yang bisa masuk ke sana.

Uchiha Sakura dengan tenang menandang Pantai Double-six Seminyak, Bali. Saat itu matahari sedang terbenam. Pemandangan seperti ini seharusnya membuat orang-orang merasa tenang. Sayang sekali, perasaan itu tidak datang ke dalam diri Sakura. Wanita itu tidak memiliki ketenangan dalam hatinya, tidak sampai Kisame dan Itachi jatuh. Ia tidak bisa tinggal diam ketika bayinya hilang begitu saja dari hadapannya.

“Sakura-san?” Suara yang sangat ia kenal menghentikan lamunannya... Suara itu, suara Uchiha Mikoto.

“Saya turut berduka cita atas bayi anda,” Wajah Mikoto terlihat sedikit sedih, namun wanita itu tetap terlihat elegan seperti biasanya.

Entah kenapa Sakura tidak bisa merasakan rasa empati dari wanita itu. Ia hanya merasakan rasa kasihan. Sakura benar-benar tidak menyukai rasa kasihan. Apalagi dengan tatapan Uchiha Mikoto yang sekarang. Tatapannya seakan-akan mengatakan bahwa Sakura telah gagal memberikannya cucu. Seakan-akan ia tidak hanya merasakan rasa kasihan tapi juga rasa kecewa. Uchiha Mikoto sepertinya kecewa Sakura gagal memberikan penerus perusahaan Uchiha untuk Mikoto dan keluarganya.

“Tidak apa-apa,” Sakura mengenakan topengnya dan tersenyum dingin.

“Ah, Sakura...” Mikoto dengan halus meneliti gaun lace merah Dolce & Gabbana Sakura dan menghela napasnya pelan-pelan, “Kurasa lain kali jangan mengenakan baju berwarna merah terang seperti itu. Kau tahu rekan-rekan bisnis di sini juga banyak yang berasal dari Cina bukan? Kesannya kau seperti tidak bersedih atas hilangnya bayimu... Mungkin warna hitam lebih cocok.”

Bagus. Sekarang Mikoto benar-benar sudah menyatakan perang kepadanya. Seharusnya di saat-saat seperti ini seorang ibu mertua memeluk Sakura dan menangis bersama Sakura. Seharusnya seorang ibu mertua yang benar mengusap-usap pundak Sakura dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Mikoto tidak seperti itu. Wanita itu harus mengkritik cara berpakaian Sakura juga. Di saat menyedihkan seperti ini, Uchiha Mikoto justru lebih mengkhawatirkan perasaan rekan-rekan bisnisnya daripada perasaan Sakura.

“Saya mengerti Mikoto-san,” Sakura berhenti memanggilnya oka-san atau oka-sama. Senyuman palsu yang dingin muncul di wajah Sakura, kemudian dokter operasi plastik itu menatap gaun ketat hitam Herve Leger Mikoto dengan tajam, “Ah, tapi Mikoto-san, apakah baju anda tidak terlalu ketat untuk umur anda? Kurasa lain kali jangan mengenakan Herve Leger bandage dress. Aku dengar jika sudah terlalu tua, selulit anda juga bisa terlihat kalau mengenakan baju seketat itu.”

Sakura Dolce & Gabbana dress, Mikoto Herve Leger dress
Image source : net-a-porter , fwrd 
Raut wajah Mikoto yang elegan dan tenang berubah drastis. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya Sakura melihat Mikoto mengerutkan dahinya. Wanita yang biasanya tenang dan palsu itu kali ini merasa tersinggung. Sudah mengerti bukan perasaan Sakura? Mengkritik baju seseorang itu bukanlah hal yang baik Mikoto-san. Sakura hanya membalas raut wajah Mikoto yang kaget itu dengan senyuman palsu. Menantunya itu membungkuk, kemudian meninggalkan Mikoto sendirian.

Sakura tidak ingin menghabiskan waktunya untuk meladeni Mikoto. Ia punya rencana yang harus ia jalankan. Dalam tiga hari ini Sakura menemukan banyak hal. Ia telah mengumpulkan banyak informasi dari rekan-rekan bisnisnya dan mata-mata Sasuke. Kelihatannya Kisame ingin mendekati seseorang di pesta ini. Seorang investor besar untuk proyeknya di Dubai, Hatake Kakashi.

Ia dengar Kakashi adalah salah satu pemain saham besar dunia. Kakashi bahkan memiliki banyak saham di Dubai. Kisame membutuhkan bantuan Kakashi dan Sakura tahu tanpa Kakashi... Kisame akan kehilangan proyek Dubainya. Tanpa bantuan seorang Hatake, Kisame tidak mungkin mampu untuk mendapatkan izin di Dubai. Kisame membutuhkan Kakashi dan Sakura akan melakukan apapun yang bisa ia lakukan untuk menggagalkan itu.

Tidak sulit untuk mencari Kakashi. Pria itu selalu mengenakan masker di wajahnya. Sakura dengar pemegang saham itu memiliki alergi, karena itulah ia selalu mengenakan masker. Rambutnya yang abu-abu membuatnya terlihat lebih tua dari umurnya, tapi Sakura tahu Hatake Kakashi masih cukup muda. Sang pengusaha muda itu memiliki kepribadian yang cukup unik. Ia sangat mencintai binatang. Ia bahkan menyumbangkan banyak uang untuk WWF dan institusi perlindugan hewan lainnya. Ini adalah jackpot Sakura. Dengan inilah Sakura dapat menghancurkan Kisame.

Wanita dengan gaun merah Dolce & Gabbana itu menatap Kakashi dari kejauhan. Ia bisa melihat Kisame datang mendekat dan berjabat tangan dengan Kakashi. Kedua orang itu tampak cukup kompak. Terkadang Kisame akan tertawa, kadang kala Kakashi akan tertawa. Kelihatannya pendekatan bisnis Kisame cukup baik. Sayang sekali, kedekatan itu tidak akan bertahan lama.

Uchiha Sakura berjalan dengan elegan ke dekat Kakashi dan dengan sengaja menumpahkan mocktailnya ke jas raja minyak itu. Ekspresi Sakura terlihat panik, kemudian wanita itu mulai menjalankan aktingnya.

“Maafkan saya,” Sakura membungkuk, “Maafkan saya.”

“Ah tidak apa-apa,” Kakashi mengambil sapu tangannya dan membasuh jasnya dengan hati-hati.

“Ini semua salah saya,” Sakura kemudian menatap Kakashi dengan wajah yang memelas, “Ah, saya baru membeli setelan jas baru untuk suami saya. Saya menitipkannya di Lobi tadi pagi, saya rasa ukuran kalian sama.”

“Tidak usah repot-repot Nyonya... uh?” Kakashi menunjuk Sakura, seakan-akan ia ingin mengingat nama Sakura.

“Nyonya Uchiha,” Sakura tersenyum tipis, “Ini adalah kewajiban saya. Saya akan segera mengambilkannya untuk anda.”

Sakura menunggu kata-kata seorang Hatake Kakashi yang terkenal gentleman itu. Kata-kata yang sangat penting agar rencananya berjalan dengan baik. Ah, itu dia. Kata-kata itu.

“Biar kutemani Nyonya Uchiha,” Pria yang bernama Kakashi Hatake itu berjalan mengikuti Sakura dan meninggalkan Kisame sendirian.

Perjalanan mereka berdua ke lobi cukup singkat. Sakura berkenalan sebentar dengan Kakashi, kemudian mereka berdua bercanda tawa soal pesta yang mewah tadi dan betapa mereka berdua mencintai Bali. Percakapan mereka cukup ringan, sebuah awal yang bagus untuk memulai sebuah pertemanan bisnis.

Ketika Sakura mengambil tas belanjaannya dari Lobi, Hatake Kakashi melepas jasnya. Sakura dengan hangat memberikan jas sutra dari desainer terkenal Bali kepada Kakashi. Pria itu terlihat senang melihat jas itu. Ia menghargai setiap jahitan dan sentuhan lembut sutra itu.

“Uchiha-san, saya akan segera mengembalikan jas ini,” Kakashi tersenyum hangat, “Arigatou.

“Ah, ini juga salah saya Hatake-san,” Sakura tersenyum tipis.

“Oh ya, Hatake-san,” Sakura berlagak terkejut, “Apa benar anda ingin memulai proyek dengan Kisame-san?”

“Ah, itu masih kupikirkan,” Kakashi membetulkan posisi jasnya dengan serius, “Proyeknya cukup menjanjikan... tapi aku masih cukup ragu dengan budgeting dan target marketnya.”

“Ah, awalnya saya juga ingin membantu proyek itu, sayangnya kudengar proyek itu akan merusak laut Kakashi-san,” Sakura berpura-pura terlihat sedih, “Saya tidak tega melihat populasi hewan laut itu terganggu.”

Hatake Kakashi mendengarkan penjelasan Sakura dengan serius. Pernyataan Sakura sangat meyakinkan. Wanita itu bahkan memperlihatkan proyek-proyek Kisame yang lama. Di proyek-proyek lama itu Kisame juga sering membuang limbah sembarangan dan menghancurkan ekosistem binatang.

“Terima kasih Uchiha-san,” Kakashi benar-benar terlihat lega, “Aku tidak tahu apa yang harus kuperbuat tanpa bantuanmu. Aku benar-benar tidak akan menjalani proyek itu.”

Senyuman Sakura muncul. Itu adalah sebuah senyuman kemenangan, “Ah, ini bukan apa-apa Hatake-san.”

“Aku percaya padamu Sakura-san,” Kakashi tersenyum, “Aku dengar keluarga Uchiha dan Kisame-san sangat dekat. Apalagi Itachi-san dan Kisame-san... Jika kau yang dekat dengan Kisame berkata seperti itu... berarti kau tidak mementingkan hubungan bisnis kalian tapi kau benar-benar memperhatikan ekosistem.”

Itachi. Kisame. Sakura tidak ingin mendengar nama itu lagi. Sakura benar-benar membenci mereka. Sakura tidak akan tinggal diam sampai hidup mereka sengsara. Sakura tersenyum senang. Satu langkah balas dendamnya selesai.

XXX

Atap Double-Six Seminyak itu terlihat sepi. Sekarang langit sudah gelap, orang-orang sudah meninggalkan pesta karena hujan angin yang baru saja berhenti. Hujan tadi membasahi ruangan itu, namun Sakura suka suasana seperti ini. Hanya ada Sakura di atap itu. Sasuke sekarang sedang pergi ke kamar kecil. Suaminya menganjurkan Sakura untuk menunggu di lobi, namun Sakura ingin menikmati pemandangan atap Double-Six. Atap itu terlihat kelam di tengah hujan. Rasanya benar-benar mencermikan suasana Sakura sekarang.

Ada spot kecil di atap itu yang terlihat curam. Sakura memandang sudut itu dari kejauhan. Di sudut itu, ada seseorang... Tunggu orang itu adalah Kisame! Pria itu sedang merokok di pojok itu. Jika Kisame jatuh dari sana, mungkin ia akan mati. Jatuh dari gedung setinggi 15 meter, ya pria itu pasti akan mati jika ia jatuh. Sakura hanya bisa menerawang jauh, ada sebagian dari dirinya yang ingin mendorong pria itu. Sakura merasakan keringat dingin di wajahnya, kemudian wanita itu melangkah perlahan menuju ke tempat curam itu.

Tidak! Tidak... Sakura tidak berencana untuk membalas dendam sejauh itu... Tapi... Tapi nyawa bukankah harus dibayar oleh nyawa? .... Tidak. Tidak. Sakura.

Wanita itu terus menggelengkan kepalanya, namun ia tidak bisa menghentikkan langkahnya. Ia terus mendekati Kisame, kemudian langkah wanita itu terhenti. Tanpa harus didorong. Kisame yang sedang membuang puntung rokoknya sembarangan tiba-tiba terpeleset jatuh. Pria itu berusaha berpegangan pada atap itu. Pria itu berteriak minta tolong, namun hanya ada Sakura di tempat itu.

Sakura tidak bisa bergerak. Hatinya penuh dengan pergumulan. Jika ia tidak menolong Kisame, pria itu akan meninggal. Pasti. Dalam seketika pria itu akan hilang dari kehidupan Sakura. Sudah sepantasnya bukan? Tapi Sakura merasa khawatir. Keringat dingin terus turun di kepalanya. Bantu? Tidak? Bantu? Tidak? Sakura tidak bisa menentukannya. Ia hanya terdiam dalam rasa takut.

Kali ini Sakura tidak hanya berkeringat dingin, namun tangannya mulai gemetaran. Apakah ia akan menjadi seorang pembunuh? Seorang Sakura yang ia kenal tidak mungkin membunuh orang. Tidak. Hanya saja ada sedikit dari dirinya yang ingin mendorong Kisame agar pria itu cepat jatuh saja ke dalam laut.

“Tolong aku!”

Suara pria itu mengiang-ngiang di kepala Sakura. Pria itu terdengar ketakutan. Kisame yang biasanya penuh ego dan kepercayaan diri sekarang terdengar lemah. Rasanya pria itu sudah benar-benar tidak berdaya. Sakura bisa berlari sekarang dan menolong pria itu... namun Sakura masih belum beranjak dari tempatnya. Kakinya seakan-akan sudah beku di lantai kayu restoran itu.

“To— Tolong!”

Sekarang suara Kisame sudah patah-patah. Rasanya pria itu akan segera kehilangan semua tenaganya dan jatuh. Jika pria itu jatuh... Jika pria itu jatuh... Maka Sakura akan benar-benar menyelesaikan rencana balas dendamnya. Sakura akan merasa bahagia. Tapi benarkah itu? Apakah Sakura akan benar-benar bahagia?

“Tolong aku!”

Kali ini Sakura berlari menuju pria itu. Kisame dapat melihat wajah Sakura. Wajah Kisame terlihat ketakutan. Jadi ini pria yang sedang berada di ambang kematiannya. Wajah itu terlihat begitu menyedihkan... Namun Sakura kembali mengingat bayinya. Apakah ini ekspresi wajah bayinya ketika Kisame membunuh bayinya? Kenapa pria ini tega?! Kenapa?!

“To-tolong aku Uchiha Sakura-san,” Pria itu terlihat seperti pengemis di jalanan... kumal dan menyedihkan.

“Sebelumnya... aku ingin bertanya satu hal.... Apakah kau yang membunuh bayiku?” Sakura menatap Kisame dengan penuh harapan. Ia berharap bayinya tidak dibunuh. Ia benar-benar berharap kegugurannya hanya kecelakaan belaka.

“A-Aku tidak membunuhnya!” Kisame menyangkalnya, namun Sakura tahu ketika seseorang berbohong. Saat itu Kisame sedang berbohong. Gelagat orang berbohong pernah Sakura pelajari saat ia mengambil kelas Psikologi. Orang itu akan terlihat khawatir, suaranya akan sedikit gemetar, gagap, berkeringat dingin dan orang itu akan menghindari kontak mata. Kisame melakukan itu semua. Ternyata benar... pria itu yang membunuh bayinya. Kenapa... Kenapa pria itu tega?

“Tolong aku Uchiha Sakura-san!” Kisame terdengar begitu menyedihkan... namun Sakura tidak bisa menarik tangan Kisame. Tenaganya benar-benar hilang. Kenapa pria itu tega?

“Aku... Aku percaya kepadamu,” Sakura menjawab Kisame dengan anggukan. Itu semua hanya akting belaka.

Sakura tahu Kisame yang membunuh bayinya. Kalau tidak pria itu tidak mungkin memberikan gelagat seorang pembohong. Sekarang sebagian besar dari diri Sakura ingin membunuh pria itu. Sakura ingin mendorongnya dan membalaskan dendam bayinya. Tapi... tapi ia tidak bisa. Tangannya gemetar dan keringat dingin kembali turun dari pelipisnya. Ia ingin menjadi seseorang yang berdarah dingin. Ia pikir kemarin di rumah sakit itu ia sudah menjadi seseorang yang berdarah dingin... Ternyata tidak. Di saat langit memberikan kesempatan kepadanya, Sakura tidak dapat melakukan apa-apa.

Tap! Tangan pria itu akhirnya lepas dari pegangannya. Keringat dinginnya membuat tangan pria itu menjadi basah. Sakura dengan spontan menarik tangan pria itu. Sayang sekali... Sakura sudah terlambat. Sakura sudah berusaha menarik tangan Kisame, namun pria itu jatuh duluan. Ketika tangan Kisame terlepas dari jangkauannya Sakura merasakan lubang yang lebih kosong daripada saat kehilangan bayinya. Rasanya Sakura seperti masuk ke gerbang neraka. Rasanya Sakura seperti kehilangan jati dirinya. Tidak! Tidak! Ini tidak boleh terjadi! Kisame harus tetap hidup! Pria itu juga manusia! Ia punya hak untuk hidup! Layaknya bayi Sakura, Kisame juga perlu hak untuk hidup!

“Kisame-san!” Sakura berteriak panik, air mata turun dari wajahnya.

Untuk pertama kalinya di dalam hidupnya, Sakura melihat dunia bergerak dengan jauh lebih lambat. Seakan-akan semuanya seperti slow-motion. Wajah ketakukan Kisame menghantui Sakura kemudian Sakura mengingat kata-kata Sasuke di jetnya kemarin.

“Yah, memang melukai orang lain dan membela diri sendiri itu punya prestisenya sendiri, namun itu semua punya after-effectnya. Pada akhirnya kau juga akan merenung dan bertanya kepada dirimu sendiri, ‘kenapa aku melakukan itu?’ Perasaan bersalah dan membenci diri sendiri akan datang. Orang yang kau lukai akan terluka dan sebagian dari dirimu akan merasa kasihan. Kemudian kau akan membenci dirimu sendiri karena kau tidak bisa menarik kembali apa yang sudah kau lakukan.”

Kisame... meninggal? Sakura membunuh.... membunuh Kisame? Tap! Dalam hitungan 0.01 detik Sasuke datang dan menarik tangan Kisame dengan legannya yang panjang. Lengan Sasuke yang kuat dapat menarik Kisame dengan mudah. Rasanya beban Sakura itu diangkat seketika. Dalam sekejap Kisame terbanting dan terbaring di lantai. Wajah pria itu begitu pucat. Matanya tertutup. Kisame terlihat... terlihat seperti seorang mayat. Sakura kembali gemetar.

“Sa-Sasuke... Apakah ia masih hidup?”

Sasuke mengecek nadi Kisame. Suami Sakura itu mengangguk dan menatap mata isterinya itu, “Tenang saja, ia hanya pingsan karena shock.

“Sasuke... Aku... Aku hampir membunuhnya,” Sakura terus gemetar, ia tidak percaya... ia hampir saja membunuh seseorang.

“Kau jangan mengada-ngada Sakura,” Sasuke menepuk kepala Sakura pelan-pelan, “Tadi itu hanya kecelakaan.”

Sakura merasakan air mata di wajahnya. Ia benar-benar merasa bersalah. Kenapa ia tega melakukan hal semacam itu. Itu benar-benar tidak manusiawi. Sakura tidak ingin melakukan hal ini lagi! Balas dendam ternyata berat sekali... Tapi, kalau begini siapa yang akan membalaskan dendam bayinya?

“Sasuke, apakah menurutmu nyawa harus dibayar oleh nyawa?” Sakura dengan gemetar menatap suaminya.

“Oi Sakura kenapa kau mengatakan itu?”

Sakura kemudian menangis di pelukan Sasuke. Wanita itu benar-benar tidak bisa menahan tangisannya. Rasanya dirinya baru saja dihadapkan oleh kondisi terburuk di dunia. Sakura tidak tahu apa yang harus ia lakukan jika Sasuke tidak ada di sana. Mungkin seumur hidupnya Sakura akan menyesali perbuatannya. Mungkin ia akan kehilangan jati dirinya.

“Sasuke...” Sakura terus menangis di pelukan pria itu, “Jangan tinggalkan aku.”

“Aku tidak akan kemana-mana Sakura,” Sasuke menepuk-nepuk pundak isterinya.

Sakura pikir dirinya sudah menjadi pembunuh berdarah dingin... Namun ia salah. Sasuke telah menyelamatkan Sakura dari status itu. Sakura tidak tahu bagaimana ia harus berterimakasih kepada suaminya, namun ia terus memeluk pria itu dengan erat.

Pelukan Sasuke sangat... hangat...

XXX

I hope you like this chapter :) A little bed time story before you go to bed <3 

Spoiler alert : The revenge does not stop here...

That's it guys! Semoga chapter ini tidak mengecewakan dan semoga kalian menyukainya! Selamat malam dan semoga mimpi kalian indah ! Btw, Kenapa Bali? Karena aku cinta Bali dan kalau aku honeymoon, seberapa banyak pun uangku aku akan tetap memilih Bali! It's so beautiful dan aku cinta Indonesia xD


I hope you like this chapter :) Don't forget to leave the comment below! I will reply xD

6 comments:

Recipe : Steamed Chicken Breast

04:40 Melissa Gabriele 0 Comments



I honestly love chicken thighs, but it makes me fat. Chicken breast is a healthier yet still a yummy substitute for me. My housemate says that it's also very healthy if you steam it instead of frying or putting it in the oven. That's why she introduced me to this simple recipe. I love it so much! 

Ingredients: 

1/2 tablespoon of lemon extract
1/2 teaspoon of grated ginger
100 g chicken breast
2 carrots
1/2 pounds green beans
  


Step 1: Cut the vegetables into tiny pieces


Step 2 : Rinse the chicken breast with water and cut off the excess fat



Step 3 : Put ginger and lemon extract all over the chicken


Step 4 : Put the vegetables inside


Step 5 : Steam for 20-30 minutes

Enjoy your meal !

0 comments:

Marrying Uchiha Sasuke Chapter 9

20:48 Melissa Gabriele 11 Comments

Marrying Uchiha Sasuke
Chapter 9


Gelap. Segalanya gelap. Sakura tidak bisa mengingat apa-apa selain suara Sasuke. Wanita itu masih dapat mendengar suara Sasuke yang khawatir memanggil namanya. Pria itu terdengar begitu berbeda dari biasanya. Sungguh Sakura tidak pernah menerka bahwa seorang Uchiha Sasuke bisa begitu khawatir kepada dirinya. Saat ini Sakura tidak dapat membuka matanya, namun dirinya perlahan dapat mendengar suara lain...

“Sakura!”

Itu masih suara Sasuke... namun suaranya berbeda dari yang ada di ingatannya. Suaranya terdengar... lebih lega.

“Sakura! Kau tidak apa-apa?”

Saat Sakura terbangun, wanita itu dapat melihat wajah suaminya yang tersenyum lega. Rasanya pria itu seperti baru saja menyelamatkan dunia atau semacamnya. Sasuke masih mengenakan seragam polonya, padahal hari sudah malam. Sakura dapat melihat rembulan dibalik jendela rumah sakit, kelihatannya pria itu tidak meninggalkan sisi Sakura satu detikpun.

“Sa-Sasuke?” Suara Sakura yang lemas akhirnya keluar juga, “A-apa yang terjadi? Dimana ini? Bagaimana bayiku?”

Pria yang awalnya terlihat lega itu akhirnya kembali berwajah datar. Pria itu sungguh penuh dengan ego.

“Ini di rumah sakit,” Jawab Sasuke datar, “Kata dokter kau pendarahan ringan... kau dan bayi kita baik-baik saja. Kau hanya perlu banyak istirahat dan jangan terlalu banyak pikiran. Dokter bilang alasan kenapa bayi itu agak lemah juga karena kau terlalu stress. Lebih baik kau jangan terlalu banyak berpikir Sakura.”

Sakura masih mengingat Roma dan Venisia. Ia masih mengingat dengan jelas betapa ia membenci Sasuke dan dirinya sendiri, betapa ia kecewa akan kandungan yang tidak ia inginkan itu. Saat itu, ia begitu khawatir akan keperawanannya dan pernikahannya dengan Sasuke. Ia tidak tega melahirkan anak dari pria yang ia benci. Kali ini pria yang tadinya ia benci itu tidak lagi ia benci. Pria itu… terlihat begitu berbeda di matanya sekarang. Walaupun masih dingin dan datar, paling tidak Sasuke sekarang peduli padanya— sangat peduli. Begitu pedulinya sampai pria itu bahkan tidak melepas helm berkudanya meskipun sudah masuk ke rumah sakit. Pria itu begitu khawatir akan Sakura sampai-sampai pria itu tidak sempat untuk  mengganti baju ataupun membuka helmnya.

“Sasuke... jadi... jadi bayinya sehat?” Sakura menatap suaminya itu dalam-dalam.

“Kau itu bodoh sekali ya,” Sasuke akhirnya melepas helmnya dan meletakkannya di atas meja, “Seharusnya kau mencanci maki aku karena membawamu ke tempat dingin seperti ini padahal kau sedang kurang sehat.”

“Kau ingin dicaci maki?” Suara Sakura yang lemas membuat Sasuke semakin tidak senang.

“Ya,” Sasuke mendekat ke sisi Sakura. Istrinya yang terbaring di ranjang rumah sakit itu terlihat begitu lemah, “caci maki aku. Bukankah kau paling ahli dalam mencaci maki orang?”

“Sasuke...” Sakura menghela napasnya, “Sudahlah yang penting bayi ini baik-baik saja.”

“Tidak juga,” Sasuke mengerutkan dahinya, “Bayi kita tidak baik-baik saja.”

Sakura tampak terkejut mendengar Sasuke mengutarakan ‘bayi kita’. Selama ini pria dingin itu selalu menyebutnya, ‘bayi ini’, ‘bayi itu’ atau ‘bayi di perutmu’. Pria itu... untuk pertama kalinya menyebutnya ‘bayi kita’.... bayi Sakura dan Sasuke.

Sasuke akhirnya mengambil kursi kecil dan menariknya ke arah Sakura. Pria itu kemudian duduk dan menatap istrinya dalam-dalam, “Kau harus bahagia Sakura, jika kau bahagia bayi kita akan menjadi lebih sehat. Kenapa kau tidak bahagia? Jawab aku? Apa yang bisa membuatmu bahagia?”

Sakura terdiam. Ruangan itu adalah ruangan terbesar di rumah sakit ini. Sasuke telah memesan ruangan VVIP bergaya victorian klasik yang lengkap dengan televisi besar, sofa kulit dan kayu mahoni dari Myanmar. Sesungguhnya Sasuke selalu memberikan yang terbaik untuk Sakura. Entah dalam hal baju, tas, sepatu bahkan ruangan dan makanan. Semuanya yang terbaik untuk Sakura. Hanya saja ada begitu banyak pikiran di benak Sakura. Ia khawatir akan bayinya. Apa kata bayinya jika ia bercerai dengan Sasuke? Ia juga khawatir akan keluarga Sasuke. Kelihatannya keluarga Uchiha membenci Sakura. Sakura khawatir akan new money dan old money. Sakura benar-benar khawatir akan segalanya. Namun Sakura paling khawatir akan bayinya. Bayi itu belum menendang sama sekali. Bagaimana jika bayi Sakura celaka?

“Kalau memarahiku dan memukulku bisa membuatmu bahagia, lebih baik kau lakukan itu sekarang,” Sasuke menggenggam tangan Sakura dan menempelkannya ke wajah Sasuke.

Tangannya memang sudah siap untuk menampar pria itu, namun hatinya berbeda. Sakura yang biasanya dengan mudah bertengkar dan memukul Sasuke kali ini merasa tangannya berat sekali untuk bergerak. Ia merasa wajah Sasuke yang porselen begitu lembut dan hangat. Ia justru tidak ingin tangannya pergi dari wajah itu. Ah! Tidak Sakura! Tidak! Kau tidak boleh jatuh cinta oleh pria jahat ini! Sasuke adalah orang dingin yang angkuh!

“Sasuke, sudahlah... aku sudah terlalu lemas untuk memarahimu,” Sakura akhirnya melepaskan tangannya dari wajah pria itu.

“Apa yang bisa membuatmu bahagia?” Sasuke menatap perut Sakura.

“Hmm...” Sakura kemudian menatap Sasuke dengan lemah, “Aku sendiri juga tidak tahu.”

Sasuke berhenti menatap perut Sakura, pria itu kemudian menghela napasnya. Kedua orang itu hanya saling terdiam. Hal seperti ini jarang terjadi di kehidupan mereka... Ya. Kesunyian jarang terjadi di kehidupan mereka. Walau Sasuke dingin, namun Sakura biasanya akan mengajaknya bicara, memulai argumen kecil atau mengeluh soal betapa ia membenci Sasuke. Kali ini Sakura tediam. Sasuke hanya bisa terdiam juga.

Ketukan pintu membuat keheningan itu hilang. Dua orang suster masuk dan tersenyum hangat kepada mereka berdua. Satu suster mengecek keadaan Sakura sedangkan yang satunya membawakan obat untuk diminum.

“Anda hebat sekali Nyonya Uchiha, anda pulih dengan cepat,” Suster yang mengecek Sakura tersenyum hangat, “Ini obat pertama dan terakhir anda... Ini hanya suplemen untuk menambah antibodi anda.”

“Terima kasih,” Sakura membalas senyuman suster itu, kemudian kedua suster itu pamit.

Sebelum kedua suster itu pergi, salah satu suster itu mendekati Sasuke dan memberikan sebuah kardus kepada pria itu. Sasuke menerimanya dan membalas senyuman suster itu dengan anggukan. Setelah pintu itu tertutup dan kedua suster itu benar-benar pergi Sasuke membuka kardus itu perlahan dan mengeluarkan isinya.

Sakura tampak terkejut ketika sebuah lampu aneh kecil keluar dari kardus itu. Bentuknya seperti lampu dengan bentuk heksagonal 3D. Warnanya hitam pekat, namun Sakura dapat melihat corak-corak aneh dibalik lampu itu. Sakura hanya bisa terdiam di dalam kebingungan.

“Sasuke apa ini?”

Pria itu tidak menjawab pertanyaan Sakura dengan segera. Suaminya itu malah meninggalkan tempat duduknya dan mematikan lampu di ruangan itu. Semuanya menjadi gelap dan Sakura tidak dapat melihat apa-apa selain cahaya rembulan di balik jendelanya yang samar-samar. Pria itu kelihatannya belum merasa ruangan itu cukup gelap dan akhirnya menutup jendela itu dengan gorden.

Kali ini Sakura tidak dapat melihat apa-apa. Anehnya wanita itu sama sekali tidak kaget atau pun merasa takut. Ia tahu Uchiha Sasuke ada di ruangan itu dan hatinya merasa tenang. Sama seperti bayi ini. Bayi yang ia kandung di perutnya memang lemah, namun jika Sasuke ada di dekatnya... ia merasa lebih tenang. Ini semua bukan karena ia mencintai pria itu... hanya saja ia merasa pria itu bisa ia andalkan. Pria itu bisa melindunginya dari banyak hal. Sakura memang sering khawatir akan banyak hal, namun Sasuke membuat banyak kekhawatirannya hilang seketika.

Tap! Suara tombol yang dinyalakan membuat Sakura terkaget. Saat tombol itu berbunyi seluruh ruangan yang awalnya gelap itu sekarang penuh dengan cahaya-cahaya kecil. 


Cahaya itu ternyata membentuk rasi-rasi bintang. Sakura pernah melihat ini sebelumnya, ya, ia pernah melihat ini di sebuah planetarium. Ternyata lampu kecil aneh tadilah yang mengeluarkan cahaya itu. Rasi-rasi itu membuat Sakura membisu. Ada yang bentuknya seperti garis lurus, layang-layang, bahkan ada yang berbentuk seperti manusia yang sedang memanah. Momen itu begitu indah... seakan-akan Sakura sedang berada di luar angkasa.

Rasi bintang itu terpencar di seluruh ruangan. Sakura dapat melihat Perseus, Aries dan segala macam rasi bintang di langit-langit ruangan itu. Kemudian ketika Sakura sampai ke rasi bintang Andromeda... wanita itu dapat melihat Uchiha Sasuke menatapnya dengan penuh kasih sayang.

“Sudah bahagia?” Pria itu duduk di samping Sakura lagi.

Ah. Pria itu semenjak tadi hanya ingin Sakura bahagia. Karena itulah pria itu meminta Sakura untuk marah, memukulnya... bahkan pria itu sampai bertanya apa yang membuat Sakura bahagia. Pria itu ingin Sakura lepas dari stress agar bayi Sakura menjadi sehat.

“Kau... menyiapkan semua ini?” Sakura menatap pria itu dengan penuh kekaguman.

“Hn, tidak juga,” Sasuke memalingkan wajahnya, “Ini hanya hal kecil jadi tidak usah menatapku seperti itu.”

“Kau... tahu darimana belakangan ini aku menyukai rasi bintang?” Sakura tersenyum hangat, kemudian ia tertawa lepas, “Oh ya, aku lupa... kau kan memang penguntitku. Bahkan waktu kita berbulan madu di Roma pun kau bisa menjawab semua pertanyaan tentang diriku.”

“Aku bukan stalkermu, kau sendiri yang belakangan ini melihat majalah bintang terus,” Sasuke menggelengkan kepalanya, kemudian pria itu tersenyum hangat.

“Kenapa kau tersenyum seperti itu?” Sakura menatap pria itu dengan penuh keheranan, “Kalau kau tersenyum hangat seperti itu aku jadi sedikit takut. Kau tidak sakit kan?”

“Tidak,” Sasuke memalingkan wajahnya lagi, “Hanya saja kau sudah tertawa jadi... aku sedikit yah... ah sudahlah lupakan saja.”

Sakura kemudian tertawa lagi. Pria dingin itu punya ego yang begitu besar sampai-sampai pria itu tidak mau mengakui bahwa pria itu juga bahagia. Tapi kalau dilihat-lihat Uchiha Sasuke itu kasihan juga... pria itu tidak bisa mengekspresikan dirinya.

“Hey Sasuke,” Sakura tersenyum dan menunjuk rasi bintang Andromeda di belakang Sasuke, “Kau lihat rasi bintang di belakangmu itu? Rasi itu namanya Andromeda.”

Rasi di belakang Sasuke memancarkan cahaya keemasan yang indah. Rasi itu berbentuk huruf ‘A’, namun di mata Sakura rasi itu melambangkan cinta. Ada sebuah kisah mitologi di balik rasi itu... Mitologi klasik yang Sakura baca di waktu luangnya. Rasi di langit utara dekat Pegasus, rasi kesayangan Sakura.

“Kau tahu Sasuke, rasi itu melambangkan putri Andromeda. Ia adalah seorang putri yang sangat cantik, namun ia diikat oleh rantai dan dikurung bersama dengan monster,” Sakura memandang rasi bintang itu dengan hangat, “Mitos mengatakan tidak ada yang bisa menyelamatkan Andromeda, namun putri itu diselamatkan oleh Perseus. Perseus membawa kepala medusa dan merubah monster penjaga Andromeda menjadi batu. Andromeda akhirnya bebas dan hidup bahagia bersama Perseus.”

“Hn, jadi kau merasa dirimu itu seperti Andromeda?” Sasuke membalas Sakura dengan nada yang sarkastik.

“Hmm... lebih tepatnya aku ingin menjadi seperti Andromeda... terlepas dari semua beban dunia dan hidup bahagia dengan jodohku,” Sakura menatap Sasuke dengan hangat, “Yah. Bukan hidup bahagia denganmu sih... intinya hidup bahagia dengan pria baik yang menyelamatkanku dari beban dunia.”

“Dasar tidak tahu berterima kasih,” Sasuke menggelengkan kepalanya, “Aku menyelamatkanmu dari beban finansial. Seharusnya kau berterima kasih.”

Dasar pria sombong. Sakura benar-benar tidak mengerti kenapa ia sempat merasa kagum pada pria sombong ini. Sasuke memang selamanya akan menjadi Uchiha Sasuke. Yah, paling tidak pria itu sudah jauh lebih perhatian sekarang. Kesombongan itu masih ada, namun paling tidak sekarang Sasuke membuat Sakura sedikit bahagia.

“Ya sudah, tidur sana,” Sasuke akhirnya membetulkan selimut Sakura, “Istirahat yang cukup dan jangan banyak pikiran lagi.”

Sakura kemudian kembali terlentang dan menatap Sasuke dengan lembut, “Ya, tenang saja.”

Malam itu Sakura terlelap dengan cahaya bintang dan Uchiha Sasuke di sampingnya. Bayi kecil di perutnya baik-baik saja. Mungkin kekhawatiran Sakura bisa berkurang sedikit demi sedikit.

XXX

Pagi itu cahaya matahari datang sedikit terlambat, begitu juga keluarga Uchiha. Itachi dan Mikoto datang dengan parsel buah dan sepasang senyuman palsu yang membuat Uchiha Sakura kembali lemas. Entah kenapa Sakura benar-benar tidak ingin menyapa mertuanya itu. Mikoto memang cantik dan kelihatan baik, namun ketegangan yang Sakura alami setiap kali wanita itu muncul membuat hidup Sakura menjadi lebih berat.

“Apakah kau sudah baikan?” Uchiha Mikoto tersenyum sambil meletakkan parsel buahnya di atas meja, “Maafkan Uchiha Fugaku karena ia tidak datang. Fugaku-san harus terbang ke New York hari ini.”



Fugaku-san. Sakura benar-benar tidak mengerti keluarga Sasuke. Sakura tidak mengerti kenapa Mikoto memanggil suaminya sendiri dengan begitu sopan dan kaku. Kalau dipikir-pikir tidak hanya sifat Mikoto saja yang sopan dan kaku, bahkan cara berpakaian wanita itu selalu terlihat rapih dan clean-cut. Seperti dress pastel pink Esteban Cortazar yang ia kenakan hari ini. Sederhana, kaku, elegan dan sopan. Itulah Mikoto. Wanita itu punya karisma kuat yang membuat Sakura ingin segera pergi dari ruangan itu. Jika Mikoto seperti ini, Sakura benar-benar tidak tahu Fugaku seperti apa. Mungkin ayah Sasuke itu jauh lebih kaku dan menyeramkan.

“Tadi pagi dokter sudah memeriksaku, katanya sekarang tubuhku sudah jauh lebih baik dan bayiku sudah lebih sehat,” Sakura tersenyum hangat.

“Iya, Sakura sudah baikan dan kalian berdua boleh pergi,” Sasuke yang tadinya duduk di samping Sakura bangkit berdiri.

Ara, Sasuke, jika kau memaksa apa boleh buat,” Uchiha Mikoto menatap Sasuke dengan dingin, “Kalau begitu saya permisi.”

Uchiha Mikoto tersenyum palsu sekali lagi dan meninggalkan ruangan itu dengan elegan. Setiap langkah yang wanita itu ambil begitu memesona. Sakura benar-benar tidak mengerti bagaimana wanita seperti itu bisa begitu... begitu... palsu. Jika wanita itu hanya ingin datang untuk meninggalkan parsel, berarti wanita itu hanya ingin terlihat sebagai mertua yang baik di kalangan rekan bisnisnya. Fakta bahwa wanita itu begitu cepat pergi dari ruangan itu membuat Sakura tahu wanita itu tidak benar-benar khawatir akan kondisinya.

“Sasuke, jaga Sakura baik-baik,” Uchiha Itachi menatap adiknya dengan tegas.

Sasuke hanya menghela napasnya. Suami Sakura itu benar-benar tidak ingin berbicara dengan Itachi.Ya, akan kujaga, tenang saja.”

“Kemenanganku di pertandingan polo kemarin tidak kuanggap ada. Rasanya tidak adil karena kau meninggalkan arena di tengah-tengah pertandingan,” Itachi melempar mendali emasnya ke bangku Sasuke, “Lain kali kita harus bertanding lagi Sasuke. Kalau kau kalah lagi baru kembalikan mendali itu kepadaku.”

“Kau terlalu rendah hati Itachi,” Seorang pria dengan coat hitam panjang datang dari balik pintu tanpa diundang, “Sasuke tidak mungkin menang darimu, jadi lebih baik tidak usah meminjamkan mendali itu kepadanya.”

“Ah, selamat pagi Kisame,” Sasuke berjalan ke arah pria itu, “Apa yang membawamu ke tempat ini?”

“Kekhawatiran,” Kisame menjawab Sasuke dengan senyuman licik di wajahnya, “Kekhawatiran yang membawaku ke sini.”

“Kisame sedikit khawatir akan kondisi Sakura,” Itachi memperjelas kata-kata Kisame yang ambigu, “Ah apa kau sudah berkenalan dengannya Sakura?”

“Umm... belum,” Sakura menggelengkan kepalanya, “Sa-salam kenal, aku Sakura.”

Sakura dapat melihat sedikit keanehan dibalik wajah Kisame. Jika Mikoto punya raut wajah yang kaku dan palsu, Kisame sebaliknya. Pria ini memiliki wajah yang mudah dibaca. Ada dua hal yang dapat Sakura lihat di wajah pria itu; kelicikan dan kejahatan. Sakura tidak ingin banyak berspekulasi, tapi jujur, pria ini kelihatan seperti penjahat di film-film. Bentuk tubuhnya yang kekar dan giginya yang tajam membuat Sakura sedikit takut.

“Salam kenal Sakura-san, aku Kisame,” Pria menyeramkan itu berjalan menjauhi Itachi dan Sasuke.

Kisame berjalan ke arah Sakura dan menjabat tangan wanita itu, “Semoga lekas sembuh Sakura-san.”

Dingin. Saat Sakura menjabat tangan pria itu, Sakura merasakan keringat dingin turun dari pelipisnya. Sakura tidak tahu itu apa, namun kelihatannya itu firasat buruk. Sakura memiliki firasat yang sangat buruk akan pria ini. Sebenarnya siapa Kisame ini Sakura juga tidak tahu. Apa hubungannya dengan keluarga Uchiha juga Sakura tidak tahu. Hanya saja kata-kata ‘semoga lekas sembuh’ dari Kisame terasa begitu aneh di telinga Sakura. Seakan-akan pria itu berharap yang sebaliknya.

“Ah, apakah itu obatmu Sakura-san?” Kisame menunjuk obat di atas meja Sakura, “Kau tidak meminumnya?”

“Ah, bukan obat... suplemen. kemarin malam suster sudah memberikan suplemen terakhirku,” Sakura terlihat bingung, “Seharusnya sudah tidak ada suplemen lagi pagi ini.”

“Oh ya?” Kisame menggigit bibirnya, “Hm, suster di sini memang kurang kompeten. Meminum suplemen lebih tidak ada salahnya jadi kurasa lebih baik jika kau meminumnya. Kesehatanmu penting Sakura-san.”

“Ah, terima kasih Kisame-san,” Sakura mengangguk dan meminum suplemennya.

“Kalau begitu saya permisi, saya harus menghadiri rapat di Barcelona,” Kisame memberi hormat kepada Sakura dan meninggalkan ruangan itu bersama dengan Itachi.

Akhirnya kedua orang itu pergi. Rasanya beban hidup Sakura seperti hilang 10 kg. Ketika selesai meminum suplemennya, Sasuke kembali duduk di sebelah Sakura dan menghela napasnya.

“Pria itu berbahaya,” Sasuke menggelengkan kepalanya, “Kau harus hati-hati Sakura.”

“Oh ya?” Sakura mengerutkan dahinya, “Kau selalu seperti itu Sasuke. Kau bilang Itachi jahat, sekarang Kisame juga jahat. Apakah kau tidak terlalu negative thinking?”

“Ini bukan negative thinking,” Sasuke mengoreksi Sakura, “Aku hanya menjadi orang yang logis.”

“Ya, logis,” Sakura menghela napasnya, “Kau selalu logis, bisakah kau lebih kreatif sedikit?”

“Bisa,” Sasuke kemudian mengeluarkan telepon genggamnya dan menekan nomor seseorang yang sangat ia kenal, “Halo, Naruto. Ya, Sakura sudah siuman. Ya, bagaimana kalau kau aku Sakura dan Hinata kencan ganda?”

Wanita yang hamil lima bulan itu membuka mulutnya lebar-lebar seakan-akan ia baru saja mendengar sebuah kasus pembunuhan. Apa? Uchiha Sasuke ingin double date? Pria itu sudah kerasukan hantu ya? Kemarin Sasuke memberikan Sakura kejutan dengan membuat ruangan ini penuh dengan rasi bintang. Kali ini kencan ganda?! Ya, pria ini pasti kerasukan.

“Oh ya,” Sasuke terlihat serius ketika ia berbicara dengan Naruto, “Betul juga, ya boleh. Kencan di rumah sakit itu ide bagus.”

Sakura benar-benar tidak mempercayai hal ini. Seorang Uchiha Sasuke.... merencanakan kencan ganda? Sasuke Uchiha? Suaminya yang dingin dan tidak berperasaan itu? Tidak mungkin kan? Ini pasti bohong.

“Jadi Sakura, besok Naruto dan Hinata akan datang kesini,” Sasuke menyalakan TV besar yang ada di ruangan itu, “Kita akan kencan ganda dengan menonton film romantis.”

“Kau gila ya?” Sakura benar-benar tidak habis pikir, “Apa kau sakit demam?”

Whatever,” Sasuke menghela napasnya.

XXX

Sakura menatap film yang diputar itu dengan mata yang berair. Entah mengapa setiap kali wanita itu menonton film ‘The Notebook’, Sakura selalu ingin menangis. Kelihatannya Hinata juga terharu, karena itulah Naruto memeluk pacarnya itu dengan hangat. Sakura benar-benar merasa iri dengan Naruto dan Hinata, walaupun kedua orang tua Hinata tidak setuju akan hubungan mereka Naruto tetap pantang menyerah.

Ah, Naruto dan Hinata itu seperti Noah dan Allie di film yang Sakura tonton sekarang. Kedua tokoh utama film itu saling mencintai, namun keluarga sang wanita tidak menyetujui hubungan mereka. Akhirnya kedua pasangan itu dipisahkan, tapi tentu saja jodoh pasti akan bertemu lagi. Saat keduanya dewasa, Noah dan Allie bertemu lagi dan saling mencintai lagi.



“So it's not gonna be easy. It's going to be really hard; we're gonna have to work at this everyday, but I want to do that because I want you. I want all of you, forever, everyday. You and me... everyday,” Adegan sang tokoh utama pria ini membuat Sakura ingin menangis.

Kalimat itu sungguh menyentuh hati Sakura. Ya sebuah hubungan itu tidak ada yang mudah, mungkin mereka harus berjuang untuk mempertahankan hubungan itu setiap hari... Tapi yang paling menyentuh adalah ketika sang pria mengatakan, bahwa ia tidak peduli akan kesusahan itu. Pria itu hanya menginginkan wanita itu... setiap hari dan selamanya. Ah, sungguh Sakura menginginkan cerita cinta seperti itu. Seperti Naruto dan Hinata, seperti Noah dan Allie.

“Oi Sakura,” suami dingin Sakura itu memberikan sapu tangan biru tuanya kepada Sakura, “Jangan menangis, jelek sekali tahu.”

Ya, lelaki macam apa itu? Sakura benar-benar tidak percaya... Di saat Hinata mendapat pelukan dari Naruto, Sasuke malah memperlakukan Sakura seperti itu! Wanita mana di dunia ini yang ingin di sebut jelek? Tidak ada. Sakura sama sekali tidak senang mendengarnya.

Ah, tanpa terasa film romantis akhirnya berakhir. Kisah cinta Noah dan Allie benar-benar menyentuh hati.

“Whoa waktu berlalu cepat sekali!” Naruto melepaskan pelukannya dengan Hinata dan menatap jam tangannya, “Wah sudah sore!”

“Terima kasih atas kencan gandannya,” Hinata memberi hormat kepada Sasuke dan Sakura, “Saya sangat menikmatinya.”

“Sakura-chan kau harus istirahat yang banyak ya!” Naruto tersenyum lebar.

“Tentu saja Naruto! Aku tidak perlu diingatkan oleh orang sepertimu,” Sakura tertawa.

Bye bye!” Naruto melambaikan tanganya sebelum benar-benar pergi dari ruangan itu.

Ketika Naruto dan Hinata pergi, dokter Sakura masuk dan tersenyum hangat kepadanya. Kemarin bayinya terdengar sehat, jadi Sakura merasa lebih lega. Mungkin hari ini Sakura bisa pergi keluar dari rumah sakit. Sakura terlihat santai ketika dokternya mengecek temperaturnya, detak jantungnya dan prosedur-prosedur dasar lainnya. Sayang sekali raut wajah santainya berubah ketika dokter itu menjatuhkan penanya.

Sakura tampak terkejut, namun wajah dokter itu tampak jauh lebih terkejut daripada Sakura. Dengan cepat dokter itu memanggil suster-suster lain dan memberikan check-up yang jauh lebih rumit kepada Sakura. Ketika pemeriksaan itu selesai dokter itu menghela napasnya.

“Ada apa... dokter?” Sakura dengan gemetar merasakan keringat dingin di pelipisnya.

“Maafkan saya Nyonya Uchiha,” Dokter itu menggelengkan kepalanya, “Ini aneh sekali... tapi saya tidak bisa mendegar detak jantung bayi anda.”

Wanita itu tidak bisa mengatur napasnya dengan benar. Ini bohong kan?

“Periksa kembali dokter,” Sasuke menatap dokter itu tajam-tajam.

“Saya sudah memeriksa Nyonya Uchiha dua kali—”

Sebelum dokter itu selesai berbicara Sasuke memotongnya dengan tajam, “Periksa kembali.”

Ini pasti bohong. Kemarin bayinya masih baik-baik saja. Kemarin semuanya terasa begitu sempurna dan indah. Ia hanya pendarahan ringan dan dokter bilang istirahat dan suplemen cukup untuk memulihkan tubuh Sakura. Ini... ini tidak mungkin.

“Kandungan Nyonya Uchiha memang sudah lemah sejak awal,” Dokter menggelengkan kepalanya, “Namun kelihatannya bayi anda berada di titik terlemahnya. Saya harus memeriksa Nyonya Uchiha di ruangan yang lebih lengkap dari ini... Saya butuh peralatan yang lebih memadai untuk memeriksa bayi ini.”

Sakura tidak pernah membayangkan hal ini akan terjadi kepadanya. Awalnya ia tenang akan dirinya yang jatuh. Ia tenang karena kandungan itu tidak apa-apa. Awalnya ia tenang walau bayi itu belum menendang.... Ia tenang karena ia tahu perutnya yang besar itu adalah bukti bahwa bayi itu ada. Sakura terlalu sibuk mengkhawatirkan hal lain... sampai-sampai ia tidak mengkhawatirkan kalau hal ini akan terjadi kepadanya. Tidak! Bayinya.... bayinya tidak akan baik-baik saja! Bayinya pasti akan baik-baik saja.

Sulit. Rasanya sulit bagi Sakura untuk bernapas. Ia merasa setiap kali ia mengambil napas ada batu-batu kerikil keras di paru-parunya. Batu-batu itu menghalangi Sakura untuk bernapas dengan benar. Rasanya tubuh Sakura terasa sehat, namun mentalnya tidak. Hilang semua kenangan-kenangan indah yang ia miliki di dunia ini... hanya ada kekecewaaan dan kecurigaan.

Ketika dirinya terlentang dan ditarik ke luar dari ruangannya, Sakura hanya bisa memegang perutnya dengan gemetar. Bayi kecil... Apakah kau disana? Kau bahkan belum menendang perutku... Tidak... Jangan tinggalkan aku... Kau memang awalnya tidak diinginkan, tapi aku tidak ingin kehilanganmu sekarang.



Tidak. Ini tidak mungkin terjadi kepadanya. Tidak. Tidak. Saat Sakura masuk ke ruangan baru itu, suster-suster dengan cepat mengambil peralatan-peralatan lengkap mereka. Sakura pernah mempelajari peralatan itu saat ia masih kuliah. Peralatan semacam ini tidak mungkin dikeluarkan jika kondisinya tidak parah...

Sakura merasa sangat takut, Uchiha Sasuke menunggu di luar... Sakura tidak bisa bergantung dengan suaminya. Tidak... Apa yang harus ia lakukan? Sakura hanya bisa terlentang dan dengan diam menunggu hasil pemeriksaan dokter itu... ia sendirian... dan ketakutan.

Wajah dokter itu semakin cemas, keringat dingin turun dari pelipis dokter itu. Tidak, ini... ini pasti hanya halusinasi Sakura bukan? Ini pasti hanya bayangan Sakura belaka. Pasti Sakura hanya ketakutan saja... ini pasti bohongan.

“Nyonya Uchiha...” Dokter itu menundukan kepalanya, “Bayi anda sudah tiada…

Rasanya ada sedikit dari diri Sakura yang telah mati. Wajah Sakura sekarang menjadi pucat dan kosong. Untuk pertama kalinya di dunia ini ia merasa ia sudah tidak perlu hidup lagi. Seakan-akan ia tidak hanya kehilangan bayinya, tapi juga kehidupannya.

“Tidak!” Sakura berteriak dengan panik, “Bayiku tidak mungkin meninggal... Kemarin ia baik-baik saja!”

Dokter itu terus meminta maaf, namun Sakura terus menyangkal hal itu. Di dalam benaknya, hal ini hanya ilusi belaka. Bayinya pasti masih ada di perutnya... Pasti bayi itu hanya tertidur lelap saja... Iya bukan? Ini pasti bohong. Ini tidak mungkin terjadi!

“Nyonya Sakura langkah selanjutnya yang harus kami lakukan adalah menjalankan operasi untuk mengeluarkan bayi anda,” Dokter itu menatap Sakura dengan iba.

Sakura terus meronta-ronta ketika suster-suster di ruangan itu mencoba untuk menenangkannya. Suara tangisan Sakura mulai terdengar sampai ke luar ruangan dan wanita itu terus berteriak ‘bohong’ dan ‘penipu’. Wajahnya yang pucat sekarang sudah berubah menjadi seputih salju. Bahkan bibir Sakura sudah berubah menjadi keabu-abuan. Jika ada orang yang masuk dan melihatnya... mungkin Sakura akan dikira sebagai pasien gila.

“Nyonya Sakura, apakah anda ingin mengeluarkannya sekarang ataukah anda ingin memberitahukan suami anda dulu?” Dokter itu bertanya kepada Sakura dengan berat hati.

Wanita yang kelihatan gila itu terdiam. Uchiha Sasuke... Sakura sudah tidak peduli lagi kepada Uchiha Sasuke. Tidak! Walaupun pria itu telah menjadi lebih pengertian, tapi pria itu tidak akan mengerti! Pria itu tidak mengandung bayi ini jadi pria itu tidak akan mengerti akan penderitaan Sakura!

“Apakah kau sudah bahagia sekarang?”

 Sakura mengingat kembali rasi bintang Andromedanya. Putri Andromeda diikat oleh rantai dan didekap oleh monster. Sama seperti Sakura sekarang. Suster-suster itu mengikat tangan Sakura dan dokter itu adalah monster yang ingin menghancurkan hidup Sakura.

Andromeda di selamatkan oleh Perseus... namun Sakura tidak melihat Sasuke dimana-mana saat itu. Sasuke tidak menyelamatkan Sakura. Suaminya itu tidak datang dan menghancurkan monster ini. Kalau dipikir-pikir Sasuke juga tidak pernah ada untuk membela Sakura ketika Mikoto dengan palsu memperlakukan Sakura. Ataupun ketika para old money mengejek-ejek Sakura... Sasuke juga tidak menyelamatkan Sakura dari dokter ini.

“Nyonya Sakura? Jadi apa pilihan anda?” Dokter itu bertanya sekali lagi.

Apa? Apa pilihan Sakura? Sakura sudah muak menjadi orang yang baik. Selama ini ia selalu bersabar oleh tingkah laku Sasuke... keluarga Sasuke... maupun para old money yang menyebalkan itu. Sakura sudah muak dengan orang-orang yang berpura-pura bahwa mereka khawatir akan bayinya padahal mereka tidak khawatir sama sekali! Pasti banyak orang yang tertawa saat mereka tahu bayi ini hilang. Para pemegang saham yang mendukung Itachi pasti akan tertawa sekarang.

Itachi. Pasti pria itu. Pasti pria itu yang membunuh bayi Sakura! Jika bayi ini meninggal, pria itu bisa dengan mudah mendapatkan posisi menggantikan Fugaku. Sasuke sudah tidak mempunyai keturunan, karena itulah Itachi pasti dengan aman merebut posisinya! Ya, pasti Itachi yang membunuh bayi itu! Tidak mungkin dalam satu malam bayi itu hilang begitu saja...

Tunggu, Dua hari yang lalu suster mengatakan bahwa suplemen terakhir yang Sakura makan seharusnya adalah suplemen dari dua hari yang lalu. Anehnya... kemarin masih ada suplemen lagi untuk Sakura... jangan-jangan... ah, tidak mungkin... tapi... mungkin saja.... mungkin saja itu bukan suplemen. Kenapa pria bernama Kisame itu menyuruhnya untuk meminum suplemen itu? Kisame... apa dia bekerja sama dengan Itachi?

“Panggil Sasuke...” Sakura memerintahkan dokter itu dengan dingin, wajah Sakura tidak pernah terlihat sedingin itu sebelumnya...

Wajah Sakura yang sekarang dingin itu terlihat penuh dengan dendam dan amarah. Masih ada kencantikan di wajahnya, namun kecantikan itu penuh dengan kekejian. Wanita itu terlihat seperti ia siap menghancurkan siapapun.

Saat Uchiha Sasuke masuk ke ruangan itu, wajah pria itu terlihat khawatir... namun disembunyikan oleh ekspresi dinginnya yang khas.

“Aku telah kehilangan sesuatu yang berharga,” Sakura menatap Sasuke dari kejauhan, “Seseorang mengambilnya dariku. Karena itu aku tidak akan tinggal diam... Aku tidak akan menjadi baik lagi... Kali ini... Kali ini aku akan menjadi jahat... Aku akan menghancurkan siapapun yang berani menginjak-injak diriku.”

“Apa yang kau katakan Sakura?” Sasuke berjalan mendekat dan menggegam tangan istrinya dengan panik.

Sakura menepis tangan Sasuke dan menatap pria itu dengan tajam, “Aku kehilangan bayiku Sasuke. Ia sudah tidak ada di dunia ini.”

Suaminya terlihat lemas. Untuk pertama kalinya Sakura melihat seorang Uchiha Sasuke yang dingin dan kuat menjadi lemas dan tidak berdaya.

“Dokter!” Sasuke dengan marah mendekati dokter itu, “Apa-apaan ini?! Bukankah kau dokter terbaik di rumah sakit ini?!”

Setiap orang di dunia ini mengenakan topeng. Mikoto menggunakannya untuk terlihat elegan, Kisame menggunakannya untuk menghancurkan orang lain... Sakura selama ini tidak pernah mengenakan topeng. Dirinya selalu apa adanya dan penuh dengan kehangatan. Hal ini tidak akan terjadi lagi...

“Biarkan saja Sasuke,” Sakura dengan licik menatap dokter itu, “Kita bisa memecatnya karena ia tidak kompeten. Aku dekat dengan Nyonya Tsunade... kau kenal nama itu bukan dokter? Ya, ia adalah board of directors dari rumah sakit ini. Besok ia akan rapat di Seoul untuk membicarakan kinerja dokter-dokter di cabang Eropa dan Asia.”

Dokter itu sekali lagi meminta maaf, namun Sakura sudah lelah memaafkan orang.

“Lebih baik kau mengeluarkan bayi ini dari perutku dengan baik,” Sakura mengancam dokter itu, “Mungkin saja ini operasi terakhirmu dokter.”

Persetan dengan Mikoto, old money, new money dan Kisame atau pun Itachi. Sakura muak dengan ini semua. Ia muak dengan orang-orang berwajah palsu yang selalu membuat Sakura celaka. Kisame dan Itachi... Kedua pembunuh itu juga harus jatuh. Sakura akan membalaskan dendam bayinya. Ia tidak peduli betapa jahatnya dirinya sekarang.

Mulai sekarang Sakura juga akan mengenakan topeng. Ia akan menjadi wanita yang kuat dan jahat. Ia akan membalaskan dendamnya.



XXX

Semoga kalian menyukai chapter ini! Jangan lupa untuk meninggalkan komen dibawah ini! Pasti akan dijawab hehehe :)

<<Previous Chapter

11 comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...