Marrying Uchiha Sasuke Chapter 10

08:51 Melissa Gabriele 6 Comments

Marrying Uchiha Sasuke

Chapter 10

Berdarah Dingin



Sasuke's Private Jet
Image source : airlinereporter
Sudah tiga hari berlalu semenjak dirinya selesai dirawat di rumah sakit dingin itu. Ada perasaan tidak enak yang masih menyelimuti Sakura. Jujur saja, ia merasa beruntung dirinya tidak menjadi gila. Jika ia cacat mental, mungkin sekarang Sakura sudah berada di rumah sakit jiwa. Untungnya Sakura menegakan bahunya dan mengenakan topengnya. Sakura tidak membuka mulut mengenai Itachi, Kisame maupun apapun. Ia hanya berwajah pucat dan sedih. Seperti layaknya seorang ibu yang baru kehilangan bayinya. Karena perilaku itulah Sakura sekarang berada di jet pribadi Sasuke... Jet yang nyaman itu dengan cepat membawa mereka berdua ke tempat terindah di dunia... Bali. Ya, berlibur itu penting. Dokter menganjurkan agar Sakura pergi berlibur untuk memulihkan pikirannya. Hanya saja Sakura memilih Bali bukan untuk berlibur.

Sakura memilih Bali, karena ia tahu Kisame dan Itachi akan segera kesana. Ia mendengar dari Sasuke bahwa setelah rapat di Barcelona, Kisame dan Itachi berencana menghadiri pesta bisnis di Bali. Tentu saja Sasuke dan Sakura juga diundang. Di saat itulah Sakura akan meneliti semuanya. Sakura akan mengatur apapun yang ia bisa untuk menghancurkan Kisame dan Itachi. Kedua orang itu harus membayar apa yang mereka lakukan terhadap bayi Sakura.

“Sakura...” Suara Sasuke mengejutkan Sakura, “Kau belum makan apa-apa pagi ini... makanlah sedikit.”


Sakura's Alice + Olivia Dress via net-a-porter
Sasuke's Bottega Veneta Shirt via mr-porter
Sakura berhenti memandang jendela. Ketika ia menoleh ke samping, Uchiha Sasuke sudah meninggalkan tempat duduknya dan berjalan mendekat. Pria itu membawa piring beserta makanan. Di piring itu ada nasi putih dan salmon panggang yang terlihat lezat. Mungkin Sasuke sudah memanggil koki jetnya untuk memasak menu itu.

“Tidak terima kasih,” Sakura dengan lemas membalas pernyataan pria dingin di sebelahnya.

“Tidak? Aneh sekali, padahal dulu kau yang selalu mengingatkanku untuk sarapan pagi. Jangan menjadi orang yang munafik Sakura,” Sasuke menyuapkan sesendok nasi ke dekat mulut Sakura, ia dapat melihat istrinya menggelengkan kepalanya, menunjukan bahwa ia tidak mau menerimanya.

“Sasuke... sudah kubilang aku tidak mau makan,” Sakura menjauhkan mulutnya dari sendok itu, namun sendok itu mengikutinya terus.

“Sakura,” Kali ini suaminya itu menatap Sakura dalam-dalam, “Aaa.”

Kali ini Sakura berhenti menjauhkan mulutnya. Seorang Uchiha Sasuke yang dingin dan tidak berperasaan itu mengutarakan kata ‘aaa’ dengan nada terdatar sejagad raya. Suara ‘aaa’ itu begitu datar sampai-sampai Sakura pikir pria itu sedang bersendawa. Dokter spesialis bedah plastik itu pikir Sasuke hanya payah dalam bernyanyi, namun kelihatannya pria itu payah dalam intonasi sehari-hari juga.

Really Sasuke? ‘aaa’?” Sakura mencoba mengikuti nada bicara Sasuke. Kelihatannya pria itu merasa cukup tersindir.

“Ya sudah terserah lah,” Sasuke meletakkan sendoknya ke atas piring dan kembali ke sikap coolnya yang menyebalkan.

“Ya sudah, terserah lah,” Sakura kembali mengikuti mimik bicara Sasuke, kemudian pria itu menatap Sakura dengan tampang tidak senang.

“Apa?”

“Apa?”

“Sakura, berhenti mengikuti kata-kataku,” Sasuke mengerutkan dahinya.

“Tidak apa-apa kan? Aku hanya ingin belajar menjadi seorang Uchiha Sasuke,” Sakura juga mengerutkan dahinya, mengikuti ekspresi wajah suaminya itu.

“Hn, teruskan saja,” Sasuke membalasnya dengan nada menyindir, “Kau sudah sangat cocok Sakura.”

Sakura kemudian mengambil pena dan pulpen dari tasnya dan menuliskan sesuatu di nota kecilnya. Pria yang tadinya mengerutkan dahinya itu sekarang menatap tulisan tangan Sakura. Tulisan dokter memang cepat dan berantakan, tapi Sasuke dapat mengenali tulisan itu.

1.     Kerutkan dahimu
2.     Tetap tenang
3.     Jangan pernah berkata jujur
4.     Analisa musuhmu dengan teliti
5.     Pasang senyum palsumu


Saat itu sudah ada lima poin di kertas Sakura. Poin-poin itu terlihat aneh di mata Sasuke, namun pria itu tahu Uchiha Sakura menuliskannya dengan serius. Saat Sakura menulis angka enam, Sasuke hanya bisa mengerutkan dahinya lagi. Sakura pasti sedang bercanda bukan?

6.     Ketika kau tidak menyukai seseorang, sindirlah mereka

Sindirlah mereka? Apa Sakura sedang menuliskan perilaku Sasuke? Sakura ingin menjadi dirinya? Apa?! Sebenarnya apa yang ada di benak Sakura? Sejujurnya Sasuke merasa sedikit khawatir akan keadaan Sakura. Pria itu tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk menghibur istrinya itu. Tentu saja Sasuke sedih bayinya hilang. Untuk pertama kali dalam hidupnya dirinya tidak bisa tidur di malam hari... Ia bahkan meneteskan air mata karena kehilangan bayinya itu. Tidak ada orang yang tahu. Ah, tidak ada yang perlu tahu. Tapi Uchiha Sasuke mengurung diri di kamarnya dan merenungkan semua yang gagal ia lakukan. Ia gagal membuat Sakura bahagia dan ia gagal melindungi bayinya. Ia terus merenungkannya sampai-sampai ia tersadar. Sebenarnya apa yang bisa Sasuke lakukan? Ia tidak bisa menghidupkan orang yang sudah tiada… Sekarang yang bisa ia lakukan adalah menghibur orang yang memang ada di dunia ini... Sakura. Ia ingin menghibur Sakura.

Liburan ke Bali terdengar seperti solusi yang paling baik, apalagi besok ada pesta bisnis juga. Pas sekali. Mungkin dengan liburan pendek di Bali ini Sakura akan segera pulih kembali. Mungkin Sakura akan kembali menjadi Sakura yang Sasuke kenal. Jujur... Sasuke merindukan senyuman Sakura yang hangat itu. Pebisnis muda itu jarang mendapatkan kehangatan semacam itu di dunia bisnisnya yang dingin. Ketika Sakura datang ke kehidupannya, kehangatan itu muncul. Sayangnya sekarang kehangatan itu pergi lagi darinya.

“Hey, Sasuke,” Sakura menatap suaminya dengan serius, “Bagaimana caranya bisa menjadi dingin sepertimu?”

“Jangan,” Sasuke dengan cepat menjawab pertanyaan Sakura, “Percayalah kau tidak ingin menjadi diriku.”

“Selama ini aku selalu menjadi orang yang baik, menuruti kata-kata orang lain, terdiam ketika dicaci-maki, tersenyum ketika direndahkan...” Sakura menerawang jauh, “Ketika kejadian itu selesai, aku akan merenung dan berpikir, kenapa aku diam saja? Kenapa aku begitu lemah?”

Sasuke ingin mengatakan sesuatu, namun pilotnya sudah mengumumkan pendaratan mereka.

“Mr and Ms. Uchiha, as we start our descent. Make sure your seat belt is securely fastened please turn off all electronic devices until we are safely parked at the gate. Thank you for your attention.”

Sasuke hanya bisa menghela napasnya dan berjalan pergi dari Sakura. Pria itu akhirnya duduk di tempat duduknya dan mengenakan sabuk pengamannya. Jet pribadi memang luas, namun jarak duduk antara Sasuke dan isterinya itu benar-benar jauh.

“Kebaikanmu itu bukan sebuah kelemahan Sakura,” Pria bermarga Uchiha itu akhirnya membuka mulutnya, “Terkadang aku justru ingin menjadi seperti itu. Yah, memang melukai orang lain dan membela diri sendiri itu punya prestisenya sendiri, namun itu semua punya after-effectnya. Pada akhirnya kau juga akan merenung dan bertanya kepada dirimu sendiri, ‘kenapa aku melakukan itu?’ Perasaan bersalah dan membenci diri sendiri akan datang. Orang yang kau lukai akan terluka dan sebagian dari dirimu akan merasa kasihan. Kemudian kau akan membenci dirimu sendiri karena kau tidak bisa menarik kembali apa yang sudah kau lakukan.”

Sasuke dapat melihat ekspresi yang berbeda dari Sakura. Wanita itu seperti sedang berpikir keras, seakan-akan pikirannya penuh dengan pertanyaan. Wajah dingin istrinya itu perlahan berkurang. Ada sepercik kehangatan yang muncul di wajah wanita itu. Mungkin wanita itu akhirnya tersadar bahwa kehangatannya adalah kekuatannya. Mungkin juga tidak. Sasuke benar-benar tidak bisa membaca pikiran Sakura.

Istrinya itu hampir saja membuka mulutnya, namun jet pribadinya sudah mendarat dengan cepat di atas bandara internasional Bali. Pendaratan yang mulus itu memberikan goncanagan pelan dan kemudian jet itu mulai mencari posisi yang tepat untuk berhenti. Sebelum Sakura dapat mengatakan apa-apa, pilot Sasuke sudah menyiarkan pendaratan mereka.

“Mr and Ms. Uchiha, welcome to Ngurah Rai International Airport. Local time is 09:00 AM and tempreture is 28°C.”

Sakura menghela napasnya, wanita itu tidak jadi mengatakan apa-apa. Sasuke ingin membuka mulutnya juga, namun pilot jetnya itu kembali memberikan pengumuman.

“For your safety and comfort, please remain seated with your seat belt fastened until the Captain turns off the Fasten Seat Belt sign. This will indicate that we have parked at the gate and that it is safe for you to move about. That is all, have a nice day and enjoy your time in Bali.”

Setelah pilot itu selesai berbicara, Sasuke dan Sakura terdiam di tempat duduk mereka masing-masing. Keduanya saling bertatapan. Tatapan Sasuke yang dingin bertemu dengan tatapan Sakura. Hm. Seberapa kerasnya Sakura berusaha untuk terlihat dingin dan kuat, wanita itu memang tetap memiliki kehangatannya sendiri. Walau kehangatan itu masih redup, namun Uchiha Sasuke dapat melihat kehangatan itu mulai kembali. Ia berharap suatu saat nanti dirinya bisa merubah Sakura yang dingin itu kembali hangat lagi.

XXX

Rooftop Double-Six Bali
Image source : baligo
Pesta bisnis selalu membuat Sakura merasa tidak nyaman. Ia masih ingat pertama kali ia menghadiri pesta seperti ini. Pesta pertamanya diadakan di Ritz-Carlton Jepang, hari ini pestanya diadakan di Double-six Rooftop Bali. Tempat ini terletak 15 meter di atas permukaan laut. Dengan luas 1700 meter persegi, Double-six Rooftop adalah salah satu Rooftop Bar terbesar di dunia. Kolam air kecil menghiasi atap itu. Sofa-sofa melingkar ada di tengah kolam, memberikan kesan yang unik. Biasanya tempat ini adalah bar yang terbuka untuk umum, namun malam itu hanya investor dan rekan-rekan bisnis terpilih sajalah yang bisa masuk ke sana.

Uchiha Sakura dengan tenang menandang Pantai Double-six Seminyak, Bali. Saat itu matahari sedang terbenam. Pemandangan seperti ini seharusnya membuat orang-orang merasa tenang. Sayang sekali, perasaan itu tidak datang ke dalam diri Sakura. Wanita itu tidak memiliki ketenangan dalam hatinya, tidak sampai Kisame dan Itachi jatuh. Ia tidak bisa tinggal diam ketika bayinya hilang begitu saja dari hadapannya.

“Sakura-san?” Suara yang sangat ia kenal menghentikan lamunannya... Suara itu, suara Uchiha Mikoto.

“Saya turut berduka cita atas bayi anda,” Wajah Mikoto terlihat sedikit sedih, namun wanita itu tetap terlihat elegan seperti biasanya.

Entah kenapa Sakura tidak bisa merasakan rasa empati dari wanita itu. Ia hanya merasakan rasa kasihan. Sakura benar-benar tidak menyukai rasa kasihan. Apalagi dengan tatapan Uchiha Mikoto yang sekarang. Tatapannya seakan-akan mengatakan bahwa Sakura telah gagal memberikannya cucu. Seakan-akan ia tidak hanya merasakan rasa kasihan tapi juga rasa kecewa. Uchiha Mikoto sepertinya kecewa Sakura gagal memberikan penerus perusahaan Uchiha untuk Mikoto dan keluarganya.

“Tidak apa-apa,” Sakura mengenakan topengnya dan tersenyum dingin.

“Ah, Sakura...” Mikoto dengan halus meneliti gaun lace merah Dolce & Gabbana Sakura dan menghela napasnya pelan-pelan, “Kurasa lain kali jangan mengenakan baju berwarna merah terang seperti itu. Kau tahu rekan-rekan bisnis di sini juga banyak yang berasal dari Cina bukan? Kesannya kau seperti tidak bersedih atas hilangnya bayimu... Mungkin warna hitam lebih cocok.”

Bagus. Sekarang Mikoto benar-benar sudah menyatakan perang kepadanya. Seharusnya di saat-saat seperti ini seorang ibu mertua memeluk Sakura dan menangis bersama Sakura. Seharusnya seorang ibu mertua yang benar mengusap-usap pundak Sakura dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Mikoto tidak seperti itu. Wanita itu harus mengkritik cara berpakaian Sakura juga. Di saat menyedihkan seperti ini, Uchiha Mikoto justru lebih mengkhawatirkan perasaan rekan-rekan bisnisnya daripada perasaan Sakura.

“Saya mengerti Mikoto-san,” Sakura berhenti memanggilnya oka-san atau oka-sama. Senyuman palsu yang dingin muncul di wajah Sakura, kemudian dokter operasi plastik itu menatap gaun ketat hitam Herve Leger Mikoto dengan tajam, “Ah, tapi Mikoto-san, apakah baju anda tidak terlalu ketat untuk umur anda? Kurasa lain kali jangan mengenakan Herve Leger bandage dress. Aku dengar jika sudah terlalu tua, selulit anda juga bisa terlihat kalau mengenakan baju seketat itu.”

Sakura Dolce & Gabbana dress, Mikoto Herve Leger dress
Image source : net-a-porter , fwrd 
Raut wajah Mikoto yang elegan dan tenang berubah drastis. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya Sakura melihat Mikoto mengerutkan dahinya. Wanita yang biasanya tenang dan palsu itu kali ini merasa tersinggung. Sudah mengerti bukan perasaan Sakura? Mengkritik baju seseorang itu bukanlah hal yang baik Mikoto-san. Sakura hanya membalas raut wajah Mikoto yang kaget itu dengan senyuman palsu. Menantunya itu membungkuk, kemudian meninggalkan Mikoto sendirian.

Sakura tidak ingin menghabiskan waktunya untuk meladeni Mikoto. Ia punya rencana yang harus ia jalankan. Dalam tiga hari ini Sakura menemukan banyak hal. Ia telah mengumpulkan banyak informasi dari rekan-rekan bisnisnya dan mata-mata Sasuke. Kelihatannya Kisame ingin mendekati seseorang di pesta ini. Seorang investor besar untuk proyeknya di Dubai, Hatake Kakashi.

Ia dengar Kakashi adalah salah satu pemain saham besar dunia. Kakashi bahkan memiliki banyak saham di Dubai. Kisame membutuhkan bantuan Kakashi dan Sakura tahu tanpa Kakashi... Kisame akan kehilangan proyek Dubainya. Tanpa bantuan seorang Hatake, Kisame tidak mungkin mampu untuk mendapatkan izin di Dubai. Kisame membutuhkan Kakashi dan Sakura akan melakukan apapun yang bisa ia lakukan untuk menggagalkan itu.

Tidak sulit untuk mencari Kakashi. Pria itu selalu mengenakan masker di wajahnya. Sakura dengar pemegang saham itu memiliki alergi, karena itulah ia selalu mengenakan masker. Rambutnya yang abu-abu membuatnya terlihat lebih tua dari umurnya, tapi Sakura tahu Hatake Kakashi masih cukup muda. Sang pengusaha muda itu memiliki kepribadian yang cukup unik. Ia sangat mencintai binatang. Ia bahkan menyumbangkan banyak uang untuk WWF dan institusi perlindugan hewan lainnya. Ini adalah jackpot Sakura. Dengan inilah Sakura dapat menghancurkan Kisame.

Wanita dengan gaun merah Dolce & Gabbana itu menatap Kakashi dari kejauhan. Ia bisa melihat Kisame datang mendekat dan berjabat tangan dengan Kakashi. Kedua orang itu tampak cukup kompak. Terkadang Kisame akan tertawa, kadang kala Kakashi akan tertawa. Kelihatannya pendekatan bisnis Kisame cukup baik. Sayang sekali, kedekatan itu tidak akan bertahan lama.

Uchiha Sakura berjalan dengan elegan ke dekat Kakashi dan dengan sengaja menumpahkan mocktailnya ke jas raja minyak itu. Ekspresi Sakura terlihat panik, kemudian wanita itu mulai menjalankan aktingnya.

“Maafkan saya,” Sakura membungkuk, “Maafkan saya.”

“Ah tidak apa-apa,” Kakashi mengambil sapu tangannya dan membasuh jasnya dengan hati-hati.

“Ini semua salah saya,” Sakura kemudian menatap Kakashi dengan wajah yang memelas, “Ah, saya baru membeli setelan jas baru untuk suami saya. Saya menitipkannya di Lobi tadi pagi, saya rasa ukuran kalian sama.”

“Tidak usah repot-repot Nyonya... uh?” Kakashi menunjuk Sakura, seakan-akan ia ingin mengingat nama Sakura.

“Nyonya Uchiha,” Sakura tersenyum tipis, “Ini adalah kewajiban saya. Saya akan segera mengambilkannya untuk anda.”

Sakura menunggu kata-kata seorang Hatake Kakashi yang terkenal gentleman itu. Kata-kata yang sangat penting agar rencananya berjalan dengan baik. Ah, itu dia. Kata-kata itu.

“Biar kutemani Nyonya Uchiha,” Pria yang bernama Kakashi Hatake itu berjalan mengikuti Sakura dan meninggalkan Kisame sendirian.

Perjalanan mereka berdua ke lobi cukup singkat. Sakura berkenalan sebentar dengan Kakashi, kemudian mereka berdua bercanda tawa soal pesta yang mewah tadi dan betapa mereka berdua mencintai Bali. Percakapan mereka cukup ringan, sebuah awal yang bagus untuk memulai sebuah pertemanan bisnis.

Ketika Sakura mengambil tas belanjaannya dari Lobi, Hatake Kakashi melepas jasnya. Sakura dengan hangat memberikan jas sutra dari desainer terkenal Bali kepada Kakashi. Pria itu terlihat senang melihat jas itu. Ia menghargai setiap jahitan dan sentuhan lembut sutra itu.

“Uchiha-san, saya akan segera mengembalikan jas ini,” Kakashi tersenyum hangat, “Arigatou.

“Ah, ini juga salah saya Hatake-san,” Sakura tersenyum tipis.

“Oh ya, Hatake-san,” Sakura berlagak terkejut, “Apa benar anda ingin memulai proyek dengan Kisame-san?”

“Ah, itu masih kupikirkan,” Kakashi membetulkan posisi jasnya dengan serius, “Proyeknya cukup menjanjikan... tapi aku masih cukup ragu dengan budgeting dan target marketnya.”

“Ah, awalnya saya juga ingin membantu proyek itu, sayangnya kudengar proyek itu akan merusak laut Kakashi-san,” Sakura berpura-pura terlihat sedih, “Saya tidak tega melihat populasi hewan laut itu terganggu.”

Hatake Kakashi mendengarkan penjelasan Sakura dengan serius. Pernyataan Sakura sangat meyakinkan. Wanita itu bahkan memperlihatkan proyek-proyek Kisame yang lama. Di proyek-proyek lama itu Kisame juga sering membuang limbah sembarangan dan menghancurkan ekosistem binatang.

“Terima kasih Uchiha-san,” Kakashi benar-benar terlihat lega, “Aku tidak tahu apa yang harus kuperbuat tanpa bantuanmu. Aku benar-benar tidak akan menjalani proyek itu.”

Senyuman Sakura muncul. Itu adalah sebuah senyuman kemenangan, “Ah, ini bukan apa-apa Hatake-san.”

“Aku percaya padamu Sakura-san,” Kakashi tersenyum, “Aku dengar keluarga Uchiha dan Kisame-san sangat dekat. Apalagi Itachi-san dan Kisame-san... Jika kau yang dekat dengan Kisame berkata seperti itu... berarti kau tidak mementingkan hubungan bisnis kalian tapi kau benar-benar memperhatikan ekosistem.”

Itachi. Kisame. Sakura tidak ingin mendengar nama itu lagi. Sakura benar-benar membenci mereka. Sakura tidak akan tinggal diam sampai hidup mereka sengsara. Sakura tersenyum senang. Satu langkah balas dendamnya selesai.

XXX

Atap Double-Six Seminyak itu terlihat sepi. Sekarang langit sudah gelap, orang-orang sudah meninggalkan pesta karena hujan angin yang baru saja berhenti. Hujan tadi membasahi ruangan itu, namun Sakura suka suasana seperti ini. Hanya ada Sakura di atap itu. Sasuke sekarang sedang pergi ke kamar kecil. Suaminya menganjurkan Sakura untuk menunggu di lobi, namun Sakura ingin menikmati pemandangan atap Double-Six. Atap itu terlihat kelam di tengah hujan. Rasanya benar-benar mencermikan suasana Sakura sekarang.

Ada spot kecil di atap itu yang terlihat curam. Sakura memandang sudut itu dari kejauhan. Di sudut itu, ada seseorang... Tunggu orang itu adalah Kisame! Pria itu sedang merokok di pojok itu. Jika Kisame jatuh dari sana, mungkin ia akan mati. Jatuh dari gedung setinggi 15 meter, ya pria itu pasti akan mati jika ia jatuh. Sakura hanya bisa menerawang jauh, ada sebagian dari dirinya yang ingin mendorong pria itu. Sakura merasakan keringat dingin di wajahnya, kemudian wanita itu melangkah perlahan menuju ke tempat curam itu.

Tidak! Tidak... Sakura tidak berencana untuk membalas dendam sejauh itu... Tapi... Tapi nyawa bukankah harus dibayar oleh nyawa? .... Tidak. Tidak. Sakura.

Wanita itu terus menggelengkan kepalanya, namun ia tidak bisa menghentikkan langkahnya. Ia terus mendekati Kisame, kemudian langkah wanita itu terhenti. Tanpa harus didorong. Kisame yang sedang membuang puntung rokoknya sembarangan tiba-tiba terpeleset jatuh. Pria itu berusaha berpegangan pada atap itu. Pria itu berteriak minta tolong, namun hanya ada Sakura di tempat itu.

Sakura tidak bisa bergerak. Hatinya penuh dengan pergumulan. Jika ia tidak menolong Kisame, pria itu akan meninggal. Pasti. Dalam seketika pria itu akan hilang dari kehidupan Sakura. Sudah sepantasnya bukan? Tapi Sakura merasa khawatir. Keringat dingin terus turun di kepalanya. Bantu? Tidak? Bantu? Tidak? Sakura tidak bisa menentukannya. Ia hanya terdiam dalam rasa takut.

Kali ini Sakura tidak hanya berkeringat dingin, namun tangannya mulai gemetaran. Apakah ia akan menjadi seorang pembunuh? Seorang Sakura yang ia kenal tidak mungkin membunuh orang. Tidak. Hanya saja ada sedikit dari dirinya yang ingin mendorong Kisame agar pria itu cepat jatuh saja ke dalam laut.

“Tolong aku!”

Suara pria itu mengiang-ngiang di kepala Sakura. Pria itu terdengar ketakutan. Kisame yang biasanya penuh ego dan kepercayaan diri sekarang terdengar lemah. Rasanya pria itu sudah benar-benar tidak berdaya. Sakura bisa berlari sekarang dan menolong pria itu... namun Sakura masih belum beranjak dari tempatnya. Kakinya seakan-akan sudah beku di lantai kayu restoran itu.

“To— Tolong!”

Sekarang suara Kisame sudah patah-patah. Rasanya pria itu akan segera kehilangan semua tenaganya dan jatuh. Jika pria itu jatuh... Jika pria itu jatuh... Maka Sakura akan benar-benar menyelesaikan rencana balas dendamnya. Sakura akan merasa bahagia. Tapi benarkah itu? Apakah Sakura akan benar-benar bahagia?

“Tolong aku!”

Kali ini Sakura berlari menuju pria itu. Kisame dapat melihat wajah Sakura. Wajah Kisame terlihat ketakutan. Jadi ini pria yang sedang berada di ambang kematiannya. Wajah itu terlihat begitu menyedihkan... Namun Sakura kembali mengingat bayinya. Apakah ini ekspresi wajah bayinya ketika Kisame membunuh bayinya? Kenapa pria ini tega?! Kenapa?!

“To-tolong aku Uchiha Sakura-san,” Pria itu terlihat seperti pengemis di jalanan... kumal dan menyedihkan.

“Sebelumnya... aku ingin bertanya satu hal.... Apakah kau yang membunuh bayiku?” Sakura menatap Kisame dengan penuh harapan. Ia berharap bayinya tidak dibunuh. Ia benar-benar berharap kegugurannya hanya kecelakaan belaka.

“A-Aku tidak membunuhnya!” Kisame menyangkalnya, namun Sakura tahu ketika seseorang berbohong. Saat itu Kisame sedang berbohong. Gelagat orang berbohong pernah Sakura pelajari saat ia mengambil kelas Psikologi. Orang itu akan terlihat khawatir, suaranya akan sedikit gemetar, gagap, berkeringat dingin dan orang itu akan menghindari kontak mata. Kisame melakukan itu semua. Ternyata benar... pria itu yang membunuh bayinya. Kenapa... Kenapa pria itu tega?

“Tolong aku Uchiha Sakura-san!” Kisame terdengar begitu menyedihkan... namun Sakura tidak bisa menarik tangan Kisame. Tenaganya benar-benar hilang. Kenapa pria itu tega?

“Aku... Aku percaya kepadamu,” Sakura menjawab Kisame dengan anggukan. Itu semua hanya akting belaka.

Sakura tahu Kisame yang membunuh bayinya. Kalau tidak pria itu tidak mungkin memberikan gelagat seorang pembohong. Sekarang sebagian besar dari diri Sakura ingin membunuh pria itu. Sakura ingin mendorongnya dan membalaskan dendam bayinya. Tapi... tapi ia tidak bisa. Tangannya gemetar dan keringat dingin kembali turun dari pelipisnya. Ia ingin menjadi seseorang yang berdarah dingin. Ia pikir kemarin di rumah sakit itu ia sudah menjadi seseorang yang berdarah dingin... Ternyata tidak. Di saat langit memberikan kesempatan kepadanya, Sakura tidak dapat melakukan apa-apa.

Tap! Tangan pria itu akhirnya lepas dari pegangannya. Keringat dinginnya membuat tangan pria itu menjadi basah. Sakura dengan spontan menarik tangan pria itu. Sayang sekali... Sakura sudah terlambat. Sakura sudah berusaha menarik tangan Kisame, namun pria itu jatuh duluan. Ketika tangan Kisame terlepas dari jangkauannya Sakura merasakan lubang yang lebih kosong daripada saat kehilangan bayinya. Rasanya Sakura seperti masuk ke gerbang neraka. Rasanya Sakura seperti kehilangan jati dirinya. Tidak! Tidak! Ini tidak boleh terjadi! Kisame harus tetap hidup! Pria itu juga manusia! Ia punya hak untuk hidup! Layaknya bayi Sakura, Kisame juga perlu hak untuk hidup!

“Kisame-san!” Sakura berteriak panik, air mata turun dari wajahnya.

Untuk pertama kalinya di dalam hidupnya, Sakura melihat dunia bergerak dengan jauh lebih lambat. Seakan-akan semuanya seperti slow-motion. Wajah ketakukan Kisame menghantui Sakura kemudian Sakura mengingat kata-kata Sasuke di jetnya kemarin.

“Yah, memang melukai orang lain dan membela diri sendiri itu punya prestisenya sendiri, namun itu semua punya after-effectnya. Pada akhirnya kau juga akan merenung dan bertanya kepada dirimu sendiri, ‘kenapa aku melakukan itu?’ Perasaan bersalah dan membenci diri sendiri akan datang. Orang yang kau lukai akan terluka dan sebagian dari dirimu akan merasa kasihan. Kemudian kau akan membenci dirimu sendiri karena kau tidak bisa menarik kembali apa yang sudah kau lakukan.”

Kisame... meninggal? Sakura membunuh.... membunuh Kisame? Tap! Dalam hitungan 0.01 detik Sasuke datang dan menarik tangan Kisame dengan legannya yang panjang. Lengan Sasuke yang kuat dapat menarik Kisame dengan mudah. Rasanya beban Sakura itu diangkat seketika. Dalam sekejap Kisame terbanting dan terbaring di lantai. Wajah pria itu begitu pucat. Matanya tertutup. Kisame terlihat... terlihat seperti seorang mayat. Sakura kembali gemetar.

“Sa-Sasuke... Apakah ia masih hidup?”

Sasuke mengecek nadi Kisame. Suami Sakura itu mengangguk dan menatap mata isterinya itu, “Tenang saja, ia hanya pingsan karena shock.

“Sasuke... Aku... Aku hampir membunuhnya,” Sakura terus gemetar, ia tidak percaya... ia hampir saja membunuh seseorang.

“Kau jangan mengada-ngada Sakura,” Sasuke menepuk kepala Sakura pelan-pelan, “Tadi itu hanya kecelakaan.”

Sakura merasakan air mata di wajahnya. Ia benar-benar merasa bersalah. Kenapa ia tega melakukan hal semacam itu. Itu benar-benar tidak manusiawi. Sakura tidak ingin melakukan hal ini lagi! Balas dendam ternyata berat sekali... Tapi, kalau begini siapa yang akan membalaskan dendam bayinya?

“Sasuke, apakah menurutmu nyawa harus dibayar oleh nyawa?” Sakura dengan gemetar menatap suaminya.

“Oi Sakura kenapa kau mengatakan itu?”

Sakura kemudian menangis di pelukan Sasuke. Wanita itu benar-benar tidak bisa menahan tangisannya. Rasanya dirinya baru saja dihadapkan oleh kondisi terburuk di dunia. Sakura tidak tahu apa yang harus ia lakukan jika Sasuke tidak ada di sana. Mungkin seumur hidupnya Sakura akan menyesali perbuatannya. Mungkin ia akan kehilangan jati dirinya.

“Sasuke...” Sakura terus menangis di pelukan pria itu, “Jangan tinggalkan aku.”

“Aku tidak akan kemana-mana Sakura,” Sasuke menepuk-nepuk pundak isterinya.

Sakura pikir dirinya sudah menjadi pembunuh berdarah dingin... Namun ia salah. Sasuke telah menyelamatkan Sakura dari status itu. Sakura tidak tahu bagaimana ia harus berterimakasih kepada suaminya, namun ia terus memeluk pria itu dengan erat.

Pelukan Sasuke sangat... hangat...

XXX

I hope you like this chapter :) A little bed time story before you go to bed <3 

Spoiler alert : The revenge does not stop here...

That's it guys! Semoga chapter ini tidak mengecewakan dan semoga kalian menyukainya! Selamat malam dan semoga mimpi kalian indah ! Btw, Kenapa Bali? Karena aku cinta Bali dan kalau aku honeymoon, seberapa banyak pun uangku aku akan tetap memilih Bali! It's so beautiful dan aku cinta Indonesia xD


I hope you like this chapter :) Don't forget to leave the comment below! I will reply xD

6 comments:

  1. Jean

    Wow, it's stunning as usual! I love how you describe Mikoto's Herve Leger's bandage dress. Whoa. Sakura's sarcastic nature is so cool. You go girl! I love ittt Suka suka pake banget. Plis continuee yah bebiii.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Awww... Thanks Jean! I truly appreciate all of your support! <3 You're the sweetest!
      I know Herve Leger is badass! I love it and I love writing Sakura's sarcastic nature :)
      I hope you keep on reading~

      XOXO

      Delete
  2. Laura..
    Hey.. i love your fanfiction
    Your fanfiction is very good
    I want to read your fanfiction again
    Hemm.. i want,, you update your next chapter fast

    Okay.. thank you Mellissa-san:)


    ReplyDelete
    Replies
    1. Awww... Thanks Laura!!! I truly appreciate your comment :) I'll try to update as fast as I can!
      Till I see you on the next chapter!
      Have a wonderful day!
      XOXO

      Delete
  3. Hani
    Halo Meli-san...
    Saya suka cerita kakak dehh... suka banget:)
    Lanjutin lagi dong kak ceritanya... gak sabar nih... hehe:D I hope you can fast update the next chapter. :) oke Meli-san.. bye~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi there Hani-san! Wah thank youu yah kamu udah baca sampe sepanjang ini! I truly appreciate your support for this fiction! I'll try to update as fast as I can! I hope you'll be waiting <3

      XOXO

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...