Marrying Uchiha Sasuke Chapter 8

09:26 Melissa Gabriele 17 Comments


Chapter 8
Perang Dingin Keluarga Uchiha

XXX

A/N:
Wow! Thanks for checking out my website guys :) I miss you readers so much! Enjoy the website version! I hope you like this version better... salah satunya karena saya dengar ff.net sudah di banned di Indonesia :( Semoga dengan adanya website ini kalian bisa membaca dengan mudah!

XXX



Uchiha Itachi dapat merasakan dinginnya malam hari di Klosters, Switzerland. Musim dingin telah tiba dan salju turun menghiasi langit Switzerland yang penuh bintang. Pria dengan cashmere coat Givenchy itu menelusuri salju putih dihadapannya dan berjalan dengan berat. Gunung Davos Klosters yang indah seakan menatap Itachi dengan penuh iba. Pria itu merasa waktu berlalu dengan begitu cepat seakan-akan cinta pertamanya masih ada disana. Seakan-akan Itachi masih SMA dan gadis itu masih tersenyum hangat menemaninya berjalan di Klosters. Ia masih mengingat jelas senyuman gadis itu saat ia meluncur di atas salju. Mungkin alasan ia tidak bisa mengganggu hubungan Sakura dan Sasuke adalah cinta. Ia dapat melihat cinta di antara kedua pasangan itu dan ia pernah merasakan cinta sebelumnya. Namun alasan itu juga yang membuat Itachi semakin membenci dirinya sendiri. Ada perasaan campur aduk di dalam dirinya sekarang. Sakura sudah hamil lima bulan sekarang dan dengan adanya bayi di dalam kandungan wanita itu, kemungkinan Sasuke untuk menjadi penerus perusahaan Uchiha akan semakin besar.

"Itachi," panggil Kisame. Pria penerus Perusahaan Hoshigaki yang sombong itu kembali mengganggu Itachi. Kisame adalah pria yang cukup tinggi. Itachi hanya menghela napasnya dan ia dapat melihat sedikit uap keluar dari mulutnya.

“Uchiha Itachi, sudah lama sekali kita tidak bertemu, aku banyak mendengar rumor kalau adikmu akan segera menggeser posisimu. Heh, aku sudah tidak sabar melihat kau menghancurkannya,” Kisame berjalan dengan cepat, seakan-akan salju itu sama sekali tidak berat, “Ah, sama seperti kau menghancurkan gadis itu.”

Itachi hanya terdiam, ia berjalan seperti biasa, seakan-akan Kisame yang sekarang ada di sebelahnya itu tidak pernah ada.

“Kau mendekati gadis itu, berpura-pura mencintainya dan mengumpulkan informasi tentang perusahaan keluarganya. Aku masih ingat jelas ekspresi di wajahnya ketika kau membuat perusahaan keluarganya hancur,” Kisame tersenyum dingin, “Aku selalu mengagumimu Itachi, kau dan aku sama, kita akan melakukan segala cara untuk menghancurkan rival kita untuk berada di posisi tertinggi.”

Itachi dapat melihat gadis itu lagi di benaknya, gadis yang sangat ia cintai. Pria dengan coat Givenchy itu akhirnya berhenti berjalan dan menatap Kisame dengan dingin. Ada sebagian dari dirinya yang ingin pria itu berhenti bicara, namun Itachi cukup pintar untuk tahu Kisame adalah salah satu rekan bisnis Uchiha yang penting. Ia juga cukup tahu Kisame memiliki banyak informasi yang berguna untuknya. Itachi akhirnya hanya bisa meneliti ekspresi wajah Kisame yang angkuh dan berusaha mencari maksud kedatangan pria itu kehadapannya. Seperti biasa Kisame yang ambisius itu selalu datang dengan keinginan terselubung. Itachi dapat merasakan ada rencana besar yang sedang direncanakan Kisame, dan pria itu membutuhkan Itachi di dalam rencana itu.

“Aku tahu rasanya melukai orang yang kita cintai,” suara Kisame lebih terdengar senang daripada iba, “Rasanya memuaskan bukan? Sama seperti ikan hiu yang membunuh saudara-saudaranya untuk bertahan hidup di perut ibunya. Kita harus mengorbankan semuanya demi bertahan hidup.”

Apakah Kisame menginginkan Itachi untuk menghancurkan seseorang? Mungkin. Kisame memiliki reputasi yang buruk dalam bersahabat. Ada banyak rekan kerja dan rival yang akhirnya jatuh bangkrut dan terjerat hutang karena Kisame. Itachi dapat merasakan Kisame menginginkan Itachi dan Sasuke untuk saling menghancurkan satu sama lain. Itachi dapat melihat keinginan Kisame untuk mengadu domba, kemudian mengambil sesuatu dari diri Itachi dan Sasuke. Itachi tidak tahu apa itu, namun ia tidak menyukai firasatnya.

“Tapi kita bukan hiu,” Itachi menatap Kisame dalam-dalam, “dan orang yang melukai orang yang ia cintai tidak akan berakhir dengan baik.”

“Bukankah itu berlaku untuk kita berdua?” Kisame membalas tatapan itu dengan tajam.

“Sampai jumpa....” Itachi akhirnya berjalan pergi, “di pertandingan polo nanti.”

Setelah Kisame menatap punggung pria itu dari belakang, Kisame akhirnya berhenti mengejar Itachi dan menatap surat undangan yang ada di sakunya. Senyuman licik terukir di wajahnya. Pria penerus keluarga Hoshikagi itu menatap undangan itu seakan-akan menjawab, ‘Ya, selamat menghancurkan adikmu di pertandingan polo besok.’

You are invited to,
The Annual Polo Winter Charity Gala
Uchiha crop.
Klosters, Switzerland

XXX


Uchiha Sakura dapat melihat ski chalet yang besar. Jujur ia tidak pernah melihat ski chalet sebelumnya sampai ia datang ke Switzerland. Ski chalet itu seperti vila besar yang semua struktur dan dindingnya terbuat dari kayu. Atapnya landai dan lebar, ditutupi salju putih yang indah. Hari itu sudah malam dan cahaya lampu-lampu yang hangat mempercantik ski chalet yang besar itu. Ia tidak percaya ia akan tinggal di tempat ini untuk beberapa hari hanya untuk menunggu sebuah charity gala dari keluarga suaminya yang kaya raya itu. Perusahaan besar memang berbeda. Bahkan acara tahunan seperti ini saja bisa dirayakan di Switzerland, Klosters pula. Tempat ini sangat terkenal dengan salju dan skinya, orang-orang biasanya harus menabung bertahun-tahun untuk berwisata kesini. Kamar hotel disini saja sudah cukup mahal, namun keluarga Sasuke justru menyewa puluhan chalet dan satu lapangan polo bersalju untuk pertandingan polo. Sebenarnya polo itu apa sakura juga tidak tahu. Yang ia tahu hanyalah tempat ini dingin, mewah, dan ia sangat tidak beruntung. Cuaca ini terlalu dingin untuk dirinya dan bayinya belum menendang-nendang perutnya. Ya. Sudah lima bulan dan bayi itu tidak pernah menendang perutnya, ia sangat sedih sampai-sampai ia khawatir bayi itu tidak normal. Ataukah karena Sakura memang sedang tidak sehat? Sakura memang merasa tenggorokannya berat dan ia selalu ingin terbatuk-batuk. Atau mungkin bayi itu benci kepadanya?

“Kenapa cemberut lagi sih?” Sasuke menepuk pundak Sakura dan kehangatan sedikit datang ke tubuh wanita itu, “Jelek sekali.”

Pria yang dingin itu rasanya lebih dingin daripada salju. Sakura sudah hamil lima bulan dan pria itu masih saja bersikap dingin. Sakura memang merasakan sedikit perubahan dalam diri Sasuke, terutama saat ia tahu dibalik wataknya yang menyebalkan, suaminya sebenarnya sangat peduli kepadanya. Apalagi semenjak pria itu datang dan memeluk Sakura di tengah hujan. Momen itu masih terus terulang di benak Sakura, namun tetap saja ia butuh sedikit kebaikan hati dan ucapan yang sopan dan romantis. Ia hamil dan hormonnya selalu membuat dirinya ingin marah. Seperti sekarang.

“Aku tidak jelek dan kau sangat menyebalkan,” Sakura menepis tangan Sasuke dari pundaknya dan berjalan masuk ke dalam chaletnya yang besar. Sakura menahan batuknya, namun akhirnya ia terbatuk juga, “Uhuk. Uhuk.. Bisakah kau berhenti membuatku marah? Uhuk. Uhuk. Aku sedang tidak ingin marah sekarang. Aku sudah tidak punya kekuatan untuk marah. Uhuk.”

Sasuke terdiam sejenak, ada sedikit rasa khawatir terpancar di wajahnya. Namun dalam sekejap ekspresi itu hilang. “Masuk,” Sasuke menarik tangan Sakura perlahan dan menuntun wanita itu masuk ke dalam Chalet besarnya. Pria itu pun melepas jaketnya dan memakaikannya ke tubuh Sakura. Wanita itu terlihat sedikit kaget dan berbalik menghadap suaminya yang sekarang hanya mengenakan sweater dan kemeja hitam. Jaket cashmere Sasuke sangat lembut dan hangat, walaupun terlalu besar untuk tubuh Sakura, namun wanita itu merasa sedikit tersentuh.

Chalet itu tidak hanya terlihat besar dari luar, dari dalam pun chalet itu terlihat begitu luas dan megah. Interiornya dipenuhi oleh bebatuan dan kayu mahoni Brazil yang memberikan unsur hangat ke dalam ruangan itu. Desainnya terlihat sederhana, namun ada perpaduan antara gaya rustic dan kontemporer di setiap sudut ruangannya. Langit-langitnya tinggi dan ada sofa besar di tengah ruangan itu. Kemegahan itu dilengkapi dengan perapian klasik victorian yang mewah dan jendela kaca yang besar, membuat Sakura merasa hangat. Sayang sekali Sasu, anjing kecil Sakura tidak bisa datang ke sini. Samoyed kecil itu pasti akan merasa senang berkeliaran di tempat sebesar dan sehangat ini. Sakura menerawang jauh dan memutuskan untuk duduk di sofa besar itu. Hm.. rasanya begitu nyaman duduk disana setelah perjalanan panjangnya dari Jepang ke Switzerland.

Wanita dengan perut yang sudah cukup besar itu terlihat sedikit lelah. Seakan-akan setiap napas yang ia ambil terasa begitu berat. Sasuke hanya bisa memandang wanita itu dari kejauhan, selalu memastikan bahwa wanita itu baik-baik saja. Terus terang Sasuke bukanlah lelaki yang pandai berbicara atau pandai membuat orang merasa lebih baik. Ia hanya bisa khawatir akan keadaan wanita itu setiap kali ia berada jauh darinya. Perasaan ini tidak Sasuke mengerti. Ia tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya. Perasaan khawatir saat wanita itu tidak di sisinya, bahagia saat wanita itu tersenyum, dan sedih ketika wanita itu terlihat murung. Sasuke tidak pandai dalam memahami perasaan orang lain, namun ia tidak pernah tahu kalau ia juga tidak pandai dalam memahami perasaan dirinya sendiri.

“Pemandangannya indah sekali,” Sakura berbicara pelan, memandang jendela yang sangat besar dihadapannya.

Sasuke melihat pemandangan pegunungan salju yang indah dari jendela yang besar itu. Kolam renang di balik jendela itu penuh dengan cahaya, seakan-akan ingin menerangi gunung yang sekarang hanya diterangi oleh bintang. Sasuke sudah terbiasa melihat pemandangan seperti ini setiap tahun, namun tahun ini sedikit berbeda. Pemandangan itu sekarang dilengkapi oleh seorang wanita yang selama beberapa bulan ini selalu memenuhi pikirannya. Ekspresi wajah wanita itu semakin hari semakin lembut di benak Sasuke, senyumannya semakin hangat, dan lagi bayi yang dikandung Sakura membuat gadis itu semakin cantik. Sasuke tidak tahu kenapa, tapi ia benar-benar merasa seperti itu.

“Uhuk... Uhuk...” Sakura terbatuk-batuk lagi, “Terima kasih.” Suara wanita itu agak serak-serak basah, kelihatannya keadaan tenggorokannya semakin memburuk.

Terkejut mendengar ucapan terimakasih dari istrinya, Sasuke hanya bisa bertanya, “untuk apa kau berterima kasih?”

“Untuk menemaniku,” Sakura tersenyum lembut menatap suaminya itu, “Kau sama sekali tidak membuka sahammu hari ini atau menelpon rekan bisnismu. Kau terus berada di sisiku... terima kasih.”

Pria yang akan segera menjadi ayah itu tidak mengerti kenapa wanita itu berterima kasih kepadanya. Ia merasa dirinya tidak banyak melakukan hal yang baik kepada Sakura dan ia merasa dirinya begitu bodoh. Apapun yang ia lakukan, tidak akan bisa menebus kesalahan yang telah ia lakukan kepada Sakura. Jujur, ia tidak tahu harus harus berkata apa. Jadi ia hanya terdiam saja disana dan berdiri menatap wanita itu. Ya, berdiri dan merenung. Hanya itu yang bisa ia lakukan sekarang.

Suara batuk Sakura terdengar lagi. Kali ini batuk itu begitu parah sampai-sampai wanita itu menepuk-nepuk dadanya. Tanpa banyak berpikir, Sasuke melangkah cepat ke dapur kecilnya dan menyeduhkan teh untuk Sakura.  Pria itu menambahkan setengah sendok madu ke dalam teh hijau yang ia siapkan dan membawa teh itu ke ruang tamu.

Sakura terlihat terkejut untuk kedua kalinya hari itu, “Ini untukku?”

“Ya,” Sasuke meniup teh itu perlahan dan memberikannya untuk Sakura, “Tenang saja, ada madu juga di teh ini, jadi tidak pahit.”

Sakura tertawa pelan, “Kau memang telah banyak berubah.”

“Apa maksudmu?”

“Ya, meskipun kau terkadang tetap saja menyebalkan, namun semenjak kau memelukku di tengah hujan itu... kau menjadi lebih perhatian,” ujar Sakura.

Sasuke memalingkan wajahnya dari Sakura, seakan-akan ingin menyembunyikan ekspresi wajahnya sekarang. Sungguh, ia tidak ingin mengingat kejadian itu lagi. Tidak sekarang. Tidak besok. Tidak selamanya. Kejadian itu membuat hatinya berdebar begitu kencang. Ia sendiri tidak tahu kenapa ia memeluk Sakura dengan begitu tiba-tiba. Ia hanya khawatir akan keadaan wanita itu, dan tubuhnya bergerak dengan sendirinya. Mulutnya juga mengeluarkan kata-kata dan menyanyikan sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan. Semuanya terjadi dengan begitu cepat. Seakan-akan ia hanya memimpikannya.

Wanita itu kelihatannya terlihat ikut malu juga melihat Sasuke yang memalingkan wajahnya. Sakura akhirnya langsung meneguk teh hijaunya dan mengganti topik pembicaraan mereka.

“Oh ya,” Sakura meniup tehnya pelan-pelan, “Pertandingan polo itu apa ya?”

“Kau tidak tahu polo?” Sasuke menatap Sakura dengan heran, seakan-akan ia baru saja mendengar Sakura bertanya apa itu apel.

“Aku tahu polo itu sebuah pertandingan, ah tidak. Olahraga? Um... yang pasti bukan bela diri.”

Sasuke menggelengkan kepala dan menghela napasnya sejenak, “Polo itu pertandingan berkuda yang bertujuan untuk mencetak goal. Pertandingan ini dimainkan beregu dan bolanya dikendalikan melalui tongkat pemukul panjang yang biasa disebut mallet. Mengerti?”

“Um... tidak juga sih,” jawab Sakura.

Wanita itu masih terlihat bingung, namun Sasuke menepuk pundak wanita itu perlahan, “Sudahlah, tidur sana.”

“Hei, aku butuh penjelasan lebih,” Sakura mengeluh, “Bagaimana jika aku terlihat bodoh di depan keluargamu nanti?”

“Lebih baik terlihat bodoh,” Raut wajah Sasuke berubah saat ia mendengar kata ‘keluarga’ keluar dari mulut Sakura, “Percayalah, kau tidak ingin menjadi orang yang pintar ketika berhubungan dengan keluargaku. Lebih baik kau menjadi orang yang bodoh yang tidak tahu apa-apa.”

Sakura menatap wajah Sasuke yang serius itu. Banyak pertanyaan timbul ke dalam pikirannya, namun Sakura hanya bisa terdiam. Kelihatannya ada jurang yang besar di antara Sasuke dan keluarganya.

XXX


Pagi itu Sakura dengan gugup berjalan menelusuri lapangan polo bersalju yang besar bersama dengan Sasuke. Suaminya mengenakan seragam polo dan jaket, sedangkan Sakura mengenakan gaun kristal indah dengan mantel bulu yang seputih salju. Ia merasa sedikit kedinginan, namun ia tidak bisa berkata apa-apa. Walaupun ia kedinginan, baju yang ia kenakan memang indah dan semua tamu yang datang juga kelihatan begitu elegan. Tapi ia lebih tidak bisa berkata apa-apa karena ibu Sasuke muncul di hadapannya.

Mikoto Uchiha, wanita yang dipanggil ibu oleh Sasuke itu terlihat begitu lembut, namun keanggunan wanita itu membuat Sakura merasa terintimidasi dan terpesona di saat yang bersamaan. Rambut hitam Mikoto yang legam dihiasi oleh facinator hitam Phillip Treacy yang mempesona. Sepasang mutiara Dior Tribal yang indah memperindah telinganya yang putih. Gaun lace hitam Dolce & Gabbana yang wanita itu kenakan dilengkapi oleh trench coat hitam yang klasik. Hermes Birkin ostrich berwarna hitam ia genggam dengan anggun. Perpaduan pakaian wanita itu begitu sempurna. Sakura hanya bisa terdiam dan berhenti mengeluh akan cuaca yang dingin itu. 

“Sakura-san bukan?” Suara Mikoto terdengar begitu sopan dan elegan. Gaya bicara itu membuat Sakura menghormatinya, “Selamat datang di Kloster.”

“Selamat pagi, okaa-sama,” Sasuke menyapa wanita itu, kemudian wanita itu langsung memalingkan wajahnya.

Okaa-sama adalah panggilan yang sangat sopan untuk memanggil seorang ibu— ah tidak, ini bukan hanya soal sopan santun. Sakura dapat melihat Mikoto memandang Sasuke dengan tatapan yang merendahkan, seakan-akan Sasuke tidak layak untuk menyapanya. Jangankan menyapanya, Sasuke kelihatannya juga tidak layak untuk menapakkan kaki di lapangan itu.

“Itachi?” Raut wajah Mikoto berubah ketika kakak laki-laki Sasuke itu datang dengan kuda hitamnya, senyuman hangat muncul di wajah wanita elegan itu, “Selamat pagi Itachi.”

“Selamat pagi, oka-san,” Uchiha Itachi turun dari kudanya dan mengenggam malletnya dengan erat, “Ah, Sasuke. Apa kau sudah siap bertanding?”

Sasuke hanya tersenyum dingin dan berkata, “Adalah sebuah kehormatan bisa bertanding dengan anda.”

“Oh ya, Sakura bagaimana keadaan bayimu?” Pertanyaan dari Itachi itu membuat raut wajah Mikoto kembali berubah. Mikoto menerawang jauh, kemudian memandang perut Sakura yang mulai terlihat besar.

“Bayiku baik-baik saja,” Sakura tertawa pelan, “Hanya saja bayinya belum menendang sama sekali.”

“Begitukah?” Itachi tampak khawatir, “Jika berlanjut lama lebih baik kau ke dokter Sakura.”

“Iya, pasti akan kulakukan,” Sakura mengangguk, “Oh ya dimana otou-san?”

Ketiga Uchiha itu terdiam mendengar kata ‘outou-san’ keluar dari mulut Sakura. Kelihatannya tidak ada satupun dari mereka yang menyukai kata ‘otou-san’. Entah kata itu yang dibenci atau orang itu yang dibenci. Sakura juga tidak tahu, sekarang Sakura hanya bisa menyesali pertanyaan tadi.

“Pertandingan sebentar lagi akan dimulai,” Mikoto mengganti pembicaraan mereka, suaranya terdengar formal dan elegan, “Bagaimana jika kita berdua duduk di kursi penonton saja Sakura-san?”

Sakura hanya bisa mengangguk dan mengikuti langkah Mikoto yang lembut dan pasti. Wanita itu memang punya karisma. Dari belakang pun wanita itu tetap terlihat mempesona.

“Sa—”, Sakura dapat mendengar suara  yang sangat ia kenal, “Sakura-chan!”

“Naruto?” Sakura tampak kaget melihat pria itu mengenakan seragam polo, melambai-lambai dari kejauhan.

Pria berambut pirang itu berlari membawa malletnya dan mendekati Sakura. Napasnya terengah-engah dan ada asap keluar dari mulutnya, “Kau hamil bukan? Selamat ya!”

“Ah iya,” Sakura menyentuh perutnya yang besar, “sudah lima bulan.”

“Wah!” Naruto terlihat begitu bersemangat, “Anda juga pasti sangat bahagia bukan Mikoto-san?”

Ibu Sasuke hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Naruto. Sakura dapat merasakan keacuhan dalam senyuman itu. Seakan-akan Naruto tidak pantas memanggilnya ‘Mikoto-san’ dan Naruto juga tidak pantas untuk berbicara kepadanya.

“Pertandingan akan segera dimulai,” Ibu Sasuke kembali mentuturkan perkataan itu lagi, seakan-akan perkataan itu ia gunakan untuk keluar dari sebuah pembicaraan, “Mari kita pergi Sakura-san.”

Naruto membungkuk, sebagai tanda menghormati Mikoto. Anehnya, Naruto tersenyum seakan-akan ia menanggapi senyuman itu sebagai senyuman yang hangat, “Doakan kami agar kami menang ya! Aku ada di tim Sasuke dan kali ini kami pasti akan mengalahkan Itachi!”

“Tentu saja bodoh,” Sakura menatap Naruto sambil menepuk pundak teman baiknya itu, “Masa aku tidak mendukung suamiku sendiri?”

“Kau harus benar-benar mendukung kami ya! Karena Itachi selalu menang selama ini. Sasuke tidak pernah menang. Sekalipun,” Naruto menghela napasnya, “Kau benar-benar harus mendukungnya dengan sepenuh hati! Berteriaklah yang kencang! Go go Sasuke go go, begitu!”

Sakura kali ini tertawa lepas, namun tawanya dihentikkan oleh suara napas Mikoto. Wanita itu menghela napasnya, seakan-akan ia tidak punya waktu untuk lelucon semacam ini. Wajahnya masih tersenyum, namun Sakura tahu senyuman itu tidaklah berasal dari hatinya. Senyuman itu adalah sebuah topeng. Sebuah karya indah yang ia pakai untuk mentutupi apa yang ada dibenaknya.

Apa yang dipikirkan wanita ini?, Sakura hanya bisa bertanya-tanya.  Namun pertanyaannya tidaklah terjawab. Sama seperti Sasuke, wanita ini kelihatannya memiliki masalah yang berat di dalam dirinya. Sakura tidak tahu apa, namun ia ingin tahu. Ia sungguh ingin tahu.

“Ayo kita duduk Sakura-san,” lagi, kali ini suaranya lebih tegas, seakan-akan ini adalah peringatan terakhir agar Sakura berhenti berbicara kepada Naruto.

“Ya, oka-sama.” Sakura sedikit kaget mendengarnya, lalu mengangguk perlahan dan mengikuti wanita itu.

Mereka duduk di kursi penonton yang indah. Disana Sakura dapat melihat Sasuke yang sedang mengendarai kudanya. Pria itu memang tampan. Menyebalkan, namun tampan. Sakura tidak bisa melepas pandangannya dari pria yang terlihat serius mengendarai kudanya itu. Kuda Sasuke berwarna putih. Seputih salju yang menyelimuti lapangan Polo Kloster. Kuda putih dan pria yang tampan, Sakura seakan-akan melihat pangeran dari buku-buku cerita masa kecilnya berubah menjadi nyata.

“Aku akan pergi sebentar,” Mikoto bangun dari tempat duduknya, “permisi.”

Sakura akhirnya bisa bernapas lega dan membungkukkan badannya sedikit, ia sungguh tegang berada di dekat Mikoto. Seakan-akan segalanya harus sempurna. Mulai dari postur tubuhnya, cara ia berbicara, cara ia menghela napasnya. Sakura benar-benar tidak tahu ada orang seperti itu di dunia ini. Seseorang yang bisa membuatnya begitu tidak percaya diri.

“Sakura bukan?” Seorang wanita yang sangat ia kenal menyapanya, Sakura sungguh tidak percaya. Temari, atlet tennis profesional yang terkenal itu mengenalnya. Sakura yang hanya orang biasa ini dikenal oleh Temari yang mewakili Jepang di liga tennis dunia. Wanita yang telah sering bertanding dengan Maria Sharapova ini mengenal Sakura. Ternyata majalah-majalah itu tidak berbohong. Temari memang sangat cantik. Tidak cantik seperti wanita yang anggun, tapi seperti kecantikkan yang sporty. Walaupun wanita itu sedang mengenakan gaun hitam, namun gaun itu tidak terlihat feminim. Bahkan meskipun clutch Sakura dan Temari hanya berbeda warna, clutch Temari terlihat lebih edgy .

“Selamat bergabung,” Temari menjabat tangan Sakura, “Aku sangat senang anggota kita bertambah satu lagi.”

“Bergabung?” Sakura terlihat bingung, kemudian Temari tertawa pelan. Meski tertawa wanita itu tetap terlihat tegas. Ia memang atlet kelas dunia, tidak hanya tubuhnya yang sempurna, kepercayaan diri dan wibawa wanita itu juga sempurna.

“Ya, kita semua. Kau, aku, Naruto, kemudian pria dengan tatoo diwajahnya itu, Kankuro. Kita semua sama,” Temnari menghela napasnya kemudian membisikkan kata-kata yang terdengar begitu pelan di telinga Sakura, “New money.”

Ah, sekarang semuanya menjadi lebih jelas. Orang kaya baru. OKB. Sakura, Temari, Naruto, mereka semua new money.

“Kau hebat juga bisa berdiri begitu lama disebelah Uchiha Mikoto,” suara Temari benar-benar menunjukkan rasa kagum, “Wanita itu adalah salah satu wanita yang paling membenci new money. Yah tidak ditunjukkan sih, namun Shikamaru dapat melihat kebencian besar di mata wanita itu terhadap OKB semenjak Shikamaru masih kecil. Kau tahu kan keluarga Nara dan keluarga Uchiha berteman akrab dalam hal bisnis. Kelihatannya kebencian itu sudah aja semenjak puluhan tahun yang lalu.”

“Ah, jadi karena itu Naruto—” Sakura kemudian berhenti berbicara, ia tidak ingin Naruto terdengar buruk di depan siapapun. Apalagi atlet kelas dunia seperti Temari.

“Ya, Naruto dan Hinata. Keluarga Hyuuga adalah salah satu old money yang sudah ada sejak dulu. Apalagi adik perempuan Hinata juga menikah dengan bangsawan Jepang. Jadi bisa dibilang keluarga Hyuuga adalah keluarga bangsawan sekarang. Tentu saja keluarga Hyuuga tidak akan membiarkan putrinya menikah dengan Naruto yang hanya seorang yatim piatu dan asal muasalnya tidak tahu dari mana...  bukan?” Temari menatap Naruto dengan tatapan sedikit iba, kelihatannya Temari tahu betapa kerasnya Naruto berusaha untuk memenangkan hati keluarga Hinata, “Kalau kau tidak menikah dengan Sasuke... mungkin Hinata sekarang—”

“Ah, ternyata kau ada disini Temari,” Nara Shikamaru, pria penerus perusahaan Nara itu melangkah santai dengan jas Zegnanya. Gayanya terlihat sangat santai dibandingkan lelaki-lelaki lain yang ada di pertandingan polo itu. Tatapannya terhadap Temari terlihat seperti orang yang akhirnya menemukan sebuah harta karun. Kelihatannya pria itu mencari Temari sejak tadi.

“Kalian berpacaran ya?” Sakura tanpa sadar langsung menuturkan pertanyaan itu.

Kedua orang itu tampak kaget, kemudian Temari langsung menggelengkan kepalanya, “Perusahan Shikamaru mensponsoriku. Kau tahu kan Nara corp bergerak dibidang supply dan marketing olahraga? Semua toko olahraga internasional di Jepang adalah franchise milik keluarga Nara. Ia juga sering mengiklankan beberapa liga sepakbola terkenal di Jepang. Ah, iklan-iklan di world cup tahun lalu juga sebagian besar disponsori oleh Nara Corp.”

Ya. Old money dan new money. Sakura tahu perbedaan keduanya sekarang. Dunia mereka memang berbeda.

“Ah, itu Sakura bukan? Wanita biasa yang menikah dengan Sasuke-kun” beberapa wanita berbisik-bisik debelakang Shikamaru, “Such a gold digger. OKB dengan gaun Zuhair Murad tetap saja OKB ya, tidak akan terlihat berkelas.”

Shikamaru tiba-tiba memotret Sakura dengan kameranya, “Gaunmu.”

Temari kemudian tersenyum hangat dan berbisik kepada Sakura, “Biarkan saja, mereka iri karena tidak banyak orang yang bisa mengenakan Zuhair Murad. Kau butuh badan yang bagus untuk terlihat sempurna di gaun yang kompleks ini.”

Sakura terlihat kaget. Dari ekspresinya Shikamaru tahu Sakura tidak dapat mendengar bisikan-bisikan wanita tadi.

“Ada apa dengan gaunku? Dari mana kau tahu mereknya?”

“Tidak apa-apa,” Shikamaru berbicara agak kencang, agar wanita tadi dapat mendengarnya, “Aku ingin memeberikan foto ini kepada keluarga Akimichi. Sahabat baikku Chouji sedang mencari artikel untuk pertandingan ini dan ia butuh model untuk ‘best dressed’ atau apapun itu. Merepotkan sekali.”

“Keluarga Akimichi?” Sakura tampak bingung.

“Ah kau tidak tahu?” Temari menanggapinya, “Keluarga Akimichi bergerak di bidang entertainment. Mereka memiliki beberapa channel TV di Jepang dan saham YouTube mereka cukup banyak. Mereka terkenal dengan channel TV khusus makanan, namun baru-baru ini mereka baru saja membuat channel TV khusus fashion.”

Wanita-wanita yang tadi bergossip terlihat tidak senang, kemudian mereka pergi menjauh. Shikamaru hanya menghela napasnya. So much for stereotypes, how troublesome. 

“Shikamaru-san, Temari-san,” Uchiha Mikoto kembali, kemudian wanita itu menjabat tangan kedua orang itu satu per satu, “Selamat datang di Kloster, Terimakasih sudah menyempatkan diri untuk datang lagi tahun ini, Shikamaru-san.”

“Ya, adalah sebuah kehormatan untuk datang,” cara berbicara Shikamaru berubah, lebih... formal, lebih penuh dengan kesopanan.

“Semoga kalian menikmati pertandingan hari ini,” Mikoto tersenyum. Ah, senyuman itu lagi. Entah kapan Sakura dapat melihat ekspresi di balik topeng wanita itu.

Sakura sungguh ingin tahu, namun kata-kata Sasuke tadi malam kembali mengiang di kepalanya, “Percayalah, kau tidak ingin menjadi orang yang pintar ketika berhubungan dengan keluargaku. Lebih baik kau menjadi orang yang bodoh yang tidak tahu apa-apa.”

Ah, Sasuke is doing a great job,” Temari memuji Uchiha Sasuke, seorang atlit dunia baru saja memuji permainan Polo Sasuke.

Sakura tidak tahu apa-apa soal Polo, namun Nara Shikamaru pun terlihat kaget ketika bola yang Sasuke giring kembali masuk ke dalam net. Permainan itu memang terlihat susah. Bagaimana caranya kau mengendalikan kudamu sambil mengendalikan bola sekecil itu dengan tongkat pemukul yang bernama mallet? Sakura benar-benar tidak mengerti apa-apa, namun Sasuke terlihat begitu keren menerjang lawannya dan mengendarai kudanya dengan cepat.

Saat bola itu masuk lagi untuk kesekian kalinya, Sasuke menatap Sakura dari kejauhan, kemudian pria itu tersenyum. Senyuman yang sangat berbeda dari senyuman ibunya. Senyuman itu adalah senyuman yang tulus. Sakura dapat merasakan dadanya berdetak sangat kencang. Sasuke baru saja tersenyum kepadanya. Kepada Sakura. Saat bola itu masuk Sasuke tidak menatap timnya ataupun lawannya, Sasuke menatap Sakura. Hanya Sakura.

Wanita yang hamil lima bulan itu kemudian melangkah pergi dari tempat duduknya. “Permisi,” Sakura tersenyum hangat dan bertanya, “Toilet ada dimana ya?”

“Ah, turun saja dan security disana akan menuntunmu ke toilet,” Uchiha Mikoto tersenyum dingin, “Apa kau perlu kuantarkan?”

“Ah tidak perlu!” Sakura benar-benar tidak ingin merasa terindimidasi di toilet juga, “Saya bisa sendiri.”

Sakura perlahan berjalan menuruni tangga. Kepalanya sedikit berat. Ia sudah tidak batuk namun ia berasa segalanya begitu berat. Kepalanya, kakinya, pengelihatannya juga begitu berat. Berapa lama lagi ia harus berjalan? Apa ini karena udaranya dingin? Sakura tidak tahu, tapi ia benar-benar ingin segera keluar dari tempat ini.

“Sakura!”

Gelap. Semuanya gelap. Yang ia dengar sekarang hanya suara teriakan Sasuke yang memanggil namanya.

“Sakura!”

Suara Sasuke terdengar lagi, kemudian ada gema langkah kuda. Hanya itu, kemudian ia tidak bisa mendengar apa-apa lagi.

XXX

Sasuke tidak percaya apa yang baru ia lihat. Ia baru saja menatap isterinya saat bolanya masuk ke dalam net. Semuanya berjalan begitu lancar. Untuk pertama kalinya ia unggul dari Itachi dalam poin yang lumayan jauh. Pertandingan hampir berakhir dan ia begitu bersemangat. Ia mungkin akan segera menang untuk pertama kalinya. Kemenangan pertamanya dari Uchiha Itachi dalam seumur hidupnya. Semuanya begitu sempurna sampai...

“Sakura!” hanya itu yang bisa ia utarakan saat ia melihat istrinya jatuh.

Tanpa banyak berpikir panjang pria itu menerjang dengan cepat. Sasuke memberikan signal kepada kudanya. Kuda yang sudah ia latih sejak ia kecil itu kelihatannya mengerti perasaan Sasuke. Kuda memang paling mengerti perasaan tuannya. Kuda putih yang seputih salju itu melesat cepat melewati gumpalan salju lapangan polo Kloster. Kuda itu kemudian melompat melewati papan yang memisahkan tempat duduk penonton dan lapangan. Lompatan itu membawa Sasuke ke hadapan Sakura. Sasuke dengan cepat turun dari kudanya dan berteriak lagi.

“Sakura!”

Darah. Sasuke dapat melihat darah.

Untuk pertama kalinya seumur hidupnya keringat dingin turun dari pelipisnya. Wajah pria itu kemudian menjadi pucat. Kenapa ada darah? Tidak. Tidak. Sakura tidak akan apa-apa.

“Sa—” Kali ini suara Sasuke semakin lemas, “Panggil ambulans. Pakai Helikopter. Medis! Dimana medis?”

XXX

I HOPE YOU LIKE IT!!!

Author sering di PM dan ditanya soal social media author... jadi untuk mempersingkat semuanya, kalian bisa melihat semua di website author! Disana ada instagram, youtube, twitter, facebook dll. Tapi author paling aktif di instagram sih J

Kalian juga bisa menemukan cerita Marrying Uchiha Sasuke dengan gambar-gambar di link dibawah ini. Ada juga cerita pendek mengenai inspirasi author di setiap chapter melalu Behind The Scene! Check it out!


Click here for the link


 Jangan malu-malu untuk meninggalkan komentar di website ini (kalian tidak perlu account untuk comment! Kalian bisa anonymous comment, seperti anonymous review di ff.net tapi bisa langsung dijawab oleh author... Tenang pasti semua comment akan dijawab!) karena jujur mulai sekarang review di ff.net akan dijawab melalui PM karena author menerima banyak kritik soal review di akhir cerita :( Yes, that’s sad isn’t it? Jika kalian ingin comment dengan anonymus review, komen di melissagabriele.com dan pasti akan di jawab! Hehe.

NOTE!

Tapi kalau bisa refresh sitenya dan cek apakah benar komen kalian sudah masuk atau belum. Biasanya kalian harus proof you're not a robot dulu dan setelah step itu baru komen kalian akan masuk :) I hope this is helpful :) Thanks guys!


XOXO! I miss you sooo much :*

<<Previous Chapter



17 comments:

  1. OMG OMG OMG!!!!

    YOU DID IT!!!

    YOU WRITE IT!!!!

    Congratulations yah mel!!! Keep on writing okay!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aww thank you Jean! I thought it was hard writing it but it ended up quite enjoyable! Thanks for being such a loyal reader and a good friend Jean! :)

      Delete
  2. Ayunistya

    Halo author... ini silent reader author.. akhirnya author update juga... aku senang sekali. Cerita ini bagus banget dan aku sama sekali ga kecewa author walau lama update tapi certitanya seru banget. Aku nanti chapter 9! Oh ya dan aku suka websitenya, apalagi semenjak ffnet di ban jadi susah harus umpet2 bacanya. Sekarang ada website seperti author enak. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih banyak Ayu-san! Selamat telah menjadi review yang kedua hari ini! Saya benar-benar senang sekali membacanya! Wah! Iya saya dengar sekarang ff.net sudah di ban ya di indonesia? I'm so sad to hear that, semoga website ini memudahkan Ayu-san dan pembaca lainnya :) Sasusaku for the world!

      Delete
  3. aduhh seneng nya aku ka :"" akhirnya kaka ngelanjutin juga fict ini :') aku udah menanti lamaaaaaa sekali :) saking lamanya jd lupa sama alurnya jd harus baca dari awal :v
    hehehe
    OMGGGG KA LANJUTT KAAA !!!
    ka aku penasarann kaa penasaraannn ka penasaran /digetok
    aduhh... ituu sakuraa jatohhh hikss :"") apa bakal keguguran ? aduh sasu
    khawatir banget kayaknya.. :""
    aduh aku suka pendeskripsiannya kak ,kek ada manis manis nya gtuh /lol ><
    semoga chap depan ga terlalu lama update nya yaw ka >3<
    update kilat sih klo bisa mwehehe *puppyeyes ...
    ^°^
    kaa boleh minta follbacknya ga ka di ig? unsername ku @nrallya fulback yaw ka :))))) /eh
    btw kaka cantik :)) ==>stalk ig kaka dan nemu futu kaka :v
    aduh jadi pen ke sydney australia /eh

    aku juga suka website nya karna ada gambar nya gtu feell nya lebih kerasa dan ada manis manisnya gtu :v/iniapa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi there Alya-san!!! Waaa... I'm so touched karena komennya panjang sekalii!!! Kyaaa I followed you on ig! Thank you soo much for liking sooo many of my pictures XD Pasti cape like in satu-satu hehhee. Aku senang sekaliii... Wah, makasih yaahhh aku lumayan bekerja keras untuk website iniii hehhehe. Aku juga akan bekerja kras untuk chapter selanjutnyaa. Makasih Alya!!! XD I miss you.

      Delete
  4. yuhu,,, akhirnya update juga... thanks Melissa udh mau lanjut lagi... baca di websitenya lebih enak ternyata...
    aye baca lg dr part awal, karna sempet lupa... dan jeng jreng... surprise sm endingnya yg pas banget bikin gigit jari... hahaaaa
    sblumnya salam kenal, karna aye msh baru di ffn. ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi there Rindi-san! Aww thank you so much yahh sudah baca website ini! I put a lot of effort into this website hehehe. Wah senang sekali kalau ternyata lebih enak dibaca! hehehe. Nice to meet you too! Panggil aku meli ajaa biar kita lebih santai ngbrolnya hehhee. Salam kenal yaaah!

      Delete
  5. konichiwa nee-san!:) Salam kenal dari aku yaa, kak. Cerita kakak bagus banget deh:D Aku udah baca dari chapter awal sampai chapter 8. ceritanya bagus sekali kak. sampai aku baca berkali-kali. aku suka dengan cerita kakak. lanjutin lagi dong kak. pengen tahu sakuranya nanti kenapa. hehehe:D
    Kak, kalo bisa update chapter barunya lebih cepat lagi ya...
    udah gak sabar pengen baca lanjutannya..
    ok kakak! sampai jumpa lagi!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi there! Konichiwa! Makasih banyak lohhh... I'm soo very happy kamu suka ceritaku! It took me sometime to write it but I love it hehehe. Makasih yahh. Aku akan coba update setiap minggu ehhehe. Sampai jumpa!

      Delete
  6. hay melissa-san aku ariska salam kenal ya :)
    saat aku tau melissa-san update Marrying Uchiha Sasuke aku seneng banget aku ngebut baca chapter awal sampai akhir soalny udah lupa jalan ceritanya :D
    tapi terima kasih sudah mau diupdate ceritanya
    apalagi di web , lebih enak bacanya , sekarng ffn lagi ada masalah jadi kadang susah buat buka link cerita yang ada di ffn
    aku berharap melissa-san terus mengupdate cerita ini sampai akhir karena aku suka sekali ini fic melissa-san :)
    cerita melissan-san makin kedepan makin baik jadi enak bacanya sampai terbawa cerita nya :) pendiskripsian tokoh tempat juga detail aku suka
    aku menanti kelanjutan dari cerita ini melissan-san semangat terus ya :)
    dan aku penasaran bagaimana nasib sakura dan anaknya ? sasuke juga terlihat khawatir
    pokoknya aku menunggu lanjutan cerita ini melissan-san
    salam melissan-san :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aww hi there ariska-san! :) panggil aku meli ajaaa hehehe. Makasih loh commentnya panjaang sekaliii... aku bacanya senang hehehe. I'm so happy you like my website soalnya aku bekerja keras membuatnya hehehe. I will try my best to continue this story! Oh ya :) feel free to chat/follow me on social media :) I would like to get to know you better! You're such a wonderful person!

      Delete
  7. Hii kk mell... ini aq Hezlin...��╮(╯▽╰)╭

    Wauu akhirnya aq mampir ke webx kk nih...
    Trnyta lebih menarik baca klo ad gambarnya yaa hihi jdi gambaran ttg keadaannya lebih jelas dan waooww gituuu...
    Pikokx fict ini hrus trus dilanjut yaa kak. Keren banget soalx. Aq jg pnsaran ma sasuke yg pastix udh ketar ketir liat keadaan sakura yg jatuh gitu...

    Ganbatte kk ╭(′▽‵)╭(′▽‵)╭(′▽‵)╯

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi there Hezlin!!! Hehehhe. Aku senang sekali Hezlin suka membaca chapter ini di website! hehehe Iya aku akan segera lanjutkan XD. Makasih banyaak yahhh!

      Delete
  8. sumpah... greget banget pas baca ini fanfic
    awal nya aku uda nyerah untuk 'menunggu', bahkan uda enggak ada lagi niat untuk ngebuka ini cerita, tapi ntah ada angin dari mana, tiba-tiba aja ada rasa kangen untuk ngebaca ulang ini cerita.
    gitu ngebuka fanfiction dan ngeliat ini fanfic,
    eh, tau nya ini fanfic uda berlanjut bahkan uda 10 chapter.
    itu rasa nya terharu plus gimana gitu perasaan nya.. berasa terbang ke langit 7 yg penuh dengan bunga sakura yang sedang berguguran.. D:
    wahhhh senang nya, 2 tahun.. akhirnyaaaa :")

    oya, salam kenal ya kak.
    aku penggemar rahasia mu loh..
    hahaha :v

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi there Putri!!! Thank you for reviewing. Maaf yah telat balas karna aku ga dapet this notification xD Untung aja aku abis baca ulang chapter 8 dan liat commen kamu. Pas baca aku seneng banget. Aww... Makasih lohh aku senang punya penggemar rahasia kaya kamu yang baik hati dan setia nungu sampe 2 tahun hehe xD Thank you yaah... I hope you'll keep reading this wonderful little story of mine my love <3 Have a lovely day!

      Delete
  9. Mana nih cerita selanjutnya min ��
    Gak sabar nunggu

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...