Marrying Uchiha Sasuke Chapter 9

20:48 Melissa Gabriele 11 Comments

Marrying Uchiha Sasuke
Chapter 9


Gelap. Segalanya gelap. Sakura tidak bisa mengingat apa-apa selain suara Sasuke. Wanita itu masih dapat mendengar suara Sasuke yang khawatir memanggil namanya. Pria itu terdengar begitu berbeda dari biasanya. Sungguh Sakura tidak pernah menerka bahwa seorang Uchiha Sasuke bisa begitu khawatir kepada dirinya. Saat ini Sakura tidak dapat membuka matanya, namun dirinya perlahan dapat mendengar suara lain...

“Sakura!”

Itu masih suara Sasuke... namun suaranya berbeda dari yang ada di ingatannya. Suaranya terdengar... lebih lega.

“Sakura! Kau tidak apa-apa?”

Saat Sakura terbangun, wanita itu dapat melihat wajah suaminya yang tersenyum lega. Rasanya pria itu seperti baru saja menyelamatkan dunia atau semacamnya. Sasuke masih mengenakan seragam polonya, padahal hari sudah malam. Sakura dapat melihat rembulan dibalik jendela rumah sakit, kelihatannya pria itu tidak meninggalkan sisi Sakura satu detikpun.

“Sa-Sasuke?” Suara Sakura yang lemas akhirnya keluar juga, “A-apa yang terjadi? Dimana ini? Bagaimana bayiku?”

Pria yang awalnya terlihat lega itu akhirnya kembali berwajah datar. Pria itu sungguh penuh dengan ego.

“Ini di rumah sakit,” Jawab Sasuke datar, “Kata dokter kau pendarahan ringan... kau dan bayi kita baik-baik saja. Kau hanya perlu banyak istirahat dan jangan terlalu banyak pikiran. Dokter bilang alasan kenapa bayi itu agak lemah juga karena kau terlalu stress. Lebih baik kau jangan terlalu banyak berpikir Sakura.”

Sakura masih mengingat Roma dan Venisia. Ia masih mengingat dengan jelas betapa ia membenci Sasuke dan dirinya sendiri, betapa ia kecewa akan kandungan yang tidak ia inginkan itu. Saat itu, ia begitu khawatir akan keperawanannya dan pernikahannya dengan Sasuke. Ia tidak tega melahirkan anak dari pria yang ia benci. Kali ini pria yang tadinya ia benci itu tidak lagi ia benci. Pria itu… terlihat begitu berbeda di matanya sekarang. Walaupun masih dingin dan datar, paling tidak Sasuke sekarang peduli padanya— sangat peduli. Begitu pedulinya sampai pria itu bahkan tidak melepas helm berkudanya meskipun sudah masuk ke rumah sakit. Pria itu begitu khawatir akan Sakura sampai-sampai pria itu tidak sempat untuk  mengganti baju ataupun membuka helmnya.

“Sasuke... jadi... jadi bayinya sehat?” Sakura menatap suaminya itu dalam-dalam.

“Kau itu bodoh sekali ya,” Sasuke akhirnya melepas helmnya dan meletakkannya di atas meja, “Seharusnya kau mencanci maki aku karena membawamu ke tempat dingin seperti ini padahal kau sedang kurang sehat.”

“Kau ingin dicaci maki?” Suara Sakura yang lemas membuat Sasuke semakin tidak senang.

“Ya,” Sasuke mendekat ke sisi Sakura. Istrinya yang terbaring di ranjang rumah sakit itu terlihat begitu lemah, “caci maki aku. Bukankah kau paling ahli dalam mencaci maki orang?”

“Sasuke...” Sakura menghela napasnya, “Sudahlah yang penting bayi ini baik-baik saja.”

“Tidak juga,” Sasuke mengerutkan dahinya, “Bayi kita tidak baik-baik saja.”

Sakura tampak terkejut mendengar Sasuke mengutarakan ‘bayi kita’. Selama ini pria dingin itu selalu menyebutnya, ‘bayi ini’, ‘bayi itu’ atau ‘bayi di perutmu’. Pria itu... untuk pertama kalinya menyebutnya ‘bayi kita’.... bayi Sakura dan Sasuke.

Sasuke akhirnya mengambil kursi kecil dan menariknya ke arah Sakura. Pria itu kemudian duduk dan menatap istrinya dalam-dalam, “Kau harus bahagia Sakura, jika kau bahagia bayi kita akan menjadi lebih sehat. Kenapa kau tidak bahagia? Jawab aku? Apa yang bisa membuatmu bahagia?”

Sakura terdiam. Ruangan itu adalah ruangan terbesar di rumah sakit ini. Sasuke telah memesan ruangan VVIP bergaya victorian klasik yang lengkap dengan televisi besar, sofa kulit dan kayu mahoni dari Myanmar. Sesungguhnya Sasuke selalu memberikan yang terbaik untuk Sakura. Entah dalam hal baju, tas, sepatu bahkan ruangan dan makanan. Semuanya yang terbaik untuk Sakura. Hanya saja ada begitu banyak pikiran di benak Sakura. Ia khawatir akan bayinya. Apa kata bayinya jika ia bercerai dengan Sasuke? Ia juga khawatir akan keluarga Sasuke. Kelihatannya keluarga Uchiha membenci Sakura. Sakura khawatir akan new money dan old money. Sakura benar-benar khawatir akan segalanya. Namun Sakura paling khawatir akan bayinya. Bayi itu belum menendang sama sekali. Bagaimana jika bayi Sakura celaka?

“Kalau memarahiku dan memukulku bisa membuatmu bahagia, lebih baik kau lakukan itu sekarang,” Sasuke menggenggam tangan Sakura dan menempelkannya ke wajah Sasuke.

Tangannya memang sudah siap untuk menampar pria itu, namun hatinya berbeda. Sakura yang biasanya dengan mudah bertengkar dan memukul Sasuke kali ini merasa tangannya berat sekali untuk bergerak. Ia merasa wajah Sasuke yang porselen begitu lembut dan hangat. Ia justru tidak ingin tangannya pergi dari wajah itu. Ah! Tidak Sakura! Tidak! Kau tidak boleh jatuh cinta oleh pria jahat ini! Sasuke adalah orang dingin yang angkuh!

“Sasuke, sudahlah... aku sudah terlalu lemas untuk memarahimu,” Sakura akhirnya melepaskan tangannya dari wajah pria itu.

“Apa yang bisa membuatmu bahagia?” Sasuke menatap perut Sakura.

“Hmm...” Sakura kemudian menatap Sasuke dengan lemah, “Aku sendiri juga tidak tahu.”

Sasuke berhenti menatap perut Sakura, pria itu kemudian menghela napasnya. Kedua orang itu hanya saling terdiam. Hal seperti ini jarang terjadi di kehidupan mereka... Ya. Kesunyian jarang terjadi di kehidupan mereka. Walau Sasuke dingin, namun Sakura biasanya akan mengajaknya bicara, memulai argumen kecil atau mengeluh soal betapa ia membenci Sasuke. Kali ini Sakura tediam. Sasuke hanya bisa terdiam juga.

Ketukan pintu membuat keheningan itu hilang. Dua orang suster masuk dan tersenyum hangat kepada mereka berdua. Satu suster mengecek keadaan Sakura sedangkan yang satunya membawakan obat untuk diminum.

“Anda hebat sekali Nyonya Uchiha, anda pulih dengan cepat,” Suster yang mengecek Sakura tersenyum hangat, “Ini obat pertama dan terakhir anda... Ini hanya suplemen untuk menambah antibodi anda.”

“Terima kasih,” Sakura membalas senyuman suster itu, kemudian kedua suster itu pamit.

Sebelum kedua suster itu pergi, salah satu suster itu mendekati Sasuke dan memberikan sebuah kardus kepada pria itu. Sasuke menerimanya dan membalas senyuman suster itu dengan anggukan. Setelah pintu itu tertutup dan kedua suster itu benar-benar pergi Sasuke membuka kardus itu perlahan dan mengeluarkan isinya.

Sakura tampak terkejut ketika sebuah lampu aneh kecil keluar dari kardus itu. Bentuknya seperti lampu dengan bentuk heksagonal 3D. Warnanya hitam pekat, namun Sakura dapat melihat corak-corak aneh dibalik lampu itu. Sakura hanya bisa terdiam di dalam kebingungan.

“Sasuke apa ini?”

Pria itu tidak menjawab pertanyaan Sakura dengan segera. Suaminya itu malah meninggalkan tempat duduknya dan mematikan lampu di ruangan itu. Semuanya menjadi gelap dan Sakura tidak dapat melihat apa-apa selain cahaya rembulan di balik jendelanya yang samar-samar. Pria itu kelihatannya belum merasa ruangan itu cukup gelap dan akhirnya menutup jendela itu dengan gorden.

Kali ini Sakura tidak dapat melihat apa-apa. Anehnya wanita itu sama sekali tidak kaget atau pun merasa takut. Ia tahu Uchiha Sasuke ada di ruangan itu dan hatinya merasa tenang. Sama seperti bayi ini. Bayi yang ia kandung di perutnya memang lemah, namun jika Sasuke ada di dekatnya... ia merasa lebih tenang. Ini semua bukan karena ia mencintai pria itu... hanya saja ia merasa pria itu bisa ia andalkan. Pria itu bisa melindunginya dari banyak hal. Sakura memang sering khawatir akan banyak hal, namun Sasuke membuat banyak kekhawatirannya hilang seketika.

Tap! Suara tombol yang dinyalakan membuat Sakura terkaget. Saat tombol itu berbunyi seluruh ruangan yang awalnya gelap itu sekarang penuh dengan cahaya-cahaya kecil. 


Cahaya itu ternyata membentuk rasi-rasi bintang. Sakura pernah melihat ini sebelumnya, ya, ia pernah melihat ini di sebuah planetarium. Ternyata lampu kecil aneh tadilah yang mengeluarkan cahaya itu. Rasi-rasi itu membuat Sakura membisu. Ada yang bentuknya seperti garis lurus, layang-layang, bahkan ada yang berbentuk seperti manusia yang sedang memanah. Momen itu begitu indah... seakan-akan Sakura sedang berada di luar angkasa.

Rasi bintang itu terpencar di seluruh ruangan. Sakura dapat melihat Perseus, Aries dan segala macam rasi bintang di langit-langit ruangan itu. Kemudian ketika Sakura sampai ke rasi bintang Andromeda... wanita itu dapat melihat Uchiha Sasuke menatapnya dengan penuh kasih sayang.

“Sudah bahagia?” Pria itu duduk di samping Sakura lagi.

Ah. Pria itu semenjak tadi hanya ingin Sakura bahagia. Karena itulah pria itu meminta Sakura untuk marah, memukulnya... bahkan pria itu sampai bertanya apa yang membuat Sakura bahagia. Pria itu ingin Sakura lepas dari stress agar bayi Sakura menjadi sehat.

“Kau... menyiapkan semua ini?” Sakura menatap pria itu dengan penuh kekaguman.

“Hn, tidak juga,” Sasuke memalingkan wajahnya, “Ini hanya hal kecil jadi tidak usah menatapku seperti itu.”

“Kau... tahu darimana belakangan ini aku menyukai rasi bintang?” Sakura tersenyum hangat, kemudian ia tertawa lepas, “Oh ya, aku lupa... kau kan memang penguntitku. Bahkan waktu kita berbulan madu di Roma pun kau bisa menjawab semua pertanyaan tentang diriku.”

“Aku bukan stalkermu, kau sendiri yang belakangan ini melihat majalah bintang terus,” Sasuke menggelengkan kepalanya, kemudian pria itu tersenyum hangat.

“Kenapa kau tersenyum seperti itu?” Sakura menatap pria itu dengan penuh keheranan, “Kalau kau tersenyum hangat seperti itu aku jadi sedikit takut. Kau tidak sakit kan?”

“Tidak,” Sasuke memalingkan wajahnya lagi, “Hanya saja kau sudah tertawa jadi... aku sedikit yah... ah sudahlah lupakan saja.”

Sakura kemudian tertawa lagi. Pria dingin itu punya ego yang begitu besar sampai-sampai pria itu tidak mau mengakui bahwa pria itu juga bahagia. Tapi kalau dilihat-lihat Uchiha Sasuke itu kasihan juga... pria itu tidak bisa mengekspresikan dirinya.

“Hey Sasuke,” Sakura tersenyum dan menunjuk rasi bintang Andromeda di belakang Sasuke, “Kau lihat rasi bintang di belakangmu itu? Rasi itu namanya Andromeda.”

Rasi di belakang Sasuke memancarkan cahaya keemasan yang indah. Rasi itu berbentuk huruf ‘A’, namun di mata Sakura rasi itu melambangkan cinta. Ada sebuah kisah mitologi di balik rasi itu... Mitologi klasik yang Sakura baca di waktu luangnya. Rasi di langit utara dekat Pegasus, rasi kesayangan Sakura.

“Kau tahu Sasuke, rasi itu melambangkan putri Andromeda. Ia adalah seorang putri yang sangat cantik, namun ia diikat oleh rantai dan dikurung bersama dengan monster,” Sakura memandang rasi bintang itu dengan hangat, “Mitos mengatakan tidak ada yang bisa menyelamatkan Andromeda, namun putri itu diselamatkan oleh Perseus. Perseus membawa kepala medusa dan merubah monster penjaga Andromeda menjadi batu. Andromeda akhirnya bebas dan hidup bahagia bersama Perseus.”

“Hn, jadi kau merasa dirimu itu seperti Andromeda?” Sasuke membalas Sakura dengan nada yang sarkastik.

“Hmm... lebih tepatnya aku ingin menjadi seperti Andromeda... terlepas dari semua beban dunia dan hidup bahagia dengan jodohku,” Sakura menatap Sasuke dengan hangat, “Yah. Bukan hidup bahagia denganmu sih... intinya hidup bahagia dengan pria baik yang menyelamatkanku dari beban dunia.”

“Dasar tidak tahu berterima kasih,” Sasuke menggelengkan kepalanya, “Aku menyelamatkanmu dari beban finansial. Seharusnya kau berterima kasih.”

Dasar pria sombong. Sakura benar-benar tidak mengerti kenapa ia sempat merasa kagum pada pria sombong ini. Sasuke memang selamanya akan menjadi Uchiha Sasuke. Yah, paling tidak pria itu sudah jauh lebih perhatian sekarang. Kesombongan itu masih ada, namun paling tidak sekarang Sasuke membuat Sakura sedikit bahagia.

“Ya sudah, tidur sana,” Sasuke akhirnya membetulkan selimut Sakura, “Istirahat yang cukup dan jangan banyak pikiran lagi.”

Sakura kemudian kembali terlentang dan menatap Sasuke dengan lembut, “Ya, tenang saja.”

Malam itu Sakura terlelap dengan cahaya bintang dan Uchiha Sasuke di sampingnya. Bayi kecil di perutnya baik-baik saja. Mungkin kekhawatiran Sakura bisa berkurang sedikit demi sedikit.

XXX

Pagi itu cahaya matahari datang sedikit terlambat, begitu juga keluarga Uchiha. Itachi dan Mikoto datang dengan parsel buah dan sepasang senyuman palsu yang membuat Uchiha Sakura kembali lemas. Entah kenapa Sakura benar-benar tidak ingin menyapa mertuanya itu. Mikoto memang cantik dan kelihatan baik, namun ketegangan yang Sakura alami setiap kali wanita itu muncul membuat hidup Sakura menjadi lebih berat.

“Apakah kau sudah baikan?” Uchiha Mikoto tersenyum sambil meletakkan parsel buahnya di atas meja, “Maafkan Uchiha Fugaku karena ia tidak datang. Fugaku-san harus terbang ke New York hari ini.”



Fugaku-san. Sakura benar-benar tidak mengerti keluarga Sasuke. Sakura tidak mengerti kenapa Mikoto memanggil suaminya sendiri dengan begitu sopan dan kaku. Kalau dipikir-pikir tidak hanya sifat Mikoto saja yang sopan dan kaku, bahkan cara berpakaian wanita itu selalu terlihat rapih dan clean-cut. Seperti dress pastel pink Esteban Cortazar yang ia kenakan hari ini. Sederhana, kaku, elegan dan sopan. Itulah Mikoto. Wanita itu punya karisma kuat yang membuat Sakura ingin segera pergi dari ruangan itu. Jika Mikoto seperti ini, Sakura benar-benar tidak tahu Fugaku seperti apa. Mungkin ayah Sasuke itu jauh lebih kaku dan menyeramkan.

“Tadi pagi dokter sudah memeriksaku, katanya sekarang tubuhku sudah jauh lebih baik dan bayiku sudah lebih sehat,” Sakura tersenyum hangat.

“Iya, Sakura sudah baikan dan kalian berdua boleh pergi,” Sasuke yang tadinya duduk di samping Sakura bangkit berdiri.

Ara, Sasuke, jika kau memaksa apa boleh buat,” Uchiha Mikoto menatap Sasuke dengan dingin, “Kalau begitu saya permisi.”

Uchiha Mikoto tersenyum palsu sekali lagi dan meninggalkan ruangan itu dengan elegan. Setiap langkah yang wanita itu ambil begitu memesona. Sakura benar-benar tidak mengerti bagaimana wanita seperti itu bisa begitu... begitu... palsu. Jika wanita itu hanya ingin datang untuk meninggalkan parsel, berarti wanita itu hanya ingin terlihat sebagai mertua yang baik di kalangan rekan bisnisnya. Fakta bahwa wanita itu begitu cepat pergi dari ruangan itu membuat Sakura tahu wanita itu tidak benar-benar khawatir akan kondisinya.

“Sasuke, jaga Sakura baik-baik,” Uchiha Itachi menatap adiknya dengan tegas.

Sasuke hanya menghela napasnya. Suami Sakura itu benar-benar tidak ingin berbicara dengan Itachi.Ya, akan kujaga, tenang saja.”

“Kemenanganku di pertandingan polo kemarin tidak kuanggap ada. Rasanya tidak adil karena kau meninggalkan arena di tengah-tengah pertandingan,” Itachi melempar mendali emasnya ke bangku Sasuke, “Lain kali kita harus bertanding lagi Sasuke. Kalau kau kalah lagi baru kembalikan mendali itu kepadaku.”

“Kau terlalu rendah hati Itachi,” Seorang pria dengan coat hitam panjang datang dari balik pintu tanpa diundang, “Sasuke tidak mungkin menang darimu, jadi lebih baik tidak usah meminjamkan mendali itu kepadanya.”

“Ah, selamat pagi Kisame,” Sasuke berjalan ke arah pria itu, “Apa yang membawamu ke tempat ini?”

“Kekhawatiran,” Kisame menjawab Sasuke dengan senyuman licik di wajahnya, “Kekhawatiran yang membawaku ke sini.”

“Kisame sedikit khawatir akan kondisi Sakura,” Itachi memperjelas kata-kata Kisame yang ambigu, “Ah apa kau sudah berkenalan dengannya Sakura?”

“Umm... belum,” Sakura menggelengkan kepalanya, “Sa-salam kenal, aku Sakura.”

Sakura dapat melihat sedikit keanehan dibalik wajah Kisame. Jika Mikoto punya raut wajah yang kaku dan palsu, Kisame sebaliknya. Pria ini memiliki wajah yang mudah dibaca. Ada dua hal yang dapat Sakura lihat di wajah pria itu; kelicikan dan kejahatan. Sakura tidak ingin banyak berspekulasi, tapi jujur, pria ini kelihatan seperti penjahat di film-film. Bentuk tubuhnya yang kekar dan giginya yang tajam membuat Sakura sedikit takut.

“Salam kenal Sakura-san, aku Kisame,” Pria menyeramkan itu berjalan menjauhi Itachi dan Sasuke.

Kisame berjalan ke arah Sakura dan menjabat tangan wanita itu, “Semoga lekas sembuh Sakura-san.”

Dingin. Saat Sakura menjabat tangan pria itu, Sakura merasakan keringat dingin turun dari pelipisnya. Sakura tidak tahu itu apa, namun kelihatannya itu firasat buruk. Sakura memiliki firasat yang sangat buruk akan pria ini. Sebenarnya siapa Kisame ini Sakura juga tidak tahu. Apa hubungannya dengan keluarga Uchiha juga Sakura tidak tahu. Hanya saja kata-kata ‘semoga lekas sembuh’ dari Kisame terasa begitu aneh di telinga Sakura. Seakan-akan pria itu berharap yang sebaliknya.

“Ah, apakah itu obatmu Sakura-san?” Kisame menunjuk obat di atas meja Sakura, “Kau tidak meminumnya?”

“Ah, bukan obat... suplemen. kemarin malam suster sudah memberikan suplemen terakhirku,” Sakura terlihat bingung, “Seharusnya sudah tidak ada suplemen lagi pagi ini.”

“Oh ya?” Kisame menggigit bibirnya, “Hm, suster di sini memang kurang kompeten. Meminum suplemen lebih tidak ada salahnya jadi kurasa lebih baik jika kau meminumnya. Kesehatanmu penting Sakura-san.”

“Ah, terima kasih Kisame-san,” Sakura mengangguk dan meminum suplemennya.

“Kalau begitu saya permisi, saya harus menghadiri rapat di Barcelona,” Kisame memberi hormat kepada Sakura dan meninggalkan ruangan itu bersama dengan Itachi.

Akhirnya kedua orang itu pergi. Rasanya beban hidup Sakura seperti hilang 10 kg. Ketika selesai meminum suplemennya, Sasuke kembali duduk di sebelah Sakura dan menghela napasnya.

“Pria itu berbahaya,” Sasuke menggelengkan kepalanya, “Kau harus hati-hati Sakura.”

“Oh ya?” Sakura mengerutkan dahinya, “Kau selalu seperti itu Sasuke. Kau bilang Itachi jahat, sekarang Kisame juga jahat. Apakah kau tidak terlalu negative thinking?”

“Ini bukan negative thinking,” Sasuke mengoreksi Sakura, “Aku hanya menjadi orang yang logis.”

“Ya, logis,” Sakura menghela napasnya, “Kau selalu logis, bisakah kau lebih kreatif sedikit?”

“Bisa,” Sasuke kemudian mengeluarkan telepon genggamnya dan menekan nomor seseorang yang sangat ia kenal, “Halo, Naruto. Ya, Sakura sudah siuman. Ya, bagaimana kalau kau aku Sakura dan Hinata kencan ganda?”

Wanita yang hamil lima bulan itu membuka mulutnya lebar-lebar seakan-akan ia baru saja mendengar sebuah kasus pembunuhan. Apa? Uchiha Sasuke ingin double date? Pria itu sudah kerasukan hantu ya? Kemarin Sasuke memberikan Sakura kejutan dengan membuat ruangan ini penuh dengan rasi bintang. Kali ini kencan ganda?! Ya, pria ini pasti kerasukan.

“Oh ya,” Sasuke terlihat serius ketika ia berbicara dengan Naruto, “Betul juga, ya boleh. Kencan di rumah sakit itu ide bagus.”

Sakura benar-benar tidak mempercayai hal ini. Seorang Uchiha Sasuke.... merencanakan kencan ganda? Sasuke Uchiha? Suaminya yang dingin dan tidak berperasaan itu? Tidak mungkin kan? Ini pasti bohong.

“Jadi Sakura, besok Naruto dan Hinata akan datang kesini,” Sasuke menyalakan TV besar yang ada di ruangan itu, “Kita akan kencan ganda dengan menonton film romantis.”

“Kau gila ya?” Sakura benar-benar tidak habis pikir, “Apa kau sakit demam?”

Whatever,” Sasuke menghela napasnya.

XXX

Sakura menatap film yang diputar itu dengan mata yang berair. Entah mengapa setiap kali wanita itu menonton film ‘The Notebook’, Sakura selalu ingin menangis. Kelihatannya Hinata juga terharu, karena itulah Naruto memeluk pacarnya itu dengan hangat. Sakura benar-benar merasa iri dengan Naruto dan Hinata, walaupun kedua orang tua Hinata tidak setuju akan hubungan mereka Naruto tetap pantang menyerah.

Ah, Naruto dan Hinata itu seperti Noah dan Allie di film yang Sakura tonton sekarang. Kedua tokoh utama film itu saling mencintai, namun keluarga sang wanita tidak menyetujui hubungan mereka. Akhirnya kedua pasangan itu dipisahkan, tapi tentu saja jodoh pasti akan bertemu lagi. Saat keduanya dewasa, Noah dan Allie bertemu lagi dan saling mencintai lagi.



“So it's not gonna be easy. It's going to be really hard; we're gonna have to work at this everyday, but I want to do that because I want you. I want all of you, forever, everyday. You and me... everyday,” Adegan sang tokoh utama pria ini membuat Sakura ingin menangis.

Kalimat itu sungguh menyentuh hati Sakura. Ya sebuah hubungan itu tidak ada yang mudah, mungkin mereka harus berjuang untuk mempertahankan hubungan itu setiap hari... Tapi yang paling menyentuh adalah ketika sang pria mengatakan, bahwa ia tidak peduli akan kesusahan itu. Pria itu hanya menginginkan wanita itu... setiap hari dan selamanya. Ah, sungguh Sakura menginginkan cerita cinta seperti itu. Seperti Naruto dan Hinata, seperti Noah dan Allie.

“Oi Sakura,” suami dingin Sakura itu memberikan sapu tangan biru tuanya kepada Sakura, “Jangan menangis, jelek sekali tahu.”

Ya, lelaki macam apa itu? Sakura benar-benar tidak percaya... Di saat Hinata mendapat pelukan dari Naruto, Sasuke malah memperlakukan Sakura seperti itu! Wanita mana di dunia ini yang ingin di sebut jelek? Tidak ada. Sakura sama sekali tidak senang mendengarnya.

Ah, tanpa terasa film romantis akhirnya berakhir. Kisah cinta Noah dan Allie benar-benar menyentuh hati.

“Whoa waktu berlalu cepat sekali!” Naruto melepaskan pelukannya dengan Hinata dan menatap jam tangannya, “Wah sudah sore!”

“Terima kasih atas kencan gandannya,” Hinata memberi hormat kepada Sasuke dan Sakura, “Saya sangat menikmatinya.”

“Sakura-chan kau harus istirahat yang banyak ya!” Naruto tersenyum lebar.

“Tentu saja Naruto! Aku tidak perlu diingatkan oleh orang sepertimu,” Sakura tertawa.

Bye bye!” Naruto melambaikan tanganya sebelum benar-benar pergi dari ruangan itu.

Ketika Naruto dan Hinata pergi, dokter Sakura masuk dan tersenyum hangat kepadanya. Kemarin bayinya terdengar sehat, jadi Sakura merasa lebih lega. Mungkin hari ini Sakura bisa pergi keluar dari rumah sakit. Sakura terlihat santai ketika dokternya mengecek temperaturnya, detak jantungnya dan prosedur-prosedur dasar lainnya. Sayang sekali raut wajah santainya berubah ketika dokter itu menjatuhkan penanya.

Sakura tampak terkejut, namun wajah dokter itu tampak jauh lebih terkejut daripada Sakura. Dengan cepat dokter itu memanggil suster-suster lain dan memberikan check-up yang jauh lebih rumit kepada Sakura. Ketika pemeriksaan itu selesai dokter itu menghela napasnya.

“Ada apa... dokter?” Sakura dengan gemetar merasakan keringat dingin di pelipisnya.

“Maafkan saya Nyonya Uchiha,” Dokter itu menggelengkan kepalanya, “Ini aneh sekali... tapi saya tidak bisa mendegar detak jantung bayi anda.”

Wanita itu tidak bisa mengatur napasnya dengan benar. Ini bohong kan?

“Periksa kembali dokter,” Sasuke menatap dokter itu tajam-tajam.

“Saya sudah memeriksa Nyonya Uchiha dua kali—”

Sebelum dokter itu selesai berbicara Sasuke memotongnya dengan tajam, “Periksa kembali.”

Ini pasti bohong. Kemarin bayinya masih baik-baik saja. Kemarin semuanya terasa begitu sempurna dan indah. Ia hanya pendarahan ringan dan dokter bilang istirahat dan suplemen cukup untuk memulihkan tubuh Sakura. Ini... ini tidak mungkin.

“Kandungan Nyonya Uchiha memang sudah lemah sejak awal,” Dokter menggelengkan kepalanya, “Namun kelihatannya bayi anda berada di titik terlemahnya. Saya harus memeriksa Nyonya Uchiha di ruangan yang lebih lengkap dari ini... Saya butuh peralatan yang lebih memadai untuk memeriksa bayi ini.”

Sakura tidak pernah membayangkan hal ini akan terjadi kepadanya. Awalnya ia tenang akan dirinya yang jatuh. Ia tenang karena kandungan itu tidak apa-apa. Awalnya ia tenang walau bayi itu belum menendang.... Ia tenang karena ia tahu perutnya yang besar itu adalah bukti bahwa bayi itu ada. Sakura terlalu sibuk mengkhawatirkan hal lain... sampai-sampai ia tidak mengkhawatirkan kalau hal ini akan terjadi kepadanya. Tidak! Bayinya.... bayinya tidak akan baik-baik saja! Bayinya pasti akan baik-baik saja.

Sulit. Rasanya sulit bagi Sakura untuk bernapas. Ia merasa setiap kali ia mengambil napas ada batu-batu kerikil keras di paru-parunya. Batu-batu itu menghalangi Sakura untuk bernapas dengan benar. Rasanya tubuh Sakura terasa sehat, namun mentalnya tidak. Hilang semua kenangan-kenangan indah yang ia miliki di dunia ini... hanya ada kekecewaaan dan kecurigaan.

Ketika dirinya terlentang dan ditarik ke luar dari ruangannya, Sakura hanya bisa memegang perutnya dengan gemetar. Bayi kecil... Apakah kau disana? Kau bahkan belum menendang perutku... Tidak... Jangan tinggalkan aku... Kau memang awalnya tidak diinginkan, tapi aku tidak ingin kehilanganmu sekarang.



Tidak. Ini tidak mungkin terjadi kepadanya. Tidak. Tidak. Saat Sakura masuk ke ruangan baru itu, suster-suster dengan cepat mengambil peralatan-peralatan lengkap mereka. Sakura pernah mempelajari peralatan itu saat ia masih kuliah. Peralatan semacam ini tidak mungkin dikeluarkan jika kondisinya tidak parah...

Sakura merasa sangat takut, Uchiha Sasuke menunggu di luar... Sakura tidak bisa bergantung dengan suaminya. Tidak... Apa yang harus ia lakukan? Sakura hanya bisa terlentang dan dengan diam menunggu hasil pemeriksaan dokter itu... ia sendirian... dan ketakutan.

Wajah dokter itu semakin cemas, keringat dingin turun dari pelipis dokter itu. Tidak, ini... ini pasti hanya halusinasi Sakura bukan? Ini pasti hanya bayangan Sakura belaka. Pasti Sakura hanya ketakutan saja... ini pasti bohongan.

“Nyonya Uchiha...” Dokter itu menundukan kepalanya, “Bayi anda sudah tiada…

Rasanya ada sedikit dari diri Sakura yang telah mati. Wajah Sakura sekarang menjadi pucat dan kosong. Untuk pertama kalinya di dunia ini ia merasa ia sudah tidak perlu hidup lagi. Seakan-akan ia tidak hanya kehilangan bayinya, tapi juga kehidupannya.

“Tidak!” Sakura berteriak dengan panik, “Bayiku tidak mungkin meninggal... Kemarin ia baik-baik saja!”

Dokter itu terus meminta maaf, namun Sakura terus menyangkal hal itu. Di dalam benaknya, hal ini hanya ilusi belaka. Bayinya pasti masih ada di perutnya... Pasti bayi itu hanya tertidur lelap saja... Iya bukan? Ini pasti bohong. Ini tidak mungkin terjadi!

“Nyonya Sakura langkah selanjutnya yang harus kami lakukan adalah menjalankan operasi untuk mengeluarkan bayi anda,” Dokter itu menatap Sakura dengan iba.

Sakura terus meronta-ronta ketika suster-suster di ruangan itu mencoba untuk menenangkannya. Suara tangisan Sakura mulai terdengar sampai ke luar ruangan dan wanita itu terus berteriak ‘bohong’ dan ‘penipu’. Wajahnya yang pucat sekarang sudah berubah menjadi seputih salju. Bahkan bibir Sakura sudah berubah menjadi keabu-abuan. Jika ada orang yang masuk dan melihatnya... mungkin Sakura akan dikira sebagai pasien gila.

“Nyonya Sakura, apakah anda ingin mengeluarkannya sekarang ataukah anda ingin memberitahukan suami anda dulu?” Dokter itu bertanya kepada Sakura dengan berat hati.

Wanita yang kelihatan gila itu terdiam. Uchiha Sasuke... Sakura sudah tidak peduli lagi kepada Uchiha Sasuke. Tidak! Walaupun pria itu telah menjadi lebih pengertian, tapi pria itu tidak akan mengerti! Pria itu tidak mengandung bayi ini jadi pria itu tidak akan mengerti akan penderitaan Sakura!

“Apakah kau sudah bahagia sekarang?”

 Sakura mengingat kembali rasi bintang Andromedanya. Putri Andromeda diikat oleh rantai dan didekap oleh monster. Sama seperti Sakura sekarang. Suster-suster itu mengikat tangan Sakura dan dokter itu adalah monster yang ingin menghancurkan hidup Sakura.

Andromeda di selamatkan oleh Perseus... namun Sakura tidak melihat Sasuke dimana-mana saat itu. Sasuke tidak menyelamatkan Sakura. Suaminya itu tidak datang dan menghancurkan monster ini. Kalau dipikir-pikir Sasuke juga tidak pernah ada untuk membela Sakura ketika Mikoto dengan palsu memperlakukan Sakura. Ataupun ketika para old money mengejek-ejek Sakura... Sasuke juga tidak menyelamatkan Sakura dari dokter ini.

“Nyonya Sakura? Jadi apa pilihan anda?” Dokter itu bertanya sekali lagi.

Apa? Apa pilihan Sakura? Sakura sudah muak menjadi orang yang baik. Selama ini ia selalu bersabar oleh tingkah laku Sasuke... keluarga Sasuke... maupun para old money yang menyebalkan itu. Sakura sudah muak dengan orang-orang yang berpura-pura bahwa mereka khawatir akan bayinya padahal mereka tidak khawatir sama sekali! Pasti banyak orang yang tertawa saat mereka tahu bayi ini hilang. Para pemegang saham yang mendukung Itachi pasti akan tertawa sekarang.

Itachi. Pasti pria itu. Pasti pria itu yang membunuh bayi Sakura! Jika bayi ini meninggal, pria itu bisa dengan mudah mendapatkan posisi menggantikan Fugaku. Sasuke sudah tidak mempunyai keturunan, karena itulah Itachi pasti dengan aman merebut posisinya! Ya, pasti Itachi yang membunuh bayi itu! Tidak mungkin dalam satu malam bayi itu hilang begitu saja...

Tunggu, Dua hari yang lalu suster mengatakan bahwa suplemen terakhir yang Sakura makan seharusnya adalah suplemen dari dua hari yang lalu. Anehnya... kemarin masih ada suplemen lagi untuk Sakura... jangan-jangan... ah, tidak mungkin... tapi... mungkin saja.... mungkin saja itu bukan suplemen. Kenapa pria bernama Kisame itu menyuruhnya untuk meminum suplemen itu? Kisame... apa dia bekerja sama dengan Itachi?

“Panggil Sasuke...” Sakura memerintahkan dokter itu dengan dingin, wajah Sakura tidak pernah terlihat sedingin itu sebelumnya...

Wajah Sakura yang sekarang dingin itu terlihat penuh dengan dendam dan amarah. Masih ada kencantikan di wajahnya, namun kecantikan itu penuh dengan kekejian. Wanita itu terlihat seperti ia siap menghancurkan siapapun.

Saat Uchiha Sasuke masuk ke ruangan itu, wajah pria itu terlihat khawatir... namun disembunyikan oleh ekspresi dinginnya yang khas.

“Aku telah kehilangan sesuatu yang berharga,” Sakura menatap Sasuke dari kejauhan, “Seseorang mengambilnya dariku. Karena itu aku tidak akan tinggal diam... Aku tidak akan menjadi baik lagi... Kali ini... Kali ini aku akan menjadi jahat... Aku akan menghancurkan siapapun yang berani menginjak-injak diriku.”

“Apa yang kau katakan Sakura?” Sasuke berjalan mendekat dan menggegam tangan istrinya dengan panik.

Sakura menepis tangan Sasuke dan menatap pria itu dengan tajam, “Aku kehilangan bayiku Sasuke. Ia sudah tidak ada di dunia ini.”

Suaminya terlihat lemas. Untuk pertama kalinya Sakura melihat seorang Uchiha Sasuke yang dingin dan kuat menjadi lemas dan tidak berdaya.

“Dokter!” Sasuke dengan marah mendekati dokter itu, “Apa-apaan ini?! Bukankah kau dokter terbaik di rumah sakit ini?!”

Setiap orang di dunia ini mengenakan topeng. Mikoto menggunakannya untuk terlihat elegan, Kisame menggunakannya untuk menghancurkan orang lain... Sakura selama ini tidak pernah mengenakan topeng. Dirinya selalu apa adanya dan penuh dengan kehangatan. Hal ini tidak akan terjadi lagi...

“Biarkan saja Sasuke,” Sakura dengan licik menatap dokter itu, “Kita bisa memecatnya karena ia tidak kompeten. Aku dekat dengan Nyonya Tsunade... kau kenal nama itu bukan dokter? Ya, ia adalah board of directors dari rumah sakit ini. Besok ia akan rapat di Seoul untuk membicarakan kinerja dokter-dokter di cabang Eropa dan Asia.”

Dokter itu sekali lagi meminta maaf, namun Sakura sudah lelah memaafkan orang.

“Lebih baik kau mengeluarkan bayi ini dari perutku dengan baik,” Sakura mengancam dokter itu, “Mungkin saja ini operasi terakhirmu dokter.”

Persetan dengan Mikoto, old money, new money dan Kisame atau pun Itachi. Sakura muak dengan ini semua. Ia muak dengan orang-orang berwajah palsu yang selalu membuat Sakura celaka. Kisame dan Itachi... Kedua pembunuh itu juga harus jatuh. Sakura akan membalaskan dendam bayinya. Ia tidak peduli betapa jahatnya dirinya sekarang.

Mulai sekarang Sakura juga akan mengenakan topeng. Ia akan menjadi wanita yang kuat dan jahat. Ia akan membalaskan dendamnya.



XXX

Semoga kalian menyukai chapter ini! Jangan lupa untuk meninggalkan komen dibawah ini! Pasti akan dijawab hehehe :)

<<Previous Chapter

11 comments:

  1. Jean

    Hi ini jean... saya malas log in hehehe. Makasih udah upload ini loh mel! Bagus banget plotnya sekarang jadi lebih menarik. there is so much feeling and it's just perfect! Keep up the good work

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi there Jean!!! :) Thank youuu for your comment! I will keep up the good work, semoga perkembangan ceritanya tetap menarik untukmuuu sis! hehehe.

      Delete
  2. yuhuyy udah update fic nya :))))
    Tap-tapi
    HUEEE.... SAKURAAA KEGUGURANN :"" hikss..
    duh itu penyebab keguguran sakura, kisame atau itachi ka ? :""

    whoaaa... Sakura jadi jahat :"")) hohoohoh...

    duh fic nya Makin seru , makin bikin penasaran,
    Update kilat.. yaw kaa
    di tunggu chap selanjutnya... ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi there Alya-san! Terimakasih Alya-san! :) Semoga chapter ini tidak mengecewakan! Sakura yang jahat akan menjadi sangat bad ass! ehehhee.

      Delete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  4. Jadi sakura keguguran ya? duh ikut sedih
    Oh ya, itu yg bikin sakura keguguran itachi sama kisame kah?? tapi masa itachi setega itu?
    Yeah di tunggu chapter selanjutnya ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi there! Hehehe soal siapa pelakunya itu rahasia perusahaan hehehe :) I'll work hard on the next chapter! I hope you like it!

      Delete
  5. ariska
    hay kak meli boleh kupanggil begitu:)
    maaf kak baru review
    baru tau
    dan aku suka cerita di chapter ini perasaan baca chap ini campur aduk marah sedih , dan bahagia
    kakak emang pandai buat pembacanya terbawa suasana :)
    dan sedihnya sakura keguguran :( tak apalah pasti kaka siapkan yang terbaik buat kedepannya
    dan aku suka sasuke yang mulai perhatian sama sakura
    dan aku menanti sifat sakura yang baru , sepertinya akan menarik kedepannya :)
    ak juga follow ig kakak ,kak meli cantik deh
    jangan lupa kak.folback ya akun all S_khusny
    maaf deh sepertinya ak banyak omong ini
    maaf ya kakak , aku tunggu trrus lanjutan ceita dari kakak :)
    salam kak :)



    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi there ariska!!! Aww... thank you untuk reviewnya yang panjang yah :) It means a lot to me... Wah, terimakasih sudah bilang aku pandai membuat pembaca terbawa suasana hehe. I hope I can be better at it as time passes! Wah, jadi S_khusny itu kamu? hehe Halo salam kenal! Aku sudah followback yah ^^ tinggal tunggu approval kamu karena igmu di protect hehe. Wah thank you daritadi aku dipuji terus jadi melayang xD I hope you have a nice day love!

      XOXO

      Delete
  6. Hi! I am Jessica from Indonesia. Nice to meet u, Melissa-san. Your story is so stunning!! I love it so bad. It's best to update quickly. I am waiting for your story like crazy. Really breathtaking. Lol.. and by the way, don't forget to follback my ig, :) @jessicanovia98. Thanks before *kiss and hug :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi Jess! Nice to meet you too xD You're stunning in real life! I followed back your ig :) Thank you for waiting and reading my lovely little story... See you on my next chapter and have a nice day love!

      XOXO!

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...