Marrying Uchiha Sasuke Chapter 11

10:01 Melissa Gabriele 8 Comments



Marrying Uchiha Sasuke

Chapter 11

Her Touch


Disclaimer : I do not own Naruto
 
The Mulia Bali
Image source : expatliving
Uchiha Mikoto berdiri dengan tegak dan elegan. Wanita itu baru saja keluar dari spa The Mulia Bali. Ia dapat mencium harum bunga Bali dari rambut hitam legamnya. Mandi bunga tadi telah membuat tubuhnya terasa lebih ringan, namun pikirannya tetaplah berat. Pergi ke berbagai pesta bisnis membuat pikirannya penuh dengan kalkulasi. Senyuman palsu yang ia harus pakai seharian membuat wajahnya pegal. Kali ini akhirnya Mikoto bisa melepas topeng itu. Kali ini ia akan bertemu dengan teman lamanya. Wanita itu memiliki hati yang jernih dan sifat yang blak-blakan. Jika bersama dengan wanita itu Mikoto bisa menjadi dirinya yang apa adanya.

“Ah! Mikoto!”

“Kushina,” Mikoto memeluk wanita berambut merah itu dan tersenyum.


Mikoto's Marchesa dress via net-a-porter
Kushina's J.Crew jumpsuit via net-a-porter
Namikaze Kushina, wanita itu adalah teman baiknya sejak SMA. Berbeda dari teman-teman dunia sosialitanya, Kushina tidak menyukai pesta bisnis. Ia dan suaminya, Minato menetap di Amerika. Keluarga Namikaze adalah pebisnis properti kedua terbesar di Amerika stelah Trump Organization. Meskipun wanita itu memiliki posisi yang tinggi, Kushina selalu tampil sederhana dan apa adanya. Sifatnya yang ceria dan terkadang galak membuat Mikoto merasa tenang. Wanita itulah satu-satunya teman sejati Mikoto.

“Mikoto kau harus berterimakasih padaku,” Kushina duduk di tepi kolam The Mulia Bali dengan santai, “Kau tahu aku bukan tipe orang yang menyukai high tea bukan? Tadinya kupikir kita bisa ngobrol di warung, aku benar-benar rindu makanan jalanan Bali. Apalagi sate lilitnya!”

Mikoto duduk dan mengoreksi sahabatnya, “Afternoon tea, bukan high tea.”

Afternoon tea The Mulia Bali
Image source : ultimatebali
“Eh?” Kushina terlihat bingung, kemudian wanita itu menikmati tehnya dengan santai, seakan-akan ia sedang minum air mineral, “Ah iya! Aku selalu lupa! Afternoon tea dan high tea memiliki arti yang berbeda yah.”

Kushina memang tidak begitu memikirkan hal kecil seperti ini, sejak mereka SMA dulu Kushina tidak pernah menghafalkan table manner, latihan polo, maupun membaca buku sastra. Kushina juga tidak menyukai afternoon tea. Aneh sekali, padahal tradisi teh sore ini sangat tepat untuk dua orang, Mikoto sangat menyukainya.  Afternoon tea selalu memiliki porsi yang kecil namun lezat; Scone yang baru dipanggang , gurihnya teh buah, manisnya tart stroberi vanila, crème brulée, dan kue-kue kecil lainnya.

“Mungkin kau bisa menghargai afternoon tea kalau kau menikmati kue-kue kecil ini dengan perlahan Kushina,” Mikoto tersenyum dengan elegan.

“Iya Mikoto,” Kushina melahap scones itu dengan cepat, “Karena kau sahabatku jadi aku akan mencoba untuk menikmatinya...”

Kushina memang tidak berubah. Wanita itu memang tidak pernah menjaga image. Mungkin diantara orang-orang yang Mikoto kenal, hanya Kushina saja yang makan sambil berbicara dan melahap scone dalam satu kali lahap. Kushina memang tidak peduli tatak rama. tapi itulah hal yang membuat Mikoto bisa merasa lebih santai dan tenang. I merasa seperti dirinya masih SMA. Ia masih ingat Kushina selalu mengajaknya untuk bolos kelas dan pergi ke kantin sekolah. Kushina akan memesan ramen dan makan dengan berantakan. Kemudian mereka berdua dimarahi oleh guru mereka, namun entah kenapa Kushina selalu menghadapi guru-guru itu dengan canda dan tawa. Ah, betapa Mikoto merindukan hari-hari itu.

“Kushina,” Mikoto meniup tehnya pelan-pelan, “Kenapa kau tidak ikut pesta bisnis kemarin?”

Wanita berambut merah itu kemudian tersedak dan tertawa dengan ringan, “Kau tahu kenapa kan? Kau yang paling tahu sifatku.”

Well, benar sih, kau memang selalu membenci hal-hal seperti ini...” Mikoto kemudian menggelengkan kepalanya dan tertawa juga, “Oh ya, bagaimana suamimu? Kau tidak memukulnya terlalu keras kan hari ini?”

“EH?” Kushina kali ini tersedak lebih parah dari yang tadi, “Darimana kau tahu aku suka memukul Minato?”

I know you well, kau memang tipe orang yang lumayan... well...” Mikoto meminum tehnya pelan-pelan, aroma bunga teh TWG Grand Wedding melengkapi rasa teh buah itu.

TWG Grand Wedding
Image source : mylovelywedding
“Lumayan kasar?” Kushina melahap kue keduanya, “Aku tahu kok! Tapi kali ini aku memukulnya dengan alasan! Alasannya karena dia tidak makan pagi! Itu rasional kan?”

Cinta. Kushina mencintai Minato. Mikoto dapat melihat perasaan cinta ketika Kushina berbicara soal suaminya. Wanita itu mungkin sering memukul suaminya, tapi dibalik pertengkaran-pertengkaran kecil mereka ia tahu Kushina sangat menyayangi Minato. Berbeda dengan dirinya. Ia bahkan tidak tahu kapan terkhir kali Fugaku dan dirinya bercanda tawa. Ah, tentu saja ia tidak tahu, karena jawabannya tidak pernah. Fugaku tidak mencintainya. Mereka adalah produk dari pernikahan bisnis. Cinta tidak ada di kamus kehidupan Fugaku dan Mikoto. Terkadang Mikoto ingin merasakan perasaan Kushina, namun perasaan semacam itu mungkin hanya akan melukai dirinya. Ia tahu jika ia mencintai Fugaku, pria itu tidak akan kembali mencintainya.

“Bagaimana dengan suamimu?” Kushina berbicara sambil menikmati kue ketiganya, “Ia tidak datang ke Bali?”

“Ia datang, kemarin ia menghadiri pesta bisnis di Double-six,” Mikoto tersenyum pahit, “Tapi ia sudah berangkat ke Paris tadi malam.”

Ah. Sakit. Kali ini Kushina memukul pundaknya. Sudah lama Mikoto tidak dipukul oleh sahabatnya ini. Ia tahu jika Kushina memukul seseorang, wanita itu pasti akan segera menasehati orang yang dipukulnya.

“Kau ini ya!” Kushina menatapnya dengan kesal, “Kau tidak boleh membiarkan Fugaku sibuk sendiri seperti itu! Kau harus menyuruhnya untuk istirahat! Dia itu workaholic gila! Kalian seharusnya berlibur dan menikmati indahnya Bali!”

“Fugaku-san memang seperti itu. Ia hanya berbicara dengan tiga orang penting di pesta bisnis itu... kemudian ia langsung berangkat ke Paris. Orang itu bahkan tidak menyapa kedua anaknya,” Mikoto tersenyum pahit sekali lagi, jika ia tidak tersenyum mungkin Kushina akan berpikir ia akan segera menangis.

Mikoto harus terus tersenyum. Ia tidak ingin sahabatnya melihat sisi lemahnya. Ia tidak ingin Kushina melihat matanya yang berair. Lagipula ini hanya hal kecil. Fugaku memang selalu seperti itu. Untuk apa juga Mikoto terlalu memikirkannya?

“Mikoto...” Kushina memandangnya dengan raut wajah yang prihatin, “Sudahlah, lupakan saja suami anehmu itu! Bagaimana dengan anak-anakmu?”

“Ah, Sasuke sudah menikah,” Mikoto menikmati tehnya lagi dan tersenyum tipis.

“Nah! Seperti itu dong!” Kushina tertawa senang.

“Seperti apa?”

“Tersenyum terus seperti itu! Kau selama ini selalu galak terhadap anakmu. Terutama Sasuke...” Kushina menggelengkan kepalanya, “Galak itu perlu... Tapi tidak mendidik mereka sedingin es juga Mikoto... Aku tahu kok sebenarnya kau sayang kepada mereka.”

“Kau tidak mengerti Kushina... Karena Sasuke... Karena Sasuke... anakmu jadi....” Mikoto dengan gemetar meletakkan cangkir tehnya.

Tidak. Mikoto tidak ingin mengingat kejadian itu... Waktu itu di Amerika... Saat Sasuke masih lima tahun. Anak itu diculik. Waktu itu anak laki-laki Kushina yang bernama Menma juga diculik bersama dengan Sasuke. Ini semua karena kelalaian Mikoto. Ia terlalu memanjakan Sasuke. Ia tidak pernah memarahi Sasuke ketika anak itu berkeliaran sesukanya di Amerika. Mikoto pikir bodyguards cukup untuk menjaga Sasuke... Ia tidak perlu memarahi Sasuke... tapi ia salah. Ia benar-benar salah. Sasuke akhirnya diculik bersama dengan Menma.

“Itu sudah berlalu Mikoto,” Kushina menepuk-nepuk pundak sahabatnya dengan lembut, “Lupakan saja.”

“Berlalu?! Anakmu masih hilang sampai sekarang Kushina! Menma masih belum ditemukan!” Mikoto tanpa sengaja menumpahkan tehnya, cangkir itu jatuh dan pecahan belingnya bertebaran di tepi kolam itu.

Kolam. Waktu itu Sasuke jatuh ke kolam renang. Saat ia diculik Sasuke berusaha untuk kabur dan jatuh ke dalam kolam renang. Anak bodoh itu tidak bisa berenang. Menmalah yang menyelamatkan Sasuke. Setidaknya itu yang Mikoto dengar dari bodyguard Mikoto. Bodyguard Sasuke sempat menyelamatkan Sasuke, namun Menma justru dibawa kabur oleh penculik misterius itu. Sampai sekarang Mikoto tidak tahu Menma masih hidup atau tidak... dan itu semua adalah salah Sasuke dan dirinya. Kalau Sasuke tidak mengajak Menma pergi berkeliaran berdua. Kalau saja Mikoto sempat melarang Sasuke untuk pergi... mungkin Menma masih ada di sisi Kushina sekarang.

“Mikoto, sudahlah,” Kushina memeluk sahabatnya itu. Kelihatannya ia sadar Mikoto sudah mulai gemetaran.

Sampai sekarang Mikoto masih terus mencari keberadaan Menma dan menyelediki  kasus penculikan itu, namun masih tiada hasil. Mikoto tahu orang yang menculik Menma pasti ingin menghancurkan perusahaan Kushina dan Minato. Selama ini Mikoto terus dan terus mencarinya namun ia masih tidak menemukan siapa penculik itu.

“Daripada kau mengkhawatirkan anakku, lebih baik kau mengkhawatirkan anakmu,” Kushina melepaskan pelukannya dan menatap Mikoto tajam-tajam, “Kau tahu Keluarga Hoshigaki?”

“Ah, aku tahu,” Mikoto masih ingat nama itu.

Hoshigaki, mereka adalah rekan bisnis yang cukup berbahaya. Entah kenapa ada beberapa kasus gelap yang dapat disembunyikan oleh Keluarga Hoshigaki. Mikoto tahu keluarga itu cukup berbahaya, namun mereka memiliki strategi bisnis yang gila. Mereka memiliki proyek-proyek dengan profit luar biasa besar. Fugaku memang tidak dekat dengan Keluarga Hoshigaki, namun Fugaku meminta Itachi untuk mendekati keluarga itu. Itachi sudah besar, pria itu juga jauh lebih pintar dari Sasuke. Mikoto selalu merasa Itachi bisa menghadapi keluarga Hoshigaki.

“Kemarin kudengar Hoshigaki Jin berhasil keluar dari penjara,” Kushina menerawang jauh, “Hoshigaki Jin terlibat kasus pembunuhan, namun pria itu memiliki pengacara yang hebat. Aku dengar adik laki-lakinya, Hoshigaki Kisame dekat dengan anakmu? Aku sarankan agar kau berhati-hati... Kisame mungkin saja memiliki sifat yang sama dengan Jin.”

Kisame? Mikoto tahu Kisame dan Itachi memang cukup dekat beberapa waktu ini... Tapi... Pembunuhan? Kelihatannya kasus semacam itu jarang terjadi.

“Aku hanya ingin kau lebih hati-hati Mikoto,” Kushina memperingatinya lagi, “Kau tidak pernah tahu apa yang bisa terjadi.”

Ya, tidak ada salahnya berhati-hati. Mikoto akan segera memanggil orang untuk mengawasi gerak-gerik Hoshigaki Kisame.

XXX
 
Potato Head Beach Club
Image source : cgarchitect
Potato Head Beach Club Bali, Sasuke pikir tempat ini akan membuat Sakura merasa lebih baik. Sore itu Sakura terlihat lemas, angin sangat kencang dan cuaca terlihat agak mendung. Wanita itu memaksakan diri untuk tertawa, namun Sasuke tahu wanita itu menyembunyikan sesuatu darinya. Apa yang sebenarnya ada di benak Sakura? Kenapa wanita itu menangis tadi malam? Trauma? Ketakutan karena Kisame hampir meninggal? Tidak. Sasuke merasa ada sesuatu yang aneh dari kejadian tadi malam. Istrinya menyembunyikan sesuatu darinya dan Sasuke tidak menyukainya. Ia tidak ingin Sakura berwajah seperti ini. Ia tidak ingin istrinya terlihat lemas seperti ini.

“Pemandangannya bagus,” Sakura tersenyum tipis.

Sejujurnya Sasuke tahu wanita itu tidak benar-benar ingin melihat pemandangan. Sebenarnya ada sesuatu yang dipikirkan Sakura dan pikiran itu mengikis kebahagiannya perlahan-lahan. Sasuke tidak tahu apa itu, tapi untuk sementara Sasuke hanya bisa mengangguk dan menatap pemandangan indah  beach club ini.

Restoran yang juga klub pantai ini terkenal akan interior arsitekturnya yang menarik, terutama dindingnya yang terbuat dari jendela-jendela usang kayu jati yang berwarna-warni. Struktur tempat ini menyerupai sebuah stadion dan jalur melengkung tipis ke klub pantai memberikan kesan seperti masuk ke dalam arena pertempuran gladiator. Arsitek sinematik, Andra Matin, membangun beach club ini dengan baik. Sasuke tidak heran kenapa tempat ini begitu ramai.

“Kau ingin duduk dimana Sakura?” Sasuke mengeluarkan telepon genggamnya dari sakunya sambil berjalan masuk, “Kau ingin duduk di dekat pantai atau di dalam ruangan?”

Inside of Potato Head Beach Club
Image source : bali-indonesia

Saat Sakura dan Sasuke masuk ke dalam gedung yang seperti stadion itu, mereka dapat melihat laut. Ternyata di balik gedung yang besar itu terdapat hamparan rumput hijau, bar pantai dan kolam renang infinity yang menghadap ke laut lepas. Kelihatannya jika ingin duduk di dalam ruangan mereka harus naik ke lantai atas. Lantai atas restoran itu terlihat dari lantai dasar karena ruangan itu ditutup oleh jendela kaca yang indah.

“Sakura,” Sasuke mengulang pertanyaannya sekali lagi, “Jadi kau ingin di dalam ruangan atau di dekat pantai?”

“Ah ya,” Suara Sakura benar-benar lemas, “Terserah kau saja.”

Bagus. Sekarang Sasuke benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Selama ini Sakura selalu berani mengungkapkan pendapatnya, karena itulah Sasuke tidak perlu repot menerka-nerka apa yang sebenarnya wanita itu inginkan. Kali ini Sakura berkata ‘terserah’. Luar biasa. Terserah adalah kata-kata yang sangat jarang dituturkan seorang Uchiha Sakura.

“Kalau begitu di dekat pantai saja,” Sasuke menepuk pundak Sakura dan meninggalkan wanita itu sebentar.

Table for two near the beach please,” Sasuke memanggil salah satu waitress.

Berkomunikasi dengan orang Bali sangatlah mudah. Entah kenapa hampir semua orang di Bali bisa berbahasa Inggris. Mungkin ada yang tidak lancar, tapi mayoritas penduduk di sini mengerti kalimat-kalimat dasar Bahasa Inggris. Salah satu hal yang Sasuke kagumi dari orang Bali adalah keramahan dan kesopanan mereka. Ya, mungkin dalam hal kesopanan Bali masih jauh dari Jepang, namun keramahan mereka nomor satu. Murah senyum dan hangat, keramahan semacam ini sulit untuk dicari di Jepang. Ah, tunggu. Sasuke pernah merasakan keramahan ini sebelumnya. Saat itu orang yang ramah itu akan memanggilnya, “Sasuke-kun!”. Oh ya, orang itu adalah Sakura. Sakura saat wanita itu masih SMA. Sasuke benar-benar ingin mengembalikan keramahan wanita itu. Ia akan melakukan apapun yang ia bisa untuk mengembalikannya. Bagaimanapun caranya. Ia tidak tahu kenapa ia ingin melakukannya, tapi ia benar-benar merindukan kehangatan Sakura.

“Sasuke,” Sakura menatap suaminya dengan lembut, “Apa yang sedang kau pikirkan?”

Justru pertanyaan itu yang ingin Sasuke tanyakan.

“Kau sendiri?” Sasuke mengusap kepala Sakura pelan-pelan, “Apa yang sedang kau pikirkan?”

Wanita itu terdiam.

Tatapan Sakura beralih dari Sasuke. Kali ini wanita itu menatap kolam renang dan menghela napasnya.

Potato Head BC Swimming Pool
Image Source : jalan2

“Aku sekarang hanya ingin duduk,” Sakura menatap Sasuke lagi.

“Hanya itu saja?”

“Ya, hanya itu saja.”

Bohong. Uchiha Sakura benar-benar tidak pandai berbohong. Sasuke tidak mengerti kenapa wanita itu terus menyembunyikan sesuatu darinya. Ah, sudahlah. Mungkin wanita itu punya alasannya sendiri. Yang paling penting adalah wanita itu bahagia. Setelah mereka duduk Sakura terlihat lebih relaks. Entah kenapa, meskipun restoran tepi pantai itu ramai, namun Sakura kelihatan begitu... tenang.

Champagne Supernova,” Sakura tiba-tiba memesan minuman ketika waitress restoran itu lewat.

Potato Head Beach Club memang terkenal dengan minuman kerasnya yang unik dan beragam, namun Sasuke tidak menyangka Sakura akan memesan minuman keras. Sakura.... Sebenarnya ada apa dengan wanita itu? Hari masih sore dan wanita itu memesan minuman keras?

Champagne Supernova anda,” Ketika waitress restoran datang, datang juga minuman keras pesanan Sakura.

Champagne Supernova
Image Source : asia-bars
Sasuke memandang minuman pink itu dan menghela napasnya. Minuman ini cukup ringan sih, mirip dengan Bir Bintang. Namun Uchiha Sakura itu tidak kuat minum. Sasuke memang tidak pernah melihat Sakura minum selain kejadian di... uhum... Roma. Ya, selain kejadian itu dan malam... itu. Sakura juga sempat hamil, jadi wanita itu tidak pernah minum lagi. Hanya saja Sasuke hanya ingin berjaga-jaga. Wanita itu belum makan apa-apa pagi ini dan kau harus makan sesuatu yang kenyang sebelum minum alkohol. Wanita itu dokter atau bukan sih? Ia pasti tahu bukan kalau minuman semacam ini tidak baik untuk lambungnya? Ia harus makan sesuatu dulu sebelum minum minuman keras.

Sasuke menarik minuman itu dari tangan Sakura dan menghabiskannya dalam satu teguk. Ah, ini bukan minuman yang terlalu keras. Sasuke dapat merasakan manisnya stroberi dan sirup vanili. Rasa soda anggur dan sereh juga ada disana menutupi rasa gin yang agak pahit. Urgh. Rasanya seperti meminum sirup stroberi. Sasuke sama sekali tidak bisa merasakan rasa gin di minuman ini. Gula. Ini semua isinya gula.

“Sasuke, itu minumanku!” Sakura berteriak.

Ah, akhirnya wanita itu memarahinya. Mungkin Sasuke harus lebih sering membuat wanita itu marah. Mungkin dengan itu Sakura akan kembali menjadi Sakura lagi.

“Oh ya?” Sasuke mengembalikan gelas itu kepada Sakura, “Ini.”

“Sasuke... minuman ini sudah habis,” Sakura menggoyangkan gelas yang kosong itu, “Sudah kering kerontang Sasuke!”

Dengan cepat Sasuke memanggil waitress. Pria itu mengeluarkan kartu kreditnya dan dengan cepat membayar semuanya.

“Sa—” Sakura menatap suaminya dengan bingung, “Sasuke... tapi, kita baru sampai dan aku belum makan apa-apa. Lebih tepatnya kau menghabiskan minumanku!”

“Ah, kau bisa marah juga ya,” Sasuke mengangguk pelan, “Aku pikir kau sudah lupa caranya marah.”

“Sasuke!” Sakura berdiri dengan cepat, “Sebenarnya ada apa denganmu hari ini? Kau menjadi... menjadi... menyebalkan!”

Akhirnya. Akhirnya wanita itu terlihat lebih bersemangat dari yang tadi. Wajah Sakura sudah tidak pucat. Tubuhnya juga tidak lemas. Kali ini pipi Sakura terlihat agak merah merona, mungkin karena amarah. Mungkin. Yang pasti sang dokter muda itu sekarang sudah terlihat lebih berenergi.

“Hanya itu saja? ‘Menyebalkan’ saja?” Sasuke menatap Sakura dengan dingin, memancing kemarahan wanita itu.

“Menyebalkan dan...” Sakura menghela napasnya, “dan... cool!”

Kelihatannya Sakura benar-benar tidak bisa benar-benar memarahi orang sekarang. Yah, sudahlah. Paling tidak Sasuke sudah membuat Sakura menjadi lebih hidup. Paling tidak kali ini wanita itu sudah belajar untuk marah lagi seperti biasanya.

Cool?” Sasuke kemudian bangkit berdiri dan berjalan mendekat ke arah Sakura.

“Eh?” Sakura terkaget, “Ma-maksudku bukan itu... Maksudku dingin, cold.

Sakura kelihatannya ingin menarik kata-katanya. Wanita itu terlihat seperti orang yang baru saja salah berbicara. Tatapannya terlihat panik dan gerak-geriknya terlihat lucu. Rasanya seperti Sakura yang Sasuke kenal dulu. Hanya ada satu yang kurang. Sasuke belum melihat lesung pipi wanita itu. Biasanya jika Sakura tertawa atau tersenyum dengan tulus, ada lesung pipi Sakura yang selalu membuat Sasuke merasa lebih tenang.

Ah. Jangan berharap terlalu banyak. Sakura baru saja kehilangan bayinya... Kemarin wanita itu menangis tanpa sebab... Sasuke tidak boleh terlalu berharap banyak. Sakura bisa berargumen kepadanya saja sebenarnya sudah cukup baik. Tatapan Sakura saat berargumen dengan Sasuke... lumayan... hangat.

“Saku—” Suara Sasuke terpotong.

Kelihatannya ia salah memilih tempat untuk berdiri. Sasuke terpeleset dan jatuh ke dalam kolam renang di Potato Beach Club. Cipratan air dari kolam itu membasahi sepatu Sakura. Tatapan Sasuke berpindah dari sepatu Sakura ke wajah wanita itu. Ah, lesung pipi itu datang. Sakura tertawa lepas melihat Sasuke yang basah kuyup. Sasuke tidak tahu seperti apa wajahnya sekarang, tapi hatinya merasa sedikit lega. Kelihatannya ia baru saja membuat wanita itu tertawa lagi.

“Hei, jangan tertawa seperti itu, Bodoh,” Sasuke mencoba berenang ke permukaan.

Urgh. Ada apa ini? Ia kram! Ia tidak bisa menggerakkan kakinya!

“Sasuke!”

Suara anak kecil? Siapa itu? Bukan. Ini hanya kenangannya. Ia pernah mendengar suara anak kecil ini sebelumnya... Waktu itu ia juga tenggelam! Suara siapa itu. Urgh. Kenapa ia menjadi ketakutan? Rasanya keringat dingin turun dari pelipisnya. Kenapa? Rasanya ia semakin lama semakin tenggelam.

Jangan panik Sasuke. Kalau kau panik kau akan semakin jatuh. Napasnya mulai hilang. Sasuke rasanya makin jatuh ke dalam dasar kolam itu. Rasanya ia seperti ditarik oleh black hole. Ia dapat merasakan tekanan air yang berat. Dadanya mulai sakit. Ia sudah tidak bisa bernapas lagi. Kali ini gelap. Ia merasa gelap, namun tubuhnya terasa ringan.

“Sasuke!”

Suara anak kecil itu lagi. Kenapa suara anak itu membuat dirinya takut?  

“Sasuke! Hey!”

Kali ini bukan suara anak kecil. Ini suara Naruto. Uzumaki Naruto... Kenapa dia ada di sini? Ah, iya orang itu diundang ke pesta bisnis kemarin. Urgh. Terang. Sasuke merasa kegelapan hilang dan cahaya mulai datang.

“Sakura-chan!” suara Naruto bergema, “Sasuke tidak bernapas!”

Ah, kelihatannya Naruto yang menyelamatkan dirinya. Urgh. Sial. Kenapa Sasuke terlihat begitu lemah seperti ini. Hal ini konyol sekali. Ia sebenarnya bisa berenang kok. Ia baik-baik saja. Ia sebentar lagi pasti akan siuman.

“Tidak apa-apa, serahkan padaku Naruto,” Sakura menjawab Naruto, “Aku seorang dokter, aku bisa CPR.”

CPR? Cardiopulmonary resuscitation atau resusitasi kardiopulmoner adalah sebuah langkah darurat yang dapat mengembalikkan pernapasan dan denyut jantung seseorang. Ah, jadi Sasuke benar-benar tidak bisa bernapas ya. Ini bodoh sekali. Eh, tunggu dulu. CPR membantu sistem peredaran darah pasien dengan memasok oksigen melalui mulut pasien... Mulut pasien?! Ini artinya... Sakura akan...

Lembut. Bibir Sakura sangat lembut. Sasuke mengingat perasaan ini sebelumnya. Saat ia meminta Sakura untuk menjadi istrinya wanita itu menginginkan suami yang penyayang... karena itulah Sasuke mencium bibir wanita itu. Kemudian saat mereka menikah... mereka juga berciuman. Perasaan lembut ini... sudah lama ia tidak merasakannya.

Apakah buruk ketika Sasuke menginginkan ciuman ini untuk terus datang? Apakah aneh jika Sasuke tidak ingin terbangun? Ia benar-benar merasa ciuman itu begitu memabukan. Rasanya setiap sentuhan dari wanita itu membuat Sasuke meleleh. Ia tidak pernah mencium Sakura dalam jangka waktu yang sepanjang ini. Selama ini ciumannya selalu singkat. Kali ini Sakura berkali-kali menempelkan bibirnya dan memberikan Sasuke udara. Setiap kali bibir itu menyentuh bibir Sasuke... pria itu merasa hangat dan lembut.

Jangan berhenti. Rasanya itu yang ingin Sasuke katakan ketika Sakura terus memberikan napas kehidupan kepadanya. Ia ingin membalas ciuman itu, namun ia tahu ia tidak bisa. Jika ia membalas ciuman itu Sakura akan tahu kalau ia sudah siuman. Jika Sakura tahu ia sudah siuman, bibir itu akan pergi darinya. Argh. Sebenarnya ada apa dengan diri Sasuke? Ia benar-benar tidak bermoral hari ini. Benar-benar tidak bermoral.

Ringan. Ia merasa paru-parunya menjadi ringan dan napasnya mulai teratur. Kali ini ia tersedak dan bibir itu pergi darinya. Saat ia membuka matanya. Wajah Sakura yang terlihat lega membuat dirinya merasa lega. Anehnya ada sebagian dari dirinya yang merasa kecewa. Ia tidak ingin ciuman itu pergi darinya. Sasuke rasanya ingin berpura-pura susah bernapas lagi. Tidak. Tidak boleh Sasuke. Itu adalah hal terkonyol dan terbodoh yang pernah muncul di benaknya. Benar-benar konyol dan bodoh.

“Sasuke! Apakah kau tidak apa-apa?” Naruto dengan cepat datang mendekat.

“Naruto?” Sasuke terbatuk-batuk ketika ia mencoba untuk berdiri.

“Sasuke kau kram,” Sakura membantu pria itu untuk berdiri dan memapahnya bersama dengan Naruto, “Lebih baik kita segera pergi ke dokter.”

“Ah, maaf,” Sasuke kemudian terbatuk dan menutup mulutnya dari Sakura.

“Hey Sasuke,” Sakura kemudian melepas blazernya dan memakaikannya ke pundak Sasuke, “Kau terlihat menggigil. Apa kau baik-baik saja?”

Sakura's Pedro Del Hierro Madrid Blazer
Image Source : net-a-porter
Menggigil? Ah. Mungkin karena hari sudah sore dan angin pantai sangat kencang. Ataukah ini karena ia mengingat anak kecil itu? Sebenarnya siapa anak kecil itu? Sasuke merasa ia sangat mengenali suara itu. “Sasuke!” Suara itu... benar-benar familiar dan suara itu membuatnya semakin menggigil 

“Hei, aku tidak butuh blazermu Sakura,” Sasuke berusaha melepaskan blazer itu dengan cepat, “Seharusnya lelaki yang melakukan hal seperti ini tahu.”

“Sudahlah tidak usah sok cool,” Naruto menepuk pundak Sasuke dan mengembalikan blazer itu ke punggung Sasuke, “Sakura-chan baik tahu. Lebih baik kau menciumnya dan berterimakasih.”

Mencium Sakura lagi? Naruto mungkin sudah gila ya. Naruto tahu betul pernikahan Sasuke dan Sakura bukan berdasarkan atas cinta. Pria itu malah sekarang menyuruhnya untuk mencium Sakura lagi. Selama ini semua ciuman Sasuke dan Sakura selalu berdasarkan atas sandiwara saja. Harusnya Naruto juga tahu akan hal ini.

“Kau berisik Naruto,” Sasuke menghela napasnya.

“Hei, aku tahu kok kau sudah bangun ketika Sakura-chan menciummu, tapi kau tetap saja menikmati ciuman itu,” Naruto tertawa nakal.

.... Benarkah? Kalau dipikir-pikir waktu itu ia memang sudah bisa bernapas dengan baik. Ia memang tidak melepaskan ciuman itu. Ciuman itu lepas karena ia batuk. Argh. Sebenarnya ada apa dengannya? Seharusnya ia tidak berpikir seperti ini soal Sakura. Ini benar-benar tidak sesuai dengan karakternya.

“Ciee.. Ciumannya enak ya Sasuke sampai-sampai kau tidak mau melepaskannya?” Naruto tertawa jahil lagi.

“Kau...” Sasuke dengan kesal menatap Naruto tajam-tajam, “Kau minta dihajar?”

Kalau dipikir-pikir lagi... ciuman itu memang... lembut.

XXX

Hai semuanya! Terimakasih karena sudah menunggu cerita ini J Minggu ini adalah minggu-minggu ujian akhir in my Uni. Aku lumayan sibuk menjadi panitia organisasi dan aku juga harus menyiapkan ujian. Next chapter mungkin akan telat 3 minggu kira-kira karena aku harus menyiapkan untuk ujian. Wish me luck and I hope you love this chapter and have a wonderful month ahead guys!

By the way. Teh yang diminum Mikoto; TWG Grand Wedding adalah teh favoritku. What’s your favorite tea? Let me know ! Aku suka sekali dengan teh. Selain TWG aku juga suka green tea. xD Aku mungkin aneh tapi, aku benar-benar suka afternoon tea. Menurutku Keraton at The Plaza has the best afternoon tea!

8 comments:

  1. I love this. Oh my god. I love this chapter so much!! I love how you describe the afternoon tea, so elegant! I can tell you really love tea Mel! Iove love loveeee the ending so muuuchh... Ahh, I can't believe you're going to hiatus for 3 weeks. Gonna miss your fic! But it's okay I'm just gonna see u on youtube then! Best of luck my friend!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi there Jean,

      I love writing this chapter as well and your guess is correct. I love afternoon teas. It's very refreshing sometime to just sit down, have a quiet chat and enjoy your tea and scones. Thank you for reading this chapter and have a wonderful day! See you on YouTube!!

      Delete
  2. Putri

    I love green tea without milk, classic green tea. Do you have any suggestion kak? I want to try TWG green tea, which 1 should I chose? Wah chap ini aku suka sekali. Sakura sudah mulai pulih ya kak bagus deh aku tenang. Kalau Sakura kembali hangat dia bisa cepet-cepet jadian sama Sasuke! Ditunggu chapter berikutnya kak!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi there Putri,

      For green tea I prefer the organic Korean or Japanese green tea over TWG. However If you love TWG you can try their Emperor Sencha. It's quite good for TWG's green tea :) Thank you for reading and see you on the next chapter!

      Delete
  3. Laura

    I love this chapter. This chapter is very good... i very like this chapter... wow... aku suka banget chapter ini, Meli-san. I hope you can update next chapter fast. I'm waiting your next chapter. Oh yaa.. wish you luck, Meli-San:D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi there Laura,

      I'm glad you enjoy reading this chapter because I love writing this chapter as well. I'm going to update this in the next 3 weeks and I hope you'll patiently wait for me. Thank you for reading this chapter and have a wonderful day! See you on the next chapter Laura :)

      Delete
  4. Hi there! I miss you and your story so bad. It's been quiet a while. Haha. Just hope that u will update it ASAP. I can die alive without reading your next story. Lol . I'll be waiting.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi Jessica!! Aww Thank you for missing my story... I'm truly happy! I just updated the latest chapter recently and I hope you liked it! Don't forget to leave a comment on the 12th chapter as well, I love to hear your thoughts! <3 Have a wonderful day!

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...