My First Love is My Housekeeper Chapter 1

10:55 Melissa Gabriele 3 Comments

My First Love is My Housekeeper!

Chapter 1

Impian

Disclaimer : I do not own Naruto
Warning : Slight nudity

Image source : flickr.com

“Hei, lihat Naruto datang! Si bodoh datang!”

Naruto dapat melihat masa lalunya. Saat itu ia masih SD. Ia mengenakan seragam dan rambut pirangnya terlihat berantakan. Saat itu semua orang membencinya... Semua orang memandang rendah dirinya.

“Ia kan tidak punya orang tua,” Salah satu temannya tertawa, “Makanya tidak ada yang mengajarinya.”

Tidak. Naruto tidak ingin mengingat kejadian itu lagi. Bangun Naruto. Bangun dari mimpi ini. 

Bangun.

“Menurutku, kau tidak bodoh Naruto-kun—”

Suara itu... Suara seorang gadis? Suara itu terdengar begitu familiar...

“Tidak ada orang yang bodoh di dunia ini,” Suara itu sangat lembut, “Yang ada hanyalah talenta, namun aku percaya, kerja keras mengalahkan talenta ketika talenta tidak bekerja keras.”

Suara itu... Hinata?


XXX

Uzumaki Naruto Artis Terkaya Jepang Saat Ini
By Kikuchi Kira
Forbes Magazine

Siapa yang tidak tahu nama Uzumaki Naruto? Pria yang tampan dan ceria ini memulai karirnya di umur enam belas tahun. Setelah sepuluh tahun bekerja sebagai aktor, Naruto banyak berinvestasi di bidang properti. Ia bahkan membeli banyak lahan di berbagai pelosok dunia.

Tidak hanya kaya, Naruto juga seksi. Pria ini menempati peringkat #2 di daftar tahunan Pria Terseksi di Asia. Ia mengalahkan artis-artis Korea seperti Kim Soo-hyun dan Hyun Bin. Tentu saja, para fans mengakui bahwa darah campuran Naruto memang membuat pria itu terlihat jauh lebih seksi. 

Sebenarnya apa sih rahasia kesuksesan Naruto?

“Kerja keras,” Ujar pria itu, “Saat aku masih kecil, ada seseorang yang mengatakan kepadaku bahwa kerja keras mengalahkan talenta. Orang itu benar.”

Saat diwawancara oleh media, Naruto terlihat sangat dewasa. Pesona seorang Uzumaki Naruto memang berbeda dari artis-artis muda zaman sekarang. Maklum, pria ini memang sudah lama berada di industri ini. Anehnya selama ini Naruto tidak pernah berpacaran. 

“Wah, cinta?” Naruto tertawa bingung, “Kurasa aku cinta ramen! Ya, aku sangat mencintai ramen!”

Kelihatannya Naruto masih akan tetap single untuk beberapa waktu dekat saudara-saudara.

XXX


Prada Store in Tokyo
Image Source : design.epfl.ch
Siang itu Tokyo sangatlah panas. Naruto dapat merasakan keringat turun dari pelipisnya. Ah, syuting film ini benar-benar melelahkan. Menyenangkan sih, namun melelahkan. Naruto tidak memakai stuntman untuk adegan actionnya, mungkin karena itulah dibandingkan aktor-aktor lainnya ia yang terlihat paling lelah.

“Yak, kita ulang adegan ini sekali lagi,” Produsernya berteriak, “Take 6. Lights, camera, action.”


Image source : workinentertainment
Naruto harus terjun dari atap gedung Prada di Aoyama-Minami. Jujur, gedung itu tidak terlalu tinggi sih. Salah satu alasan gedung ini terpilih adalah karena gaya arsitekturnya yang kontemporer dan unik. Gedung yang sebenarnya merupakan toko butik tas mahal Prada ini terlihat seperti rumah kaca yang aneh. Bentuknya benar-benar menarik perhatian.

“Kau akan mati sekarang Eren!” Wanita berambut merah jambu memojokkan Naruto di atas gedung itu, “Kau tidak bisa lari dariku!” 

Sakura's Alexander Mcqueen top, Naruto's Asos Leather Jacket
Image source: net-a-porter.com asos.com
“Siapa bilang aku tidak bisa lari?” Naruto tersenyum nakal. 

Kalau ia tidak salah, ia harus terjun dalam hitungan lima detik dari sekarang. 

Lima. 

Empat. 

Tiga. 

Dua...

Ringan. Rasanya terjun dari atas gedung indah seperti ini memang menyenangkan. Naruto benar-benar ingin melakukannya sekali lagi.

“Cut!” Produsernya tersenyum dengan puas. Kelihatannya Naruto tidak perlu mengulang adegan itu kali ini, “Bagus sekali! Yak, semuanya istirahat!”

Saat Naruto jatuh di matrasnya, kru film itu melepas kawat-kawat yang menyangga Naruto. Akhirnya istirahat! Naruto sudah tidak sabar. Ia ingin segera berbincang-bincang dengan wanita berambut merah jambu tadi. Sejak pertama kali debut, Naruto selalu mengagumi wanita itu. Haruno Sakura namanya. Sakura benar-benar pandai dalam berakting. Artis cantik itu pernah membuat Naruto menangis karena pukulannya yang luar biasa sakit. Sakura memang hebat! Keren sekali!

“Sakura-chan!” Naruto dengan semangat berlari mengejar wanita idamannya, “Good job! Kau hebat sekali hari ini!”

“Ah, Naruto,” Sakura menatap lawan bicaranya, raut wajahnya berubah menjadi agak kaget. Kelihatannya ia teringat akan suatu hal yang penting.

“Ada apa Sakura-chan?” Naruto meneliti raut wajah Sakura, wanita itu berpikir cukup lama sebelum akhirnya menghela napasnya.

“Sebenarnya aku sudah lama ingin menanyakan hal ini,” Sakura mengambil ponselnya dan lanjut berbicara, “Apakah kau membutuhkan pembantu rumah tangga?”

Pria berambut pirang itu terlihat bingung, “Tumben sekali kau menanyakan hal ini... Memangnya kenapa Sakura-chan?”

“Salah satu teman baikku baru saja kabur— eh maksudku dipecat,” Sakura terlihat serius menatap ponselnya itu, “Ia butuh tempat tinggal dan pekerjaan, kau mau tidak memperkerjakan dia? Ia bisa mengurus segalanya. Ia pintar masak dan melakukan pekerjaan rumah.”

“Tapi aku punya persyaratan Sakura-chan,” Naruto terlihat serius.

“Apa?”

“Ia harus bisa mengurus anjing,” Naruto benar-benar terlihat serius, “Aku tidak bohong, Kakashi-sensei menitipkan anjingnya kepadaku selama satu minggu. Aku benar-benar tidak bisa mengurusnya!”

“Tenang, dia bisa mengurus anjing! Oh ya, dia boleh tinggal di apartemenmu tidak?” Sakura terlihat seperti anak kucing yang sedang memohon kepada tuannya, “Ia benar-benar tidak punya tempat tinggal sekarang.”

Yah, apartemen Naruto cukup besar. Penthouse miliknya terdiri dari empat kamar. Ada kamar tamu yang bisa digunakan kalau pembantu itu memang ingin tinggal bersama dengannya. Well, biasanya pembantu Naruto tidak tinggal bersamanya sih, tapi kalau pembantu ini memang butuh tempat untuk tinggal kenapa tidak? Kalau orang ini memang teman baik Sakura, orang itu pasti adalah orang yang baik! 

Sekarang apartemen Naruto benar-benar seperti kapal pecah. Anjing pug yang dititipkan kepadanya benar-benar merepotkan. Anjing itu suka buang air dimana-mana. Aaargh! Karena belakangan ini ia sibuk, ia belum sempat mencari pembantu rumah tangga baru. 

“Boleh! Kalau bisa malah aku ingin ia bekerja hari ini juga,” Aktor tampan itu terlihat senang, “Kapan ia bisa mulai bekerja Sakura-chan?”

Kali ini ponsel Sakura berdering. Wanita itu terlihat agak panik, kemudian saat ia mengangkat telepon itu Sakura mulai berbicara dengan suara yang halus. Wanita itu memang benar-benar pandai berakting.

“Maafkan aku,” Sakura berbicara di telepon itu sambil tertawa sopan, “Aku juga sudah lama tidak mendengar kabar darinya. Apa? Tidak mungkin aku menyembunyikan dia di rumahku! Kalau kau tidak percaya kau boleh datang ke rumahku sekarang Neji!”

“Ada apa Sakura-chan?” 

“Tidak apa-apa!” Sakura terlihat tenang, namun Naruto tahu wanita itu sebenarnya  panik, “Oh ya! Bagaimana kalau dia bekerja sekarang saja? Mana kunci apartemenmu? Aku akan pulang duluan lalu memberikan kunci ini pada pembantu barumu! Ide bagus kan? Saat kau pulang apartemenmu sudah bersih!”

“Baguslah!” Naruto mengeluarkan kunci beserta akses masuk apartemen dari sakunya, “Ini dia! Pastikan apartemenku bersih ya Sakura-chan!”

Boleh dibilang Naruto tidak khawatir memberikan kunci apartemennya sembarangan seperti itu. Apalagi Sakura yang memintanya. Sudah pasti tidak akan ada hal buruk yang terjadi. Ia dan Sakura sudah lama bekerja bersama, ia juga tahu kalau artis cantik itu bukanlah orang yang jahat. Lagipula, Naruto punya kunci dan akses cadangan di dalam tasnya.

“Nama pembantu barumu adalah Masakazu Hinata,” Sakura tersenyum lega, “Tenang saja ia benar-benar pembantu rumah tangga yang luar biasa!”

Hinata ya? Naruto jadi teringat akan wanita yang bernama Hyuuga Hinata. Wanita itu adalah satu-satunya wanita yang percaya akan bakat Naruto saat ia masih SD dulu. Wanita itu sangat lembut dan pintar. Naruto sudah tidak pernah bertemu lagi dengannya sejak lulus SD. Ah, entah kapan ia bisa melihat wajah wanita itu lagi...

XXX

Sore itu setelah pulang kerja, Naruto akhirnya sampai ke depan pintu rumah apartemennya. Ia sedikit gugup ketika pintu itu akhirnya terbuka. Apakah apartemennya benar-benar bersih? Apakah anjing pug Kakashi yang bernama Pakkun itu sudah jinak? 

Naruto berjalan melewati foyernya. Saat ia sampai di ruang keluarga. Ia membuka mulutnya dan berteriak senang, “Wah! Bersih sekali dattebayo!”


Image source : interiii.com
Jendela besarnya terlihat mengkilap. Sekarang Naruto bisa melihat jelas view laut dari penthouse lantai 52 itu. lantai kayunya juga bersih dari kotoran anjing. Karpetnya juga sudah di vacuum. Sofa cokelatnya terlihat bersih dan bantal-bantal kecilnya disusun dengan teratur. Luar biasa! Naruto benar-benar tidak percaya pembantu baru itu bisa membersihkan apartemennya dalam jangka waktu yang begitu singkat!


Image source : interiii.com
Naruto kemudian berjalan melewati dapur. Wah, bahkan dapurnya juga bersih dari minyak-minyak. Meja marble putihnya mengilap seperti di iklan-iklan, meja makan bundarnya yang terbuat dari kayu sudah benar-benar bersih. Sampah-sampah mie instannya sudah tidak ada di meja itu lagi! Luar biasa!


Image source : interiii.com
Setelah selesai mengagumi lantai satu dari apartemennya, Naruto langsung berlari menuju ke lantai dua. Luar biasa, bahkan tangga kayunya juga seperti baru dipoles. Sakura-chan memang hebat! Ia bisa berteman dengan orang sebersih Masakazu Hinata!


Image source : interiii.com
Bagaimana dengan kamar mandi ya?! Kamar mandi Naruto kan penuh dengan baju-baju kotor! Ia juga tidak pernah menyikat kamar mandinya. Naruto akhirnya membuka pintu kamar mandinya. Di sana ia tidak terlalu memperhatikan kebersihan kamar mandinya. Yang ia lihat adalah bayangan seorang gadis yang sangat cantik sedang mandi. Gadis itu tidak melihat dirinya. Naruto juga tidak benar-benar bisa melihat tubuhnya. Ia hanya bisa melihat bayangan gadis itu dari balik shower box yang penuh dengan embun. Kelihatannya wanita itu sedang mandi air panas. 

Seharusnya Naruto tidak boleh terlalu lama melihatnya. Tidak boleh. Ini kan tidak sopan. Pergi dari tempat itu Naruto. Pergi. Kau tidak boleh terlalu lama berdiri begini. Tidak boleh. 

“Guk!” Pakkun, anjing pug hitam Kakashi akhirnya datang dan menghancurkan segalanya. 

Anjing itu berlari menuju ke kamar mandi dan gonggongannya membuat wanita yang sedang mandi itu kaget. Saat itu juga, wanita itu berhenti mandi dan membuka pintu shower boxnya. Naruto tidak sempat melihat apa-apa karena ia tahu diri. Ia langsung memalingkan badannya dan berlari keluar dari kamar mandi itu. 

That was close!

Naruto hampir saja melihat tubuh seorang wanita yang telanjang. Itu benar-benar tidak sopan. Wanita itu pasti akan langsung memukul Naruto atau melaporkan perbuatannya ke kantor polisi! Entah apa yang akan diberitakan media nanti. ‘Uzumaki Naruto Sang Artis Mesum Kekinian’. Mungkin Naruto akan langsung masuk ke penjara. 

Artis muda itu bersembunyi di balik pot tanamannya yang besar. Sekali-kali ia mencuri pandang dari balik pot itu. Wajah wanita itu seperti apa ya? Apa wanita yang sedang mandi tadi itu pembantu barunya?

Ketika wanita itu keluar dari kamar mandinya Naruto hanya bisa membatu. Wanita yang mengenakan celana jeans dan t-shirt itu sangat familiar. Ia kenal wajah itu. Ia tidak mungkin melupakan wajah itu. Rambutnya yang hitam lurus... Tatapan wajahnya yang lembut... Kemudian kulit putih porselen itu... Wanita ini adalah Hyuuga Hinata. Kenapa Hinata ada di sini? Jadi pembantu Naruto itu Hinata? Kenapa? Lalu kenapa wanita itu mengganti namanya menjadi Masakazu Hinata? Apakah wanita itu sudah menikah?
Hinata's Kenzo shirt, Naruto's Zara shirt
Image source : net-a-porter.com , zara.com
Naruto menggelengkan kepalanya. Tidak. Hinata belum menikah. Tidak ada cincin pernikahan di tangan kanannya. Lalu... Apa itu artinya Hinata... Berbohong? Atau wanita ini kembaran Hinata yang ia kenal dulu?

“Hyuuga Hinata!” Spontan, Naruto langsung memanggil nama wanita itu. 

Wanita itu terlihat terkejut ketika ia mendengar namanya dipanggil. Saat ia melihat artis muda berambut pirang itu, wajahnya langsung pucat. 

“Na-Naruto-kun?” Raut wajah wanita itu tampak seperti baru saja melihat mayat hidup.

“Ternyata benar! Kau Hyuuga Hinata bukan?” Naruto kali ini tampak yakin, tidak mungkin orang yang baru pertama kali bertemu dengannya langsung memanggilnya dengan panggilan itu.

Lagipula caranya berbicara, suaranya yang lembut dan halus. Wanita itu pasti Hyuuga Hinata! Naruto tidak mungkin salah menerka! Tidak mungkin! Ini pasti Hyuuga Hinata yang ia kenal dulu!

“Hinata?” Naruto terlihat bingung, “Tadi aku melihatmu mandi... Kenapa kau mandi di tempatku?”

“Eh? Na-Naruto-kun melihatku mandi?” Hinata terlihat kaget, kemudian wajahnya berubah menjadi merah merona.

“Oh, eh, um, itu...” Naruto menggaruk-garuk kepalanya, “Aku tadi tidak sengaja masuk... Tapi aku tidak melihat apa-apa kok! Hanya bayanganmu saja!”

Naruto sudah siap ditampar, dipukul atau dimarahi oleh wanita yang berada di hadapannya itu. Anehnya Hinata tidak melakukan apa-apa, wanita itu justru membungkuk dan meminta maaf.

“Maafkan aku karena sudah lancang menggunakan kamar mandimu,” Hinata tidak berubah... Wanita itu sangat lembut dan sopan. Seharusnya wanita pada umumnya akan menampar Naruto, Hinata justru malah meminta maaf.

“Eh, aduh Hinata... Seharusnya aku yang meminta maaf-ttebayo—”

Kemudian wanita itu pingsan. 

“Hinata!!!”

XXX

Saat Hinata terbangun, ia sudah ada di atas ranjang yang baru saja ia bersihkan beberapa jam yang lalu. Ada kain hangat di atas dahinya dan tubuhnya ditutupi oleh selimut yang hangat.

“Hinata!” Suara Naruto mengejutkannnya, kelihatannya pria itu sudah menunggunya dari tadi. Wajahnya terlihat begitu khawatir, “Apa kau baik-baik saja?”

“Naruto-kun?” Hinata kemudian berusaha untuk duduk. Pria berambut pirang itu membantunya agar ia bisa duduk dengan tegak.

“Hinata... Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kau pingsan? Apa kau belum makan?” Naruto tampak sangat khawatir, “Kau pasti lelah ya membersihkan satu apartemen ini....”

“A-aku...” Hinata kemudian terdiam... Ia hanya bisa memandang wajah Naruto dengan lembut.

“Hinata aku sudah membawakan bubur untukmu,” Naruto kemudian menyuapkan satu sendok bubur yang sudah ia tiup, “Ayo buka mulutmu, kau harus makan.”


Image source : plentytude.com
Hinata kemudian menjauhkan wajahnya dari sendok Naruto.

“Ada apa Hinata?” Naruto kelihatan khawatir setengah mati, “Kau harus makan-ttebayo!”

“Se-sebenarnya,” Hinata mulai gemetar, tangan kecilnya terlihat lemas.

“Sebenarnya ada apa Hinata?” Naruto meletakkan sendok buburnya dan menatap wajah Hinata yang putih pucat.

“Aku harus pulang,” Hinata tampak bingung, “Tapi... Aku tidak ingin pulang....”

“Hinata...” Naruto menatap wajah wanita itu dengan hangat, “Tidak apa-apa, kau bisa menceritakannya kepadaku. Pelan-pelan saja.”

Wanita itu terlihat ragu... Kemudian ia akhirnya mengambil kertas dan pena yang ada di meja kecil di sebelah ranjang itu. Tangannya sudah tidak gemetar lagi, tulisannya yang rapih memukau Uzumaki Naruto. Kata-kata Hinata di atas kertas terlihat begitu elegan. Rasanya seperti sedang melihat seorang bangsawan menuliskan surat wasiat saja.

“Naruto-kun,” Hinata kemudian memberikkan kertas itu kepada Naruto, “Ini... Semoga bisa dimengerti.”

Yth.
Uzumaki Naruto

Dengan hormat,

Pada surat ini saya selaku pembantu dari rumah Uzumaki ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya karena tidak dapat menjalankan kewajiban saya sebagai pengurus rumah dengan baik. Saya juga ingin meminta maaf karena telah merepotkan anda dan memakai kamar mandi anda tanpa izin. 

Saya juga ingin meminta maaf karena sudah berbohong soal nama asli saya. Sebenarnya nama saya adalah Hyuuga Hinata, bukan Masakazu Hinata. Sakura-san telah membantu saya kabur dari rumah saya di Kyoto karena Sakura-san sangat baik kepada saya. Sebenarnya saya ingin menjadi seorang patisserie, saya ingin memiliki toko kue saya sendiri. Sayangnya ibu saya adalah kepala upacara minum teh di Kyoto. Kedua orang tua saya memaksa saya untuk menjadi penerus ibu, tapi saya tidak mau. Saya ingin mengejar mimpi saya di Tokyo. Karena itulah saya menjadi pembantu. Saya hanya lulus SMA dan saya pikir pekerjaan ini cocok agar saya bisa mengumpulkan modal untuk membuka toko kue saya sendiri. 

Karena itulah saya ingin meminta maaf karena keegoisan saya ini. Saya paham, jikalau Uzumaki Naruto-san berkehendak untuk melaporkan saya dan mengembalikkan saya ke Kyoto.     

Demikian surat pemberitahuan ini saya sampaikan, atas segala perhatian dan kerjasamanya saya ucapkan terima kasih.

Ttd  
Hyuuga Hinata

Naruto tidak habis pikir. Ternyata Hyuuga Hinata tidak berubah, tetap saja sangat sopan dan menghargai etika. Ia tidak pernah bertemu orang seperti wanita ini. Hinata benar-benar menggunakan bahasa yang sangat baku dan sopan. Naruto jadi agak bingung harus merespon surat pernyataan ini dengan apa.

“Sekali lagi maafkan saya,” Hinata membungkuk dan meminta maaf. 

“Hinata kau tidak perlu meminta maaf,” Naruto tersenyum hangat dan menepuk pundak wanita itu, “Menurutku kau hebat sekali!”

Wanita yang lembut itu tampak bingung.

“Kenapa kau bingung seperti itu?” Naruto menepuk-nepuk pundak wanita itu lagi, “Kau sekarang sedang mengejar mimpimu bukan? Kau hebat! Aku sangat mendukungmu!”

“Naruto-kun...” Hinata tampak terharu, air mata turun perlahan dari bola matanya yang indah.

“Hei jangan menangis seperti itu-ttebayo!” Naruto langsung mengambil sapu tangannya dan mengusap air mata wanita itu.

“Terimakasih,” Hinata membungkuk dan memberi hormat kepada Naruto, “Terimakasih banyak.”

Naruto jadi salah tingkah. Ia tidak pernah dihadapkan dengan situasi seperti ini. Ternyata di dunia ini ada orang yang begitu sopan seperti Hinata. Wanita itu bahkan berterimakasih padanya sambil membungkuk seperti itu. Wanita Kyoto memang jauh lebih beradat dan sopan. Atau mungkin ini karena Hinata lahir dan dibesarkan oleh seorang kepala upacara minum teh?

“Sekarang lebih baik kau makan bubur ini Hinata,” Naruto akhirnya menyendokkan satu suap bubur dan meniupnya pelan-pelan, “Ini kau harus makan... Tubuhmu pasti terlalu lelah. Aku tahu kok apartemenku memang sangat berantakkan... Apalagi Pakkun sangat nakal dan suka lari kemana-mana.”

“Tapi...” Wanita itu terlihat ragu, kelihatannya ia merasa tidak enak telah merepotkan Naruto.

“Sudah, sudah! Jangan malu-malu!” Naruto tertawa dengan hangat, “Ketika orang berbuat baik kepadamu... Kau harusnya menerimanya Hinata!”

Wanita itu tampak bingung, namun akhirnya ia melahap bubur itu. Wajahnya awalnya terlihat takut, namun setelah ia menelan bubur itu ia terlihat bahagia. Raut wajahnya menjadi lebih santai dan senyuman muncul di wajahnya. Senyumannya begitu lembut, rasanya seperti melihat sebuah lukisan Jepang kuno. 

“Terimakasih Naruto-kun,” Hinata membungkuk lagi, “Kau baik sekali kepadaku.”

“Kau juga baik sekali kepadaku,” Naruto tersenyum hangat.

“Eh?” Hinata tampak bingung, “Aku tidak melakukan apa-apa.”

“Kau mungkin lupa,” Naruto menatap wanita itu dengan hangat, “Tapi saat kita masih SD dulu, semua orang menganggapku bodoh... Sedangkan kau... Kau percaya bahwa jika aku bekerja keras aku bisa mengalahkan yang lainnya.”

Wanita itu kelihatannya sedang menerawang jauh. Mencoba untuk mengingat-ingat kejadian itu.

“Kejadian itu memang terjadi waktu kita masih SD,” Naruto tidak berhenti menatap wanita itu, “Tapi kata-kata itulah yang membuat aku menjadi diriku yang sekarang.”

Hinata kemudian terlihat agak malu. Pipinya merona dan ia berusaha agar ia tidak melihat wajah Naruto. Ia terdiam kemudian menatap Naruto, kemudian berhenti menatap Naruto, kemudian menatap Naruto lagi. Ia benar-benar terlihat seperti kepiting yang kepanasan.

Artis muda itu akhirnya tertawa melihat tingkah laku pembantu barunya itu, “Kau memang lucu sekali Hinata!”

Wajah wanita itu benar-benar berubah menjadi merah sekarang. Ia tidak tahu lagi apa yang harus ia katakan kepada Naruto. Ia hanya bisa terdiam dan mencoba untuk tidak menatap pria berambut pirang itu. Ia mengatur napasnya sepelan mungkin dan berusaha untuk terlihat tenang. Sayangnya kata-kata Naruto terus mengiang-iang di benaknya.

“Kau lucu sekali Hinata!” Kata-kata itu terus mengiang-iang, “Kau lucu sekali Hinata!”

Kali ini Hinata benar-benar terlihat seperti kepiting yang baru saja selesai di rebus. Kelihatannya hari-hari bersama dengan Naruto akan menjadi hari-hari yang berat, namun menyenangkan....

XXX

I hope you enjoy this chapter :) Let me know if you want a second one!

3 comments:

Marrying Uchiha Sasuke Chapter 13

10:55 Melissa Gabriele 18 Comments

Marrying Uchiha Sasuke

Chapter 13

Teka-teki

Disclaimer : I do not own Naruto
Warning : Terdapat konten minuman keras dan slight sexual jokes. 

Kozue di Tokyo
Image Source : surlaterre.me
Tokyo di sore hari terlihat begitu indah. Yah tidak seindah Gili sih, tapi... Ah! Jangan Gili lagi! Ia ingin melupakan hal memalukan yang terjadi di Gili malam itu. Ah, lupakan Sakura, lupakan! Kejadian itu benar-benar memalukan. Ia tidak boleh mengingatnya lagi. Tidak boleh. Fokus Sakura. Fokus! Lihat langit Tokyo saja! Langit sorenya berwarna oranye, merah muda dan biru muda. Musim semi hampir datang dan bunga-bunganya masih kuncup. 

Sakura memandang panorama kota yang terlihat jelas dari jendela besar lantai 40 gedung Park Hyatt. Wanita bermarga Uchiha itu sedang menunggu seniornya, Tsunade, di restoran berbintang, Kozue. Restoran ini adalah restoran kaiseki terbaik di Park Hyatt, mungkin yang terbaik di Tokyo. Lucunya interior tempat ini tidak terlihat mahal, setiap perabotan serta dinding restoran ini terbuat dari kayu, memberikan kesan yang moderen namun sederhana. 

Pagi tadi Sakura baru saja mendarat di Tokyo. Setelah berlibur panjang, wanita berambut pink itu benar-benar langsung dipanggil oleh boss yang juga mantan gurunya waktu kuliah, Senju Tsunade Semoga saja wanita itu tidak menceramahinya soal pekerjaan karena Sakura sudah lama tidak masuk kerja. Well, kalau dipikir-pikir lagi, Tsunade-sama mungkin tidak akan menceramahinya soal itu sih. Lagipula wanita itu memang lebih suka ngobrol santai daripada membicarakan soal pekerjaan. 

“Sakura!” Tsunade akhirnya datang dan mengecup pipi kanan dan kiri Sakura, “Ya ampun rasanya seperti sudah satu abad tidak bertemu!”

“Iya,” Sakura tersenyum hangat, kemudian menunjuk sepatu tinggi hitam seniornya itu, “Wah, sejak kapan kau menyukai YSL Tribute?”

“Sejak kapan kau peduli akan merek sepatu?” Tsunade menaikkan satu alisnya.

Tsunade's Black YSL Heels, Sakura's Yellow Fendi Dress
Image Source : net-a-porter , net-a-porter
“Sejak menikah dengan pria bodoh itu mungkin,” Sakura menghela napasnya, “Sudahlah... mari kita duduk Tsunade-sama.”

Saat wanita berambut pirang itu duduk, ia tersenyum nakal. Kelihatannya wanita itu ingin menjahili Sakura lagi. Meksipun terkenal agak galak, Nyonya Tsunade ini benar-benar suka menjelek-jelekkan Sakura. Wanita itu sudah sering menjahili Sakura sejak ia masih kuliah dulu. Entah kenapa itu memberikan kesenangan tersendiri baginya.

“Pria bodoh?” Tsunade tersenyum nakal lagi, “Kenapa Sakura? Memang dia bodoh di ranjang?”

Sakura yang tadinya sempat meminum tehnya pelan-pelan langsung tersedak, “Apa-apaan sih Tsunade-sama!”

“Jangan salahkan suamimu kalau ia bodoh di ranjang,” Tsunade kali ini menunjuk-nunjuk dress kuning pastel Sakura, “Salahkan bajumu. Cara berpakaianmu itu selalu saja sangat sopan. Mana bisa menarik gairah lelaki.” 

“Sudah cukup Tsunade-sama!” Sakura kali ini meletakkan tehnya dengan kasar ke atas meja, “Sasuke dan aku tidak pernah melakukan hubungan intim!”

Kali ini wajah Tsunade terlihat seperti kerasukan setan, “Kalau begitu bayi yang kau kandung waktu itu milik siapa?”

“Well, kita pernah melakukannya sih... sekali,” Sakura mengingat-ingat lagi kejadian di Roma, “Tapi saat itu kami berdua mabuk.”

“Jadi kalian menikah karena kau hamil di luar nikah?” Tsunade tertawa terbahak-bahak, “Luar biasa Sakura, luar biasa. Aku benar-benar salut pada kehidupanmu. Rasanya seperti menonton drama Korea.”

Sakura kali ini mengerutkan dahi lebarnya, “Tsunade-sama! Bisakah anda berhenti menyiksaku! Aku tidak hamil di luar nikah!”

“Kalau begitu kenapa kalian belum melakukan hubungan intim lagi?” Tsunade masih tertawa sedikit, “Kau ini masih jual mahal ya dengan suamimu sendiri? Atau jangan-jangan dia impoten?”

“Ya ampun,” Sakura berusaha untuk berbicara sepelan mungkin, “Tsunade-sama... Sasuke tidak impoten... Sudah jangan membicarakan hal ini lagi! Kita sedang berada di restoran!” 

“Oh, kau jual mahal ya,” Tsunade mengangguk-angguk, “Ya ampun Sakura... Kasihan sekali suamimu.”

“Aku tidak jual mahal! Sebenarnya kami hampir melakukannya sih... kemarin malam,” Sakura menghela napasnya.

“Oh!” Kali ini kedua mata Tsunade terlihat sangat penasaran, “Ceritakan padaku!”

Ah, sial! Sakura memang benar-benar tidak bisa merahasiakan apa-apa jika ia berbicara dengan Tsunade. Wanita itu selalu saja bisa mencari cara agar Sakura curhat. Entah waktu ia kuliah, saat ia kerja, maupun sekarang. Tsunade selalu saja berhasil membongkar semuanya.

“Tapi...” Sakura terlihat merona, “Tapi….”

“Apa?!” Tsunade terlihat semakin penasaran, “Tapi apa?”

“Ah, sudahlah...” Sakura menghela napasnya, “Tidak usah diceritakan.”

Tsunade langsung mengangkat tangannya dan memanggil waitress berkimono di restoran itu, “Angkat teh ini dan bawakan sake...”

“Tsunade-sama!” Sakura setengah berteriak, “Aku tidak butuh sake!”

“Tentu saja kau butuh sake,” Tsunade membalas pernyataan Sakura, “Kalau kau minum kau baru akan bercerita!”

“Tsunade-sama! Sudah jangan pesan sake! Aku cerita sekarang!” Wajah Sakura benar-benar merah seperti tomat sekarang.

Wanita berambut pirang itu langsung tersenyum senang, “Bagus! Ceritakan!”

Sejenak kedua wanita itu terdiam. Sakura terlihat gugup dan Tsunade terlihat senang. Walaupun mereka masih belum bercerita apa-apa, Tsunade sudah mulai mengangguk-angguk. Kelihatannya wanita itu sudah tidak sabar mendengar cerita Sakura.

“Jadi...” Sakura akhirnya membuka mulutnya, “Saat berlibur di Gili, Sasuke luka bakar karena sinar matahari... kami berdua sedang berada di kamar mandi dan Sasuke telanjang dada. Aku mengoleskan sari lidah buaya di punggungnya agar ia cepat sembuh... tapi tiba-tiba Sasuke bertanya ‘Sakura apakah kau ingin melakukan itu?’ begitu.”

Image source : alifewortheating
Saat Sakura berhenti berbicara, semangkuk hidangan yang diisi dengan es datang. Di atas es itu ada potongan sashimi-sashimi kecil. Ada sashimi kuning, kakap merah, udang manis, landak laut, lemak tuna dan toro. Hidangan itu dihiasi oleh dua pilar rumput laut mentah, daun hias, lobak putih dan wasabi segar. Hidangan cantik itu membuat Sakura lapar.

“Wah,” Sakura terlihat senang, “Bagaimana kalau kita makan dulu Tsunade-sama?”

“Tidak!” Tsunade dengan cepat menjawab pertanyaan Sakura, “Lanjutkan ceritamu.”

“Kalau begitu aku makan sambil bercerita ya,” Sakura mengambil sumpitnya dan tersenyum hangat, “Itadakimasu!”

Luar biasa! Rasa sashimi ini sangat manis dan segar. Suhu dinginnya menonjolkan rasa segar ikan. Saat Sakura melahap toro kecilnya ia dapat merasakan kelembutan tekstur lemak dari toro itu. Rasanya seperti surga dunia.

“Sakura... kau bilang akan makan sambil berbicara,” Tsunade terlihat seperti orang yang akan segera marah, “Ceritakan sekarang juga!”

“Intinya aku pikir Sasuke ingin mengajakku berhubungan intim,” Sakura terlihat malu-malu, “Jadi aku langsung panik dan bilang kalau ia sedang luka bakar jadi ia tidak boleh berhubungan intim. Kalau berhubungan intim tubuhnya akan semakin panas, kulitnya tidak akan sembuh-sembuh dari luka bakar kalau kami berhubungan intim. Jika seorang pasien luka bakar, kulit pasien itu harus didinginkan. Hubungan intim akan membuat kulit menjadi panas. Jadi tidak cocok untuk pemulihan kulitnya.”

Saat sake pesanan Tsunade datang, wanita itu langsung menghabiskan gelas pertamanya, “Alasanmu benar sih. Sedikit bodoh... Tapi benar.”

Image source : japan-culture.biz
“Aku belum selesai!” Sakura akhirnya minum sake juga, “Saat aku bilang begitu, Sasuke langsung terlihat bingung. Kau tahu kenapa? Karena maksud Sasuke dari ‘Sakura apakah kau ingin melakukannya?’ adalah ‘Sakura apakah kau sebenarnya niat untuk melakukannya’ Begitu.”

“Apa bedanya?” Tsunade terlihat bingung.

“Kau ingat kan aku sedang melakukan apa tadi?” Sakura menuangkan sake ke gelasnya yang sekarang sudah kosong, “Aku kan sedang mengoleskan sari lidah buaya.”

“Ya,” Tsunade menikmati gelas keduanya, “Lalu?”

“Yah, Sasuke bertanya sebenarnya aku niat atau tidak mengoleskan lidah buaya itu soalnya katanya aku tiba-tiba berhenti mengoleskannya dan mengajaknya bicara terus,” Sakura terlihat seperti kepiting rebus sekarang, “AAA! Tsunade-sama apa yang harus kulakukan sekarang?! Aku terlihat seperti wanita yang terlalu banyak berharap!”

Kali ini Tsunade benar-benar tertawa terbahak-bahak. Wanita itu terlihat seperti orang yang baru saja selesai menonton drama komedi. Ia benar-benar tidak berhenti tertawa. Sakura yang wajahnya sudah merah terlihat semakin merah. Kejadian ini benar-benar memalukan.

“Kalian berdua ini bodoh sekali ya?” Tsunade mulai menepuk-nepuk mejanya, “Aku benar-benar tidak tahu lagi harus bilang apa.”

“Bagaimana ini?!” Sakura terlihat panik, “Seharian ini aku menjauhi Sasuke! Aku tidak ingin bertemu dengannya! Kejadian kemarin malam terlalu memalukan!”

“Dasar, kau terlalu ge-er sih,” Tsunade mencubit pipi Sakura yang merah merona, “Sudah ajak lagi saja sana. Pria mana sih yang tidak mau diajak berhubungan intim? Ajak saja nanti malam.”

“Aku tidak mau,” Sakura terlihat serius sekarang.

Tsunade yang tadinya menjahili Sakura terus akhirnya berubah menjadi serius juga. Raut wajah Sakura benar-benar terlihat kaku sampai-sampai Tsunade agak pangling. Postur tubuh Sakura menjadi tegak kemudian ia meletakkan gelas sakenya dengan elegan.

“Menurutku hubungan intim adalah sesuatu yang serius,” Wanita bermarga Uchiha itu menatap jendela besar restoran Kozue.

Sakura kemudian mengingat janji yang ia buat kepada Tuhan saat ia masih kecil, hubungan intim harus dilakukan oleh dua orang yang saling mencintai dan diikat oleh pernikahan yang suci. Sejujurnya ia tidak tahu apakah dirinya mencintai Sasuke... ia juga tidak tahu apakah Sasuke mencintai dirinya. Pernikahan mereka walaupun dianggap serius oleh Sasuke, namun pernikahan ini Sakura anggap sebagai pernikahan palsu. Ia tidak benar-benar menikah atas dasar cinta. Ia menikah karena rasa kasihan terhadap sahabat baiknya dan... yang paling buruknya, alasan Sakura menikah juga karena uang. Sasuke kaya dan Sakura saat itu sedang menderita secara finansial. Pernikahan ini sebenarnya hanyalah pernikahan egois yang dingin. 

“Hei,” Suara Tsunade tiba-tiba terdengar lembut, “Aku tidak tahu apa yang sedang kau pusingkan sekarang... tapi seorang pria sejati tidak akan memaksamu untuk melakukan hal yang tidak ingin kau lakukan. Jadi jika kau belum mau melakukan hubungan intim sekarang... Sasuke pasti akan selalu menunggumu. Tenang saja.”

“Tapi!” Sakura kembali panik, “Tapi kemarin aku dan Sasuke... Aku... Dia... Argh! Aku terlihat seperti wanita yang sangat ingin melakukan hubungan intim!”

“Sudahlah!” Tsunade tertawa lagi, “Pria itu sudah lama mengenalmu kan? Ia pasti mengerti kalau kau hanya salah paham... bukannya haus akan seks.”

Sakura kemudian menghela napasnya dan tersenyum lega. Benar juga. Tsunade-sama memang orang yang bijak. Ia memang jahil sih, tapi jika sudah berbicara dengan serius, wanita itu selalu saja membuat Sakura merasa lebih tenang. Mungkin ini adalah salah satu alasan kenapa Sakura selalu saja merasa lebih lega jika ia curhat dengan Tsunade.

Tapi.... Tapi! Tetap saja! Sakura tidak ingin bertemu Sasuke! Tidak ingin! Kejadian kemarin malam terlalu memalukan! Sakura benar-benar tidak tahu harus berkata apa jika bertemu dengan pria itu lagi! Pokoknya malam ini Sakura harus pulang lebih malam dari Sasuke dan besok pagi ia harus bangun lebih pagi dari suaminya! Ia tidak ingin berduaan saja dengan pria itu. Ia masih belum siap untuk berbicara dengan Sasuke.

“Ah,” Tsunade tiba-tiba menunjuk pria berambut pirang yang baru saja masuk ke restoran Kozue, “Ternyata dia sudah kembali ke Jepang.”

“Siapa?”

Saat Sakura melihat pria yang dimaksud Tsunade... Ia tiba-tiba terlihat kaget. Pria itu! Sakura ingat sekali bahwa ia baru saja bertemu dengan pria itu kemarin! Pria itu kan pria yang ada di Bali! Um... Kalau tidak salah namanya... Menma. Kenapa pria itu ada di sini? Kenapa Tsunade mengenal pria itu?
Image source : alifewortheating.com , farfetch
“Tsunade-sama kau kenal dia?” Tanya Sakura.

“Hmm, tidak juga sih. Aku hanya dengar salah satu dokter spesialisku di Korea sempat ribut dengannya,” Tsunade menjelaskan.

Sakura terlihat semakin bingung, “Ribut? Memangnya ada apa? Pria itu sakit apa?”

“Dia tidak sakit Sakura,” Seniornya itu membisikkan ke kuping Sakura pelan-pelan, “Dia operasi plastik besar-besaran. Dia merombak seluruh wajahnya.”

Kali ini Sakura terlihat semakin kaget, “Dia melakukannya di rumah sakitmu di Korea? Bukankah biaya di sana lebih mahal?”

“Lebih mahal dan lebih... Yah, lebih rahasia,” Tsunade menjelaskan, “Entah kenapa pria itu ingin semua data operasinya dihilangkan. Tentu saja rumah sakit kami tidak mengijinkan hal itu. Makanya pria itu ribut dengan pihak manajemen rumah sakitku di Korea.”

“Lalu bagaimana? Apakah datanya akhirnya dihilangkan?”

“Tentu saja tidak.”

Saat pria itu melihat Tsunade dan Sakura, tiba-tiba pria yang bernama Menma itu segera keluar dari restoran itu. Entah apa yang sebenarnya membuat pria itu keluar, tapi Sakura memiliki firasat bahwa pria itu menyembunyikan suatu rahasia yang besar. 

XXX

Image source : home-designing.com
Sabtu pagi itu, Sakura benar-benar merasa segar. Tidurnya pulas sekali tadi malam.  Untung saja ia tidak mabuk-mabukkan dengan Tsunade, kalau ia terlalu banyak minum sake, ia mungkin akan hangover dan muntah-muntah pagi itu. Saat ia keluar dari kamarnya, ia tidak menemukan Sasuke di manapun. Pria itu tidak ada di ruang tamu, di kolam renang, maupun di kamarnya. Baguslah, mungkin pria itu sudah pergi entah kemana. 

“Guk!” Anjing putih Samoyednya, Sasu, terlihat senang dan langsung berlari ke pelukan Sakura.

Sasu
Image Source : animalplanet
Anjing itu benar-benar lucu. Bulunya yang seputih salju terasa sangat lembut ketika Sakura memeluknya. Ah, tidak terasa Sasu sudah besar sekarang. Dulu tubuh anjing itu lebih kecil dari bantal Sakura, sekarang tingginya sudah hampir sepinggang Sakura. 

“Ah, selamat pagi Sasu!” Sakura tersenyum hangat, “Oh ya, Sasuke ada dimana?”

“Guk!” Sasu menggoyangkan ekornya dan berlari-lari menuju ke ruang makan.

“Tunggu aku Sasu!” Sakura terlihat panik, “Aku tidak benar-benar ingin bertemu Sasuke! Lebih tepatnya, aku belum siap untuk bertemu Sasuke!”

Anjing itu tidak mendengarkan kata-kata Sakura. Ia terus berlari menuju ke ruang makan. Sakura ikut berlari mengejarnya. Anjing ini tidak benar-benar mengerti kata-katanya kan? Mungkin saja Sasuke tidak ada di ruang tamu, mungkin saja anjing putih itu hanya ingin berlari bersamanya. Belakangan ini Sakura pergi-pergi terus. Sasu pasti kesepian.

“Guk!” Saat anjing itu berhenti, Sakura juga ikut berhenti.

Image source : allmoon
Sial. Ternyata anjing ini pintar. Sasuke benar-benar ada di ruang makan. Pria itu sedang duduk dan membaca koran. Saat Sakura tiba di ruang makan itu, Sasuke meletakkan korannya dan mengangkat cangkir kopinya. 

“Se-selamat pagi,” Sakura merasa dirinya begitu gugup berada di hadapan suaminya itu.

“Hn,” Sasuke menjawabnya dengan anggukan.

Sasuke's Armani Suit, Sakura's Oscar De La Renta Dress
Image source : saksfifthavenue.com , mytheresa.com
Kemarin malam saat ia tidur, Sasuke sudah tidur. Ia tidak perlu bercakap-cakap dengan suaminya yang dingin itu. Ah sial. Sekarang ia terpaksa harus berbicara dengan Sasuke. Semoga saja pria itu tidak membicarakan soal apa yang terjadi di Gili. Ah, kejadian itu begitu memalukan. Sakura pasti terlihat seperti wanita yang terlalu pede dan gila seks. Sial. Sial. Sial.

“Sakura,” Suara suaminya terdengar tenang dan mistrius.

Walaupun suara pria itu terdengar tenang, Sakura tidak merasa lebih baik. Perasaan Sakura masih bercampur aduk. Ah! Pikirkan sesuatu Sakura! Carilah topik untuk dibicarakan sebelum pria itu membicarakan hal memalukan di Gili! Cari topik sekarang! Oh ya!

“Luka bakarmu!” Sakura tiba-tiba setengah berteriak karena terlalu gugup, “Kelihatannya lukanya sudah membaik! Warna kulitmu sudah berubah menjadi agak gelap. Warna kemerahannya sudah hilang.”

“Ah, iya,” Sasuke kemudian melihat lengan kanannya, “Rasanya sudah lebih baik.”

“Kau ingin pergi kemana hari ini?” Sakura menatap mata onyx Sasuke. Diam-diam ia berharap Sasuke segera pergi dari rumah ini. Ia benar-benar tidak ingin berbicara terlalu lama dengan Sasuke. Ia terlalu gugup untuk membicarakan kejadian waktu itu.

“Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat hari ini,” Sasuke kemudian meminum kopinya pelan-pelan.

Image Source : freeimagesetc.wordpress.com
“Be-berdua saja?” Sakura yang masih gugup berusaha untuk terlihat tenang.

“Ya, berdua saja,” Suaminya akhirnya meletakkan cangkir kopinya ke atas meja dan menatap mata emerald Sakura.

Pria yang dingin itu kemudian bangkit berdiri dan berjalan mendekati istrinya. Posturnya yang tegak membuatnya terlihat serius. Ia pasti ingin Sakura mengikuti keinginannya. Tatapannya yang serius itu mengatakan bahwa ia benar-benar ingin Sakura pergi dengannya berdua saja hari ini. Tapi... Tapi Sakura tidak mau. Ia tidak ingin terlalu lama bersama dengan Sasuke. Entah kenapa perasaannya bercampur aduk saat bersama dengan suaminya itu.

“Aku... Aku tidak mau pergi denganmu,” Sakura langsung berjalan menjauh dari suaminya.

Sasuke tidak terlihat senang. Ia kemudian berjalan mendekati Sakura. Wajahnya seperti meneliti ekspresi Sakura. Rasanya pria itu ingin menebak apa yang sedang ada di pikiran Sakura sekarang.

Pria itu kemudian menatap mata emerald Sakura, “Kenapa?”

Sakura kemudian berlutut dan memeluk anjing putihnya, “Um... Aku rindu Sasu.”

“Kalau begitu Sasu boleh ikut,” Sasuke menjawab pernyataan Sakura dengan logis.

“Tapi!” Sakura benar-benar tidak tahu harus beralasan apalagi sekarang. Alasan Sakura sebenarnya adalah karena ia merasa tidak nyaman berada di dekat Sasuke sekarang. Kejadian di Gili masih membuatnya malu.

“Tapi apa?” Sasuke terlihat agak bingung dengan sikap Sakura. 

“Ya sudah aku ikut...” Sakura akhirnya pasrah.

Entah apa yang direncanakan pria itu hari ini. Sasuke selalu saja membawa Sakura pergi. Yah, mungkin orang ini memang bukan orang yang suka diam di rumah. Uchiha Sasuke kan sudah biasa terbang dari satu tempat ke tempat yang lain.

Sasuke kemudian berjalan menuju ke tempat parkir. Istrinya itu mengikutinya dengan gugup. Sepanjang perjalanan mereka hanya terdiam. Saat masuk ke dalam mobil pun mereka berdua tidak berbicara apapun. Ah, kenapa sih ini selalu terjadi? Sasuke benar-benar tidak pintar ya mencari topik untuk berbicara? Pria itu diam sekali. Coba saja Sakura bisa membaca pikirannya. Yah, tapi meskipun Sakura bisa membaca pikirannya, mungkin yang ada di pikirannya hanya saham dan pekerjaan saja. 

Image Source : freeimagesetc.wordpress.com
“Kita mau kemana Sasuke?” Sakura akhirnya membuka mulutnya, pertanyaan ini adalah pertanyaan dasar yang seharusnya bisa menjadi topik berbicara untuk mereka berdua.

“Lihat saja nanti,” Sasuke dengan dingin menjawab pertanyaannya. 

Sial. Kenapa hal ini selalu terjadi?! Kenapa? Pria itu selalu saja membuat Sakura kehabisan topik. Padahal Sakura sudah cukup baik untuk memulai percakapan mereka! Sasuke malah menjadi dingin seperti ini... Bagus, sekarang Sakura harus mencari topik baru lagi.

“Oh ya, Sasuke,” Sakura berbicara lagi, “Kemarin aku bertemu dengan Tsunade-sama.”

Sasuke masih saja menatap spion dan mengendarai mobilnya dengan serius, “Oh, begitu.”

Reaksinya dingin sekali. Entah kapan pria kaku ini akan berubah. Sakura benar-benar tidak habis pikir.

“Iya, lalu ada mantan pasien Tsunade-sama,” Sakura mengingat-ingat lagi pria berambut pirang yang ada di Restoran Kozue waktu itu, “Namanya Menma.”

Tiba-tiba raut wajah Sasuke berubah drastis. Ia terlihat tegang. Nama itu membuat seorang Uchiha yang selalu tenang itu berubah menjadi panik. Sebenarnya ada apa dengan nama itu? Kenapa Sasuke bereaksi seperti itu?

“Bisakah kau tidak melanjutkan percakapan ini Sakura?” Suaminya terlihat seperti orang yang kesal sekarang.

“Ah, iya,” Sakura kemudian menghela napasnya.

Kalau begitu ia ingin Sakura berbicara apa lagi? Topik Sakura perlahan-lahan bisa habis kalau Sasuke seperti itu terus. Dasar pria aneh. Kenapa Sakura harus bersama dengan pria aneh seperti ini? Yah, paling tidak ia tampan... Jadi meskipun sifatnya menyebalkan, paling tidak wajahnya enak dilihat.

“Kita sudah sampai,” Sasuke kemudian menginjak rem, “Ayo turun.”

Saat Sakura turun, ia dapat melihat rumah tradisional Jepang yang kecil. Sepertinya bangunan ini sudah berdiri dari tahun 1920-an. Arsitektur kayu yang kental memberikkan kesan hangat kepada bangunan kecil ini. Letaknya yang ada di gang juga membuat Sakura merasa tempat ini pasti murah... Um... Murah tidak ya? Seorang Uchiha Sasuke membawanya ke tempat yang murah sih sebuah keajaiban dunia. 
“Ini tempat apa ya, Sasuke?” Sakura kemudian menuntun anjing putihnya masuk.

Saat mereka berdua masuk ke rumah itu, Sasuke akhirnya menjawab pertanyaan istrinya, “Karena kau rindu makanan Jepang... Jadi aku membawamu ke Kanda.”

Image source : google.com.au/maps
Restoran Kanda. Sakura tahu restoran ini. Ia pernah mendengar namanya. Ini adalah restoran bintang tiga. Kokinya, Hiroyuki Kanda adalah salah satu koki Jepang terbaik. Ternyata Sasuke memang membawanya ke tempat yang mahal. Typical Sasuke.

“Kau dengar dari mana kalau aku rindu makanan Jepang?” Sakura kemudian duduk di kursi kayu restoran itu dan menaikkan satu alisnya.

“Saat kau tidur di jet dua hari yang lalu kau mengigau Sasuke ikut duduk, “Kau tidur sambil berteriak sashimi dan chawanmushi.”

Kyaa! Itu memalukan sekali! Kenapa Sakura bisa mengigau seperti itu! Sial! Tambah satu lagi hal memalukan yang terjadi di Gili. Ah, kenapa sih Sasuke selalu saja harus melihat hal-hal memalukan dari dirinya? Rasanya Sakura ingin mengurung diri di kamar mandi dan tidak keluar lagi. Mau ditaruh dimana mukanya?

“Ka-kau pasti salah dengar!” Sakura menyangkal pernyataan Sasuke, pipinya merah merona, “Aku tidak mengigau seperti itu!”

Image source : alifewortheating.com
Pelayan dengan kimono tradisional datang dan membawakan teh mereka, kemudian Sakura langsung terdiam. Pipinya makin merah merona. Sasuke menunggu sampai pelayan itu pergi, barulah suaminya itu ikut membuka mulutnya.

“Aku tidak salah dengar,” Sasuke dengan tenang membalas perkataan Sakura, “Kau kan memang rakus.”

Rakus?! Apa?! Ternyata di mata seorang Uchiha Sasuke dirinya tidak hanya gila seks tapi juga rakus? Tidak! Sekarang ia tidak tahu harus menaruh mukanya dimana. Ia benar-benar sudah tidak terlihat sebagai wanita elegan lagi. Tidak... Masa depannya sungguh suram.

Sebelum Sakura dapat berkata apa-apa. Pelayan yang memakai kimono tradisional datang dan membawakan first course mereka, ah, sup telur kesukaan Sakura datang, “Chawanmushi dengan wakame dan sperma ikan fugu.”

Chawanmushi
Image source : alifewortheating
“Apa?! Sperma?!” Sakura dengan kaget langsung setengah berteriak, “Aku tidak mau makan sperma!”

Sasuke yang awalnya dingin dan tenang langsung tertawa. Wah, untuk pertama kalinya Sakura melihat suaminya itu tertawa seperti itu. Tawa Sasuke terlihat bahagia. Pria itu tidak tertawa terbahak-bahak, tapi Sakura tahu suaminya itu kelihatannya benar-benar tertawa dari hatinya. Jarang sekali seorang Uchiha Sasuke tertawa seperti itu. Kalau tertawa... pria itu terlihat semakin tampan. Senyumannya itu manis juga. 

Tunggu. Tunggu dulu. Kalau dipikir-pikir pria itu kan tertawa karena dirinya berbuat hal bodoh lagi! Ah sial! Sekarang sudah ada tiga hal memalukan yang terjadi. Kejadian di Gili, ia melantur soal makanan dan sekarang ia berteriak tidak mau makan sperma! Ini benar-benar memalukan!  

“Sasuke...” Sakura kemudian membisikkan sesuatu ke telinga suaminya, “Sperma rasanya seperti apa? Aku tidak mungkin hamil ikan fugu kan?”

Kali ini Sasuke benar-benar tertawa dengan lepas. Pria itu kelihatannya seperti baru saja mendengar hal terbodoh di dunia. 

“Ternyata kau lebih bodoh dari Naruto,” Sasuke kemudian berhenti tertawa, namun senyuman tipis masih ada di wajahnya.

Lebih bodoh dari Naruto? Sekarang Sakura benar-benar lemas. Sasuke baru saja mengatakan bahwa tingkat intelegensi dirinya lebih rendah dari si bodoh itu? Bagus. Sekarang Sakura tidak hanya rakus, gila seks, tapi juga bodoh. Kurang apalagi? Lengkap sudah kesengsaraan hidupnya.

“A-aku tahu kok aku tidak mungkin hamil ikan fugu,” Sakura meminum tehnya dengan gugup, “Tadi aku hanya bercanda!”

“Tentu saja,” Sasuke yang awalnya kaku sekarang terlihat lebih santai, “Jadi kau mau makan atau tidak?”

Sakura memandang hidangan yang ada di depan matanya dengan bingung. Sebenarnya sih ia sangat rindu makan Chawanmushi. Sup telur itu terlihat sangat menggiurkan. Sakura sangat menyukai sup itu, tapi kalau ia memikirkan sperma fugu yang disebutkan oleh pelayan tadi... perut Sakura rasanya menjadi mual. 

Pelayan cantik yang mengenakan kimono datang dan mengisi teh Sakura yang sudah kosong, “Tenang saja nona, anggap saja sperma fugu itu seperti caviar... Perbedaannya kalau caviar kita memakan telur ikan betina, kalau ini kita memakan yang jantan. Rasanya enak kok.”

Wanita bermarga Uchiha itu akhirnya memberanikan diri menyantap hidangan unik itu. Ah, ternyata sup hangat itu terasa nikmat. Telurnya bercampur bersama bumbu-bumbu lain dengan sempurna. Ada tekstur aneh dan lembut yang ada di dalam sup itu. Sepertinya itu sperma ikan. Sakura tidak tahu sperma ikan fugu ternyata begitu enak. Saat ia kunyah, rasanya seperti krim yang lembut. Ternyata mencoba sesuatu yang baru itu menyenangkan juga.

“Sasuke! Ini enak sekali!” Sakura terlihat seperti anak kecil yang baru pertama kali makan es krim, “Kau harus mencobanya.”

“Ya, aku tahu,” Sasuke menikmati tehnya dengan tenang, “Aku sudah sering memakannya kok.” 

“Apa rasa sperma manusia seperti ini juga ya?” Sakura membisikkan kalimat itu dengan sangat pelan, tapi kelihatannya suaminya mendengarnya.

“Uhuk!” Sasuke terbatuk-batuk. Pria itu tersedak dan tidak bisa bernapas dengan benar.

Sial. Sial. Sial. Kenapa kalimat itu keluar dari mulut Sakura? Semakin hari Sasuke pasti akan semakin merasa kalau Sakura adalah wanita yang aneh. Ah, sial. Kenapa hal-hal seperti ini harus terjadi kepada dirinya? Kenapa?!

“Kau tidak perlu tahu rasanya seperti apa Sakura,” Sasuke akhirnya berhenti terbatuk-batuk.

Sakura langsung menatap lantai dan menghindari kontak mata dengan Sasuke, “A-aku juga tidak mau tahu kok!”

Okay, this is awkward...

Akhirnya kedua orang itu kembali terdiam lagi. Sekali-kali Sasuke akan menikmati tehnya, kemudian menatap mata istrinya. Sakura juga sama, tapi keduanya tidak saling tatap-menatap. Kelihatannya kejadian ini terlalu memalukan untuk mereka berdua.

Hidangan demi hidangan datang dan pergi. Piring demi piring diganti dan teh mereka terus diseduh. Oyster goreng, sup kepiting, sushi, wagyu dan delapan course lainnya telah berlalu. Sasuke masih terdiam dan Sakura tidak tahu topik apa yang harus ia mulai.

Image source : alifewortheating
“Sasuke...” Sakura akhirnya memberanikan diri dan bertanya kepada pria itu, “Sebenarnya aku itu orang yang aneh ya?”

“Ya,” Sasuke menjawab dengan singkat, padat dan jelas.

“Jadi aku memang aneh...” Sakura menatap teh hijaunya dengan sendu.

“Jadi ini yang membuatmu sedih?” Sasuke menatap wajah istrinya, tatapan pria itu terlihat seperti ilmuan yang akhirnya sudah menemukan solusi dari pertanyaan ilmiahnya.

“Tidak...”

“Sejak malam di Gili... Kau menjauhiku,” Sasuke menatap Sakura dengan serius, “Sebenarnya ada apa Sakura?”

“Tidak ada apa-apa...”

“Apa ini karena aku menghilangkan cincin pernikahan kita?” Sasuke menatap jari manisnya. 

“Tidak...”

“Apa ini karena... aku merepotkanmu dengan luka bakarku?” Suaminya mencoba menerka-nerka, namun istrinya masih menggelengkan kepala.

“Sudah kubilang aku tidak apa-apa...”

“Apa kau sakit?” Sasuke kemudian mengukur temperatur tubuh Sakura dengan menempelkan tangannya ke dahi Sakura. 

Wanita berambut pink itu langsung duduk menjauh. Pipinya terlihat merah merona dan ia langsung menatap lantai restoran itu. Ia benar-benar menghindari kontak mata dari suaminya.

“A-aku benar-benar tidak apa-apa!” Sakura dapat merasakan seluruh tubuhnya semakin panas.

“Aku tidak terlalu pandai menghibur orang,” Sasuke akhirnya berhenti menatap istrinya, “Tapi aku harap makanan ini membuatmu merasa lebih baik.”

Sakura akhirnya memberanikan diri dan berhenti menatap lantai. Ia akhirnya menatap suaminya. Pria itu terlihat kebingungan. Ah, jadi begitu. Selama ini Sakura selalu menjauhinya... Sasuke pasti berpikir kalau ada sesuatu yang terjadi kepada Sakura. Cara Sasuke menghibur Sakura bukan dengan kata-kata manis maupun e-mail yang romantis. Pria itu mengajaknya makan karena Sakura mengigau sashimi dan chawanmushi. Lucu sekali. Sasuke memang bukan pria yang pandai berbicara, namun wajahnya yang kebingungan itu membuat Sakura merasa lebih tenang.

“Sebenarnya...” Sakura akhirnya menghela napasnya, “Aku takut kau menganggap aku sebagai wanita yang gila seks, bodoh dan aneh.”

Kali ini wajah Sasuke terlihat lebih bingung dari sebelumnya, “Hah?”

“Kejadian di Gili waktu itu... aku pikir kau ingin mengajakku berhubungan intim... Ternyata aku salah paham! Kesannya seperti aku wanita yang hanya memikirkan seks! Lagipula ini salahmu karena kata-katamu terlalu ambigu!” Sakura mulai menyalahkan pria yang duduk di seberangnya itu.

Sasuke kemudian tersenyum, “Oh, jadi karena itu.”

“Ke-kenapa?”

“Aku pikir kau sakit atau salah satu temanmu meninggal atau apa,” Sasuke sudah tidak terlihat bingung lagi, “Ternyata masalahnya sepele seperti ini.”

“Ini tidak sepele!” 

“Dengar Sakura,” Sasuke menatap wajah istrinya dengan serius, “Aku hanya akan mengatakan ini sekali.”

“I-iya,” Sakura ikut serius juga. Ia menunggu kata-kata romantis keluar dari mulut pria itu.

“Kau memang bodoh dan aneh,” Sasuke akhirnya membuka mulutnya.

Keheningan kemudian datang dan pria itu sudah tidak mengatakan apa-apa lagi.

“Lalu?” Sakura terlihat agak kecewa, “Kau tidak ingin menambahkan... hal baik atau semacamnya?”
“Memang perlu ditambahkan apa lagi?” Sasuke terlihat bingung.

Sakura kemudian terlihat semakin lesu, kemudian suaminya itu akhirnya menepuk-nepuk kepala Sakura dengan lembut, “Tapi sikap bodoh dan anehmu itu membuatku tertawa. Jadi aku harap kau tidak berubah.”

“Sasuke...”

“Soal hubungan intim...” Sasuke menghela napasnya, “Sebenarnya aku memang ingin melakukannya denganmu malam itu di Gili.”

“APA?!”

“Karena kau tidak mau, aku ingin menghormati keputusanmu jadi—”

“Dasar laki-laki brengsek!” Sakura benar-benar tidak habis pikir lagi, “Kau membuatku merasa seperti orang bodoh padahal kau! Kau! Sebenarnya kau memang mau melakukannya!”

“Sakura, dengar—”

“Tunggu!” Sakura benar-benar sudah sulit mengatur napasnya sekarang, “Jadi soal mengolesi lidah buaya itu kau hanya beralasan saja?!” 

“Daripada situasinya jadi aneh, kupikir alasan itu lebih masuk akal,” Sasuke kemudian menikmati tehnya dengan tenang.

“KAU!” Sakura benar-benar tidak habis pikir... Ternyata bukan dia yang kege-eran! Memang Sasuke yang brengsek!, “Kau membuatku berpikir aku gila seks!”  

“Hah?” Sasuke kali ini mengangkat satu alisnya, “Itu bukan salahku.”

“Itu salahmu!” Sakura menunjuk-nunjuk suaminya dengan kesal.

“Itu semua kan pikiranmu, bukan pikiranku,” Sasuke menanggapinya dengan santai, “Berarti itu salahmu berpikir seperti itu, bukan salahku.”

“Tidak, tidak, tidak!” Sakura merasa kesal sekarang, “Aku tidak terima ini! Kau harus minta maaf! Selama tiga hari ini aku merasa seperti orang bodoh!”

“Aku tidak suka meminta maaf untuk kesalahan yang tidak kulakukan.” Sasuke benar-benar menyebalkan. Luar biasa!

“Dengar ya Sasuke!” Sakura benar-benar naik darah, “Aku tidak mungkin ingin melakukannya denganmu! Jadi jangan pernah menanyakan hal semacam itu kepadaku lagi!”

“Ya, tenang saja,” Sasuke mengangguk-angguk, “Aku tidak ingin melakukannya kalau kau tidak ingin melakukannya.”

“Sasuke... Kau ternyata bisa berkata-kata baik seperti ini...” Sakura menyindir suaminya, “Kau benar-benar mirip dengan Sasu sekarang. Kau akhirnya sudah tidak jahat lagi. Kau sudah semakin mirip anjing kita!”

“Jadi jika aku semakin baik aku akan semakin mirip anjing?” Sasuke benar-benar terlihat tidak senang.

Isterinya mengangguk-angguk dan menunjuk Sasu, anjing putih yang sekarang duduk dengan sopan di samping Sakura. Anjing itu terlihat polos sekali dan menatap wajah Sasuke dengan berkaca-kaca.

“Kau mirip sekali dengan Sasu sekarang!”

“Kau sedang menyindirku karena kau masih marah padaku ya?” Sasuke langsung menangkap arti dari pujian istrinya itu.

“Iya,” Sakura menghela napasnya, “Asal kau tahu saja. Kau masih belum dimaafkan.”

“Untuk apa aku dimaafkan untuk kesalahan yang aku tidak lakukan?”

Sasuke sialan. Suami tidak bermoral. Sialan. Sialan. Sialan. Sakura benar-benar sial sekali tiga hari ini.

XXX

Image Source : vacationadvice101.com
Malam itu Uchiha Itachi memandang langit malam dari jendela kantornya. Belakangan ini ada firasat buruk yang terus datang. Entah apa itu... Tapi ia tidak menyukainya. 

“Itachi-sama,” Suara ketukan pintu membuyarkan pikirannya, “Itachi-sama, ibu anda ingin bertemu dengan anda.”

“Ah, iya,” Itachi menjawabnya, “Persilahkan dia masuk.”

Ketika pintu itu dibuka, Itachi dapat melihat wajah ibunya terlihat seperti orang yang kerasukan setan. Wajah ibunya yang biasanya tenang dan dingin berubah menjadi panik. Mikoto terlihat pucat dan jari-jarinya gemetaran. Ia terlihat seperti baru saja melihat mayat hidup.

Mikoto's Nina Ricci Coat, Itachi's Armani Suit
Image source : net-a-porter.com , saksfifthavenue.com
“Ibu... Ada apa?” Itachi langsung meninggalkan kursinya dan berlari mendekati ibunya.

“Itachi... Kau harus menolongku...” Mikoto memegang tangan anaknya, jemarinya sedingin es di pegunungan Kloster.

“Aku pasti akan membantu ibu...” Itachi menenangkan ibunya, “Ada apa?”

“Kushina... Kushina sedang koma di rumah sakit,” Mikoto terlihat panik, “Kemudian suaminya... suaminya...”

“Ada apa Ibu?”

“Suaminya meninggal...” Mikoto benar-benar tidak sanggup untuk bernapas dengan teratur lagi, “Mereka berdua kecelakaan saat sedang mengendarai mobil...”

“Itachi... Kita harus mencari Namikaze Menma,” Mikoto benar-benar lemas sekarang, “Hanya itu yang bisa ibu lakukan untuk Kushina sekarang. Kata perawat... Kushina terus memanggil-manggil Menma...”

“Ibu...”

“Ini semua salahku...” Mikoto akhirnya jatuh lemas di atas lantai kantor Itachi yang dingin, “Kalau saja Sasuke tidak pergi bersama dengan Menma waktu itu... Kushina tidak akan kehilangan anaknya.”

“Ibu... tenanglah...” Itachi menenangkan ibunya, “Aku pasti akan menemukan Menma.”

TBC

XXX

A/N:


Hi there, liburanku akhirnya berakhir dan aku harus kembali belajar dan bekerja! xD Semangat untuk kita semua!! 

Image Source : my instagram
Belakangan ini aku sangat suka mencoba makanan di berbagai restoran dan café. Mungkin karena itulah cerita ini penuh dengan berbagai jenis makanan dan dunia kuliner. Semoga kalian menyukainya.

Oh ya, aku juga menuliskan cerita baru! Judulnya; My First Love is a Housekeeper. Pairingnya Naruhina dan aku sangat senang menuliskannya semoga kalian juga menyukainya ya! Cerita ini juga ada di websiteku!

Have a wonderful day guys and enjoy the rest of your holiday! Jangan lupa meninggalkan kesan dan pesan di kotak review :) I would love to hear your opinion! Oh ya! 

Apakah kalian ingin mencoba Sperma Fugu? XD hehehe.

<<Previous Chapter

18 comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...