Kepos Street Kitchen : Review

05:43 Melissa Gabriele 0 Comments



"There is something about Kepos Street Kitchen that made my heart skip a beat." 

I've heard many positive reviews about this place so I had great expectations! Kepos earned a chef's hat and it's close to my place. How great is that? Since I live in Zetland, I had a fifteen minute walk to Redfern. I went pass, Devon on Danks then Puer and finally I spotted it. There, the beautiful yellow sign of Kepos Street. 



Kepos has a wonderful, simple white interior. Its simplicity made me feel more relaxed and at ease. I went there during the weekdays so it was not as packed as usual. I only had to wait 10 minutes to get a table. Thank goodness!




As I waited, I looked at their beautiful pastries/baked goods in awe. I've heard that the pastry options changes all the time. I'm curious of other pastries that they will provide in the future as the ones I saw looks stunning!




Kepos provide middle-eastern food with a twist. Since it is very rare to find a middle-eastern brunch place, I couldn't decide what to order. Everything in the menu looked like heaven! I wish I could order every single one of them! 


Famous Kepos Street Kitchen Burger ($19)
Moroccan Lamb ($18)
My favorite dish is the Moroccan Lamb Cigars. It is combined with watercress, soft boiled eggs and goat cheese. I think the combination of the lamb and the goat cheese is just perfect! I don't think it would taste this perfect if they had chosen another type of cheese. Since I love yum cha so much, cigars somehow reminds me of a Chinese lumpia! However, I think that's just me!    
Look at that lamb-goodness!
The service is great and the ambience is lovely. The outdoor seat was windy, but the view was gorgeous. Even though I went there during the winter, it was a sunny winter day, the perfect weather to have brunch outside.



Overall, I truly adore Kepos Street Kitchen! From the food, the place and the service. Everything here is great! I do suggest to come on weekdays because some of my friends went there on Sunday and had to wait nearly an hour just to get a table. Ah, well, the things you do to eat good food am I right? 


Address: 96 Kepos Street, Redfern NSW 2016
Favorite dish : Lamb Cigars

Steamed Chicken Breast <<Previous Post



0 comments:

Marrying Uchiha Sasuke : Chapter 14

09:07 Melissa Gabriele 6 Comments

Marrying Uchiha Sasuke

Chapter 14

New York State of Mind

Disclaimer : I do not own Naruto


Central Park, New York
Image source : thewowstyle.com

New york, Central Park. 

Seperti kata orang banyak, New York memang sangat mempesona. Kota ini sangat sibuk dan ramai, tapi setiap sudut kota ini memiliki sentuhan unik tersendiri. Kali ini Sakura sedang berada di Central Park. Taman terindah di New York yang terletak tepat di tengah-tengah kota. Taman ini penuh dengan pepohonan hijau, danau-danau kecil dan hiasan taman. 


Image source: www.nycgo.com

Kenapa Sakura bisa berada di sini? Sebenarnya ia sendiri juga tidak percaya dirinya bisa berada di New York. Biasanya pria dingin yang berpura-pura menjadi suaminya itulah yang selalu mengajaknya— eh tidak, memaksanya untuk berkeliling dunia. Kali ini hal yang mengejutkan terjadi. Tsunade, pemilik dari rumah sakit dimana ia bekerjalah yang memaksanya. Sakura dinas ke luar negeri! Luar biasa. Sebagai seorang dokter operasi plastik, ia jarang sekali dinas ke luar negeri.

Sakura duduk di kursi kecil Central Park sambil menikmati konser musik klasik di taman itu. Di sebelahnya duduk seorang dokter operasi plastik terkenal Jepang yang telah lama tinggal di New York. Nama dokter itu adalah Kimura Chiyo. Walau sudah berumur 74 tahun, Chiyo tetap bekerja di bidang medis. Ia memang tidak praktik lagi, tapi ia sering mengajarkan dokter-dokter muda. Cara ia mengajar cukup unik, ia hanya memberikan seminar sebentar, kemudian ia akan mengajak orang yang diajarkannya untuk mendengarkan konser musik klasik.


Image source : nycgovparks.org

“Chiyo-baasama apa nama aransemen ini?” Sakura menyukai musik ini, entah kenapa perpaduannya sangat ringan dan menenangkan.



Wanita itu tidak menjawabnya.

“Chiyo-baasama?”

Wanita itu masih tidak menjawabnya.

Sakura terlihat panik. Entah kenapa wanita yang duduk di sampingnya tampak seperti mayat. Wanita itu tidak membuka matanya. Ia juga tidak terlihat seperti sedang tidur. Ia terlihat seperti... Tidak! Tidak Sakura. Mungkin Nenek Chiyo tertidur karena musik klasik ini terlalu pelan…. Tapi itu tidak mungkin terjadi! Chiyo sangat menyukai musik klasik! Orang yang menyukai musik klasik tidak mungkin tertidur saat konser! Jangan-jangan... ia sudah... sudah... meninggal? Umur wanita itu memang sudah tua, tapi... tidak mungkin! Tidak! Sejak tadi ia terlihat sehat dan ia sempat bercanda tawa dengan Sakura!

“Chiyo-baasama!” Kali ini Sakura setengah berteriak.


Sakura's B&W Derek Lam Dress, Chiyo's Vilshenko Floral Dress
Image source : net-a-porter.com , net-a-porter.com
Chiyo tertawa lepas. Wanita itu tampaknya hanya menjahili Sakura dengan berpura-pura meninggal. Luar biasa! Selera humor Chiyo, membuat Sakura sakit jantung. Jika nenek ini berpura-pura lagi, Sakura tidak tahu lagi harus bereaksi seperti apa.

“Kau lucu sekali Sakura!” Chiyo masih tertawa.

“Chiyo-baasama, kau membuatku kaget!” Sakura menyeka keringat dingin di pelipisnya.

“Aku masih terlalu sehat untuk mati!” Chiyo memuji dirinya sendiri.

“Jangan pernah melakukan hal itu lagi Chiyo-baasama!” Sakura menghela napasnya, “Oh iya, ngomong-ngomong nama aransemen ini apa? Bagus sekali....”

“Namanya Dvorak: Serenade in E major, Op. 22, B. 52.” Chiyo tersenyum sambil menikmati suara gesekan biola yang halus di taman itu.

“Aku juga sangat menikmati chamber music,” ujar Sakura, “Rasanya lebih tenang dan santai untuk didengar. Pachelbel’s Canon in D adalah lagu pertama yang mengenalkanku pada chamber music.”  

“Begitukah?” Chiyo melanjutkan, “Kimura Sasori... ia juga sangat menyukai Canon in D.”

“Kimura Sasori?” Sakura terlihat bingung. “Apakah dia adalah suamimu?”

“Bukan,” Chiyo menjawabnya sambil tersenyum masam. “Sasori adalah cucuku.”

“Oh ya? Dimana dia sekarang?”

“Entahlah... Mungkin di Seoul... Mungkin juga sudah meninggal.” Chiyo menjelaskan

Sakura salah. Ia seharusnya tidak menanyakan soal Sasori. Senyuman di wajah Chiyo hilang sekarang. Wanita itu terlihat serius. Tampaknya ia tidak ingin membicarakan soal keberadaan Sasori. Entah masalah apa yang terjadi antara dirinya dan cucunya. Sakura harus cepat-cepat mencari topik lain sebelum keadaannya semakin buruk.

“Chiyo-baasama, apakah—”

“Sakura, maafkan aku.” Chiyo bangkit dari tempat duduknya, “Aku merasa kurang enak badan, jadi aku harus pulang lebih dulu.”

“Ah, kalau begitu kuantar.” Sakura juga ikut berdiri, tapi Chiyo langsung menyuruhnya duduk lagi.

“Terima kasih, tapi aku bisa sendiri,” ujar Chiyo, “Tenang saja.”

“Tapi Chiyo-baasama....”

Chiyo tampaknya benar-benar tidak ingin Sakura ikut bersamanya, “Aku benar-benar ingin sendiri sekarang Sakura.”

Sakura akhirnya mengangguk. Ia kemudian mengucapkan terima kasih dan membungkuk memberikan hormat. Nenek Chiyo kemudian tersenyum hangat dan pamit untuk pulang. 

“Kalau begitu aku akan menelponmu nanti Sakura, mungkin besok kita bisa bertemu lagi untuk makan siang.” Nenek Chiyo melambaikan tangannya.

“Ah tentu saja, Chiyo-baasama,” Sakura menjawabnya.

Gawat. Sekarang Sakura benar-benar merasa tidak enak. Karena dirinya, Chiyo jadi pulang duluan. Ini semua pasti karena Sakura menyinggung soal keberadaan Sasori. Ya sudahlah, sebentar lagi konser musik klasik ini juga akan selesai. 

Kali ini lantunan musik klasik itu berganti dengan lagu dance Korea ‘Call Me Baby’. Sial. Kenapa iPhone Sakura tidak disilent? Bodoh. Bodoh. Bodoh! Sekarang semua orang menatapnya dengan wajah kesal. Sakura dengan cepat langsung meninggalkan panggung itu dan menatap layar iPhonenya.


The stage
Image Source : centralpark.com

Uchiha Sasuke.

Sial, ternyata orang yang menelponnya suaminya toh. Ia pikir siapa. Orang penting mungkin. Siapa tahu Nenek Chiyo. Ternyata... Seorang Uchiha Sasuke yang sangat dingin, menyebalkan dan tampan yang menelponnya. 

“Halo?”

“Sakura, apa kau masih di New York?” Suara Sasuke... Terdengar agak seksi. Tunggu. Seksi? Mungkin Sakura sedang berhalusinasi karena kebanyakan mendengar musik klasik.

“Ya, aku masih di New York.” Sakura menghela napasnya, “Ada apa?”

“Kalau begitu aku akan terbang ke sana sekarang.”

“Oh iya, kau sedang ada di Boston ya?” Sakura ingat Sasuke sedang menemui salah satu kliennya di sana.

“Kalau begitu sampai ketemu nanti,” Sasuke menutup teleponnya.

Seperti biasa pria itu memang selalu saja singkat, padat dan tidak jelas. Yah, mau diapakan lagi Sasuke memang Sasuke. 

XXX

Image source : pursuitist.com

Uchiha Mikoto memandang kota New York yang sendu dari lantai tertinggi hotel berbintang Four Seasons Ia sekarang sedang berada di tempat Kushina tinggal, tapi wanita itu masih saja tidak membuka matanya. Apakah ruangan ini kurang nyaman untuknya? Karena itulah ia masih saja belum bangun dari tidurnya? Tidak... kamar Kushina sangat nyaman.

Dari lantai ke langit-langit, jendela kaca besar menghiasi kamarnya. Jendela ini memberikan pemandangan 360 derajat kota New York yang gemerlap. Mulai dari lantai yang dicampur oleh batu semi mulia, perabotan yang terbuat dari kain tenun dan emas, karya-karya seni dari Perancis... Kushina seharusnya merasa nyaman.  

Mikoto kemudian memandang chandelier kontemporer yang menghiasi jendela kaca ruangan itu. Ia kemudian menghela napasnya. Uang memang tidak bisa membeli apa-apa. Tempat ini memang mewah dan megah. Penthouse ini terdiri dari sembilan kamar dan butler pribadi, tapi Kushina sebatang kara sekarang. Anaknya hilang dan suaminya sudah dipanggil Tuhan. 

“Menma....”

Suara Kushina akhirnya terdengar. Suara itu terdengar sangat tipis dan lemah. Meski sudah diberi makan dan minum lewat infus, wanita itu terdengar seperti belum makan selama tiga bulan. Padahal Kushina yang Mikoto kenal biasanya sangat ceria dan blak-blakan. Kenapa wanita yang begitu energik bisa berubah menjadi seperti ini? 


Kushina's green Vilshenko sleepwear, Kushina's Haney Black dress
Image source : net-a-porter.com , net-a-porter.com
“Kushina, kami sedang berusaha mencari Menma sekarang,” Mikoto menenangkan sahabatnya, “Kau tenang saja....”

Mikoto sering mendengar Kushina memanggil-manggil Menma. Ia benar-benar tidak tahu keberadaan anak itu sekarang. Ini semua salah dirinya dan Sasuke. Insiden penculikkan dan hilangnya Menma tidak akan terjadi kalau ia tidak membiarkan Sasuke pergi bersama dengan Menma. Seharusnya hari itu Menma ada di rumah dan belajar Bahasa Perancis bersama dengan guru lesnya. Jika Sasuke tidak mengajak Menma, anak itu pasti masih berada di sisi Kushina sekarang.

Sebelum Mikoto berbicara apa-apa lagi, putra sulungnya masuk ke kamar itu dan membawakan karangan bunga tulip yang sudah dimasukan ke dalam vas bunga. Kushina sangat menyukai bunga tulip. Ia dan suaminya bertemu di Belanda. Saat itu bunga-bunga tulip bermekaran. Mikoto sering mendengar cerita ini. Ia masih tidak percaya suami yang sangat dicintai Kushina itu sudah tidak ada sekarang. Kenapa? Kenapa ketika dua orang saling mencintai mereka harus dipisahkan?


Tulips
Image source : joseortegafm.blogspot.com.au
“Ibu... maafkan aku. Menma masih belum ditemukan.” Itachi meletakkan vas bunga itu di atas meja.

“Begitukah?” Mikoto kemudian memakai trench coat Burberrynya dan berjalan ke luar.


Mikoto in Burberry Trench coat
Image source : net-a-porter.com
“Oh ya... Ibu.” Itachi tampak agak ragu, tapi ia melanjutkan kalimatnya, “Hari ini proyek pembangunan lapangan golf kita di Seoul ditolak.”

Sudah tiga proyek penting yang ia serahkan pada Itachi gagal. Tiga. Tiga adalah angka yang besar. 

“Ibu apa kau baik-baik saja?”

Mikoto kemudian menatap wajah Itachi dengan dingin. Ia biasanya bisa merasa lebih nyaman jika berbicara dengan Itachi. Sikap anaknya yang dewasa itu membuatnya lebih santai. Sejak kecil ia selalu mendidik Itachi dengan dingin dan keras. Didikan seperti itu membuat Itachi menjadi sukses. Itachi selalu berhasil melampaui ekspektasi Mikoto. Jika ibunya meminta nilai sempurna, Itachi akan memberikan nilai sempurna dan piala lomba olimpiade. Jika ibunya memintanya untuk belajar Bahasa Mandarin, dalam satu bulan ia sudah lancar berbahasa Mandarin dan Kanton. Itachi selalu memberikan hal lebih. Kelihatannya kali ini berbeda.

Mungkin Mikoto terlalu memanjakan Itachi. Ia pikir anak itu sudah dewasa dan sukses. Ia pikir ia sudah tidak perlu lagi mendidik pria itu dengan dingin dan keras. Sayangnya ia salah. Bodohnya dirinya... Waktu kecil ia terlalu memanjakan Sasuke. Sekarang keadaanya terbalik. Belakangan ini Sasuke selalu sukses mendapatkan klien baru dan proyek baru. Profit yang dibuat Sasuke dua kali lipat lebih besar dari Itachi. Sasuke juga sudah memiliki seorang istri. Jika keadaanya terus seperti ini... Sasuke mungkin akan terpilih untuk meneruskan usaha Keluarga Uchiha. 

Sebenarnya Mikoto tidak peduli siapa yang meneruskan usaha ini. Itachi maupun Sasuke, ia menyayangi kedua anaknya. Ia ingin agar kedua anaknya memiliki kesempatan yang sama dalam hal ini. Fugaku memiliki pendapat yang berbeda. Suaminya sejak dulu ingin memberikan usaha keluarga ini ke tangan Itachi. Sebagai seorang istri ia hanya bisa mengikuti kemauan suaminya. Jika ia ingin Itachi  yang meneruskan usaha keluarga mereka, kelihatannya ia sudah tidak boleh lagi terlalu baik kepada Itachi. Kalau terus seperti ini... mungkin Sasukelah yang akan merebut posisi itu darinya.

“Kau sudah tidak perlu mencari Menma.” Mikoto menatap mata Itachi dengan dingin, “Lebih baik fokus kepada pekerjaanmu. Perusahaan kita tetaplah prioritas pertama.”

“Tapi....” Itachi tampak ragu melanjutkan kalimatnya, “Bagaimana dengan Kushina-san?”

Mikoto tidak menjawab pertanyaan Itachi. Ia dengan cepat keluar dari penthouse Kushina dan turun dengan lift. Saat pintu lift itu terbuka, ia dapat melihat lantai marmer dan interior klasik lobby Hotel Four Seasons. Anehnya, Mikoto tiba-tiba merasa mual. Kepalanya terasa berat dan ia tidak bisa melihat ruangan dengan jelas. Matanya berkunang-kunang dan tangannya sedingin es. Ah, ia tahu apa yang terjadi padanya. Ia pernah merasakan ini sebelumnya. Ia maag. Hal ini biasanya terjadi kalau ia terlambat makan dan ia belum makan apa-apa sejak pagi.


Image source : fourseasons.com
Dengan cepat ia mengeluarkan obat maag dari tasnya dan meminumnya. Ia langsung mencari tempat untuk duduk dan berusaha untuk menenangkan dirinya. Setelah beberapa menit berlalu, ia merasa lebih tenang. 

“Ibu?” 

Ia tahu suara itu. Suara itu adalah suara Uchiha Sasuke. 

“Kenapa ibu ada di New York?” Sasuke akhirnya duduk di sampingnya, “Ada apa ibu? Wajahmu pucat.”

“Aku tidak apa-apa,” Mikoto menjawabnya dengan dingin, “Pergilah.”

Sasuke tidak mendengar kata-katanya. Anak itu mengambil telepon genggamnya dan menghubungi seseorang.

“Sakura? Ibuku sakit,” Sasuke tampak khawatir, “Kapan kau akan sampai di Four Seasons?”

Mikoto kemudian melihat raut wajah anak itu menjadi lebih lega, kemudian ia mengangguk dan menutup teleponnya. 

“Apakah wanita itu juga ada di sini?” Mikoto benar-benar tidak mengerti kenapa takdir justru membuat dirinya terlihat begitu lemah dan tidak berdaya di depan Sasuke dan menantunya.

“Tenang saja, Sakura dokter, ia pasti tahu apa yang harus dilakukan."

Sebelum Mikoto dapat menjawab apa-apa, menantunya datang dengan napas yang memburu. Kelihatannya setelah mendegar telepon itu, Sakura langsung berlari secepat mungkin. Mikoto merasa agak kagum dengan menantunya, padahal saat itu Sakura sedang mengenakan high heels dan dress. Saat pesta bisnis di Bali, Sakura terlihat sangat tidak sopan. Anak itu bahkan sempat memerikan kritik pedas soal baju yang dipakai Mikoto. Lucunya hari ini berbeda. Wanita itu berubah. Wajahnya sekarang terlihat lebih lembut dan dewasa. Kelihatannya banyak hal terjadi kepada Sakura. Berlari dengan baju seperti itu tidaklah mudah. Ia pasti sangat khawatir kepada Mikoto.


Sakura's Dolce & Gabbana Dress, Sasuke's Armani suit
Image source : net-a-porter.com , feedinspiration.com
“Mikoto-san— Eh, maksudku ibu apa yang terjadi?” Sakura langsung mengukur temperatur Mikoto.

“Aku hanya maag,” Mikoto menjawab Sakura dengan tenang, “Sudahlah, kalian pergi saja. Aku sudah minum obat.”

“Apakah kau sudah makan?” Sakura masih terlihat khawatir.

“Aku baru memberitahumu bukan? Aku sudah makan obat,” Mikoto menjawabnya dengan dingin.

“Bukan hanya obat ibu!” Sakura benar-benar terlihat panik, “Teh manis? Bubur? Seharusnya hotel ini bisa menyediakannya. Sasuke pesan teh manis dan bubur sekarang.”

Sasuke kemudian memanggil salah satu pegawai hotel itu dan memesan teh manis dan bubur. Anak laki-lakinya itu terlihat cekatan. Kerja kedua orang ini cepat. Mereka berdua memang telah banyak berubah. Mikoto merasa dirinya semakin lama semakin berumur saja. Kelihatan lemah di depan kedua orang ini rasanya begitu memalukan. Ia seharusnya terlihat elegan dan dihormati, bukan dikasihani. 

“Sudahlah. Aku punya urusan penting.” Mikoto kemudian bangkit berdiri dan meninggalkan mereka berdua, “Soal teh manis dan bubur tadi akan kumasukan ke dalam billku. Tidak usah dibayar. Permisi.”

“Tapi! Ibu kau harus makan!” Sakura benar-benar tidak membiarkan dirinya pergi, “Kalau sedang maag, lambung akan terus bekerja dan menghasilkan asam lambung. Obat hanya menghilangkan sejenak, tapi tanpa makanan, lambung ibu akan terus menghasilkan asam itu.”

“Sakura. Aku sudah mengatakannya padamu tadi,” Mikoto menegaskan kepadanya sekali lagi, “Aku punya urusan penting.”

“Apakah ibu akan pergi rapat?” Sasuke kemudian bertanya.  

“Tidak, ibu akan bertemu dengan Donald Trump sebentar. Fugaku-san juga akan ada di sana,” Mikoto menjawab pertanyaan Sasuke.

“Kalau begitu selamat jalan,” Sasuke kemudian memberikan hormat kepada ibunya.
Mikoto kemudian pamit pergi. Menantunya masih terlihat khawatir, namun putra bungsunya itu tampaknya sudah kembali dingin seperti biasanya. Kelihatannya Mikoto sudah mendidik Sasuke dengan terlalu keras. Mau diapakan lagi. Mikoto ingin memberikan yang terbaik untuk Sasuke. Satu-satunya cara yang ia tahu hanyalah dengan cara ini. Selama ini Mikoto dibesarkan dengan cara ini, dididik dengan cara ini. Fugaku juga sama, pria itu sejak dulu dibesarkan dengan dingin dan keras. Mikoto dan Fugaku sekarang menjadi sukes, karena itulah Sasuke dan Itachi juga akan menjadi sukses dengan cara ini. Bukankah begitu?

XXX


Manhattan Street
Image source : feedinspiration.com
Sakura berjalan bersama Sasuke di jalan besar Manhattan. Mobil tampak berlalu-lalang dan taksi-taksi berwarna kuning khas New York menjadi pemandangan siang itu. Sakura rasanya agak kasihan melihat suaminya yang daritadi menelpon banyak restoran. Biasanya Uchiha Sasuke memang sering membawanya makan di tempat-tempat mahal. Fine dining di New York terdengar menarik, tapi sayangnya karena Sasuke datang mendadak, rata-rata restoran bintang tiga di New York sudah fully booked. Maklum, sekarang jam makan siang dan hari ini hari Sabtu. 

“Hei Sasuke, sudahlah, kita makan di tempat biasa saja,” Sakura mengusulkan, “Lagipula aku memang tidak ada rencana untuk makan di restoran bintang tiga saat datang ke New York. Bagaimana kalau kita ke pasar saja?”

“Hah?” Sasuke langsung memasukan ponselnya ke dalam sakunya, “Apa maksudmu dengan pasar?”

“Tunggu, jangan-jangan kau belum pernah ke pasar?” Sakura tampak kaget.

“Memangnya ada pasar di sini?” Sasuke terlihat bingung.

“Kau belum menjawab pertanyaanku!” Sakura menepuk pundak pria itu, “Kau pernah ke pasar atau tidak?”

“Hn, itu bukan urusanmu,” Sasuke menjawab dengan dingin.

Ya ampun, kelihatannya pria itu belum pernah ke pasar. Kasihan sekali. Sakura benar-benar tidak habis pikir. Kalau begitu, mereka berdua harus pergi ke Union Square. Di sana ada pasar khas Manhattan yang ramai. Pasar itu juga dekat dengan Broadway dan Sakura memang ingin melihat-lihat kesana. Yosh! Pasti rasanya lucu sekali melihat reaksi Sasuke pergi di pasar.

“Ayo kita ke pasar!” Sakura langsung berjalan cepat, “Tempatnya dekat kok!”

Saat Sakura berjalan cepat, ia akhirnya melihat alun-alun besar. Di lapangan itu banyak tenda-tenda kecil dengan banyak barang dagangan. Ada berbagai jenis buah-buahan, sayur-sayuran bahkan bunga. Farmer’s market ini sangat ramai dengan penduduk lokal dan turis.


Image source :  marketsofnewyork.com
“Ini dia!” Sakura menunjuk tempat itu dengan penuh semangat, “Kita sampai di pasar Sasuke!”

“Tidak ada yang spesial.” Sasuke berjalan menelusuri pasar itu dengan wajah poker face.   


Image source : mostlovelythings.com
“Kau itu HMB ya,” Sakura menghela napasnya.

“Hah? HMB?” Sasuke tampak tidak tertarik.

“Iya, High Maintenance Boy.” Sakura menepuk pundak suaminya.

Sasuke tampak tidak senang. Kelihatannya ia tidak suka title yang baru saja Sakura berikan kepadanya. Pria dingin itu menaikkan satu alisnya dan berjalan melewati Sakura. Kelihatannya ia merasa tersinggung dengan sebutan ‘high maintenance’. Namun, Sasuke memang agak HMB sih. Kalau dipikir-pikir selama ia bersama dengan Sasuke, pria itu tidak pernah makan makanan jalanan. 

“Kau pernah makan hotdog tidak?” Sakura merasa penasaran, jangan-jangan pria itu tidak pernah makan hotdog.

“Kau ini sedang bertanya atau menghinaku?” Sasuke berjalan lebih cepat menjauhi Sakura.

Wanita berambut merah muda itu langsung berjalan cepat mengikuti suaminya, ia lalu tertawa lepas, “Jangan-jangan kau memang tidak pernah makan hotdog.”

Sasuke kemudian berhenti di salah satu stand toko itu, ia menatap hotdog-hotdog yang dijual. Kelihatannya Sasuke ingin membelinya. Mungkin pria itu memang pernah makan hotdog sebelumnya. Hei, pria ini ternyata normal juga.

“Can I have two of these please?” Sakura langsung mengeluarkan dompetnya dan membayar hotdog itu.

Pedagang itu memberikan dua hotdog kepada Sakura dan menerima uang itu.


Image source : palmspringsgourmetmarket.com
“Hei kenapa kau yang membayarnya?” Sasuke kelihatan tidak senang.

“Memangnya kenapa harus kau yang selalu membayar semuanya?” Sakura tampak tidak senang juga dengan tanggapan Sasuke.

Sasuke kemudian mengeluarkan uang dari dompetnya, tapi Sakura langsung menolaknya.
“Sakura kau—” Sasuke tiba-tiba terdiam karena Sakura langsung menaruh hotdog tadi ke mulut Sasuke.

Sakura kemudian tertawa lepas. Pria yang dingin dan menyebalkan itu tampak sangat lucu dengan hotdog yang dipaksa masuk ke mulutnya. Rasanya seperti melihat hamster yang terlalu banyak makan biji bunga matahari. Uchiha Sasuke ternyata bisa juga terlihat konyol. 

“Oi!” Sasuke langsung mengeluarkan hotdog itu dari mulutnya, “Apa yang kau lakukan?!”

“Aku mentraktirmu hotdog dan aku tidak ingin menerima uang darimu,” Sakura menjawabnya dengan polos.

Suaminya itu akhirnya menghela napasnya. Pria yang tadinya terus bersikeras untuk mengembalikan uang Sakura akhirnya menyerah juga. Akhirnya hotdog tadi Sasuke makan dengan lahap. Rasanya agak aneh melihat Sasuke melahap hotdognya. Pria itu biasanya minum wine mahal dan makan 8 course fine dining, hari ini ia makan makanan jalanan. What a rare sight.

Sambil makan, Sakura mulai bertanya kepada Sasuke, “Apa ibumu baik-baik saja ya?”

Tatapan Sasuke kemudian berubah menjadi agak serius, “Ibuku memang begitu. Biarkan saja.”

“Tapi ia sedang sakit maag dan ia belum makan apa-apa,” Sakura melahap hotdognya lagi.

Sasuke kemudian menghabiskan sisa makanannya dan membuang bungkusnya ke tempat sampah, “Ia akan bertemu dengan Donald Trump. Tenang saja, pertemuan bisnis pasti berlangsung di restoran bintang tiga. Ibuku pasti akan makan.”

“Ah, begitu ya,” Sakura mengagguk kemudian mereka berdua berjalan menelusuri pasar itu.

“Jadi bagaimana seminarmu?” Sasuke berhenti di salah satu stall buah-buahan dan melihat-lihat apel-apel merah di sana.

“Seminarku sangat seru, tapi jika kuceritakan pun kau tidak akan mengerti karena semuanya berhubungan dengan operasi plastik dan bahasa kedokteran,” Sakura kemudian menghabiskan makanannya juga dan membuangnya ke tong sampah.

“Apa di sana ada....” Sasuke kemudian mengambil salah satu buah apel itu dan mengambil napas panjang.


Image source : toledofarmersmarket.com
“Apa?” Sakura tampak heran. Kelihatannya suaminya itu masih ingin mengatakan sesuatu.

“Apa di sana ada... uh... lupakan saja,” Sasuke kemudian meletakkan buah apel itu dan berjalan jauh dari Sakura.

Istrinya itu langsung mengejar pria itu dengan wajah yang kebingungan. Sebenarnya ada apa dengan Uchiha Sasuke? Kenapa pria itu malah jadi aneh seperti ini?

“Hei kau membuatku penasaran tahu!” Sakura menepuk pundak suaminya, “Katakan! Di sana ada apa? Kau ingin tahu apa?”

“Tidak apa-apa.”

“Apa?”

“Sudah kubilang tidak apa-apa.”

“Katakan padaku Sasuke!”

“Apa di sana ada dokter muda yang tampan?” Sasuke akhirnya bertanya dengan nada yang datar. 

Sakura tidak tahu harus menjawab apa. Tidak biasanya Sasuke menanyakan hal seperti ini. Apa jangan-jangan... pria itu cemburu? Namun, kenapa cemburunya sangat datar seperti ini? Wajahnya lebih mirip seperti orang yang mengantuk daripada cemburu.

“Banyak sih,” Sakura menjawab dengan jujur. Ia tidak bohong, seminar kemarin memang penuh dengan dokter bule yang tampan.

“Oh,” Sasuke hanya menjawabnya dengan satu kata dan berjalan lagi.

“Ah! Seperti pria itu contohnya!” Sakura menunjuk pria berambut pirang yang terlihat tinggi dan gagah.

Ia tidak bisa melihat wajah pria itu, namun punggungnya terlihat keren dari belakang. Pria itu juga berotot dan kelihatannya tampan. Saat pria itu menoleh ke samping, Sakura hanya bisa membuka mulutnya karena kaget. Ternyata pria itu adalah pria yang waktu itu ia temui di Bali! Pria itu! Pria yang Tsunade sebut operasi plastik besar-besaran! Menma! 

Ternyata Sasuke terlihat lebih kaget dari Sakura. Pria itu terlihat seperti baru saja melihat hantu. Ia tidak percaya apa yang dilihatnya. Sasuke benar-benar berdiri dengan kaku. Suaminya itu tidak bergerak sama sekali. Kelihatannya Sasuke mengenali Menma. Kenapa mereka berdua bisa saling kenal?

Sasuke yang awalnya kaku langsung berjalan mendekati Menma, anehnya setelah ia mendekat... ia langsung berjalan kembali ke sisi Sakura.

“Ada apa Sasuke? Kau kenal dengan pria itu?” Sakura terlihat bingung. 

“Tidak.... Aku pikir orang itu Namikaze Menma.”

“Loh? Bukankah pria itu memang Namikaze Menma?” Sakura terlihat bingung. 

Karena penasaran, ia akhirnya meninggalkan Sasuke dan memanggil pria berambut pirang tadi.

“Menma-san!” Sakura melambaikan tangannya, “Apa kau masih ingat padaku? Kita pernah bertemu di Bali waktu itu!”

Pria berambut pirang itu berbalik dan menatap Sakura dengan senyuman. Ia ikut melambai dan tersenyum hangat.

“Ah, Sakura-san bukan? Sudah lama tidak bertemu!” Menma tersenyum hangat, “Apa kabar?”

Tiba-tiba raut wajah Sasuke terlihat semakin bingung. Ia tampaknya tidak percaya orang tadi adalah Namikaze Menma. Sasuke benar-benar tidak mempercayai matanya. Suaminya itu kemudian berjalan mendekat dan mengamati Menma dengan penuh ketelitian.

“Ah, orang ini adalah...?” Menma kemudian menunjuk Sasuke.

“Suamiku, Uchiha Sasuke.” Sakura tersenyum hangat, “Sasuke, kau kenal Menma bukan?”

“Ah! Sasuke?” Menma tampak senang, “Kau masih ingat aku? Kita dulu teman saat kecil bukan?”

Sasuke tidak membalas perkataan Menma. Ia hanya terdiam dan menatap Menma dengan tatapan analitis. Sasuke kelihatannya benar-benar tidak mempercayai pria itu.

“Kau tahu bukan keadaan Kushina-san sekarang?” Sasuke berbicara dengan datar.

“Ah, iya. Aku sangat khawatir, karena itulah aku langsung terbang dari Jepang ke sini,” Menma tampak sedih, “Aku harap ibu ingat padaku. Aku dulu amnesia, sekarang ingatanku baru kembali. Jadi aku langsung ingin bertemu dengan ibuku.”

Sasuke masih saja terlihat penuh dengan kecurigaan. Sakura tidak tahu kenapa, tapi suaminya itu tampak tidak senang melihat Menma ini. Tampaknya ada masa lalu yang tidak Sakura ketahui soal mereka berdua.

“Kau khawatir... tapi kau sempat makan dulu di sini?” Sasuke tersenyum licik, “Tentu saja kau khawatir.”

Kali ini ekspresi Menma yang berubah. Postur tubuh Menma itu terlihat agak kaku, ia kemudian memaksakan diri untuk tersenyum. 

“Aku punya alasanku sendiri Sasuke,” Menma menjawabnya, “Ah, hari sudah siang. Aku harus bertemu dengan ibu. Sampai jumpa.”

Menma kemudian pamit dengan terburu-buru. Pria itu langsung berlari meninggalkan mereka berdua. 

“Ada sesuatu yang aneh dari orang itu,” Sasuke menatap Menma lagi dari kejauhan.

“Oh ya?”

“Wajahnya memang mirip, tapi sifatnya... gerak-geriknya—” Sasuke tampak bingung, “Ada yang berbeda darinya.”

“Kalian teman saat kecil bukan?” Sakura mengingat-ingat lagi, “Mungkin ia sudah berubah? Sifat orang kan selalu berubah jika sudah semakin dewasa.”

“Kalau ia memang amnesia dan ingatannya baru pulih, kenapa ia tidak langsung menemui ibunya?” Sasuke menatap Sakura dengan serius.

“Mungkin ia takut?” Sakura mencoba untuk memposisikan dirinya sebagai Menma, “Kalau kau sudah lama tidak bertemu dengan ibumu sendiri, bukankah kau pasti takut untuk bertemu? Mungkin ia sangat gugup. Kau tidak boleh berpikiran negatif Sasuke.”

“Hn, terserah kau saja.” Sasuke kemudian berjalan menelusuri pasar itu lagi.

Pria itu tampaknya tidak setuju dengan kata-kata Sakura. Entah apa yang ada di benak Sasuke sekarang. Sakura benar-benar tidak mengerti jalan pikiran suaminya itu. Menma, Sasuke, Kushina... sebenarnya ada apa dengan mereka?

XXX


Langham New York
Image source : langhamhotels.com
“Kenapa aku harus menginap di kamar hotelmu?” Sakura melempar bantal ke wajah Sasuke.

Pria itu sudah mengenakan piyama dan duduk dengan santai di sofa hotelnya. Sakura benar-benar tidak habis pikir. Tsunade sudah memesankan kamar hotel untuk Sakura di hotel bintang empat. Sakura merasa ruangannya juga cukup nyaman. Tiba-tiba suaminya yang aneh ini langsung mengepak kopernya dan menyuruhnya tinggal di kamar hotel bintang limanya saja.

“Tidak usah banyak omong. Berisik sekali.” Sasuke tampak cuek.

“Apa maksudmu berisik?” Sakura melempar satu bantal lagi ke wajah Sasuke, “Kau belum menjawab pertanyaanku!”

“Kau ingin tahu kenapa?” Sasuke akhirnya bangkit dari tempat duduknya, “Kamar hotelmu sempit dan kumuh.”

“Kamar hotelku tidak sempit dan kumuh!” Sakura tampak tidak setuju.

“Kau menyebalkan Sakura.” Sasuke akhirnya berbaring di atas ranjang. Jarak antara dirinya dan Sasuke hanya 3 cm.

“Aku tidak menyebalkan!” Sakura memukul pundak suaminya dengan sekuat tenaga.

“Sudah diam dan biarkan aku tidur,” Sasuke mengeluh. Pria itu akhirnya mematikan lampu kamar dan membelakangi Sakura.


Image source : renters.apartments.com
“Sasuke...” Sakura kemudian mendekatkan dirinya ke sisi suaminya.

“Hm?”

“Kau tadi cemburu ya?”

“Hah?”

Sasuke langsung menyalakan lampu hotelnya lagi dan duduk di atas ranjangnya, “Apa kau sedang mengigau ya?”

“Kau jelas-jelas bertanya apakah ada lelaki tampan di seminarku!” Sakura tampak percaya diri, “Kau cemburu kan? Katakan padaku!”

“Kau sedang mengigau bukan?” Sasuke kelihatan tidak senang.

“Mana mungkin orang yang mengigau membuka matanya bodoh!” Sakura melempar bantal lagi ke wajah Sasuke.

Sasuke kemudian menghela napasnya dan menatap istrinya dengan wajah yang tidak nyaman. Ia kemudian berusaha untuk mengatakan sesuatu, tapi suara tidak keluar dari mulutnya. Suaminya itu... jangan-jangan suaminya itu gugup? Luar biasa! Seorang Uchiha Sasuke gugup! That’s a first. 

“Aku tidak ingin membahas ini lagi,” Sasuke kemudian kembali berbaring di atas ranjangnya dan membelakangi Sakura.

Entah kenapa Sakura merasa dugaannya tepat. Sasuke pasti cemburu. Apa itu artinya... Sasuke suka padanya? Ah! Tidak! Ia tidak boleh terlalu ge-er, nanti kejadian seperti di Gili terulang lagi. Eh tunggu. Kejadian di Gili itu memang Sasuke yang ingin melakukan ‘itu’ kepadanya! Itu artinya ia tidak ge-er... Itu artinya... Sasuke memang... Sasuke memang suka kepadanya?

Sakura kemudian menampar dirinya sendiri. Sakit. Ia tidak mimpi. Ini bohong ya? Bohong bukan? Sasuke tidak mungkin suka padanya. Ia masih ingat pria menyebalkan itu mengenakan seragam SMA dan merobek surat cinta Sakura. Pria itu tidak mungkin suka padanya. Tidak mungkin.

“Sakura....”

“Ya?”

“Kalau kau merasa lelaki-lelaki di seminar tadi tampan...” Suara Sasuke terdengar agak pelan.

“Ya?”

“Kau harus ingat kalau mereka semua dokter operasi plastik. Mereka semua operasi plastik.”

Sakura kemudian langsung tersadar. Sasuke pintar juga. Memang masuk akal sih. Jadi pria-pria tampan yang seperti turun dari langit di seminar tadi hasil operasi plastik semua ya? Sedihnya. Dunia memang kejam. 

“Aku tidak cemburu,” Sasuke melanjutkan lagi, “Aku hanya ingin mengingatkanmu untuk berpikir rasional. Standar ketampananmu kan cukup rendah.”

Wanita berambut pink itu langsung melempar satu bantal lagi ke kepala Sasuke, “Standarku tidak rendah! Sasuke bodoh!”

Sakura tidak melihatnya, namun Sasuke tersenyum hangat di balik kegelapan New York malam itu.  



New York City at Night
Image source : wikipedia.org
XXX

TBC

XXX

Hi there, I hope you like this lovely chapter :) I really enjoyed New York and writing it. Rasanya Gossip Girl dan Carrie Bradshaw membuatku sangat terinspirasi dalam menulis chapter ini. Ah, New york, New york what a lovely place to be... Have a nice day and what do you think of New York? I'm simply in love with New York! Ah, New York I'm in love! How many of you here watch Gossip Girl? Blair Waldorf is my role model!

Next Chapter >>

<<Previous Chapter



6 comments:

My First Love is My Housekeeper Chapter 2

09:06 Melissa Gabriele 0 Comments

My First Love is My Housekeeper!

Chapter 2

Dingin

Disclaimer : I do not own Naruto

Naruto's bedroom
Image source : ealuxe.com

Uzumaki Naruto membuka matanya pelan-pelan. Ia masih merasa luar biasa malas. Ia tidak ingin meninggalkan tempat tidurnya. Pernahkah kau malas mandi? Entah kenapa Uzumaki Naruto sering malas mandi. Saat bangun tidur, rasanya ia masih ingin bersantai-santai dengan piyamanya. Makan pagi dengan piyama, minum kopi dengan piyama dan tentu saja bernyanyi-nyanyi dengan piyama. Ah, kenapa ia harus mandi? Ia tidak mau mandi. Ia juga tidak bau kok. Kenapa ia harus mandi?

Naruto kemudian berjalan keluar dari kamarnya. Saat ia turun ke lantai satu... ia baru tersadar. Di apartemennya ada orang lain selain dirinya. Oh iya! Hinata ada di apartemennya sekarang! Whoa. Hinata terlihat rapih sekali. Rambut hitamnya terlihat sempurna, ia mengenakan gaun sopan yang potongannya jatuh pas di bawah lututnya. Walaupun sebenarnya gaun yang ia pakai sangat sederhana, wanita itu terlihat sangat rapih, formal, dan elegan. 
Naruto's Brooks Brother Pajamas & Hinata's Victoria Beckham Collection
Image source : mrporter.com , net-a-porter

“Selamat pagi Hinata!” Naruto dengan ceria langsung berlari ke ruang makan.

Wanita yang awalnya sedang merapikan meja makan itu langsung membungkuk. Seperti biasa, Hinata memang sangat sopan. 

“Se-selamat pagi, Naruto-kun,” Hinata masih membungkuk.

“Kurasa kau sudah bisa berhenti membungkuk sekarang, Hinata,” Naruto benar-benar merasa seperti kaisar saja, meminta orang lain untuk bangkit berdiri. 

Hinata akhirnya berdiri dengan tegak. Tatapan wanita itu sangat lembut. Rasanya Naruto tidak pernah melihat orang selembut Hinata.

“Sarapan sudah siap,” Hinata dengan sigap langsung berjalan menuju ke dapur. 


Hinata's Eggs Bennedict
Image source : dishmaps.com

Wanita itu terlihat begitu elegan saat membawakan sarapan Naruto. Meskipun ia hanya berjalan sebentar, namun Naruto bisa melihat bahwa Hinata benar-benar berjalan seperti putri kerajaan. Apa Naruto sedang bermimpi? Ia tidak sedang menonton film jaman Heian bukan? Postur Hinata benar-benar sempurna.

Saat piring yang dibawa Hinata diletakkan di atas meja... Naruto langsung terkesima. Mungkin ini adalah makan pagi terindah yang pernah ia lihat. Kalau tidak salah nama hidangan ini adalah Eggs Benedict. Hidangan itu terdiri dari roti inggris, ham, poached egg dan saus hollandaise. Hinata hebat sekali! Ternyata ia bisa memasak masakan Barat juga! Saat Naruto menggunakan garpu untuk memotong roti itu, telur yang sudah dipoached. tadi ikut terbelah menjadi dua. Cairan kuning telurnya keluar dan bercampur dengan saus hollandaise yang juga berwarna kuning. Baru saja Naruto menyantap satu suap makanan itu, ia langsung berkaca-kaca. Hidangan ini enak sekali! Tidak seenak ramen sih, tapi enak sekali!

“Hinata kau hebat sekali!” Naruto langsung berteriak senang, “Kau seperti koki profesional!”

“Terima kasih banyak Naruto-kun,” Hinata membungkuk lagi, “Namun, jika ada yang kurang dari hidangan ini kumohon diberitahu, agar lain kali resepnya bisa dikembangkan.”

Wanita itu benar-benar sopan dan rendah hati. Luar biasa. Naruto benar-benar tidak habis pikir. Kalau wanita pada umumnya, jika dipuji pasti akan berubah menjadi manja atau malah justru tambah sombong. Ada juga wanita yang akan berbasa-basi dan menyanggah Naruto. Kata-kata seperti ‘Ah tidak, Naruto bisa saja’ sering Naruto dengar... tapi reaksi seperti Hinata itu belum pernah Naruto lihat sebelumnya. Wanita itu berterima kasih sambil membungkuk, kemudian ia malah meminta kritik dan saran! Luar biasa! Hinata itu sebenarnya manusia atau malaikat sih? Dia pasti sebuah keajaiban dunia! Dia baik hati, rendah hati dan sopan. 

“Kau rendah hati sekali Hinata!” Naruto berbicara sambil mengunyah sarapan paginya, “Mmph... Jarang ada orang sepertimu!”

Wanita itu akhirnya berterima kasih lagi dan membungkuk lagi. Lucu sekali! Naruto benar-benar suka memuji Hinata. 

Kali ini Naruto menggenggam tangan Hinata, “Kau benar-benar luar biasa Hinata!”

Naruto menunggu wanita itu berterima kasih dan membungkuk lagi. Sayangnya hal itu tidak terjadi. Kali ini Hinata langsung menepis tangannya. Wajahnya tampak pucat dan ia terlihat menggigil kedinginan. Wanita itu terlihat ketakutan. Naruto tidak tahu apa yang terjadi, namun ia jadi ikut panik. Tiba-tiba Hinata langsung terjatuh dan berlutut di atas lantai. Kelihatannya tubuhnya lemas sekali. Ia terus menggigil.  

“Hinata!” Naruto langsung bangkit berdiri, “Apa kau baik-baik saja?” 

“Maafkan aku.” Hinata terlihat semakin pucat.

“Aduh! Kenapa kau meminta maaf? Kalau kau sakit itu bukan salahmu!” Naruto tampak benar-benar khawatir.

“Tidak ini salahku, aku belum memberitahumu sebelumnya,” Suara Hinata gemetaran, “Sebenarnya... aku trauma jika orang menggenggam tanganku.”

Ah! Naruto kau bodoh! Kau bodoh sekali! Kenapa kau malah membuat Hinata seperti ini? Ini semua salahmu! Ini semua karena kau menggenggam tangannya!

“Maafkan aku Hinata!” Naruto benar-benar bingung harus berbuat apa, “Ah! Apa yang harus kulakukan-ttebayo?!”

“Tenang saja, Naruto-kun,” Hinata tersenyum pahit, “Hal ini sudah sering terjadi kepadaku.”

Sudah sering terjadi? Jadi setiap kali ada orang yang menggenggam tangannya Hinata akan terus seperti ini? Jadi ia tidak pernah berjabat tangan? Untung saja Hinata tinggal di Jepang. Di negara ini orang-orang saling memberi salam dengan membungkuk, bukan dengan berjabat tangan. Bayangkan kalau ia tinggal di luar negeri. Hinata pasti akan kejang-kejang terus!

Ya ampun, kalau dipikir-pikir Hinata berarti tidak pernah bergandengan tangan dengan pacarnya? Berdansa dengan pacarnya? Jangan-jangan Hinata belum pernah punya pacar? Pasti Hinata melewati hari-hari yang berat. Naruto juga belum pernah punya pacar, tapi paling tidak ia tidak punya trauma seperti ini. Setahu Naruto, trauma kan sulit untuk diobati. Lihat tubuh Hinata, wanita itu begitu lemah. Sekarang ia harus menggigil kedinginan seperti itu.

“Hinata, apa kau kedinginan?” Naruto ikut berlutut dan menatap Hinata dengan hangat.

“Aku tidak apa-apa, Naruto-kun,” Hinata mencoba untuk bersikap tenang, namun rahangnya masih gemetaran.

Naruto tidak tahan melihat wanita itu terus gemetaran. Ia akhirnya melepas piyamanya dan memakaikan kemeja piyamanya ke tubuh Hinata. Naruto memang telanjang dada sekarang, tapi itu tidak penting. Yang penting Hinata berhenti menggigil. Sekarang yang paling penting... Hinata cepat pulih.

“Na-naruto-kun?”

Sejujurnya ia tidak begitu bisa menerka wajah Hinata. Wanita itu penuh dengan teka-teki. Ia hanya tahu wajah pucat Hinata sekarang sudah mulai segar. Kulit putih porselennya sekarang sudah merah merona. Baguslah… Wanita itu sudah tampak lebih sehat.

“Sekarang aku akan mengambil selimut yang banyak!” Naruto berteriak dan langsung berlari ke kamarnya.

Dengan secepat kilat ia membawa empat selimut tebal dari kamarnya. Ia mungkin terlihat seperti orang bodoh sekarang, tapi... Meh. Who cares? Ia tidak peduli, pokoknya ia tidak ingin melihat Hinata kedinginan karena salah Naruto. 


Naruto's Blankets
Image source : cleveland.com


Naruto kemudian melingkarkan empat selimut tebal itu ke tubuh Hinata. Wanita itu sekarang terlihat agak konyol... tapi tidak apa-apa. Kelihatannya ia sudah tidak menggigil lagi.

“Eh? A-apa ini?” Hinata benar-benar kebingungan.

Naruto kemudian tertawa lepas. Hinata terlihat seperti anak hamster yang diselimuti oleh serutan kayu. Lucu sekali! Wajah bingung Hinata benar-benar mirip dengan anak hamster!

“Kau sudah tidak gemetaran lagi,” Naruto tersenyum hangat, “Baguslah.... Kau benar-benar membuatku sakit jantung Hinata! Untunglah kau sudah tidak apa-apa sekarang.”

Hinata tampak kebingungan. Mungkin di mata Hinata, Naruto adalah orang terkonyol sejagad raya. Ya sudahlah, mau diapakan lagi... yang penting wanita itu baik-baik saja.

Hm, tapi trauma ya? Sebenarnya kenapa Hinata bisa trauma? Masa lalu apa yang tersembunyi dibalik perilakunya hari ini? Wajah pucat itu, jemari yang sedingin es... lalu tubuhnya yang gemetaran itu... sebenarnya kenapa ia bisa seperti itu? Naruto hanya bisa menatap wajah polos Hinata dengan lembut. Ia ingin bertanya, namun ia juga tidak berani bertanya. Ia takut, jika ia bertanya soal itu... trauma wanita itu akan muncul lagi. 

Kali ini Naruto menatap jemari tangannya. Ini semua salahnya karena memegang tangan Hinata seenaknya. Sebenarnya selama ini Naruto selalu saja berbuat seenaknya, berbicara seenaknya, bergerak seenaknya. Ia terlalu impulsif. Ia sangat berbeda dengan Hinata. Wanita itu begitu sopan dan hati-hati. Setiap kata-kata yang keluar dari mulut kecil Hinata pasti sudah dipikirkan dengan matang-matang. Teman SD Naruto itu begitu dewasa, sangat berbeda dengan dirinya... 

Naruto, harus berubah. Paling tidak di dekat Hinata... ia tidak boleh impulsif lagi. Ia harus lebih hati-hati. Ia tidak boleh seenaknya lagi. Kali ini ia tidak boleh lagi menjadi orang yang membuat Hinata menggigil seperti itu. Hinata... sebenarnya kenapa ia bisa seperti itu? Siapa yang berani membuatnya menjadi trauma begitu?

XXX


Bouquet of red roses
Image source : familyfuncartoons.com

“Karena kau cantik,” Naruto tersenyum hangat dan memberikan satu buket bunga mawar kepada kamera yang ada di hadapannya.

Kamera itu menangkap adegan itu dengan sempurna. Setelah adegan itu selesai, kamera lain menangkap sisi kanan Naruto. Pandangan Naruto akhirnya berpindah dari kamera. Kali ini ia menatap seorang gadis cantik berambut pirang. Gadis itu ikut tersenyum, kemudian gadis itu menerima buket mawar Naruto dengan elegan.


Ino's Ashi Studio Couture Dress
Image source : weddinginspirasi.com
Iringan musik romantis terdengar dari speaker. Musik itu adalah cue Naruto untuk meraih tangan gadis itu. Setelah ia meraih tangan itu, ia langsung mengecupnya dengan lembut. 

“Mawar ini harum sekali,” Wanita berambut pirang itu tersenyum dengan cantik.

“Tidak seharum dirimu,” Naruto sebenarnya merasa mual mengatakan hal gombal seperti ini, tapi mau diapakan lagi, ini memang pekerjaannya.

Setelah adegan itu selesai, iringan lagunya terdengar lebih kencang. Kali ini suara narator terdengar dari speaker itu, “Parfum Roses, untuk wangi mawar yang abadi.”  

“Cut! Bagus sekali! Kerja bagus, semuanya.”

Akhirnya, Naruto bisa kembali menjadi dirinya sendiri. Sudah empat puluh kali adegan itu diulang. Naruto sebenarnya pandai berakting. Ia juga sudah biasa membintangi adegan semacam ini.... Biasanya ia bisa menyelesaikan scene seperti ini dengan cepat, tapi hari ini berbeda, ia tidak bisa berkonsentrasi. Sejak tadi Naruto terus mengingat Hinata. Ia merasa bersalah telah melakukan hal itu kepada Hinata. Aktor muda itu benar-benar tidak tahu kalau Hinata trauma sampai seperti itu. Entah masa lalu apa yang membuat wanita itu trauma. Cih! Naruto pasti akan menghajar penjahat yang memberikan trauma itu kepada Hinata.

“Ah, Naruto.” Wanita berambut pirang tadi datang dan menatap Naruto dengan tatapan merendahkan. “Akhirnya setelah seratus kali take kita berhasil menyelesaikan iklan ini juga ya.”


Ino's Ashi Studio Couture Dress
Image source : weddinginspirasi.com
“Empat puluh kali, Ino,” Naruto mengoreksi kata-kata wanita itu, “Bukan seratus kali.”

“Ah ya, empat puluh kali ya.” Yamanaka Ino terlihat tidak peduli.

Naruto tidak tahu harus merespon tanggapan itu dengan apa. Ino memang terkenal lumayan menyebalkan di kalangan para artis. Naruto tidak pernah bekerja dengan artis itu sebelumnya jadi ia tidak mempercayai kata-kata orang banyak... Ternyata Ino memang menyebalkan. Sepanjang empat puluh kali take iklan ini, wanita berambut pirang itu selalu saja berteriak kepanasan atau memanggil krunya untuk membetulkan make upnya.

“Kudengar kau berteman akrab dengan Sakura ya?” Ino mengibaskan rambut pirangnya yang lurus dan indah sambil menatap Naruto dengan sombong, “Bagaimana kabar si dahi lebar itu?” 

Dahi lebar? Naruto pernah mendengar gosip kalau Ino dan Sakura itu saingan besar sejak mereka debut sih. Ia tidak menyangka rumor ini ternyata benar. Ino terlihat begitu sombong, entah kenapa wanita itu menganggap dirinya cantik. Menurut Naruto, Sakura seratus kali jauh lebih cantik dari Ino.

“Uh... Sakura-chan baik-baik saja sih, ia sekarang sedang—”

“Ah!” Ino tiba-tiba memotong kata-kata Naruto, “Aku tahu! Ia gagal membintangi drama cinta lagi bukan? Wanita seperti dia memang cocoknya menjadi wanita kasar di film-film action. Wajahnya sangat mendukung.” 

Oh ya, Yamanaka Ino memang sering membintangi sinetron cinta dan drama komedi. Naruto dengar, setiap kali Ino yang menjadi pemeran utamanya, rating drama itu pasti bagus. Apa karena itulah sifat Ino menjadi sombong seperti ini? 

“Hei! Kau tidak boleh menjelek-jelekkan Sakura-chan seperti itu!” Naruto langsung terlihat tidak senang, “Kalau kau ingin tahu, Sakura-chan itu jauh lebih—”

“Naruto,” Suara seorang pria yang sangat Naruto kenal tiba-tiba membuatnya terdiam. Suara itu... Suara Uchiha Sasuke!

“Ta-tampan sekali....” Ino terlihat seperti wanita yang baru saja melihat artis. Padahal, Sasuke bukan artis.


Naruto's Black Armani Suit, Sasuke's Grey Burberry Suit
Image Source : saksfifthavenue.com , saksfifthavenue.com
Yah, meskipun bukan artis... Sasuke memang kaya sih. Ayahnya adalah pemilik sekaligus pendiri dari Uchiha TV. Stasiun televisi terbesar di Jepang yang menayangkan sinetron dan acara hiburan lainnya. Sayangnya Sasuke sama sekali tidak tertarik dengan dunia hiburan. Pria itu malah pergi dan bersekolah di Perancis. Naruto lupa sih ia sekolah apa... Mereka berteman baik saat SMA. Namun, saat Sasuke meneruskan sekolahnya di luar negeri, mereka sudah tidak banyak berbicara lagi. Entah apa pekerjaan Sasuke sekarang.

“Naruto, aku harus berbicara denganmu sekarang,” Sasuke berjalan pergi dari studio kecil tanpa menghiraukan Ino.

Naruto berlari menuju ke café kecil di dekat studio itu. Di sana Uchiha Sasuke sudah duduk sendirian menunggu Naruto. Pria itu terlihat sangat dingin dan serius. Ia tidak berubah, dari SMA sampai sekarang tetap saja sok keren.


Café Coutume Aoyama
Image source : archinew.altervista.org

“Kau tidak berubah ya, tetap saja sok misterius...” Naruto ikut duduk, “Rasanya menakutkan tahu. Seperti melihat vampir.”

“Kau juga tidak berubah,” Sasuke menanggapinya dengan tenang, “Tetap bodoh dan impulsif.”

“Aku tidak impulsif! Sakura-chan, sahabatku sedang dijelek-jelekkan! Padahal Sakura-chan cantik sekali.” Naruto tampak marah. “Eh! Si Ino itu malah mencaci-maki Sakura-chan seperti itu.”

“Ino itu siapa? Sakura itu siapa?” Sasuke tampak bingung, tapi kemudian ia kembali berkata dengan dingin, “On second thought... Itu tidak penting. Aku tidak peduli.”

“Kau terlalu lama di Perancis sampai-sampai tidak kenal artis Jepang ya?” Naruto menggeleng-gelengkan kepalanya. “Ah sudahlah, bagaimana? Kau kerja apa sekarang?”

“Aku bekerja sebagai chef di restoran bintang tiga, Pierre Gagnaire.” Sasuke memanggil waitress kemudian memesan kopi. 

Naruto juga ikut memesan kopi kemudian ia kembali berbicara, “Wow! Keren sekali! Kau menjadi koki bidang apa? Kepala chef? Sous-chef? Kau pasti mirip Gordon Ramsay! Galak dan menakutkan! Whoo... Lihat aku! Aku Uchiha Sasuke! aku Jenius! Kalian semua sampah!”

“Pâtisserie.”

“Apa?!”

“Kau bertanya aku koki bidang apa kan?” Sasuke terlihat tenang. “Pâtisserie.” 

Jawaban Sasuke membuat Naruto membatu. Sasuke menjadi koki di bidang makanan penutup?! Sasuke membuat kue?! Apa Naruto tidak salah dengar? Saat SMA dulu Sasuke selalu menolak cokelat yang diberikan gadis-gadis karena ia benci makanan manis. Kenapa pria gila ini malah menjadi koki di bidang makanan manis?!

“Bukankah kau benci makanan manis?! Kau kenapa Sasuke?! Apa kau sudah gila? Jangan-jangan kau kecanduan obat? Apa jangan-jangan kau demam permanen?!” Naruto setengah berteriak.

“Cukup soal aku....” Sasuke menanggapinya dengan dingin, “Aku butuh bantuanmu.” 

Kalau dipikir-pikir Sasuke jarang sekali meminta bantuan Naruto. Pria itu bahkan sampai melacak Naruto ada dimana. Yah wajar sih pria itu tahu. Sasuke kan putra dari pemilik Uchiha TV. Pria itu pasti tahu jadwal Naruto dari bawahannya. 

“Aku ingin kau ikut reality show baruku,” Sasuke tampak serius. Ternyata walau sudah bekerja sebagai chef, ia masih bertanggung jawab atas usaha keluarganya. 

“Aku ikut!” Naruto tampak senang, ia suka reality show, di acara seperti itu Naruto bisa menjadi dirinya sendiri, “Kau mau buat program apa? Running man?! Program olahraga?!”

“Masterchef Celebrity,” Sasuke menjawab dengan tenang, “Jadi hanya artis yang boleh ikut.”

APA?! Masterchef? Itu kan program televisi ajang pencarian bakat memasak yang awalnya berasal dari Amerika. Tidak! Naruto tidak bisa memasak! Ia tidak bisa sama sekali! Jika Naruto muncul di acara itu, ia pasti akan gagal di babak pertama! Sasuke pasti sedang bercanda bukan?!

“Sebenarnya audisi sudah dimulai,” Kopi Sasuke datang dan ia menghirup kopi itu sebelum akhirnya berbicara lagi dengan Naruto, “Tapi kau tidak harus audisi. Kau langsung masuk babak pertama saja.”


Sasuke's Coffee
Image Source : pinterest.com

“Kau gila-ttebayo!” Naruto tampak panik, “Selama ini aku selalu masak makanan instan! Aku biasanya ditraktir oleh klien dan kadang dibawakan bento oleh fansku! Aku tidak pernah masak— Aku tidak bisa masak-ttebayo!”

“Kalau begitu belajar,” Sasuke tampak kesal, “Aku butuh artis terkenal agar acara ini ditonton orang banyak. Lagipula standar memasak artis kan rendah semua. Kau pasti bisa bertahan.”

“Kalau begitu jangan pilih aku! Cari artis lain!” Naruto tampak panik, “Oh, uh. Aku tahu! Aku akan menghubungi teman-temanku yang lain! Ah! Sakura-chan! Sakura-chan sepertinya pintar masak! Lalu, uh... Chouji! Eh, Chouji mah suka makan bukannya pintar masak! Aduh siapa ya?”

“Tidak. Kau harus ikut,” Sasuke menatap mata Naruto tajam-tajam, “Kau adalah artis paling populer di Jepang saat ini. Kalau kau ikut, 90% warga Jepang pasti akan menontonnya.”

Wajah Sasuke tampak sangat serius. Naruto tidak pernah melihatnya seserius itu. Well, mereka memang sahabat baik sih waktu SMA. Meskipun pria itu sudah tidak menghubungi Naruto lagi sejak kuliah, sahabat tetap saja sahabat. Pertemanan mereka tidak pernah hilang.

“Kalau kau memaksa apa boleh buat,” Naruto menghela napasnya, “Tapi kalau aku dieliminasi di babak pertama jangan salahkan aku-ttebayo!”

“Hidangan babak pertama adalah lemon meringue tart,” Sasuke menghabiskan kopinya, “Tuh sudah kuberikan bocoran, jadi latihan yang benar.”

“Cih! Walau latihan pun pasti dieliminasi-ttebayo!” Naruto mengeluh.

“Terserah kau saja,” Sasuke tampak seperti mau membunuh orang.

Sial. Kelihatannya Sasuke benar-benar serius memikirkan kompetisi ini. Sebenarnya anak gila itu kenapa sih? Rasanya tidak seperti Sasuke yang ia kenal dulu. Well, lagaknya dan caranya berbicara masih sama sih. Pria itu masih sok keren, dingin dan menyebalkan... Tapi memasak? Kue? You’ve gotta be kidding me. Dia pasti sudah gila. 

“Hei, Sasuke,” Naruto menatap sahabatnya dengan serius, “Kenapa kue? Kenapa tiba-tiba kau suka makanan manis?”

“Aku benci makanan manis,” Sasuke menatap cangkir kopinya dengan dingin.

“Hah? Lalu kenapa sekolah masak dan menjadi koki di bidang makanan penutup?” Naruto benar-benar tidak habis pikir.

“Kakak laki-lakiku.... Ia selalu ingin menjadi seorang pâtisserie, tapi ia—” Sasuke tiba-tiba berhenti berbicara.

“Tapi kenapa Sasuke? Kau tidak boleh begitu tahu! Kau harusnya mengejar mimpimu sendiri bukannya mimpi orang lain!” Naruto menceramahi sahabatnya.

“Sudahlah, ini bukan urusanmu,” Sasuke tampak tidak senang, “Aku harus pergi sekarang.” 

Cih. Dasar manusia aneh. Naruto benar-benar tidak mengerti kenapa Uchiha Sasuke sangat tertutup. Pria itu seperti dikelilingi oleh tembok pertahanan saja. Naruto benar-benar tidak habis pikir. Ya sudahlah, sekarang ia harus latihan membuat kue. Apa tadi... lemon meringue tart? Wah, mungkin Hinata bisa mengajarinya! 

Eh, tapi masa Naruto merepotkan Hinata lagi? Ah! Ini tidak lucu! Tadi ia baru saja membuat wanita itu trauma, sekarang masa ia meminta bantuan Hinata? Well, tapi teman SDnya itu pasti sangat ahli dalam membuat hidangan ini. Bagaimana ya? Oh ya, lebih baik Naruto memberikan wanita itu hadiah! Wanita suka apa ya? Baju? Tas? sepatu? Ah, lebih baik tanya Sakura-chan. Sakura pasti tahu ukuran baju, tas dan sepatu Hinata!

XXX


Naruto's Shopping Bags
Image source : blog.livedoor.jp


Melelahkan! Ternyata belanja pakaian wanita itu melelahkan! Saat Naruto sampai di depan pintu apartemennya, ia menghela napasnya. Lima kru filmnya berdiri di belakang Naruto dan membantunya membawakan barang belanjaan. Kalau ada orang yang melihat Naruto sekarang, mereka pasti akan berpikir kalau Naruto itu pria mesos. Pria metroseksual. Pria yang senang memanjakan dirinya, terlalu peduli akan penampilan dan ingin menjadi pusat perhatian. Barang bawaan Naruto juga tidak tanggung-tanggung. Tulisan Prada, Balenciaga, Chanel sampai Comme des Garçons menghiasi paperbag yang dibawa krunya. Orang-orang pasti berpikir kalau Naruto itu mengikuti tren dan fashion masa kini. Naruto itu mesos. 

Sebenarnya Naruto tidak suka memakai barang branded. Meskipun ia sudah menjadi artis, ia biasanya hanya belanja di Cotton On atau Uniqlo. Biasanya barang-barang branded yang ia pakai adalah sponsor dari klien. Hari ini pengecualian. Ia ingin meminta maaf sekaligus meminta bantuan dari Hinata. Naruto ingin memberikan yang terbaik untuk Hinata.

“Ini semua untuk pembantu rumah tangga anda?” Salah satu kru Naruto tampak kebingungan.

“Teman SD!” Naruto mengoreksi krunya, “Ia teman SD yang baik hati!”

“Eh?! Pacar Uzumaki-san ternyata teman SDnya sendiri?! Romantis sekali!”

“Bukan pacar! Aku berhutang budi padanya jadi...” Naruto tiba-tiba sadar kalau empat krunya yang lain sudah mulai keberatan membawa barang bawaannya, “Sudah! Sudah! Ayo kita masuk-ttebayo!”

Saat pintu itu terbuka. Naruto dapat melihat Hinata yang sedang membersihkan lantai. Wanita itu sedang berlutut dan membersihkan lantai Naruto dengan kain basah. 

“Hinata!” Naruto langsung berlari menuju ke dekat wanita itu dan tersenyum hangat, “Aku membawakanmu hadiah!”

Naruto kemudian menunjuk semua barang belanjaanya. Lima orang krunya yang terlihat kelelahan langsung meletakkan barang belanjaan Naruto di atas lantai. 


Naruto's Shopping Spree
Image source : pinterest.com

“Eh?” Hinata tampak kaget, kemudian memberi salam kepada kelima kru Naruto, “Terima kasih tapi... aku—”

“Sudah tidak ada tapi-tapian!” Naruto ikut berlutut dan menatap mata Hinata.

“Ba-baiklah,” Hinata yang sedang berlutut langsung bersujud untuk berterima kasih, “Terima kasih banyak.”

“Tidak usah bersujud seperti itu-ttebayo! Oh ya! Aku membawakanmu tas channel tv dan Giv— uh, Givenchy anti guna-guna!” Naruto tersenyum bodoh.


Chanel Classic Large Flap Bag
Image source : chanel.com


Kemudian salah satu kru Naruto yang tubuhnya paling pendek langsung tertawa, nama kru itu adalah Rock Lee, “Naruto-kun, tas Chanel, bukan channel tv. Terus tas itu namanya Givenchy Antigona, bukan anti guna-guna...”


Givenchy Antigona Tote
Image source : farfetch.com


“Ah iya itu!” Naruto tertawa malu, “Tapi masih ada tas yang belum datang. Bagus deh Hinata! Namanya tas Herpes!”

“Oh, tas Herpes ya? Kedengarannya...” Hinata terlihat bingung, tapi ia mencoba untuk tetap terlihat sopan, “Unik... Kedengarannya unik.” 

Kru Naruto lagi-lagi tertawa kecil.

“Bukan tas Herpes,” Salah satu kru Naruto langsung membetulkan Naruto, “Uzumaki-san, tas Hermes, bukan tas Herpes.”

“Ah ya! Tas Hermes! Tadi aku bilang Hermes-ttebayo!” Naruto langsung panik, “Yak! Sudah kalian semua boleh pulang! Terima kasih atas kerja keras kalian! Sampai jumpa!”

“Uzumaki-san—”

“Yak! Pulang! Pulang semuanya!” Wajah Naruto terlihat seperti kepiting kepanasan.

Saat semua kru itu pamit dan akhirnya pergi pulang, Naruto langsung menghela napasnya. Bagus. Sekarang Hinata pasti akan berpikir kalau Naruto itu bodoh. Mesos dan bodoh. Bagus sekali. Kenapa dari semua kru yang Naruto punya harus lima orang itu yang datang? Ah sial! Kenapa juga sih Naruto bisa salah menghafal nama-nama tas tadi? Sial. Namanya susah sekali sih! Lebih susah dari nama mobil! Damn it. Dasar dunia mode. Kelihatannya semakin susah namanya semakin mahal harganya.

“Hinata lupakan soal tadi!” Naruto langsung mengeluarkan bahan-bahan membuat kue dari salah satu tumpukan belanjaanya, “Ajarkan aku membuat lemon meringue tart!”


Ingredients
Image source : pixgood.com


“Naruto-kun ingin belajar masak?” Hinata terlihat bingung kemudian ia tersenyum tipis, “Lemon meringue tart ya? Aku punya resep kue itu dari guru masakku dulu.”

“Wow! Keren sekali!” Naruto terlihat bersemangat, “Kau punya guru masak juga Hinata?! Keren!”

“Iya, namanya Uchiha Mikoto.”

Mikoto? Uchiha? Uchiha Mikoto? Naruto pernah mendengar nama itu sebelumnya. Ah! Uchiha Mikoto adalah ibu dari Uchiha Sasuke! Istri dari pemilik Uchiha TV! Kalau Naruto tidak salah dengar, waktu awal masuk SMA dulu, Mikoto bercerai dengan ayah Sasuke. Semenjak itu Sasuke tidak pernah membahas soal ibunya lagi. Wow... Wanita itu ternyata guru Hinata?!

“Wow! Kenapa ia bisa mengajarkanmu memasak Hinata?” Naruto terlihat bingung.

“Iya, sensei kebetulan sangat menyukai upacara minum teh, jadi ia dekat dengan orangtuaku,” Hinata menjelaskan.

“Aku ingin bertemu dengannya suatu hari nanti! Wow!” Naruto berdecak kagum, “Guru dari seorang Hyuuga Hinata! Pasti hebat sekali!”

“Aku juga sudah lama tidak bertemu dengan beliau,” Hinata bangkit berdiri dan merapikan kain basah dan peralatan pembersih lainnya, “Kudengar ia sekarang sedang berada di luar negeri. Sensei sangat gemar pergi dari satu negara ke negara lainnya untuk belajar memasak.”

“Walau sudah tua ia tetap rajin belajar ya!” Naruto terlihat kagum.

“Tentu saja Naruto-kun,” Senyuman Hinata terlihat begitu dewasa dan bijak, “Umur tidaklah penting, setiap orang di dunia ini tidak boleh berhenti belajar. Jika seseorang berhenti belajar, maka dirinya tidak akan berkembang. Karena itulah aku akan selalu belajar agar aku bisa membuat kue yang lebih baik lagi.”

Senyuman itu. Naruto tidak bisa membeli senyuman itu. Hinata tidak terlihat sebahagia ini ketika ia melihat tas-tas merek ternama yang Naruto beli. Ia juga tidak terlihat sebahagia ini ketika Naruto memujinya. Hinata justru tersenyum dengan lembut dan tulus seperti itu ketika membicarakan soal kerja keras dan mimpi. Hinata dari SD hingga sekarang selalu saja terlihat bijaksana ketika membicarakan soal kerja keras. Hal semacam ini sulit sekali Naruto temukan di dunia ini. Ternyata memang ada orang yang begitu dewasa seperti Hinata.

“Aku masih harus banyak belajar darimu-ttebayo,” Naruto menggaruk-garuk kepalanya.

“Soal kue? Tidak apa-apa, asalkan Naruto-kun punya semangat untuk belajar, kau pasti bisa membuat kue yang enak,” Hinata tersenyum dan membungkuk lagi dengan sopan.

Bukan hanya soal kue. Naruto benar-benar masih harus banyak belajar dari Hinata. Cara berbicara gadis itu, cara berpikir gadis itu, postur gadis itu, kerja keras gadis itu, empati gadis itu... semuanya. Naruto tidak mengerti kenapa hanya dengan mendengarkan gadis itu berbicara saja, ia sudah belajar banyak dari Hinata. 

“Aku permisi dulu,” Wanita itu kembali berbicara, “Aku akan segera kembali dengan buku resepku, kemudian kita bisa mulai belajar membuat kue.”

“Siap sensei!” Naruto langsung memberikan salute dan bergaya seperti prajurit yang sedang memberi hormat kepada kolonelnya. 

Melihat Naruto, Hinata langsung menahan tawanya. Luar biasa, bahkan cara menahan tawa Hinata juga sangat sopan. Ia menutup mulutnya dengan tangan kanannya dan tidak mengeluarkan suara. Naruto sebenarnya baru melihat pembantu rumah tangganya tertawa atau melihat bangsawan inggris sedang minum teh sore? Hyuuga Hinata. Sebenarnya dia itu siapa sih? 

XXX


Elio Locanda Italiana Restaurant
Image source : tokyofood.blog128.fc2.com
Lima kru Naruto terlihat sedang bersantai di sebuah restoran Italia terkenal di Tokyo. Mereka tampak sangat akrab. Tidak jarang salah satu kru tertawa terbahak-bahak, kemudian kru lainnya menepuk-nepuk meja karena tidak bisa menahan tawanya. Anehnya, ada satu kru yang tampak begitu serius mengetik di laptopnya. 


Image Source : metropolis.co.jp
“Kau sedang apa? Lee-san?” Salah satu kru Naruto menaikkan alisnya ketika ia melihat kru yang bernama Rock Lee itu mengetik dengan serius di laptopnya.

“Kau tidak merasa Naruto-kun itu terlihat sedang jatuh cinta?” Lee terus mengetik di laptopnya dengan serius.

“Sedikit sih,” Kru itu terlihat agak ragu tapi kemudian ia kembali berbicara, “Eh! Kalau dipikir-pikir jangan-jangan Uzumaki-san sebenarnya berpacaran dengan pembantu rumah tangganya sendiri?!”

“Itu yang kupikirkan,” Lee menerawang jauh, kemudian ia menarik kesimpulan sendiri, “Ini cinta terlarang. Cinta antara majikan dan pembantunya!”

“Eh?!” Kru itu terlihat kaget, kemudian ia setengah berteriak, “Jangan-jangan Uzumaki-san yang memaksa pembantunya untuk XXX kemudian ia XXX kemudian ia XXX!! Karena itulah ia membeli banyak sekali barang-barang branded untuk wanita itu!”


Image source : foodgawker.com
“Ini adalah skandal!” Lee setengah berteriak, kemudian ia bangkit berdiri karena terlalu bersemangat “Naruto-kun menyimpan wanita di apartemennya!”

“Sssh!” Salah satu krunya langsung panik, “Jangan keras-keras nanti ada yang mendengar! Ini tempat umum!”

Mereka sudah terlambat. Pengunjung restoran itu tampak kaget melihat Rock Lee bangkit berdiri sambil setengah berteriak seperti itu. Kelihatannya Naruto yang biasanya bebas dari skandal akan menerima berita aneh besok pagi.

XXX

TBC

XXX

It's finally up! The second chapter! Semoga kalian menyukainya! Have a wonderful day and feel free to leave a comment below! I will reply :) Menuliskan ini membuatku bahagia. Chapter 2 sangat ringan dan menyenangkan untuk di tulis. Aku sangat menyukai Hinata yang sopan dan baik hati, apakah kalian menyukainya juga? Leave a comment below!!

Next Chapter >>

<<Previous Chapter

0 comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...