Marrying Uchiha Sasuke : Chapter 14

09:07 Melissa Gabriele 6 Comments

Marrying Uchiha Sasuke

Chapter 14

New York State of Mind

Disclaimer : I do not own Naruto


Central Park, New York
Image source : thewowstyle.com

New york, Central Park. 

Seperti kata orang banyak, New York memang sangat mempesona. Kota ini sangat sibuk dan ramai, tapi setiap sudut kota ini memiliki sentuhan unik tersendiri. Kali ini Sakura sedang berada di Central Park. Taman terindah di New York yang terletak tepat di tengah-tengah kota. Taman ini penuh dengan pepohonan hijau, danau-danau kecil dan hiasan taman. 


Image source: www.nycgo.com

Kenapa Sakura bisa berada di sini? Sebenarnya ia sendiri juga tidak percaya dirinya bisa berada di New York. Biasanya pria dingin yang berpura-pura menjadi suaminya itulah yang selalu mengajaknya— eh tidak, memaksanya untuk berkeliling dunia. Kali ini hal yang mengejutkan terjadi. Tsunade, pemilik dari rumah sakit dimana ia bekerjalah yang memaksanya. Sakura dinas ke luar negeri! Luar biasa. Sebagai seorang dokter operasi plastik, ia jarang sekali dinas ke luar negeri.

Sakura duduk di kursi kecil Central Park sambil menikmati konser musik klasik di taman itu. Di sebelahnya duduk seorang dokter operasi plastik terkenal Jepang yang telah lama tinggal di New York. Nama dokter itu adalah Kimura Chiyo. Walau sudah berumur 74 tahun, Chiyo tetap bekerja di bidang medis. Ia memang tidak praktik lagi, tapi ia sering mengajarkan dokter-dokter muda. Cara ia mengajar cukup unik, ia hanya memberikan seminar sebentar, kemudian ia akan mengajak orang yang diajarkannya untuk mendengarkan konser musik klasik.


Image source : nycgovparks.org

“Chiyo-baasama apa nama aransemen ini?” Sakura menyukai musik ini, entah kenapa perpaduannya sangat ringan dan menenangkan.



Wanita itu tidak menjawabnya.

“Chiyo-baasama?”

Wanita itu masih tidak menjawabnya.

Sakura terlihat panik. Entah kenapa wanita yang duduk di sampingnya tampak seperti mayat. Wanita itu tidak membuka matanya. Ia juga tidak terlihat seperti sedang tidur. Ia terlihat seperti... Tidak! Tidak Sakura. Mungkin Nenek Chiyo tertidur karena musik klasik ini terlalu pelan…. Tapi itu tidak mungkin terjadi! Chiyo sangat menyukai musik klasik! Orang yang menyukai musik klasik tidak mungkin tertidur saat konser! Jangan-jangan... ia sudah... sudah... meninggal? Umur wanita itu memang sudah tua, tapi... tidak mungkin! Tidak! Sejak tadi ia terlihat sehat dan ia sempat bercanda tawa dengan Sakura!

“Chiyo-baasama!” Kali ini Sakura setengah berteriak.


Sakura's B&W Derek Lam Dress, Chiyo's Vilshenko Floral Dress
Image source : net-a-porter.com , net-a-porter.com
Chiyo tertawa lepas. Wanita itu tampaknya hanya menjahili Sakura dengan berpura-pura meninggal. Luar biasa! Selera humor Chiyo, membuat Sakura sakit jantung. Jika nenek ini berpura-pura lagi, Sakura tidak tahu lagi harus bereaksi seperti apa.

“Kau lucu sekali Sakura!” Chiyo masih tertawa.

“Chiyo-baasama, kau membuatku kaget!” Sakura menyeka keringat dingin di pelipisnya.

“Aku masih terlalu sehat untuk mati!” Chiyo memuji dirinya sendiri.

“Jangan pernah melakukan hal itu lagi Chiyo-baasama!” Sakura menghela napasnya, “Oh iya, ngomong-ngomong nama aransemen ini apa? Bagus sekali....”

“Namanya Dvorak: Serenade in E major, Op. 22, B. 52.” Chiyo tersenyum sambil menikmati suara gesekan biola yang halus di taman itu.

“Aku juga sangat menikmati chamber music,” ujar Sakura, “Rasanya lebih tenang dan santai untuk didengar. Pachelbel’s Canon in D adalah lagu pertama yang mengenalkanku pada chamber music.”  

“Begitukah?” Chiyo melanjutkan, “Kimura Sasori... ia juga sangat menyukai Canon in D.”

“Kimura Sasori?” Sakura terlihat bingung. “Apakah dia adalah suamimu?”

“Bukan,” Chiyo menjawabnya sambil tersenyum masam. “Sasori adalah cucuku.”

“Oh ya? Dimana dia sekarang?”

“Entahlah... Mungkin di Seoul... Mungkin juga sudah meninggal.” Chiyo menjelaskan

Sakura salah. Ia seharusnya tidak menanyakan soal Sasori. Senyuman di wajah Chiyo hilang sekarang. Wanita itu terlihat serius. Tampaknya ia tidak ingin membicarakan soal keberadaan Sasori. Entah masalah apa yang terjadi antara dirinya dan cucunya. Sakura harus cepat-cepat mencari topik lain sebelum keadaannya semakin buruk.

“Chiyo-baasama, apakah—”

“Sakura, maafkan aku.” Chiyo bangkit dari tempat duduknya, “Aku merasa kurang enak badan, jadi aku harus pulang lebih dulu.”

“Ah, kalau begitu kuantar.” Sakura juga ikut berdiri, tapi Chiyo langsung menyuruhnya duduk lagi.

“Terima kasih, tapi aku bisa sendiri,” ujar Chiyo, “Tenang saja.”

“Tapi Chiyo-baasama....”

Chiyo tampaknya benar-benar tidak ingin Sakura ikut bersamanya, “Aku benar-benar ingin sendiri sekarang Sakura.”

Sakura akhirnya mengangguk. Ia kemudian mengucapkan terima kasih dan membungkuk memberikan hormat. Nenek Chiyo kemudian tersenyum hangat dan pamit untuk pulang. 

“Kalau begitu aku akan menelponmu nanti Sakura, mungkin besok kita bisa bertemu lagi untuk makan siang.” Nenek Chiyo melambaikan tangannya.

“Ah tentu saja, Chiyo-baasama,” Sakura menjawabnya.

Gawat. Sekarang Sakura benar-benar merasa tidak enak. Karena dirinya, Chiyo jadi pulang duluan. Ini semua pasti karena Sakura menyinggung soal keberadaan Sasori. Ya sudahlah, sebentar lagi konser musik klasik ini juga akan selesai. 

Kali ini lantunan musik klasik itu berganti dengan lagu dance Korea ‘Call Me Baby’. Sial. Kenapa iPhone Sakura tidak disilent? Bodoh. Bodoh. Bodoh! Sekarang semua orang menatapnya dengan wajah kesal. Sakura dengan cepat langsung meninggalkan panggung itu dan menatap layar iPhonenya.


The stage
Image Source : centralpark.com

Uchiha Sasuke.

Sial, ternyata orang yang menelponnya suaminya toh. Ia pikir siapa. Orang penting mungkin. Siapa tahu Nenek Chiyo. Ternyata... Seorang Uchiha Sasuke yang sangat dingin, menyebalkan dan tampan yang menelponnya. 

“Halo?”

“Sakura, apa kau masih di New York?” Suara Sasuke... Terdengar agak seksi. Tunggu. Seksi? Mungkin Sakura sedang berhalusinasi karena kebanyakan mendengar musik klasik.

“Ya, aku masih di New York.” Sakura menghela napasnya, “Ada apa?”

“Kalau begitu aku akan terbang ke sana sekarang.”

“Oh iya, kau sedang ada di Boston ya?” Sakura ingat Sasuke sedang menemui salah satu kliennya di sana.

“Kalau begitu sampai ketemu nanti,” Sasuke menutup teleponnya.

Seperti biasa pria itu memang selalu saja singkat, padat dan tidak jelas. Yah, mau diapakan lagi Sasuke memang Sasuke. 

XXX

Image source : pursuitist.com

Uchiha Mikoto memandang kota New York yang sendu dari lantai tertinggi hotel berbintang Four Seasons Ia sekarang sedang berada di tempat Kushina tinggal, tapi wanita itu masih saja tidak membuka matanya. Apakah ruangan ini kurang nyaman untuknya? Karena itulah ia masih saja belum bangun dari tidurnya? Tidak... kamar Kushina sangat nyaman.

Dari lantai ke langit-langit, jendela kaca besar menghiasi kamarnya. Jendela ini memberikan pemandangan 360 derajat kota New York yang gemerlap. Mulai dari lantai yang dicampur oleh batu semi mulia, perabotan yang terbuat dari kain tenun dan emas, karya-karya seni dari Perancis... Kushina seharusnya merasa nyaman.  

Mikoto kemudian memandang chandelier kontemporer yang menghiasi jendela kaca ruangan itu. Ia kemudian menghela napasnya. Uang memang tidak bisa membeli apa-apa. Tempat ini memang mewah dan megah. Penthouse ini terdiri dari sembilan kamar dan butler pribadi, tapi Kushina sebatang kara sekarang. Anaknya hilang dan suaminya sudah dipanggil Tuhan. 

“Menma....”

Suara Kushina akhirnya terdengar. Suara itu terdengar sangat tipis dan lemah. Meski sudah diberi makan dan minum lewat infus, wanita itu terdengar seperti belum makan selama tiga bulan. Padahal Kushina yang Mikoto kenal biasanya sangat ceria dan blak-blakan. Kenapa wanita yang begitu energik bisa berubah menjadi seperti ini? 


Kushina's green Vilshenko sleepwear, Kushina's Haney Black dress
Image source : net-a-porter.com , net-a-porter.com
“Kushina, kami sedang berusaha mencari Menma sekarang,” Mikoto menenangkan sahabatnya, “Kau tenang saja....”

Mikoto sering mendengar Kushina memanggil-manggil Menma. Ia benar-benar tidak tahu keberadaan anak itu sekarang. Ini semua salah dirinya dan Sasuke. Insiden penculikkan dan hilangnya Menma tidak akan terjadi kalau ia tidak membiarkan Sasuke pergi bersama dengan Menma. Seharusnya hari itu Menma ada di rumah dan belajar Bahasa Perancis bersama dengan guru lesnya. Jika Sasuke tidak mengajak Menma, anak itu pasti masih berada di sisi Kushina sekarang.

Sebelum Mikoto berbicara apa-apa lagi, putra sulungnya masuk ke kamar itu dan membawakan karangan bunga tulip yang sudah dimasukan ke dalam vas bunga. Kushina sangat menyukai bunga tulip. Ia dan suaminya bertemu di Belanda. Saat itu bunga-bunga tulip bermekaran. Mikoto sering mendengar cerita ini. Ia masih tidak percaya suami yang sangat dicintai Kushina itu sudah tidak ada sekarang. Kenapa? Kenapa ketika dua orang saling mencintai mereka harus dipisahkan?


Tulips
Image source : joseortegafm.blogspot.com.au
“Ibu... maafkan aku. Menma masih belum ditemukan.” Itachi meletakkan vas bunga itu di atas meja.

“Begitukah?” Mikoto kemudian memakai trench coat Burberrynya dan berjalan ke luar.


Mikoto in Burberry Trench coat
Image source : net-a-porter.com
“Oh ya... Ibu.” Itachi tampak agak ragu, tapi ia melanjutkan kalimatnya, “Hari ini proyek pembangunan lapangan golf kita di Seoul ditolak.”

Sudah tiga proyek penting yang ia serahkan pada Itachi gagal. Tiga. Tiga adalah angka yang besar. 

“Ibu apa kau baik-baik saja?”

Mikoto kemudian menatap wajah Itachi dengan dingin. Ia biasanya bisa merasa lebih nyaman jika berbicara dengan Itachi. Sikap anaknya yang dewasa itu membuatnya lebih santai. Sejak kecil ia selalu mendidik Itachi dengan dingin dan keras. Didikan seperti itu membuat Itachi menjadi sukses. Itachi selalu berhasil melampaui ekspektasi Mikoto. Jika ibunya meminta nilai sempurna, Itachi akan memberikan nilai sempurna dan piala lomba olimpiade. Jika ibunya memintanya untuk belajar Bahasa Mandarin, dalam satu bulan ia sudah lancar berbahasa Mandarin dan Kanton. Itachi selalu memberikan hal lebih. Kelihatannya kali ini berbeda.

Mungkin Mikoto terlalu memanjakan Itachi. Ia pikir anak itu sudah dewasa dan sukses. Ia pikir ia sudah tidak perlu lagi mendidik pria itu dengan dingin dan keras. Sayangnya ia salah. Bodohnya dirinya... Waktu kecil ia terlalu memanjakan Sasuke. Sekarang keadaanya terbalik. Belakangan ini Sasuke selalu sukses mendapatkan klien baru dan proyek baru. Profit yang dibuat Sasuke dua kali lipat lebih besar dari Itachi. Sasuke juga sudah memiliki seorang istri. Jika keadaanya terus seperti ini... Sasuke mungkin akan terpilih untuk meneruskan usaha Keluarga Uchiha. 

Sebenarnya Mikoto tidak peduli siapa yang meneruskan usaha ini. Itachi maupun Sasuke, ia menyayangi kedua anaknya. Ia ingin agar kedua anaknya memiliki kesempatan yang sama dalam hal ini. Fugaku memiliki pendapat yang berbeda. Suaminya sejak dulu ingin memberikan usaha keluarga ini ke tangan Itachi. Sebagai seorang istri ia hanya bisa mengikuti kemauan suaminya. Jika ia ingin Itachi  yang meneruskan usaha keluarga mereka, kelihatannya ia sudah tidak boleh lagi terlalu baik kepada Itachi. Kalau terus seperti ini... mungkin Sasukelah yang akan merebut posisi itu darinya.

“Kau sudah tidak perlu mencari Menma.” Mikoto menatap mata Itachi dengan dingin, “Lebih baik fokus kepada pekerjaanmu. Perusahaan kita tetaplah prioritas pertama.”

“Tapi....” Itachi tampak ragu melanjutkan kalimatnya, “Bagaimana dengan Kushina-san?”

Mikoto tidak menjawab pertanyaan Itachi. Ia dengan cepat keluar dari penthouse Kushina dan turun dengan lift. Saat pintu lift itu terbuka, ia dapat melihat lantai marmer dan interior klasik lobby Hotel Four Seasons. Anehnya, Mikoto tiba-tiba merasa mual. Kepalanya terasa berat dan ia tidak bisa melihat ruangan dengan jelas. Matanya berkunang-kunang dan tangannya sedingin es. Ah, ia tahu apa yang terjadi padanya. Ia pernah merasakan ini sebelumnya. Ia maag. Hal ini biasanya terjadi kalau ia terlambat makan dan ia belum makan apa-apa sejak pagi.


Image source : fourseasons.com
Dengan cepat ia mengeluarkan obat maag dari tasnya dan meminumnya. Ia langsung mencari tempat untuk duduk dan berusaha untuk menenangkan dirinya. Setelah beberapa menit berlalu, ia merasa lebih tenang. 

“Ibu?” 

Ia tahu suara itu. Suara itu adalah suara Uchiha Sasuke. 

“Kenapa ibu ada di New York?” Sasuke akhirnya duduk di sampingnya, “Ada apa ibu? Wajahmu pucat.”

“Aku tidak apa-apa,” Mikoto menjawabnya dengan dingin, “Pergilah.”

Sasuke tidak mendengar kata-katanya. Anak itu mengambil telepon genggamnya dan menghubungi seseorang.

“Sakura? Ibuku sakit,” Sasuke tampak khawatir, “Kapan kau akan sampai di Four Seasons?”

Mikoto kemudian melihat raut wajah anak itu menjadi lebih lega, kemudian ia mengangguk dan menutup teleponnya. 

“Apakah wanita itu juga ada di sini?” Mikoto benar-benar tidak mengerti kenapa takdir justru membuat dirinya terlihat begitu lemah dan tidak berdaya di depan Sasuke dan menantunya.

“Tenang saja, Sakura dokter, ia pasti tahu apa yang harus dilakukan."

Sebelum Mikoto dapat menjawab apa-apa, menantunya datang dengan napas yang memburu. Kelihatannya setelah mendegar telepon itu, Sakura langsung berlari secepat mungkin. Mikoto merasa agak kagum dengan menantunya, padahal saat itu Sakura sedang mengenakan high heels dan dress. Saat pesta bisnis di Bali, Sakura terlihat sangat tidak sopan. Anak itu bahkan sempat memerikan kritik pedas soal baju yang dipakai Mikoto. Lucunya hari ini berbeda. Wanita itu berubah. Wajahnya sekarang terlihat lebih lembut dan dewasa. Kelihatannya banyak hal terjadi kepada Sakura. Berlari dengan baju seperti itu tidaklah mudah. Ia pasti sangat khawatir kepada Mikoto.


Sakura's Dolce & Gabbana Dress, Sasuke's Armani suit
Image source : net-a-porter.com , feedinspiration.com
“Mikoto-san— Eh, maksudku ibu apa yang terjadi?” Sakura langsung mengukur temperatur Mikoto.

“Aku hanya maag,” Mikoto menjawab Sakura dengan tenang, “Sudahlah, kalian pergi saja. Aku sudah minum obat.”

“Apakah kau sudah makan?” Sakura masih terlihat khawatir.

“Aku baru memberitahumu bukan? Aku sudah makan obat,” Mikoto menjawabnya dengan dingin.

“Bukan hanya obat ibu!” Sakura benar-benar terlihat panik, “Teh manis? Bubur? Seharusnya hotel ini bisa menyediakannya. Sasuke pesan teh manis dan bubur sekarang.”

Sasuke kemudian memanggil salah satu pegawai hotel itu dan memesan teh manis dan bubur. Anak laki-lakinya itu terlihat cekatan. Kerja kedua orang ini cepat. Mereka berdua memang telah banyak berubah. Mikoto merasa dirinya semakin lama semakin berumur saja. Kelihatan lemah di depan kedua orang ini rasanya begitu memalukan. Ia seharusnya terlihat elegan dan dihormati, bukan dikasihani. 

“Sudahlah. Aku punya urusan penting.” Mikoto kemudian bangkit berdiri dan meninggalkan mereka berdua, “Soal teh manis dan bubur tadi akan kumasukan ke dalam billku. Tidak usah dibayar. Permisi.”

“Tapi! Ibu kau harus makan!” Sakura benar-benar tidak membiarkan dirinya pergi, “Kalau sedang maag, lambung akan terus bekerja dan menghasilkan asam lambung. Obat hanya menghilangkan sejenak, tapi tanpa makanan, lambung ibu akan terus menghasilkan asam itu.”

“Sakura. Aku sudah mengatakannya padamu tadi,” Mikoto menegaskan kepadanya sekali lagi, “Aku punya urusan penting.”

“Apakah ibu akan pergi rapat?” Sasuke kemudian bertanya.  

“Tidak, ibu akan bertemu dengan Donald Trump sebentar. Fugaku-san juga akan ada di sana,” Mikoto menjawab pertanyaan Sasuke.

“Kalau begitu selamat jalan,” Sasuke kemudian memberikan hormat kepada ibunya.
Mikoto kemudian pamit pergi. Menantunya masih terlihat khawatir, namun putra bungsunya itu tampaknya sudah kembali dingin seperti biasanya. Kelihatannya Mikoto sudah mendidik Sasuke dengan terlalu keras. Mau diapakan lagi. Mikoto ingin memberikan yang terbaik untuk Sasuke. Satu-satunya cara yang ia tahu hanyalah dengan cara ini. Selama ini Mikoto dibesarkan dengan cara ini, dididik dengan cara ini. Fugaku juga sama, pria itu sejak dulu dibesarkan dengan dingin dan keras. Mikoto dan Fugaku sekarang menjadi sukes, karena itulah Sasuke dan Itachi juga akan menjadi sukses dengan cara ini. Bukankah begitu?

XXX


Manhattan Street
Image source : feedinspiration.com
Sakura berjalan bersama Sasuke di jalan besar Manhattan. Mobil tampak berlalu-lalang dan taksi-taksi berwarna kuning khas New York menjadi pemandangan siang itu. Sakura rasanya agak kasihan melihat suaminya yang daritadi menelpon banyak restoran. Biasanya Uchiha Sasuke memang sering membawanya makan di tempat-tempat mahal. Fine dining di New York terdengar menarik, tapi sayangnya karena Sasuke datang mendadak, rata-rata restoran bintang tiga di New York sudah fully booked. Maklum, sekarang jam makan siang dan hari ini hari Sabtu. 

“Hei Sasuke, sudahlah, kita makan di tempat biasa saja,” Sakura mengusulkan, “Lagipula aku memang tidak ada rencana untuk makan di restoran bintang tiga saat datang ke New York. Bagaimana kalau kita ke pasar saja?”

“Hah?” Sasuke langsung memasukan ponselnya ke dalam sakunya, “Apa maksudmu dengan pasar?”

“Tunggu, jangan-jangan kau belum pernah ke pasar?” Sakura tampak kaget.

“Memangnya ada pasar di sini?” Sasuke terlihat bingung.

“Kau belum menjawab pertanyaanku!” Sakura menepuk pundak pria itu, “Kau pernah ke pasar atau tidak?”

“Hn, itu bukan urusanmu,” Sasuke menjawab dengan dingin.

Ya ampun, kelihatannya pria itu belum pernah ke pasar. Kasihan sekali. Sakura benar-benar tidak habis pikir. Kalau begitu, mereka berdua harus pergi ke Union Square. Di sana ada pasar khas Manhattan yang ramai. Pasar itu juga dekat dengan Broadway dan Sakura memang ingin melihat-lihat kesana. Yosh! Pasti rasanya lucu sekali melihat reaksi Sasuke pergi di pasar.

“Ayo kita ke pasar!” Sakura langsung berjalan cepat, “Tempatnya dekat kok!”

Saat Sakura berjalan cepat, ia akhirnya melihat alun-alun besar. Di lapangan itu banyak tenda-tenda kecil dengan banyak barang dagangan. Ada berbagai jenis buah-buahan, sayur-sayuran bahkan bunga. Farmer’s market ini sangat ramai dengan penduduk lokal dan turis.


Image source :  marketsofnewyork.com
“Ini dia!” Sakura menunjuk tempat itu dengan penuh semangat, “Kita sampai di pasar Sasuke!”

“Tidak ada yang spesial.” Sasuke berjalan menelusuri pasar itu dengan wajah poker face.   


Image source : mostlovelythings.com
“Kau itu HMB ya,” Sakura menghela napasnya.

“Hah? HMB?” Sasuke tampak tidak tertarik.

“Iya, High Maintenance Boy.” Sakura menepuk pundak suaminya.

Sasuke tampak tidak senang. Kelihatannya ia tidak suka title yang baru saja Sakura berikan kepadanya. Pria dingin itu menaikkan satu alisnya dan berjalan melewati Sakura. Kelihatannya ia merasa tersinggung dengan sebutan ‘high maintenance’. Namun, Sasuke memang agak HMB sih. Kalau dipikir-pikir selama ia bersama dengan Sasuke, pria itu tidak pernah makan makanan jalanan. 

“Kau pernah makan hotdog tidak?” Sakura merasa penasaran, jangan-jangan pria itu tidak pernah makan hotdog.

“Kau ini sedang bertanya atau menghinaku?” Sasuke berjalan lebih cepat menjauhi Sakura.

Wanita berambut merah muda itu langsung berjalan cepat mengikuti suaminya, ia lalu tertawa lepas, “Jangan-jangan kau memang tidak pernah makan hotdog.”

Sasuke kemudian berhenti di salah satu stand toko itu, ia menatap hotdog-hotdog yang dijual. Kelihatannya Sasuke ingin membelinya. Mungkin pria itu memang pernah makan hotdog sebelumnya. Hei, pria ini ternyata normal juga.

“Can I have two of these please?” Sakura langsung mengeluarkan dompetnya dan membayar hotdog itu.

Pedagang itu memberikan dua hotdog kepada Sakura dan menerima uang itu.


Image source : palmspringsgourmetmarket.com
“Hei kenapa kau yang membayarnya?” Sasuke kelihatan tidak senang.

“Memangnya kenapa harus kau yang selalu membayar semuanya?” Sakura tampak tidak senang juga dengan tanggapan Sasuke.

Sasuke kemudian mengeluarkan uang dari dompetnya, tapi Sakura langsung menolaknya.
“Sakura kau—” Sasuke tiba-tiba terdiam karena Sakura langsung menaruh hotdog tadi ke mulut Sasuke.

Sakura kemudian tertawa lepas. Pria yang dingin dan menyebalkan itu tampak sangat lucu dengan hotdog yang dipaksa masuk ke mulutnya. Rasanya seperti melihat hamster yang terlalu banyak makan biji bunga matahari. Uchiha Sasuke ternyata bisa juga terlihat konyol. 

“Oi!” Sasuke langsung mengeluarkan hotdog itu dari mulutnya, “Apa yang kau lakukan?!”

“Aku mentraktirmu hotdog dan aku tidak ingin menerima uang darimu,” Sakura menjawabnya dengan polos.

Suaminya itu akhirnya menghela napasnya. Pria yang tadinya terus bersikeras untuk mengembalikan uang Sakura akhirnya menyerah juga. Akhirnya hotdog tadi Sasuke makan dengan lahap. Rasanya agak aneh melihat Sasuke melahap hotdognya. Pria itu biasanya minum wine mahal dan makan 8 course fine dining, hari ini ia makan makanan jalanan. What a rare sight.

Sambil makan, Sakura mulai bertanya kepada Sasuke, “Apa ibumu baik-baik saja ya?”

Tatapan Sasuke kemudian berubah menjadi agak serius, “Ibuku memang begitu. Biarkan saja.”

“Tapi ia sedang sakit maag dan ia belum makan apa-apa,” Sakura melahap hotdognya lagi.

Sasuke kemudian menghabiskan sisa makanannya dan membuang bungkusnya ke tempat sampah, “Ia akan bertemu dengan Donald Trump. Tenang saja, pertemuan bisnis pasti berlangsung di restoran bintang tiga. Ibuku pasti akan makan.”

“Ah, begitu ya,” Sakura mengagguk kemudian mereka berdua berjalan menelusuri pasar itu.

“Jadi bagaimana seminarmu?” Sasuke berhenti di salah satu stall buah-buahan dan melihat-lihat apel-apel merah di sana.

“Seminarku sangat seru, tapi jika kuceritakan pun kau tidak akan mengerti karena semuanya berhubungan dengan operasi plastik dan bahasa kedokteran,” Sakura kemudian menghabiskan makanannya juga dan membuangnya ke tong sampah.

“Apa di sana ada....” Sasuke kemudian mengambil salah satu buah apel itu dan mengambil napas panjang.


Image source : toledofarmersmarket.com
“Apa?” Sakura tampak heran. Kelihatannya suaminya itu masih ingin mengatakan sesuatu.

“Apa di sana ada... uh... lupakan saja,” Sasuke kemudian meletakkan buah apel itu dan berjalan jauh dari Sakura.

Istrinya itu langsung mengejar pria itu dengan wajah yang kebingungan. Sebenarnya ada apa dengan Uchiha Sasuke? Kenapa pria itu malah jadi aneh seperti ini?

“Hei kau membuatku penasaran tahu!” Sakura menepuk pundak suaminya, “Katakan! Di sana ada apa? Kau ingin tahu apa?”

“Tidak apa-apa.”

“Apa?”

“Sudah kubilang tidak apa-apa.”

“Katakan padaku Sasuke!”

“Apa di sana ada dokter muda yang tampan?” Sasuke akhirnya bertanya dengan nada yang datar. 

Sakura tidak tahu harus menjawab apa. Tidak biasanya Sasuke menanyakan hal seperti ini. Apa jangan-jangan... pria itu cemburu? Namun, kenapa cemburunya sangat datar seperti ini? Wajahnya lebih mirip seperti orang yang mengantuk daripada cemburu.

“Banyak sih,” Sakura menjawab dengan jujur. Ia tidak bohong, seminar kemarin memang penuh dengan dokter bule yang tampan.

“Oh,” Sasuke hanya menjawabnya dengan satu kata dan berjalan lagi.

“Ah! Seperti pria itu contohnya!” Sakura menunjuk pria berambut pirang yang terlihat tinggi dan gagah.

Ia tidak bisa melihat wajah pria itu, namun punggungnya terlihat keren dari belakang. Pria itu juga berotot dan kelihatannya tampan. Saat pria itu menoleh ke samping, Sakura hanya bisa membuka mulutnya karena kaget. Ternyata pria itu adalah pria yang waktu itu ia temui di Bali! Pria itu! Pria yang Tsunade sebut operasi plastik besar-besaran! Menma! 

Ternyata Sasuke terlihat lebih kaget dari Sakura. Pria itu terlihat seperti baru saja melihat hantu. Ia tidak percaya apa yang dilihatnya. Sasuke benar-benar berdiri dengan kaku. Suaminya itu tidak bergerak sama sekali. Kelihatannya Sasuke mengenali Menma. Kenapa mereka berdua bisa saling kenal?

Sasuke yang awalnya kaku langsung berjalan mendekati Menma, anehnya setelah ia mendekat... ia langsung berjalan kembali ke sisi Sakura.

“Ada apa Sasuke? Kau kenal dengan pria itu?” Sakura terlihat bingung. 

“Tidak.... Aku pikir orang itu Namikaze Menma.”

“Loh? Bukankah pria itu memang Namikaze Menma?” Sakura terlihat bingung. 

Karena penasaran, ia akhirnya meninggalkan Sasuke dan memanggil pria berambut pirang tadi.

“Menma-san!” Sakura melambaikan tangannya, “Apa kau masih ingat padaku? Kita pernah bertemu di Bali waktu itu!”

Pria berambut pirang itu berbalik dan menatap Sakura dengan senyuman. Ia ikut melambai dan tersenyum hangat.

“Ah, Sakura-san bukan? Sudah lama tidak bertemu!” Menma tersenyum hangat, “Apa kabar?”

Tiba-tiba raut wajah Sasuke terlihat semakin bingung. Ia tampaknya tidak percaya orang tadi adalah Namikaze Menma. Sasuke benar-benar tidak mempercayai matanya. Suaminya itu kemudian berjalan mendekat dan mengamati Menma dengan penuh ketelitian.

“Ah, orang ini adalah...?” Menma kemudian menunjuk Sasuke.

“Suamiku, Uchiha Sasuke.” Sakura tersenyum hangat, “Sasuke, kau kenal Menma bukan?”

“Ah! Sasuke?” Menma tampak senang, “Kau masih ingat aku? Kita dulu teman saat kecil bukan?”

Sasuke tidak membalas perkataan Menma. Ia hanya terdiam dan menatap Menma dengan tatapan analitis. Sasuke kelihatannya benar-benar tidak mempercayai pria itu.

“Kau tahu bukan keadaan Kushina-san sekarang?” Sasuke berbicara dengan datar.

“Ah, iya. Aku sangat khawatir, karena itulah aku langsung terbang dari Jepang ke sini,” Menma tampak sedih, “Aku harap ibu ingat padaku. Aku dulu amnesia, sekarang ingatanku baru kembali. Jadi aku langsung ingin bertemu dengan ibuku.”

Sasuke masih saja terlihat penuh dengan kecurigaan. Sakura tidak tahu kenapa, tapi suaminya itu tampak tidak senang melihat Menma ini. Tampaknya ada masa lalu yang tidak Sakura ketahui soal mereka berdua.

“Kau khawatir... tapi kau sempat makan dulu di sini?” Sasuke tersenyum licik, “Tentu saja kau khawatir.”

Kali ini ekspresi Menma yang berubah. Postur tubuh Menma itu terlihat agak kaku, ia kemudian memaksakan diri untuk tersenyum. 

“Aku punya alasanku sendiri Sasuke,” Menma menjawabnya, “Ah, hari sudah siang. Aku harus bertemu dengan ibu. Sampai jumpa.”

Menma kemudian pamit dengan terburu-buru. Pria itu langsung berlari meninggalkan mereka berdua. 

“Ada sesuatu yang aneh dari orang itu,” Sasuke menatap Menma lagi dari kejauhan.

“Oh ya?”

“Wajahnya memang mirip, tapi sifatnya... gerak-geriknya—” Sasuke tampak bingung, “Ada yang berbeda darinya.”

“Kalian teman saat kecil bukan?” Sakura mengingat-ingat lagi, “Mungkin ia sudah berubah? Sifat orang kan selalu berubah jika sudah semakin dewasa.”

“Kalau ia memang amnesia dan ingatannya baru pulih, kenapa ia tidak langsung menemui ibunya?” Sasuke menatap Sakura dengan serius.

“Mungkin ia takut?” Sakura mencoba untuk memposisikan dirinya sebagai Menma, “Kalau kau sudah lama tidak bertemu dengan ibumu sendiri, bukankah kau pasti takut untuk bertemu? Mungkin ia sangat gugup. Kau tidak boleh berpikiran negatif Sasuke.”

“Hn, terserah kau saja.” Sasuke kemudian berjalan menelusuri pasar itu lagi.

Pria itu tampaknya tidak setuju dengan kata-kata Sakura. Entah apa yang ada di benak Sasuke sekarang. Sakura benar-benar tidak mengerti jalan pikiran suaminya itu. Menma, Sasuke, Kushina... sebenarnya ada apa dengan mereka?

XXX


Langham New York
Image source : langhamhotels.com
“Kenapa aku harus menginap di kamar hotelmu?” Sakura melempar bantal ke wajah Sasuke.

Pria itu sudah mengenakan piyama dan duduk dengan santai di sofa hotelnya. Sakura benar-benar tidak habis pikir. Tsunade sudah memesankan kamar hotel untuk Sakura di hotel bintang empat. Sakura merasa ruangannya juga cukup nyaman. Tiba-tiba suaminya yang aneh ini langsung mengepak kopernya dan menyuruhnya tinggal di kamar hotel bintang limanya saja.

“Tidak usah banyak omong. Berisik sekali.” Sasuke tampak cuek.

“Apa maksudmu berisik?” Sakura melempar satu bantal lagi ke wajah Sasuke, “Kau belum menjawab pertanyaanku!”

“Kau ingin tahu kenapa?” Sasuke akhirnya bangkit dari tempat duduknya, “Kamar hotelmu sempit dan kumuh.”

“Kamar hotelku tidak sempit dan kumuh!” Sakura tampak tidak setuju.

“Kau menyebalkan Sakura.” Sasuke akhirnya berbaring di atas ranjang. Jarak antara dirinya dan Sasuke hanya 3 cm.

“Aku tidak menyebalkan!” Sakura memukul pundak suaminya dengan sekuat tenaga.

“Sudah diam dan biarkan aku tidur,” Sasuke mengeluh. Pria itu akhirnya mematikan lampu kamar dan membelakangi Sakura.


Image source : renters.apartments.com
“Sasuke...” Sakura kemudian mendekatkan dirinya ke sisi suaminya.

“Hm?”

“Kau tadi cemburu ya?”

“Hah?”

Sasuke langsung menyalakan lampu hotelnya lagi dan duduk di atas ranjangnya, “Apa kau sedang mengigau ya?”

“Kau jelas-jelas bertanya apakah ada lelaki tampan di seminarku!” Sakura tampak percaya diri, “Kau cemburu kan? Katakan padaku!”

“Kau sedang mengigau bukan?” Sasuke kelihatan tidak senang.

“Mana mungkin orang yang mengigau membuka matanya bodoh!” Sakura melempar bantal lagi ke wajah Sasuke.

Sasuke kemudian menghela napasnya dan menatap istrinya dengan wajah yang tidak nyaman. Ia kemudian berusaha untuk mengatakan sesuatu, tapi suara tidak keluar dari mulutnya. Suaminya itu... jangan-jangan suaminya itu gugup? Luar biasa! Seorang Uchiha Sasuke gugup! That’s a first. 

“Aku tidak ingin membahas ini lagi,” Sasuke kemudian kembali berbaring di atas ranjangnya dan membelakangi Sakura.

Entah kenapa Sakura merasa dugaannya tepat. Sasuke pasti cemburu. Apa itu artinya... Sasuke suka padanya? Ah! Tidak! Ia tidak boleh terlalu ge-er, nanti kejadian seperti di Gili terulang lagi. Eh tunggu. Kejadian di Gili itu memang Sasuke yang ingin melakukan ‘itu’ kepadanya! Itu artinya ia tidak ge-er... Itu artinya... Sasuke memang... Sasuke memang suka kepadanya?

Sakura kemudian menampar dirinya sendiri. Sakit. Ia tidak mimpi. Ini bohong ya? Bohong bukan? Sasuke tidak mungkin suka padanya. Ia masih ingat pria menyebalkan itu mengenakan seragam SMA dan merobek surat cinta Sakura. Pria itu tidak mungkin suka padanya. Tidak mungkin.

“Sakura....”

“Ya?”

“Kalau kau merasa lelaki-lelaki di seminar tadi tampan...” Suara Sasuke terdengar agak pelan.

“Ya?”

“Kau harus ingat kalau mereka semua dokter operasi plastik. Mereka semua operasi plastik.”

Sakura kemudian langsung tersadar. Sasuke pintar juga. Memang masuk akal sih. Jadi pria-pria tampan yang seperti turun dari langit di seminar tadi hasil operasi plastik semua ya? Sedihnya. Dunia memang kejam. 

“Aku tidak cemburu,” Sasuke melanjutkan lagi, “Aku hanya ingin mengingatkanmu untuk berpikir rasional. Standar ketampananmu kan cukup rendah.”

Wanita berambut pink itu langsung melempar satu bantal lagi ke kepala Sasuke, “Standarku tidak rendah! Sasuke bodoh!”

Sakura tidak melihatnya, namun Sasuke tersenyum hangat di balik kegelapan New York malam itu.  



New York City at Night
Image source : wikipedia.org
XXX

TBC

XXX

Hi there, I hope you like this lovely chapter :) I really enjoyed New York and writing it. Rasanya Gossip Girl dan Carrie Bradshaw membuatku sangat terinspirasi dalam menulis chapter ini. Ah, New york, New york what a lovely place to be... Have a nice day and what do you think of New York? I'm simply in love with New York! Ah, New York I'm in love! How many of you here watch Gossip Girl? Blair Waldorf is my role model!

Next Chapter >>

<<Previous Chapter



6 comments:

  1. Kaka bagus sekali! Aku juga nonton GG. Suka banget sama Blair WAldorf. Aduh, chapter ini New York life banget, upper east side, manhattan. High Class to the max. Seperti biasa tulisan ka meli bikin aku berasa keliling dunia. Update soon ya kaka!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi there!! Aww, thank you. I love Blair Waldorf too. She's my muse, my role model. Her fashion sense is just legendary! Ah, those dresses, those beautiful Roger Vivier heels. I love her to death!! Menulis chapter ini memang menyenangkan, terimakasih atas pujiannya yah! Have a wonderful day!

      Delete
  2. Hello! This chapter, as how the previous are, is amazing. I love how Sasuke started to grow feelings for his wife, and you should add some SasuSaku fluff haha. Keep up the good work and enjoy your day ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi~Thank you for your compliment!! I love writing Sasuke's character development as well! It's pretty thrilling and fun at the same time. For the fluff, I will take note of that! I will keep up the good work, thank you! Aww, you too, enjoy your day!

      Delete
  3. Update juga akhirnya..!!!
    Sasuke cemburu, Oouu so sweet nya ;)) next chap sakura nya ya kak yg cemburu D:
    Bentarlagi 17 agustus lo kak, kakak tau kan arti nya apa? Jadi ayooo semangat 45 nulis next chap nya *gak nyambung :D

    Sesuai janji coment tiap chap, so inilah komenku untuk chap 14 ini kak :D
    But, i'm not to be first coment.. *sok inggris
    (inggris nya benerkan kak?)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hi!! I know!! Akhirnya update juga!!! Hehhe benar juga! Sebentar lagi 17 agustus!! Wooo, cepat sekali yah! Hm, kalau begitu harus menulis dengan semangat 45, diiringi lagu Indonesia Raya hahaha! Thank you for your comment yah! Semoga next time bisa jadi the first! Muah! Have a lovely day dear!

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...