My First Love is My Housekeeper : Chapter 3

08:28 Melissa Gabriele 2 Comments

My First Love is My Housekeeper!

Chapter 3

Skandal

Naruto's Penthouse View
Image source :
aetherlily.net

Disclaimer : I do not own Naruto

Pagi itu dapur Naruto terlihat berantakan. Satu-satunya yang membuat dapur itu tetap terlihat indah adalah view laut yang terlihat dengan jelas dari jendela besar apartemennya. Jendela kaca itu dibuat dari lantai ke langit-langit, membuat ruangan itu terlihat besar. Kapal-kapal pribadi yang berderet di pelabuhan, Tokyo Bridge yang megah dan matahari yang baru saja naik ke langit… membuat view laut itu terlihat lebih mempesona.

Sayangnya Uzumaki Naruto tidak peduli akan pemandangan itu. Ia sedang serius memandang peralatan dapur di hadapannya. Wajahnya terlihat bingung. Pandangan matanya pindah dari satu peralatan ke peralatan lainnya. Spatula, whisk, umm... itu apa ya? Ah, ember. Eh, sepertinya bukan ember. Ah, sudahlah menurut Naruto bentuknya seperti ember, jadi itu ember. 


Naruto's meringue
Image source: thetoughcookie.com
Naruto kemudian mengencangkan tali apron putihnya. Ia mengambil napas dalam-dalam dan menatap Hinata dengan serius. Dengan cekatan, Hinata mengaduk adonan di ember itu dengan whisk. Adonannya berubah menjadi lebih putih dan lebih padat. Tangan wanita itu terlihat kecil tapi kuat. Kecepatan mengaduk Hinata mungkin satu level dengan kecepatan Naruto saat ia beradu pedang dengan Jackie Chan. 

“Ini adalah meringue. Jika Naruto-kun sudah bisa membuat ini, kau juga bisa mempraktekan skill ini untuk membuat macarons karena bahan dasar macarons itu terbuat dari adonan ini.” Hinata tersenyum sambil terus mengaduk adonannya.

Merang? Me… Me… Meringue? Macarons? Kenapa kosa kata membuat kue itu susah sekali ya? Apa Hinata benar-benar cuma lulus SMA? Naruto yang lulus kuliah saja tidak mengerti sama sekali apa yang dibicarakan Hinata. Rasanya Naruto seperti sedang masuk ke dunia lain. 


Soft-peak, meringue
Image source : thetoughcookie.com

“Berhenti mengaduk jika adonannya sudah mencapai soft peak.” Hinata melanjutkan, “Lalu, pindahkan meringue ke atas lemon tart yang tadi sudah kita masukan ke dalam oven.”

Hinata kemudian mengambil kue yang tadi ia panggang di dalam oven. Kue lemon tartnya terlihat sudah matang. Warna kuning kuenya terlihat sempurna dan asap-asap panas muncul dari kue itu. Setelah ia diamkan sebentar, Hinata kemudian memindahkan meringue putih tadi ke atas kuenya dengan perlahan. Krim itu tampak seperti awan yang dioleskan ke atas kue yang berwarna kuning. Entah bagaimana rasa kue itu. Naruto tidak pernah mencicipi lemon meringue tart sebelumnya. 

“Sekarang kita bakar krimnya dengan torch.” Hinata kemudian mengambil alat yang terlihat seperti pistol.

“Dibakar?” Naruto terlihat bingung, “Maksudmu seperti teppanyaki? Atau sate bakar?”

Hinata kemudian tertawa dengan manis. Kelihatannya wanita itu belum pernah mendengar reaksi semacam Naruto sebelumnya. Aduh, Naruto merasa agak malu. Rasanya di depan Hinata ia terlihat seperti orang dari desa ninja atau semacamnya.

“Bukan seperti teppanyaki, tapi seperti...” Hinata kemudian menekan tombol kecil di torch itu, api berwarna biru tiba-tiba keluar dengan cepat. 

“Seperti ini.” Hinata tersenyum dengan lembut. Api biru tadi membakar krim meringue Hinata. 


Hinata's Lemon Meringue tart
Image source : donnahay
Kali ini krim itu berubah dari berwarna putih salju menjadi agak kecoklatan. Entah kenapa Naruto merasa kue itu terlihat lebih lezat dari yang sebelumnya. Krim yang berwarna kecoklatan itu terlihat senada dengan warna kuning kuenya. Ia jadi ingin cepat-cepat melahap semuanya. Gawat, jika Hinata sering-sering membuat kue untuk Naruto, ia bisa menderita diabetes.

“Sekarang coba dipraktekan.” Hinata tersenyum lembut kepada Naruto. 

Kelihatannya Hinata menunggu Naruto membuat adonan meringuenya. Kue Naruto masih ada di dalam oven. Dalam beberapa menit, kue itu akan segera matang. Itu artinya ia harus membuat meringue ini dengan cepat. Damn it! Bagaimana kalau ia gagal? Apalagi di Masterchef nanti... seluruh dunia bisa mentertawakan dirinya! Uchiha Sasuke bisa mentertawakan dirinya! Tunggu, kalau dipikir-pikir lagi Sasuke tidak pernah tertawa ya. Orang itu kan dingin sekali... pasti kalau tertawa seram sekali. Mungkin akan mirip dengan hantu di adegan film horror! Hii...

Artis film action itu kemudian dengan cepat langsung meraih bahan-bahan yang ia butuhkan. Meringue Hinata sangat sederhana. Bahannya hanya putih telur dan gula. Naruto dengan cepat mengikuti gerakan Hinata tadi, ia mengambil whisk dan mengocok putih telur itu sampai berbusa. Putih telur itu kemudian berubah menjadi krim yang padat dan berwarna putih. Saat sudah berubah warna, krim itu menjadi lebih berat untuk diaduk. Wow, ternyata Hinata itu kuat juga ya!

“Hinata! Ternyata tanganmu kuat sekali ya mengaduk ini!” Naruto langsung memuji Hinata. “Kau seperti Thor! Hulk! Spiderman! Oh! Atau Superman— eh maksudku Superwoman!”

“Te-terima kasih Naruto-kun.” Hinata tersenyum dengan malu kemudian ia membungkuk untuk memberi hormat. Lucu sekali!

“Aku harus bisa pintar sepertimu!” Naruto mengaduk adonan itu dengan sekuat tenaga. “Kalau kueku tidak enak, Sasuke bisa membunuhku-ttebayo!”

Flour
Image source : blog.ideasinfood.com
Tiba-tiba Hinata menyenggol tepung yang ada di sebelahnya. Tepung itu langsung jatuh ke lantai. Wajah wanita itu tampak kaget. Kelihatannya wanita itu mengenal Sasuke. Jika dilihat dari reaksi Hinata, kelihatannya hubungannya dengan Sasuke bukanlah hubungan yang baik. 

“Maafkan aku!” Hinata langsung mengambil sapu dan membersihkan tepung yang sudah berserakkan di lantai itu. 

“Santai saja Hinata!” Naruto terus mengaduk adonannya.

“Naruto-kun...” Hinata kemudian terdiam sejenak, seakan-akan sedang memikirkan hal yang berat, “Apakah Sasuke yang kau maksud adalah Uchiha Sasuke?”

“Um... Iya. Dia sahabatku saat SMA. Dia dingin, menyebalkan, tapi orangnya sebenarnya baik sekali-ttebayo!” Naruto mengagguk-angguk, “Kau kenal Sasuke juga?”

Hinata kemudian terdiam. Ia tampak serius berpikir. Entah apa yang dipikirkan wanita itu. Jangan-jangan Hinata dan Sasuke sempat berpacaran! Tidak! Sasuke tidak pantas mendapatkan wanita seperti Hinata. Teman SD Naruto itu kan sangat baik hati, sopan dan lembut! Tidak! Jika bersama Sasuke, yang ada Hinata pasti akan dianiyaya oleh makhluk jahanam yang bermarga Uchiha itu! Tidak! Naruto tidak terima jika mereka pernah pacaran!

“A-aku, pergi ke toilet sebentar dulu!” Hinata tampaknya ingin menghindari pembicaraan ini. “A-aku permisi sebentar.”

Naruto langsung membuka mulutnya dengan kaget. Reaksi macam apa itu? Jangan-jangan mereka benar-benar pernah berpacaran!!! Apa-apaan ini! Naruto tidak terima! Tidak!

“Hahaha jangan berpikir yang tidak-tidak...” Naruto berusaha tersenyum sambil mengaduk adonannya dengan kencang—

Naruto tampak tidak senang. Ia masih mengaduk— membanting adonan itu sampai adonan itu menjadi keras sekali. Meringue itu menjadi kaku dan sulit untuk di aduk lagi.

“Ah... Tidak mungkin-ttebayo! Hinata tidak mungkin pacaran dengan Sasuke....”

KRINNGG!!!

Tiba-tiba alarm kebakaran apartemen Naruto langsung berbunyi dengan keras. Asap hitam keluar dari oven dapurnya. Kue Naruto yang seharusnya berwarna kuning berubah menjadi kecoklatan dan gosong. Gawat! Ia kelihatannya terlalu lama meninggalkan kue itu.

“Naruto-kun!” Hinata langsung berlari dengan terburu-buru menuju ke dapur, “Apa yang terjadi?!”

Kemudian air langsung turun dari langit-langit apartemennya dan membuat Naruto dan Hinata menjadi basah kuyup. Kue yang sudah Hinata buat dengan sempurna juga dibasahi oleh air. Kelihatannya asap dari oven itu sudah terlalu banyak sampai-sampai alat pemadam kebakaran Naruto langsung bereaksi dengan cepat.


Fire alarm
Image source : osfm.fire.ca.gov
Naruto dengan cepat langsung membuka ovennya dan membuka semua jendelanya. Ia tidak tahu lagi harus berkata apa. Ia pasti benar-benar terlihat seperti orang bodoh sekarang. Aaa! Naruto benar-benar bodoh!

“Maaf Hinata!” Naruto berlari kembali ke dapur dengan tergesa-gesa, “Apa kau tidak apa-apa?!”

Hinata mengangguk dengan lembut, tapi Naruto kemudian langsung tersadar akan hal lain. Air tadi membuat baju putih Hinata tembus pandang. Wanita itu sudah tidak memakai apron lagi... Naruto dapat melihat baju dalam Hinata yang berwarna putih. Baju dalam itu memiliki aksen lace dan pita yang elegan. Ternyata baju dalam Hinata juga elegan seperti orangnya!


Hinata's Dolce & Gabbana top, Naruto's white apron
Image source : net-a-porter , bibapron
Hinata mengangguk dengan lembut, tapi Naruto kemudian langsung tersadar akan hal lain. Air tadi membuat baju putih Hinata tembus pandang. Wanita itu sudah tidak memakai apron lagi... Naruto dapat melihat baju dalam Hinata yang berwarna putih. Baju dalam itu memiliki aksen lace dan pita yang elegan. Ternyata baju dalam Hinata juga elegan seperti orangnya!

“Maaf." Hinata terlihat tidak nyaman. "Saya permisi.”

Wanita itu tampaknya tersadar kalau sejak tadi Naruto melihat baju dalamnya. Wajah Hinata berubah merah merona. Ia dengan panik langsung menutupi dadanya dengan tangan-tangan kecilnya, kemudian berlari kabur ke luar. Dalam sekejap Hinata sudah meninggalkan Naruto di ruangan itu sendirian. 

Bagus Naruto. Bagus. 

Kau memang artis mesum kekinian.

XXX


Sakura's Apartment
Image source : homedit

“Selamat pagi! Saya Anko Mitarashi and you’re watching Japan Gossips! Uzumaki Naruto, aktor nomor satu Jepang kelihatannya menyembunyikan wanita di apartemen besarnya! Penthouse tepi pantai yang berharga 15.9 milyar dollar itu memang kelihatannya terlalu besar untuk ditinggali oleh satu orang saja! Banyak fans yang melaporkan kalau mereka melihat Naruto bersama krunya membawa barang-barang belanjaan mahal seperti Chanel dan Hermes! Naruto tidak mungkin membeli itu untuk dirinya sendiri bukan? Wow! Gadis macam apakah yang berhasil merebut hati Naruto? Apakah fans akan senang mendengar pria idola mereka direbut oleh wanita ini?! Saya Anko dan sampai bertemu besok hanya di Japan Gossips!”

Haruno Sakura hanya bisa membuka mulutnya dengan kaget melihat berita di telivisi. Artis muda itu duduk dengan kaku ketika didandani oleh kru make upnya. Ia sekarang sedang ada di apartemennya. Kru make up Sakura datang untuk mendandaninya sebelum artis itu beraktivitas.

Setiap pagi, Sakura sudah biasa didandani oleh dua orang kru make up sambil menonton televisi di ruang tamunya. Kegiatan ini selalu membuatnya merasa lebih relaks. Ruang tamunya yang penuh dengan unsur kayu dan warna pastel memberikan kesan yang homey. Ia seharusnya merasa relaks. Sangat relaks. Apalagi hari ini ia mendapat baju hitam gratis dari Dior. Sialnya hari ini Sakura merasa tidak senang. Ia tidak percaya Naruto malah membuat Hinata menjadi topik panas di berita nasional! Ia tahu Naruto itu bodoh, tapi tidak sebodoh ini juga! Damn! Bagaimana kalau identitas Hinata terkuak? Apa kata Keluarga Hyuuga nantinya?!

“Haruno-san, ada telepon,” Salah satu kru Sakura memberikan ponsel genggam Sakura kepadanya.



Sakura's Dior Jumpsuit & Make up
Image source : dailymail , frontrowbeauty

“Sakura!!!” Suara ibunya membuat Sakura ingin pura-pura mati. “Kau masih saja main film terus?! Kau sudah capek belum membuat ibu malu?!”

Lagi-lagi. Ibunya yang menentang karir Sakura bermain film. Sakura itu sudah menjadi artis terkenal loh! Artis terkenal! Seharusnya ibunya menerimanya! Cih. Sayangnya Sakura adalah anak satu-satunya dari Perusahaan Besar Haruno. Perusahaan besar yang bergerak di bidang supermarket chain. Ia memiliki banyak cabang supermarket besar dan mall-mall di beberapa negara Asia. Ibunya selalu saja memintanya untuk meneruskan perusahaan keluarganya.

Dengan cepat Sakura langsung menutup telponnya dan bangkit berdiri.

Kru Sakura dengan cekatan langsung merapihkan alat-alat make up tadi. Mereka langsung mengikuti artis muda itu. Dengan cepat, Sakura keluar dari apartemennya dan menekan tombol liftnya. Sebentar-sebentar ia menggigit bibirnya. Gerak-geriknya tampak seperti orang yang tidak sabar untuk segera turun ke lobi. 


Elevator
Image source : dailymail

“Apakah menurut kalian Naruto benar-benar menyimpan wanita?” Sakura akhirnya bertanya kepada dua orang krunya.

"Ya iya lah! Sakura-san sudah liat berita kan tadi?” Salah satu krunya yang berambut pirang tampak yakin.

“Tapi wanita itu menyebalkan sekali ya,” Krunya melanjutkan, “Ia menggunakan tubuhnya untuk mendapatkan tas bermerek. Dasar wanita materialistis.”

Sakura yang sudah tidak sabar menunggu langsung menekan tombol lift itu sekali lagi. Kali ini ia menekan tombol itu dengan sekuat tenaga. Ia tidak ingin mendengar gosip buruk tentang Hinata lagi. Sudah cukup!

“Kalian tunggu lift ini saja, aku akan menggunakan tangga darurat.” Sakura menghela napasnya. 

Sakura dengan cepat langsung membuka pintu tangga darurat. Ia tinggal di lantai tiga jadi jarak untuk sampai ke lobi tidak begitu jauh. Ia ingin cepat-cepat sampai ke lobi... lebih tepatnya ia ingin cepat-cepat sampai ke tempat syutingnya dan berbicara empat mata dengan Naruto. Pria bodoh itu harus diberi teguran! Berani sekali ia menggoda teman SMA Sakura! Hinata yang polos itu digoda oleh pria bodoh seperti Naruto?! Sakura pikir Naruto bisa dia percaya! Ternyata ia salah besar!

“Kyaa!” 

Karena terlalu cepat berjalan dengan hak tinggi, Sakura terpeleset jatuh. Anehnya wanita itu tidak merasa sakit. Ia sepertinya jatuh di atas tubuh seseorang pria. Tubuh orang itu agak keras. Seperti otot. Ya, rasanya seperti otot. 


Ermenegildo Zegna suit
Image source : tapiture
“Kapan kau akan bangun?” Pria itu terdengar sinis, “Kau berat sekali.”

Luar biasa. Sakura belum mengenal orang ini, tapi sudah dimaki-maki. 

“Maafkan aku.” Artis muda itu akhirnya bangun dan berdiri dengan tegak, “Apakah kau baik-baik saja?”

“Hn,” Orang itu mengangguk dan berjalan turun mendahului Sakura.

Dilihat dari pundaknya yang bidang, kelihatannya orang itu tampan. Suaranya juga dewasa dan postur tubuhnya tegak. Jika ia tinggal di apartemen ini, berarti pria ini pasti pria yang kaya. Apartemen Sakura adalah salah satu apartemen termewah di Tokyo. Orang-orang yang tinggal di sini biasanya pengusaha sukses atau artis terkenal. 

Ah, sudahlah. Sakura tidak punya waktu untuk ini. Ia harus cepat pergi ke tempat syutingnya dan menegur Naruto.

Artis cantik itu dengan cepat langsung mendahului pria tadi. Entah kenapa pria itu tidak mau kalah dan berjalan lebih cepat lagi. Mereka berdua jadi beradu jalan seperti di film-film action Sakura. Apa jangan-jangan... pria ini stalker? Gawat. Sakura benar-benar tidak suka stalker. Satu minggu yang lalu ia masuk berita karena Sakura tanpa sengaja memukul stalker dan mengirim pria itu ke rumah sakit.

Karena ia paranoid, Sakura langsung berlari menuju ke pintu ke luar. Pria itu langsung menarik tangannya. Spontan Sakura yang panik langsung memukul pria itu dengan sekuat tenaga. 

Loh?

Biasanya pria yang ia pukul akan berteriak kesakitan. Pria ini tidak. Eh. Ternyata wajah pria itu tampan sekali. Sepasang mata hitamnya menatap Sakura dengan tajam. Ia terlihat begitu dingin tapi menarik. Entah kenapa Sakura ingin mengetahui lebih banyak hal dari orang ini. Sebagai seorang artis, Sakura sering melihat pria berwajah tampan. Anehnya, orang ini berbeda. Ia tidak hanya tampan, tapi juga memiliki karismanya sendiri.

“Kau belum meberitahu namamu,” Pria itu menatap Sakura dengan dingin.

“Kau tidak tahu namaku?” Sakura tampak kaget.

Semua orang di Jepang tahu nama Sakura. Ia selalu muncul di acara televisi dan iklan-iklan. Tunggu. Apa jangan-jangan pria tampan ini tidak punya televisi? Tidak. Tidak. Ia pasti bohong. Ia hanya stalker yang ingin mencari alasan untuk berkenalan dengan Sakura.

“Kau tidak tahu artis yang bernama Haruno Sakura?” Sakura menunjuk wajah cantiknya sambil terlihat bingung, “Dulu kau tinggal di goa ya? Atau kau itu stalker yang pura-pura bodoh?”

“Sasuke,” Pria itu akhirnya menyebutkan namanya, “Namaku Uchiha Sasuke dan dulu aku tinggal di Perancis, bukan goa.”

Dengan itu Sakura langsung berlari kabur. Uchiha?! Uchiha Sasuke?! Kalau tidak salah, nama itu adalah nama dari putra pemilik Uchiha TV. Sial. Sial. Sial. Kenapa Sakura bisa menyebut orang itu dengan panggilan ‘stalker’. Bagus. Hilang semua masa depan karirnya di saluran televisi terkenal itu. Hari ini adalah hari yang sangat buruk! Pertama ada skandal si bodoh Naruto. Lalu ibunya! Sekarang ada Uchiha Sasuke yang baru saja ia pukul dan ia sebut stalker yang tinggal di goa!

“Shanaroo!”

XXX


National Art Center, Tokyo
Image source : japan.tourismsee
Lokasi syuting Naruto hari ini ada di National Art Center, Tokyo. Tempat ini adalah musium besar yang luasnya 30.000 m². Gedung ini terbuat dari kaca-kaca besar yang megah. Bentuknya yang melengkung memberikan kesan kontemporer. Bangunan yang kompleks ini memiliki permukaan paraboloid. Jendela-jendela kacanya dilindungi oleh tirai logam horizontal yang memberikan kesan futuristik. Tempat ini sangat cocok untuk adegan action Naruto hari ini.

Sejujurnya Naruto sangat bersemangat syuting di tempat ini. Apalagi ia akan banyak menggunakan pedang dan jurus-jurus Aikido yang pernah ia latih saat kuliah dulu. Namun semangat itu hilang saat ia sampai ke tempat syutingnya. Ia merasa tidak nyaman. Orang-orang menatap Naruto dengan tatapan yang sangat mencurigakan. Biasanya kru-krunya selalu menyambut artis film action ini dengan senyuman. Hari ini tidak. Mereka menatap Naruto dengan tatapan analitis.

“Naruto!” Teriakan Haruno Sakura langsung bergema di telinga Naruto.

“Sakura-chan!” Naruto menatap teman kerjanya yang cantik itu. 

“Kau—” Sakura yang tadinya berteriak langsung mengecilkan suaranya, “Ssh... Kemari, kita perlu bicara. Berdua saja...”


Inside National Art Center, Tokyo
Image source : designboom
Naruto kemudian berjalan bersama Sakura ke tempat yang lebih sepi. Di sana mereka akhirnya duduk. Sakura tampak sangat stress, wanita itu kelihatannya akan segera memarahi Naruto. Entahlah, artis tampan itu punya firasat kalau wanita berambut pink itu akan segera memarahinya. 

“Naruto! Kau sudah gila ya?!” Sakura langsung memukul perut pria itu dengan sekuat tenaga.

Sial! Sakit sekali! Sakura memang pandai bela diri. Wanita itu memiliki gelar sabuk hitam. Ternyata gelar itu tidak bohong. Pukulan Sakura rasanya benar-benar sakit. Damn. Rasanya tulang Naruto retak sedikit. Okay, mungkin itu hiperbola, tapi damn! Sakura itu brutal sekali!

“Apa-apaan Sakura-chan?!” Naruto berteriak kesakitan, “Aku tidak melakukan apa-apa-ttebayo!”

“Kau tidak menonton berita di televisi?!” Sakura menarik napasnya dalam-dalam, “Kau itu bodoh ya?! Kau tidak melihat sosial media?! Kau ada di trending topic!”

“Memangnya harus ya?” Naruto menghela napasnya, “Aku tidak begitu aktif di sosial media-ttebayo....”

“Lihat ini!” Sakura langsung membuka telepon genggamnya dan memperlihatkan gambar Naruto yang sedang membawa tas-tas mahal.

“Wow, aku tampan juga di gambar itu-ttebayo!” Naruto tampak kagum, “Ternyata aku tidak perlu photoshop.”

“Kebodohanmu itu sudah tingkat akut ya?” Sakura kemudian menunjuk tulisan di atas gambar itu, “Baca ini!!!”

‘Apakah Uzumaki Naruto menyimpan wanita di apartemennya?!’

“Hinata bukan wanita simpanan!” Naruto langsung berdiri dan menunjuk telepon genggam itu dengan kesal, “Hinata itu... Hinata itu... Teman SDku yang baik hati!”

“Hah?” Sakura kemudian menaikkan satu alisnya, “Kalian saling kenal? Tunggu... Kau teman SD Hinata?”

“Iya,” Naruto mengangguk, “Dia baik sekali, waktu SD dulu ya, Hinata itu—”

“Jadi kau tahu kalau dia bukan bermarga Masakazu?!” Sakura tampak panik.

“Iya,” Naruto menjawabnya dengan pede, “Dia itu Hyuuga Hinata kan?”

“Sssh!!” Sakura langsung memukul Naruto lagi, “Jangan sebut-sebut nama Hyuuga di tempat ini!”

“Apa sih Sakura-chan?!” Naruto langsung merintih kesakitan lagi, “Sakit sekali tahu!”

“Dengar ya Naruto! Kau harus segera menghentikkan rumor ini! Diskusikan ini dengan pihak manajemenmu!” Sakura langsung menatap Naruto dengan serius, “Jangan sampai identitas Hinata terkuak!”

“Sakura-chan kau galak sekali....” Naruto menghela napasnya.

“Ini situasi yang penting Naruto!” Sakura memukul pria itu lagi, “Hinata ingin menyembunyikan identitasnya dari keluarganya. Kau ingin wajahnya muncul di televisi nasional? Jika itu terjadi, Hinata harus kembali ke rumah keluarganya. Ia tidak bisa mengejar mimpinya lagi....”

Naruto kemudian terlihat khawatir. Sakura benar. Hinata ingin mengejar mimpinya. Jika Naruto melibatkan Hinata ke dalam skandal ini, wanita itu harus kembali ke rumah orang tuanya. Wanita itu tidak bisa mengejar mimpinya. Naruto ingin membantu Hinata membuka toko kuenya sendiri. Jika mimpi gadis itu terwujud, Hinata bisa kembali ke Kyoto dan kembali ke sisi orangtuanya dengan hati yang bahagia. 

“Kau benar Sakura-chan.” Naruto mengangguk, “Kita harus melindungi Hinata.”

“Bagus kalau kau tahu!” Sakura tersenyum lega, “Akhirnya otakmu itu bisa berjalan dengan normal juga!”

“Oh ya, Sakura-chan.” Naruto tampak lemas, “Kau teman Hinata waktu SMA bukan?”

“Iya memangnya kenapa?”

“Dulu Hinata pernah punya pacar tidak?” Naruto langsung menatapnya dengan wajah yang penasaran.

Artis cantik itu terus terdiam. Naruto jadi makin penasaran. Sial. Sial. Sial. Semoga bukan Sasuke. Semoga bukan Sasuke. Naruto tidak terima jika wanita secantik dan selembut Hinata pernah berpacaran dengan Sasuke yang dingin dan menyebalkan itu. Tidak, tidak boleh. Bidadari tidak cocok jika berpacaran dengan robot.

“Hinata ya...” Sakura menerawang jauh, “Hm... Hinata...”

Naruto makin penasaran, ia kemudian berdiri dan berteriak dengan kesal, “Sakura-chan! Jangan lama-lama menjawabnya-ttebayo!”

“Sejujurnya aku tidak tahu Naruto.” Sakura menghela napasnya, “Semenjak ayah Hinata dipenjara... Hinata jadi lebih tertutup kepada semua orang.”

“Dipenjara?!” Naruto tampak bingung.

“Kau tidak tahu? Skandal korupsi ayah Hinata?” Sakura menatap Naruto dengan bingung, “Ayah Hinata kan terkena 7 tahun penjara. Ia mundur dari jabatan dan setelah itu mengembalikan hasil kejahatannya.”

“Apa?!”

“Polisi menyita kekayaan Keluarga Hyuuga, sekarang hanya Ibu Hinata saja yang membiayai kehidupan mereka.” Sakura mengangguk, “Untunglah ibunya memiliki usaha upacara minum teh di Kyoto.”

Ternyata ada banyak hal yang tidak Naruto ketahu tentang Hinata. Masa lalu wanita itu sangat pahit....  

XXX


Naruto's Library
Image source : pixgood.com
Syuting film Naruto akhirnya berakhir dengan sukses. Malam itu Naruto langsung pulang dan duduk di ruang bacanya yang hangat dan nyaman. Jendela-jendela kaca besarnya memperlihatkan langit malam yang indah. Lampu-lampu kota yang bersinar tampak seperti box perhiasan yang mewah. Perapian kayu Naruto menyala dan menghangatkan ruang baca itu. Sebenarnya tempat ini sangat nyaman, tapi Naruto terlihat tidak nyaman.


Naruto's Library View
Image source : tokyobling
Naruto terlihat tidak sabar. Ia mondar-mandir di ruang baca itu dengan panik. Lemari-lemari buku yang terbuat dari kayu mahoni tidak disentuhnya. Ia tidak datang ke ruang baca itu untuk membaca buku. Ia datang ke sana untuk melepas stress. Saat ia pulang, Hinata tidak ada di rumah. 

Karena panik, Naruto hampir menelpon polisi. Namun untunglah saat ia menelpon Hinata, wanita itu menjawab teleponnya. Katanya ia sedang turun sebentar ke supermarket untuk membeli sayur dan susu. Namun Naruto tetap saja merasa tidak tenang. Bagaimana kalau Hinata diculik?! Bagaimana kalau Keluarga Hyuuga menemukannya?! Bagaimana kalau fans Naruto melukai Hinata?!

Naruto kemudian memutuskan untuk melihat sosial media di ponselnya. Berita soal Hinata sudah ia periksa sejak tadi siang. Entah kenapa bukannya berita itu mereda, beritanya malah makin parah!

‘Dasar wanita matre!’

Naruto membaca salah satu comment di sosial media. Sebenarnya ia jarang membuka sosial media. Gosip-gosip aneh dan tidak benar terlalu cepat datang dan pergi. Naruto tidak punya waktu untuk melihatnya. Namun hari ini berbeda. Hari ini Hinata yang menjadi topik ejekan mereka. Entah kenapa para fans wanita Naruto tidak menyukai Hinata. Kritik-kritik pedas dan makian selalu saja muncul setiap detik. 

“Hinata bukan wanita matre-ttebayo!” Naruto mengoreksi pesan itu dengan kesal.

Ia kemudian membuka platform sosial media lain. Komentar lain muncul dan Naruto benar-benar tidak menyukainya.

‘Ih, cewe barunya Naruto-kun norak banget! Banyak gayanya. Minta tas branded terus.’

Apaan sih? Itu bukan Hinata yang memintanya! Itu semua hadiah minta maaf dari Naruto! Kenapa sih fans-fans ini suka berspekulasi yang tidak-tidak? Oh ya, Naruto hampir lupa... ini sosial media. Isinya penuh dengan kebohongan dan gosip yang banyak bumbunya.

‘Gak capek apa, hidupmu terlalu di paksa... Uda lah stop aja.. Daripada jd pelacur, jd gembel lbh pantes...’

“Hinata bukan pelacur-ttebayo! Tangannya saja tidak bisa kupegang apalagi yang lain!”

Naruto kemudian membanting ponselnya dengan kesal.

Ponsel itu jatuh ke atas pundak anjing pug Kakashi. Okay, that was harsh. Anjing pug yang bernama Pakkun itu tampak kesal. Wajahnya yang penuh kerutan membuat Naruto jadi merasa bersalah. Tampaknya anjing itu marah padanya.


Kakashi's Pug, Pakkun
Image source : pawbuzz
“Iya, iya Pakkun,” Naruto mengajak anjing itu berbicara, “Maafkan aku.”

Pakkun tampak tidak senang. Anjing itu membelakangi Naruto. 

“Sudah jangan ngambek,” Naruto berjalan mendekati Pakkun dan menggendong anjing pug itu.

Anjing itu masih marah padanya. Pakkun meronta-ronta terus. Ia tampaknya tidak suka digendong oleh Naruto. Bagus. Anjing saja tidak suka pada Naruto, apalagi wanita yang berkelas seperti Hinata? 

“Ah, rupanya kau disini Naruto-kun,” Hinata membuka pintu ruang bacanya.


Hinata's Valentino Fall 2015, Naruto's Mango 2015
Image source : net-a-porter , erikshuvudsaker.designbloggarna.se
Wanita itu tampak elegan dengan gaun sopan yang potongannya jatuh di bawah lutut. Apanya yang pelacur? Hinata adalah wanita yang baik hati dan berkelas. Fans-fans Naruto tidak tahu apa-apa soal wanita bermarga Hyuuga ini. Kalau mereka kenal Hinata, mereka pasti akan menyesal.

“A-Ada apa dengan Pakkun?” Hinata tampak bingung.

“Iya, dia ngambek karena aku membanting ponselku ke tubuhnya.” Naruto menghela napasnya. 

“Eh?” Hinata tampak kaget, “I-itu pengiyayaan binatang. Na-naruto-kun melanggar hukum No. 105 IEXAS. Pengadilan bisa menjatuhkan denda 1 juta yen...”

“Tidak sengaja kok.” Naruto kemudian meletakkan Pakkun ke atas lantai kayu apartemennya, “Lagipula ia tidak apa-apa. Oh ya, kau tahu banyak juga ya soal hukum dan pengadilan.”

“Ah... Itu...” Hinata tampak agak sendu, “Dulu ada beberapa kasus yang terjadi kepada orang yang kukenal. Jadi aku masih mengingat beberapa hukum saja.”

Kasus? Jangan-jangan ayahnya? Naruto jadi ingat Sakura mengatakan bahwa Ayah Hinata korupsi dan dihukum 7 tahun penjara. Jangan-jangan karena inilah Hinata jadi tahu banyak tentang hukum? Sebenarnya ada apa lagi yang terjadi di kehidupan Hinata? Kenapa wanita itu bisa begitu trauma? Begitu tahu akan hukum... begitu... rahasia? Kalau dipikir-pikir Naruto tidak tahu banyak soal Hinata sama sekali. 

Wanita itu selalu saja begitu tertutup. Begitu... misterius. Naruto tidak bisa menerka apa yang ada di pikiran wanita itu.

“Hinata...” Naruto berjalan mendekati wanita itu, wajah mereka sangat dekat, “Soal berita di televisi—”

“Eh?” Wanita itu tampak kaget, “Berita apa?”

Baguslah... Ternyata Hinata tidak tahu soal berita menyeramkan itu. Lebih baik Hinata tidak tahu apa-apa! Naruto sekarang harus mencari topik agar ia bisa menghindari percakapan ini... Ah, pikirkan sesuatu Naruto!

“Kalau kupikir-pikir lagi karena aku artis, kau tahu banyak hal tentang aku dari majalah...” Naruto tersenyum lebar, “Aku tidak tahu apa-apa tentangmu. Oh ya! Ayo duduk-duduk.... Kita belum ngobrol-ngobrol soal kehidupanmu semenjak lulus SD.”

Wanita itu kemudian duduk di kursi ruang baca Naruto. Hinata duduk dengan sangat sopan. Tubuhnya tegak dan posturnya sempurna. Kelihatannya daripada siap ngobrol, Hinata lebih siap diwawancara oleh polisi.

“Jadi ceritakan lebih banyak soal dirimu,” Naruto ikut duduk di sebelah wanita itu.

“Um...” Hinata menunduk ke bawah, “Tidak ada yang menarik soal diriku....”

“Kau tidak boleh bilang begitu-ttebayo!” Naruto tampak tidak setuju, “Setiap orang itu punya daya tariknya sendiri.”

Hinata masih saja terdiam. Kelihatannya teman SD Naruto itu tidak tahu harus berbicara apa. Jangan-jangan... Hinata memang menyembunyikan sesuatu? Kalau Hinata tidak mau bercerita, ya sudahlah. Naruto menghargai keputusan wanita itu. Daripada diam-diaman terus, lebih baik Naruto bertanya hal-hal yang ringan saja untuk menghangatkan suasana.

“Kau suka warna apa?”

“Eh?” Hinata tampak kaget, “Kenapa... tiba-tiba—”

“Aku penasaran saja-ttebayo!” Naruto menggaruk-garuk rambutnya, “Jangan-jangan putih ya? Habisnya kau suka mengenakan baju berwarna putih!”

“Um... Iya.” Hinata mengagguk, “Aku suka warna putih, tapi aku juga suka warna ungu dan biru.”

“Oh ya?” Naruto kemudian mengetik jawaban itu di notes ponselnya, “Kalau hobi? Selain memasak kau suka apa?”

“Aku suka menonton opera,” jawab Hinata, senyuman muncul di wajah porselennya, “Menurutku The Phantom of the Opera sangatlah bagus.”

“Oh! Opera!” Naruto tampak kagum, “Aku pernah menonton opera yang berjudul Oreo Ajaib!”

“Oreo Ajaib?” Hinata tampak bingung.

“Eh bukan yang satu namanya Oreo yang satu lagi Seruling Ajaib atau apalah itu!” Ujar Naruto dengan agak bingung.

“Oh! The Magic Flute? Karya Mozart bukan?” Hinata tampak senang.

“Oh iya iya itu.... The Magic Flute dan Oreo! Dijilat, diputar, dicelupin!” Naruto berusaha melucu untuk menutupi kesalahannya.

“Um... Aku tidak tahu opera yang bernama Oreo.... Mungkin L'Orfeo?” Ujar Hinata.

“Oh iya itu! Ya L’Oreo!”

“L’Orfeo, Naruto-kun,” Hinata tertawa kecil, “Lalu Oreo itu diputar dulu baru dijilat.”


L'Orfeo, The Magic Flute & The Phantom of the Opera
Image source : prestoclassical , boricuanbookworms , huffingtonpost
“Oh iya... Iya juga-ttebayo! Tadi aku melucu doang kok!” Bagus. Kenapa Hinata pintar sekali?

“Oh ya!” Naruto langsung tampak senang, “Aku akan syuting masterchef Celebrity di Singapore dua minggu lagi! Kau ingin ikut tidak? Di Singapore ada teater terkenal di dekat Marina Bay Sands!”

“Eh, tapi aku kan pembantu—”

“Teman SD,” Naruto mengoreksi Hinata.

“Namun yang mengurus rumah Naruto-kun nanti—”

Naruto langsung tersenyum hangat, “Aku juga punya rumah di Singapore, jadi kau mengurus rumah yang disana saja! Lagipula aku butuh guru masak, kalau aku tidak aku pasti langsung dieleminasi!”

Alasan Naruto kelihatannya diterima oleh teman SDnya itu. Hinata akhirnya mengangguk. Entah kenapa anggukan itu membuat Naruto merasa sangat senang.

“Hore! 2 Minggu lagi kita ke Singapore ya! Lalu kita bisa nonton opera bersama!”

Hinata kemudian tersenyum bahagia. Naruto tidak tahu bahwa ia bisa merasa sesenang ini saat membuat orang lain tersenyum...

“Oh ya, tapi kau harus naik pesawat yang berbeda ya Hinata.” Naruto tampak serius, “Tidak ada satupun orang yang boleh melihat kita berduaan. Saat nonton opera kita harus pake wig dan kacamata!”

“A-aku mengerti Naruto-kun.” Hinata mengangguk.

“Yosh! Singapore here we come!”

XXX


Black Lincoln Limousine
Image source : presidential-limo

Uzumaki Kushina duduk di Limousine hitamnya dengan tidak tenang. Wanita berambut merah itu sekarang sedang berada di Jakarta untuk membicarakan soal ekspansi propertinya di daerah Asia Pasifik. Rapat yang diselenggarakan di Hotel Kempinski Jakarta tadi berlangsung cepat. Namun bukan hasil rapat itu yang Kushina khawatirkan. Yang ia pikirkan sekarang adalah putra angkatnya, Uzumaki Naruto.

Kushina tidak pernah punya suami, ia tidak punya penerus. Saat ia melihat Naruto di panti asuhan dulu, anak itu sudah lulus SD. Anak yang sudah lulus SD sulit untuk mendapat orang tua adopsi. Awalnya ia kasihan, tapi setelah dipikir-pikir ia memang membutuhkan Naruto. Kushina memiliki Perusahaan properti yang besar. Ia butuh seorang penerus. Karena itulah ia akhirnya mengadopsi Naruto. 
Jakarta's Street, Kushina's Versace Fall 2015
Image source : thejakartapost , net-a-porter
Aneh. Kushina tahu Naruto itu bodoh, jadinya pria itu tidak pernah punya pacar. Sejak dulu Kushina tidak pernah memusingkan soal wanita yang dekat dengan Naruto, tapi gosip kali ini tampak berbahaya. 

Kushina sudah merencanakan masa depan Naruto. Pria itu boleh punya karir menjadi artis untuk sementara. Ia boleh menjadi komedian, koki, pengacara, pemadam kebakaran— Kushina tidak peduli. Namun jika Kushina akan pensiun nanti, yang mewarisi usaha properti Kushina adalah Naruto. Pria itu harus menikah dengan wanita yang dipilih Kushina. Wanita itu harus seorang putri dari pemilik perusahaan besar juga. Dengan begitu perusahaan Kushina dan menantunya bisa digabungkan. Kekayaan mereka akan berkali-kali lipat.

Kushina kemudian memanggil asistennya yang duduk di sebelahnya, “Siapkan tiket ke Tokyo.”

“Eh?” Wanita berambut hitam itu tampak bingung, “Tapi—”

“Aku harus bicara empat mata dengan Naruto.”

XXX

Hai!! Thank you for reading chapter 3! Aku suka menuliskan Kushina menjadi mama yang kaya. Di chapter berikutnya Kushina akan muncul dengan kehidupan glamornya dan eh… spoilers. Lebih baik jangan banyak cerita hahaha. Anyways! Terima kasih yah sudah membaca chapter 3!!! Aku sangat suka baking dan menurutku membuat kue itu melepas stress! Anyone loves baking here?

Entah kenapa aku suka memotret progres membuat kue. Melihat foto tepung dan telur itu menyenangkan. Okay, jujur, aku aneh sekali…. Hahaha! Have a nice day everyone!


My baking process
Image source : my instagram

2 comments:

  1. waw fanfict yang kamu bikin keren,,berkelas ditunggu fanfiction selanjutnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you so muchh sudah dibilang berkelas ;)
      I truly appreciate it! Have a wonderful day ahead yah~

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...