Peacock Lounge Fairmont Hotel : Review

23:20 Melissa Gabriele 3 Comments


My sister and I went on an afternoon tea date at Peacock Lounge, Fairmont Hotel Jakarta. I have heard that this new place at Fairmont Hotel has one of the best cakes in Senayan. Since I adore cakes and teas, I knew right then that I have to book a table for two. It's afternoon tea time~

Fairmont Hotel Lobby
When we both entered the lobby, I was magically stunned by the simplicity of the interior. It's very modern and large. They made sure that the space is not fully packed with different interior. Its focus is to made sure that the guests feel welcomed and comfortable. 

Fairmont Hotel Lobby

Once we entered Peacock Lounge, we could really feel the homey ambience. Everything is filled with pastel-colored interior. The softness of the interior design really made it looked feminine and lovely. The perfect design choice for an afternoon tea.

Peacock Lounge
The one that stunned me the most is the afternoon tea itself. Instead of a regular afternoon tea set, it is placed inside a jewelry box. The unique idea made me thrilled and surprised. This is the first time I experience this kind of afternoon tea. I especially love the glass on the top of the box. It reflected all the beautifully decorated cakes and pastries.

Afternoon tea in a box
One of my favorite afternoon tea treat is smoked salmon sandwich, mainly because I love anything that has to do with salmon. This time I am truly pleased that Fairmont offers the smoked salmon sandwich. I especially love the garnish on top of the sandwich. What a beautiful sight.

Smoked Salmon Sandwich

One of the disappointment I had was how limited the choice of tea they offer. There were only two free tea from the afternoon tea set: Darjeeling and Pink Flamingo tea. They offer other types of tea, with an extra charge. The Darjeeling tasted like how a Darjeeling tasted, musky and a little bit spicy. I picked this tea to neutralize the sweetness of the cakes. My sister chose the Pink Flamingo. It tasted as sweet as the panna cotta offered there and smelled like a bouquet of flowers. She loved the Pink Flamingo more since she adore anything sweet.

Afternoon tea at the Peacock Lounge

One of the pastry-chef's skill that I truly adore is their skill for baking mousse. This type of cake requires practice to achieve that soft and cloud-like texture. I find their mousse well-made, however they did not offer my favorite type of mousse in the afternoon tea set, the passion fruit mousse. That's why I had to order one. Boy, that was the best decision I made that day. The passion fruit mousse tasted perfect, just like the mousse I had in La Renaissance Sydney. The mousse is very soft and fruity, while in contrast it also has the crunchiness of the coconut. Yup, definitely my favorite.
  
Coconut Passion Mousse
Since I was very pleased with the passion fruit mousse, my sister ordered their chocolate mousse. I find the chocolate mousse delicious as well. I love how they added fillings inside and biscuits as the foundation. The different combination of textures leaves me wanting more.

Chocolate Mousse
I find the fruit tart quite average, however I think the banana bread went overboard. I felt like they added three banana bread since they only offer small scones, however I still felt like banana bread is too heavy for an afternoon tea. 

Fruit tart and Banana Bread
To sum up, I had a wonderful afternoon tea experience at Fairmont Hotel Jakarta. I love their pastel-colored interiors and their afternoon tea in a box. Their Coconut Passion mousse is a must try and I really hope they added more teas in their afternoon tea set. Regardless, will be back for more!

My sister and I
Oh and I forgot to mention how nice the staff was. When I asked them to take a picture of me, they immediately responded nicely. I must say that I was surprised when the waitress knew how to use my Canon SLR camera. She even knew which place has better lighting and directed us to a good spot. Wow! I am truly impressed!


Peacock Lounge cake selection

Address :
No., Jl. Asia Afrika No.8, Jakarta, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10270, Indonesia


Watch my YouTube video of Peacock Lounge Faimont Hotel review here:










3 comments:

Marrying Uchiha Sasuke : Chapter 16

23:20 Melissa Gabriele 31 Comments

Marrying Uchiha Sasuke

Chapter 16

Baby, It's Cold Outside


Wine Cellar
Image source : dwp 
Disclaimer : I do not own Naruto
Warning : Slight sexual implication

Pagi itu Sakura mengitari wine cellar yang terbuat dari kaca dengan kebingungan. Wine cellar ini terletak di tengah-tengah restoran michelin Belon Oyster Bar di Macau. Interiornya yang penuh dengan kristal-kristal bening membuat restoran ini terkenal di kalangan ekspat. Namun alasan Sakura ke sini bukanlah untuk menikmati makanan atau interiornya. Sakura datang karena ingin membeli wine untuk suaminya. Sayangnya sejak tadi, ia malah memikirkan hal lain. Ia memikirkan ciumannya kemarin malam. Ah! Sial. Ini semua salah Sakura! Kenapa ia mencium Sasuke? Ia benar-benar ingin minta maaf, ia ingin melupakan semuanya— Namun, ciuman kemarin sangat... sangat. Ah! Lupakan. Lupakan saja!



Sakura's Rime Arodaky Dress, Waiter
Image source : net-a-porter , trungtamnhatngu
“Jadi wine apa yang anda inginkan?” Pelayan di sana tersenyum ramah kepada Sakura.
“Wine apa yang cocok untuk orang yang dingin dan menyebalkan?” Sakura bertanya kepada pelayan itu, “Oh, tapi orang itu terkadang romantis dan baik.”

“Eh... Itu...” Pelayan itu tampak bingung.

“Tunggu, tunggu. Ah, aku tahu, aku ingin wine yang tepat untuk seorang suami yang setiap malam membuatku tidak bisa tidur!” Ujar Sakura.

Pelayan itu kemudian tampak kaget, wajahnya tampak agak merona. Wanita bermarga Uchiha itu awalnya bingung sejenak, tapi perlahan ia jadi mengerti alasan dibalik wajah merah pelayan itu. Sial! Kelihatannya kata-kata Sakura terdengar agak... seksual. Ah bukan itu alasan Sakura tidak bisa tidur tiap malam! Sungguh! Alasannya adalah karena Uchiha Sasuke itu selalu saja begitu bipolar! Terkadang baik, terkadang bad mood dan kemarin ia malah memberikan Sakura cincin berlian biru yang sangat langka dan mahal! Sakura benar-benar dibuat pusing!

“A-aku sepertinya ingin wine yang ini saja!” Sakura asal menunjuk. 

Sungguh, Sakura pasti terlihat seperti wanita yang gila seks sekarang. Ah! Kenapa hal ini selalu terjadi kepadanya? Tunggu! Kalau dipikir-pikir Sasuke itu menganggap Sakura seperti apa ya? Kira-kira pria dingin itu sedang berpikir apa sekarang? Apakah ia juga memikirkan ciuman mereka tadi malam? Sakura tidak melihat Sasuke saat ia bangun. Pria itu sudah hilang entah kemana. S-a-s-u-k-e. Kenapa pria itu begitu misterius?

“Kalau begitu saya akan membawakan receipt ke sini,” pelayan itu menjawab, “Silahkan duduk.”

“Ah, tidak usah,” ujar Sakura, “Aku ikut saja. Aku ingin melihat-lihat interior restoran ini juga.”

Belon Oyster Bar & Grill Restaurant
Image source : dwp 
Dengan elegan, Sakura menelusuri restoran Belon untuk membayar wine yang ia beli. Jika dilihat-lihat lagi, restoran michelin ini ternyata sepi juga. Entah karena hari masih pagi atau karena harga makanan di tempat ini terlewat mahal. Sakura juga tidak tahu. Namun dibalik kursi-kursi pastel dan kristal-kristal gantung restoran itu, Sakura tidak dapat melihat siapa-siapa kecuali seorang gadis. Gadis itu duduk sendirian. Sakura tidak bisa melihat wajahnya, tapi entah kenapa rambut pirang orang itu terlihat begitu familiar. Rasanya... seperti seseorang yang ia kenal.

Saat orang itu menatap ke samping, Sakura akhirnya dapat melihat wajahnya dengan jelas. Ini halusinasi bukan? Fatamorgana? Kenapa ada Yamanaka Ino di tempat ini?! Ini Macau bukan?! Kenapa Ino bisa ada di tempat ini? Memang sih hari ini masih weekend dan Ino tidak bekerja, tapi kenapa wanita itu tiba-tiba ada di Macau? Kenapa Ino tidak mengabarkan kedatangannya?! Mereka kan bisa berwisata bersama! Dan lagi sejak kapan Ino mampu membayar makanan semahal ini?!

Ino's Altuzarra Fall 2015
Image source : net-a-porter
“Ino!” Sakura dengan cepat berjalan ke tempat duduk wanita itu, “Ino kenapa kau ada di sini?”

Sahabat baiknya tampak kaget melihat Sakura. Entah kenapa ekspresinya tampak tidak tenang. Rasanya Ino seperti menyembunyikan sesuatu. Kelihatannya pertemuan mereka tidak diinginkan oleh Ino. Kenapa? Bukankah mereka sahabat? Ino sering sekali mendengar cerita-cerita Sakura. Mereka tahu segalanya soal satu sama lain! Eh... Tidak juga sih. Ino tidak tahu kalau pernikahan Sasuke dan Sakura hanya pura-pura. Namun itu pengecualian. Intinya Ino dan Sakura itu adalah sahabat dekat. True friends.

“Sakura...” Ino tampak agak pucat, “Kau ada di sini juga?”

Wanita bermarga Uchiha itu tampak kebingungan. Bukankah ia sempat memberitahu Ino bahwa ia akan berangkat ke Macau bersama suaminya. Kenapa wanita itu malah bertanya lagi? Kenapa wajahnya berubah menjadi pucat seperti ini? Sakura sudah lama mengenal dokter nutrisi yang bawel ini. Ino itu selalu saja suka berbicara dan energetik. Kenapa hari ini ia malah jadi nona-nona kaya yang sopan dan ketakutan?

“Ino , sebenarnya ada apa denganmu?” Sakura langsung berjalan mendekat dan mengecek temperatur sahabatnya, “Apa kau sakit?”

“Aku tidak apa-apa,” Ino menjawab Sakura dengan tenang, “Kau sudah selesai makan?”

“Ah, aku tidak makan di sini.” Sakura tersenyum, tampaknya Ino sudah tidak berkeringat dingin lagi, “Aku hanya membeli wine untuk Sasuke. Kemarin kita anniversary dan aku belum memberikan hadiah untuknya.”

Sakura menunggu Ino untuk menanggapinya. Sayangnya sahabatnya hanya terdiam. Ini aneh sekali. Ino biasanya sangat amat cerewet. Sangat amat. Sakura tidak bohong. Dokter nutrisi itu bahkan sering berteriak di telepon untuk memarahinya. Sakura jadi semakin bingung. Sejenak, Sakura memperhatikan meja Ino. Masih belum ada makanan di mejanya. Kelihatannya Ino masih menunggu orang lain untuk datang.

“Kau sedang berlibur dengan siapa?” Sakura mencoba untuk menggali misteri ini lebih lanjut, “Keluargamu? Kenapa kau tidak bilang padaku?”

Mendengar pertanyaan Sakura, dokter nutrisi itu tampak agak pucat lagi. Ia pasti tidak pergi dengan keluarganya! Sakura tahu. Sebenarnya Ino pergi dengan siapa? Kenapa sahabatnya masih belum menjawabnya? Sakura benar-benar tidak tahu harus bereaksi seperti apa.

“Sakura... Aku tidak bisa memberitahukannya padamu.” Ino menghela napasnya, “Jika waktunya tepat, aku pasti akan memberitahumu.”

Baru pertama kali ini Sakura melihat Ino tampak seperti ini. Yah mau diapakan lagi. Ada beberapa hal yang tidak bisa Sakura beritahu kepada Ino juga. Contohnya cerita dibalik pernikahannya dengan Sasuke, bayinya yang sebenarnya diracuni oleh Kisame dan ciuman kemarin malam. Sebagai teman yang baik ia harus menghargai keputusan Ino.

“Ah, begitukah?” Sakura tersenyum lagi, “Kalau begitu selamat menikmati liburanmu. Aku pamit dulu.”

Dengan itu, sahabatnya kembali tersenyum. Sakura akhirnya meninggalkan Ino dan membayar wine pesanannya. Setelah wine itu dibungkus dengan rapih, Sakura kembali berpikir lagi. Sebenarnya siapa orang yang dirahasiakan oleh Ino? Karena penasaran, sosialita cantik itu akhirnya membawa hadiah yang sudah ia bayar dan memilih untuk sarapan di tempat duduk yang jauh dari sahabatnya. Ino tidak mungkin bisa melihatnya dari sini, tapi Sakura bisa melihat Ino dengan jelas. Wanita bermarga Uchiha itu kemudian memesan kopi. Ia penasaran. Sungguh. Ia ingin menjadi stalker hari ini dan melihat orang yang dirahasiakan oleh Ino.

Lima menit berlalu. Tamu misterius itu masih belum datang. Tiga puluh menit berlalu. Orang sialan itu masih belum datang. Berani sekali orang itu membuat sahabatnya duduk dan menunggunya sampai begitu lama. Sebenarnya Ino itu bodoh ya? Wanita itu sudah berapa lama menunggu orang ini? Jangan-jangan Ino sedang dicampakkan? Atau mungkin ditipu?


Hermes Constance
Image source : threadsstyling

Sakura yang kesal akhirnya menghabiskan skim cappuccino yang sudah dingin. Ia kemudian mengambil kartu dari tas Hermes Constance alligatornya dan memutuskan untuk pergi. Orang itu pasti tidak datang. Ino sudah dicampakkan. Sakura akhirnya membayar kopinya dan pergi dari restoran itu. Saat ia berjalan menuju pintu keluar, Sakura dapat melihat orang yang sangat ia benci di lorong restoran. Lorong itu begitu sempit dan terang, jadi Sakura tidak mungkin salah.

Orang itu adalah... Hoshigaki Kisame.


Lorong Restoran
Image source : dwp 
Sebelum Kisame dapat melihatnya, Sakura bersembunyi di balik tembok. Lorong itu memiliki tembok-tembok tinggi yang melengkung. Sakura bersembunyi di sela-sela tembok sambil berusaha untuk bersikap tenang. Entah kenapa Kisame membuatnya jadi salah tingkah dan takut. Kejadian bayi itu... kemudian Sakura yang hampir membunuh Kisame... Semuanya membuat jemari Sakura jadi bergetar. Bahkan di pesta kemarin, Sakura berusaha keras untuk tidak bertemu dengan Kisame.

“Ah, iya. Ino maaf aku terlambat,” Kisame menjawab teleponnya sambil tersenyum, “Mana mungkin aku melupakan janji kita? Hari ini istriku pergi ke Paris jadi kita bisa pergi ke Tibet berdua saja. Aku sudah menyiapkan jet, kita bisa pergi setelah selesai makan. Kau tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi.”

A-apa? Jadi... tamu misterius yang Ino tunggu-tunggu itu adalah Kisame? Jadi karena ini Ino tidak ingin memberitahukan identitas orang yang ia tunggu. Karena Kisame sudah memiliki istri? Tunggu, itu artinya Ino adalah wanita simpanan? Ini bohong kan? Namun kenapa harus begini? 

“Aku sudah memesan vila di St. Regis Lhasa,” Kisame tampak bersemangat, “Aku dengar Spa di sana juga enak. Kau suka spa bukan?”

Ino yang Sakura kenal sangat berkelas dan pintar. Tidak. Sakura tidak bisa membiarkan ini terjadi! Ino tidak boleh merusak rumah tangga orang. Apalagi, Kisame adalah pria yang berbahaya dan jahat. Ino tidak boleh pergi ke St. Regis Lhasa! Tidak boleh! Vila, berdua saja, nanti hal-hal buruk bisa terjadi! Sakura saja hampir melakukan itu dengan Sasuke di Gili!

“Ayolah jangan marah Ino,” Kisame tampaknya sedang membujuk Ino, “Aku sudah sampai di restoran. Lagipula, nanti kita bisa bersantai di vila bersama. Jadi jangan marah. Kemarin aku tidak melakukannya dengan istriku kok.”

Ino sudah melakukannya dengan Kisame?! Apa-apaan ini?! Tidak! Sakura harus menyelamatkan Ino dari pria busuk ini! Besok Sakura masih belum bekerja. Ia juga bisa mengambil cuti beberapa hari jika ia mau. Ia tidak ingin Ino jatuh ke tangan Kisame. Pria licik itu benar-benar berbahaya. Walaupun ia sudah memaafkan Kisame, tapi ia tidak ingin sahabatnya juga dicelakai oleh orang itu. Ya. Sekarang Sakura harus ke Tibet. Harus.

Ia tidak bisa menghubungi Ino karena ada Kisame sekarang, tapi di Tibet nanti Ino akan pergi spa. Kisame tidak mungkin kan ikut spa! Ya! Sakura bisa mencari jadwal booking spa ino dan ikut spa bersamanya. Ia akan berbicara empat mata dengan sahabatnya itu sebelum semuanya terlambat!

Tunggu! Jika dengan pesawat Sakura pasti tidak bisa sampai dengan cepat. Lagipula Vila itu tampak mahal. Sakura dengar St. Regis juga hotel yang cukup mahal di Tibet. Sial. Kalau begitu ia butuh bantuan. Ia harus memanggil bala bantuannya. 

Uchiha Sasuke.

XXX


Macau Highway
Image source : travelblog

Siang itu Sasuke dan Sakura duduk di dalam taksi yang akan membawa mereka ke bandara. Sasuke benar-benar lelah kemarin malam. Entah kenapa ia tidak bisa tidur. Ia akhirnya memutuskan untuk memesan kamar lain dan tidur di tempat yang berbeda dengan Sakura. Jika ia terus tidur di samping wanita itu, entah apa yang akan ia lakukan kepada Sakura. Ia tidak ingin memikirkan ciuman itu lagi. Jika ia memikirkannya lagi, tubuh Sakura yang hanya ditutupi oleh selimut dan jasnya akan muncul lagi. Jika ia memikirkannya lagi ia pasti akan menginginkan tubuh Sakura. Sial. Lupakan saja. Ia tidak boleh begini. Ia harus berpikir dengan logis. Ia ingin cepat-cepat pulang ke Jepang dan melupakan semua ini. Jetnya sudah siap, semuanya sudah siap. Memori di Macau akan segera ia lupakan.

“Sasuke-kun...” Sakura tersenyum dan memohon kepada suaminya yang duduk di taksi, “Kita ke Tibet yuk.”


Sakura's Burberry Trench Coat, Sasuke's AMI Trench Coat
Image source : net-a-porter , saksfifthavenue
Uchiha Sasuke hanya bisa terdiam ketika istrinya memohon kepadanya seperti itu. Kun? Sasuke-kun? Sejak kapan Sakura memanggilnya dengan sebutan seperti itu? Sakura hanya memanggilnya dengan sebutan Sasuke-kun saat ia masih SMA. Sebenarnya ada apa dengan Sakura? Apa karena ciuman kemarin malam? Jangan-jangan wanita itu... Ah, sudahlah Sasuke tidak suka berspekulasi tanpa dasar yang logis.

“Oh ya ini wine untuk anniversary kita.” Sakura mengeluarkan wine yang ia beli dari bungkusannya, “Jadi kita bisa merayakan anniversary kita di Tibet kan? Tibet kan ada di Cina, jadi dekat. Aku mau pergi hari ini juga. Ya? Ya? Dengan jetmu. Aku tidak ingin pulang ke Jepang dulu.”

Ah, jadi ini alasan dibalik sikapnya yang manja. Sakura ingin menyuapnya untuk pergi ke Tibet. Dasar. Memangnya Sakura pikir Tibet itu dekat dengan Macau? Tibet itu cukup jauh... Biasanya orang yang pergi ke Macau akan pergi ke Hongkong bukan Tibet. Hanya saja, Sakura sudah memohon dengan manja seperti itu. Sasuke jadi tidak bisa berkata tidak. 

“Ya sudah.” Sasuke mengambil telepon dan mencari nomor pilotnya, “Aku akan menyiapkan jetku dan mengurus ijin terbang. Kau ingin ke Tibet bagian mana?”

“Aku ingin menginap di vila St. Regis Lhasa,” Sakura menjawab dengan penuh percaya diri, “Lalu menikmati spa.”

Yak. Sasuke yakin ada yang salah dengan Sakura hari ini. Biasanya wanita itu tidak pernah peduli mereka mau menginap di mana. Bahkan Sasuke yang jauh lebih sering mengurus soal hotel, liburan dan restoran. Kemudian... Spa? Sasuke tidak salah dengar? Sejak mereka menikah sampai sekarang Sakura tidak pernah meminta ini. Tidak pernah. Mereka begitu sering menginap di hotel berbintang lima dan Sakura tidak pernah pergi spa.

“Ya sudah. St. Regis Lhasa, kemudian Spa.” Sasuke memberikan pesan kepada pilotnya sambil berbicara dengan Sakura, “Ada lagi?”

“Kau seperti waiter yang sedang menerima pesanan!” Sakura tertawa terbahak-bahak.

Sasuke tidak mengerti kenapa Sakura menganggap ini lucu. Satu tahun mereka menikah, ia benar-benar masih tidak mengerti cara berpikir istrinya. Kelihatannya selera humor mereka berdua terlalu berbeda. Ya sudahlah, yang penting istrinya tidak murung seperti waktu mereka di Swiss.

“Oh ya bagaimana dengan keadaan Naruto?” Sakura bertanya.

“Naruto sudah pulih,” jawab Sasuke, “Alerginya sudah reda.”’

Mendengar soal Naruto, Sasuke jadi ingat soal Menma. Ia sempat mencari-cari tahu soal Menma tapi ia tidak menemukan banyak hal. Informasi tentang pria itu benar-benar rahasia. Tentu saja anak seorang pengusaha terkenal harus menjaga identitasnya dengan baik, tapi tetap Sasuke merasa informasi ini telalu sedikit. Rasanya seakan-akan informasi ini baru dibuat beberapa bulan lalu.

Ia masih yakin seratus persen Menma yang ada di pesta tadi bukanlah Menma yang asli. Kemudian Sasuke juga masih tidak bisa menerima kenyataan bahwa Menma menjual sahamnya kepada Kisame. Karena penjualan saham itu, Kisame memiliki voting rights yang besar di Perusahaan Uchiha. Jika mereka mengadakan shareholder’s meeting lagi, keputusan yang dipilih Kisame bisa berpengaruh besar. Kalau mereka akan memilih pengganti Fugaku... Kisame bisa memilih Itachi. Cih. Mereka berdua dekat. Jangan-jangan itulah alasan Itachi menyumbangkan sahamnya kepada Kisame? Agar Kisame memilihnya? 

Ah. Tentu saja. Kisame dan Itachi cukup dekat. Semuanya menjadi agak jelas sekarang. Pasti ini semua rencana kakak laki-laki Sasuke. Pria itu memang pintar. Ia menggunakan Kisame agar bisa merebut posisi yang seharusnya diraih Sasuke. Sial. Setelah liburan di Tibet ini selesai, Sasuke akan mengurus ini semua. Itachi pikir ia bisa menang dari Sasuke? Heh. Itachi pasti sedang bermimpi. 

XXX


St. Regis Lhasa
Image source : kiwicollection

Malam itu Sakura dan Sasuke akhirnya sampai di St. Regis, Lhasa, Tibet. Penginapan termewah di Tibet ternyata memang sesuai dengan reputasi dan harganya. Sakura dapat melihat vila-vila yang ada di atas kolam air yang besar. Vila itu terlihat seperti istana-istana kecil di Cina. Rasanya Sakura benar-benar seperti permainsuri saja. Eh, tapi Sakura memang mirip permainsuri sih setelah menikah dengan Sasuke. Sungguh, Sakura agak kaget ketika Sasuke tiba-tiba setuju begitu saja. Ini pasti karena rayuan Sakura jitu! Memang benar menjadi manja itu ternyata berguna juga. Biasanya suaminya itu suka tidak setuju atas permintaan Sakura. Entah kenapa pikiran Sasuke yang terlalu logis membuat semua pendapat Sakura terkesan salah. Untungnya hari ini pria melankolis itu setuju untuk pergi ke Tibet. Yak. Mission accomplished! Sekarang tinggal menyelamatkan Ino dari pria busuk bernama Kisame itu. 

“Sasuke! Aku duluan ya! Aku ingin Spa! Sekarang!” Sakura meninggalkan kopernya sambil berlari ke arah lobi.  

“Sakura! Hey!” Sasuke berteriak memanggil istrinya.

“Nanti saja, kita ngobrol lagi!” Sakura melambaikan tangannya sambil berlari dengan cepat.

Well, karena Uchiha Sasuke itu pintar... Sakura akan menyerahkan urusan koper dan kamar kepada Sasuke. Sekarang Sakura harus cepat pergi ke tempat Spa sebelum Ino selesai berendam. Sakura sudah membaca peta vila ini dengan matang. Ia sudah hafal letak Spa di St. Regis ini. Ia tahu ia pasti akan berbicara dengan Ino secepat mungkin.


St. Regis Lhasa, Spa
Image source : starwoodhotel
Setelah berlari dengan sekuat tenaga, Sakura akhirnya melihat tempat yang ia cari-cari. Spa di St. Regis Lhasa sangat tradisional dari luar, tapi sangat modern di dalam. Sakura dengan cepat langsung berbicara kepada resepsionis sambil mencoba untuk mengatur napasnya.

“Selamat malam, apakah ada yang bisa saya bantu?” Ujar sang resepsionis.

“Ah, saya ingin memastikan booking atas nama Yamanaka Ino,” Sakura tersenyum hangat. 

“Ibu Yamanaka sudah masuk ke ruangan Spa ibu...”

Bagus. Sekarang Sakura harus bagaimana? Ternyata Ino si babi itu memang suka sekali ya memanjakkan diri dengan Spa? Hari pertama ia sampai ke Tibet, ia langsung spa?! Dasar high-maintenance. Ya sudah, sekarang mau tidak mau Sakura juga harus masuk ke ruang Spa itu. Sakura dengan cepat memberikan SMS kepada Sasuke dan bertanya soal nomor penginapan mereka.

“Ah, saya juga ingin Spa sekarang dengan nomor peninapan 312.” Sakura tersenyum hangat.

Setelah mengurus semuanya, Sakura akhirnya masuk ke dalam ruangan Spa itu. Walaupun Sakura sudah membayar untuk semua paketnya, ia tidak ingin massage ataupun perawatan lain. Ia hanya berendam di kolam besar untuk umum yang bernama Golden Energy Pool. Ia tahu jika ia terus di sini, Ino juga pasti akan datang. Sahabatnya itu paling suka berendam di tempat Spa. Ino pasti akan selalu berendam setelah ia selesai semuanya.


Golden Energy Pool
Image source : starwoodhotel
Sebelum Sakura mengganti baju dan berendam, ia dapat melihat kolam air indoor yang ia cari-cari. Sekarang Sakura tahu kenapa kolam itu memiliki nama Golden Energy Pool. Kolamnya berwarna emas, sangat besar dan mewah. Ada lukisan naga berwarna perak yang besar di tengah-tengah. Kolam itu berwarna kuning emas karena cahaya lampu dan dasar lantainya yang berwarna kuning emas. Rasanya seperti kolam untuk raja-raja. 

Ino! Wanita itu benar-benar datang! Sakura dapat melihat Ino yang sudah siap untuk berendam. Wanita itu mengenakan handuk dan tampak sangat bahagia. Dasar! Kenapa wanita itu malah bahagia sih? Ia sedang merusak rumah tangga orang lain!

“Ino babi!” Sakura berteriak kesal memanggil sahabatnya.

Mendengar sebutan itu, Ino langsung panik. Kelihatannya ia sadar Sakura ada di ruangan itu juga. Sudah lama Sakura tidak memanggil Ino dengan sebutan babi. Ia hanya menggunakan sebutan itu kalau ia sangat kesal. Hari ini, Sakura sangat amat kesal. 

“Sakura?!”

“Ino, kau harus menghentikkan ini semua. Jangan merusak rumah tangga orang lain.” Sakura berjalan mendekati sahabatnya.

Ino langsung berjalan menjauh sambil menaikkan satu alisnya, “As expected, kau tidak langsung pergi ya dari restoran di Macau? Jadi kau tahu semuanya?”

“Percayalah padaku Ino, Kisame bukan orang yang baik.” Sakura meyakinkan sahabatnya.

Ya, Kisame bukan orang yang baik. Pria itu manipulatif dan egois. Ia bahkan membunuh bayi Sakura. Kisame itu berbahaya.

“Sakura, aku mohon jangan ikut campur.” Ino menghela napasnya, “Aku menyukai Kisame dan itu bukan urusanmu.”

Jadi Ino ingin mengatakan bahwa Kisame itu jodohnya? Sakura tidak salah dengar bukan? Wanita itu pasti bercanda!

“Dengarkan aku Ino! Aku tidak bisa langsung mengatakannya tadi pagi karena ada Kisame, tapi malam ini kau harus tahu...” Sakura mengambil napasnya pelan-pelan, “Kau tahu kan bayiku keguguran?”

“Ya?”

“Kisame yang membunuhnya.” Sakura menatap sahabatnya dengan serius.

Mendengar itu, Ino malah tertawa. Tertawa! Kenapa? Wanita itu sudah gila ya karena jatuh cinta?

“Sakura, aku tahu kau paling membenci perselingkuhan. Kau ingin aku berhenti merusak rumah tangga orang sampai-sampai kau mengarang cerita seperti ini bukan?” Ino menggelengkan kepalanya, “Sudahlah Sakura. Kau tidak bisa merubah pikiranku. Aku tahu Kisame akan bercerai dengan istrinya dan memilihku.”

“Ino! Kisame tidak akan meninggalkan istrinya!” Sakura sudah mulai emosi sekarang, “Kisame itu pembunuh yang egois dan kejam. Kau tidak mungkin menyukainya! Kau hanya ingin uangnya bukan?!”

Kali ini Sakura baru tersadar bahwa kata-katanya agak jahat. Ino tampak tidak senang mendengar pernyataan Sakura. Sahabatnya itu mulai menggigit bibirnya. Jika Ino menggigit bibirnya, itu menandakkan bahwa ia sudah sangat marah.

Ino kemudian berteriak dengan kesal, “Dengar ya, aku berbeda. Jangan hanya karena pernikahan orangtuamu hancur karena perselingkuhan kau jadi merasa sok pahlawan untuk menyelamatkan keluarga orang lain.”

Keluarga... Sekarang Ino berani mengungkit keluarganya? Ino tahu bahwa Sakura sangat tidak menyukai jika kejadian waktu itu diungkit lagi. Traumanya setiap kali guntur datang kemudian— Sial. Ini semua salah ayahnya. Kenapa pria itu selingkuh? Jika ayahnya tidak selingkuh kejadian waktu itu tidak mungkin terjadi. Saat kedua orang tuanya bertengkar dan furnitur-furnitur mulai jatuh... kemudian ada kejadian itu— Sakura tidak ingin mengingatnya! Tidak ingin lagi.

“Aku berbeda dengan selingkuhan ayahmu!” Ino berteriak lagi.

“Jangan pernah ungkit soal wanita sialan itu lagi.” Sakura kemudian mengerutkan dahinya, “Ah, dan selingkuh itu selingkuh. Kau sama saja dengan wanita sialan itu.”

Ia dengan cepat pergi dari Spa itu. Ia sudah tidak ingin melihat wajah Ino lagi. Tidak setelah wanita itu mengungkit-ungkit soal keluarga Sakura. Kali ini sahabatnya sudah melewati batas. Ia tahu betapa Sakura membenci topik itu. Sudah. Sakura tidak ingin mendengarnya lagi. Sakura tidak ingin membantu Ino lagi.

Selamat menikmati kekejaman hidup bersama Kisame.

XXX


Tibet
Image source : oneworld365
Uchiha Sasuke tidak mengerti soal wanita. Ya. Ia sudah tidak ingin tahu lagi. Kemarin Sakura yang mengajaknya ke Tibet. Hari ini wanita itu malah tampak murung setelah sampai ke tempat tujuan. Sasuke sudah bekerja keras untuk liburan mendadak ini. Jika bukan karena Sasuke, Sakura tidak mungkin bisa ada di mobil hari ini. Sungguh. Menyewa mobil untuk pergi Mt. Everest Base Camp itu sangat sulit, apalagi mengendarainya. Sasuke sejak tadi mengendarai mobil itu selama berjam-jam. Tekstur lahannya yang tidak teratur membuat Sasuke jadi agak repot membawa mobil itu. Ia tahu tidak sih kalau pergi ke Mt. Everest Base Camp tidaklah mudah?

Dasar aneh. Kemarin malam Sakura sama sekali tidak berbicara kepada Sasuke. Istrinya itu langsung tidur dan tidak mengatakan apa-apa. Hari ini juga sama. Sejak tadi di kereta Sakura diam saja. Biasanya istrinya itu pasti akan menjadi wanita yang hiperaktif jika sedang travelling. ‘Lihat Sasuke itu bagus’ ‘Lihat Sasuke ini bagus’ begitu. Atau Sakura akan bertanya ‘Sasuke kita mau kemana?’ ‘Sasuke kita mau makan apa?’. Kenapa wanita itu jadi berubah seratus delapan puluh derajat? Sakura itu sedang datang bulan ya? Atau jangan-jangan Sasuke melakukan kesalahan?


Friendship Highway
Imagesource : himalayabytricycle
“Sakura.” Sasuke mencoba untuk mencari topik, “Kita sedang melewati Friendship Highway, jalan yang dekat sungai ini terkenal.”

Mendengar itu istrinya hanya menganggukkan kepalanya. Bagus. Sakura tahu kalau Sasuke itu tidak pandai berbicara ataupun mencari topik. Saat Sasuke mencari topik, wanita itu malah terdiam. Ya sudah. Sasuke juga diam saja. Diam toh tidak akan melukai siapa-siapa. Lagipula, mungkin wanita itu butuh ruang untuk sendirian. Sasuke harus menghormati keputusan Sakura.

Jalan menuju Mt. Everest Base Camp sangat jauh, tapi Sasuke harus mengakui bahwa tepat ini indah. Kekayaan alamnya masih sangat asri dan pesona lembah-lembah yang dilengkapi oleh sungai yang panjang terlihat unik. Membuat perjalanan mereka menjadi tidak begitu membosankan walau Sakura terus terdiam. Setelah beberapa jam, Sasuke akhirnya berhenti menyetir.

“Ayo turun Sakura, kita akan berkemah di sini dulu,” Sasuke menepuk pundak istrinya.

Sakura dengan lemas kemudian turun. Wanita itu bahkan tidak sempat memakai jaket. Sakura itu bagaimana sih? Ia lupa kalau gunung besar di sana itu Mt. Everest ya? Tempat ini kan sangat dingin.

“Sakura, pakai jaketmu.” Sasuke mengambil jaket Sakura dan memakaikannya ke tubuh istrinya. 


Sasuke's Andrew Marc Jacket & Sakura's Lanvin Tweed Coat
Image source : saksfifthavenue , net-a-porter
Istrinya kemudian mengucapkan terimakasih, “Sasuke kita ada di...?”

“Mt. Everest Base Camp,” Sasuke menunjuk deretan tenda-tenda di dekat gunung itu.

Sakura kemudian tampak agak lebih ceria ketika ia melihat gunung es Mt. Everest yang putih bersih. Gunung salju itu tampak kontras dengan daratan bebatuan yang kecoklatan. Akhirnya wanita itu tersenyum juga. Kelihatannya Sasuke tidak salah mengajak istrinya ke perkemahan ini. Tempat ini memang luar biasa pemandangannya. Lahan perkemahan yang hijau tampak kontras dengan gunung Everest yang putih bersih. Sayangnya udaranya memang cukup dingin walau tidak bersalju.


Mt Everest Base Camp
Image source : statravel
Sasuke kemudian mengeluarkan kamera SLR yang ia bawa. ia kemudian menangkap gambar-gambar gunung itu. Ia bukan pria yang suka fotografi, tapi hari ini ia pergi ke tempat yang belum pernah ia jelajahi sebelumnya. Ia akhirnya memutuskan untuk memotret momen baru ini. Lagipula, Sakura yang tadinya murung sedang tersenyum. Entah kenapa ia jadi ingin memotret wajah wanita itu. Wajah Sakura yang sedang tersenyum terlihat indah dengan gunung es di belakangnya. 

Setelah banyak mengambil foto Sakura— dan gunung Everest, Sasuke akhirnya beristirahat. Udara yang awalnya dingin menjadi agak hangat. Sakura yang sedang duduk, melepas jaketnya dan menikmati roti yang ia bawa. Sedangkan Sasuke menyiapkan tenda agar mereka berdua bisa bermalam di sana. Setelah selesai memasang tendanya, ia dapat melihat Sakura berjalan menuju ke Mt. Everest. Wanita itu tampak bersemangat.

Tunggu.

Lagi-lagi istrinya tidak mengenakan jaket. Sakura itu selalu saja sok kuat. Dengan cepat Sasuke mengambil jaket istrinya. Ia kemudian meninggalkan tendanya dan memanggil Sakura. Sayangnya wanita itu tidak mendengar Sasuke. Ia akhirnya mengejar istrinya yang sudah agak jauh di depan sana. Setelah ia sampai ke sebelah Sakura, wanita itu dengan bersemangat menunjuk gunung itu. 

Sasuke hanya bisa menghela napasnya, “Sakura. Pakai jaketmu.”

“Sudah tidak terlalu dingin kok,” Sakura menghela napasnya.

“Ya. Ya,” Sasuke menganggapinya dengan dingin dan tetap memakaikan jaket itu ke tubuh istrinya.

“Dasar keras kepala,” Sakura menggelengkan kepalanya.

Sakura kemudian berjalan menjelajahi tempat itu. Wanita itu berjalan lumayan jauh dari Base Camp. Sasuke mulai melihat goa dan pohon-pohon besar. Tempat ini terlihat sepi. Tidak ada siapa-siapa di sana. Entah kenapa Sakura malah pergi ke tempat seperti ini. Untungnya Sasuke sudah menghafal jalan pulang ke kemah mereka.

“Sasuke, kenapa orang terdekat kita bisa mengkhianati kita?” Sakura menerawang jauh.

Sasuke hanya bisa menatap istrinya dengan tenang. Kelihatannya hal ini yang sejak tadi membuat Sakura menjadi diam. Sakura ternyata memikirkan hal ini terus. Siapa yang mengkhianati Sakura? Kenapa wanita itu tampak begitu sedih?

Tiba-tiba hujan deras turun. Mereka berdua sudah agak jauh dari tenda dan hujan ini luar biasa deras. Sakura tampak panik dan langsung berlari mencari tempat berlindung. Wanita itu tampak berbeda. Biasanya ia hanya panik jika ada guntur. Hari ini karena hujan deras saja ia langsung tampak pucat. Sebenarnya ada apa?

Sakura kemudian dengan cepat langsung berlari, tapi tubuhnya tampak menggigil. Kelihatannya ini bukan soal jaket... Ini soal yang lain. Apa trauma waktu itu muncul lagi? Cih. Jika terus begini wanita itu bisa kesakitan. Sasuke akhirnya mengejar Sakura dan menuntun istrinya menuju ke goa terdekat. Setelah sampai, Sakura langsung bersembunyi di balik batu-batu besar. Goa yang gelap itu seakan-akan menjadi tempat pelarian Sakura dari kenyataan.

“Sakura—”

Sasuke dapat melihat tubuh istrinya tampak semakin pucat. Sasuke yang panik langsung melepas baju istrinya beserta baju dalamnya. Sakura pasti kedinginan karena bajunya yang terkena hujan. Baju ini harus segera dilepas dan di keringkan. Kemudian.... hal terakhir yang mau tidak mau harus ia lakukan untuk menaikkan temperatur tubuh Sakura hanyalah: dengan tubuhnya.

“Jangan marah padaku.” Sasuke juga ikut melepas bajunya, “Hanya ini satu-satunya cara untuk menyelamatkanmu.”

Ia yang telanjang dada sekarang memeluk istrinya yang sekarang menggigil kedinginan. Saat tubuh mereka bertemu, Sasuke dapat merasakan betapa dinginnya tubuh Sakura. Rasanya seperti memeluk bongkahan es batu. Tubuh Sakura sedingin es. Bibir wanita itu bergetar karena temperatur tubuhnya yang jatuh drastis. Sasuke tahu Mt. Everest Base Camp itu dingin, apalagi saat hujan. Kemudian istrinya tidak mengenakan jaket dan Sakura juga lemah terhadap hujan.

Lama kelamaan, setelah Sasuke memeluk wanita itu dengan erat, Sakura tampak lebih tenang. Sekarang tubuh Sakura menjadi lebih hangat. Lama kelamaan tubuh Sakura menjadi lebih panas dan stabil. Sasuke kemudian bisa mendengar Sakura berbisik kepadanya.

“Aku takut.” Sakura berbisik.

Sasuke kemudian mencium kening Sakura. Ia berharap wanita itu bisa menjadi sedikit tenang jika ia melakukan itu. Kelihatannya ciuman itu bekerja. Sakura tidak tampak setakut tadi.

“Tenang saja.” Sasuke mencium kening Sakura lagi, “Kau adalah wanita yang kuat.”

Sakura kemudian membalas pelukan Sasuke. Mereka berdua hanya bisa terdiam, tapi lama kelamaan setelah Sakura mulai pulih.... Sasuke jadi memikirkan hal lain. Mereka berdua setengah telanjang di dalam goa dan hanya berdua saja. Itu artinya....

Tidak.

Sasuke. Kau sudah berhasil menahannya selama satu tahun. Tidak.

Sayangnya tubuh Sakura sangat lembut. Apalagi saat Sakura memeluknya seperti itu. Karena mereka tidak mengenakan baju, Sasuke jadi bisa merasakan kontak langsung dari tubuh Sakura yang lembut itu. Lekukan tubuh istrinya yang sempurna dapat ia rasakan dengan jelas. Gawat. Ini... lama kelamaan menjadi agak... panas.

Sasuke kemudian berusaha untuk memikirkan hal lain. Sayangnya tubuh Sakura terus menganggu pikirannya. Ia tidak ingin menyerang Sakura. Ia sama sekali tidak ingin tidur dengan Sakura sekarang. Ia tidak boleh...

Tapi—

Tidak ada tapi.

Sungguh Sasuke, kau tidak boleh melakukannya. 

Damn. 

Jangan bangun sekarang pria kecil. 

“Sasuke...”

Gawat, bisikan Sakura malah membuatnya makin bersemangat. Sekarang ia harus bagaimana? Ia seharusnya bisa menahan ini. Ia adalah laki-laki yang bertanggung jawab. Ia tidak boleh memaksakan kehendaknya. Kalau tidak kejadian di Gili akan terulang lagi.... Namun, bagaimana kalau Sakura juga menginginkan ini? Bagaimana kalau ciuman kemarin malam adalah bukti bahwa Sakura juga ingin tidur dengannya? Tunggu! Tidur dan ciuman itu berbeda! Pikiran wanita jauh lebih rumit dari pikiran pria. Sasuke harus berpikir dengan kepala yang dingin. Harus.

“Sasuke... Apa kau akan berselingkuh juga?”

“Apa?” Sasuke kemudian memandang wajah Sakura yang pucat. 

Wanita itu tampak sedih lagi. Kelihatannya wanita itu terlalu banyak berpikir. 

“Kalau aku adalah wanita lain dan aku sedang kedinginan, apakah kau akan melepas bajumu juga?” Sakura menatapnya dengan penuh kekhawatiran.

“Menurutmu?” Sasuke menaikkan satu alisnya, “Aku itu bukan orang yang baik. Jika bukan kau yang menggigil, menurutmu aku akan peduli?”

Sakura tampaknya senang dengan jawaban Sasuke. Entah ada apa dengan gadis itu hari ini. Sungguh. Sasuke benar-benar tidak mengerti jalan pikiran Sakura. Dan lagi, jangan menatapnya dengan wajah polos seperti itu. Sakura itu tidak tahu ya kalau ekspresi itu malah membuat Sasuke makin ingin menyerangnya?

“Sudahlah jangan berpikir yang aneh-aneh.” Sasuke memeluk istrinya dengan lebih erat, “Cepat sembuh. Jika hujannya reda kita akan keluar dari sini.”

“Bukannya kau yang berpikir aneh-aneh?” Sakura menunjuk celana Sasuke.

Kali ini Sasuke tersadar kalau wanita itu sudah bisa merasakan ‘itu’. Sasuke kemudian melepas pelukannya dengan cepat dan memalingkan wajahnya.

“Itu, dia bangun karena hal lain.” Sasuke masih memalingkan wajahnya, “Itu bukan karena aku ingin tidur denganmu atau semacamnya.”

“Kalau ingin tidur denganku juga tidak apa-apa sih...”

Apa? Sasuke tidak salah dengar bukan? Suara Sakura yang bergema di goa tadi itu benar-benar bukan halusinasi bukan? Setelah satu tahun menikah dengannya, wanita itu akhirnya membiarkan Sasuke tidur dengannya dengan suka rela?

“Kau ingin menghangatkanku bukan?” Sakura menatapnya dengan serius, “Jadi cepat hangatkan aku.”

Sasuke tidak pernah menyangka kalau hari itu, di tengah hujan, di dalam goa, di perbatasan Nepal... Ia dan Sakura akan saling menghangatkan diri. Tidak ada siapapun di sana selain mereka berdua dan gunung Everest yang menjadi saksi bisu mereka.


Mount Everest
Image source : national geographic

XXX

TBC
.
.
.

and yes, they did it.

XXX

A/N:

Halo! I really miss you and I really miss writing~ Aku lama update karena satu hari setelah selesai ujian, aku langsung pulang ke Indonesia. Saat pulang aku pergi catch up dengan keluarga, teman-teman lama dan rekan-rekan kerjaku. Di Instagramku jadi banyak foodporn karena aku selalu pergi makan dengan orang yang berbeda-beda. Rasanya super duper melelahkan tapi menyenangkan! 


Me @ Hide & Seek Jakarta
Image source : my instagram
Sekarang aku sudah kembali ke Sydney dan kembali kuliah + kerja. Akhirnya cerita ini kulanjutkan juga. Kali ini judul chapternya terinspirasi dari lagu musim dingin, “Baby It’s Cold Outside.” Aku merasa adegan goa itu sangat cocok dengan lagu ini. 

By the way, apakah ada yang menonton She Was Pretty? Akhirnya drama korea itu tamat. Entah kenapa aku suka sekali dengan Siwon oppa di sana >.< Aaah, sayangnya ia harus ke militer sekarang. Goodbye oppa! You will be missed!

Anyways, I hope you like this chapter! Have a nice day~



<<Previous Chapter

Next Chapter >>

31 comments:

My First Love is My Housekeeper : Chapter 4

23:20 Melissa Gabriele 0 Comments

My First Love is My Housekeeper!

Chapter 4

Happily Never After


Disclaimer : I do not own Naruto

Hotel Swissotel The Stamford hari itu tampak sepi. Belum ada fans yang tahu bahwa artis kekinian, Uzumaki Naruto sudah mendarat di Singapore. Pria berambut pirang itu mengenakan kacamata hitam Ray-ban Aviator yang menutupi seperempat wajahnya. Ia tampak seperti turis biasa di restoran bintang tiga, JAAN. Restoran yang terletak di lantai 70 itu memiliki view Marina Bay Sands yang indah. Namun Naruto memilih restoran ini bukan karena viewnya, tapi karena privasinya. JAAN hanya memiliki 40 bangku dan jarak antar bangkunya sangat jauh. Terlebih lagi, sore itu hanya ada sepuluh orang yang makan di sana.

Mengapa Naruto memilih privasi?

Ah, pertanyaan bagus. Itu karena ada seorang wanita yang ingin ia lindungi identitasnya. Wanita itu sedang duduk bersamanya sekarang. Kulitnya yang putih porselen tampak seperti salju. Bibirnya yang merah muda tampak seperti kelopak bunga. Sedangkan lesung pipinya tampak seperti... Aish! Sejak kapan sih Naruto jadi puitis seperti ini?! Apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya?! 

Hinata's Salt & Honey Couture 2015, Naruto's Armani Suit
Image source : weddinginspirasi , saksfifthavenue
Hinata tampaknya sadar bahwa Naruto terus menatapnya wajahnya. Naruto yang panik dengan cepat langsung berhenti menatap wajah teman SDnya. Dengan sigap ia langsung melihat ke atas. Perhatiannya kali ini tertuju pada langit-langit restoran itu. Lampu kuningnya terlihat seperti bongkahan-bongkahan es yang besar.  

“Langit-langitnya bagus ya!” Naruto dengan cepat langsung mulai berbicara. 

Teman SDnya mengangguk sambil mengunyah makanannya. Wanita itu kemudian terdiam. Oh tidak. Jangan-jangan Hinata menganggap Naruto itu bodoh? Aish! Pria pintar mana sih yang memuji langit-langit?! Naruto pasti terkesan seperti OKB! Orang Kaya Baru! Orang yang tidak pernah fine dining sebelumnya! Sudah! Jangan lihat langit-langitnya lagi!

“Ia bagus sekali.” Hinata tersenyum hangat.

Eh? Ternyata Hinata menyukai langit-langit itu juga. Ternyata wanita itu tidak mengatakan apa-apa karena ia masih mengunyah makanan tadi! Ia menunggu sampai makanan itu selesai ia telan, barulah ia berbicara. Wow! Sopan sekali! Hinata ternyata tidak mau berbicara sambil mengunyah makanan. 

“Wah! Aku senang kau menyukainya!” Naruto tampak bersemangat, “Jadi bagaimana? Kau suka restoran ini? Apakah kau suka makanannya juga? Pilihanku bagus kan?”

“Amuse bouche restoran ini sangat unik,” Hinata menanggapi pertanyaan Naruto dengan sopan, “Aku sangat menyukai estetika setiap hidangannya. Sejak tadi semuanya sangat simetris dan dihias dengan detil. Sudah lama sekali aku tidak makan di restoran seperti ini....”

Simetris? Estetika? Naruto benar-benar tidak mengerti Hinata sedang berbicara apa. Yang ia tahu sekarang di atas piringnya ada sebuah hidangan yang terlihat cantik. Titik. Itu saja. Ia tidak mengerti Hinata mendapat pengetahuan kuliner semacam itu darimana....

“Hidangan berikutnya datang.” Seorang waitress membawakan sebuah piring kayu besar ke atas meja mereka berdua, “Ini adalah 55’ Rosemary Smoked Organic Egg.”

“Apa?” Naruto tampak bingung.


55' Rosemary Organic Egg
Image source : camemberu
Artis kekinian itu dapat melihat telur yang masih ada di dalam cangkangnya. Anehnya telur itu tampak setengah matang. Asap-asap putih keluar dari bawah telur-telurnya. Rasanya seperti melihat sebuah pertunjukan sulap saja. Wuiih... Keren juga. Ternyata degustation menu seharga $298 ini mahal karena kokinya menyulap telur mentah menjadi telur ajaib!


Pelayan itu kemudian mengambil salah satu cangkang telurnya dan menuangkan isi telur itu ke atas hidangan lainnya. Telur setengah matang itu kemudian jatuh dengan lembut dan elegan. Yup. Naruto merasa sangat OKB sekarang. Ini hanya telur Naruto! Hanya telur! Kenapa ia merasa begitu terkesima melihat telur?! Ia benar-benar seperti OKB.


Saat pelayan itu pergi, Hinata memandang hidangan itu dengan seksama. Wanita itu kemudian mengangguk. Kelihatannya ia mengerti cara membuatnya.

“Kau pasti mengerti cara membuatnya ya Hinata!” Naruto berdecak kagum, “Kau kan hebat sekali! Seperti koki kelas dewa— Eh, maksudku dewi!”

“Eh?” Hinata tampak malu-malu, “Tidak juga... tapi kurasa ini adalah telur yang direbus dalam 63° C dalam um.. 55 menit mungkin? Kemudian disimpan kembali ke dalam kulit telur mereka.”

“Betul sekali Hinata.” Suara seorang wanita yang tidak Naruto kenal tiba-tiba muncul dari belakang. “Sudah lama kita tidak bertemu... Kau masih saja cekatan seperti biasanya.”

“Se-sensei?!” Hinata tampak kaget.

Mikoto's Lanvin's Fall 2015 Collection
Image source : net-a-porter

Saat Naruto menoleh ke belakang, ia dapat melihat wanita cantik yang tampak elegan dengan gaun yang sopan. Wanita itu memiliki rambut hitam legam yang rapih dan tatapan mata yang lembut. Kelihatannya wanita itu adalah guru Hinata.

“Ke-kenapa sensei ada di sini?” Hinata dengan cepat langsung meninggalkan tempat duduknya dan membungkuk untuk menyapa gurunya.

“Kepala chef restoran ini teman lamaku. Aku hanya mampir untuk menyapanya!” Jawab wanita itu, “Oh ya. Aku sangat tidak sopan pada pacarmu Hinata! Namaku Mikoto... dan kau...?”

“Wah, aku bukan pacar Hinata-ttebayo!” Naruto langsung menyanggah Mikoto.

“Bukan pacar? Oh, kalau begitu kau sedang mengejar Hinata bukan?” Wanita itu tersenyum hangat.

Naruto menggelengkan kepalanya, “Mana mungkin aku bisa mendapatkan gadis sehebat Hinata! Mustahil-ttebayo!”

“Ah! Jadi kau terjebak dalam lingkaran maut friendzone!” Mikoto tertawa kecil.

“Se-sensei!” Wajah Hinata tampak merah merona.

“Wah! Ia juga ya!” Naruto malah ikut memanas-manaskan suasana, ia suka melihat wajah Hinata yang merah merona, “Hinata kau jahat sekali... Kau memang pemberi... pemberi harapan palsu.”

“Eh?!” Hinata tampak panik.

“Kau PHP Hinata!” Naruto menahan tawanya, “Kita nonton berdua dan makan malam... tetap tidak jadian. Ini nasib yang mengenaskan! Hinata kau tega sekali!”

“Wah, Hinata ternyata pandai menarik ulur!” Mikoto tertawa kecil. 

“Ti-tidak! Sensei jangan salah paham!” Hinata tampak seperti hamster kecil yang panik karena tidak ada biji bunga matahari.

“Aku sudah tidak kuat di friendzone-in kamu terus... Bunuh aku saja Hinata!” Naruto mulai mendramatisir, “Bunuh dan buang aku ke rawa-rawa Hinata! Aku rela!” 

“Naruto-kun!” Hinata tampak sangat malu, lucu sekali!

“Na— Naruto? Namamu Naruto?” Mikoto tampak terkejut.

“Eh, maaf aku lupa mengenalkan diri!” Naruto membuka kacamata hitamnya dan tersenyum hangat, “Namaku Uzumaki Naruto! Salam kenal Mikoto-san!”

Mikoto tampak terkejut mendengar nama Naruto. Namun reaksinya tidak seperti orang yang melihat artis. Mikoto seperti baru saja melihat orang yang tidak ingin ia temui. Raut wajahnya kemudian berubah dari kaget menjadi penuh rasa bersalah. Ia kemudian tersenyum tipis. Senyuman itu tampak pahit.

“Ah, jadi kau putra angkat Kushina?” Suara Mikoto bergetar ketika menyebut nama Kushina.

“Eh? Mikoto-san kenal ibuku?” Naruto tampak terkejut.

“Kami...” Mikoto tampak ragu, “Kami sempat bersahabat.”

“Wah! Kalau begitu aku akan memberitahu ibu!” Naruto tampak bersemangat, “Ibu pasti senang kalau bertemu teman lamanya lagi! Ia sekarang ada di Jakarta! Namun besok ia akan terbang ke Singapura untuk bertemu denganku!”

“Tidak perlu!” Mikoto tampak panik, “Aku harus pergi sekarang. Permisi.”

“Sensei, apakah kita akan bertemu lagi?” Hinata tampak kecewa melihat gurunya pergi.

“Tentu saja,” Mikoto tersenyum hangat, “Sampai bertemu lagi Hinata, Naruto-kun.”

Dengan itu, Mikoto pergi meninggalkan mereka berdua. Naruto tidak begitu mengerti kenapa Mikoto tampak begitu tergesa-gesa. Jangan-jangan Mikoto tidak suka kepada ibu angkat Naruto? Saat mendengar nama lengkap Naruto, guru Hinata itu tampak begitu terkejut. Sebenarnya ada apa di antara mereka berdua? 

“Naruto-kun... Apa kau baik-baik saja?” Hinata tampak khawatir melihat ekspresi Naruto.

“Hinata.... Apa menurutmu Mikoto-san benci pada ibuku?” 

Gadis yang lemah lembut itu menanggapi Naruto dengan senyuman hangat. Wajahnya yang khawatir berubah menjadi tenang dan dewasa.

“Tenang saja, sensei tidak mungkin membenci orang. Sensei adalah orang yang baik,” Hinata menjawabnya dengan percaya diri.

“Syukurlah! Aku pikir ibuku dibenci orang! Ibuku kan baik sekali.... ia benar-benar berhati mulia!” Naruto langsung menghela napas lega.

“Kau sangat menyayangi ibumu ya?” 

Saat mendengar pertanyaan Hinata, Naruto langsung tersenyum hangat. Memang sih, ia dan Kushina tidak ada hubungan darah. Namun ia diasuh oleh Kushina sejak lulus SD. Ia sudah menganggap Kushina seperti ibunya sendiri. Jika tidak ada Kushina, Naruto tidak mungkin menjadi Naruto yang sekarang.

“Aku sangat menyayanginya.” Naruto menikmati hidangan di piringnya sambil bercerita. “Kau tahu bukan kalau dulu aku yatim piatu? Saat kita lulus SD, aku pikir tidak mungkin ada yang mau mengadopsiku. Eh, tiba-tiba ibu datang ke panti asuhan.”

Main course
Image source : melicacy

Hidangan demi hidangan datang. Sepanjang itu, Naruto terus bercerita tentang ibunya. Ia menceritakan masa lalunya. Bagaimana ia bertemu dengan ibunya dan bagaimana Kushina menginginkan seorang anak laki-laki. 

“Sebenarnya... Aku dan ibu jarang bertemu. Ia sibuk sekali,” Naruto melanjutkan ceritanya, “Ia juga tidak pernah menjawab teleponku. Ia lebih suka berbicara secara langsung.”

Kadang Naruto berpikir.... Apa jangan-jangan, ibunya tidak menganggapnya sebagai anak? Naruto memang menganggap Kushina seperti ibunya sendiri, tapi bagi Kushina mungkin Naruto hanya anak adopsi yang bodoh dan tidak pandai berbisnis.

“Tapi aku senang sekali! Baru-baru ini ibuku menjawab telponku!” Naruto tersenyum hangat, “Ia bahkan bilang bahwa ia ingin bertemu denganku!”

Hinata kemudian ikut tersenyum, “Itu bagus sekali Naruto-kun.”

“Sejujurnya aku bingung dengan drama-drama Jepang!” Naruto menggelengkan kepalanya, “Kenapa sih biasanya pria-pria kaya selalu bertengkar dengan ibunya? Saat ibunya menjodohkannya dengan wanita baik-baik, mereka malah menentang ibunya dan memilih wanita yang mereka cintai!”

“Naruto-kun tidak setuju?” Hinata tampak penasaran dengan jawaban Naruto.

“Tentu saja tidak setuju!” Naruto dengan semangat menyanggah Hinata, “Kau sudah bersama dengan ibumu seumur hidupmu! Kau malah memilih gadis yang baru kau temui satu bulan yang lalu! Itu namanya anak durhaka!”

Hinata kemudian tertawa pelan. Ia tampaknya terkejut dengan jawaban Naruto, tapi wanita itu tampak senang juga mendengar jawabannya.

“Ya kan? Orang tua itu nomor satu! Keluarga itu nomor satu!” Naruto tampak sangat bersemangat.

“Ya,” Hinata tersenyum hangat, “Aku juga setuju jika Naruto-kun dijodohkan dengan wanita yang pantas. Pertunangan bisnis biasanya mendatangkan keuntungan untuk kedua belah pihak.”

Loh? Hinata... Itu artinya gadis ini tidak apa-apa kalau Naruto menikah dengan wanita lain? Entah kenapa Naruto merasa kecewa. Tidak. Tidak hanya kecewa, tapi Naruto merasa kesal. Rasanya ia ingin mendengar kata-kata lain keluar dari mulut gadis itu... Ia ingin Hinata cemburu. Ia ingin wanita itu melarangnya untuk dijodohkan. Ia... ia menyukai Hinata. 

XXX

TWG @ Singapore Bay Sands
Image source : singaporeactually
Ah. Singapura. Lagi-lagi, Kushina harus mendarat di tempat ini. Marina Bay Sands tidak berubah, tetap saja penuh dengan kaca dan kolam air yang menghiasi sekeliling mall. Yang berubah hanyalah beberapa toko-toko butik dan restoran baru.  Yah, berubah atau tidak berubah, Kushina tidak terlalu mempedulikannya. Ia lebih mempedulikan kondisi putra angkatnya, Uzumaki Naruto. Untung saja ia belum membeli tiket ke Jepang, ternyata Naruto ada di Singapore sekarang. Baguslah, jarak antara Jakarta dan Singapore hanya 1 jam. Kushina tidak perlu repot-repot duduk di pesawat dan memesan tiket first-class. 

Wanita karir itu memilih untuk bertemu putranya di tempat minum teh favorit Naruto, TWG Tea Salon. Tempatnya dipercantik dengan perabotan klasik Victorian. Lantai marmer hitamnya memberikan kesan mewah. Tehnya yang disimpan di teko-teko emas sangat terkenal di kalangan sosialita. TWG terkenal sebagai teh haute-couture, tapi sejujurnya Kushina tidak begitu menikmati teh TWG. Saat ia SMA dulu, Namikaze Minato, memperkenalkannya kepada teh alami. Dahulu mereka suka pergi mendaki ke gunung-gunung Jepang dan menikmati teh pegunungan yang alami. Ya sudahlah, ia tidak ingin mengingat-ingat lagi soal cinta pertamanya lagi. Karena saat ia SMA dulu ia hanya orang miskin dan Minato anak orang kaya, mereka tidak bisa bersama. Ia membenci Minato. Orang itu sudah kaya sejak kecil, sedangkan Kushina harus membangun perusahaannya dari nol sendirian. Apalagi... pria itu pernah—

“Ibu!” Naruto memanggilnya dari kejauhan, “Ibu, kau tampak cantik sekali-ttebayo!”

Kushina's Burberry Prorsum Fall/Winter 2015
Source : net-a-porter

Kushina dapat melihat Naruto melambaikan tangannya. Anak angkatnya itu tampak lebih... cerah. Lebih bahagia. Entah darimana anaknya mendapatkan semangat hidup sebanyak itu. Energi positif Naruto benar-benar menghangatkan TWG Tea Salon yang dingin dan kaku.

“Kau tampak bersemangat sekali Naruto.” Kushina menghela napasnya, “Kau itu mendapatkan energi seperti itu darimana sih?”   

Naruto dengan cepat duduk di samping ibunya. Ia kemudian tersenyum lebar. 
“Hari ini kan hari yang spesial! Kita jarang sekali bertemu-ttebayo!”

Ah. Kalau dipikir-pikir benar juga. Naruto sudah lama tidak bertemu dengan ibunya. Kushina memperhatikan gerak-gerik anaknya. Ia merasa terakhir kali ia bertemu dengan Naruto, anak itu tidak sebahagia ini. Sebenarnya ada apa dengan— Oh ya. Kushina tahu kenapa. Pasti karena wanita yang ada di majalah itu. Wanita yang Naruto simpan di rumahnya. Sebenarnya siapa wanita itu? Kenapa seorang wanita biasa berhasil membuat putranya menjadi energik dan ceria seperti ini?

“Naruto, soal wanita di tabloi—”

Sebelum Kushina dapat menyelesaikan pertanyaannya, Naruto dengan cepat langsung memotong pembicaraan.

“Aku ingin pesan Silver Moon Tea, ibu ingin pesan teh lagi atau tidak?”

Kushina hanya menggelengkan kepalanya. Ia benar-benar ingin menyelesaikan permasalahan ini. Alasan ia ingin bertemu dengan Naruto bukan untuk minum teh, tapi untuk membicarakan soal wanita misterius yang ia baca di tabloid.

“Aku tidak ingin apa-apa, Naruto, aku hanya ingin bertanya soal wanita di tabloid. Apa benar kau menyembunyikan wanita di apartemenmu?”

Reaksi anaknya sangat mengejutkan. Bukannya menyanggah Kushina, atau menjawab pertanyaan ibunya... Naruto malah balik bertanya.

“Ibu... Kau pernah di friendzone tidak?”

“Apa?” Kushina tidak percaya akan apa yang di dengarnya.

“Ah jangan membuatku mengulangnya-ttebayo!” Naruto tampak salah tingkah, “Ibu pernah di friendzone tidak?”

Kushina tidak tahu harus menjawab apa. Ia tidak begitu berpengalaman soal cinta. Lagipula anak bodoh ini kerasukan apa sih? Tiba-tiba saja bertanya soal friendzone. Di jaman Kushina dulu tidak ada sebutan semacam ini. Dasar anak-anak kekinian.

“Jangan mengalihkan pembicaraan, jawab pertanyaanku dulu,” Kushina langsung menanggapi Naruto dengan profesional, “Siapa wanita di tabloid yang digosipkan denganmu?”

“Itu rahasia,” Naruto menjawabnya dengan cepat, “Identitas wanita itu top secret.”

“Kau ingin menyembunyikannya dari ibumu sendiri?” Kushina langsung menaikkan nada bicaranya, “Berani juga kau sekarang.”

“Ibu, maafkan aku, tapi ini rahasia.” Naruto tampak memelas, “Sungguh! Ini benar-benar top secret!”

Kushina tidak puas dengan jawaban anaknya. Jika wanita simpanan itu hanya mendatangkan krisis finansial bagi Keluarga Uzumaki, Kushina harus melenyapkannya. Perusahaan Properti Uzumaki ia bangun dari nol. Ia tidak ingin perusahaan ini berhenti berkembang. Ia harus mengalahkan Perusahaan milik Minato. Harus.

“Kalau kau tidak ingin memberitahuku, aku yang akan mencaritahunya sendiri-ttebane!” Kushina dengan kesal langsung bangkit berdiri.

“Ibu jangan pergi!” Naruto ikut berdiri.

“Jadi kau akan memberitahu identitasnya?” Kushina menaikkan satu alisnya.

“Aku sudah bilang tidak bisa-ttebayo!” Naruto setengah merengek.

“Naruto... Kau benar-benar luar biasa sekarang,” Kushina kali ini mengambil tas Hermes Birkin abu-abu dari atas mejanya.

Kushina's Hermes Birkin
Image source : farfetch's instagram
“I-ibu! Kau tidak akan memukulku dengan tas itu kan?” putranya sudah bersiap-siap untuk dipukul, tapi Kushina hanya menghela napasnya.

“Berapa harga wanita itu semalam?” Ibunya menaikkan tas Birkinnya, “Apa kau sudah membelikan wanita itu tas ini juga?”

“Ibu! Dia itu bukan wanita malam!” Naruto dengan kesal langsung menyangkal pernyataan ibunya.

“Naruto. Dengar baik-baik.” Ibunya menatap mata Naruto tajam-tajam, “Cepat atau lambat identitas wanita itu akan terungkap. Entah olehku ataupun oleh media.”

“Tunggu, ibu! HMG itu apa?” 

Kushina menatap jam tangan Rolex emasnya. Ia sudah menghabiskan banyak waktu, “Aku harus pergi sekarang.”

Dengan itu Kushina meninggalkan TWG Tea Salon dengan elegan. Naruto pikir ibunya tidak bisa mencari tahu soal identitas wanita itu? Heh. Naruto kelihatannya sudah meremehkan kemampuan Kushina. 

Eh. Tunggu. Kushina hampir lupa.

Sial, padahal ia sudah keluar dengan sangat elegan. Sekarang ia harus kembali lagi dan berbicara dengan Naruto. Kenapa ia jadi pikun sih? Masa ia tidak hanya harus botox wajah, tapi harus botox otak juga?

“Oh ya aku hampir lupa,” Kushina akhirnya berbalik badan lagi, “Kau akan dijodohkan dengan putri tunggal Keluarga Haruno. Ibu sudah berbicara dengan keluarganya dan mereka setuju.” 

“Hah?” Anaknya tampak bingung, “Maksud ibu aku dijodohkan dengan Sakura-chan?”

“Ah, kalian juga sering bekerja bersama kan? Baguslah, jadi tidak repot.” Ibunya akhirnya berjalan pergi, “Sudah. Aku harus pergi sekarang aku sibuk.”

“Terima kasih ibu!” Naruto langsung berteriak dari kejauhan, “Kau pasti lelah mencarikan jodoh untukku. Terima kasih.”

Terima kasih? Jadi anak itu tidak apa-apa dijodohkan dengan orang yang tidak ia cintai? Heeh... Ternyata Uzumaki Naruto itu memang tidak serius ya dengan wanita di tabloid itu? Entah kenapa Kushina merasa agak kasihan dengan gadis malam itu, tapi mau diapakan lagi. Kushina harus menjalankan tugasnya sebagai pendiri Perusahaan Uzumaki. 

XXX

Theatre on the Bay
Image source : explorer-singapore
Esplanade theatre on the Bay, tampak seperti dome yang bersinar di dekat laut. Uzumaki Naruto baru pertama kali menonton opera di Singapore. Kali ini ia menonton pertunjukkan The Magic Flute yang awalnya ia pikir Oreo ajaib. Ia seharusnya menikmati pertunjukan opera ini, atau paling tidak tidur di tengah pertunjukan seperti biasanya. Sayangnya Uzumaki Naruto tidak bisa berkonsentrasi.

Ia dijodohkan dengan Sakura. Dijodohkan. Ia pikir ini hanya terjadi di sinetron dan drama korea saja. Ia bahkan sempat menjelek-jelekkan karakter prianya karena menentang keputusan ibunya. Kali ini Naruto dihadapkan dengan kejadian yang sama. Sebagai anak yang tidak durhaka, tentunya Naruto harusnya berterimakasih bukan?

Lagipula Sakura kan cantik, tidak apa-apa. Ia juga pernah menyukai Sakura. Wanita itu kan populer di kalangan para pria. Rasanya bisa mendapatkan artis cantik seperti Sakura itu mirip dengan menang lotere. Pasti ada jutaan pria yang ingin bertukar posisi dengan Naruto sekarang. 

Anehnya, Naruto sama sekali tidak senang. Entah kenapa ia tidak bisa membayangkan dirinya bertemu dan tinggal bersama Sakura setiap hari. Ia memang menyukai wajah Sakura yang cantik, tapi setiap hari bersama Sakura? Entah kenapa ia malah ingin terus bersama Hinata setiap hari. Ia ingin terus melihat wajah lembut Hinata, mencicipi masakannya yang enak, dan mendengarkan nasihatnya yang bijak setiap hari.

“Kenapa ibu harus menjodohkanku dengan Sakura-chan?” Naruto tidak sengaja mengutarakan kata hatinya.

Hinata's Valentino Spring 2015, Naruto's Armani Suit
Image source : styleshook , saksfifthavenue

Hinata tampaknya mendengar kata-kata Naruto. Sial! Sekarang ia harus bagaimana?! Ah! Singkirkan pikiran itu dari otakmu Naruto! Ibu adalah yang terbaik! Ibu tahu yang terbaik untukmu! Kau harus menghormati pilihan ibu! Walau kau menyukai Hinata, wanita itu tidak mungkin suka padamu! Sudah, jangan dipikirkan lagi! Dengarkan lagu opera saja! Suara sopran ibu-ibu gendut yang bernyanyi di panggung terdengar ceria, seperti musim semi! Nah! Ini baru bagus! Naruto kan jadi tidak memikirkan konflik batinnya lagi! 

Der Hölle Rache kocht in meinem Herzen
Herzen,
Tod und Verzweiflung flammet um mich her!

Queen of The Night Aria
Image source : dianeduane
“Hinata lagu ini bagus sekali! Artinya apa?” Naruto dengan cepat langsung bertanya kepada sahabat SDnya.

“Kalau diartikan secara langsung, artinya ‘napsu balas dendam membakar seperti neraka di hatiku’ begitu,” Hinata menjawabnya dengan lembut.

Eh? Jangan-jangan Hinata cemburu ya dengan Sakura? Atau jangan-jangan itu memang arti lagu opera itu?! Aduh, Naruto tidak tahu yang mana! Bahasa Jerman Naruto tidak begitu bagus.... Eh, tapi wajah Hinata tampak lembut dan tenang. Sama sekali tidak cemburu kok. Wajah itu benar-benar memalingkan dunianya. Seharusnya ia fokus mendengarkan opera, tapi ia malah lebih fokus melihat wajah Hinata. Pelacur darimana? Hinata adalah wanita berkelas yang tidak mungkin Naruto dapatkan.

Suara seriosa opera yang elegan menjadi background music yang bagus. Entah artinya balas dendam atau api neraka membara. Naruto tidak peduli. Namun musik ini membuat suasananya perlahan menjadi lebih romantis.

Ia ingin lebih dekat dengan Hinata. Ia ingin hanyut dalam opera ini. Satu hari saja. Malam ini saja. Naruto ingin melupakan semuanya. Ia hanya ingin bersama dengan Hinata dan menikmati waktu berduaan bersamanya. Walau sebagai teman saja. Walau sebagai pembantu dan majikan saja. Ia tidak ingin memikirkan hal lain. Bisa berduaan dengan Hinata saja sudah cukup untuknya.

Ia benar-benar merasa cukup. Sungguh.

“Tamino terlihat sangat mencintai Pamina ya?” Hinata memandang panggung opera itu sambil mengagumi pemeran utamanya.

Naruto tidak ingin tahu siapa itu Tamino dan siapa itu Pamina. Entah kenapa ia tidak bisa melepaskan pandangannya dari Hinata. Wanita itu benar-benar membuatnya menjadi anak kecil lagi. Tidak berpikir logis. Tidak mempedulikan apa-apa. Naruto telah berubah menjadi anak-anak lagi. Saat ia masih SD. Menatap Hyuuga Hinata dari kejauhan.

“Apa kau pernah jatuh cinta sebelumnya?” Naruto menatap wajah Hinata. Menunggu jawaban dari wanita yang elegan itu.

Hinata hanya terdiam. Wanita itu kemudian menggelengkan kepalanya. Dengan lembut ia kemudian menatap artis tampan itu, “Tapi aku pernah dicium sebelumnya.”

Apa?! Tidak. Kenapa Hinata pernah dicium?! Naruto ingin menjadi orang yang pertama kali mencium Hinata.... Sial. Siapa pria itu?!

“Bagaimana rasanya berciuman dengannya?” Naruto mendekatkan wajahnya ke arah Hinata. 

Wajahnya pasti terlihat seperti pria yang cemburu sekarang.

“Cepat dan dingin.” Hinata tersenyum pahit.

Hinata.... Ciuman itu harusnya hangat dan lembut. Naruto benar-benar ingin memberikan Hinata sebuah ciuman yang sesungguhnya. Memberikan apa yang pantas didapatkan oleh wanita yang luar biasa ini.

“Jadi kau hanya trauma jika dipegang tangannya saja?” Naruto tambah mendekat lagi, “Kau tidak apa-apa jika dicium?”

Wanita yang elegan itu mengangguk dengan pelan. Ia masih saja tersenyum dengan sopan. Naruto tidak mengerti kenapa Hinata tidak menjauh. Wajah wanita itu sangat dekat dengan wajahnya. Bibir mereka berdua hampir bertemu. 

“Hinata... Ciuman itu seharusnya tidak cepat dan dingin,” Naruto semakin mendekat lagi.

“Eh?” Wanita itu tampak bingung. Wajahnya yang polos membuat Naruto semakin tidak bisa lari dari situasi ini.

“Ciuman itu seharusnya seperti ini.”

Dengan lembut Naruto menyentuh bibir Hinata yang lembut. Bibir itu dingin, tapi Naruto dengan perlahan membuatnya menjadi hangat. Naruto terus memanjakkan bibir itu. Ia dapat merasakan manisnya madu dari bibir wanita itu. Rasanya seperti mimpi. Perasaan ini terlalu luar biasa. Ia tidak bisa berhenti mencium wanita itu di tempat opera ini. Di tengah kegelapan. 

Orang-orang yang sedang menonton opera tidak dapat melihat mereka berdua. Hanya ada Naruto dan Hinata saja dengan iringan biola klasik dan suara seriosa yang romantis. Momen ini ingin ia ingat selamanya. Entah kenapa bagi Naruto, ciuman ini jauh lebih romantis dari ciuman yang sering ia peragakan di film-film. Biasanya Naruto mencium wanita di depan kamera, ciuman kali ini berbeda. Ciuman hari ini penuh dengan privasi... dan perasaan.

“Naruto-kun, apa yang—” Wajah Hinata tampak bingung, “Kau sudah bertunangan bukan?” 

Ya itu benar. Ia seharusnya mendengarkan keputusan ibunya. Ia tidak ingin menjadi anak durhaka, tapi... tapi... ciuman itu. Apakah ia bisa melupakan ciuman seperti itu? Ciuman yang tulus dan lembut itu— Ciuman yang membuktikkan bahwa ia akhirnya lepas dari lingkaran maut friendzone.

Sial. Naruto awalnya tidak mengerti kenapa pria-pria di drama-drama romantis menentang ibunya. Sekarang ia mengerti. Perasaan memang sulit untuk dikendalikan. Ya. Sekarang giliran Naruto. Ia akan menjadi pria-pria di drama itu! Ia akan menjadi pria yang berjuang untuk cintanya! Ia akan melawan ibunya dan mendapatkan gadis idamannya! Ia akan menjadi anak durhaka!

“Hinata.... aku ingin makan masakanmu setiap hari, melihat wajahmu setiap hari dan menciummu seperti itu setiap hari... Aku rela menentang ibuku. Aku akan memintanya untuk membatalkan pernikahanku dengan Sakura-chan.”

Naruto mencium wanita itu sekali lagi, kemudian ia tersenyum hangat menatap Hinata. Wanita yang lemah lembut itu tampak kaget. Mungkin kaget karena terlalu senang! Ya, pasti Hinata senang dicium oleh Naruto. Wanita itu juga menyukainya bukan? Pasti begitu! Kalau tidak Hinata seharusnya sudah menampar Naruto karena menciumnya! Buktinya wanita itu masih terdiam saja.

“Hinata... setelah kau tinggal di rumahku, aku perlahan jadi menyukaimu,” Naruto menatap Hinata dengan serius, “Awalnya aku pikir kau begitu sempurna, kau tidak mungkin suka padaku, tapi aku senang sekali ketika kita berciuman. Kau juga suka padaku bukan?”

Wanita itu hanya bisa menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Hinata tidak merespon apa-apa. Ia hanya diam seribu kata. Ini pasti saatnya bukan? Saat dimana sang gadis tersenyum dan ikut berjuang untuk mempertahankan cinta terlarang ini! Hinata adalah heroine dari cerita ini. Ia pasti akan melawan sang ibu-ibu kaya dengan penuh semangat dan memperjuangkan cinta sucinya!

“Naruto-kun....” Hinata akhirnya membuka mulutnya, “Bagaimana kalau aku tidak menginginkan itu?”

Eh? Apa maksud Hinata? Naruto pasti salah dengar bukan? Tidak menginginkan apa? Maksud Hinata apa?

“Naruto-kun aku bukanlah seorang wanita yang sempurna,” Hinata menatap Naruto dengan serius.

Ah! Ternyata Hinata hanya merasa kalau dirinya tidak pantas untuk Naruto? Ya ampun! Naruto sering mendengar ini di drama-drama yang ia bintangi! Ia tahu jawaban apa yang tepat untuk menanggapi ini!

“Bagiku kau sempurna sayang!” 

Yap! Itu jawabannya bukan? Naruto itu ahli loh dalam menghafal dialog adegan percintaan! Karena biasanya setelah adegan ini, sang artis akan mencium Naruto dan berkata ‘aku sayang padamu’. Hinata juga akan melukan itu bukan?

“Naruto-kun, kau masih belum mengerti ya?” Wajah Hinata berubah menjadi lebih serius dari sebelumnya, “Kau tidak menyukaiku Naruto-kun.”

“Hinata... Aku berdebar-debar saat melihat senyummu! Itu artinya aku menyukaimu bukan?” Naruto membalasnya lagi.

Hinata kemudian menerawang jauh, “Kita baru saja kenal dalam waktu yang singkat. Kau memiliki ilusi bahwa aku adalah wanita yang elegan dan sempurna. Dewasa dan jauh dari jangkauanmu. Kau tahu kenapa?”

Naruto hanya bisa terdiam. Setiap perkataan yang Hinata katakan benar.

“Itu karena kau tidak tahu apa-apa tentang diriku,” Hinata melanjutkan, “Kau merasa aku sempurna karena kau tidak tahu apapun tentang aku. Yang kau lihat sekarang adalah ilusi.”

Respon seperti ini benar-benar tidak pernah Naruto bayangkan sebelumnya. Memangnya ini pernah terjadi di drama-drama ya? Heroine di drama-drama yang sering Naruto bintangi tidak pernah mengatakan hal ini. Gawat. Sekarang Naruto harus merespon apa?

“Tapi waktu SD—”

“Naruto-kun, maafkan aku jika aku sudah tidak sopan.” Hinata membungkuk untuk menunjukkan rasa hormat, “Namun aku saat SD bukanlah aku yang sekarang. Kalau kau masih keras kepala mengatakan bahwa kau mencintaiku mungkin aku harus mengingatkanmu sekali lagi. Kita baru bertemu sedangkan kau sudah mengenal ibumu sejak kecil. Hormatilah keputusan ibumu.”

Sial. Sekarang kata-kata Naruto malah diulang oleh Hinata? Rasanya tajam sekali. Bunuh Naruto sekarang. Bawa saja ke rawa-rawa.

XXX

Mandarin Oriental, Singapore
Image source : mandarinoriental

Hal ini terjadi lagi. Lagi-lagi Sasuke bangun di kamar hotel dengan seorang wanita di sampingnya. Siklus ini selalu terjadi. Ia tidak suka berpacaran dan ia tidak suka komitmen. Cinta sejati itu tidak ada dan pernikahan tidak pernah berakhir bahagia. Lihat saja ayah dan ibunya. Mereka berdua bercerai saat Sasuke masih SMA. Sekarang ayahnya sudah punya pacar yang jauh lebih muda dan ia tidak tahu ibunya ada dimana sekarang.

Uchiha Sasuke akhirnya bangun dari tempat tidurnya dan membuka tirainya. Sinar matahari menyinari kamarnya. Pemandangan Marina Bay Sands, Singapura menyilaukan mata. Ternyata tidak hanya mata Sasuke saja yang silau, wanita yang sedang tertidur di tempat tidurnya juga ikut terbangun.

“Kyaa!”

Suara teriakan wanita itu membuat telinga Sasuke hampir tuli. Kelihatannya wanita itu mabuk tadi malam. Ia pasti bingung kenapa ia ada di ranjang dan hanya mengenakan baju dalam saja.

“Sial!! Sial!! Sial!! Kali ini aku tidur dengan siapa?!” Wanita itu berteriak kesal, “Kau... Kau stalker tampan yang waktu itu!”

Ah. Ya. Sasuke hampir lupa. Wanita yang sedang terbaring di atas ranjangnya adalah artis yang bernama Haruno Sakura. Heh. Jadi wanita itu menganggap dirinya tampan?

“Eh! Maksudku bukan stalker tampan!” Sakura langsung tampak panik, “Sasuke— Kau Uchiha Sasuke bukan?”

“Tadi malam sangat menyenangkan.” Sasuke memakai jas dan mengambil tasnya, “Semoga kita tidak bertemu lagi.”

Wanita itu tampak tidak senang. Ia dengan kesal langsung berteriak, “Kau gila ya?! Tadi malam kau memakai kondom tidak?!”

“Ah.” Sasuke terdiam sejenak, “Tidak ingat dan aku tidak peduli.”

“Berikan handphonemu!” Sakura berteriak lagi.

“Hah? Untuk apa?”

“Kau pikir aku bodoh?!” Sakura berteriak lagi, “Kau baru saja tidur bersama artis ternama sepertiku, kau pasti menyimpan foto-foto seksiku!”

Sasuke dengan kesal melempar telepon selulernya ke tangan Sakura, “Kau juga. Mana teleponmu?”

Wanita itu tampak kaget, “Untuk apa aku memberikan telponku?”

“Kau baru saja menyebutku tampan.” Sasuke menghela napasnya, “Kau juga pasti menyimpan foto telanjangku bukan?”

Sakura tampak kesal dengan kata-kata Sasuke kemudian wanita itu langsung melempar teleponnya. Telepon genggam itu langsung mendarat di wajah Sasuke. 

“Dasar pria mesum, kau yang menyimpan foto telanjangku bukan?!” Sakura menjawabnya dengan penuh emosi.

Sakura's iPhone 6s
Image source : imore.com

Mereka berdua saling mengecek galeri foto mereka. Sasuke tidak melihat ada foto-foto aneh di handphone Sakura. 

Tunggu.

Ada SMS masuk. 

‘Sakura, kau dijodohkan dengan putra tunggal Perusahaan Uzumaki. Namanya Uzumaki Naruto. Ia juga sedang ada di Singapura. Cepat atur waktu kalian bertemu. Jangan membuat ibu malu.’

Heh. Naruto dijodohkan dengan wanita ini? Menarik juga.

XXX

<<Previous Chapter

Next Chapter>>

0 comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...