Marrying Uchiha Sasuke : Chapter 16

23:20 Melissa Gabriele 31 Comments

Marrying Uchiha Sasuke

Chapter 16

Baby, It's Cold Outside


Wine Cellar
Image source : dwp 
Disclaimer : I do not own Naruto
Warning : Slight sexual implication

Pagi itu Sakura mengitari wine cellar yang terbuat dari kaca dengan kebingungan. Wine cellar ini terletak di tengah-tengah restoran michelin Belon Oyster Bar di Macau. Interiornya yang penuh dengan kristal-kristal bening membuat restoran ini terkenal di kalangan ekspat. Namun alasan Sakura ke sini bukanlah untuk menikmati makanan atau interiornya. Sakura datang karena ingin membeli wine untuk suaminya. Sayangnya sejak tadi, ia malah memikirkan hal lain. Ia memikirkan ciumannya kemarin malam. Ah! Sial. Ini semua salah Sakura! Kenapa ia mencium Sasuke? Ia benar-benar ingin minta maaf, ia ingin melupakan semuanya— Namun, ciuman kemarin sangat... sangat. Ah! Lupakan. Lupakan saja!



Sakura's Rime Arodaky Dress, Waiter
Image source : net-a-porter , trungtamnhatngu
“Jadi wine apa yang anda inginkan?” Pelayan di sana tersenyum ramah kepada Sakura.
“Wine apa yang cocok untuk orang yang dingin dan menyebalkan?” Sakura bertanya kepada pelayan itu, “Oh, tapi orang itu terkadang romantis dan baik.”

“Eh... Itu...” Pelayan itu tampak bingung.

“Tunggu, tunggu. Ah, aku tahu, aku ingin wine yang tepat untuk seorang suami yang setiap malam membuatku tidak bisa tidur!” Ujar Sakura.

Pelayan itu kemudian tampak kaget, wajahnya tampak agak merona. Wanita bermarga Uchiha itu awalnya bingung sejenak, tapi perlahan ia jadi mengerti alasan dibalik wajah merah pelayan itu. Sial! Kelihatannya kata-kata Sakura terdengar agak... seksual. Ah bukan itu alasan Sakura tidak bisa tidur tiap malam! Sungguh! Alasannya adalah karena Uchiha Sasuke itu selalu saja begitu bipolar! Terkadang baik, terkadang bad mood dan kemarin ia malah memberikan Sakura cincin berlian biru yang sangat langka dan mahal! Sakura benar-benar dibuat pusing!

“A-aku sepertinya ingin wine yang ini saja!” Sakura asal menunjuk. 

Sungguh, Sakura pasti terlihat seperti wanita yang gila seks sekarang. Ah! Kenapa hal ini selalu terjadi kepadanya? Tunggu! Kalau dipikir-pikir Sasuke itu menganggap Sakura seperti apa ya? Kira-kira pria dingin itu sedang berpikir apa sekarang? Apakah ia juga memikirkan ciuman mereka tadi malam? Sakura tidak melihat Sasuke saat ia bangun. Pria itu sudah hilang entah kemana. S-a-s-u-k-e. Kenapa pria itu begitu misterius?

“Kalau begitu saya akan membawakan receipt ke sini,” pelayan itu menjawab, “Silahkan duduk.”

“Ah, tidak usah,” ujar Sakura, “Aku ikut saja. Aku ingin melihat-lihat interior restoran ini juga.”

Belon Oyster Bar & Grill Restaurant
Image source : dwp 
Dengan elegan, Sakura menelusuri restoran Belon untuk membayar wine yang ia beli. Jika dilihat-lihat lagi, restoran michelin ini ternyata sepi juga. Entah karena hari masih pagi atau karena harga makanan di tempat ini terlewat mahal. Sakura juga tidak tahu. Namun dibalik kursi-kursi pastel dan kristal-kristal gantung restoran itu, Sakura tidak dapat melihat siapa-siapa kecuali seorang gadis. Gadis itu duduk sendirian. Sakura tidak bisa melihat wajahnya, tapi entah kenapa rambut pirang orang itu terlihat begitu familiar. Rasanya... seperti seseorang yang ia kenal.

Saat orang itu menatap ke samping, Sakura akhirnya dapat melihat wajahnya dengan jelas. Ini halusinasi bukan? Fatamorgana? Kenapa ada Yamanaka Ino di tempat ini?! Ini Macau bukan?! Kenapa Ino bisa ada di tempat ini? Memang sih hari ini masih weekend dan Ino tidak bekerja, tapi kenapa wanita itu tiba-tiba ada di Macau? Kenapa Ino tidak mengabarkan kedatangannya?! Mereka kan bisa berwisata bersama! Dan lagi sejak kapan Ino mampu membayar makanan semahal ini?!

Ino's Altuzarra Fall 2015
Image source : net-a-porter
“Ino!” Sakura dengan cepat berjalan ke tempat duduk wanita itu, “Ino kenapa kau ada di sini?”

Sahabat baiknya tampak kaget melihat Sakura. Entah kenapa ekspresinya tampak tidak tenang. Rasanya Ino seperti menyembunyikan sesuatu. Kelihatannya pertemuan mereka tidak diinginkan oleh Ino. Kenapa? Bukankah mereka sahabat? Ino sering sekali mendengar cerita-cerita Sakura. Mereka tahu segalanya soal satu sama lain! Eh... Tidak juga sih. Ino tidak tahu kalau pernikahan Sasuke dan Sakura hanya pura-pura. Namun itu pengecualian. Intinya Ino dan Sakura itu adalah sahabat dekat. True friends.

“Sakura...” Ino tampak agak pucat, “Kau ada di sini juga?”

Wanita bermarga Uchiha itu tampak kebingungan. Bukankah ia sempat memberitahu Ino bahwa ia akan berangkat ke Macau bersama suaminya. Kenapa wanita itu malah bertanya lagi? Kenapa wajahnya berubah menjadi pucat seperti ini? Sakura sudah lama mengenal dokter nutrisi yang bawel ini. Ino itu selalu saja suka berbicara dan energetik. Kenapa hari ini ia malah jadi nona-nona kaya yang sopan dan ketakutan?

“Ino , sebenarnya ada apa denganmu?” Sakura langsung berjalan mendekat dan mengecek temperatur sahabatnya, “Apa kau sakit?”

“Aku tidak apa-apa,” Ino menjawab Sakura dengan tenang, “Kau sudah selesai makan?”

“Ah, aku tidak makan di sini.” Sakura tersenyum, tampaknya Ino sudah tidak berkeringat dingin lagi, “Aku hanya membeli wine untuk Sasuke. Kemarin kita anniversary dan aku belum memberikan hadiah untuknya.”

Sakura menunggu Ino untuk menanggapinya. Sayangnya sahabatnya hanya terdiam. Ini aneh sekali. Ino biasanya sangat amat cerewet. Sangat amat. Sakura tidak bohong. Dokter nutrisi itu bahkan sering berteriak di telepon untuk memarahinya. Sakura jadi semakin bingung. Sejenak, Sakura memperhatikan meja Ino. Masih belum ada makanan di mejanya. Kelihatannya Ino masih menunggu orang lain untuk datang.

“Kau sedang berlibur dengan siapa?” Sakura mencoba untuk menggali misteri ini lebih lanjut, “Keluargamu? Kenapa kau tidak bilang padaku?”

Mendengar pertanyaan Sakura, dokter nutrisi itu tampak agak pucat lagi. Ia pasti tidak pergi dengan keluarganya! Sakura tahu. Sebenarnya Ino pergi dengan siapa? Kenapa sahabatnya masih belum menjawabnya? Sakura benar-benar tidak tahu harus bereaksi seperti apa.

“Sakura... Aku tidak bisa memberitahukannya padamu.” Ino menghela napasnya, “Jika waktunya tepat, aku pasti akan memberitahumu.”

Baru pertama kali ini Sakura melihat Ino tampak seperti ini. Yah mau diapakan lagi. Ada beberapa hal yang tidak bisa Sakura beritahu kepada Ino juga. Contohnya cerita dibalik pernikahannya dengan Sasuke, bayinya yang sebenarnya diracuni oleh Kisame dan ciuman kemarin malam. Sebagai teman yang baik ia harus menghargai keputusan Ino.

“Ah, begitukah?” Sakura tersenyum lagi, “Kalau begitu selamat menikmati liburanmu. Aku pamit dulu.”

Dengan itu, sahabatnya kembali tersenyum. Sakura akhirnya meninggalkan Ino dan membayar wine pesanannya. Setelah wine itu dibungkus dengan rapih, Sakura kembali berpikir lagi. Sebenarnya siapa orang yang dirahasiakan oleh Ino? Karena penasaran, sosialita cantik itu akhirnya membawa hadiah yang sudah ia bayar dan memilih untuk sarapan di tempat duduk yang jauh dari sahabatnya. Ino tidak mungkin bisa melihatnya dari sini, tapi Sakura bisa melihat Ino dengan jelas. Wanita bermarga Uchiha itu kemudian memesan kopi. Ia penasaran. Sungguh. Ia ingin menjadi stalker hari ini dan melihat orang yang dirahasiakan oleh Ino.

Lima menit berlalu. Tamu misterius itu masih belum datang. Tiga puluh menit berlalu. Orang sialan itu masih belum datang. Berani sekali orang itu membuat sahabatnya duduk dan menunggunya sampai begitu lama. Sebenarnya Ino itu bodoh ya? Wanita itu sudah berapa lama menunggu orang ini? Jangan-jangan Ino sedang dicampakkan? Atau mungkin ditipu?


Hermes Constance
Image source : threadsstyling

Sakura yang kesal akhirnya menghabiskan skim cappuccino yang sudah dingin. Ia kemudian mengambil kartu dari tas Hermes Constance alligatornya dan memutuskan untuk pergi. Orang itu pasti tidak datang. Ino sudah dicampakkan. Sakura akhirnya membayar kopinya dan pergi dari restoran itu. Saat ia berjalan menuju pintu keluar, Sakura dapat melihat orang yang sangat ia benci di lorong restoran. Lorong itu begitu sempit dan terang, jadi Sakura tidak mungkin salah.

Orang itu adalah... Hoshigaki Kisame.


Lorong Restoran
Image source : dwp 
Sebelum Kisame dapat melihatnya, Sakura bersembunyi di balik tembok. Lorong itu memiliki tembok-tembok tinggi yang melengkung. Sakura bersembunyi di sela-sela tembok sambil berusaha untuk bersikap tenang. Entah kenapa Kisame membuatnya jadi salah tingkah dan takut. Kejadian bayi itu... kemudian Sakura yang hampir membunuh Kisame... Semuanya membuat jemari Sakura jadi bergetar. Bahkan di pesta kemarin, Sakura berusaha keras untuk tidak bertemu dengan Kisame.

“Ah, iya. Ino maaf aku terlambat,” Kisame menjawab teleponnya sambil tersenyum, “Mana mungkin aku melupakan janji kita? Hari ini istriku pergi ke Paris jadi kita bisa pergi ke Tibet berdua saja. Aku sudah menyiapkan jet, kita bisa pergi setelah selesai makan. Kau tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi.”

A-apa? Jadi... tamu misterius yang Ino tunggu-tunggu itu adalah Kisame? Jadi karena ini Ino tidak ingin memberitahukan identitas orang yang ia tunggu. Karena Kisame sudah memiliki istri? Tunggu, itu artinya Ino adalah wanita simpanan? Ini bohong kan? Namun kenapa harus begini? 

“Aku sudah memesan vila di St. Regis Lhasa,” Kisame tampak bersemangat, “Aku dengar Spa di sana juga enak. Kau suka spa bukan?”

Ino yang Sakura kenal sangat berkelas dan pintar. Tidak. Sakura tidak bisa membiarkan ini terjadi! Ino tidak boleh merusak rumah tangga orang. Apalagi, Kisame adalah pria yang berbahaya dan jahat. Ino tidak boleh pergi ke St. Regis Lhasa! Tidak boleh! Vila, berdua saja, nanti hal-hal buruk bisa terjadi! Sakura saja hampir melakukan itu dengan Sasuke di Gili!

“Ayolah jangan marah Ino,” Kisame tampaknya sedang membujuk Ino, “Aku sudah sampai di restoran. Lagipula, nanti kita bisa bersantai di vila bersama. Jadi jangan marah. Kemarin aku tidak melakukannya dengan istriku kok.”

Ino sudah melakukannya dengan Kisame?! Apa-apaan ini?! Tidak! Sakura harus menyelamatkan Ino dari pria busuk ini! Besok Sakura masih belum bekerja. Ia juga bisa mengambil cuti beberapa hari jika ia mau. Ia tidak ingin Ino jatuh ke tangan Kisame. Pria licik itu benar-benar berbahaya. Walaupun ia sudah memaafkan Kisame, tapi ia tidak ingin sahabatnya juga dicelakai oleh orang itu. Ya. Sekarang Sakura harus ke Tibet. Harus.

Ia tidak bisa menghubungi Ino karena ada Kisame sekarang, tapi di Tibet nanti Ino akan pergi spa. Kisame tidak mungkin kan ikut spa! Ya! Sakura bisa mencari jadwal booking spa ino dan ikut spa bersamanya. Ia akan berbicara empat mata dengan sahabatnya itu sebelum semuanya terlambat!

Tunggu! Jika dengan pesawat Sakura pasti tidak bisa sampai dengan cepat. Lagipula Vila itu tampak mahal. Sakura dengar St. Regis juga hotel yang cukup mahal di Tibet. Sial. Kalau begitu ia butuh bantuan. Ia harus memanggil bala bantuannya. 

Uchiha Sasuke.

XXX


Macau Highway
Image source : travelblog

Siang itu Sasuke dan Sakura duduk di dalam taksi yang akan membawa mereka ke bandara. Sasuke benar-benar lelah kemarin malam. Entah kenapa ia tidak bisa tidur. Ia akhirnya memutuskan untuk memesan kamar lain dan tidur di tempat yang berbeda dengan Sakura. Jika ia terus tidur di samping wanita itu, entah apa yang akan ia lakukan kepada Sakura. Ia tidak ingin memikirkan ciuman itu lagi. Jika ia memikirkannya lagi, tubuh Sakura yang hanya ditutupi oleh selimut dan jasnya akan muncul lagi. Jika ia memikirkannya lagi ia pasti akan menginginkan tubuh Sakura. Sial. Lupakan saja. Ia tidak boleh begini. Ia harus berpikir dengan logis. Ia ingin cepat-cepat pulang ke Jepang dan melupakan semua ini. Jetnya sudah siap, semuanya sudah siap. Memori di Macau akan segera ia lupakan.

“Sasuke-kun...” Sakura tersenyum dan memohon kepada suaminya yang duduk di taksi, “Kita ke Tibet yuk.”


Sakura's Burberry Trench Coat, Sasuke's AMI Trench Coat
Image source : net-a-porter , saksfifthavenue
Uchiha Sasuke hanya bisa terdiam ketika istrinya memohon kepadanya seperti itu. Kun? Sasuke-kun? Sejak kapan Sakura memanggilnya dengan sebutan seperti itu? Sakura hanya memanggilnya dengan sebutan Sasuke-kun saat ia masih SMA. Sebenarnya ada apa dengan Sakura? Apa karena ciuman kemarin malam? Jangan-jangan wanita itu... Ah, sudahlah Sasuke tidak suka berspekulasi tanpa dasar yang logis.

“Oh ya ini wine untuk anniversary kita.” Sakura mengeluarkan wine yang ia beli dari bungkusannya, “Jadi kita bisa merayakan anniversary kita di Tibet kan? Tibet kan ada di Cina, jadi dekat. Aku mau pergi hari ini juga. Ya? Ya? Dengan jetmu. Aku tidak ingin pulang ke Jepang dulu.”

Ah, jadi ini alasan dibalik sikapnya yang manja. Sakura ingin menyuapnya untuk pergi ke Tibet. Dasar. Memangnya Sakura pikir Tibet itu dekat dengan Macau? Tibet itu cukup jauh... Biasanya orang yang pergi ke Macau akan pergi ke Hongkong bukan Tibet. Hanya saja, Sakura sudah memohon dengan manja seperti itu. Sasuke jadi tidak bisa berkata tidak. 

“Ya sudah.” Sasuke mengambil telepon dan mencari nomor pilotnya, “Aku akan menyiapkan jetku dan mengurus ijin terbang. Kau ingin ke Tibet bagian mana?”

“Aku ingin menginap di vila St. Regis Lhasa,” Sakura menjawab dengan penuh percaya diri, “Lalu menikmati spa.”

Yak. Sasuke yakin ada yang salah dengan Sakura hari ini. Biasanya wanita itu tidak pernah peduli mereka mau menginap di mana. Bahkan Sasuke yang jauh lebih sering mengurus soal hotel, liburan dan restoran. Kemudian... Spa? Sasuke tidak salah dengar? Sejak mereka menikah sampai sekarang Sakura tidak pernah meminta ini. Tidak pernah. Mereka begitu sering menginap di hotel berbintang lima dan Sakura tidak pernah pergi spa.

“Ya sudah. St. Regis Lhasa, kemudian Spa.” Sasuke memberikan pesan kepada pilotnya sambil berbicara dengan Sakura, “Ada lagi?”

“Kau seperti waiter yang sedang menerima pesanan!” Sakura tertawa terbahak-bahak.

Sasuke tidak mengerti kenapa Sakura menganggap ini lucu. Satu tahun mereka menikah, ia benar-benar masih tidak mengerti cara berpikir istrinya. Kelihatannya selera humor mereka berdua terlalu berbeda. Ya sudahlah, yang penting istrinya tidak murung seperti waktu mereka di Swiss.

“Oh ya bagaimana dengan keadaan Naruto?” Sakura bertanya.

“Naruto sudah pulih,” jawab Sasuke, “Alerginya sudah reda.”’

Mendengar soal Naruto, Sasuke jadi ingat soal Menma. Ia sempat mencari-cari tahu soal Menma tapi ia tidak menemukan banyak hal. Informasi tentang pria itu benar-benar rahasia. Tentu saja anak seorang pengusaha terkenal harus menjaga identitasnya dengan baik, tapi tetap Sasuke merasa informasi ini telalu sedikit. Rasanya seakan-akan informasi ini baru dibuat beberapa bulan lalu.

Ia masih yakin seratus persen Menma yang ada di pesta tadi bukanlah Menma yang asli. Kemudian Sasuke juga masih tidak bisa menerima kenyataan bahwa Menma menjual sahamnya kepada Kisame. Karena penjualan saham itu, Kisame memiliki voting rights yang besar di Perusahaan Uchiha. Jika mereka mengadakan shareholder’s meeting lagi, keputusan yang dipilih Kisame bisa berpengaruh besar. Kalau mereka akan memilih pengganti Fugaku... Kisame bisa memilih Itachi. Cih. Mereka berdua dekat. Jangan-jangan itulah alasan Itachi menyumbangkan sahamnya kepada Kisame? Agar Kisame memilihnya? 

Ah. Tentu saja. Kisame dan Itachi cukup dekat. Semuanya menjadi agak jelas sekarang. Pasti ini semua rencana kakak laki-laki Sasuke. Pria itu memang pintar. Ia menggunakan Kisame agar bisa merebut posisi yang seharusnya diraih Sasuke. Sial. Setelah liburan di Tibet ini selesai, Sasuke akan mengurus ini semua. Itachi pikir ia bisa menang dari Sasuke? Heh. Itachi pasti sedang bermimpi. 

XXX


St. Regis Lhasa
Image source : kiwicollection

Malam itu Sakura dan Sasuke akhirnya sampai di St. Regis, Lhasa, Tibet. Penginapan termewah di Tibet ternyata memang sesuai dengan reputasi dan harganya. Sakura dapat melihat vila-vila yang ada di atas kolam air yang besar. Vila itu terlihat seperti istana-istana kecil di Cina. Rasanya Sakura benar-benar seperti permainsuri saja. Eh, tapi Sakura memang mirip permainsuri sih setelah menikah dengan Sasuke. Sungguh, Sakura agak kaget ketika Sasuke tiba-tiba setuju begitu saja. Ini pasti karena rayuan Sakura jitu! Memang benar menjadi manja itu ternyata berguna juga. Biasanya suaminya itu suka tidak setuju atas permintaan Sakura. Entah kenapa pikiran Sasuke yang terlalu logis membuat semua pendapat Sakura terkesan salah. Untungnya hari ini pria melankolis itu setuju untuk pergi ke Tibet. Yak. Mission accomplished! Sekarang tinggal menyelamatkan Ino dari pria busuk bernama Kisame itu. 

“Sasuke! Aku duluan ya! Aku ingin Spa! Sekarang!” Sakura meninggalkan kopernya sambil berlari ke arah lobi.  

“Sakura! Hey!” Sasuke berteriak memanggil istrinya.

“Nanti saja, kita ngobrol lagi!” Sakura melambaikan tangannya sambil berlari dengan cepat.

Well, karena Uchiha Sasuke itu pintar... Sakura akan menyerahkan urusan koper dan kamar kepada Sasuke. Sekarang Sakura harus cepat pergi ke tempat Spa sebelum Ino selesai berendam. Sakura sudah membaca peta vila ini dengan matang. Ia sudah hafal letak Spa di St. Regis ini. Ia tahu ia pasti akan berbicara dengan Ino secepat mungkin.


St. Regis Lhasa, Spa
Image source : starwoodhotel
Setelah berlari dengan sekuat tenaga, Sakura akhirnya melihat tempat yang ia cari-cari. Spa di St. Regis Lhasa sangat tradisional dari luar, tapi sangat modern di dalam. Sakura dengan cepat langsung berbicara kepada resepsionis sambil mencoba untuk mengatur napasnya.

“Selamat malam, apakah ada yang bisa saya bantu?” Ujar sang resepsionis.

“Ah, saya ingin memastikan booking atas nama Yamanaka Ino,” Sakura tersenyum hangat. 

“Ibu Yamanaka sudah masuk ke ruangan Spa ibu...”

Bagus. Sekarang Sakura harus bagaimana? Ternyata Ino si babi itu memang suka sekali ya memanjakkan diri dengan Spa? Hari pertama ia sampai ke Tibet, ia langsung spa?! Dasar high-maintenance. Ya sudah, sekarang mau tidak mau Sakura juga harus masuk ke ruang Spa itu. Sakura dengan cepat memberikan SMS kepada Sasuke dan bertanya soal nomor penginapan mereka.

“Ah, saya juga ingin Spa sekarang dengan nomor peninapan 312.” Sakura tersenyum hangat.

Setelah mengurus semuanya, Sakura akhirnya masuk ke dalam ruangan Spa itu. Walaupun Sakura sudah membayar untuk semua paketnya, ia tidak ingin massage ataupun perawatan lain. Ia hanya berendam di kolam besar untuk umum yang bernama Golden Energy Pool. Ia tahu jika ia terus di sini, Ino juga pasti akan datang. Sahabatnya itu paling suka berendam di tempat Spa. Ino pasti akan selalu berendam setelah ia selesai semuanya.


Golden Energy Pool
Image source : starwoodhotel
Sebelum Sakura mengganti baju dan berendam, ia dapat melihat kolam air indoor yang ia cari-cari. Sekarang Sakura tahu kenapa kolam itu memiliki nama Golden Energy Pool. Kolamnya berwarna emas, sangat besar dan mewah. Ada lukisan naga berwarna perak yang besar di tengah-tengah. Kolam itu berwarna kuning emas karena cahaya lampu dan dasar lantainya yang berwarna kuning emas. Rasanya seperti kolam untuk raja-raja. 

Ino! Wanita itu benar-benar datang! Sakura dapat melihat Ino yang sudah siap untuk berendam. Wanita itu mengenakan handuk dan tampak sangat bahagia. Dasar! Kenapa wanita itu malah bahagia sih? Ia sedang merusak rumah tangga orang lain!

“Ino babi!” Sakura berteriak kesal memanggil sahabatnya.

Mendengar sebutan itu, Ino langsung panik. Kelihatannya ia sadar Sakura ada di ruangan itu juga. Sudah lama Sakura tidak memanggil Ino dengan sebutan babi. Ia hanya menggunakan sebutan itu kalau ia sangat kesal. Hari ini, Sakura sangat amat kesal. 

“Sakura?!”

“Ino, kau harus menghentikkan ini semua. Jangan merusak rumah tangga orang lain.” Sakura berjalan mendekati sahabatnya.

Ino langsung berjalan menjauh sambil menaikkan satu alisnya, “As expected, kau tidak langsung pergi ya dari restoran di Macau? Jadi kau tahu semuanya?”

“Percayalah padaku Ino, Kisame bukan orang yang baik.” Sakura meyakinkan sahabatnya.

Ya, Kisame bukan orang yang baik. Pria itu manipulatif dan egois. Ia bahkan membunuh bayi Sakura. Kisame itu berbahaya.

“Sakura, aku mohon jangan ikut campur.” Ino menghela napasnya, “Aku menyukai Kisame dan itu bukan urusanmu.”

Jadi Ino ingin mengatakan bahwa Kisame itu jodohnya? Sakura tidak salah dengar bukan? Wanita itu pasti bercanda!

“Dengarkan aku Ino! Aku tidak bisa langsung mengatakannya tadi pagi karena ada Kisame, tapi malam ini kau harus tahu...” Sakura mengambil napasnya pelan-pelan, “Kau tahu kan bayiku keguguran?”

“Ya?”

“Kisame yang membunuhnya.” Sakura menatap sahabatnya dengan serius.

Mendengar itu, Ino malah tertawa. Tertawa! Kenapa? Wanita itu sudah gila ya karena jatuh cinta?

“Sakura, aku tahu kau paling membenci perselingkuhan. Kau ingin aku berhenti merusak rumah tangga orang sampai-sampai kau mengarang cerita seperti ini bukan?” Ino menggelengkan kepalanya, “Sudahlah Sakura. Kau tidak bisa merubah pikiranku. Aku tahu Kisame akan bercerai dengan istrinya dan memilihku.”

“Ino! Kisame tidak akan meninggalkan istrinya!” Sakura sudah mulai emosi sekarang, “Kisame itu pembunuh yang egois dan kejam. Kau tidak mungkin menyukainya! Kau hanya ingin uangnya bukan?!”

Kali ini Sakura baru tersadar bahwa kata-katanya agak jahat. Ino tampak tidak senang mendengar pernyataan Sakura. Sahabatnya itu mulai menggigit bibirnya. Jika Ino menggigit bibirnya, itu menandakkan bahwa ia sudah sangat marah.

Ino kemudian berteriak dengan kesal, “Dengar ya, aku berbeda. Jangan hanya karena pernikahan orangtuamu hancur karena perselingkuhan kau jadi merasa sok pahlawan untuk menyelamatkan keluarga orang lain.”

Keluarga... Sekarang Ino berani mengungkit keluarganya? Ino tahu bahwa Sakura sangat tidak menyukai jika kejadian waktu itu diungkit lagi. Traumanya setiap kali guntur datang kemudian— Sial. Ini semua salah ayahnya. Kenapa pria itu selingkuh? Jika ayahnya tidak selingkuh kejadian waktu itu tidak mungkin terjadi. Saat kedua orang tuanya bertengkar dan furnitur-furnitur mulai jatuh... kemudian ada kejadian itu— Sakura tidak ingin mengingatnya! Tidak ingin lagi.

“Aku berbeda dengan selingkuhan ayahmu!” Ino berteriak lagi.

“Jangan pernah ungkit soal wanita sialan itu lagi.” Sakura kemudian mengerutkan dahinya, “Ah, dan selingkuh itu selingkuh. Kau sama saja dengan wanita sialan itu.”

Ia dengan cepat pergi dari Spa itu. Ia sudah tidak ingin melihat wajah Ino lagi. Tidak setelah wanita itu mengungkit-ungkit soal keluarga Sakura. Kali ini sahabatnya sudah melewati batas. Ia tahu betapa Sakura membenci topik itu. Sudah. Sakura tidak ingin mendengarnya lagi. Sakura tidak ingin membantu Ino lagi.

Selamat menikmati kekejaman hidup bersama Kisame.

XXX


Tibet
Image source : oneworld365
Uchiha Sasuke tidak mengerti soal wanita. Ya. Ia sudah tidak ingin tahu lagi. Kemarin Sakura yang mengajaknya ke Tibet. Hari ini wanita itu malah tampak murung setelah sampai ke tempat tujuan. Sasuke sudah bekerja keras untuk liburan mendadak ini. Jika bukan karena Sasuke, Sakura tidak mungkin bisa ada di mobil hari ini. Sungguh. Menyewa mobil untuk pergi Mt. Everest Base Camp itu sangat sulit, apalagi mengendarainya. Sasuke sejak tadi mengendarai mobil itu selama berjam-jam. Tekstur lahannya yang tidak teratur membuat Sasuke jadi agak repot membawa mobil itu. Ia tahu tidak sih kalau pergi ke Mt. Everest Base Camp tidaklah mudah?

Dasar aneh. Kemarin malam Sakura sama sekali tidak berbicara kepada Sasuke. Istrinya itu langsung tidur dan tidak mengatakan apa-apa. Hari ini juga sama. Sejak tadi di kereta Sakura diam saja. Biasanya istrinya itu pasti akan menjadi wanita yang hiperaktif jika sedang travelling. ‘Lihat Sasuke itu bagus’ ‘Lihat Sasuke ini bagus’ begitu. Atau Sakura akan bertanya ‘Sasuke kita mau kemana?’ ‘Sasuke kita mau makan apa?’. Kenapa wanita itu jadi berubah seratus delapan puluh derajat? Sakura itu sedang datang bulan ya? Atau jangan-jangan Sasuke melakukan kesalahan?


Friendship Highway
Imagesource : himalayabytricycle
“Sakura.” Sasuke mencoba untuk mencari topik, “Kita sedang melewati Friendship Highway, jalan yang dekat sungai ini terkenal.”

Mendengar itu istrinya hanya menganggukkan kepalanya. Bagus. Sakura tahu kalau Sasuke itu tidak pandai berbicara ataupun mencari topik. Saat Sasuke mencari topik, wanita itu malah terdiam. Ya sudah. Sasuke juga diam saja. Diam toh tidak akan melukai siapa-siapa. Lagipula, mungkin wanita itu butuh ruang untuk sendirian. Sasuke harus menghormati keputusan Sakura.

Jalan menuju Mt. Everest Base Camp sangat jauh, tapi Sasuke harus mengakui bahwa tepat ini indah. Kekayaan alamnya masih sangat asri dan pesona lembah-lembah yang dilengkapi oleh sungai yang panjang terlihat unik. Membuat perjalanan mereka menjadi tidak begitu membosankan walau Sakura terus terdiam. Setelah beberapa jam, Sasuke akhirnya berhenti menyetir.

“Ayo turun Sakura, kita akan berkemah di sini dulu,” Sasuke menepuk pundak istrinya.

Sakura dengan lemas kemudian turun. Wanita itu bahkan tidak sempat memakai jaket. Sakura itu bagaimana sih? Ia lupa kalau gunung besar di sana itu Mt. Everest ya? Tempat ini kan sangat dingin.

“Sakura, pakai jaketmu.” Sasuke mengambil jaket Sakura dan memakaikannya ke tubuh istrinya. 


Sasuke's Andrew Marc Jacket & Sakura's Lanvin Tweed Coat
Image source : saksfifthavenue , net-a-porter
Istrinya kemudian mengucapkan terimakasih, “Sasuke kita ada di...?”

“Mt. Everest Base Camp,” Sasuke menunjuk deretan tenda-tenda di dekat gunung itu.

Sakura kemudian tampak agak lebih ceria ketika ia melihat gunung es Mt. Everest yang putih bersih. Gunung salju itu tampak kontras dengan daratan bebatuan yang kecoklatan. Akhirnya wanita itu tersenyum juga. Kelihatannya Sasuke tidak salah mengajak istrinya ke perkemahan ini. Tempat ini memang luar biasa pemandangannya. Lahan perkemahan yang hijau tampak kontras dengan gunung Everest yang putih bersih. Sayangnya udaranya memang cukup dingin walau tidak bersalju.


Mt Everest Base Camp
Image source : statravel
Sasuke kemudian mengeluarkan kamera SLR yang ia bawa. ia kemudian menangkap gambar-gambar gunung itu. Ia bukan pria yang suka fotografi, tapi hari ini ia pergi ke tempat yang belum pernah ia jelajahi sebelumnya. Ia akhirnya memutuskan untuk memotret momen baru ini. Lagipula, Sakura yang tadinya murung sedang tersenyum. Entah kenapa ia jadi ingin memotret wajah wanita itu. Wajah Sakura yang sedang tersenyum terlihat indah dengan gunung es di belakangnya. 

Setelah banyak mengambil foto Sakura— dan gunung Everest, Sasuke akhirnya beristirahat. Udara yang awalnya dingin menjadi agak hangat. Sakura yang sedang duduk, melepas jaketnya dan menikmati roti yang ia bawa. Sedangkan Sasuke menyiapkan tenda agar mereka berdua bisa bermalam di sana. Setelah selesai memasang tendanya, ia dapat melihat Sakura berjalan menuju ke Mt. Everest. Wanita itu tampak bersemangat.

Tunggu.

Lagi-lagi istrinya tidak mengenakan jaket. Sakura itu selalu saja sok kuat. Dengan cepat Sasuke mengambil jaket istrinya. Ia kemudian meninggalkan tendanya dan memanggil Sakura. Sayangnya wanita itu tidak mendengar Sasuke. Ia akhirnya mengejar istrinya yang sudah agak jauh di depan sana. Setelah ia sampai ke sebelah Sakura, wanita itu dengan bersemangat menunjuk gunung itu. 

Sasuke hanya bisa menghela napasnya, “Sakura. Pakai jaketmu.”

“Sudah tidak terlalu dingin kok,” Sakura menghela napasnya.

“Ya. Ya,” Sasuke menganggapinya dengan dingin dan tetap memakaikan jaket itu ke tubuh istrinya.

“Dasar keras kepala,” Sakura menggelengkan kepalanya.

Sakura kemudian berjalan menjelajahi tempat itu. Wanita itu berjalan lumayan jauh dari Base Camp. Sasuke mulai melihat goa dan pohon-pohon besar. Tempat ini terlihat sepi. Tidak ada siapa-siapa di sana. Entah kenapa Sakura malah pergi ke tempat seperti ini. Untungnya Sasuke sudah menghafal jalan pulang ke kemah mereka.

“Sasuke, kenapa orang terdekat kita bisa mengkhianati kita?” Sakura menerawang jauh.

Sasuke hanya bisa menatap istrinya dengan tenang. Kelihatannya hal ini yang sejak tadi membuat Sakura menjadi diam. Sakura ternyata memikirkan hal ini terus. Siapa yang mengkhianati Sakura? Kenapa wanita itu tampak begitu sedih?

Tiba-tiba hujan deras turun. Mereka berdua sudah agak jauh dari tenda dan hujan ini luar biasa deras. Sakura tampak panik dan langsung berlari mencari tempat berlindung. Wanita itu tampak berbeda. Biasanya ia hanya panik jika ada guntur. Hari ini karena hujan deras saja ia langsung tampak pucat. Sebenarnya ada apa?

Sakura kemudian dengan cepat langsung berlari, tapi tubuhnya tampak menggigil. Kelihatannya ini bukan soal jaket... Ini soal yang lain. Apa trauma waktu itu muncul lagi? Cih. Jika terus begini wanita itu bisa kesakitan. Sasuke akhirnya mengejar Sakura dan menuntun istrinya menuju ke goa terdekat. Setelah sampai, Sakura langsung bersembunyi di balik batu-batu besar. Goa yang gelap itu seakan-akan menjadi tempat pelarian Sakura dari kenyataan.

“Sakura—”

Sasuke dapat melihat tubuh istrinya tampak semakin pucat. Sasuke yang panik langsung melepas baju istrinya beserta baju dalamnya. Sakura pasti kedinginan karena bajunya yang terkena hujan. Baju ini harus segera dilepas dan di keringkan. Kemudian.... hal terakhir yang mau tidak mau harus ia lakukan untuk menaikkan temperatur tubuh Sakura hanyalah: dengan tubuhnya.

“Jangan marah padaku.” Sasuke juga ikut melepas bajunya, “Hanya ini satu-satunya cara untuk menyelamatkanmu.”

Ia yang telanjang dada sekarang memeluk istrinya yang sekarang menggigil kedinginan. Saat tubuh mereka bertemu, Sasuke dapat merasakan betapa dinginnya tubuh Sakura. Rasanya seperti memeluk bongkahan es batu. Tubuh Sakura sedingin es. Bibir wanita itu bergetar karena temperatur tubuhnya yang jatuh drastis. Sasuke tahu Mt. Everest Base Camp itu dingin, apalagi saat hujan. Kemudian istrinya tidak mengenakan jaket dan Sakura juga lemah terhadap hujan.

Lama kelamaan, setelah Sasuke memeluk wanita itu dengan erat, Sakura tampak lebih tenang. Sekarang tubuh Sakura menjadi lebih hangat. Lama kelamaan tubuh Sakura menjadi lebih panas dan stabil. Sasuke kemudian bisa mendengar Sakura berbisik kepadanya.

“Aku takut.” Sakura berbisik.

Sasuke kemudian mencium kening Sakura. Ia berharap wanita itu bisa menjadi sedikit tenang jika ia melakukan itu. Kelihatannya ciuman itu bekerja. Sakura tidak tampak setakut tadi.

“Tenang saja.” Sasuke mencium kening Sakura lagi, “Kau adalah wanita yang kuat.”

Sakura kemudian membalas pelukan Sasuke. Mereka berdua hanya bisa terdiam, tapi lama kelamaan setelah Sakura mulai pulih.... Sasuke jadi memikirkan hal lain. Mereka berdua setengah telanjang di dalam goa dan hanya berdua saja. Itu artinya....

Tidak.

Sasuke. Kau sudah berhasil menahannya selama satu tahun. Tidak.

Sayangnya tubuh Sakura sangat lembut. Apalagi saat Sakura memeluknya seperti itu. Karena mereka tidak mengenakan baju, Sasuke jadi bisa merasakan kontak langsung dari tubuh Sakura yang lembut itu. Lekukan tubuh istrinya yang sempurna dapat ia rasakan dengan jelas. Gawat. Ini... lama kelamaan menjadi agak... panas.

Sasuke kemudian berusaha untuk memikirkan hal lain. Sayangnya tubuh Sakura terus menganggu pikirannya. Ia tidak ingin menyerang Sakura. Ia sama sekali tidak ingin tidur dengan Sakura sekarang. Ia tidak boleh...

Tapi—

Tidak ada tapi.

Sungguh Sasuke, kau tidak boleh melakukannya. 

Damn. 

Jangan bangun sekarang pria kecil. 

“Sasuke...”

Gawat, bisikan Sakura malah membuatnya makin bersemangat. Sekarang ia harus bagaimana? Ia seharusnya bisa menahan ini. Ia adalah laki-laki yang bertanggung jawab. Ia tidak boleh memaksakan kehendaknya. Kalau tidak kejadian di Gili akan terulang lagi.... Namun, bagaimana kalau Sakura juga menginginkan ini? Bagaimana kalau ciuman kemarin malam adalah bukti bahwa Sakura juga ingin tidur dengannya? Tunggu! Tidur dan ciuman itu berbeda! Pikiran wanita jauh lebih rumit dari pikiran pria. Sasuke harus berpikir dengan kepala yang dingin. Harus.

“Sasuke... Apa kau akan berselingkuh juga?”

“Apa?” Sasuke kemudian memandang wajah Sakura yang pucat. 

Wanita itu tampak sedih lagi. Kelihatannya wanita itu terlalu banyak berpikir. 

“Kalau aku adalah wanita lain dan aku sedang kedinginan, apakah kau akan melepas bajumu juga?” Sakura menatapnya dengan penuh kekhawatiran.

“Menurutmu?” Sasuke menaikkan satu alisnya, “Aku itu bukan orang yang baik. Jika bukan kau yang menggigil, menurutmu aku akan peduli?”

Sakura tampaknya senang dengan jawaban Sasuke. Entah ada apa dengan gadis itu hari ini. Sungguh. Sasuke benar-benar tidak mengerti jalan pikiran Sakura. Dan lagi, jangan menatapnya dengan wajah polos seperti itu. Sakura itu tidak tahu ya kalau ekspresi itu malah membuat Sasuke makin ingin menyerangnya?

“Sudahlah jangan berpikir yang aneh-aneh.” Sasuke memeluk istrinya dengan lebih erat, “Cepat sembuh. Jika hujannya reda kita akan keluar dari sini.”

“Bukannya kau yang berpikir aneh-aneh?” Sakura menunjuk celana Sasuke.

Kali ini Sasuke tersadar kalau wanita itu sudah bisa merasakan ‘itu’. Sasuke kemudian melepas pelukannya dengan cepat dan memalingkan wajahnya.

“Itu, dia bangun karena hal lain.” Sasuke masih memalingkan wajahnya, “Itu bukan karena aku ingin tidur denganmu atau semacamnya.”

“Kalau ingin tidur denganku juga tidak apa-apa sih...”

Apa? Sasuke tidak salah dengar bukan? Suara Sakura yang bergema di goa tadi itu benar-benar bukan halusinasi bukan? Setelah satu tahun menikah dengannya, wanita itu akhirnya membiarkan Sasuke tidur dengannya dengan suka rela?

“Kau ingin menghangatkanku bukan?” Sakura menatapnya dengan serius, “Jadi cepat hangatkan aku.”

Sasuke tidak pernah menyangka kalau hari itu, di tengah hujan, di dalam goa, di perbatasan Nepal... Ia dan Sakura akan saling menghangatkan diri. Tidak ada siapapun di sana selain mereka berdua dan gunung Everest yang menjadi saksi bisu mereka.


Mount Everest
Image source : national geographic

XXX

TBC
.
.
.

and yes, they did it.

XXX

A/N:

Halo! I really miss you and I really miss writing~ Aku lama update karena satu hari setelah selesai ujian, aku langsung pulang ke Indonesia. Saat pulang aku pergi catch up dengan keluarga, teman-teman lama dan rekan-rekan kerjaku. Di Instagramku jadi banyak foodporn karena aku selalu pergi makan dengan orang yang berbeda-beda. Rasanya super duper melelahkan tapi menyenangkan! 


Me @ Hide & Seek Jakarta
Image source : my instagram
Sekarang aku sudah kembali ke Sydney dan kembali kuliah + kerja. Akhirnya cerita ini kulanjutkan juga. Kali ini judul chapternya terinspirasi dari lagu musim dingin, “Baby It’s Cold Outside.” Aku merasa adegan goa itu sangat cocok dengan lagu ini. 

By the way, apakah ada yang menonton She Was Pretty? Akhirnya drama korea itu tamat. Entah kenapa aku suka sekali dengan Siwon oppa di sana >.< Aaah, sayangnya ia harus ke militer sekarang. Goodbye oppa! You will be missed!

Anyways, I hope you like this chapter! Have a nice day~



<<Previous Chapter

Next Chapter >>

31 comments:

  1. Akhirnya update juga kak ^-^ seneng banget, cepet lanjutin ya kak ! Btw sebenernya aku readers lama kakak tapi baru comment sekarang *-* pinginnya sih sekali update langsung 2 chapter gituuu ^•^ maksa banget ya kayaknya :v SEMANGAT Kak!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waa makasih yah :) Salam kenal~ Veranata-san! Hehehe I love to get to know my readers so don't be afraid to leave a comment anywhere in my social media! Hehehe makasih udah baca dan comment chapter ini! Aku pasti semangat nulis! Have a nice day yah~

      Delete
  2. Cerita ny bagus kak lanjutkan kak ayo lah kalau bisa selisih 1 minggu aja gitu kak
    wkwkwkwk lol kak klw bisa aja klw dk bisa jangan di paksakan ya kak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai there! Wah? Masa ceritanya bagus? HEhehe makasih loh !!! Aku usahain yahh update secepatnya! I hope you'll wait for me! Have a nice day!

      Delete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  4. makasih lo kak uda ngefolback Ig ku :D
    dan makasih juga uda bilang aku cantik, aishhh jadi malu *tutup muka

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama putri-san! XD Have a wonderful day ahead yah!

      Delete
  5. Ooh please update soon 😊😊😊😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. I will try to update ASAP! HEhehe Thank you for your support!! I really appreciate it!

      Delete
  6. udah gak sbr nih kak nunggu kelanjutannya ayo dong kak aku penasaran bangt nih!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe makasih yah! Aku juga udah ga sabar nulisnya hehhe I hope I have time to write as soon as possible!

      Delete
  7. Hihi makasih kak aku tunggu update selanjutnya :* :* hhh .. oiya kak IG nya apa biar aku invite hihi cerita nya keren bangettt 😂😄😄😄😄😍😘😚😙😗 spa yg ngak ska cerita kaka

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halooo~ Wah makasih udah mau nunggu update cerita ini! Oh ya, IG aku : melissa_g_m

      Selamat menikmati foodporn yah~ hahahha

      Delete
  8. Kak aku sudah follow ig kkak tolong di folback ya kak dan kapan kak lanjutkan cerita ny makin penasaran nih kak :-) =-d

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai there! Salam kenal Regina-chan :) Aku udah folback... Aku sekarang lagi mw kerjain tugas-tugas kuliahku dulu. Makasih ya Regina-chan, aku usahain secepatnya bisa nulis lagi... XD

      Delete
    2. Ok kak ak tg loh ceritanya

      Delete
  9. Lanjutin dong kak 😊,,,,ceritanya keren abiss

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih yahh :) I'll try to update as fast as I can! I hope you'll wait for me... Have a wonderful day! :)

      Delete
  10. Hhuuuaaaa lanjutin terus yaa ceritanya^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you~ I will <3 Ditunggu yah. I will update before Christmas XD

      Delete
  11. Duuuhh kapan updatenya lagi,penasaran bangetttt

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai hai, thank youuu udah penasaran~ I will update before Christmas hehehe

      Delete
  12. Koq belum update juga ya Kak *-* haduh mkin gak sabar nunggunya,btw panggil aku Vera aja ya Kak,chapter 17 !!kapan update nya ya kak gak sabar nich T_T klo update sekalian bonus chapter 18 update juga dong,bonus buat natal gitu ^^
    FIGHTING KAK!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aww Halo Vera! Aku pasti bakal update before christmas jadi ditunggu yah! Hehehe

      Delete
  13. Replies
    1. Sabar yahh~ Aku pasti update sebelum natal. Ditunggu yah :)

      Delete
  14. still waiting for new stories,
    makin banyak konfliknya, makin seru jalan ceritanya, keren !!
    have a nice day ka,,
    ditunggu yah,, :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, makasih yahh atas dukungannya hehehe. Aku bakal update sebelum natal! Ditunggu yah XD

      Delete
  15. kak,, kapan update lagi?
    udah gak sabar baca kelanjutannyaaa,, :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Before Christmas pasti akan di update! ditunggu yah :)

      Delete
  16. Kak, ayo donk.... Update lagi.... Ga sabar nieh mau baca chapter selanjutnya ^_^

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...