My First Love is My Housekeeper : Chapter 4

23:20 Melissa Gabriele 0 Comments

My First Love is My Housekeeper!

Chapter 4

Happily Never After


Disclaimer : I do not own Naruto

Hotel Swissotel The Stamford hari itu tampak sepi. Belum ada fans yang tahu bahwa artis kekinian, Uzumaki Naruto sudah mendarat di Singapore. Pria berambut pirang itu mengenakan kacamata hitam Ray-ban Aviator yang menutupi seperempat wajahnya. Ia tampak seperti turis biasa di restoran bintang tiga, JAAN. Restoran yang terletak di lantai 70 itu memiliki view Marina Bay Sands yang indah. Namun Naruto memilih restoran ini bukan karena viewnya, tapi karena privasinya. JAAN hanya memiliki 40 bangku dan jarak antar bangkunya sangat jauh. Terlebih lagi, sore itu hanya ada sepuluh orang yang makan di sana.

Mengapa Naruto memilih privasi?

Ah, pertanyaan bagus. Itu karena ada seorang wanita yang ingin ia lindungi identitasnya. Wanita itu sedang duduk bersamanya sekarang. Kulitnya yang putih porselen tampak seperti salju. Bibirnya yang merah muda tampak seperti kelopak bunga. Sedangkan lesung pipinya tampak seperti... Aish! Sejak kapan sih Naruto jadi puitis seperti ini?! Apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya?! 

Hinata's Salt & Honey Couture 2015, Naruto's Armani Suit
Image source : weddinginspirasi , saksfifthavenue
Hinata tampaknya sadar bahwa Naruto terus menatapnya wajahnya. Naruto yang panik dengan cepat langsung berhenti menatap wajah teman SDnya. Dengan sigap ia langsung melihat ke atas. Perhatiannya kali ini tertuju pada langit-langit restoran itu. Lampu kuningnya terlihat seperti bongkahan-bongkahan es yang besar.  

“Langit-langitnya bagus ya!” Naruto dengan cepat langsung mulai berbicara. 

Teman SDnya mengangguk sambil mengunyah makanannya. Wanita itu kemudian terdiam. Oh tidak. Jangan-jangan Hinata menganggap Naruto itu bodoh? Aish! Pria pintar mana sih yang memuji langit-langit?! Naruto pasti terkesan seperti OKB! Orang Kaya Baru! Orang yang tidak pernah fine dining sebelumnya! Sudah! Jangan lihat langit-langitnya lagi!

“Ia bagus sekali.” Hinata tersenyum hangat.

Eh? Ternyata Hinata menyukai langit-langit itu juga. Ternyata wanita itu tidak mengatakan apa-apa karena ia masih mengunyah makanan tadi! Ia menunggu sampai makanan itu selesai ia telan, barulah ia berbicara. Wow! Sopan sekali! Hinata ternyata tidak mau berbicara sambil mengunyah makanan. 

“Wah! Aku senang kau menyukainya!” Naruto tampak bersemangat, “Jadi bagaimana? Kau suka restoran ini? Apakah kau suka makanannya juga? Pilihanku bagus kan?”

“Amuse bouche restoran ini sangat unik,” Hinata menanggapi pertanyaan Naruto dengan sopan, “Aku sangat menyukai estetika setiap hidangannya. Sejak tadi semuanya sangat simetris dan dihias dengan detil. Sudah lama sekali aku tidak makan di restoran seperti ini....”

Simetris? Estetika? Naruto benar-benar tidak mengerti Hinata sedang berbicara apa. Yang ia tahu sekarang di atas piringnya ada sebuah hidangan yang terlihat cantik. Titik. Itu saja. Ia tidak mengerti Hinata mendapat pengetahuan kuliner semacam itu darimana....

“Hidangan berikutnya datang.” Seorang waitress membawakan sebuah piring kayu besar ke atas meja mereka berdua, “Ini adalah 55’ Rosemary Smoked Organic Egg.”

“Apa?” Naruto tampak bingung.


55' Rosemary Organic Egg
Image source : camemberu
Artis kekinian itu dapat melihat telur yang masih ada di dalam cangkangnya. Anehnya telur itu tampak setengah matang. Asap-asap putih keluar dari bawah telur-telurnya. Rasanya seperti melihat sebuah pertunjukan sulap saja. Wuiih... Keren juga. Ternyata degustation menu seharga $298 ini mahal karena kokinya menyulap telur mentah menjadi telur ajaib!


Pelayan itu kemudian mengambil salah satu cangkang telurnya dan menuangkan isi telur itu ke atas hidangan lainnya. Telur setengah matang itu kemudian jatuh dengan lembut dan elegan. Yup. Naruto merasa sangat OKB sekarang. Ini hanya telur Naruto! Hanya telur! Kenapa ia merasa begitu terkesima melihat telur?! Ia benar-benar seperti OKB.


Saat pelayan itu pergi, Hinata memandang hidangan itu dengan seksama. Wanita itu kemudian mengangguk. Kelihatannya ia mengerti cara membuatnya.

“Kau pasti mengerti cara membuatnya ya Hinata!” Naruto berdecak kagum, “Kau kan hebat sekali! Seperti koki kelas dewa— Eh, maksudku dewi!”

“Eh?” Hinata tampak malu-malu, “Tidak juga... tapi kurasa ini adalah telur yang direbus dalam 63° C dalam um.. 55 menit mungkin? Kemudian disimpan kembali ke dalam kulit telur mereka.”

“Betul sekali Hinata.” Suara seorang wanita yang tidak Naruto kenal tiba-tiba muncul dari belakang. “Sudah lama kita tidak bertemu... Kau masih saja cekatan seperti biasanya.”

“Se-sensei?!” Hinata tampak kaget.

Mikoto's Lanvin's Fall 2015 Collection
Image source : net-a-porter

Saat Naruto menoleh ke belakang, ia dapat melihat wanita cantik yang tampak elegan dengan gaun yang sopan. Wanita itu memiliki rambut hitam legam yang rapih dan tatapan mata yang lembut. Kelihatannya wanita itu adalah guru Hinata.

“Ke-kenapa sensei ada di sini?” Hinata dengan cepat langsung meninggalkan tempat duduknya dan membungkuk untuk menyapa gurunya.

“Kepala chef restoran ini teman lamaku. Aku hanya mampir untuk menyapanya!” Jawab wanita itu, “Oh ya. Aku sangat tidak sopan pada pacarmu Hinata! Namaku Mikoto... dan kau...?”

“Wah, aku bukan pacar Hinata-ttebayo!” Naruto langsung menyanggah Mikoto.

“Bukan pacar? Oh, kalau begitu kau sedang mengejar Hinata bukan?” Wanita itu tersenyum hangat.

Naruto menggelengkan kepalanya, “Mana mungkin aku bisa mendapatkan gadis sehebat Hinata! Mustahil-ttebayo!”

“Ah! Jadi kau terjebak dalam lingkaran maut friendzone!” Mikoto tertawa kecil.

“Se-sensei!” Wajah Hinata tampak merah merona.

“Wah! Ia juga ya!” Naruto malah ikut memanas-manaskan suasana, ia suka melihat wajah Hinata yang merah merona, “Hinata kau jahat sekali... Kau memang pemberi... pemberi harapan palsu.”

“Eh?!” Hinata tampak panik.

“Kau PHP Hinata!” Naruto menahan tawanya, “Kita nonton berdua dan makan malam... tetap tidak jadian. Ini nasib yang mengenaskan! Hinata kau tega sekali!”

“Wah, Hinata ternyata pandai menarik ulur!” Mikoto tertawa kecil. 

“Ti-tidak! Sensei jangan salah paham!” Hinata tampak seperti hamster kecil yang panik karena tidak ada biji bunga matahari.

“Aku sudah tidak kuat di friendzone-in kamu terus... Bunuh aku saja Hinata!” Naruto mulai mendramatisir, “Bunuh dan buang aku ke rawa-rawa Hinata! Aku rela!” 

“Naruto-kun!” Hinata tampak sangat malu, lucu sekali!

“Na— Naruto? Namamu Naruto?” Mikoto tampak terkejut.

“Eh, maaf aku lupa mengenalkan diri!” Naruto membuka kacamata hitamnya dan tersenyum hangat, “Namaku Uzumaki Naruto! Salam kenal Mikoto-san!”

Mikoto tampak terkejut mendengar nama Naruto. Namun reaksinya tidak seperti orang yang melihat artis. Mikoto seperti baru saja melihat orang yang tidak ingin ia temui. Raut wajahnya kemudian berubah dari kaget menjadi penuh rasa bersalah. Ia kemudian tersenyum tipis. Senyuman itu tampak pahit.

“Ah, jadi kau putra angkat Kushina?” Suara Mikoto bergetar ketika menyebut nama Kushina.

“Eh? Mikoto-san kenal ibuku?” Naruto tampak terkejut.

“Kami...” Mikoto tampak ragu, “Kami sempat bersahabat.”

“Wah! Kalau begitu aku akan memberitahu ibu!” Naruto tampak bersemangat, “Ibu pasti senang kalau bertemu teman lamanya lagi! Ia sekarang ada di Jakarta! Namun besok ia akan terbang ke Singapura untuk bertemu denganku!”

“Tidak perlu!” Mikoto tampak panik, “Aku harus pergi sekarang. Permisi.”

“Sensei, apakah kita akan bertemu lagi?” Hinata tampak kecewa melihat gurunya pergi.

“Tentu saja,” Mikoto tersenyum hangat, “Sampai bertemu lagi Hinata, Naruto-kun.”

Dengan itu, Mikoto pergi meninggalkan mereka berdua. Naruto tidak begitu mengerti kenapa Mikoto tampak begitu tergesa-gesa. Jangan-jangan Mikoto tidak suka kepada ibu angkat Naruto? Saat mendengar nama lengkap Naruto, guru Hinata itu tampak begitu terkejut. Sebenarnya ada apa di antara mereka berdua? 

“Naruto-kun... Apa kau baik-baik saja?” Hinata tampak khawatir melihat ekspresi Naruto.

“Hinata.... Apa menurutmu Mikoto-san benci pada ibuku?” 

Gadis yang lemah lembut itu menanggapi Naruto dengan senyuman hangat. Wajahnya yang khawatir berubah menjadi tenang dan dewasa.

“Tenang saja, sensei tidak mungkin membenci orang. Sensei adalah orang yang baik,” Hinata menjawabnya dengan percaya diri.

“Syukurlah! Aku pikir ibuku dibenci orang! Ibuku kan baik sekali.... ia benar-benar berhati mulia!” Naruto langsung menghela napas lega.

“Kau sangat menyayangi ibumu ya?” 

Saat mendengar pertanyaan Hinata, Naruto langsung tersenyum hangat. Memang sih, ia dan Kushina tidak ada hubungan darah. Namun ia diasuh oleh Kushina sejak lulus SD. Ia sudah menganggap Kushina seperti ibunya sendiri. Jika tidak ada Kushina, Naruto tidak mungkin menjadi Naruto yang sekarang.

“Aku sangat menyayanginya.” Naruto menikmati hidangan di piringnya sambil bercerita. “Kau tahu bukan kalau dulu aku yatim piatu? Saat kita lulus SD, aku pikir tidak mungkin ada yang mau mengadopsiku. Eh, tiba-tiba ibu datang ke panti asuhan.”

Main course
Image source : melicacy

Hidangan demi hidangan datang. Sepanjang itu, Naruto terus bercerita tentang ibunya. Ia menceritakan masa lalunya. Bagaimana ia bertemu dengan ibunya dan bagaimana Kushina menginginkan seorang anak laki-laki. 

“Sebenarnya... Aku dan ibu jarang bertemu. Ia sibuk sekali,” Naruto melanjutkan ceritanya, “Ia juga tidak pernah menjawab teleponku. Ia lebih suka berbicara secara langsung.”

Kadang Naruto berpikir.... Apa jangan-jangan, ibunya tidak menganggapnya sebagai anak? Naruto memang menganggap Kushina seperti ibunya sendiri, tapi bagi Kushina mungkin Naruto hanya anak adopsi yang bodoh dan tidak pandai berbisnis.

“Tapi aku senang sekali! Baru-baru ini ibuku menjawab telponku!” Naruto tersenyum hangat, “Ia bahkan bilang bahwa ia ingin bertemu denganku!”

Hinata kemudian ikut tersenyum, “Itu bagus sekali Naruto-kun.”

“Sejujurnya aku bingung dengan drama-drama Jepang!” Naruto menggelengkan kepalanya, “Kenapa sih biasanya pria-pria kaya selalu bertengkar dengan ibunya? Saat ibunya menjodohkannya dengan wanita baik-baik, mereka malah menentang ibunya dan memilih wanita yang mereka cintai!”

“Naruto-kun tidak setuju?” Hinata tampak penasaran dengan jawaban Naruto.

“Tentu saja tidak setuju!” Naruto dengan semangat menyanggah Hinata, “Kau sudah bersama dengan ibumu seumur hidupmu! Kau malah memilih gadis yang baru kau temui satu bulan yang lalu! Itu namanya anak durhaka!”

Hinata kemudian tertawa pelan. Ia tampaknya terkejut dengan jawaban Naruto, tapi wanita itu tampak senang juga mendengar jawabannya.

“Ya kan? Orang tua itu nomor satu! Keluarga itu nomor satu!” Naruto tampak sangat bersemangat.

“Ya,” Hinata tersenyum hangat, “Aku juga setuju jika Naruto-kun dijodohkan dengan wanita yang pantas. Pertunangan bisnis biasanya mendatangkan keuntungan untuk kedua belah pihak.”

Loh? Hinata... Itu artinya gadis ini tidak apa-apa kalau Naruto menikah dengan wanita lain? Entah kenapa Naruto merasa kecewa. Tidak. Tidak hanya kecewa, tapi Naruto merasa kesal. Rasanya ia ingin mendengar kata-kata lain keluar dari mulut gadis itu... Ia ingin Hinata cemburu. Ia ingin wanita itu melarangnya untuk dijodohkan. Ia... ia menyukai Hinata. 

XXX

TWG @ Singapore Bay Sands
Image source : singaporeactually
Ah. Singapura. Lagi-lagi, Kushina harus mendarat di tempat ini. Marina Bay Sands tidak berubah, tetap saja penuh dengan kaca dan kolam air yang menghiasi sekeliling mall. Yang berubah hanyalah beberapa toko-toko butik dan restoran baru.  Yah, berubah atau tidak berubah, Kushina tidak terlalu mempedulikannya. Ia lebih mempedulikan kondisi putra angkatnya, Uzumaki Naruto. Untung saja ia belum membeli tiket ke Jepang, ternyata Naruto ada di Singapore sekarang. Baguslah, jarak antara Jakarta dan Singapore hanya 1 jam. Kushina tidak perlu repot-repot duduk di pesawat dan memesan tiket first-class. 

Wanita karir itu memilih untuk bertemu putranya di tempat minum teh favorit Naruto, TWG Tea Salon. Tempatnya dipercantik dengan perabotan klasik Victorian. Lantai marmer hitamnya memberikan kesan mewah. Tehnya yang disimpan di teko-teko emas sangat terkenal di kalangan sosialita. TWG terkenal sebagai teh haute-couture, tapi sejujurnya Kushina tidak begitu menikmati teh TWG. Saat ia SMA dulu, Namikaze Minato, memperkenalkannya kepada teh alami. Dahulu mereka suka pergi mendaki ke gunung-gunung Jepang dan menikmati teh pegunungan yang alami. Ya sudahlah, ia tidak ingin mengingat-ingat lagi soal cinta pertamanya lagi. Karena saat ia SMA dulu ia hanya orang miskin dan Minato anak orang kaya, mereka tidak bisa bersama. Ia membenci Minato. Orang itu sudah kaya sejak kecil, sedangkan Kushina harus membangun perusahaannya dari nol sendirian. Apalagi... pria itu pernah—

“Ibu!” Naruto memanggilnya dari kejauhan, “Ibu, kau tampak cantik sekali-ttebayo!”

Kushina's Burberry Prorsum Fall/Winter 2015
Source : net-a-porter

Kushina dapat melihat Naruto melambaikan tangannya. Anak angkatnya itu tampak lebih... cerah. Lebih bahagia. Entah darimana anaknya mendapatkan semangat hidup sebanyak itu. Energi positif Naruto benar-benar menghangatkan TWG Tea Salon yang dingin dan kaku.

“Kau tampak bersemangat sekali Naruto.” Kushina menghela napasnya, “Kau itu mendapatkan energi seperti itu darimana sih?”   

Naruto dengan cepat duduk di samping ibunya. Ia kemudian tersenyum lebar. 
“Hari ini kan hari yang spesial! Kita jarang sekali bertemu-ttebayo!”

Ah. Kalau dipikir-pikir benar juga. Naruto sudah lama tidak bertemu dengan ibunya. Kushina memperhatikan gerak-gerik anaknya. Ia merasa terakhir kali ia bertemu dengan Naruto, anak itu tidak sebahagia ini. Sebenarnya ada apa dengan— Oh ya. Kushina tahu kenapa. Pasti karena wanita yang ada di majalah itu. Wanita yang Naruto simpan di rumahnya. Sebenarnya siapa wanita itu? Kenapa seorang wanita biasa berhasil membuat putranya menjadi energik dan ceria seperti ini?

“Naruto, soal wanita di tabloi—”

Sebelum Kushina dapat menyelesaikan pertanyaannya, Naruto dengan cepat langsung memotong pembicaraan.

“Aku ingin pesan Silver Moon Tea, ibu ingin pesan teh lagi atau tidak?”

Kushina hanya menggelengkan kepalanya. Ia benar-benar ingin menyelesaikan permasalahan ini. Alasan ia ingin bertemu dengan Naruto bukan untuk minum teh, tapi untuk membicarakan soal wanita misterius yang ia baca di tabloid.

“Aku tidak ingin apa-apa, Naruto, aku hanya ingin bertanya soal wanita di tabloid. Apa benar kau menyembunyikan wanita di apartemenmu?”

Reaksi anaknya sangat mengejutkan. Bukannya menyanggah Kushina, atau menjawab pertanyaan ibunya... Naruto malah balik bertanya.

“Ibu... Kau pernah di friendzone tidak?”

“Apa?” Kushina tidak percaya akan apa yang di dengarnya.

“Ah jangan membuatku mengulangnya-ttebayo!” Naruto tampak salah tingkah, “Ibu pernah di friendzone tidak?”

Kushina tidak tahu harus menjawab apa. Ia tidak begitu berpengalaman soal cinta. Lagipula anak bodoh ini kerasukan apa sih? Tiba-tiba saja bertanya soal friendzone. Di jaman Kushina dulu tidak ada sebutan semacam ini. Dasar anak-anak kekinian.

“Jangan mengalihkan pembicaraan, jawab pertanyaanku dulu,” Kushina langsung menanggapi Naruto dengan profesional, “Siapa wanita di tabloid yang digosipkan denganmu?”

“Itu rahasia,” Naruto menjawabnya dengan cepat, “Identitas wanita itu top secret.”

“Kau ingin menyembunyikannya dari ibumu sendiri?” Kushina langsung menaikkan nada bicaranya, “Berani juga kau sekarang.”

“Ibu, maafkan aku, tapi ini rahasia.” Naruto tampak memelas, “Sungguh! Ini benar-benar top secret!”

Kushina tidak puas dengan jawaban anaknya. Jika wanita simpanan itu hanya mendatangkan krisis finansial bagi Keluarga Uzumaki, Kushina harus melenyapkannya. Perusahaan Properti Uzumaki ia bangun dari nol. Ia tidak ingin perusahaan ini berhenti berkembang. Ia harus mengalahkan Perusahaan milik Minato. Harus.

“Kalau kau tidak ingin memberitahuku, aku yang akan mencaritahunya sendiri-ttebane!” Kushina dengan kesal langsung bangkit berdiri.

“Ibu jangan pergi!” Naruto ikut berdiri.

“Jadi kau akan memberitahu identitasnya?” Kushina menaikkan satu alisnya.

“Aku sudah bilang tidak bisa-ttebayo!” Naruto setengah merengek.

“Naruto... Kau benar-benar luar biasa sekarang,” Kushina kali ini mengambil tas Hermes Birkin abu-abu dari atas mejanya.

Kushina's Hermes Birkin
Image source : farfetch's instagram
“I-ibu! Kau tidak akan memukulku dengan tas itu kan?” putranya sudah bersiap-siap untuk dipukul, tapi Kushina hanya menghela napasnya.

“Berapa harga wanita itu semalam?” Ibunya menaikkan tas Birkinnya, “Apa kau sudah membelikan wanita itu tas ini juga?”

“Ibu! Dia itu bukan wanita malam!” Naruto dengan kesal langsung menyangkal pernyataan ibunya.

“Naruto. Dengar baik-baik.” Ibunya menatap mata Naruto tajam-tajam, “Cepat atau lambat identitas wanita itu akan terungkap. Entah olehku ataupun oleh media.”

“Tunggu, ibu! HMG itu apa?” 

Kushina menatap jam tangan Rolex emasnya. Ia sudah menghabiskan banyak waktu, “Aku harus pergi sekarang.”

Dengan itu Kushina meninggalkan TWG Tea Salon dengan elegan. Naruto pikir ibunya tidak bisa mencari tahu soal identitas wanita itu? Heh. Naruto kelihatannya sudah meremehkan kemampuan Kushina. 

Eh. Tunggu. Kushina hampir lupa.

Sial, padahal ia sudah keluar dengan sangat elegan. Sekarang ia harus kembali lagi dan berbicara dengan Naruto. Kenapa ia jadi pikun sih? Masa ia tidak hanya harus botox wajah, tapi harus botox otak juga?

“Oh ya aku hampir lupa,” Kushina akhirnya berbalik badan lagi, “Kau akan dijodohkan dengan putri tunggal Keluarga Haruno. Ibu sudah berbicara dengan keluarganya dan mereka setuju.” 

“Hah?” Anaknya tampak bingung, “Maksud ibu aku dijodohkan dengan Sakura-chan?”

“Ah, kalian juga sering bekerja bersama kan? Baguslah, jadi tidak repot.” Ibunya akhirnya berjalan pergi, “Sudah. Aku harus pergi sekarang aku sibuk.”

“Terima kasih ibu!” Naruto langsung berteriak dari kejauhan, “Kau pasti lelah mencarikan jodoh untukku. Terima kasih.”

Terima kasih? Jadi anak itu tidak apa-apa dijodohkan dengan orang yang tidak ia cintai? Heeh... Ternyata Uzumaki Naruto itu memang tidak serius ya dengan wanita di tabloid itu? Entah kenapa Kushina merasa agak kasihan dengan gadis malam itu, tapi mau diapakan lagi. Kushina harus menjalankan tugasnya sebagai pendiri Perusahaan Uzumaki. 

XXX

Theatre on the Bay
Image source : explorer-singapore
Esplanade theatre on the Bay, tampak seperti dome yang bersinar di dekat laut. Uzumaki Naruto baru pertama kali menonton opera di Singapore. Kali ini ia menonton pertunjukkan The Magic Flute yang awalnya ia pikir Oreo ajaib. Ia seharusnya menikmati pertunjukan opera ini, atau paling tidak tidur di tengah pertunjukan seperti biasanya. Sayangnya Uzumaki Naruto tidak bisa berkonsentrasi.

Ia dijodohkan dengan Sakura. Dijodohkan. Ia pikir ini hanya terjadi di sinetron dan drama korea saja. Ia bahkan sempat menjelek-jelekkan karakter prianya karena menentang keputusan ibunya. Kali ini Naruto dihadapkan dengan kejadian yang sama. Sebagai anak yang tidak durhaka, tentunya Naruto harusnya berterimakasih bukan?

Lagipula Sakura kan cantik, tidak apa-apa. Ia juga pernah menyukai Sakura. Wanita itu kan populer di kalangan para pria. Rasanya bisa mendapatkan artis cantik seperti Sakura itu mirip dengan menang lotere. Pasti ada jutaan pria yang ingin bertukar posisi dengan Naruto sekarang. 

Anehnya, Naruto sama sekali tidak senang. Entah kenapa ia tidak bisa membayangkan dirinya bertemu dan tinggal bersama Sakura setiap hari. Ia memang menyukai wajah Sakura yang cantik, tapi setiap hari bersama Sakura? Entah kenapa ia malah ingin terus bersama Hinata setiap hari. Ia ingin terus melihat wajah lembut Hinata, mencicipi masakannya yang enak, dan mendengarkan nasihatnya yang bijak setiap hari.

“Kenapa ibu harus menjodohkanku dengan Sakura-chan?” Naruto tidak sengaja mengutarakan kata hatinya.

Hinata's Valentino Spring 2015, Naruto's Armani Suit
Image source : styleshook , saksfifthavenue

Hinata tampaknya mendengar kata-kata Naruto. Sial! Sekarang ia harus bagaimana?! Ah! Singkirkan pikiran itu dari otakmu Naruto! Ibu adalah yang terbaik! Ibu tahu yang terbaik untukmu! Kau harus menghormati pilihan ibu! Walau kau menyukai Hinata, wanita itu tidak mungkin suka padamu! Sudah, jangan dipikirkan lagi! Dengarkan lagu opera saja! Suara sopran ibu-ibu gendut yang bernyanyi di panggung terdengar ceria, seperti musim semi! Nah! Ini baru bagus! Naruto kan jadi tidak memikirkan konflik batinnya lagi! 

Der Hölle Rache kocht in meinem Herzen
Herzen,
Tod und Verzweiflung flammet um mich her!

Queen of The Night Aria
Image source : dianeduane
“Hinata lagu ini bagus sekali! Artinya apa?” Naruto dengan cepat langsung bertanya kepada sahabat SDnya.

“Kalau diartikan secara langsung, artinya ‘napsu balas dendam membakar seperti neraka di hatiku’ begitu,” Hinata menjawabnya dengan lembut.

Eh? Jangan-jangan Hinata cemburu ya dengan Sakura? Atau jangan-jangan itu memang arti lagu opera itu?! Aduh, Naruto tidak tahu yang mana! Bahasa Jerman Naruto tidak begitu bagus.... Eh, tapi wajah Hinata tampak lembut dan tenang. Sama sekali tidak cemburu kok. Wajah itu benar-benar memalingkan dunianya. Seharusnya ia fokus mendengarkan opera, tapi ia malah lebih fokus melihat wajah Hinata. Pelacur darimana? Hinata adalah wanita berkelas yang tidak mungkin Naruto dapatkan.

Suara seriosa opera yang elegan menjadi background music yang bagus. Entah artinya balas dendam atau api neraka membara. Naruto tidak peduli. Namun musik ini membuat suasananya perlahan menjadi lebih romantis.

Ia ingin lebih dekat dengan Hinata. Ia ingin hanyut dalam opera ini. Satu hari saja. Malam ini saja. Naruto ingin melupakan semuanya. Ia hanya ingin bersama dengan Hinata dan menikmati waktu berduaan bersamanya. Walau sebagai teman saja. Walau sebagai pembantu dan majikan saja. Ia tidak ingin memikirkan hal lain. Bisa berduaan dengan Hinata saja sudah cukup untuknya.

Ia benar-benar merasa cukup. Sungguh.

“Tamino terlihat sangat mencintai Pamina ya?” Hinata memandang panggung opera itu sambil mengagumi pemeran utamanya.

Naruto tidak ingin tahu siapa itu Tamino dan siapa itu Pamina. Entah kenapa ia tidak bisa melepaskan pandangannya dari Hinata. Wanita itu benar-benar membuatnya menjadi anak kecil lagi. Tidak berpikir logis. Tidak mempedulikan apa-apa. Naruto telah berubah menjadi anak-anak lagi. Saat ia masih SD. Menatap Hyuuga Hinata dari kejauhan.

“Apa kau pernah jatuh cinta sebelumnya?” Naruto menatap wajah Hinata. Menunggu jawaban dari wanita yang elegan itu.

Hinata hanya terdiam. Wanita itu kemudian menggelengkan kepalanya. Dengan lembut ia kemudian menatap artis tampan itu, “Tapi aku pernah dicium sebelumnya.”

Apa?! Tidak. Kenapa Hinata pernah dicium?! Naruto ingin menjadi orang yang pertama kali mencium Hinata.... Sial. Siapa pria itu?!

“Bagaimana rasanya berciuman dengannya?” Naruto mendekatkan wajahnya ke arah Hinata. 

Wajahnya pasti terlihat seperti pria yang cemburu sekarang.

“Cepat dan dingin.” Hinata tersenyum pahit.

Hinata.... Ciuman itu harusnya hangat dan lembut. Naruto benar-benar ingin memberikan Hinata sebuah ciuman yang sesungguhnya. Memberikan apa yang pantas didapatkan oleh wanita yang luar biasa ini.

“Jadi kau hanya trauma jika dipegang tangannya saja?” Naruto tambah mendekat lagi, “Kau tidak apa-apa jika dicium?”

Wanita yang elegan itu mengangguk dengan pelan. Ia masih saja tersenyum dengan sopan. Naruto tidak mengerti kenapa Hinata tidak menjauh. Wajah wanita itu sangat dekat dengan wajahnya. Bibir mereka berdua hampir bertemu. 

“Hinata... Ciuman itu seharusnya tidak cepat dan dingin,” Naruto semakin mendekat lagi.

“Eh?” Wanita itu tampak bingung. Wajahnya yang polos membuat Naruto semakin tidak bisa lari dari situasi ini.

“Ciuman itu seharusnya seperti ini.”

Dengan lembut Naruto menyentuh bibir Hinata yang lembut. Bibir itu dingin, tapi Naruto dengan perlahan membuatnya menjadi hangat. Naruto terus memanjakkan bibir itu. Ia dapat merasakan manisnya madu dari bibir wanita itu. Rasanya seperti mimpi. Perasaan ini terlalu luar biasa. Ia tidak bisa berhenti mencium wanita itu di tempat opera ini. Di tengah kegelapan. 

Orang-orang yang sedang menonton opera tidak dapat melihat mereka berdua. Hanya ada Naruto dan Hinata saja dengan iringan biola klasik dan suara seriosa yang romantis. Momen ini ingin ia ingat selamanya. Entah kenapa bagi Naruto, ciuman ini jauh lebih romantis dari ciuman yang sering ia peragakan di film-film. Biasanya Naruto mencium wanita di depan kamera, ciuman kali ini berbeda. Ciuman hari ini penuh dengan privasi... dan perasaan.

“Naruto-kun, apa yang—” Wajah Hinata tampak bingung, “Kau sudah bertunangan bukan?” 

Ya itu benar. Ia seharusnya mendengarkan keputusan ibunya. Ia tidak ingin menjadi anak durhaka, tapi... tapi... ciuman itu. Apakah ia bisa melupakan ciuman seperti itu? Ciuman yang tulus dan lembut itu— Ciuman yang membuktikkan bahwa ia akhirnya lepas dari lingkaran maut friendzone.

Sial. Naruto awalnya tidak mengerti kenapa pria-pria di drama-drama romantis menentang ibunya. Sekarang ia mengerti. Perasaan memang sulit untuk dikendalikan. Ya. Sekarang giliran Naruto. Ia akan menjadi pria-pria di drama itu! Ia akan menjadi pria yang berjuang untuk cintanya! Ia akan melawan ibunya dan mendapatkan gadis idamannya! Ia akan menjadi anak durhaka!

“Hinata.... aku ingin makan masakanmu setiap hari, melihat wajahmu setiap hari dan menciummu seperti itu setiap hari... Aku rela menentang ibuku. Aku akan memintanya untuk membatalkan pernikahanku dengan Sakura-chan.”

Naruto mencium wanita itu sekali lagi, kemudian ia tersenyum hangat menatap Hinata. Wanita yang lemah lembut itu tampak kaget. Mungkin kaget karena terlalu senang! Ya, pasti Hinata senang dicium oleh Naruto. Wanita itu juga menyukainya bukan? Pasti begitu! Kalau tidak Hinata seharusnya sudah menampar Naruto karena menciumnya! Buktinya wanita itu masih terdiam saja.

“Hinata... setelah kau tinggal di rumahku, aku perlahan jadi menyukaimu,” Naruto menatap Hinata dengan serius, “Awalnya aku pikir kau begitu sempurna, kau tidak mungkin suka padaku, tapi aku senang sekali ketika kita berciuman. Kau juga suka padaku bukan?”

Wanita itu hanya bisa menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Hinata tidak merespon apa-apa. Ia hanya diam seribu kata. Ini pasti saatnya bukan? Saat dimana sang gadis tersenyum dan ikut berjuang untuk mempertahankan cinta terlarang ini! Hinata adalah heroine dari cerita ini. Ia pasti akan melawan sang ibu-ibu kaya dengan penuh semangat dan memperjuangkan cinta sucinya!

“Naruto-kun....” Hinata akhirnya membuka mulutnya, “Bagaimana kalau aku tidak menginginkan itu?”

Eh? Apa maksud Hinata? Naruto pasti salah dengar bukan? Tidak menginginkan apa? Maksud Hinata apa?

“Naruto-kun aku bukanlah seorang wanita yang sempurna,” Hinata menatap Naruto dengan serius.

Ah! Ternyata Hinata hanya merasa kalau dirinya tidak pantas untuk Naruto? Ya ampun! Naruto sering mendengar ini di drama-drama yang ia bintangi! Ia tahu jawaban apa yang tepat untuk menanggapi ini!

“Bagiku kau sempurna sayang!” 

Yap! Itu jawabannya bukan? Naruto itu ahli loh dalam menghafal dialog adegan percintaan! Karena biasanya setelah adegan ini, sang artis akan mencium Naruto dan berkata ‘aku sayang padamu’. Hinata juga akan melukan itu bukan?

“Naruto-kun, kau masih belum mengerti ya?” Wajah Hinata berubah menjadi lebih serius dari sebelumnya, “Kau tidak menyukaiku Naruto-kun.”

“Hinata... Aku berdebar-debar saat melihat senyummu! Itu artinya aku menyukaimu bukan?” Naruto membalasnya lagi.

Hinata kemudian menerawang jauh, “Kita baru saja kenal dalam waktu yang singkat. Kau memiliki ilusi bahwa aku adalah wanita yang elegan dan sempurna. Dewasa dan jauh dari jangkauanmu. Kau tahu kenapa?”

Naruto hanya bisa terdiam. Setiap perkataan yang Hinata katakan benar.

“Itu karena kau tidak tahu apa-apa tentang diriku,” Hinata melanjutkan, “Kau merasa aku sempurna karena kau tidak tahu apapun tentang aku. Yang kau lihat sekarang adalah ilusi.”

Respon seperti ini benar-benar tidak pernah Naruto bayangkan sebelumnya. Memangnya ini pernah terjadi di drama-drama ya? Heroine di drama-drama yang sering Naruto bintangi tidak pernah mengatakan hal ini. Gawat. Sekarang Naruto harus merespon apa?

“Tapi waktu SD—”

“Naruto-kun, maafkan aku jika aku sudah tidak sopan.” Hinata membungkuk untuk menunjukkan rasa hormat, “Namun aku saat SD bukanlah aku yang sekarang. Kalau kau masih keras kepala mengatakan bahwa kau mencintaiku mungkin aku harus mengingatkanmu sekali lagi. Kita baru bertemu sedangkan kau sudah mengenal ibumu sejak kecil. Hormatilah keputusan ibumu.”

Sial. Sekarang kata-kata Naruto malah diulang oleh Hinata? Rasanya tajam sekali. Bunuh Naruto sekarang. Bawa saja ke rawa-rawa.

XXX

Mandarin Oriental, Singapore
Image source : mandarinoriental

Hal ini terjadi lagi. Lagi-lagi Sasuke bangun di kamar hotel dengan seorang wanita di sampingnya. Siklus ini selalu terjadi. Ia tidak suka berpacaran dan ia tidak suka komitmen. Cinta sejati itu tidak ada dan pernikahan tidak pernah berakhir bahagia. Lihat saja ayah dan ibunya. Mereka berdua bercerai saat Sasuke masih SMA. Sekarang ayahnya sudah punya pacar yang jauh lebih muda dan ia tidak tahu ibunya ada dimana sekarang.

Uchiha Sasuke akhirnya bangun dari tempat tidurnya dan membuka tirainya. Sinar matahari menyinari kamarnya. Pemandangan Marina Bay Sands, Singapura menyilaukan mata. Ternyata tidak hanya mata Sasuke saja yang silau, wanita yang sedang tertidur di tempat tidurnya juga ikut terbangun.

“Kyaa!”

Suara teriakan wanita itu membuat telinga Sasuke hampir tuli. Kelihatannya wanita itu mabuk tadi malam. Ia pasti bingung kenapa ia ada di ranjang dan hanya mengenakan baju dalam saja.

“Sial!! Sial!! Sial!! Kali ini aku tidur dengan siapa?!” Wanita itu berteriak kesal, “Kau... Kau stalker tampan yang waktu itu!”

Ah. Ya. Sasuke hampir lupa. Wanita yang sedang terbaring di atas ranjangnya adalah artis yang bernama Haruno Sakura. Heh. Jadi wanita itu menganggap dirinya tampan?

“Eh! Maksudku bukan stalker tampan!” Sakura langsung tampak panik, “Sasuke— Kau Uchiha Sasuke bukan?”

“Tadi malam sangat menyenangkan.” Sasuke memakai jas dan mengambil tasnya, “Semoga kita tidak bertemu lagi.”

Wanita itu tampak tidak senang. Ia dengan kesal langsung berteriak, “Kau gila ya?! Tadi malam kau memakai kondom tidak?!”

“Ah.” Sasuke terdiam sejenak, “Tidak ingat dan aku tidak peduli.”

“Berikan handphonemu!” Sakura berteriak lagi.

“Hah? Untuk apa?”

“Kau pikir aku bodoh?!” Sakura berteriak lagi, “Kau baru saja tidur bersama artis ternama sepertiku, kau pasti menyimpan foto-foto seksiku!”

Sasuke dengan kesal melempar telepon selulernya ke tangan Sakura, “Kau juga. Mana teleponmu?”

Wanita itu tampak kaget, “Untuk apa aku memberikan telponku?”

“Kau baru saja menyebutku tampan.” Sasuke menghela napasnya, “Kau juga pasti menyimpan foto telanjangku bukan?”

Sakura tampak kesal dengan kata-kata Sasuke kemudian wanita itu langsung melempar teleponnya. Telepon genggam itu langsung mendarat di wajah Sasuke. 

“Dasar pria mesum, kau yang menyimpan foto telanjangku bukan?!” Sakura menjawabnya dengan penuh emosi.

Sakura's iPhone 6s
Image source : imore.com

Mereka berdua saling mengecek galeri foto mereka. Sasuke tidak melihat ada foto-foto aneh di handphone Sakura. 

Tunggu.

Ada SMS masuk. 

‘Sakura, kau dijodohkan dengan putra tunggal Perusahaan Uzumaki. Namanya Uzumaki Naruto. Ia juga sedang ada di Singapura. Cepat atur waktu kalian bertemu. Jangan membuat ibu malu.’

Heh. Naruto dijodohkan dengan wanita ini? Menarik juga.

XXX

<<Previous Chapter

Next Chapter>>

0 comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...