Marrying Uchiha Sasuke - Chapter 21

15:10 Melissa Gabriele 11 Comments

Marrying Uchiha Sasuke

Chapter 21

Jam dan Waktu

Sydney Opera House
Image source : remotetraveler.com

Disclaimer : I do not own Naruto

Uchiha Itachi dapat merasakan keringat dingin turun di pelipisnya. Sydney Opera House malam itu tidak dingin dan juga tidak panas. Namun, ruangan opera yang besar ini berhasil membuat Itachi panas dingin. Struktur kayu dan emasnya yang kompleks berpadu dengan sempurna. Begitu sempurna sampai-sampai Mozart’s Requiem Lacrimosa yang dimainkan oleh Konan terdengar semakin kompleks. Hari ini ekspresi wajah wanita itu terlihat lebih misterius dan dingin.



Mozart menulis lagu ini sebagai lagu kematiannya sendiri. Requiem adalah komposisi terakhir Mozart yang tidak selesai karena ia meninggal sebelum lagu ini berakhir. Menurut Itachi, komposisi ini adalah salah satu komposisi klasik yang terdengar menakutkan. Tidak hanya karena sejarahnya, tapi juga karena nada-nadanya yang dingin dan menyayat-nyayat. 



“Itachi.”



Suara Kisame membuat Itachi semakin tidak tenang. Entah kenapa berada di dekat pria itu selalu membuatnya semakin khawatir. Itachi sudah tidak ingin bekerja sama dengan Kisame lagi. Kasus Menma sudah cukup untuk Itachi. Ia belajar dari kesalahannya. Walaupun ia ingin mengejar harta dan kekuasaan, tapi ambisinya tidak sebesar Kisame... Itachi tidak ingin menghalalkan segala cara hanya untuk kekuasaan. Ia sudah sangat menyesali apa yang terjadi pada Menma... Ia tidak ingin ada pihak lain yang terluka.

Kisame's Tom Ford Suit, Konan's Zuhair Murad Fall 2016 Couture, Itachi's YSL Suit
Image source: mrporter , vogue.com , mrporter.com



“Itachi, kau masih menyukai Konan bukan?”



Suara Kisame terdengar jelas di telinganya. Suara itu berpadu sempurna dengan suara orkestra Mozart’s Requeim. Kemudian suara soporano paduan suara menggema dengan serentak. Seakan-akan Itachi sedang berada di dimensi dunia yang berbeda. 



“Hubunganku dan Konan sudah berakhir. Aku tidak mengharapkan apa-apa.”



Kali ini Kisame tersenyum lagi. Kelicikan tidak luput dari wajahnya, “Kalau kau tidak suka Konan kenapa kau masih ada di sini? Ini sudah kesekian kalinya kau pergi ke konser Konan.”



Berusaha untuk menghindari tatapan mata yang tajam itu, Itachi akhirnya kembali melihat Konan yang ada di panggung.



Konan.



Wanita itu begitu anggun dan elegan. Jemari-jemari kecilnya memainkan flute dengan gemulai, layaknya putri raja yang sedang melukiskan kewibawaannya di atas kanvas. Jujur saja, Itachi tidak mengerti kenapa Konan yang lemah lembut dan elegan pernah berpacaran dengan Kisame. 



“Kau pasti merasa Konan tidak pantas untukku, tidak pantas untuk ayah Sakura... Jadi kau merasa kau lebih pantas untuknya bukankah begitu?”



Itachi tampak kaget, Kisame mungkin bisa membaca pikiran orang lain. Namun perkataan Kisame benar. Ia memang lebih baik dari Kisame, ia memang lebih baik dari banyak orang.



“Itachi, harga dirimu terlalu tinggi. Kau menghancurkan Perusahaan Konan karena takut wanita itu lebih sukses darimu. Lalu, ketika Konan didapatkan lelaki lain, kau malah tidak terima.”



“Tidak usah menerka-menerka sifatku.” Itachi mulai merasa tidak nyaman.



“Harga dirimu merusak orang-orang terdekatmu.” Itachi tersenyum licik, “Entah apa yang akan kau lakukan ketika adikmu yang akan dipilih menjadi penerus Keluarga Uchiha.”



“Aku akan menjadi Penerus Keluarga Uchiha,” Itachi menjawab dengan percaya diri, “Jadi kau tidak perlu berkhayal yang tidak-tidak.”



“Kau tahu tidak ada yang mustahil bukan?” Kisame melanjutkan, “Walau Sasuke tidak punya penerus dan proyeknya tidak sebanyak kau... Tapi kita tidak pernah tahu apa yang bisa adikmu lakukan.”



Mata-mata Sasuke untuk mengamati gerak-gerik Fugaku mungkin hebat, tapi mata-mata Itachi lebih hebat. Ia punya ibunya untuk mengawasi gerak-gerik ayahnya. Mikoto ada di pihak Itachi. Belakangan ini ibunya tidak berbicara banyak soal ayahnya. Jika ibunya tidak berbicara banyak, itu artinya tidak ada masalah. 


Kali ini lagunya berakhir. Lagu terakhir dari konser malam ini benar-benar memberi kesan yang berat di hati Itachi. Saat semua orang bertepuk tangan, Itachi ikut bertepuk tangan dengan kaku. Bahkan tangan Itachi pun terasa dingin seperti es.


Para penonton perlahan keluar dari concert hall, begitu juga dengan Itachi dan Kisame. Kedua pria itu segera pergi menuju ke restoran michelin yang berada di dalam gedung Sydney Opera House. Mereka bertiga sudah berjanji untuk menikmati post-theatre dining bersama di Bennelong.  

Bennelong Restaurant
Image source : sydneyoperahouse.com


Saat mereka masuk ke dalam restoran itu, Itachi terdiam sejenak. Bukan karena view pelabuhan Sydney dan bintang-bintang yang terlihat jelas dari kaca. Bukan juga karena fitur meja polimer-kuningan yang indah. Memang benar, perpaduan granit-baja dan cahaya keemasan restoran itu terlihat indah. Namun, Itachi terdiam karena hal lain.

Itachi's Hermes Apple Watch
Image Source : maguirephoto.com



Itachi menatap Apple Watch Hermes Blue Jean yang sejak tadi ia silent. Ia mendapat pesan dari ibunya.



“Ayahmu sakit di Paris. Kelihatannya ia akan segera mewariskan Perusahaan Uchiha. Ibu punya firasat warisan itu akan jatuh kepadamu.’



“Kisame, aku tidak bisa ikut makan malam.” Itachi menepuk pundak Kisame.



“Ada apa?”



“Urusan pribadi.”



Kali ini suara tawa Kisame membuat keringat dingin turun dari pelipis Itachi, “Apakah ini soal ayahmu?”



“Darimana kau tahu soal hal ini?”



“Aku membaca pesanmu di Apple Watch tadi. Fugaku sakit, tapi...”



“Tapi?”



“Kenapa kau tersenyum Itachi?”



Tersenyum? 



Ya. 



Itachi sedang tersenyum puas. Seharusnya ia merasa khawatir untuk kesehatan ayahnya. Namun ia justru tidak sabar untuk pergi ke Paris, untuk mengklaim haknya. Posisi yang seharusnya ia miliki. Kemenangan yang ia nantikan. Ia bekerja keras demi ini bahkan memalsukan identitas Menma demi ini... Perjuangannya selama ini berhasil. Ia tahu Sasuke belum punya anak, ia tahu ia memiliki lebih banyak proyek sukses. Itachi sudah menang. Itachi sudah menang telak. Waktu telah berbicara dan ini adalah waktu dimana ia mengambil segalanya.



“Aku tahu selama ini kau merasa aku jahat dan tidak berhak bersama dengan Konan. Namun, Itachi, kau harusnya bercermin sekali lagi. Siapa yang sebenarnya lebih jahat?”



Ia melihat wajah Kisame lagi.



“Siapa yang sebenarnya lebih jahat?”



Suara itu membuat Itachi merinding seketika.



XXX



Hôpital Européen Georges-Pompidou
Image source : hopital-georgespompidou.aphp.fr
Kabar gembira datang di Hôpital Européen Georges-Pompidou pagi itu. Uchiha Fugaku yang sempat dirawat inap di suite Ritz Paris, akhirnya menjalani tes-tes kesehatan di rumah sakit. Dokter menyatakan bahwa kesehatan Fugaku semakin baik.



Ya. Semakin baik.



Bukan semakin parah.



Padahal pria itu terkena stroke, tapi mujizat benar-benar nyata. Stroke Fugaku tidak mengancam nyawanya. Meskipun Sakura sudah lama lulus kuliah kedokteran, ia pernah mempelajari sedikit soal penyakit stroke. Penyakit ini terjadi ketika aliran darah ke otak terputus atau pecah akibat penyumbatan dari pembuluh darah. Kematian sebagian sel-sel di dalam otak membuat pasien dapat menjadi lumpuh atau susah bergerak. Jika pembuluh darah yang pecah atau tersumbat berkaitan dengan organ vital bagi kelangsungan hidup seseorang, orang itu bisa meninggal. Jika tidak vital, orang itu akan tetap hidup, tapi kelumpuhan bisa saja terjadi secara temporer.



Fugaku sungguh beruntung. Pembuluh darahnya tidak ada yang pecah, hanya tersumbat saja. Sumbatan itu juga bukan bagian vital. Hanya kaki dan tangan kanannya saja yang susah untuk digerakkan. Dengan terapi, obat-obatan dan makanan yang sehat Fugaku akan baik-baik saja. Meskipun hasil MRI sudah keluar dan nyawa Fugaku terbukti aman Sasuke masih saja terlihat tidak tenang. 

Sakura's Solace London Suit, Sasuke's Massimo Alba Top
Image Source : net-a-porter.com , mrporter.com



Tangan Sasuke begitu dingin, layaknya mengenggam bongkahan es batu. Terkadang tangan itu sedikit gemetar, seakan-akan dunia sebentar lagi kiamat. Sakura yakin bahwa suaminya sedang khawatir bukan main, tapi pria itu masih saja berusaha agar terlihat tenang. 



“Tenang saja Sasuke.” Sakura menatap wajah suaminya dengan lembut, “Bukankah dokter sudah berkata bahwa ayahmu akan baik-baik saja? Dengan terapi, ayahmu akan segera berjalan seperti biasa lagi.”



“Hn.”



Kali ini suara pintu yang terbuka bergema di lorong rumah sakit.


Mikoto's Luisa Beccaria Dress
Image source: modaoperandi.com
Mikoto yang elegan, pucat dan kaku keluar dari ruangan itu. Wanita yang seperti ratu musim dingin itu tampak serius. Rahangnya yang tajam dan tatapannya yang menusuk seakan-akan membuat semua orang yang memandangnya terdiam seperti batu. Layaknya medusa yang menawan dan berbahaya.



“Sasuke, ayahmu ingin berbicara denganmu.” Suara Mikoto pun terdengar tajam, “Kau juga Sakura.”



Kali ini Sasuke mengenggam tangan Sakura lebih erat. Mereka berdua berjalan masuk ke dalam ruangan dimana Fugaku berada. Aroma bunga Lilly menyambut Sakura, dilanjutkan dengan tatapan Fugaku yang lemas tapi tetap terlihat kuat. 



“Kalian tahu kenapa aku memanggil kalian ke sini?”



Meskipun Fugaku terbaring di rumah sakit, tapi pria itu masih memiliki karisma dan wibawa yang luar biasa. Nada bicaranya tetap penuh dengan kepercayaan diri, tapi tidak menjajah seperti Mikoto. Tatapan matanya tajam seperti Itachi, tapi masih memiliki kelembutan. Uchiha Fugaku, jika pria itu berbicara pasti ada hal yang sungguh penting yang ingin ia sampaikan.



“Aku hanya ingin mengatakan ini sebelum terlambat.” Fugaku menatap Sakura dan Sasuke dengan semakin dalam, “Seorang pemimpin yang benar adalah pemimpin yang tahu akan kelemahannya.”



Kali ini Sakura terdiam. Apakah ini artinya Fugaku ingin mengakui suatu kesalahan? Padahal ia begitu sukses. Apa sebenarnya kesalahan pria itu?



“Sasuke, Sakura, dengarkan aku.” Fugaku melanjutkan, “Aku pandai membangun hubungan bisnis, tapi aku gagal membangun hubungan keluargaku sendiri.”



Kali ini Sakura merasa iba terhadap Fugaku. Jika dipikir-pikir lagi, Mikoto tampak tidak peduli pada suaminya sendiri. Itachi masih ada di Sydney sekarang dan Sasuke juga tadinya tidak tahu apa-apa soal Fugaku. Keluarga Uchiha jarang berkumpul bersama di luar pertemuan bisnis— Jikalau mereka bertemu pun hanya berbicara soal proyek-proyek baru yang akan mereka selesaikan.



“Keluarga sebenarnya adalah hal yang sangat penting.” Fugaku tersenyum pahit, “Namun keluarga kita tidak punya kehangatan.”



“Aku tidak setuju.” Sasuke tampak serius.



Kali ini Fugaku terdengar agak terkejut, “Kenapa kau tidak setuju?” 



“Setiap keluarga punya kehangatan.” Sasuke melanjutkan, “Hanya tersembunyi saja. Aku belajar bahwa kita harus mencari kehangatan itu terus setiap kali.”



“Dimana kau mempelajari itu?” Tanya Fugaku.



“Pernikahanku.”


Dalam sekejap pipi Sakura terasa hangat. Satu kata itu berhasil membuatnya tersentuh. Ternyata Sasuke mempelajari hal ini dari pernikahan mereka berdua. Jika dipikir-pikir, Sakura juga merasa begitu. Menikah bukan berarti semuanya berakhir, happy ending selamanya. Justru Sakura dan Sasuke selalu berusaha untuk saling mengerti, bersabar dan mencari kehangatan keluarga mereka bersama. 


“Sasuke. Aku merasa lega, sebelum aku meninggal aku sempat berkata bahwa aku bangga padamu.” Fugaku tersenyum hangat.



“Jangan berkata begitu.” Sasuke melanjutkan, “Dokter berkata kau baik-baik saja. Nyawamu tidak terancam.”



“Ya, itu benar.” Fugaku terbatuk-batuk, “Namun kita tetap tidak tahu kapan kita akan dipanggil pergi dari dunia ini.”



“Fugaku-san, apakah kau tidak apa-apa?” Sakura tampak khawatir.



“Aku tidak apa-apa.” Fugaku tersenyum.



“Benarkah?” Sakura tampak lega.



“Ya.” Fugaku tampak tenang, “Sakura, Sasuke. Aku ingin meminta tolong, ada sebuah kotak di yang kusembunyikan di Bordeaux, di kebun anggur yang pertama kali kubeli.”



Kali ini wajah Sasuke terlihat kaget, “Bordeaux? Kotak? Maksudmu...”



“Sasuke apakah kau ingat? Di dalam kebun anggur Bordeaux kita ada villa besar. Di sana ada lukisan Menara Eiffel bukan? Di balik lukisan itu ada brankas dengan kode 1306.”



“Ayah... kau ingin aku membawa kotak itu ke sini?”



“Ya.” Fugaku tampak serius, “Aku akan segera pensiun dan aku ingin memberikan kotak itu beserta isinya untuk penerus Perusahaan Uchiha.” 



“Maksud ayah….”



“Sasuke. Aku ingin kau yang meneruskan Perusahaan Uchiha.”



XXX



Bordeaux Vineyard
Image source : djsdestinations.com

Uchiha Sasuke menatap perkebunan anggur yang pertama kali dibeli oleh ayahnya. Vineyard di pinggiran Kota Bordeaux itu terlihat begitu sejuk dan penuh dengan memori lama. Sebenarnya tempat ini adalah tempat terakhir dimana Sasuke, Itachi, Mikoto dan ayahnya berlibur keluarga. Saat itu Sasuke masih tujuh tahun, Perusahaan Uchiha belum sebesar sekarang... Ayahnya masih sempat berlibur bersama-sama dengan mereka.
Sasuke's Giorgio Armani Top
Image Source : pixabay.commrporter.com
Sasuke ingat, ia dan Itachi dulu bermain petak umpet di sela-sela pohon anggur dan berlari-lari di dalam villa. Kemudian, ayahnya selalu kebingungan mencari Sasuke dan Itachi untuk mengajak mereka makan malam. Setelah sudah ditemukan oleh ayah mereka, Mikoto pasti akan mengambil rotan dan memukul kedua putranya karena berkeliaran di kebun anggur sampai malam hari. 



Kali ini Sasuke tertawa. Entah apakah pengurus kebun anggur di sini masih menyimpan rotan menyeramkan ibunya.

“Ada apa Sasuke?” Suara istrinya membuat ia berhenti melamun.

Sakura's Ralph & Russo Couture Dress
Image source : zsazsabellagio.blogspot.com.au
“Hanya bernostalgia sebentar saja.”



Kali ini Sasuke mengetuk pintu villa tiga kali. Saat pintu itu terbuka, wajah pengurus kebun anggur yang sangat Sasuke kenal terlihat.

“Ibu Kurenai dan Paman Asuma, apa kabar?”



Wajah Ibu Kurenai terlihat sedikit berkeriput. Rambutnya masih hitam legam dan parasnya masih segar. Namun, Sasuke dapat melihat Ibu Kurenai semakin berumur. Paman Asuma justru terlihat lebih tua lagi. Kulitnya yang kecoklatan kontras dengan Kurenai yang putih pucat. Mungkin karena hasil bekerja di kebun anggur seharian, tapi Sasuke bisa melihat pria itu tampak lebih berusia. 

Kurenai & Asuma's Apron
Image source:pinterest.com

“Uchiha kecil bukan?” Asuma langsung menyambut mereka masuk, “Aku sudah mendengar dari Fugaku-sama. Apakah kau ingin mengambil kotak itu?”



Seperti biasa, Asuma selalu memanggilnya dengan sebutan Uchiha kecil. Walaupun Asuma bekerja untuk ayahnya, tapi mereka sempat dekat dulu. Asuma sering bermain dengan Sasuke dan Itachi di kebun anggur.



“Ya.” Sasuke mengangguk, “Oh ya, perkenalkan ini istriku, Sakura.”



“Yuhi Kurenai.” Ibu Kurenai membungkuk dan tersenyum ramah.



“Paman Asuma, walau bukan paman kandung, tapi Uchiha kecil sudah biasa memanggilku paman.” 



Sasuke dapat melihat istrinya membungkuk juga. Setelah formalitas kecil itu, Asuma kembali memimpin mereka ke ruang baca. Tempat di mana lukisan menara Eiffel itu berada. Ya, ruang baca dimana kotak misterius itu disimpan. Namun, Sasuke malah lebih memikirkan hal lain. Ia tidak bisa berkonsentrasi pada kotak itu, karena bau rokok dari tubuh Asuma.



“Paman Asuma apakah kau masih sering merokok?” Tanya Sasuke.



Sebenarnya Sasuke sudah tahu jawaban dari pertanyaannya. Sama dengan Fugaku, mereka berdua suka merokok. Sasuke tidak asing dengan bau yang menusuk dan tajam itu.



“Ya, bisa dibilang begitu.” 



“Dokter bilang salah satu penyebab stroke ayah adalah rokok,” Sasuke melanjutkan, “Ini hanya saran, tapi mungkin lebih baik paman mengurangi pemakaian rokok.”



Kali ini Asuma justru tertawa lepas. Sasuke tahu Asuma bekerja sebagai bawahan ayahnya, tapi pria itu memang sangat santai. Ia tidak segan-segan untuk bercanda dan mencairkan es.



“Uchiha kecil sudah dewasa sekarang.” Paman Asuma menepuk pundak Sasuke, “Dulu kau masih ngompol di celana dan bertindak seenaknya... tapi sekarang kau sudah peduli orang-orang sekitarmu!”



“Ngompol di celana?” Sakura kali ini tertawa lepas.



“Iya, padahal waktu itu dia sudah tujuh tahun.” Paman Asuma melanjutkan, “Ya kan Uchiha kecil?”



“Sudah. Sudah. Sudah.” Sasuke langsung berjalan lebih cepat, “Tidak usah di bahas lagi.”



Memalukan sekali. Ia jadi tidak terlihat keren di depan istrinya sendiri. Mungkin lebih baik memang ia mengambil kotak itu dan langsung terbang ke Paris. Entah apa lagi yang akan diceritakan Paman Asuma tentang masa kecilnya.



Sasuke menatap istrinya dengan agak gugup. Menerka-nerka apa yang sedang dipikirkan Sakura. Seorang lelaki berumur tujuh tahun masih ngompol di celana. Image Sasuke harus di taruh di mana sekarang? Sudah tidak pintar bernyanyi, suka ngompol di celana lagi. Jujur saja, Sasuke ingin kabur sekarang. Lebih cepat lebih baik.



Library
Image source : pinterest.com
“Ah. Kita sudah sampai di ruang baca,” Asuma tersenyum dan membuka pintu, “Kalian masuk berdua saja. Ini perintah dari Fugaku. Hanya kau dan Sakura-sama saja yang tahu kode brankas itu.”



Sasuke mengangguk, ia dan Sakura masuk ke dalam ruangan itu dengan perlahan. Akhirnya saat ini tiba juga. Saat dimana ia menjadi penerus Perusahaan Uchiha. Rasanya Sasuke merasa seperti sedang mengambil barang pusaka yang sangat ia tunggu-tunggu.



Namun entah kenapa perasaan di hatinya tidak seperti yang ia kira. Dulu, ia pikir ia akan merasa luar biasa bahagia. Ini yang sebenarnya ia mau bukan? Ayahnya pensiun, tapi tetap hidup sehat. Kemudian ia meneruskan perusahaan keluarganya dan membuat ayahnya bangga. 



Di tengah tumpukan buku dan laci-laci kayu mahoni, Sasuke melihat sebuah lukisan menara Eiffel kecil yang indah. Lukisan itu begitu mungil dan terlihat biasa, tapi dibaliknya ada pusaka yang berharga. 

Sasuke menghela napas panjang, kemudian ia menggeser lukisan itu. Seperti kata ayahnya, di balik lukisan itu ada brankas. Dengan teliti, Sasuke memutar nomor 1306.
Louis Vuitton Vintage Box
Image source : danielsantiques.com
Saat brankas itu terbuka, Sasuke dapat melihat sebuah kotak kecil.



Kotak yang sebentar lagi akan menjadi miliknya. Lucu sekali, ternyata semua usahanya selama ini dibayar dengan kotak sekecil ini. Kotak yang ukurannya sama seperti sebuah kotak kamera SLR. Entah apa isi dari kotak ini. Mungkinkah berlian? Ataukah barang antik yang mahal? 



“Sakura.” Sasuke mengambil kotak itu dan memberikannya kepada Sakura, “Maukah kau membuka kotak ini?”



“Eh?” Sakura tampak kaget, “Kenapa aku?”



“Tidak apa-apa.”



Sebenarnya Sasuke merasa tidak pantas membuka kotak itu. Ia merasa, kotak itu terlalu berat untuknya. Seakan-akan bendera kemenangan ini tidak benar-benar ia inginkan. Hatinya merasa ada yang salah ada yang kurang dan ia tidak tahu apa itu. Mungkin jika Sakura yang membuka kotak itu, Sasuke tidak akan merasa semakin pusing. 



“Sasuke.” Sakura membuka kotak itu dengan wajah yang kaget, “Ini...”



“Ada apa?” 



Sasuke yang tadinya sempat menutup matanya, akhirnya memberanikan diri untuk melihat isi kotak itu.



Patek Philippe Supercomplication
Image source : hodinkee.com
Sebuah jam tangan pocket watch kuno yang terbuat dari emas tampak begitu mempesona. Sasuke mengingat kelinci dari Alice in Wonderland membawa jam juga. Kebetulan jam yang ada di dalam kotak itu memiliki model yang sama, tapi Sasuke tahu ini bukan jam biasa.



Ayahnya menyimpan jam ini di dalam brankas karena jam ini hanya ada satu di dunia. Harganya $24,000,000 atau mungkin lebih. Sebuah karya legendaris dari Patek Phillippe yang bernama ‘Supercomplication’.



“Ini bukan jam biasa bukan?” Sakura tampak kaget, “Jam ini indah sekali.”



“Supercomplication adalah jam tangan terumit yang dibuat oleh Patek Phillipe.” Sasuke menatap jam itu dengan kagum.  



Jam itu memiliki desain paling kompleks yang berhasil dibuat tanpa bantuan komputer. Jam saku emas 18 karat ini memiliki 24 fungsi yang berbeda, termasuk kalender abadi, matahari terbit dan terbenam. Namun salah satu yang paling mempesona adalah peta rasi bintang New York yang ada di tengah-tengah jam itu. Butuh waktu tiga tahun untuk merancang jam ini dan lima tahun lagi untuk memproduksinya. 



“Jam ini terlahir karena persaingan antara banker sukses Henry Graves dan James Ward Packard, pendiri dari Packard Motor Car Company,” Sasuke menjelaskan, “Mereka berdua berlomba, siapa yang berhasil memiliki jam paling kompleks di dunia.”



“Kemudian siapa yang menang?” Tanya Sakura.



“Apakah penting siapa yang menang?” Sasuke tersenyum pahit, “Mereka mencoba untuk membeli jam terbaik, tapi mereka tidak bisa membeli waktu. Pada akhirnya keduanya meninggal dunia dan jam ini ada di tanganku.”



Sasuke terdiam dan menatap jam itu sekali lagi. Apakah yang Sasuke cari dari kemenangan? Ia dan kakaknya dulu sempat bermain bersama di kebun anggur ini, bercanda dan tertawa. Namun, mereka sekarang terus bersaing. 



Sebenarnya Sasuke sudah mendapatkan apa yang paling ia inginkan... Menjadi anak yang membuat bangga ayahnya. Menjadi penerus perusahaan besar ini hanyalah bukti bahwa ayahnya sudah bangga padanya. Ia tidak memimpikan berada di ruang rapat dan menjadi seorang pemimpin tertinggi. Ia juga tidak memimpikan harta warisan. Ia hanya ingin ayahnya bangga dan ia sudah mencapainya. Sekarang apa? 



Apa yang akan terjadi sekarang? Bagaimana perasaan kakaknya nanti saat tahu bahwa Sasuke yang menang? Malu? Sasuke tidak memikirkan itu sebelumnya. Ia hanya memikirkan dirinya sendiri... Ia tidak membayangkan perasaan seorang Uchiha Itachi. 



Seorang kakak, kalah oleh adiknya sendiri... Entah bagaimana perasaannya. Kehangatan keluarga mereka harus Sasuke cari, harus Sasuke pertahankan. Secara logika seharusnya Itachi yang menang. Ia anak sulung dan punya leadership skill yang luar biasa. Kemenangan ini tidak adil.



Lagipula...



“Sasuke?” Sakura menatap suaminya dengan bingung.



Wanita itu tampak cantik hari ini— Well, selalu lebih cantik setiap hari. Namun, hari ini Sasuke memandang istrinya dan jam klasik itu. Ia melihat betapa berharganya jam mahal itu... Namun sebuah benda mati tetaplah tidak bisa mengalahkan kecantikan seseorang yang kita sayangi.



Jika Sasuke mengambil jam ini dan menjadi penerus Perusahaan Uchiha, waktunya dengan Sakura akan semakin berkurang drastis. Kemudian siapa yang akan mendukung Sakura? Selama ini Sasuke rela membatalkan beberapa proyek besar agar bisa mendukung Sakura di tengah masalah-masalah wanita itu. Namun, sekarang Sakura membutuhkan Sasuke lebih lagi dari yang dulu.



Sekarang wanita itu sedang sulit untuk memiliki anak jika Sasuke tidak ada di sana... Siapa yang akan berada di sisi Sakura? Jika Sasuke menjadi penerus Perusahaan Uchiha, Sasuke bisa mengenakan jam paling mahal di dunia, tapi ia akan kehilangan sesuatu yang paling berharga...



Waktu.



Waktu bersama orang yang ia cintai.



Jika ia mengambil posisi itu ia akan kehilangan waktu bersama Sakura, kesempatan kedua untuk berbaikan dengan Itachi dan waktu untuk merawat ayah dan ibunya di masa tua. 



“Aku... tidak ingin menjadi penerus Perusahan Uchiha.”



“Kenapa?”



“Karena aku menemukan sesuatu yang lebih penting dari itu.”



XXX

Place de la Bourse
Image source : bordeaux-tourism.co.uk



Uchiha Sasuke dan Sakura akhirnya meninggalkan kebun anggur dan menonton teater di kota. Sakura mengenggam tangan suaminya di Place de la Bourse. Bagi Sakura, tempat ini adalah tempat terindah di Bordeaux.



Sebenarnya tempat ini berperan sebagai alun-alun kota. Namun, bangunan yang terletak di tengahnya sungguh mempesona. Sakura mengagumi bangunan elegan neoklasik abad ke-18 ini. Menurutnya, La Place de la Bourse adalah tempat yang mengingatkannya akan istana-istana di dalam cerita dongeng. Ada air mancur besar di tengah-tengah istana, kemudian ada taman kecil di sekitarnya.



Meskipun tempat ini indah, tapi mereka sudah menghabiskan waktu yang cukup lama di tempat ini. Memang sih, Sakura senang bisa berbicara banyak dengan Sasuke di tempat yang indah. Namun, mungkin sekarang sudah waktunya mereka pergi ke tempat yang lain.



“Sasuke.” Sakura menatap wajah suaminya, “Tempat ini indah, tapi kita lama sekali diam di sini. Kau tidak ingin menjelajahi tempat lain?”



“Bersabarlah,” Sasuke melanjutkan, “Sebentar lagi kau akan melihatnya.”



“Melihat apa?”



Place de la Bourse itu mulai menghasilkan kabut. Sekarang Sakura mengerti kenapa ia harus menunggu. Keindahan tempat ini terlihat begitu mistikal karena gumpalan kabut yang menghiasi mereka. Rasanya benar-benar seperti berada di negeri dongeng. Ada istana, air mancur dan kabut sihir. 

Kabut
Image source : bordeaux.fr
“Le Miroir D’eau.” Sasuke melanjutkan, “Ini tempat yang sangat kukagumi.”



“Indah sekali.... Aku tidak menyangka hal ini akan terjadi.” Sakura tersenyum, “Tempat ini sama sepertimu, sulit diterka.”



“Jangan diterka.” Sasuke mencubit pipi istrinya, “Lebih baik tanya saja.”



“Kenapa kau memberikan posisi itu pada kakakmu?”



“Bukankah sudah kujawab tadi?” Sasuke menaikan alisnya, “Aku sudah menemukan hal yang lebih penting dari itu.”



“Ah. Iya juga ya.” Sakura mengangguk, “Tapi aku ingin jawaban yang lebih detail. Apa yang lebih penting dari posisi itu?”

Sakura's Ralph & Russo 2016 A/W Couture, Sasuke's Polo Ralph Lauren
Image Source: trendprivemagazine.com , mrporter.com
“Keluargaku, waktuku bersama mereka... dan keluarga baru yang akan kubangun denganmu.” Sasuke menjawab dengan perlahan, “Apakah masih kurang detail?”



Kali ini Sakura merasakan perasaan hangat yang ada di hatinya. Sasuke merelakan jabatan penting agar memiliki waktu lebih dengan keluarga. Itu adalah sebuah pengorbanan yang luar biasa. Bagaimana dengan diri Sakura? Ia tidak terlalu sibuk menjadi dokter operasi plastik karena pasien-pasiennya hanya operasi kecil saja. Sebenarnya Sakura punya banyak waktu... tapi terkadang ia justru tidak memanfaatkan waktu itu dengan baik.



“Meski kita memiliki waktu... kuantitas tetap saja tidak bisa mengalahkan kualitas.” Wanita bermarga Uchiha itu menggenggam tangan Sasuke dengan lebih erat.



“Apa maksudmu?”



“Begini contohnya. Aku punya waktu banyak dengan ibuku, tapi terkadang aku terlalu sibuk menatap ponselku.” Sakura menjelaskan.



“Oh...” Sasuke mengangguk.



“Aku harap aku bisa menghabiskan waktu yang berharga ini dengan lebih berkualitas,” Sakura tersenyum.



“Apakah kau sedang melakukannya sekarang?”



“Aku harap begitu.”



“Bagus kalau begitu.” Sasuke mengusap kepala Sakura dengan hangat.



“Aku harap aku juga bisa menerapkannya untuk ibu dan ayahku. Terutama ayahku, aku masih kesal dengan ia dan Konan. Oh ya, Ino juga... Kami masih belum berbicara.”



“Apakah kau tidak ingin mencoba untuk menghabiskan waktu dengan mereka?” Sasuke bertanya dengan tulus, “Mungkin belajar menyelesaikan masalahmu dan mereka dengan baik-baik.”



“Terakhir kali aku berbicara soal Konan, ayahku mengurung diri di kamar. Lalu terakhir kali aku bertemu dengan Ino, ia marah besar.” Sakura tertawa masam, “Kurasa lebih baik tidak perlu.” 



“Terakhir kali itu kapan?” Sasuke menaikan satu alisnya, “Waktu merubah banyak orang.”



Kali ini Sakura terdiam. 



“Setiap orang selalu berubah, kau juga sama,” Sasuke melanjutkan, “Saat SMA kau stalker yang aneh tapi sekarang kau telah menjadi orang yang sukses dan cantik.”



“Stalker yang aneh? Kurang ajar! Lalu kenapa kau berkata pada Hinata, kau hanya ingin menikah denganku saja? Kenapa kau tidak mencari wanita lain? Apakah sebenarnya kau sudah diam-diam menyukaiku?”



“Menyukaimu? Saat itu?” Sasuke tertawa seakan-akan itu tidak mungkin.



“Sasuke, kau membuat adegan ini berubah menjadi sangat tidak romantis,” Sakura terdengar kecewa, “Jadi sebenarnya kenapa kau menikah denganku? Apakah sejak awal kau sudah suka padaku?”



“Kau ingin jawaban yang jujur atau bohong?”



“Bohong.” Sakura 



“Karena aku mencintaimu sejak awal.”



Kali ini hati Sakura berdebar kencang luar biasa. Ia tidak pernah mendengar Sasuke berkata bahwa ia mencintai Sakura. Walaupun ia sudah bisa menerka perasaan cinta itu dari setiap hal yang Sasuke lakukan. Namun, kata-kata ini sungguh membuatnya kaget.



“Itu jawaban yang jujur atau bohong?” Suara Sakura terdengar lemas.



“Bohong.”



“Sasuke!” Kali ini Sakura memukul bahu suaminya dengan kesal.



“Katanya kau ingin jawaban yang bohong!” Sasuke mengelak.



“Sekarang aku mau yang jujur!”



“Hn...” Sasuke berjalan menjauhi istrinya.



Kemudian Sakura berjalan lebih dekat. “Jadi jawabannya apa?”



“Ada tiga alasan.”



“Apa itu?”



“Alasan pertama: karena aku ingin menebus kesalahanku,” Sasuke melanjutkan, “Alasan kedua: karena kau bukan putri perusahaan besar, kau tidak mungkin mencuri informasi dari perusahaanku untuk keuntungan perusahaanmu.”



Kenapa jawabannya logis semua? Sebenarnya Sakura tidak heran karena saat ia menikahi Sasuke ia juga tahu pria ini memang pembisnis sukses yang egois. Sekarang Sakura jadi agak kecewa karena ia menanyakan alasan Sasuke menikahinya.



“Alasan ketiga?”



“Rahasia.”



“Sasuke!” Sakura memukul pundak itu lagi, “Kenapa kau membuatku penasaran terus?”



“Kalau tidak penasaran nanti kau tidak mau menghabiskan waktu denganku lagi.”



“Sasuke jawab aku...” Sakura makin penasaran.



“Ah!”



Kali ini Sakura terjatuh tersandung. 



Kabut-kabut tadi mulai hilang dan berubah menjadi... air?



Ternyata sekarang Sakura sekarang berada di jalan yang licin. Ia seharusnya lebih berhati-hati. Namun, setelah ia sadari, air yang ada di jalanan itu semakin banyak. Tunggu— Lebih tepatnya kelihatannya tempat ini sebentar lagi akan menjadi kolam air.



“Sakura, kau baik-baik saja?” Sasuke berjalan mendekati istrinya dan mengulurkan tangannya.



“Terima kasih.” Sakura menerima uluran tangan itu.



Saat ia dibantu berdiri oleh suaminya, ia dapat merasakan kakinya semakin dingin karena genangan air itu semakin tinggi.



“Sasuke... tempat ini banjir?”



“Tenang saja.” Sasuke tampak santai, “Tempat ini memang akan menjadi kolam, tapi kolamnya dangkal, hanya 2 cm, bahkan tidak lebih dari mata kaki.”



“Tapi—”



“Sudah tidak usah khawatir...” Sasuke memberikan jaketnya untuk menutupi baju Sakura yang basah, “Kau selalu saja khawatir berlebihan.”



“Ya. Sebenarnya jika dipikir-pikir lagi, aku juga agak khawatir akan masa depan.”



Entah kenapa kata ‘khawatir’ mengingatkan Sakura akan banyak hal. Apa mungkin ini masalah wanita? Jika di lihat mungkin otak Sakura mirip dengan benang kusut sekarang. Dari satu kata ‘khawatir’ mengalir menjadi pikiran-pikiran lain. Apa yang membuat Sakura khawatir?



Sebenarnya saat ia melihat Sasuke dan pengorbanan pria itu demi keluarga, Sakura jadi khawatir. Apa jangan-jangan Itachi akan menggunakan kebaikan hati Sasuke untuk hal yang buruk? Atau mungkin Itachi akan menjadi tambah jahat dan bekerja sama dengan Kisame?



Berpikir soal Kisame dan Itachi, ia jadi ingat Konan. Entah kenapa mengingat wanita itu, ia jadi mengingat ayahnya. Sakura juga tidak begitu dekat dengan ayahnya. Ada banyak masalah. Walau tadi ia pikir ia bisa lebih dekat lagi dengan ayahnya dan mencoba menghabiskan waktu lebih banyak lagi—tapi entahlah. Bagaimana jika tidak bisa?



“Ada apa Sakura?” Sasuke menghentikkan lamunannya.



“Bagaimana jika Itachi justru memanfaatkanmu, semakin jahat—”



“Ya dijalanji saja.”



“Kenapa kau santai sekali?” 



“Kita sudah berusaha dengan apa yang bisa dilakukan sekarang,” Sasuke menjelaskan, “Setelahnya ya kita lihat saja.”



“Tapi...”



“Aku sudah merelakan posisiku agar dekat denganmu dan keluarga. Kalau memang kakakku tetap jauh dariku dan penuh kecurigaan ya sudah, kalau mau dekat ya bagus.” Sasuke melanjutkan, “Kalau terlalu berpikir jauh, berpikir soal banyak rekan bisnisku, Kisame dan lain-lain tidak akan pernah habis.”



“Iya sih... Intinya menghabiskan waktu untuk hal yang sebenarnya tidak perlu ya? Yang penting aku sudah tahu aku harus berbuat apa, contohnya nanti aku akan mencoba lebih dekat lagi dengan ayahku. Kalau ia tidak mau ya sudah begitu?”


“Ya, disederhanakan saja.” Sasuke mengangguk, “Kau sendiri yang berkata waktu itu yang penting kualitas bukan kuantitas.”


Seperti biasa. Logis sekali dan pintar menyindir.



Kali ini di tengah kolam air itu, Sasuke membisikkan sesuatu di telinga Sakura.



“Tapi yang paling penting ini.” Bisikan Sasuke terdengar lembut, “Vivre sans aimer n’est pas proprement vivre.”



Bahasa Perancis itu tidak terdengar asing di telinga Sakura. Ia mengerti apa yang Sasuke katakan padanya. Kalimat itu terdengar tulus dan hangat.



To live without loving is to not really live.



Dengan waktu yang ada sekarang seharusnya Sakura tidak terlalu berpikir soal hal-hal negatif terus. Ia tidak benar-benar hidup jika ia tidak menjalani apa yang ia miliki dan alami sekarang dengan kasih. 



Sasuke telah memutuskan untuk fokus dalam mengasihi daripada bersaing. Suaminya telah menemukan bahwa kasih itu yang benar-benar mengisi waktunya. Yang benar-benar membuatnya hidup.

Pada akhirnya, masalah akan selalu ada di dunia... tapi Sasuke memutuskan untuk lebih mencintai kasih daripada membenci kejahatan.



Sakura juga harusnya belajar dari pria itu.



Kasih yang sabar dan penuh rasa syukur itu seharusnya lebih besar dari apapun— bahkan lebih besar dari waktu.



Entah kenapa waktu terkesan lebih lama ketika Sasuke menatapnya dengan kedua mata yang tulus itu.



Seharusnya ia bersyukur telah dicintai seperti ini.


Place de la Bourse
Image source : megicaleurope.blog.hu


XXX



THE END



XXX



A/N:

Terima kasih sudah membaca cerita ini, I will see you next year for the epilogue!

Chapter ini berkesan untukku karena akhirnya MUS berakhir. Masih ada banyak konflik yang tidak terselesaikan, tapi menurutku konflik utamanya telah selesai. Sasuke dan Sakura telah menemukan apa yang benar-benar penting. Kau tidak bisa merubah orang lain, tapi kau bisa merubah cara pikirmu sendiri. Sisanya hanya waktu yang berbicara.

Akan selalu ada hal yang buruk, tapi kebaikan juga akan tetap ada. Jika kita lebih melihat kebaikan itu, kedamaian pasti datang ke hati kita.

Akhir cerita ini juga seperti kado Natal untukku, karena Natal juga mengingatkanku akan kehangatan kasih. Aku sedang belajar ukulele untuk pertama kalinya, dan entah kenapa susah banget belajar O Holy Night! Padahal itu lagu natal favoritku. Apakah ada yang tahu chords yang lebih mudah dari ini? If you do, please let me know! Hehehe.  Entah kenapa susah sekali bagiku untuk memainkan Dm, B dan G7.

C        C7        F                  C
O holy night, the stars are brightly shining;
C                      G                C
It is the night of the dear Savior's birth.
C             C7         F             C
Long lay the world in sin and error pining,
          Em                    B               Em
Till he appeared and the soul felt its worth.


[Chorus]

  G                        C
A thrill of hope, the weary soul rejoices,
    G                 C
For yonder breaks a new and glorious morn.
Am              Em
Fall on your knees,
    Dm               Am
Oh, hear the angel voices!
  C G   C F
O night divine,
  C        G            C
O night when Christ was born!
  G G7    C Dm  C           G       C
O night, O holy night, O night divine!


Thank you so much guys!

Aku merasa waktu-waktu yang aku habiskan untuk cerita ini sangatlah berharga juga, aku berterimakasih kepada kalian yang sudah membaca dan menunggu cerita ini. Kalian telah memberikan kehangatan ke dalam hatiku.

Selamat natal dan tahun baru! Semoga kalian juga bisa menikmati akhir tahun ini bersama dengan orang-orang terdekat kalian ! 

Merry Christmas and happy new year!!! 

Sampai jumpa di epilog cerita ini di tahun depan! 


11 comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...