White Taro : Review

06:21 Melissa Gabriele 0 Comments


The name White Taro really enchants me. Mostly because I love the color white and I love Taro. This new brunch place in town is located next to the famous Reuben Hills cafe. However, during the weekend the queue and waiting list is just as much as Reuben Hills!

The Front door
The front door is all white, which truly symbolizes the name White Taro. I love how simple it looks. The simplicity made the place all the more beautiful. The inside of this place is quite small, however you can see that there is a small hallway full of hanging plants. This leads to a small garden where guests can enjoy their brunch. We didn’t eat there because the place was full, but we will definitely get that spot some other time!

The garden
I ordered their famous deconstructed bhan mi. I found this little beauty on instagram and I immediately fell in love with their photogenic presentation. I especially love how they separate everything on the plate. It creates a creative approach to the traditional bahn mi.


Deconstructed Bhan Mi
The highlight of this dish is the pork belly slice! I mean, it's crispy on the outside, juicy and tender on the inside! It truly is a heavenly taste. To be honest, I was expecting a thicker slice, but that's alright. The taste made up for it. The visual is very pretty. The edible flowers on top of a pork belly is too beautiful to be true.

Pork Belly

Since I know this portion is not enough for me, I also ordered their french fries. Nothing could ever go wrong with that! I love how they chose this round artistic plate. It made the french fries looks a little more fancy.

French Fries
The next dish that my friend ordered is the Salmon Scrambled. It's a classic brunch with toast, butter, salmon, eggs and asparagus. However, the classics are always the best. My friend likes to stay safe when she ordered something on the menu. The taste is pretty good and the salmon blends well with the scrambled egg. She gave the dish a thumbs up!

Salmon Scrambled
The whole dish on the table
At the end of the day, we ordered tea. The tea at White Taro is organic and served in a beautiful tea pot. That day the waiter recommended their Foraging for Berries. The tea is PINK! I mean, it doesn't get better than that. The taste is really fresh and I can truly taste the mixture of berries. Although it is not sweet, this is a herbal tea. Which is good for our health! 

Foraging for Berries Tea
Because it was raining outside, we are trapped inside of the cafe. Neither of us brought an umbrella and the owner was kind enough to give complimentary muffins as we wait. Their blueberry muffin is really sweet and soft. I especially love their chocolate muffin because the chocolate is melted inside! Well, anything free always taste better!

Complimentary muffin
Overall, I truly enjoyed my visit to White Taro. This Vietnamese fusion brunch place is small, but the food is great and the service is lovely. Since the owner worked there too, the whole crew was very warm and friendly. It looks like they truly enjoyed working there. I think this place is also a nice place to be in if you like to read or eat alone. I saw a man sitting alone and the waiter and waitresses would chat with him sometimes. Everyone here was so friendly!





0 comments:

Marrying Uchiha Sasuke : Chapter 18

06:21 Melissa Gabriele 44 Comments

Marrying Uchiha Sasuke

Chapter 18

Falling Down

Boxing ring
Image source : archdaily
Disclaimer : I do not own Naruto

Pagi itu Uchiha Sasuke berjalan menelusuri Archery Hall & Boxing Club dengan wajah yang dingin. Pusat olahraga itu penuh dengan desain kayu-kayu kontemporer. Bahkan langit-langitnya penuh dengan susunan kayu yang rapi dan geometris. Nuansa ini seharusnya memberikan kesan hangat. Sayangnya orang yang ingin ia temui di tempat itu adalah orang yang dingin. Tatapan es dari Uchiha Itachi membuat tempat ini berubah menjadi luar biasa kaku.

“Ah, Sasuke, kau sudah datang.” Itachi mengerutkan dahinya.

Dengan cepat, Sasuke masuk ke dalam ring boxing bersama dengan Itachi. Setelah pemanasan sebentar, Sasuke menghela napas panjang. Ia tidak mengerti kenapa kakak laki-lakinya memanggilnya untuk bertanding boxing. Selama ini ia selalu bersaing dalam hal bisnis dengan kakaknya. Jarang sekali Itachi memanggilnya untuk bertanding dalam hal olahraga. Pertandingan terkahir mereka adalah pertandingan Polo di Swiss tahun lalu. Entah apa yang ada di benak Uchiha Itachi.

Suasana di tempat itu hening ketika Sasuke dan Itachi melakukan pemasanan. Mereka berdua tidak berbicara apa-apa. Sebenarnya Sasuke ingin bertanya banyak hal. Terutama soal kasus Menma. 

“Sasuke.” Itachi akhirnya membuka mulutnya, “Apa kau sudah selesai pemanasan?”


Warm up
Image source : thewholegardenwillbow
Ia mengangguk dan menatap kakaknya dengan dingin. Kemudian mereka berdua langsung mengenakan boxing glove. Kali ini mereka siap bertarung di atas arena. Di mulai dengan posisi kuda-kuda, Sasuke dengan agresif langsung menyerang kakaknya. Setiap tinju yang ia berikan penuh dengan tekanan. Namun kakaknya dengan cepat selalu menghindari tinjuan Sasuke.

Tap.

Kakaknya meninjunya dari depan. Sasuke menerima tinjuan itu dengan penuh rasa sakit. Ia tidak melihat gerakan itu. Itachi yang selama ini selalu melakukan defense, tiba-tiba menyerangnya dengan cepat. Damn. Ia tidak pernah bertanding boxing dengan kakaknya sebelumnya. Ia tidak menyangka pria itu sehebat ini.

“Kau sudah dengar soal Kushina dan Naruto?” Itachi mencoba untuk memukul adiknya lagi.

“Hn.” Sasuke kali ini berhasil menghindar, “Apa maksudmu?”

“Aku tidak menyangka kalau Naruto adalah anak kandung Kushina—”

Tap!

Sasuke menerima satu pukulan lagi dari kakaknya. Ia tidak menyangka kalau kakaknya tahu soal Naruto. Terlebih lagi soal hubungan darah Naruto dengan Kushina. Tes DNA Uzumaki Naruto baru saja selesai dua hari yang lalu. Seharusnya hanya Sasuke, Naruto dan Kushina saja yang tahu soal ini. Sial. Ternyata kakaknya jauh lebih hebat dari dirinya. Entah dari mana Itachi mengambil informasi ini.

“Oh ya?” Sasuke menaikkan satu alisnya, “Dari mana kau tahu soal ini?”

“Sasuke... Kau benar-benar tidak tahu apa-apa?” Itachi melanjutkan, “Sasori sudah mengaku kalau ia berpura-pura menjadi Menma, semuanya sudah selesai.”

“Apa?”

“Kushina memaafkan Sasori...” Itachi menghindari pukulan Sasuke lagi, “After all... Sasori adalah cucu dari sahabat baik Kushina. Kau tahu bukan kalau Chiyo dan Kushina punya hubungan yang dekat?”  

Ia tidak percaya semua rencana Sasuke gagal. Entah bagaimana caranya, Sasori mengaku kalau ia operasi plastik. Sasuke bahkan tidak perlu melakukan tes DNA untuk Sasori lagi. Sasori langsung mengaku kalau ia bersalah. Ia memohon ampun begitu saja dan dimaaafkan. Cih. Kushina terlalu baik hati. Wanita itu memaafkan Sasori begitu saja. Ibu kandung Naruto itu bahkan tidak ingin ambil pusing karena ia berteman baik dengan nenek Sasori. Kalau saja nenek Sasori bukan Chiyo... Kushina tidak mungkin melepaskan kasus ini dengan mudah.

“Masalahnya selesai dengan mudah dan Kushina dipersatukan dengan anak kandungnya.” Itachi memukul Sasuke lagi, “Ini adalah hal yang bagus bukan?”

Kali ini ia mengerti kenapa Itachi tampak begitu tenang. Sasori yang mengaku bersalah membuat persoalan ini lebih cepat selesai. Itu artinya masalah ini tidak perlu diangkat ke pengadilan. Ini artinya Itachi dan Kisame tidak akan dicurigai. Entah bagaimana caranya Itachi berhasil membuat Sasori mengaku. Namun ia merasa kalau ini semua sudah direncanakan oleh Itachi. Mungkin pria busuk ini tahu DNA Naruto dan Kushina sudah selesai diproses dua hari yang lalu dan mencari jalan keluar yang cepat. Cih. Pasti mereka menyuap Sasori atau semacamnya.

Jujur, Sasuke sangat membenci kekalahan ini. Tidak hanya Sasori lepas begitu saja, Itachi dan Kisame sama sekali tidak diungkit. Percuma juga kalau Sasuke menelusuri lebih lanjut soal bukti-bukti tersisa mereka... Kushina sudah memaafkan Sasori. Itu artinya bukti itu akan menjadi sia-sia saja. Selama ini Sasuke selalu ingin menjadi lebih baik dari kakaknya. Ia berusaha untuk mengambil posisi tertinggi dan menjatuhkan Itachi. Namun kenapa Sasuke selalu saja gagal? Kenapa ia selalu saja kembali ke posisi ini?

Tap!

Kali ini Itachi memukul Sasuke sampai adiknya jatuh. Entah kenapa Sasuke merasa pukulan itu tidak sesakit yang tadi. Ia mulai terbiasa jatuh ke dalam kekalahan yang diberikan kakaknya. 

“Cukup.” Sasuke memberikan aba-aba untuk menghentikkan pertandingan boxing ini.

Kakak laki-lakinya berhenti memukul. Sasuke menatap kakaknya dengan wajah yang kesal. Biasanya Sasuke bisa mengontrol wajahnya agar tetap dingin dan tenang, tapi kali ini ia terlalu kesal. Ia tidak kesal karena pukulan fisik dari Itachi... Namun ia kesal karena kabar yang diberikan oleh Itachi. Ia lebih kesal lagi karena ia tidak mendengar apa-apa dari Naruto dan Kushina. Ia merasa seperti baru saja dikhianati oleh sahabatnya sendiri. 

“Ada apa Sasuke?” Itachi mengulurkan tangannya untuk menolong adiknya berdiri.

Dengan cepat, Sasuke menepis tangan itu. Ini mungkin agak kekanak-kanakkan, tapi ia tidak ingin ditolong oleh Itachi.

“Aku tidak apa-apa.” Sasuke bangkit berdiri, “Terima kasih.”

“Benarkah?”

Sasuke kemudian meninggalkan kakaknya sendirian di arena boxing itu. “Ya. Aku permisi dulu.”

XXX


Chanel Biege, Alain Ducasse Tokyo
Image source : alain-ducasse.com
“Kau ada di mana?”

Uchiha Sakura mendengar suara Sasuke terdengar dari telepon genggam Uzumaki Naruto. Suara suaminya terdengar lelah, kesal dan kecewa. Sakura jarang sekali mendengar Sasuke dengan suara seperti itu. Entah apa yang baru saja terjadi kepadanya.

“Ada apa Sasuke?” Naruto balik bertanya.

“Jawab saja.”

Sakura melihat area sekitarnya. Ia sedang berada di restoran michelin yang berada di atas toko Chanel. Interiornya berwarna krem dan putih. Kursi-kursinya terbuat dari tweed pastel yang mirip dengan setelan klasik Chanel. Bahkan jendela-jendela kaca besarnya memiliki pola berlian persegi quilt yang mirip dengan tas Chanel 2.55 klasik. Dari jendela itu, Sakura bisa melihat toko-toko mewah lainnya yang berjajar di Ginza seperti, Bvlgari, Tiffany & Co dan Cartier.


Chanel 2.55 Window
Image source : linneabylinneanilsson
“Aku sedang berada di restoran Biege, Alain Ducasse,” Jawab Naruto.

“Aku akan ke sana.” Sasuke kemudian menutup teleponnya.

Naruto tampak bingung dengan reaksi Sasuke. Padahal tadi Sakura dan Naruto sedang seru membicarakan hal lain, tapi karena telepon dari suaminya... Percakapan mereka jadi terganggu.

“Tadi kita berbicara sampai mana?” Sakura mengambil dessert coklatnya.


1

2
Image source : beige-tokyo.com

“Ah! Ya!” Naruto langsung kembali ceria lagi, “Sampai warna favorit Hinata! Apa warna favoritnya Sakura-chan?”

“Aku masih tidak percaya kau tidak tahu warna favorit pacarmu sendiri.” Sakura menghela napasnya, “Kalian sudah pacaran berapa lama sih?”

“Lima tahun,” Naruto menjawab Sakura, “Tapi bukan berarti aku tahu segalanya soal dia...”

“Lagi pula kenapa kau bertanya begitu banyak hal soal Hinata?” Sakura tampak bingung, “Ini juga bukan ulang tahunnya.”

“Jawab saja Sakura-chan!” Naruto melanjutkan, “Kalau warna emas dan silver... Hinata lebih suka yang mana?”

“Mungkin silver?”

“kalau disuruh memilih pantai dan restoran mewah... Hinata lebih suka yang mana?”

“Mmm... Pantai mungkin?”

“Kalau ukuran cincin Hinata berapa?”

Kali ini Sakura langsung tersedak. Ia tahu sekarang kenapa Naruto bertanya begitu banyak hal soal Hinata. Jika pria menanyakan ukuran cincin seorang gadis... hanya ada satu hal saja alasannya. Pria itu ingin melamar!

“Naruto... Kau...”

Suara Naruto tiba-tiba berubah menjadi luar biasa riang, “Bingo! Aku ingin melamar Hinata-ttebayo!”


Sakura's Carolina Herrera Spring 2016, Naruto's Banana Republic 2016
Image source : eonline.com , thebestfashionblog
Padahal Hinata yang dilamar, tapi Sakura merasa sangat senang luar biasa. Ia tidak menyangka hari ini akhirnya akan datang. Selama ini Naruto selalu menunggu sampai Keluarga Hyuuga setuju akan status ekonomi Naruto. Kelihatannya ayah dan ibu Hinata sudah setuju.

“Naruto! Selamat ya!” Sakura tersenyum hangat.

“Kau akan membantuku bukan?”

“Tentu saja!”

“Aku berencana ingin melamarnya dengan luar biasa!” Naruto melanjutkan, “Aku ingin melakukannya di luar negeri, mungkin di tepi pantai dengan banyak lilin-lilin menghiasi Hinata dan aku. Kemudian ada band yang menyanyikan lagu romantis untuk kita berdua....”

Entah kenapa Sakura merasa pusing mendengar cara Naruto melamar Hinata. Memang sih bagi banyak orang ini mungkin terdengar romantis, tapi yang dilamar itu Hinata bukan Sakura. Itu artinya ia yang harus melakukan semua preparasinya, bukan menikmati hasil akhirnya. Yang ada di benak Sakura sekarang adalah bagaimana caranya ia harus menyiapkan semua hal yang baru saja Naruto sebutkan. Contohnya lilin. Memasang lilin di tepi pantai tampak sangat merepotkan... Bagaimana kalau angin kencang datang dan semua lilinnya langsung padam? Kemudian band... Bagaimana mencari band yang bagus di luar negeri? Yang lebih parah lagi... Bagaimana kalau Hinata menolak Naruto? Well... Itu memang tidak mungkin sih. Namun tetap saja, lamaran Naruto terlalu gila. Hal semacam ini bahkan tidak terjadi di film-film romantis jaman sekarang. This is too much....

“Naruto... Itu terdengar sangat... um...” Sakura berusaha untuk terlihat tenang, “Sangat...”

“Romantis bukan?”

“Rumit Naruto...” Sakura membetulkan, “Sangat rumit.”

“Jadi kau tidak ingin membantuku?” Naruto tampak agak kecewa.

“Bukan itu sih...”


Chanel Box
Image source : beautifulblooms.com
Sebelum Sakura dapat melanjutkan pembicaraanya, Naruto langsung mengeluarkan kotak hitam besar dengan lambang Chanel di atasnya. Kotak itu dibungkus dengan pita bertuliskan Chanel dan bunga putih Camellia. Memang sih, tempat ini adalah restoran Chanel, tapi Sakura tidak menyangka Naruto akan menyuapnya dengan barang dari desainer mewah ini.

“Ayo... Buka hadiahnya Sakura-chan!”

Saat Sakura membuka kotak itu, ia dapat melihat sebuah tas pesta limited edition dari Chanel. Tas itu sering ia lihat di majalah, tapi ia dengar semuanya sudah sold out. Yang unik dari tas ini adalah bentuknya yang seperti botol susu. Mutiara putih dengan tulisan Lait de Coco menghiasi tas itu. Tulisan itu sendiri artinya adalah ‘santan kelapa’ dalam Bahasa Perancis.


Lait De Coco Chanel
Image source : chuisloveletters.com
“Waktu itu kau bilang Sasuke akhirnya ingin punya anak bukan?” Suara Naruto terdengar senang, “Kalau ingin punya anak kau harus banyak minum susu!”

Mendengar Naruto menyatakan hal itu Sakura hanya bisa tertawa. Jelas sekali kalau Naruto tidak bisa berbahasa Perancis. Santan kelapa dan susu memang mirip, tapi Sakura seharusnya minum susu khusus ibu hamil... Bukan sari kelapa. Ia benar-benar tidak mengerti lagi kenapa sahabat baiknya begitu lugu dan baik hati di saat yang sama.

“Naruto... Lait de Coco itu artinya bukan susu, tapi santan!” Sakura tertawa.

“Eh?!” Naruto tampak bingung, “Berarti aku membeli tas yang salah?”

Sakura tertawa lagi. “Tidak kok! Aku bahagia! Terima kasih ya... Tapi aku belum hamil.”

“Tenang saja! Sebentar lagi juga hamil!” Naruto tersenyum.

Mendapat hadiah sebelum hamil itu lucu sekali. Naruto memang sahabat yang baik. Kalau saja ia bisa menceritakan ini kepada Ino juga... Mungkin sahabatnya yang satu lagi itu akan senang juga mendengar kabarnya. Ino pasti sama seperti Naruto, wanita itu pasti cepat berharap Sakura hamil. 

“Aku harap begitu....” Sakura tersenyum, “Aku akan pergi ke dokter untuk mengecek semuanya besok.”

“Hmm? Untuk apa?”

“Aku hanya ingin tahu apakah tubuhku cukup sehat untuk hamil atau tidak,” Sakura melanjutkan, “Aku juga ingin tahu apakah ada diet atau program kesehatan yang harus kulakukan sebelum aku hamil.”

“Kau pasti sehat!” Naruto tampak senang, “Oh ya! Jadi kau akan membantuku melamar Hinata bukan?”

“Iya... Iya...” Sakura tersenyum.

“Walau kau harus repot mengurus band, lilin dan pergi ke Santorini?” Naruto tampak gembira.

“Santorini?!” Sakura hampir tersedak lagi, “Kau ingin melamarnya di Santorini?!”

“Di pantai Santorini...” Naruto melanjutkan, “Jadi kau dan Sasuke akan pura-pura pergi ke sana juga. Seperti double date. Kemudian kalian akan membantuku melamar Hinata!”

Sebenarnya Sakura ingin pergi ke Santorini sih... Apalagi bersama dengan Sasuke juga. Ia tidak menolak ide Naruto sama sekali. Ia hanya sedikit kaget, pria itu ternyata begitu bersemangat melamar Hinata. Mungkin penantian Naruto setelah lima tahun membuatnya menjadi seperti ini.

“Kau semangat sekali Naruto...”

“Itu karena Keluarga Hyuuga akhirnya menerimaku.” Naruto tersenyum, “Ini semua karena bantuan ibuku sih... Keluarga Hyuuga dan Namikaze ternyata lumayan dekat.”

“Oh ya... Bagaimana perasaanmu bertemu ibu kandungmu?”

“Soal itu...”

Sebelum Naruto menjawab Sakura, tiba-tiba Uchiha Sasuke sampai ke restoran. Pria itu masih mengenakan baju olahraga. Napas Sasuke yang cukup memburu membuktikkan kalau ia berlari sampai ke tempat ini. Entah apa yang begitu ingin Sasuke sampaikan kepada Naruto.

“Naruto kita harus berbicara.” Pria dingin itu tampak serius.

“Apakah ini soal Menma-ttebayo?”

“Ya.” Sasuke akhirnya duduk di sebelah Sakura, “Kenapa kau tidak membawa kasus ini ke pengadilan?”

“Sasuke... Ibuku sudah memaafkan Sasori, jadi masalahnya sudah selesai,” Naruto menjawab Sasuke dengan tenang.

“Aku seharusnya bisa memasukkan Itachi ke penjara dengan kasus ini!” Sasuke tampak tidak setuju, “Kalau pria itu berhasil kusingkirkan... Aku yang akan meneruskan Perusahaan Uchiha.”

“Sasuke... Kau tidak boleh egois,” Naruto melanjutkan, “Apa bagusnya kalau Sasori pergi ke penjara sekarang? Nenek Sasori sudah tua... sebentar lagi akan meninggal... Ia butuh banyak waktu dengan cucunya.”

“Naruto... Kau tidak mengerti apa-apa,” Sasuke menepis pernyataan Naruto, “Sasori mengambil identitasmu. Ia mengambil harta yang seharusnya milikmu—”

“Tapi ia sudah ia mengembalikan semua hartanya,” Naruto memotong pembicaraan Sasuke, “Kau tidak boleh egois hanya karena kau ingin mengambil posisi Itachi.”

Sebenarnya Sakura yang berada di pihak netral hanya bisa terdiam. Namun ia cukup mengerti ambisi Sasuke. Selama ini pria itu selalu ingin mengalahkan Itachi. Sejak di Roma, saat Sakura pertama kali melihat kakak beradik itu bertemu... Ia tahu Sasuke tidak menyukai kakaknya. Sayangnya kali ini ia setuju dengan Naruto. Sasori sudah mengaku bersalah, megembalikkan harta yang dicurinya dan Kushina sudah memaafkan Sasori. Masalah sudah selesai dan ini bukan hak Sasuke untuk mencampurinya. Ini adalah masalah Naruto, Kushina dan Sasori... Sasuke tidak berhak untuk mengatur masalah mereka.

“Sasuke...” Sakura menepuk pundak suaminya, “Sudahlah... Kau bisa mengalahkan kakakmu dengan cara yang lain.”

“Tujuanmu hidup itu tidak hanya untuk posisi dan kekuatan.” Naruto melanjutkan, “Kau punya istri yang baik hati, teman sejati dan kehidupan yang sebenarnya cukup kaya. Kau seharusnya mensyukurinya Sasuke.”

Mendengar pernyataan Naruto, suaminya akhirnya terdiam. Pria itu mulai berpikir keras. Sakura hanya bisa terdiam melihatnya. Semoga saja suaminya tidak merencanakan hal yang buruk.

XXX


Aman Tokyo Hotel
Image source : architectureau.com
Uchiha Sakura memakai gaun, hak tinggi dan cincin berlian Bvlgari pemberian Sasuke dengan elegan. Ia berjalan mengitari lobi Hotel Aman Tokyo sembari menikmati pemandangannya. Tempat itu memiliki langit-langit yang tinggi dengan lentara shoji dan kertas washi tradisional Jepang. Di sekitarnya, fitur air, taman kecil seni merangkai bunga, Ikebana dan interior kontemporer memberikan perasaan tenang. Sebenarnya ia cukup gugup datang ke hotel ini. Apalagi karena untuk pertama kalinya, Uchiha Sasuke terlambat datang ke sebuah pesta bisnis. Namun karena lobi hotel ini cukup menenangkan, Sakura menikmati proses menunggu suaminya.

Setelah berbicara dengan Naruto kemarin, Sasuke jadi agak dingin lagi. Padahal waktu di pemandian air panas... Pria itu sudah cukup hangat kepadanya. Entah apa yang ada di benak pria itu. Mungkin ini karena ia masih saja ingin mengejar ambisinya untuk mengalahkan Itachi. Pria itu jadi workaholic lagi. Sasuke sering lembur dan tetap bangun pagi. Di rumah, pria itu sering bermain saham dan menerima telepon dari investor. Sebagai istri yang baik, seharusnya Sakura mendukung suaminya. Namun ia merasa kalau suaminya butuh untuk bersenang-senang. Pria itu terlalu serius dan ambisius. Terkadang hidup itu harus dinikmati. Paling tidak itulah yang ada di benak Sakura.


Sakura's Abed Mahfouz Spring 2016, Hinata's Paolo Sebastian Spring 2016
Image Source : thefashionbrides.com , paolosebastian.com
“Sakura-san!” Hinata tampaknya terlambat juga.

Wanita itu tampak elegan dengan gaun pestanya yang berwarna putih dan penuh dengan lace. Rasanya Hinata seperti sedang datang ke pesta pernikahannya sendiri saja. Entah kenapa Sakura jadi ingin cepat-cepat ke Santorini dan melihat Naruto melamar wanita ini.

“Hinata kau terlambat juga ya?” Sakura tersenyum.

“Sasuke-kun pingsan di sebelah sana...” Hinata menunjuk area yang berada di dekat restoran.

Sakura dengan sigap langsung berlari menuju ke tempat yang ditunjuk Hinata. Ruangan di sana dekat dengan jendela. Keramik-keramik hitam mengihasi beberapa sudut ruangan itu. Kerumunan orang memenuhi tempatnya. Suasana di sana berubah menjadi tegang.


Aman Tokyo Hotel
Image Source: lingeredupon.blogspot.com 
“Permisi,” Sakura mencoba untuk masuk ke lingkaran kerumunan, “Aku dokter!”

Saat Sakura sampai di tengah-tengah kerumunan, ia dapat melihat Sasuke terkapar di atas lantai yang dingin. Tebakan Sakura hanya satu: Pria itu pasti terlalu lelah. Ia sudah terlalu sering bekerja belakangan ini.

“Sasuke!” Sakura langsung memeriksa keadaan pria itu. 

Suaminya yang tergeletak di lantai tampak pucat. Saat Sakura memeriksa nadi pria itu, ia dapat merasakan nadinya lemah dari pergelangan tangannya. Pria ini benar-benar terlalu banyak bekerja. Pagi ini, Sakura bahkan tidak tahu Sasuke sudah sarapan atau belum. Jangan-jangan, pria ini belum makan seharian....

“Sa..Sakura...?”

Sasuke mulai membuka matanya. Pria itu mulai mencoba untuk berdiri. Seperti biasa, suaminya suka memaksakan diri.

“Kau butuh istirahat.” Sakura memapah Sasuke dengan khawatir, “Bagaimana kalau kita pulang saja?”

Sakura kemudian memapah Sasuke sampai ke sofa, tapi pria itu tampaknya tidak ingin duduk atau istirahat. Suaminya tampaknya ingin langsung pergi ke pesta bisnis mereka.

“Aku tidak apa-apa.” Sasuke berdiri dari sofanya.

“Tapi—”

“Aku bilang aku tidak apa-apa.” Pria itu menatapnya dengan serius.

Kali ini Sakura hanya bisa menghela napasnya. Ia tahu Sasuke adalah orang yang keras kepala. Jika ia berteriak dan memarahi suaminya sekarang, pria itu lebih tidak mau pulang lagi. Menikah selama satu tahun bersama dengan Sasuke membuat dirinya tahu kalau ia hanya bisa mencari jalan keluar yang lain.


Ferrero Rocher
Image source : flourandfancy.com
“Baiklah,” Sakura mengambil cokelat dari tas pestanya, “Ini Ferrero Rocher. Aku tahu kau tidak suka makanan manis, tapi paling tidak ini akan mengisi perutmu.”

“Hn.” Sasuke menerima coklat itu dan melahapnya dengan cepat, “Terima kasih Sakura.”

“Apa ada investor penting di pesta ini?” Sakura menatap suaminya.

Melihat kondisi Sasuke tadi, ia hanya bisa berspekulasi begitu. Pasti ada koneksi bisnis yang harus ia temui. Paling tidak setelah selesai bertemu dengan orang itu, suaminya bisa pulang dengan tenang dan beristirahat.

“Aku ingin berbicara dengan putra tunggal Keluarga Nara,” Sasuke menjawabnya.

“Oh ya?” Sakura akhirnya sampai di ruang pesta dan mengisi buku tamu, “Aku cukup dekat dengan pacarnya.”

“Pacarnya?” Sasuke menggenggam tangan Sakura dan menuntun istrinya masuk ke dalam pesta.

“Ya. Temari, pemain tenis terkenal itu. Kami berkenalan di Swiss...” Sakura melanjutkan, “Well, Temari baru berpacaran satu bulan dengan Shikamaru. Namun mereka sudah bersahabat lama. Kalau kau butuh sesuatu... Mungkin aku bisa menanyakan Temari.”

Sasuke menatapnya dengan tatapan kagum. Mungkin pria itu merasa bangga dengan kemampuan Sakura bersosialisasi dan mencari koneksi bisnis. Entah kenapa tatapan itu membuat Sakura jadi tersipu malu. Jarang sekali suaminya menatapnya dengan tatapan kagum seperti itu.

“Aku ingin meminta bantuan Shikamaru untuk mempromosikan lapangan golf Uchiha di Dubai,” Sasuke melanjutkan, “Keluarga Nara memang bergerak di bidang olahraga dan Shikamaru kenal banyak olahragawan. Kupikir kau bisa menanyakan Temari jika wanita itu kenal pemain golf terkenal.”

“Tunggu... Bukankah proyek golf ini sebenarnya proyek yang dikerjakan kakakmu?” Sakura tampak bingung.

“Aku mengambil alih proyek ini.”

“Jadi karena ini kau bekerja sampai pingsan begitu....” Sakura mencubit pipi suaminya, “Kau harus memperhatikan kesehatanmu tahu.”

“Hn.” Sasuke mengangguk pasrah.

“Kau tenang saja, aku akan menanyakan Temari soal pemain golf profesional itu.” Sakura tersenyum hangat, “Kau makan dulu saja dan telepon aku kalau kau ingin beristirahat.”

Sakura kaget ketika suaminya mencium dahinya, “Baiklah. Sampai ketemu nanti.”

Entah kenapa Sakura merasa kaget ketika pria itu mencium dahinya. Mungkin ini karena mereka sudah menjadi lebih dekat beberapa saat ini... Tapi ia masih tidak percaya ketika ciuman kecil itu diberikan di dahinya. Rasanya benar-benar membuat sekujur tubuh Sakura jadi gemetar. Mereka ada di depan umum dan Sasuke memberikan ciuman kecil itu. Ini mungkin bodoh tapi ia berhak untuk kaget. Walau mereka sudah melakukan banyak hal di balik layar, tapi di depan semua koneksi bisnisnya... Sasuke adalah pria yang dingin dan kaku. Entah kenapa Sakura benar-benar merasa senang ketika Sasuke mencium dahinya di depan umum. Walaupun Sasuke sudah pergi dan meninggalkan Sakura... Ia masih saja mengejar bayangan pria itu. 

“Sakura?” Temari menepuk pundaknya.


Temari's Valentino A/W 2015-2016
Image source : yesfashionworldstuff.tumblr.com
Panjang umur... Sakura bahkan tidak perlu mencari Temari. Wanita itu datang sendiri. Sebenarnya Sakura ingin memulai percakapan dengan obrolan kecil dulu... Tapi Temari tampak tidak tenang. Wanita itu terlihat agak kesal.

“Temari... Ada apa?” 

“How did you deal with your mother-in-law?” Temari menghela napasnya, “Bagaimana caranya kau tahan dengan Mikoto yang dingin dan luar biasa jahat itu?”

“Aku sabar.” Sakura tertawa kecil, “Itu kuncinya.”

“Tadi aku tanpa sengaja mendengar ia bertengkar dengan Sasuke di dekat toilet,” Temari melanjutkan, “Ia terus berkata kalau ia kecewa memiliki anak seperti Sasuke.”

Jadi... Sasuke sempat berpapasan dengan ibunya? Apakah karena lelah, stress, kurang makan dan tekanan dari ibunya... Pria itu jadi pingsan?

“Aku kagum dengan kesabaran kalian berdua.” Temari melanjutkan, “Semoga saja ibu Shikamaru tidak seperti itu.”

“Ya...” Sakura melanjutkan, “Semoga saja.”

XXX


Athens
Image source : cornerstone-group.com
Uchiha Sasuke kaget ketika ia terbangun di dalam jet pesawatnya. Ia sempat bertanya kepada Sakura mengenai tempat mereka mendarat, tapi Sakura hanya tersenyum dan menjulurkan lidahnya. Ia lebih kaget lagi karena pesawat itu ternyata mendarat sampai di kota Athena. Ia memang tahu kalau Naruto ingin melamar Hinata di Santorini, tapi ia tidak tahu kalau Sakura membawanya transit di Athena terlebih dahulu.

“Apa kau kaget?” Sakura tersenyum melihat wajah suaminya.

Sasuke menatap kota Athena yang indah dan bangunan-bangunan kunonya dari jendela jet pribadinya. Athena adalah kota terbesar di Yunani dan merupakan salah satu kota tertua di dunia. Sasuke tidak memiliki konesi bisnis di Yunani, jadi ia tidak pernah pergi ke kota ini. Ia merasa kagum melihat bukit-bukit berbatu Acropolis dan kuil kuno Parthenon yang terbuat dari batu berwarna putih. Ia lebih merasa lebih kagum lagi karena istrinya yang membawanya ke tempat ini.

“Sangat.” Sasuke menangguk, “Sejak kapan kau tahu nomor pilot pribadiku? Dan lagi... Bukankah kau tidak pintar mengatur acara travelling?”

“Aku pikir kau sudah mengambil cuti, lebih baik sekalian kuberikan kejutan saja.” Sakura tersenyum, “Kau belakangan ini pasti melewati masa-masa yang berat dan butuh liburan.


Sasuke's Hugo Boss Jacket & Sakura's Balmain Jacket
Image source : nordstrom.com , net-a-porter.com
Jet itu mendarat dengan mulus di landasan bandara, kemudian Sasuke melihat sebuah helikopter sudah ada di landasan itu. 

“Aku sudah menyiapkan satu kejutan lagi!” Sakura tersenyum dan menarik tangan Sasuke.

Istrinya menuntunnya keluar dari jet dan berlari masuk menuju ke dalam helikopter. Kali ini Sasuke hanya bisa membuka mulut karena kaget. Saat masuk ke dalam helikopter, Sakura duduk di kursi pengemudi. Wanita itu mengenakan speaker dan peralatan lainnya. Ia merasa dirinya pasti sedang bermimpi. Tidak mungkin istrinya mengendarai helikopter. Sakura tidak tahu caranya mengendarai helikopter.

“Terkejut tidak?” Suara Sakura terdengar dari speaker.

“Dari tadi kau bertanya aku terkejut atau tidak... Kau ini sedang mencoba untuk membuatku sakit jantung?” Sasuke menaikkan satu alisnya.

“Hei. Aku ingin membuatmu senang dan rileks tahu!” Sakura tampak tidak senang mendengar reaksi suaminya.

“Aku sama sekali tidak rileks kalau kau yang menyetir.” Sasuke menggelengkan kepalanya.

Helicopter
Image source : jingdaily.com
“Hei, waktu di Gili kau menyetir helikopter dan terlihat keren... Jadi kupikir aku akan terlihat keren juga kalau menyetir heli.” Sakura menyetir helikopter itu dengan hati-hati.

Ah. Ya. Waktu itu hal yang sama pernah terjadi di Gili. Waktu itu Sasuke yang membawa Sakura untuk berlibur bersama. Sasuke yang merencanakan semuanya agar wanita itu kembali ceria lagi. Kali ini Sakura yang melakukan hal yang sama untuk dirinya. Wanita itu perhatian kepadanya.

Selama ini ia tumbuh di keluarga yang keras dan disiplin. Perhatian tidak ada di kamus Keluarga Uchiha. Ibunya dari dulu sampai sekarang selalu menekan Itachi dan dirinya agar menjadi yang terbaik. Tidak ada juara dua atau tiga. Selain juara satu berarti gagal. Melihat Sakura perhatian kepadanya... Ia jadi merasa sedikit tersentuh.

“Aku merasa tersentuh kau melakukan hal ini untukku,” Sasuke menghela napasnya, “Tapi kau menyetir helikopter ini dengan lambat sekali Sakura.”

“Apanya yang lambat? Ini pas dan aman!” Sakura tampak tidak setuju.

“Kalau ini mobil... Mungkin ini bisa diibaratkan gigi satu setengah,” Sasuke menyindir istrinya dengan tajam.

“Hei! Aku tidak separah itu!” Sakura menyangkal.

“Aku tidak mengerti kenapa kau bisa menyetir selambat ini. Mungkin ini bakatmu, Selamat ya.” Sasuke menghinanya sekali lagi.

“Kau ini... ingin menyindirku berapa kali?” Sakura menghela napasnya.

Sasuke akhirnya tertawa kecil melihat istrinya yang menyerah karena disindir sedikit. Entah kenapa wanita itu memang selalu saja membuatnya lebih santai. Mungkin ia memang memilih wanita yang tepat. Sakura memang orang yang tepat.

“Hei, kau lihat tidak bangunan tua yang tidak jadi itu?” ujar Sakura.


Zeus Temple
Image source : holylandphotos
Saat Sasuke melihat dari jendela ia bisa melihat reruntuhan. Jangankan bangunan... Bagi Sasuke, tempat itu hanyalah lahan kosong yang diisi oleh pilar-pilar putih yang sudah hancur dan retak.

“Sasuke... Tempat ini adalah kuil yang dibuat untuk Zeus,” Sakura melanjutkan, “Kau tahu bukan Mitos Yunani Zeus? Pria itu ingin menjadi yang terbaik. Ia membunuh ayahnya sendiri dan bertengkar dengan saudaranya agar mengambil posisi tertinggi.”

“Jadi? Kau ingin menasihatiku agar tidak menjadi seperti Zeus?” Sasuke menaikkan satu alisnya.

“Ya... Apakah aku berhasil?” Sakura tersenyum hangat.

“Hn.” Sasuke menghela napasnya, “Menurutmu?”

“Kau keras kepala, jadi kurasa tidak akan berhasil.” Sakura tertawa kecil.

“You know me well.” Sasuke menangguk.

“Wow!” Sakura tersenyum, “Lihat Sasuke bagus tidak?”

Kali ini Sasuke dapat melihat matahari terbenam di dekat reruntuhan batu itu. Warna oranye yang hangat sedikit demi sedikit tenggelam ke dasar bumi. Rasanya waktu seperti berhenti berjalan dengan lebih lambat. Sasuke kemudian melihat Sakura yang sedang tenggelam ke dalam panorama itu.



Sunset
Image source : athen.citysam.de
Wajah istrinya tampak cantik dengan pemandangan kota Athena yang indah. Entah kenapa Sasuke ingin terus berada di sisi wanita ini. Naruto benar.... Kehidupan itu tidak selalu berfokus kepada ambisi saja. Namun terkadang kita harus mensyukuri apa yang kita miliki. Sasuke seharusnya mensyukuri bahwa dirinya bisa bersama dengan Sakura sekarang.

“Lihat Sasuke! Walau tidak sesuai rencana... Ada hal indah yang terjadi!”

“Sakura...”

“Hmm?”

“Terima kasih,” Sasuke menatapnya dengan penuh perasaan.

Istrinya tampak terkejut melihat tatapan itu. Entah kenapa Sasuke memang tidak pernah menyatakan cinta atau berkata romantis. Ia tidak pandai dalam hal seperti itu. Ia lebih mudah menyindir dan mengatakan hal tajam. Namun Sakura selalu menerimanya apa adanya. Walau tidak bisa memberi kata-kata puitis, setidaknya Sasuke bisa menyatakan terima kasih dengan sepenuh hatinya.

“Kenapa kau berterimakasih?” Sakura tersenyum menatap suaminya.

Mereka berdua menatap satu sama lain di tengah sunset indah kota Athena. Sasuke menatap Sakura dengan tulus kemudian ia berkata, “Karena kau mengajarkanku untuk lebih menikmati hidup.”

Ya. Kali ini Sasuke berhasil untuk tidak memusingkan masalah dengan keluarganya. Jika berlibur bersama dengan Sakura ia selalu berhasil untuk melupakan masalah bisnisnya. Mulai dari Roma, Tibet sampai ke Yunani. Jika mereka bersama, Sasuke hanya bisa melihat wajah Sakura... 

“Anak kita pasti akan baik hati seperti dirimu...”

“Anak kita ya...” Sakura tersenyum pahit.

Sasuke meneliti ekspresi istrinya. Ada sesuatu dari balik senyum itu. Ia merasa Sakura menutupi sesuatu dari dirinya. Padahal sebelumnya Sakura selalu bersemangat jika mereka membicarakan soal anak. Namun kali ini wanita itu hanya menjawabnya dengan satu kalimat dan sebuah senyuman pahit. Ia merasa ada yang aneh. Hal ini tidak biasa.

“Ada apa?” Sasuke menepuk pundak istrinya, “Biasanya kau bersemangat membicarakan soal anak...”

“Tidak apa-apa kok.” Suara Sakura terdengar sedikit bergetar.

Ya. Sasuke yakin seratus persen ada yang janggal dari situasi ini. Semenjak mereka membicarakan soal anak, Sakura berubah menjadi suram.

“Sakura...” Sasuke mencium kening istrinya, “Ada apa? Katakan saja padaku...”

“Tadinya aku ingin membuatmu berbahagia di liburan ini, tapi aku merasa tidak enak kalau tidak mengatakannya sekarang...” Sakura melanjutkan.

“Hn?”

“Kau ingat bukan kalau aku bilang terkadang hidup itu tidak seperti yang kita rencanakan?”

“Iya... lalu?”

“Well, kita tidak merencanakan untuk hamil tapi aku hamil...” Sakura menghela napasnya, “Namun sekarang kita merencanakan untuk hamil dan aku tidak bisa hamil.”

Sasuke masih tidak mengerti apa maksud istrinya. Apa maksudnya Sakura tidak bisa hamil? Apakah itu artinya ia tidak bisa memiliki keturunan...?

“Aku pergi ke dokter untuk memeriksa semuanya beberapa hari yang lalu,” Sakura melanjutkan, “Kemudian dokter mengatakan bahwa keguguran pertamaku cukup parah, aku meminum banyak obat penenang untuk menghilangkan stress dan beberapa obat kecantikan yang pernah kuminum mengeringkan rahimku.”

Kali ini Sasuke merasa lebih jatuh dan kecewa daripada waktu helikopter itu lepas kendali. Satu kali dalam hidupnya ketika ia benar-benar menginginkan anak... Rencana itu digagalkan.

“Maaf, seharusnya aku menunggu sampai liburan ini selesai...” Sakura menghapus air matanya.

Mereka berdua hanya duduk di helikopter itu dengan hening. Kali ini Sasuke benar-benar tidak tahu harus bereaksi apa. Selama ini Sasuke pandai dalam mengatur rencana. Ia tahu apa yang harus ia lakukan. Namun kali ini ia hanya merasa dirinya sedang jatuh. Mulai dari Itachi sampai Sakura... Semua rencananya seperti hancur berkeping-keping. Semua impiannya seperti jatuh ke jurang yang dalam. 

XXX

TBC

XXX


A/N:

Hi everyone! I hope you are well! Apakah tahun baru kalian baik? Apakah new year’s resolution kalian berhasil? Semoga saja begitu! Untuk chapter ini, aku sangat senang menuliskan adegan di Restoran Biege, Chanel. Di Jepang ada banyak cafe & restoran high-end seperti Bvlgari dan Hermes. It’s truly wonderful!

Soal rahim yang kering... Sebenarnya ini benar-benar bisa terjadi. Hati-hati jika meminum obat kecantikan secara rutin. Obat yang mengeringkan jerawat, bisa juga mengeringkan rahim. That’s dangerous... Solusi terbaik untuk merawat wajah adalah dengan minum banyak air putih, makan buah yang banyak, rajin cuci muka dan masker dengan rutin. Jangan lupa obat kurus juga bisa berdampak buruk... Kalau kalian nonton Oh my Venus! (So ji sub ganteng banget) kalian mungkin tahu ada adegan rahim yang kering juga... It’s real and it’s very sad to have that. :(

Anyways, thank you for reading and have a nice day everyone! Jangan lupa review dan komen yah! Aku senang membaca respon kalian hehehe!




44 comments:

My First Love is My Housekeeper : Chapter 6

06:21 Melissa Gabriele 6 Comments

My First Love is My Housekeeper!

Chapter 6

The Truth

LV Singapore
Image source : passion2luxury
Disclaimer : I do not own Naruto

Menggendong Hinata ternyata cukup menyenangkan. Berat. Namun menyenangkan. Ia dapat merasakan kulit Hinata yang lembut dan mencium harum bunga mawar dari tubuh gadis itu. Seharusnya ia bisa naik taksi, tapi Naruto terlalu seru menggondong gadis yang ia sukai. Lagipula jarang sekali ada orang karena hari sudah malam, jadi ia lebih memilih berjalan dan pulang dengan kapal pribadinya. Ya, Naruto memarkirkan kapalnya di Louis Vuitton Island yang berada di ujung jalan. Gedung yang dibuat oleh kaca itu tampak indah berdiri di dekat air. Selama ini Naruto selalu mengurung Hinata di dalam rumah, ia tidak menyangka berjalan di luar rumah bersama gadis ini ternyata sangat romantis. Rasanya seperti berkencan saja. Ia tidak peduli kalau Ibunya menganggap Hinata jahat. Ia ingin berpacaran dengan Hinata.

“Hei, Hinata.” Naruto tersenyum menatap wajah gadis lugu itu, “Apapun kata orang, menurutku kau orang yang baik.”

“Naruto-kun...” Wajah Hinata tetap terlihat pucat, “Aku bukan orang yang baik. Kau sudah dengar semuanya bukan?”

“Kasusmu masih diteliti bukan?” Naruto melanjutkan, “Kau pengacara yang hebat, jadi pasti bisa menang di pengadilan!”

“Aku berbohong soal identitasku... dan kau tidak marah padaku?”

Suara gadis itu begitu lembut. Seakan-akan sedang mendengar hembusan angin di musim semi. Bagaimana mungkin Naruto marah saat mendengar suara seperti itu? Meski dibohongi seribu kali, Naruto pasti akan memaafkannya.

“Kau pasti punya alasan sendiri...” Naruto terus menggendong wanita itu sampai ke gedung terdekat, “Aku menghormati alasan itu.”

“Naruto-kun...”

Kali ini Hinata terdiam lagi. Wanita itu memiliki begitu banyak misteri. Entah kenapa Naruto menyukai misteri itu. Semakin banyak misteri yang terungkap, semakin menarik Hyuuga Hinata.

“Naruto-kun, bisa tolong lepaskan aku?”

Mendengar itu, Naruto membungkuk dan melepaskan gendongannya. Sebenarnya Naruto sedikit kecewa. Namun gadis cantik yang digendongnya langsung berdiri dan mengenakan sepatu tingginya lagi. Naruto merasa prihatin melihat kaki Hinata yang memar-memar.


Kaviar Gauche 2015 Couture
Image source : weddinginspirasi
“Hinata... kakimu... Ah! Aku akan membelikan sepatu baru untukmu!” Naruto tampak bersemangat, “Tidak hanya sepatu, aku akan membelikan baju juga untukmu! Kau pasti repot berjalan dengan gaun pesta bukan?”

“Naruto-kun... Kurasa itu terlalu berlebihan.” Hinata tersenyum dengan sopan, “Aku tidak apa-apa.”

“Apanya yang tidak apa-apa?!” Naruto tampak tidak setuju, “Kau harus membeli baju baru!”

“Tapi—”

“Ayolah! Lagipula aku memarkirkan kapalku di gedung air ini, jadi setelah berbelanja kita bisa langsung pulang...”

Dengan sigap, Naruto langsung berlari menuju ke toko Louis Vuitton. Mungkin bagi Hinata, Naruto memang berlebihan, tapi ia ingin membuat gadis yang ia sukai tampak nyaman dan cantik. 

“Ayo Hinata!” Naruto melambaikan tangannya, “Ayo masuk!”

Karena Naruto yang keras kepala, Hinata akhirnya mengikutinya. Setelah berlari menelusuri jembatan air, mereka akhirnya masuk ke toko Louis Vuitton. Hari itu toko mewah dari Eropa ini tidak memiliki pelanggan. Mungkin ini dikarenakan hari sudah malam dan toko sudah hampir tutup.


Inside the store
Image source : passion2luxury
“Apakah ada yang bisa saya bantu?” Salah satu petugas toko tersenyum ramah kepada Naruto.

“Ah, ya!” Naruto langsung tampak bersemangat, “Aku ingin kau memilih baju dan sepatu santai yang nyaman untuk gadis ini.”

Petugas toko itu dengan sigap langsung melayani Hinata. Ia menawarkan banyak baju-baju yang menarik. Sepatu-sepatu terbaru dari koleksi runway juga diperlihatkan untuk Hinata. Wanita lugu itu tampak kebingungan dengan banyaknya pilihan baju dan sepatu untukknya. Entah kenapa Naruto merasa senang melihat reaksi gadis itu. Rasanya seperti di film-film saja. Naruto menjadi pangeran yang menyelamatkan Hinata dari kemiskinan. Ya. Ia suka film-film cliché seperti itu.

Saat menunggu Hinata mengganti baju di ruang ganti, Naruto mengecek ponselnya. Ia tidak menyangka ibunya sudah meninggalkan banyak miss call dan voice mail. Gawat! Ia benar-benar takut ibunya marah! Tapi... ia tidak ingin meninggalkan Hinata sendirian... Naruto akhirnya hanya bisa mengetik pesan singkat untuk ibunya.

‘Maafkan aku ibu... Aku berjanji kalau kasus Hinata sudah selesai, aku akan menelponmu’
-sent

Saat pesan itu selesai ia kirim. Hinata keluar dari kamar ganti dengan baju yang sopan dan elegan. Kemudian ia mengenakan sepatu flats yang tampak nyaman, tapi tetap feminim. Naruto benar-benar suka memanjakan wanita itu.


Louis Vuitton Ready To Wear 2016 Collection
Image source : wfc.tv

“Bagus sekali Hinata...” Naruto tersenyum hangat, “Aku beli ini semua-ttebayo!”

Salah satu petugas toko dengan sopan langsung membawa Naruto untuk bertransaksi dengan kartu kredit. Transaki itu cepat dan seharusnya Hinata senang, tapi wanita itu tampak tidak senang.

Naruto dapat melihat wanita yang ia sukai menerawang jauh sambil duduk di kursi lounge Louis Vuitton yang nyaman. Apakah Hinata masih memikirkan soal kasus itu? Mungkin... Entah kenapa Naruto ingin membuat Hinata ceria lagi. Ia membawa Hinata ke sini karena ia ingin menghibur wanita itu. Ia pikir baju mahal dan sepatu mahal membuat gadis-gadis bahagia. Namun kelihatannya Hinata berbeda...

“Hinata... Apa kau tidak apa-apa?” Naruto duduk di sebelah wanita itu.

“Aku...” Hinata terdiam sebentar, “.... Tidak apa-apa.”

“Kau bisa menceritakan semuanya padaku,” Naruto menepuk pundak gadis itu perlahan, “Tenang saja...”

“....”

“Aku ingin menghiburmu Hinata.” Naruto tersenyum hangat.

Wanita itu masih terdiam. Naruto benar-benar bingung harus berbuat apa. Namun ia ingin membantu gadis itu. Sungguh.

“Aku...”

Sebelum Hinata dapat melanjutkan kata-katanya, Naruto dapat mendengar suara para gadis dari kejauhan. Saat ia menoleh, ia mengenali kerumunan gadis itu! Mereka adalah kru Masterchef! Ternyata meski toko ini sudah mau tutup, masih ada pelanggan yang baru datang. Sial! Naruto harus kabur lewat pintu belakang sebelum kru-krunya melihat Naruto dan Hinata!

“Ayo, lari Hinata!” Naruto berlari keluar dari toko itu. 

Pelabuhan pribadi Louis Vuitton tampak sepi. Hanya ada kapal Naruto yang berjejer di sana. Dengan cepat Naruto langsung menuntun Hinata masuk ke kapalnya. Saat mereka berdua masuk, Naruto langsung menyetir kapal itu dengan cepat. Kapal Naruto dengan kencang berlayar menjauh dari pelabuhan.


Naruto's Yacht
Image source : smithhot.tk

“Naruto-kun...” Hinata membungkuk, “Terimakasih... kau sudah menyembunyikan identitasku.”

“Ah, tidak apa-apa-ttebayo!” Naruto tertawa, “Aku memang suka membantumu! Mungkin ini bisa menjadi hobiku!”

“Naruto-kun... Sebenarnya... Aku ingin meminta bantuanmu...”

“Katakan saja Hinata!” Naruto tampak bersemangat, “Aku pasti akan membantumu!”

“Kau kenal Uchiha Sasuke bukan?” Suara Hinata bergetar menyebutkan nama sahabat Naruto.

“Ya! Ada apa?”

“Mungkin.... ia bisa membantuku....” Hinata tampak gemetar lagi, “.... Menyelamatkanku dari...”

“Dari siapa Hinata?”

“Dari...”

“Apakah dari Itachi?” Naruto tampak serius sekarang.

Kali ini Hinata mengangguk. Reaksi wanita itu tampak mirip saat waktu ia trauma. Rasanya seperti ketakutan. Sekarang Naruto yakin seratus persen bahwa Itachilah yang membuat Hinata trauma. Namun ia tidak tahu kenapa trauma itu datang.

“Hinata... Apakah Itachi yang membuat dirimu trauma?” Naruto menatap teman SDnya dengan khawatir.

“Aku dijebak olehnya... Aku menuruti semua instruksinya... Aku tidak tahu kalau ternyata akan menjadi seperti ini...” Tangan Hinata mulai bergetar, “Kemudian suatu malam, polisi tiba-tiba datang ke rumahku dan menarik tanganku. Aku kaget... Kemudian saat tanganku ditarik paksa, aku diborgol.”

Naruto dapat melihat rasa takut dari wajah Hinata. Pasti wanita itu merasa kaget karena polisi tiba-tiba menariknya. Ia pasti takut masuk penjara, meksi ia tidak sepenuhnya bersalah. Hinata pasti melihat karirnya sebagai pengacara runtuh begitu saja. Hinata terlalu polos... Ia mengikuti instruksi Itachi begitu saja. Ia pasti percaya kepada orang itu karena Itachi adalah anak dari Uchiha Mikoto. 

“Mungkin Sasuke-kun bisa membantuku mencari bukti-bukti bahwa Itachi yang menjebakku,” Hinata melanjutkan, “Tapi... Sasuke-kun pasti tidak ingin membantuku.”

“Eh?” Naruto tampak bingung, “Kenapa-ttebayo?”

“Aku banyak bersalah kepada Keluarga Uchiha, mungkin ini adalah hukuman untukku....” Hinata tampak sedih.

“Jelaskan pelan-pelan Hinata... Memangnya ada apa dengan dirimu dan Sasuke?”

“Sasuke-kun benci padaku.” Hinata tampak sedih, “Mikoto-sensei lebih sering bersama denganku daripada Sasuke-kun, karena itulah Sasuke membenciku. Ia yang awalnya benci makanan manis, bahkan sampai belajar memasak agar dekat dengan ibunya.”

“Oh jadi dia hanya iri hati saja?”

“Tapi ini semua salahku...” Hinata melanjutkan, “Itachi-san juga jadi jarang bertemu ibunya. Kalau saja aku tidak ada... Mungkin Itachi-san tidak akan jatuh ke jalan ini.”

“Jadi kau merasa mereka berdua kurang perhatian orang tua begitu?” Naruto menjawab dengan santai.

Hinata mengangguk, “Ini salahku... Aku orang yang jahat.”

“Orang yang jahat itu bukan kau! Ini salah Mikoto karena tidak memperhatikkan anaknya... Buktinya sekarang kau juga tidak dekat dengan Mikoto... Jadi dekat atau tidak dekat kau dengan Mikoto tidak ada hubungannya dengan Itachi ataupun Sasuke.”

“Tapi...”

“Tenang saja, aku akan mencari jalan keluarnya!” Naruto tersenyum hangat, “Aku akan meminta Sasuke untuk membantumu!”

“Tapi Sasuke-kun benci padaku...”

“Tenang saja! Serahkan padaku-ttebayo!” Naruto menepuk pundak Hinata, “Aku akan menjadi sayap pelindungmu!”

Mungkin ini adalah kata-kata tergombal yang pernah ada. Mungkin Naruto itu hanya pria yang terlalu lebay, mesum dan suka berbicara seenaknya... Namun saat itu Hinata tersenyum. Wanita itu benar-benar tersenyum hangat. Rasanya Naruto mulai merasa kalau gadis yang awalnya selalu menutup diri itu mulai suka kepadanya. Biakan saja kalau ia ge-er, tapi senyuman itu terlalu manis untuknya. Radar kege-eran Naruto sudah mencapai tahap maksimum! Oh, Tuhan... Semoga saja ia bisa terus menjadi sayap pelindung gadis ini.

XXX


1-Altitude Sky Bar
Image Source : sg.asia-city.com
Setelah satu bulan, Uchiha Sasuke akhirnya setuju untuk bertemu dengan Naruto. Satu bulan! Cih! Dasar pria sok sibuk! Telepon Naruto tidak dijawab dan syuting Masterchef mereka juga tiba-tiba berhenti di tengah jalan. Entah ada apa dengan pria itu. Naruto akhirnya hanya bisa berdiri di 1 Altitude sky dan menunggu Sasuke. Sebenarnya Naruto tidak suka minum dan ia juga tidak suka pergi ke bar. Ia adalah lelaki rumahan. Sebagai pria rumahan, ia lebih suka berada di dekat Hinata. Namun pria bernama Uchiha Sasuke itu benar-benar pria bar daripada pria rumah.

Satu bulan sudah berlalu dan Naruto tidak berhasil mencari data untuk membantu Hinata. Namun Naruto tidak ingin tinggal diam. Uchiha Sasuke adalah adik dari Uchiha Itachi. Ia pasti tahu kebenaran dari kasus ini!


Naruto's Armani Suit and Sasuke's Zegna Suit
Image Source : saksfifthavenue.com , saksfifthavenue.com
“Sasuke...”

“Hn.” Sasuke tampak bingung, “Ada apa?”

“Uchiha Itachi...” Naruto menatap Sasuke dengan serius, “Ia kakakmu bukan?”

“Ya, ada apa memangnya?” Sasuke tampak tidak tertarik.

“Aku ingin tahu soal dirinya,” Naruto meneguk Whiskeynya lagi, “Terutama soal kasus pemalsuan data dengan pengacaranya.”

Kali ini Sasuke tampak serius juga. Pria itu tampaknya merasa kaget saat mendengar kasus pemalsuan data di bank itu. Naruto kali ini merasa bahwa ia bertanya kepada orang yang tepat.

“Kasus ini masih diproses,” Sasuke melanjutkan, “It’s not my problem, jadi kau juga tidak peduli.”

“Sebenarnya ini semua salah Itachi, tapi Hyugga Hinata tidak bersalah bukan?!” Naruto langsung berbicara blak blakkan.

“Kenapa kau peduli sekali soal kasus ini?” Sasuke tampak penasaran.

“Karena aku jatuh cinta pada Hyuuga Hinata!” Naruto menjawab dengan percaya diri.

“Kau gila ya?” Sasuke menaikkan satu alisnya, “Bukankah kau sudah bertunangan dengan Sakura?”

“Kami membatalkan pertunangan kami... Lagipula ini hanya pertunangan bisnis,” Naruto melanjutkan, “Arrrgh! Lupakan soal itu! Bantu aku Sasuke! Aku harus membebaskan Hinata dari tuduhan ini!”

“Kenapa aku harus membantumu?” Sasuke tampak tidak peduli, “Apa untungnya untukku?”

“Kalau kau membantuku... Itachi bisa masuk penjara, dengan begitu kau bisa meneruskan perusahaan keluargamu!”

“Kakakku akan masuk penjara bersama dengan Hinata... Untuk apa aku bersusah payah untuk membebaskan Hinata kalau pada akhirnya kakakku akan tetap masuk penjara juga?”

“Sasuke... Kumohon, kita sahabat bukan?” Naruto menatap Sasuke dengan serius.

“Sudah kubilang membantu Hinata tidak ada untungnya bagiku, lagipula aku tidak menyukai gadis itu....”

Kali ini Sasuke tiba-tiba terdiam seribu bahasa. Pria itu tampaknya terlalu kaget melihat seseorang di belakang Naruto. Kali ini Naruto hanya bisa menoleh ke belakang. Di sana ia bisa melihat Haruno Sakura mengenakan gaun pesta yang indah. Wanita itu tampak sangat cantik sampai-sampai tidak hanya Sasuke saja yang terdiam, Naruto juga ikut terdiam sejenak.


Sakura's Leanne Marshall Spring 2016 Collection
Image source : eonline.com
“Sakura-chan, kenapa kau ada di sini?” Naruto akhirnya berbicara.

“Aku ingin berbicara dengan Sasuke,” Sakura menjawabnya, “Kami berjanji untuk bertemu di sini.”

“Benarkah Sasuke?” Naruto tampak tidak percaya.

Untuk apa mereka berdua bertemu? Tidak mungkin Sakura dan Sasuke berpacaran dalam satu bulan bukan? Apalagi di selama syuting Masterchef mereka berdua selalu saja bermusuhan. Sasuke bahkan sering mencaci-maki makanan yang dibuat Sakura. Ini pasti halusinasi semata.

“Ya,” Sasuke menjawabnya dengan dingin, “Ada apa Sakura? Cepat katakan, aku dan Naruto juga sedang membicarakan hal penting.”

“Aku hamil.”

Kali ini Naruto dan Sasuke terdiam lagi. Damn. Ini benar-benar di luar dugaan. Untungnya Naruto sama sekali tidak pernah tidur dengan Sakura, jadi yang bersalah pasti Sasuke. Dasar, ternyata pria dingin ini bisa juga berbuat semacam itu dengan Sakura.

“Benarkah?” Sasuke tampak kaget.

“Kau sudah pasti ayahnya.” Sakura menatap Sasuke dengan serius, “Dengan pria lain... Mereka selalu memakai kondom.” 

“Itu...” Sasuke tampak merasa bersalah, “Itu memang salahku.”

Wow. Naruto seharusnya memikirkan soal Hinata, tapi adegan ini terlalu seru untuk dilewatkan. Rasanya seperti menonton drama-drama yang penuh intrik. Luar biasa! Apalagi korbannya adalah Uchiha Sasuke yang dingin itu. Rasanya menyenangkan juga melihat ekspresi Sasuke yang awalnya dingin berubah menjadi penuh rasa bersalah.

“Tenang saja, kau tidak perlu khawatir,” Sakura melanjutkan, “Aku akan menggugurkan bayi ini.”

“Apa?!” Kali ini Naruto yang berteriak, “Tidak boleh!!! Itu dosa Sakura-chan!”

“Aku juga tidak setuju,” Sasuke langsung menarik tangan Sakura, “Aku akan bertanggung jawab—”

“Kau gila?” Sakura menepis tangan Sasuke dengan cepat, “Aku seorang artis! Jika aku memiliki bayi sekarang... Bagaimana dengan karirku?! Aku akan dikenal sebagai seorang artis nakal yang hamil di luar nikah.”

“Sakura...” Sasuke tampak serius, “Aku adalah ayahnya, aku menginginkan bayi ini.”

“Seharusnya aku tidak memberitahukannya kepadamu.” Sakura menghela napasnya, “Dengan begitu aborsinya akan lebih cepat.”

“Sakura... Kau akan menikah denganku.” Suara Sasuke terdengar seperti perintah, “Aku akan bertanggung jawab dan kau tidak akan membunuh bayiku.”

“Tapi tidak hanya reputasiku saja yang menjadi masalah!” Sakura tampak kesal, “Kalau anak itu lahir, aku harus mengurusnya... Lalu karirku bagaimana? Aku masih ingin bekerja... Aku ingin mengalahkan Ino! Aku harus mengalahkan Ino!”

“For God sake... Aku yang akan mengurus bayinya,” Sasuke benar-benar serius, “Kau hanya perlu melahirkannya saja.”

Mungkin ini adalah saatnya Naruto pergi dan meninggalkan mereka berdua sendirian... Namun adegan ini terlalu manis. Ternyata pria dingin itu bisa romantis juga. Eh... Tunggu! Entah kenapa Sakura sama sekali tidak tertarik oleh pembicaraan manis Sasuke. Mungkin hati wanita itu terbuat dari batu atau semacamnya. Ini pasti alasan kenapa Sakura selalu bermain film action dan bukan romance.

“Biarkan aku memikirkan ini dulu,” Sakura menghela napasnya.

Sasuke hanya mengangguk. Pria itu kemudian hanya bisa terus memperhatikan Sakura yang pergi dari kejauhan. Ternyata Sasuke punya hati nurani juga. Otaknya tidak hanya bisnis saja. Mungkin Naruto bisa membantunya meyakinkan Sakura. Dengan itu, Sasuke tidak akan murung lagi.

“Hei, Sasuke...” Naruto menepuk pundak sahabatnya, “Aku dekat dengan Sakura-chan jadi aku bisa memberi nasehat untuknya.”

“Hn.” Sasuke masih tampak khawatir, “Aku tidak menyangka hal ini akan terjadi.”

“Kau seharusnya tahu kalau kondom itu penting.” Naruto menghela napasnya, “Bahkan seharusnya kau menunggu saja sampai menikah.”

“Hn.” Sasuke menerawang lagi.

“Hei... Kalau aku berhasil membuat Sakura menikah denganmu, boleh tidak kau membantuku mencari bukti kalau Hinata tidak bersalah?” Naruto tersenyum puas, “Kali ini ada untungnya untukmu bukan? Give and take.”

“Mungkin aku bisa mencari jejak e-mail beserta telepon antara kakakku dan Hinata,” Sasuke melanjutkan, “Ini memang merepotkan dan aku harus menghubungi orang yang pandai IT... Namun kau harus meyakinkan Sakura.”

“Serahkan padaku-ttebayo!”

XXX


Pan Pacific Singapore
Image source : panpacific.com
Uzumaki Kushina duduk di lobby lounge, Pan Pacific Singapore sembari menikmati afternoon tea sendirian. Ia tidak menyangka Naruto tidak menjawab teleponnya selama satu bulan. Padahal selama ini anak bodoh itu selalu saja menunggu-nunggu jika Kushina menelponnya.

Sial. Ketika Kushina stress, ia jadi makan banyak kue. Kali ini satu set afternoon tea dengan kue-kue kecil itu hampir habis dilahap dirinya seorang. Pertama Naruto, kemudian ia jadi mengingat wanita jahanam itu. Ia tidak menyangka Naruto menyukai anak dari wanita itu. Anak dari Hyuuga Akiko itu adalah seorang kriminal. Ibu dan anak sama saja. Kushina ingat Akiko dulu pernah mengejar Minato. Karena itu... Kushina jadi...


Pan Pacific Afternoon Tea Set
Image source : growingwiththetans

“Kushina?”

Suara nyaring yang sangat ia kenal ini... Pasti suara dari Haruno Mebuki. Wanita itu adalah ibu dari Haruno Sakura. Walau Sakura dan Naruto terus menentang perjodohan ini, tapi Mebuki masih saja bersikeras. Sebenarnya Kushina juga sama. Ibu mana yang tidak ingin anaknya menikah dengan wanita yang sederajat? Lagipula jika Sakura dan Naruto menikah, proyek bisnis Kushina dan Mebuki akan jauh lebih lancar.

“Apakah aku boleh duduk di sini?” Mebuki tersenyum tipis.

“Tentu saja.” Kushina tersenyum juga, “Silahkan duduk.”


Kushina's Rosie Assoulin & Mebuki's Prada Spring 2016
Image source : stylecaster , thefashionspot
“Aku minta maaf soal perilaku Sakura,” Mebuki menghela napasnya, “Anak itu memang suka memberontak.”

“Ah... Aku juga harus minta maaf soal Naruto,” Kushina membungkuk, “Anak itu biasanya menurut... Tapi tenang saja, aku pasti bisa meyakinkannya untuk menikah dengan Sakura.”

“Sebenarnya aku tidak boleh memberitahukan ini kepadamu tapi...” Mebuki menggelengkan kepalanya, “Sakura hamil dan aku tidak tahu siapa ayahnya.”

Kali ini Kushina tersedak teh yang ia minum. Ia tidak menyangka hal ini terjadi kepada calon menantunya. Naruto tidak mungkin ayahnya, jika Naruto ayahnya... Mebuki pasti senang sekali.

“Aku ingin Sakura menggugurkan bayinya dengan begitu kita masih bisa menjodohkan anak kita—”

“Tidak boleh!” Kushina langsung berteriak.

Tangannya bergetar dan keringat dingin turun di pelipisnya. Ia jadi ingat waktu ia SMA dulu. Waktu itu ia dan Minato berpacaran. Ia sempat hamil... Ia tahu itu anak Minato... Namun karena saat itu Minato lebih kaya darinya, Keluarga Namikaze menentang hubungan mereka. Minato sama sekali tidak mirip dengan Naruto. Waktu itu Minato menuruti kemauan Keluarga Namikaze. Kushina belum sempat memberitahu kehamilan itu... Ia langsung pergi dari Tokyo dan melahirkan di tempat lain. Ia menitipkan bayinya di jalanan dan menjalani kehidupan yang baru. Ia tidak tahu bayi itu ada di mana sekarang. Namun ia tidak peduli. Ia tidak butuh bayi dari pria jahanam itu. Saat Kushina hamil, Minato malah dekat dengan Hyuuga Akiko.

“Ah! Sebentar... Ada temanku datang!” Mebuki bangkit berdiri dan melambaikan tangannya.

Seharusnya ia tidak mengajak Mebuki duduk. Ia benar-benar tidak menyangka teman yang Mebuki maksud adalah Uchiha Mikoto. Selama ini Kushina tidak pernah berbicara dengan Mikoto karena masalah Akiko dan Minato. Ia tahu Mikoto membantu Akiko untuk mendekati Minato.


Fendi Resort 2016
Image source : vogue
“Ku...Kushina?” Mikoto tampak kaget juga.

“Kalian saling kenal?” Mebuki tersenyum, “Kalau begitu aku ke toilet dulu... Kalian berbincang-bincang saja dulu!”

Saat Mebuki pergi, Kushina dan Mikoto hanya bisa terdiam. Mereka berdua sempat berteman lama... Namun karena masalah Minato, persahabatan mereka jadi hancur. Ia benar-benar tidak tahu harus berbicara apa kepada mantan sahabatnya itu.

“Sudah lama tidak bertemu,” Mikoto membungkuk.

“Ya.” Kushina menjawabnya dengan dingin.

“Kushina... Soal masalah waktu itu...”

“Maksudmu waktu kau membantu Akiko untuk mendekati Minato?” Kushina mendengus, “Selamat, karena itu aku meninggalkan Tokyo.”

“Kau salah paham Kushina...” Mikoto tampak serius, “Sungguh. Aku selalu ingin menjelaskannya kepadamu, tapi kau masih tidak mau mendengarkanku.”

“Salah paham apa?” Kushina menaikkan satu alisnya, “Aku hamil dan pria itu malah mengejar wanita lain!”

“Minato dan Akiko tidak saling menyukai...” Mikoto melanjutkan, “Waktu itu Akiko mendekati Minato hanya untuk membuat Hiashi cemburu.”

“Tapi...”

“Sungguh, percayalah padaku... Buktinya Akiko dan Hiashi menikah dan punya anak,” Mikoto melanjutkan, “Bahkan saat Hiashi dipenjara, Akiko tidak mengejar Minato. Wanita itu tetap setia menunggu sampai Hiashi bebas dari penjara.”

Kali ini Kushina melihat ketulusan dari kata-kata Mikoto. Selama ini ia selalu menghindari pembicaraan ini, tapi kali ini ia tidak bisa kabur lagi. Mungkin ia memang harus menerima kenyataan bahwa saat itu ia hanyalah gadis SMA yang penakut. Ia hamil dan ia takut Minato tidak ingin bertanggung jawab. Ia takut dan pergi begitu saja. Ia mengambil kesimpulan sendiri... Padahal memang Akiko yang mengejar Minato, ia tidak tahu apakah Minato menerima Akiko atau tidak. 

Selama ini ia hanya mengambil kesimpulan. Ia mengambil kesimpulan bahwa Minato tidak menginginkan bayinya. Ia mengambil kesimpulan bahwa Akiko dan Minato saling menyukai. Ia juga mengambil kesimpulan kalau Hinata adalah wanita jahanam. Mungkin... Mungkin saja Hyuuga Akiko adalah orang yang baik. Mungkin Hyuuga Hinata adalah orang yang baik juga.

XXX

TBC

XXX

A/N:

Halo semuanya! Aku harap kalian menikmati tahun baru kalian! Hows your new year’s resolution? Semoga semuanya berjalan dengan lancar! Untuk chapter ini... Aku senang menuliskan bagian afternoon tea. Kalau kalian membaca banyak ceritaku, kalian pasti tahu kalau aku suka menuliskan ritual minum teh ini. It’s my guilty pleasure! Hhehhee :)

Anyways, have a nice day everyone! I hope you’ll comment and leave a review... It means so much to me !

XXX

<<Previous chapter

6 comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...