My First Love is My Housekeeper : Chapter 6

06:21 Melissa Gabriele 6 Comments

My First Love is My Housekeeper!

Chapter 6

The Truth

LV Singapore
Image source : passion2luxury
Disclaimer : I do not own Naruto

Menggendong Hinata ternyata cukup menyenangkan. Berat. Namun menyenangkan. Ia dapat merasakan kulit Hinata yang lembut dan mencium harum bunga mawar dari tubuh gadis itu. Seharusnya ia bisa naik taksi, tapi Naruto terlalu seru menggondong gadis yang ia sukai. Lagipula jarang sekali ada orang karena hari sudah malam, jadi ia lebih memilih berjalan dan pulang dengan kapal pribadinya. Ya, Naruto memarkirkan kapalnya di Louis Vuitton Island yang berada di ujung jalan. Gedung yang dibuat oleh kaca itu tampak indah berdiri di dekat air. Selama ini Naruto selalu mengurung Hinata di dalam rumah, ia tidak menyangka berjalan di luar rumah bersama gadis ini ternyata sangat romantis. Rasanya seperti berkencan saja. Ia tidak peduli kalau Ibunya menganggap Hinata jahat. Ia ingin berpacaran dengan Hinata.

“Hei, Hinata.” Naruto tersenyum menatap wajah gadis lugu itu, “Apapun kata orang, menurutku kau orang yang baik.”

“Naruto-kun...” Wajah Hinata tetap terlihat pucat, “Aku bukan orang yang baik. Kau sudah dengar semuanya bukan?”

“Kasusmu masih diteliti bukan?” Naruto melanjutkan, “Kau pengacara yang hebat, jadi pasti bisa menang di pengadilan!”

“Aku berbohong soal identitasku... dan kau tidak marah padaku?”

Suara gadis itu begitu lembut. Seakan-akan sedang mendengar hembusan angin di musim semi. Bagaimana mungkin Naruto marah saat mendengar suara seperti itu? Meski dibohongi seribu kali, Naruto pasti akan memaafkannya.

“Kau pasti punya alasan sendiri...” Naruto terus menggendong wanita itu sampai ke gedung terdekat, “Aku menghormati alasan itu.”

“Naruto-kun...”

Kali ini Hinata terdiam lagi. Wanita itu memiliki begitu banyak misteri. Entah kenapa Naruto menyukai misteri itu. Semakin banyak misteri yang terungkap, semakin menarik Hyuuga Hinata.

“Naruto-kun, bisa tolong lepaskan aku?”

Mendengar itu, Naruto membungkuk dan melepaskan gendongannya. Sebenarnya Naruto sedikit kecewa. Namun gadis cantik yang digendongnya langsung berdiri dan mengenakan sepatu tingginya lagi. Naruto merasa prihatin melihat kaki Hinata yang memar-memar.


Kaviar Gauche 2015 Couture
Image source : weddinginspirasi
“Hinata... kakimu... Ah! Aku akan membelikan sepatu baru untukmu!” Naruto tampak bersemangat, “Tidak hanya sepatu, aku akan membelikan baju juga untukmu! Kau pasti repot berjalan dengan gaun pesta bukan?”

“Naruto-kun... Kurasa itu terlalu berlebihan.” Hinata tersenyum dengan sopan, “Aku tidak apa-apa.”

“Apanya yang tidak apa-apa?!” Naruto tampak tidak setuju, “Kau harus membeli baju baru!”

“Tapi—”

“Ayolah! Lagipula aku memarkirkan kapalku di gedung air ini, jadi setelah berbelanja kita bisa langsung pulang...”

Dengan sigap, Naruto langsung berlari menuju ke toko Louis Vuitton. Mungkin bagi Hinata, Naruto memang berlebihan, tapi ia ingin membuat gadis yang ia sukai tampak nyaman dan cantik. 

“Ayo Hinata!” Naruto melambaikan tangannya, “Ayo masuk!”

Karena Naruto yang keras kepala, Hinata akhirnya mengikutinya. Setelah berlari menelusuri jembatan air, mereka akhirnya masuk ke toko Louis Vuitton. Hari itu toko mewah dari Eropa ini tidak memiliki pelanggan. Mungkin ini dikarenakan hari sudah malam dan toko sudah hampir tutup.


Inside the store
Image source : passion2luxury
“Apakah ada yang bisa saya bantu?” Salah satu petugas toko tersenyum ramah kepada Naruto.

“Ah, ya!” Naruto langsung tampak bersemangat, “Aku ingin kau memilih baju dan sepatu santai yang nyaman untuk gadis ini.”

Petugas toko itu dengan sigap langsung melayani Hinata. Ia menawarkan banyak baju-baju yang menarik. Sepatu-sepatu terbaru dari koleksi runway juga diperlihatkan untuk Hinata. Wanita lugu itu tampak kebingungan dengan banyaknya pilihan baju dan sepatu untukknya. Entah kenapa Naruto merasa senang melihat reaksi gadis itu. Rasanya seperti di film-film saja. Naruto menjadi pangeran yang menyelamatkan Hinata dari kemiskinan. Ya. Ia suka film-film cliché seperti itu.

Saat menunggu Hinata mengganti baju di ruang ganti, Naruto mengecek ponselnya. Ia tidak menyangka ibunya sudah meninggalkan banyak miss call dan voice mail. Gawat! Ia benar-benar takut ibunya marah! Tapi... ia tidak ingin meninggalkan Hinata sendirian... Naruto akhirnya hanya bisa mengetik pesan singkat untuk ibunya.

‘Maafkan aku ibu... Aku berjanji kalau kasus Hinata sudah selesai, aku akan menelponmu’
-sent

Saat pesan itu selesai ia kirim. Hinata keluar dari kamar ganti dengan baju yang sopan dan elegan. Kemudian ia mengenakan sepatu flats yang tampak nyaman, tapi tetap feminim. Naruto benar-benar suka memanjakan wanita itu.


Louis Vuitton Ready To Wear 2016 Collection
Image source : wfc.tv

“Bagus sekali Hinata...” Naruto tersenyum hangat, “Aku beli ini semua-ttebayo!”

Salah satu petugas toko dengan sopan langsung membawa Naruto untuk bertransaksi dengan kartu kredit. Transaki itu cepat dan seharusnya Hinata senang, tapi wanita itu tampak tidak senang.

Naruto dapat melihat wanita yang ia sukai menerawang jauh sambil duduk di kursi lounge Louis Vuitton yang nyaman. Apakah Hinata masih memikirkan soal kasus itu? Mungkin... Entah kenapa Naruto ingin membuat Hinata ceria lagi. Ia membawa Hinata ke sini karena ia ingin menghibur wanita itu. Ia pikir baju mahal dan sepatu mahal membuat gadis-gadis bahagia. Namun kelihatannya Hinata berbeda...

“Hinata... Apa kau tidak apa-apa?” Naruto duduk di sebelah wanita itu.

“Aku...” Hinata terdiam sebentar, “.... Tidak apa-apa.”

“Kau bisa menceritakan semuanya padaku,” Naruto menepuk pundak gadis itu perlahan, “Tenang saja...”

“....”

“Aku ingin menghiburmu Hinata.” Naruto tersenyum hangat.

Wanita itu masih terdiam. Naruto benar-benar bingung harus berbuat apa. Namun ia ingin membantu gadis itu. Sungguh.

“Aku...”

Sebelum Hinata dapat melanjutkan kata-katanya, Naruto dapat mendengar suara para gadis dari kejauhan. Saat ia menoleh, ia mengenali kerumunan gadis itu! Mereka adalah kru Masterchef! Ternyata meski toko ini sudah mau tutup, masih ada pelanggan yang baru datang. Sial! Naruto harus kabur lewat pintu belakang sebelum kru-krunya melihat Naruto dan Hinata!

“Ayo, lari Hinata!” Naruto berlari keluar dari toko itu. 

Pelabuhan pribadi Louis Vuitton tampak sepi. Hanya ada kapal Naruto yang berjejer di sana. Dengan cepat Naruto langsung menuntun Hinata masuk ke kapalnya. Saat mereka berdua masuk, Naruto langsung menyetir kapal itu dengan cepat. Kapal Naruto dengan kencang berlayar menjauh dari pelabuhan.


Naruto's Yacht
Image source : smithhot.tk

“Naruto-kun...” Hinata membungkuk, “Terimakasih... kau sudah menyembunyikan identitasku.”

“Ah, tidak apa-apa-ttebayo!” Naruto tertawa, “Aku memang suka membantumu! Mungkin ini bisa menjadi hobiku!”

“Naruto-kun... Sebenarnya... Aku ingin meminta bantuanmu...”

“Katakan saja Hinata!” Naruto tampak bersemangat, “Aku pasti akan membantumu!”

“Kau kenal Uchiha Sasuke bukan?” Suara Hinata bergetar menyebutkan nama sahabat Naruto.

“Ya! Ada apa?”

“Mungkin.... ia bisa membantuku....” Hinata tampak gemetar lagi, “.... Menyelamatkanku dari...”

“Dari siapa Hinata?”

“Dari...”

“Apakah dari Itachi?” Naruto tampak serius sekarang.

Kali ini Hinata mengangguk. Reaksi wanita itu tampak mirip saat waktu ia trauma. Rasanya seperti ketakutan. Sekarang Naruto yakin seratus persen bahwa Itachilah yang membuat Hinata trauma. Namun ia tidak tahu kenapa trauma itu datang.

“Hinata... Apakah Itachi yang membuat dirimu trauma?” Naruto menatap teman SDnya dengan khawatir.

“Aku dijebak olehnya... Aku menuruti semua instruksinya... Aku tidak tahu kalau ternyata akan menjadi seperti ini...” Tangan Hinata mulai bergetar, “Kemudian suatu malam, polisi tiba-tiba datang ke rumahku dan menarik tanganku. Aku kaget... Kemudian saat tanganku ditarik paksa, aku diborgol.”

Naruto dapat melihat rasa takut dari wajah Hinata. Pasti wanita itu merasa kaget karena polisi tiba-tiba menariknya. Ia pasti takut masuk penjara, meksi ia tidak sepenuhnya bersalah. Hinata pasti melihat karirnya sebagai pengacara runtuh begitu saja. Hinata terlalu polos... Ia mengikuti instruksi Itachi begitu saja. Ia pasti percaya kepada orang itu karena Itachi adalah anak dari Uchiha Mikoto. 

“Mungkin Sasuke-kun bisa membantuku mencari bukti-bukti bahwa Itachi yang menjebakku,” Hinata melanjutkan, “Tapi... Sasuke-kun pasti tidak ingin membantuku.”

“Eh?” Naruto tampak bingung, “Kenapa-ttebayo?”

“Aku banyak bersalah kepada Keluarga Uchiha, mungkin ini adalah hukuman untukku....” Hinata tampak sedih.

“Jelaskan pelan-pelan Hinata... Memangnya ada apa dengan dirimu dan Sasuke?”

“Sasuke-kun benci padaku.” Hinata tampak sedih, “Mikoto-sensei lebih sering bersama denganku daripada Sasuke-kun, karena itulah Sasuke membenciku. Ia yang awalnya benci makanan manis, bahkan sampai belajar memasak agar dekat dengan ibunya.”

“Oh jadi dia hanya iri hati saja?”

“Tapi ini semua salahku...” Hinata melanjutkan, “Itachi-san juga jadi jarang bertemu ibunya. Kalau saja aku tidak ada... Mungkin Itachi-san tidak akan jatuh ke jalan ini.”

“Jadi kau merasa mereka berdua kurang perhatian orang tua begitu?” Naruto menjawab dengan santai.

Hinata mengangguk, “Ini salahku... Aku orang yang jahat.”

“Orang yang jahat itu bukan kau! Ini salah Mikoto karena tidak memperhatikkan anaknya... Buktinya sekarang kau juga tidak dekat dengan Mikoto... Jadi dekat atau tidak dekat kau dengan Mikoto tidak ada hubungannya dengan Itachi ataupun Sasuke.”

“Tapi...”

“Tenang saja, aku akan mencari jalan keluarnya!” Naruto tersenyum hangat, “Aku akan meminta Sasuke untuk membantumu!”

“Tapi Sasuke-kun benci padaku...”

“Tenang saja! Serahkan padaku-ttebayo!” Naruto menepuk pundak Hinata, “Aku akan menjadi sayap pelindungmu!”

Mungkin ini adalah kata-kata tergombal yang pernah ada. Mungkin Naruto itu hanya pria yang terlalu lebay, mesum dan suka berbicara seenaknya... Namun saat itu Hinata tersenyum. Wanita itu benar-benar tersenyum hangat. Rasanya Naruto mulai merasa kalau gadis yang awalnya selalu menutup diri itu mulai suka kepadanya. Biakan saja kalau ia ge-er, tapi senyuman itu terlalu manis untuknya. Radar kege-eran Naruto sudah mencapai tahap maksimum! Oh, Tuhan... Semoga saja ia bisa terus menjadi sayap pelindung gadis ini.

XXX


1-Altitude Sky Bar
Image Source : sg.asia-city.com
Setelah satu bulan, Uchiha Sasuke akhirnya setuju untuk bertemu dengan Naruto. Satu bulan! Cih! Dasar pria sok sibuk! Telepon Naruto tidak dijawab dan syuting Masterchef mereka juga tiba-tiba berhenti di tengah jalan. Entah ada apa dengan pria itu. Naruto akhirnya hanya bisa berdiri di 1 Altitude sky dan menunggu Sasuke. Sebenarnya Naruto tidak suka minum dan ia juga tidak suka pergi ke bar. Ia adalah lelaki rumahan. Sebagai pria rumahan, ia lebih suka berada di dekat Hinata. Namun pria bernama Uchiha Sasuke itu benar-benar pria bar daripada pria rumah.

Satu bulan sudah berlalu dan Naruto tidak berhasil mencari data untuk membantu Hinata. Namun Naruto tidak ingin tinggal diam. Uchiha Sasuke adalah adik dari Uchiha Itachi. Ia pasti tahu kebenaran dari kasus ini!


Naruto's Armani Suit and Sasuke's Zegna Suit
Image Source : saksfifthavenue.com , saksfifthavenue.com
“Sasuke...”

“Hn.” Sasuke tampak bingung, “Ada apa?”

“Uchiha Itachi...” Naruto menatap Sasuke dengan serius, “Ia kakakmu bukan?”

“Ya, ada apa memangnya?” Sasuke tampak tidak tertarik.

“Aku ingin tahu soal dirinya,” Naruto meneguk Whiskeynya lagi, “Terutama soal kasus pemalsuan data dengan pengacaranya.”

Kali ini Sasuke tampak serius juga. Pria itu tampaknya merasa kaget saat mendengar kasus pemalsuan data di bank itu. Naruto kali ini merasa bahwa ia bertanya kepada orang yang tepat.

“Kasus ini masih diproses,” Sasuke melanjutkan, “It’s not my problem, jadi kau juga tidak peduli.”

“Sebenarnya ini semua salah Itachi, tapi Hyugga Hinata tidak bersalah bukan?!” Naruto langsung berbicara blak blakkan.

“Kenapa kau peduli sekali soal kasus ini?” Sasuke tampak penasaran.

“Karena aku jatuh cinta pada Hyuuga Hinata!” Naruto menjawab dengan percaya diri.

“Kau gila ya?” Sasuke menaikkan satu alisnya, “Bukankah kau sudah bertunangan dengan Sakura?”

“Kami membatalkan pertunangan kami... Lagipula ini hanya pertunangan bisnis,” Naruto melanjutkan, “Arrrgh! Lupakan soal itu! Bantu aku Sasuke! Aku harus membebaskan Hinata dari tuduhan ini!”

“Kenapa aku harus membantumu?” Sasuke tampak tidak peduli, “Apa untungnya untukku?”

“Kalau kau membantuku... Itachi bisa masuk penjara, dengan begitu kau bisa meneruskan perusahaan keluargamu!”

“Kakakku akan masuk penjara bersama dengan Hinata... Untuk apa aku bersusah payah untuk membebaskan Hinata kalau pada akhirnya kakakku akan tetap masuk penjara juga?”

“Sasuke... Kumohon, kita sahabat bukan?” Naruto menatap Sasuke dengan serius.

“Sudah kubilang membantu Hinata tidak ada untungnya bagiku, lagipula aku tidak menyukai gadis itu....”

Kali ini Sasuke tiba-tiba terdiam seribu bahasa. Pria itu tampaknya terlalu kaget melihat seseorang di belakang Naruto. Kali ini Naruto hanya bisa menoleh ke belakang. Di sana ia bisa melihat Haruno Sakura mengenakan gaun pesta yang indah. Wanita itu tampak sangat cantik sampai-sampai tidak hanya Sasuke saja yang terdiam, Naruto juga ikut terdiam sejenak.


Sakura's Leanne Marshall Spring 2016 Collection
Image source : eonline.com
“Sakura-chan, kenapa kau ada di sini?” Naruto akhirnya berbicara.

“Aku ingin berbicara dengan Sasuke,” Sakura menjawabnya, “Kami berjanji untuk bertemu di sini.”

“Benarkah Sasuke?” Naruto tampak tidak percaya.

Untuk apa mereka berdua bertemu? Tidak mungkin Sakura dan Sasuke berpacaran dalam satu bulan bukan? Apalagi di selama syuting Masterchef mereka berdua selalu saja bermusuhan. Sasuke bahkan sering mencaci-maki makanan yang dibuat Sakura. Ini pasti halusinasi semata.

“Ya,” Sasuke menjawabnya dengan dingin, “Ada apa Sakura? Cepat katakan, aku dan Naruto juga sedang membicarakan hal penting.”

“Aku hamil.”

Kali ini Naruto dan Sasuke terdiam lagi. Damn. Ini benar-benar di luar dugaan. Untungnya Naruto sama sekali tidak pernah tidur dengan Sakura, jadi yang bersalah pasti Sasuke. Dasar, ternyata pria dingin ini bisa juga berbuat semacam itu dengan Sakura.

“Benarkah?” Sasuke tampak kaget.

“Kau sudah pasti ayahnya.” Sakura menatap Sasuke dengan serius, “Dengan pria lain... Mereka selalu memakai kondom.” 

“Itu...” Sasuke tampak merasa bersalah, “Itu memang salahku.”

Wow. Naruto seharusnya memikirkan soal Hinata, tapi adegan ini terlalu seru untuk dilewatkan. Rasanya seperti menonton drama-drama yang penuh intrik. Luar biasa! Apalagi korbannya adalah Uchiha Sasuke yang dingin itu. Rasanya menyenangkan juga melihat ekspresi Sasuke yang awalnya dingin berubah menjadi penuh rasa bersalah.

“Tenang saja, kau tidak perlu khawatir,” Sakura melanjutkan, “Aku akan menggugurkan bayi ini.”

“Apa?!” Kali ini Naruto yang berteriak, “Tidak boleh!!! Itu dosa Sakura-chan!”

“Aku juga tidak setuju,” Sasuke langsung menarik tangan Sakura, “Aku akan bertanggung jawab—”

“Kau gila?” Sakura menepis tangan Sasuke dengan cepat, “Aku seorang artis! Jika aku memiliki bayi sekarang... Bagaimana dengan karirku?! Aku akan dikenal sebagai seorang artis nakal yang hamil di luar nikah.”

“Sakura...” Sasuke tampak serius, “Aku adalah ayahnya, aku menginginkan bayi ini.”

“Seharusnya aku tidak memberitahukannya kepadamu.” Sakura menghela napasnya, “Dengan begitu aborsinya akan lebih cepat.”

“Sakura... Kau akan menikah denganku.” Suara Sasuke terdengar seperti perintah, “Aku akan bertanggung jawab dan kau tidak akan membunuh bayiku.”

“Tapi tidak hanya reputasiku saja yang menjadi masalah!” Sakura tampak kesal, “Kalau anak itu lahir, aku harus mengurusnya... Lalu karirku bagaimana? Aku masih ingin bekerja... Aku ingin mengalahkan Ino! Aku harus mengalahkan Ino!”

“For God sake... Aku yang akan mengurus bayinya,” Sasuke benar-benar serius, “Kau hanya perlu melahirkannya saja.”

Mungkin ini adalah saatnya Naruto pergi dan meninggalkan mereka berdua sendirian... Namun adegan ini terlalu manis. Ternyata pria dingin itu bisa romantis juga. Eh... Tunggu! Entah kenapa Sakura sama sekali tidak tertarik oleh pembicaraan manis Sasuke. Mungkin hati wanita itu terbuat dari batu atau semacamnya. Ini pasti alasan kenapa Sakura selalu bermain film action dan bukan romance.

“Biarkan aku memikirkan ini dulu,” Sakura menghela napasnya.

Sasuke hanya mengangguk. Pria itu kemudian hanya bisa terus memperhatikan Sakura yang pergi dari kejauhan. Ternyata Sasuke punya hati nurani juga. Otaknya tidak hanya bisnis saja. Mungkin Naruto bisa membantunya meyakinkan Sakura. Dengan itu, Sasuke tidak akan murung lagi.

“Hei, Sasuke...” Naruto menepuk pundak sahabatnya, “Aku dekat dengan Sakura-chan jadi aku bisa memberi nasehat untuknya.”

“Hn.” Sasuke masih tampak khawatir, “Aku tidak menyangka hal ini akan terjadi.”

“Kau seharusnya tahu kalau kondom itu penting.” Naruto menghela napasnya, “Bahkan seharusnya kau menunggu saja sampai menikah.”

“Hn.” Sasuke menerawang lagi.

“Hei... Kalau aku berhasil membuat Sakura menikah denganmu, boleh tidak kau membantuku mencari bukti kalau Hinata tidak bersalah?” Naruto tersenyum puas, “Kali ini ada untungnya untukmu bukan? Give and take.”

“Mungkin aku bisa mencari jejak e-mail beserta telepon antara kakakku dan Hinata,” Sasuke melanjutkan, “Ini memang merepotkan dan aku harus menghubungi orang yang pandai IT... Namun kau harus meyakinkan Sakura.”

“Serahkan padaku-ttebayo!”

XXX


Pan Pacific Singapore
Image source : panpacific.com
Uzumaki Kushina duduk di lobby lounge, Pan Pacific Singapore sembari menikmati afternoon tea sendirian. Ia tidak menyangka Naruto tidak menjawab teleponnya selama satu bulan. Padahal selama ini anak bodoh itu selalu saja menunggu-nunggu jika Kushina menelponnya.

Sial. Ketika Kushina stress, ia jadi makan banyak kue. Kali ini satu set afternoon tea dengan kue-kue kecil itu hampir habis dilahap dirinya seorang. Pertama Naruto, kemudian ia jadi mengingat wanita jahanam itu. Ia tidak menyangka Naruto menyukai anak dari wanita itu. Anak dari Hyuuga Akiko itu adalah seorang kriminal. Ibu dan anak sama saja. Kushina ingat Akiko dulu pernah mengejar Minato. Karena itu... Kushina jadi...


Pan Pacific Afternoon Tea Set
Image source : growingwiththetans

“Kushina?”

Suara nyaring yang sangat ia kenal ini... Pasti suara dari Haruno Mebuki. Wanita itu adalah ibu dari Haruno Sakura. Walau Sakura dan Naruto terus menentang perjodohan ini, tapi Mebuki masih saja bersikeras. Sebenarnya Kushina juga sama. Ibu mana yang tidak ingin anaknya menikah dengan wanita yang sederajat? Lagipula jika Sakura dan Naruto menikah, proyek bisnis Kushina dan Mebuki akan jauh lebih lancar.

“Apakah aku boleh duduk di sini?” Mebuki tersenyum tipis.

“Tentu saja.” Kushina tersenyum juga, “Silahkan duduk.”


Kushina's Rosie Assoulin & Mebuki's Prada Spring 2016
Image source : stylecaster , thefashionspot
“Aku minta maaf soal perilaku Sakura,” Mebuki menghela napasnya, “Anak itu memang suka memberontak.”

“Ah... Aku juga harus minta maaf soal Naruto,” Kushina membungkuk, “Anak itu biasanya menurut... Tapi tenang saja, aku pasti bisa meyakinkannya untuk menikah dengan Sakura.”

“Sebenarnya aku tidak boleh memberitahukan ini kepadamu tapi...” Mebuki menggelengkan kepalanya, “Sakura hamil dan aku tidak tahu siapa ayahnya.”

Kali ini Kushina tersedak teh yang ia minum. Ia tidak menyangka hal ini terjadi kepada calon menantunya. Naruto tidak mungkin ayahnya, jika Naruto ayahnya... Mebuki pasti senang sekali.

“Aku ingin Sakura menggugurkan bayinya dengan begitu kita masih bisa menjodohkan anak kita—”

“Tidak boleh!” Kushina langsung berteriak.

Tangannya bergetar dan keringat dingin turun di pelipisnya. Ia jadi ingat waktu ia SMA dulu. Waktu itu ia dan Minato berpacaran. Ia sempat hamil... Ia tahu itu anak Minato... Namun karena saat itu Minato lebih kaya darinya, Keluarga Namikaze menentang hubungan mereka. Minato sama sekali tidak mirip dengan Naruto. Waktu itu Minato menuruti kemauan Keluarga Namikaze. Kushina belum sempat memberitahu kehamilan itu... Ia langsung pergi dari Tokyo dan melahirkan di tempat lain. Ia menitipkan bayinya di jalanan dan menjalani kehidupan yang baru. Ia tidak tahu bayi itu ada di mana sekarang. Namun ia tidak peduli. Ia tidak butuh bayi dari pria jahanam itu. Saat Kushina hamil, Minato malah dekat dengan Hyuuga Akiko.

“Ah! Sebentar... Ada temanku datang!” Mebuki bangkit berdiri dan melambaikan tangannya.

Seharusnya ia tidak mengajak Mebuki duduk. Ia benar-benar tidak menyangka teman yang Mebuki maksud adalah Uchiha Mikoto. Selama ini Kushina tidak pernah berbicara dengan Mikoto karena masalah Akiko dan Minato. Ia tahu Mikoto membantu Akiko untuk mendekati Minato.


Fendi Resort 2016
Image source : vogue
“Ku...Kushina?” Mikoto tampak kaget juga.

“Kalian saling kenal?” Mebuki tersenyum, “Kalau begitu aku ke toilet dulu... Kalian berbincang-bincang saja dulu!”

Saat Mebuki pergi, Kushina dan Mikoto hanya bisa terdiam. Mereka berdua sempat berteman lama... Namun karena masalah Minato, persahabatan mereka jadi hancur. Ia benar-benar tidak tahu harus berbicara apa kepada mantan sahabatnya itu.

“Sudah lama tidak bertemu,” Mikoto membungkuk.

“Ya.” Kushina menjawabnya dengan dingin.

“Kushina... Soal masalah waktu itu...”

“Maksudmu waktu kau membantu Akiko untuk mendekati Minato?” Kushina mendengus, “Selamat, karena itu aku meninggalkan Tokyo.”

“Kau salah paham Kushina...” Mikoto tampak serius, “Sungguh. Aku selalu ingin menjelaskannya kepadamu, tapi kau masih tidak mau mendengarkanku.”

“Salah paham apa?” Kushina menaikkan satu alisnya, “Aku hamil dan pria itu malah mengejar wanita lain!”

“Minato dan Akiko tidak saling menyukai...” Mikoto melanjutkan, “Waktu itu Akiko mendekati Minato hanya untuk membuat Hiashi cemburu.”

“Tapi...”

“Sungguh, percayalah padaku... Buktinya Akiko dan Hiashi menikah dan punya anak,” Mikoto melanjutkan, “Bahkan saat Hiashi dipenjara, Akiko tidak mengejar Minato. Wanita itu tetap setia menunggu sampai Hiashi bebas dari penjara.”

Kali ini Kushina melihat ketulusan dari kata-kata Mikoto. Selama ini ia selalu menghindari pembicaraan ini, tapi kali ini ia tidak bisa kabur lagi. Mungkin ia memang harus menerima kenyataan bahwa saat itu ia hanyalah gadis SMA yang penakut. Ia hamil dan ia takut Minato tidak ingin bertanggung jawab. Ia takut dan pergi begitu saja. Ia mengambil kesimpulan sendiri... Padahal memang Akiko yang mengejar Minato, ia tidak tahu apakah Minato menerima Akiko atau tidak. 

Selama ini ia hanya mengambil kesimpulan. Ia mengambil kesimpulan bahwa Minato tidak menginginkan bayinya. Ia mengambil kesimpulan bahwa Akiko dan Minato saling menyukai. Ia juga mengambil kesimpulan kalau Hinata adalah wanita jahanam. Mungkin... Mungkin saja Hyuuga Akiko adalah orang yang baik. Mungkin Hyuuga Hinata adalah orang yang baik juga.

XXX

TBC

XXX

A/N:

Halo semuanya! Aku harap kalian menikmati tahun baru kalian! Hows your new year’s resolution? Semoga semuanya berjalan dengan lancar! Untuk chapter ini... Aku senang menuliskan bagian afternoon tea. Kalau kalian membaca banyak ceritaku, kalian pasti tahu kalau aku suka menuliskan ritual minum teh ini. It’s my guilty pleasure! Hhehhee :)

Anyways, have a nice day everyone! I hope you’ll comment and leave a review... It means so much to me !

XXX

<<Previous chapter

6 comments:

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. Wow!! That's an interesting story ^_^! Ga sabar dengan kelanjutan ceritanya. Sakuranya beda banget dengan yang di ff kakak yang lain. Good job, Kak! Keep writing!

    ReplyDelete
  3. Hello ka melisa
    Aq sudah baca cerita ini yg kedua kalinya & berharap untuk membaca kelanjutannya
    Tetap semangat ya ka untuk ngelanjuti ceritanya
    Dan semoga sukses untuk kuliahnya

    Uchi

    ReplyDelete
  4. Hello kak. Aq sdh bc in fic ceritany bagus banget tahu . tolong cptan yahk dilanjutiny ,soalny udh gk sabar pengen baca kelanjutany

    ReplyDelete
  5. aku suka banget sama ceritanya, lanjutin lagi dong kak! aku penasaran ^^

    ReplyDelete
  6. It's September 2018..n I don't know when the next chapter will be published ☺

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...