Marrying Uchiha Sasuke : Chapter 19

05:16 Melissa Gabriele 21 Comments

Marrying Uchiha Sasuke

Chapter 19

The Proposal


Katikies Suite
Image source : thebackpackers.net
Disclaimer : I do not own Naruto


Pagi itu, Uchiha Sakura duduk termenung di tepi kolam kamarnya. Hotel Katikies terletak di tebing Oia, 92m di atas laut. Di dalam kamar hotel Sakura, ada kolam renang pribadi yang terletak di goa putih kecil. Goa putih buatan itu tampak senada dengan interior hotel yang berwarna putih bersih. Dari goa, Sakura dapat melihat gunung hijau dan lautan biru Santorini. Interior hotel yang putih itu tampak kontras dengan laut biru Santorini. Semuanya tampak romantis dan sempurna, kecuali ekspresi Sakura. Wanita itu tampak lesu, kerutan muncul di dahinya dan pandagannya menerawang jauh. 

“Sakura-chan!!!” 

Suara Naruto menyadarkan Sakura dari lamunannya. Saat ia berpaling, ia dapat melihat pria berambut pirang yang sibuk membawa dua tas belanjaan duty free di tangannya. Kelihatannya Naruto baru saja datang dari bandara. Dari belakang, Sakura dapat melihat Hinata yang berjalan menyusul.

“Maaf kami masuk ke kamar hotelmu tiba-tiba.” Hinata menunduk dengan sopan.

“Tidak apa-apa.” Sakura berusaha untuk memalsukan senyumannya.


Naruto's Asos Top, Hinata's Proenza Schouler Spring 2016 ready-to-wear, Sakura's Self Potrait Daphne
Image source : blurstyle.com , vogue.com ,   matchesfashion.com
“Lihat Sakura-chan! Aku membawa banyak wine untuk Sasuke dari airport duty-free!” Naruto mengeluarkan botol-botol anggur dari tas belanjaannya.

“Wah, terimakasih Naruto.” Sakura menjawabnya dengan lemas.

“Oh ya, Sasuke kenapa sih? Tadi ia tampak lesu membukakan pintu kamar hotel...” Naruto menggaruk-garuk kepalanya, “Ia juga langsung pergi begitu saja tanpa basa-basi! Padahal aku sudah membawakan anggur kesukannya!”

“Oh ya?” Sakura menerawang jauh.

“Ada apa dengan Sasuke?” Naruto menaikan satu alisnya.

Mendengar nama suaminya disebut, Sakura langsung merasa sakit hati. Ia belum berbicara dengan Sasuke semenjak kejadian di helikopter waktu itu. Ia terlalu takut untuk menatap wajah suaminya. Sakura masih mengingat jelas ekspresi kecewa di wajah Sasuke ketika pria itu tahu akan rahim keringnya. Tidak... Ia tidak ingin mengingatnya lagi.

“Hei.... Kalian tidak apa-apa bukan?” Naruto terdengar khawatir, “Apa ada sesuatu yang terjadi?”

“Kami baik-baik saja.” Sakura berbohong.

“Benarkah?” Naruto tampak tidak percaya.

“Ya.” Sakura tidak berani menatap wajah Naruto.

“Kalau begitu, aku kembali ke kamar hotel dulu,” Naruto melanjutkan.

“Kau duluan saja Naruto-kun.” Hinata tersenyum dan duduk di sebelah Sakura.

Mendengar itu, Naruto berjalan pergi meninggalkan mereka berdua. Tampaknya Hinata mengerti akan kondisi Sakura. Wanita berambut hitam itu dengan perhatian duduk di sampingnya tanpa berbicara apa-apa. Mungkin ini yang Sakura perlukan sekarang. Ia tidak perlu ditanyakan apa-apa. Ia hanya perlu ditemani.

“Hinata...”

“Ya?”

Sakura terdiam sejenak. Ia bukanlah orang yang suka mengutarakan masalahnya kepada orang lain. Sejak kecil ia berusaha untuk menimbun perasaannya sendirian. Mulai dari perceraian keluarganya, sampai pernikahan pura-puranya dengan Sasuke. Kali ini, ia seharusnya bisa melewati masalah rahim kering. Ia seorang dokter. Ia tahu masalah ini punya beberapa macam solusi. Namun, ia tahu setiap solusi itu... Mulai dari terapi sampai bayi tabung butuh proses yang lama. Presentase kesuksesannya juga tidak besar....

Apakah ia butuh memberitahukan hal ini kepada Hinata?

Tidak.

Ia bisa melewati ini sendirian. Sakura akan mencari solusinya sendiri. Ia tidak boleh merepotkan Sasuke, Naruto maupun Hinata. Masalah ini adalah masalahnya. Namun... Kalau boleh jujur. Ia takut. Ia begitu takut akan reaksi Sasuke. Apakah karena masalah ini pria itu akan meninggalkannya? Apakah pria itu akan mencari wanita lain untuk memiliki penerus? Sakura tahu suaminya ingin segera mengalahkan Itachi. Sakura tidak bisa memberikan penerus secepat itu untuk Sasuke....

“Hinata...” Sakura menghela napasnya, “Bagaimana ekspresi Sasuke tadi?”

Mendengar pertanyaan Sakura, wanita berambut hitam itu tersenyum tipis, “Ia tampak lelah. Mungkin jet lag?”

Jet lag? Tidak mungkin. Pria itu sudah sering berkeliling dunia untuk liburan dan bisnis. Sejak kecil, tubuh Sasuke sudah dibiasakan untuk tidur di belahan dunia yang berbeda-beda. Tidak mungkin pria dingin itu jet lag. Pasti suaminya merasa kesal, sedih dan marah akan kondisi rahim Sakura. Pasti... Sasuke membenci Sakura.

“Kolam renang ini indah ya?” Hinata berusaha untuk memecahkan keheningan.

Private Pool
Image source : flickr.com
Ya. Kolam renang ini memang indah. Kamar hotel Sakura adalah kamar termahal di sini. Goa buatan berwarna putih ini dibuat khusus untuk penthouse suite di Hotel Katikies. Mana mungkin tidak indah. Namun apa artinya tempat yang indah kalau suami Sakura sendiri saja tidak berada di dekatnya? Sepanjang perjalanan mereka ke Santorini... Sakura dan Sasuke sama sekali tidak berbicara apa-apa. Mereka berdua hanya terdiam, kemudian sesampainya di Santorini, mereka berpencar.

“Sasuke sialan.” Sakura akhirnya berbisik dengan kesal.

Hinata tampaknya mendengar bisikan Sakura. Pacar dari Namikaze Naruto itu langsung menepuk pundak Sakura dan berbisik juga, “Maafkan aku...”

Mendengar permintaan maaf Hinata, Sakura langsung kaget. Ia tidak menyangka wanita itu akan meminta maaf. Untuk apa? Yang salah di sini adalah Sakura karena tidak bisa hamil. Satu orang lagi yang salah adalah Sasuke. Pria itu pergi tanpa mendiskusikan apa-apa. Hinata sama sekali tidak bersalah.

“Kau tidak perlu minta maaf Hinata...” Sakura tersenyum tipis, “Kau tidak salah apa-apa.”

“Namun... Kalian berdua menikah karena aku tidak ingin dijodohkan dengan Sasuke-kun.” Hinata tampak sedih, “Kalian terpaksa menikah karena keegoisanku.”

“Hinata...”

“Aku menemukan cincin pertunangan di saku Naruto-kun...”  

Kali ini Sakura merasa napasnya berhenti sejenak. Jadi Hinata sudah tahu kalau akan rencana Naruto? Tunggu... Kalau begitu, Hinata tahu kalau tujuan Naruto datang ke Santorini bukanlah untuk berlibur, tapi untuk melamar Hinata?

“Kalau aku sudah bertunangan dengan Naruto-kun... Apakah itu artinya kau dan Sasuke-kun akan berpisah?”

Sakura belum memikirkan itu sebelumnya. Kalau dipiki-pikir lagi... Memang awalnya Sakura memang terpaksa menikah dengan Sasuke untuk membantu Naruto dan Hinata. Namun, ia pikir Sasuke sudah benar-benar menyukainya, begitu juga dengan Sakura. Ia pikir pernikahan mereka sudah tidak lagi palsu, tapi serius.

“Sakura-san?”

Namun setelah Hinata mengungkit hal itu lagi... Sakura jadi berpikir keras. Ah, kemudian ekspresi kecewa Sasuke kemarin... Pria itu rasanya seperti jatuh ke lubang yang sangat dalam. Apakah ini artinya semuanya sudah berakhir? Apakah Sakura dan Sasuke sudah tidak bisa lagi bersama?

“Kau tahu tidak kenapa Sasuke hanya ingin menikah denganmu?” Hinata menatap Sakura dengan serius, “Karena ia tahu kau orang yang baik... dan ia tahu kau pasti setuju untuk menikah karena aku dan Naruto-kun.”

“....”

“Kemudian... Ada sebagian dari diriku yang percaya kalau Sasuke-kun sudah menyukaimu dari dulu Sakura-san.” Hinata tersenyum hangat, “Dari sekian banyak wanita... Ia menyebut dirimu yang paling baik.”

Tanpa Sakura sadari air mata jatuh ke bibir Sakura. Air mata yang dingin itu membuat Sakura semakin lemas. Ternyata Sasuke memang menyukainya. Pria itu begitu tsundere sampai-sampai Sakura tidak menyadarinya... Namun Hinata benar. Dari sekian banyak wanita, Sasuke memilihnya. Pria itu tidak ingin menikahi siapapun kecuali Sakura. Pria itu merasa Sakura adalah wanita yang paling baik untuk pernikahan pura-pura ini. Sungguh, Sakura tidak menyangka kalau hari ini akan datang. Bukan karena Sakura merasa takut bercerai... Namun ia menangis karena sebagian dari dirinya ingin bercerai.

Mengapa?

Karena ia begitu mencintai Sasuke... Ya. Ia mencintai pria yang diam-diam mencintainya itu. Ia ingin suaminya bahagia. Jika pria itu bisa menemukan wanita yang bisa memberikan keturunan untuknya. Bukankah pria itu akan merasa bahagia? Jika pria itu bahagia... Sakura juga akan merasa bahagia.

XXX


Santorini
Image source : lifehack.org
Kisame berjalan menelusuri Desa Pyrgos Kallistis bersama Uchiha Itachi. Desa di Santorini itu tampak tenang dan tentram. Ia dapat melihat bangunan-bangunan khas Santorini yang berwarna putih bersih dengan atapnya yang biru. Ia juga bisa melihat bunga-bunga berwarna merah muda yang tampak kontras dengan atap dan temboknya.


Santorini steps
Image source: favim.com
Santorini memang indah, tapi alasan Kisame pergi ke tempat ini bukanlah untuk berlibur. Alasan ia pergi ke tempat ini sama seperti alasan ia pergi ke konser musik klasik di Tokyo. Ya. Ini semua karena Akatsuki Konan. Ia mendapat undangan musik klasik karena Konan diundang untuk bermain flute di festival musik Santorini. Ia tahu wanita itu memang berbakat dalam bidang ini. Meski Keluarga Konan tidak lagi kaya, tapi wanita itu bisa mencari uang sendiri. Mungkin ini adalah salah satu alasan kenapa Kisame merasa Konan adalah wanita yang spesial.

“Kisame.”

Suara Itachi menyadarkan Kisame dari lamunannya. Pria bermarga Uchiha itu tampak serius. Meskipun raut wajah Itachi memang selalu serius, tapi Kisame dapat melihat kerutan lebih di dahi pria itu.

“Apakah kau tidak merasa ada yang aneh dengan Konan?” Ujar Itachi.

Kisame hanya bisa terdiam dan berpikir keras. Aneh? Tidak ada yang aneh soal Konan. Wanita itu adalah wanita idaman Kisame. Wanita yang tidak bisa ia lupakan. Meski ia sudah menikah, meski ia sudah berselingkuh... Tidak ada wanita yang bisa memuaskan Kisame seperti Konan. Sayangnya, wanita itu sudah tidak ingin bersamanya. Wanita itu malah bersama dengan ayah Sakura. Tunggu. Mungkin itu yang aneh. Ya. Kenapa wanita cantik seperti Konan ingin bersama dengan ayah Sakura?

“Konan dan Kizashi sudah berpacaran cukup lama, tapi mereka belum menikah,” Itachi melanjutkan, “Kemudian... Aku dengar Kizashi tidak datang ke Santorini hari ini.” 

Kali ini Kisame merasakan detak jantungnya berhenti sejenak. Berani sekali pria tua itu tidak datang ke konser musik pacarnya sendiri. Rasanya Kisame ingin memukul pria kurang ajar itu. Kizashi membunuh bayi Kisame dan Konan... Kemudian ia tidak mendukung Konan di hari yang penting seperti ini. Pria itu tidak pantas memiliki Konan. Kisame yang pantas, bukan pria tua itu.

“Pria busuk itu seharusnya tidak mendapatkan Konan.” Kisame membuang ludahnya ke jalanan Santorini.

“Aku merasa Konan menyembunyikan sesuatu dari kita...” Itachi menerawang jauh.

“Itachi? Kisame?” Suara lembut Konan terdengar merdu di telinga Kisame.


Kisame's Calvin Klein S/S 2016, Konan Dolce & Gabbana S/S 2016, Itachi's Calvin Klein S/S 2016
Image source : thefashionspot.com , net-a-porter.com , thefashionspot.com

Suara itu... Ia tidak mungkin melupakan suara itu. Suara wanita yang sangat ia cintai. Suara, Akatsuki Konan. Suara itu datang dari restoran di pelabuhan Santorini. Ia dapat melihat Konan. Kulit putih porselennya dan rambut hitam legam wanita itu membuat Kisame terpesona. Tubuhnya yang kurus dan tinggi tampak seperti model papan atas. Senyuman tipisnya yang elegan membuat Kisame berhenti bernapas sejenak.

Itachi masuk ke restoran itu terlebih dahulu, sementara Kisame masih saja terpesona melihat wanita cantik itu. Dari kejauhan ia dapat melihat Konan membungkuk dan menyapa Itachi. Senyuman wanita itu tampak simetris dan elegan.

Setelah lama menatap Konan dari kejauhan, Kisame berjalan masuk ke restoran juga. Restoran outdoor yang dekat dengan laut itu sangat padat. Kisame melewati beberapa meja yang ramai sebelum akhirnya sampai ke meja Konan. Ia dapat melihat beberapa hidangan laut sudah disajikan. Hidangan seperti lobster rebus, ikan bakar, cumi goreng dan oyster segar tertata rapih di atas meja. 


Seafood platter
Image source : taste.com.au
“Apa kabarmu Kisame?” Konan tersenyum tipis, “Kita jarang bertemu... Jadi kuharap kau baik-baik saja.”

Konan, Kisame dan Itachi memang jarang bertemu. Mereka hanya bertemu ketika wanita itu punya konser atau acara musik. Awalnya hubungan mereka memang aneh karena Konan pernah berpacaran dengan mereka berdua. Apalagi Konan juga pernah mengandung anak Kisame. Namun ia merasa Konan masih menjalin hubungan dengan Kisame dan Itachi untuk koneksi bisnis saja. Apalagi Kisame dan Itachi sering memberi sumbangan untuk konser Konan. 

Jadi... Jika Konan berperilaku baik padanya... itu hanya untuk bisnis saja. Meskipun begitu, Kisame tetap berharap jika ia bertambah kaya dan meneruskan usaha keluarganya... Ia bisa mendapatkan Konan lagi. Ia tidak lagi harus mendengarkan peraturan keluarganya untuk menikahi wanita kaya. Ia bisa mendapatkan Konan.

“Kisame?” Konan menyadarkan Kisame dari lamunannya, “Apakah kau baik-baik saja?”

“Ah. Baik.” Kisame duduk di kursinya sambil terus menatap Konan, “Bagaimana denganmu dan bapak tua itu?”

“Kenapa kau terus menyebutnya bapak tua?” Konan tetap tersenyum, “Namanya Haruno Kizashi.”

“Terserah. Bagiku dia bapak tua.”

“Oh ya, Itachi, bagaimana dengan adikmu dan Sakura-san?” Konan bertanya kepada Itachi, “Apakah mereka baik-baik saja?”

“Ah. Kizashi-san masih belum mengenalkanmu pada Sakura?” Itachi langsung membaca keadaan.

“Aku rasa Sakura-san membenciku.” Konan menghela napasnya.

“Lalu kenapa?” Kisame tampak tidak senang, “Sakura bukanlah wanita yang baik. Kau tidak perlu berteman dengannya.”

“Kisame...” Konan tampak tidak setuju, “Ia adalah anak dari pacarku, tentu saja aku ingin dekat dengannya.”

“Tidak perlu. Sebentar lagi juga kau akan putus dengan Kizashi.” Kisame langsung mengambil kepiting dan memotongnya menjadi dua, “Seperti kepiting ini.”

Kali ini Konan tertawa perlahan. “Kau tidak berubah Kisame... Masih saja suka bercanda.”

“Aku tidak bercanda!” Kisame memotong satu kepiting lagi.

“Memangnya Kizashi-san ada dimana sekarang?” Itachi bertanya.

“Ah... Itu...” Konan tampak ragu, “Kurasa ia sedang sibuk.”

Mendengar jawaban Konan, Kisame jadi makin marah. Ia langsung menaikan nada bicaranya, “Itu alasan saja!”

“Kisame...” Kali ini Itachi yang menepuk pundaknya, “Jangan berteriak begitu.”

“Tapi tidak apa-apa, aku senang kalian tetap datang dan mendukungku.” Konan tersenyum tipis.

“No worries, it’s our pleasure,” Itachi membalas senyuman itu.

“Dukungan kalian berdua sangat berarti bagiku.” Konan menatap mereka dengan tulus.

Hubungan Itachi, Kisame dan Konan terlalu rumit untuk dijelaskan. Sampai saat ini Kisame dan Itachi masih mencintai Konan. Namun Konan malah berpacaran dengan ayah Sakura. Tentu saja, Kisame ingin merebut Konan dari om-om itu. Namun, semuanya butuh proses... Kisame harus menjadi sukses dan meneruskan usaha ayahnya dulu. Dengan begitu, ia bisa menceraikan istrinya dan mendapatkan hati Konan.

Ya. Ia bersumpah akan mendapatkan Konan.

Ia mencintai Konan dengan sepenuh hati dan ia merasa sakit. Ia kehilangan Konan, ia kehilangan bayinya... Itu semua karena Ayah Sakura.

Ayah Sakura merebut Konan dari Kisame. Selamanya ia tidak akan memaafkan pria busuk itu. Kesahalan itu harus dibayar, putri kandungnya juga harus membayarnya. Ya, Uchiha Sakura juga harus membayar kesalahan ayahnya.

XXX
Santorini sunset
Image source : adventureswithandrea.com
Uchiha Sakura berjalan menuju ke pantai Santorini yang indah. Pantai yang putih bersih itu tampak kontras dengan lautnya yang biru tua. Sore itu, matahari tampak mulai terbenam. Rencananya Sakura, Sasuke, Naruto dan Hinata pergi ke sebuah konser musik kecil di atas kapal Oia. Kemudian konser musik itu akan ditutup dengan cruise party dan kembang api yang indah. Namun sebelum mereka sampai ke kapal itu, Naruto punya rencana lain. Pria itu ingin melamar Hinata.

Sakura tahu rencana itu karena beberapa jam yang lalu, ia dan beberapa kru hotel membantu Naruto menyiapkan lilin-lilin yang indah di tepi pantai. Sakura juga sempat meminta bantuan pemain musik untuk mengiringi proses lamaran itu. Ada pemain biola dan cello yang siap memainkan lagu romantis untuk Naruto.

Kapal terlihat semakin dekat, begitu juga lilin-lilin yang sudah Sakura siapkan. Saat mereka sampai di tepi pantai, Naruto akhirnya berhenti berjalan. Pria itu mengenggam tangan Hinata dan menatap pacarnya dengan serius.

Hinata's Elie Saab S/S 2016 Couture, Naruto's Canali Tuxedo
Image source : vogue.com. , bloomingdales.com 
Sakura dan Sasuke hanya bisa melihat dan tidak berbicara apa-apa. 

Ah. Sekarang pria itu sudah berlutut di satu kaki. Tangannya meraih cincin di sakunya kemudian ia mulai mengutarakan kata-kata yang romantis. Musik bermain di latar mereka. Hinata tampak bahagia dan mulai menangis terharu.

Kali ini Sakura mengeluarkan kameranya dan memotret kedua pasangan itu. Setelah jepretan pertama selesai, Naruto dengan bahagia langsung memeluk dan mencium Hinata. Kali ini, Sakura menjepret kameranya sekali lagi.

“Dia bilang iya!!!” Naruto berteriak senang sambil melambaikan tangannya ke arah Sakura.

Wanita bermarga Uchiha itu hanya bisa tersenyum tipis. Entah kenapa ia merasa bahagia bercampur sedih. Apakah ini artinya ia sudah siap untuk berpisah dengan Sasuke? Cincin pertunangan itu sudah disematkan ke jari manis Hinata. Kelihatannya waktunya sudah tiba.


Hinata's engagement ring
Image source : ask.com
Dengan cepat Hinata dan Naruto berjalan menuju ke arah Sakura. Mereka berdua benar-benar tampak bahagia. Meskipun Hinata sudah tahu Naruto akan melamarnya, wanita itu tetap tampak terkejut dan senang. Senyuman wanita itu terlihat hangat dan rona merah muda muncul di pipinya.

“Selamat ya!” Sakura tersenyum kepada kedua pasangan itu.

“Terimakasih Sakura-chan!” Naruto tersenyum bahagia, “Ayo kita rayakan hari bahagia ini!”

“Ayo kita masuk kapal Oia.” Hinata menanggapi Naruto, “Kita bisa menikmati wine sembari menonton konser musik.”

Mendengar saran Hinata, Sakura mengangguk. Mereka berempat akhirnya berjalan masuk ke kapal Oia. Namun sepanjang perjalanan itu, Sasuke masih saja tidak berbicara apa-apa kepada Sakura. Pria dingin itu tampak serius. Tatapannya lebih dingin dan lebih tajam dari biasanya. Kerutan stress ada di dahinya. Entah kenapa, Sakura masih belum memiliki keberanian untuk berbicara dengan Sasuke.


Oia Party
Image source : yachtmasters.com
“Selamat datang di Kapal Oia!” Salah satu pegawai di kapal itu memeberi salam, “May I look at your invitation please?”

Sesampainya mereka di kapal itu, Naruto dan Hinata berpencar. Sementara, Sakura dan Sasuke sendiri juga berpencar. Rasanya terlalu aneh jika Sakura berdiri terlalu lama di dekat Sasuke. Entah kenapa ia merasa suasana di sekitar mereka terlalu kaku dan dingin. Biasanya Sakura yang memecahkan es di antara mereka berdua, tapi hari ini Sakura terlalu sedih dan lemas untuk melakukannya. 

Wanita bermarga Uchiha itu sudah menyiapkan diri agar dirinya siap untuk dipanggil Haruno lagi. Perisapan batinnya itu membuat dirinya merasa tidak nyaman berada di dekat Sasuke. Entah kenapa semakin ia dekat dengan suaminya, semakin sedih hatinya.

Sasuke's Armani Collezioni Suit, Sakura's Marchesa Spring Couture 2016
Image source : saksfifthavenue.com , vogue.com
“Ladies and gentleman... We will begin our music festival, please enjoy your stay!”

Suara awak kapal terdengar di speaker, kemudian kapal itu mulai berlayar di laut Santorini. Langit sore perlahan berubah menjadi gelap, kemudian musik klasik mulai terdengar dengan merdu. Sakura dapat mendengar alunan biola dan piano yang lembut. Kemudian simfoni yang anggun itu perlahan berubah menjadi ceria. Musik yang riang itu membuat orang-orang mulai berdansa.

Dari kejauhan Sakura dapat melihat Naruto dan Hinata berdansa di atas kapal. Kemudian ia juga bisa melihat Sasuke yang terdiam di ujung deck sambil menikmati red wine sendirian. Entah kenapa ia ingin mengajak pria itu berdansa, tapi kakinya seakan-akan diikat oleh rasa takut.

“Sakura?”

Kali ini Sakura dapat mendengar suara yang sangat ia kenali. Ternyata Uchiha Itachi ada di kapal yang sama. Pria itu mengenakan tuxedo dan tampak formal. Gawat. Entah apa yang akan terjadi jika Sasuke melihat Itachi ada di kapal yang sama dengan mereka. Ia tahu suaminya sangat membenci Itachi. This is bad. Very bad. Sasuke tidak boleh melihat Itachi!

“Apakah kau sendirian saja?” Itachi bertanya.

“Ya! Aku sendirian saja.” Sakura langsung menarik Itachi dan mengajaknya pergi dari kerumunan, “Ayo kita pergi ke sana!”

Setelah mereka jauh dari jangkauan Sasuke, wanita bermarga Uchiha itu langsung terdiam dan merasa bingung. Sial. Sekarang apa yang harus ia katakan kepada kakak iparnya? Ia benar-benar tidak memiliki topik apa-apa. Yang ada dipikiran Sakura hanyalah membawa Itachi jauh dari Sasuke saja.

“Uh... Lagunya bagus ya!” Sakura langsung mencari topik.

“Aku tidak tahu kau menyukai musik klasik.” Itachi tampak kagum, “Siapa komposer favoritmu?”

“Mozart, Chopin, Beethoven!” Sakura langsung menyebutkan nama komposer terkenal yang ada di benaknya.

Sungguh. Sakura benar-benar tidak tertarik akan musik klasik sekarang, tapi ia benar-benar tidak tahu lagi harus berbicara apa dengan Itachi. Ia dan kakak iparnya jarang berbicara. Ia sendiri bahkan tidak tahu kalau Itachi menyukai musik klasik.

“Begitukah? Aku tidak begitu menyukai Chopin... Ia terlalu melankolis,” Itachi menanggapi, “Aku menyukai Mozart. Kurasa semua orang di dunia menyukai Mozart.”

Kali ini musik klasik yang awalnya diiringi oleh biola dan piano itu berganti dengan cepat. Sakura dapat mendengar suara flute yang merdu bergema di sekitar kapal. Suara itu benar-benar sangat indah. Ia yang biasanya tidak menyukai musik klasik sampai terpesona mendengarnya. Ketukannya begitu lincah, rasanya seperti jangkrik yang meloncat di atas daun. Setiap nadanya begitu ringan dan menyegarkan. Alunan musik ini membuat para tamu semakin riang berdansa.

“Indah bukan?” Itachi ikut menikmati musik itu, “Wanita yang bermain flute ini sangat berbakat.”

“Ya... Kau benar.” Sakura mengangguk.

“Apakah kau ingin berdansa?” Itachi mengulurkan tangannya.

Kali ini Sakura kaget menerima ajakan dari kakak iparnya. Pria itu tampaknya serius mengajak Sakura berdansa. Ini bohong bukan? Sakura benar-benar tidak enak menolaknya. Namun ia rasa semuanya akan baik-baik saja jika Sasuke tidak melihatnya.

“Baiklah.” Sakura mengulurkan tangannya juga, “Satu lagu saja.”

Itachi menuntun Sakura dengan perlahan tapi pasti. Pria itu benar-benar tahu cara berdansa. Setiap ketukan dari lagu itu dihayati oleh Itachi. Rasanya Itachi benar-benar mencintai lagu itu dengan sepenuh hatinya. Sakura dapat merasakannya dari setiap gerakan kakak iparnya.

“Kau sangat menyukai lagu ini ya?” Sakura bertanya sambil ikut berdansa.

“Ya.” Itachi mengangguk, “Concerto for Flute and Orchestra G-dur K 313, 285C.”

“Kau hafal namanya?” Sakura tampak kagum.

“Lagu ini adalah lagu pertama yang berhasil dimainkan oleh mantan pacarku.” Itachi tersenyum hangat, “Jadi aku masih mengingatnya.”

Mantan pacar? Apakah mantan pacar itu adalah Konan? Senyuman hangat Itachi tampak penuh kasih sayang. Kelihatannya Itachi masih belum bisa melupakan Konan. Entah ini hanya perasaan Sakura saja atau bukan... Namun senyuman itu benar-benar tampak seperti pria yang sedang jatuh cinta.

“Sakura, apa yang kau lakukan?” Suara Uchiha Sasuke membuat tarian mereka berhenti.

Dengan cepat Sasuke menarik tangan Sakura pergi dari tangan Itachi. Suaminya tampak lebih kesal dari yang tadi. Sakura dapat melihat satu kerutan lagi muncul di dahi Sasuke. Kelihatannya suaminya tidak senang Sakura berdansa dengan pria lain selain dirinya. Apalagi pria itu adalah Uchiha Itachi.

Gawat. Sekarang apa yang harus Sakura lakukan?

“Kami permisi.” Sasuke menarik tangan Sakura dan membawanya jauh dari Itachi.

Tangan Sasuke terasa hangat. Jauh lebih hangat dari tangan Itachi. Entah kenapa Sakura merasa hatinya berdebar semakin kencang ketika Sasuke membawanya pergi jauh dari Itachi. Rasanya sudah lama Sakura tidak melihat pria itu cemburu— Tunggu dulu. Ia bisa saja hanya marah karena Itachi adalah musuh terbesarnya. Pria itu tidak cemburu, tapi marah. Ya. Sakura yakin Sasuke sedang marah padanya.

“Sakura...” Suara pria itu terdengar kesal, “Jelaskan padaku apa yang terjadi tadi.”

“Aku bertemu dengan Itachi... Kemudian ia mengajakku berdansa,” Sakura menjawab suaminya.

“Kenapa kau setuju untuk berdansa dengannya?” Sasuke menaikan satu alisnya.

“Karena aku merasa tidak enak.”

Kali ini Sasuke menghela napas panjang. Kelihatannya pria itu tampak khawatir akan keadaan Sakura. Mungkin ia takut Itachi akan melakukan hal yang buruk kepada Sakura atau semacamnya.

“Sasuke... Apakah kau marah padaku?” Sakura menatap bola mata hitam Sasuke dalam-dalam.

“Entahlah.”

Apa maksudnya dengan entahlah? Tentu saja ia marah. Sakura dapat melihat amarah dari tatapan pria itu. Meski hanya sedikit, tapi ia tahu amarah itu ada. Ia dan Sasuke sudah bersama cukup lama. Ia bisa membaca ekspresi wajah suaminya sendiri. Mungkin ini adalah saatnya Sakura pergi. Mungkin pria itu butuh waktu untuk menyendiri.

“Aku permisi...” Sakura membungkuk dan meninggalkan Sasuke.

Namun tiba-tiba, tangan hangat pria itu bertemu dengan pergelangan tangan Sakura. Pria itu menarik Sakura tanpa tujuan yang jelas. Wanita bermarga Uchiha itu berusaha untuk melepaskan tangan Sasuke, tapi ia gagal. Tangan itu terlalu kuat.

“Ada apa?” Sakura menaikan satu alisnya.

“Seharusnya aku menanyakan itu kepadamu.” Sasuke balik bertanya, “Kenapa kau menjauhiku?”

“Aku... Tidak pantas untuk berada di sisimu.” Sakura menghela napasnya, “Kau seharusnya bersama dengan wanita yang bisa memberikan keturunan untukmu.”

“Jadi itu yang ada di benakmu?” Sasuke melepaskan pergelangan tangan Sakura.

“Hinata dan Naruto sudah bersama sekarang,” Sakura melanjutkan, “Bukankah itu artinya kita tidak harus bersama lagi?”

Kali ini Sakura tidak berani menatap wajah Sasuke. Ia takut melihat ekspresi wajah pria itu. Ia terlalu takut untuk menghadapi kenyataan bahwa hubungan mereka akan sampai ke ujungnya. Padahal awalnya ia yakin ia ingin berpisah dengan Sasuke. Ia yakin bahwa ia bahagia ketika Sasuke bahagia. Namun malam itu, ia benar-benar tidak ingin melihat ke atas. Sakura hanya bisa menatap lantai kapal yang dingin.

“Setelah kau tahu aku tidak bisa memiliki anak, kau hanya terdiam saja.” Sakura melanjutkan, “Sekarang kau juga terdiam saja. Itu artinya aku memang tidak ingin bersamaku lagi bukan? Lagipula bukankah pernikahan ini awalnya hanya pernikahan paksa?”

“Sakura—”

Sebelum Sakura dapat mendengar sisa dari kalimat Sasuke, suara kembang api mulai terdengar. Suara letusan itu membuat suara musik mulai redup. Para tamu mulai berteriak senang. Kali ini, Sakura menatap langit malam yang berubah menjadi terang karena percikan kembang api yang berwarna-warni. Kembang api kecil datang dan pergi, kemudian kembang api kecil itu selesai. Kali ini suara gendang terdengar dan kembang api besar keluar dari gunung.


IFESTIA Santorini Festival
Image source : youtube.com
Orang-orang mulai bersorak-sorai. Kemudian suara speaker terdengar dari kapal.

“Kembang api ini mejadi simbol Letusan Thera yang terjadi pada 1613 BC. Pulau Santorini adalah hasil dari letusan gunung berapi ini,” Awak kapal menjelaskan, “Dengan demikian, setiap tahun, kotamadya Santorini, menyelenggarakan acara representasi dramatis realistis ledakan vulkanik dengan kembang api, tarian tradisional, kostum, konser musik, makanan lokal dan masih banyak lagi.”

Sakura menatap letusan kembang api di dekat gunung. Rasanya benar-benar mirip dengan gunung yang meletus. Ternyata Santorini yang indah itu dibentuk karena letusan gunuk vulkanik. Luar biasa. Sebuah bencana ternyata bisa menghasilkan keindahan. Gunung meletus yang seharusnya mencerminkan sebuah bencana, ternyata membuahkan pulau Santorini yang luar biasa cantik.

“Awalnya pernikahan ini seperti bencana.” Sasuke melanjutkan, “Aku terpaksa menikah, tapi paling tidak aku tahu aku menikahi wanita yang baik.”

Sakura masih tidak berani menatap suaminya.

“Ada banyak hal buruk yang terjadi, tapi ternyata dibalik hal buruk itu, banyak hal baik yang terjadi,” Suara Sasuke semakin lembut.

Istri dari Uchiha Sasuke itu mulai mengingat kenangan-kenangan mereka. Saat mereka pertama berciuman, pernikahan mereka, malam pertama yang tidak jadi... Kemudian nina bobo yang sangat kacau itu... Semua kenangan itu begitu buruk dan indah di saat yang bersamaan.

“Aku tidak pandai menghibur orang.” Sasuke menepuk pundak Sakura, “Aku takut jika aku mengajakmu berbicara kau akan semakin sedih.”

Kali ini Sakura memberanikan diri dan menatap wajah suaminya. Ia dapat melihat raut wajah khawatir. Kerutan di dahinya masih ada. Kelihatannya pria itu sebenarnya tidak marah padanya. Sebenarnya, Uchiha Sasuke khawatir luar biasa akan kondisinya.

“Aku tidak tahu apa yang bisa kulakukan.” Sasuke menghela napasnya, “Namun, berpisah bukanlah pilihan yang ada di benakku.”

“Tapi kalau kau bisa memiliki anak dengan wanita lain... Kau akan bahagia....”

“Mungkin aku akan bahagia...” Sasuke menerawang jauh, “Tapi, bagaimana denganmu?”

Kali ini Sakura malah merasa hatinya semakin berat. Mendengar Sasuke yang menjawab kalau ia bahagia bersama wanita lain ternyata sangat berat. Sakura tidak siap dengan jawaban ini. Ia memutuskan untuk berpisah, tapi berpisah ternyata tidaklah mudah.

“Aku rasa aku akan baik-baik saja.” Sakura berusaha untuk menahan tangisnya.

“Sakura...”

“Sasuke, aku benar-benar ingin kau memiliki penerus dengan wanita yang sepadan untukmu.” Sakura menatap suaminya dengan serius, “Kumohon—”

“Besok...” Sasuke menutup bibir Sakura dengan jemarinya, “Kita akan memikirkan ini besok.”

“Sasuke...”


The fireworks
Image source : experience-santorini.net
“Hari ini, kita anggap saja tidak ada hal buruk yang terjadi.” Sasuke meraih tangan Sakura dan menuntun istrinya berdansa, “Hari ini kita hanyalah sepasang suami istri yang sedang berlibur.”

Sakura terhanyut dengan gerakan tangan Sasuke yang lembut tapi pasti. Dansa Sasuke berbeda dengan Itachi. Rasanya dansa bersama Sasuke begitu hangat, tapi juga begitu sedih. Wanita bermarga Uchiha itu tidak ingin melepaskan tangan dari suaminya. Kenapa? Mungkin saja besok ia tidak bisa mengenggam tangan itu lagi....

XXX


Suite, Paris
Image source : shangri-la.com
Eiffel Duplex Terrace Suite di Shangri-La hotel, Paris tampak megah. Hotel termahal di Paris itu seharusnya hanya ditinggali oleh Fugaku. Uchiha Mikoto tidak pernah tidur di kamar yang sama dengan suaminya, tapi kali ini... Ia tertidur lelap di atas bangku yang dekat dengan ranjang Fugaku.

Ia tidak menyangka suaminya terlihat begitu lemah di atas ranjang hotel yang mewah. Infus ada di pergelangan tangannya, dan alat pembantu pernapasan ada di hidungnya. Menara Eiffel yang terlihat dari jendela balkon mereka bahkan terlihat begitu sendu untuk Mikoto.



Mikoto's Chanel Fall 2016 Ready-to-wear, Mikoto's Hermes Birkin Himalaya
Image source : vogue.com , instagram.com 
Ya. Ia memang tidak mencintai Fugaku, tapi ia sedang melihat pria yang begitu dingin, kuat dan kaku terkapar di atas ranjang. Tentu saja Mikoto akan merasa sedih. Pria yang dingin ini biasanya selalu menatap orang lain dengan serius. Pria ini ditakuti dan dihormati oleh semua orang. Sayangnya kedua anaknya justru berlomba-lomba mengambil kursi kekuasaanya. Sedangkan istrinya tidak mencintainya.

Terkadang Mikoto merasa kasihan terhadap suaminya, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Terkadang semuanya sudah terlambat. Tidak ada lagi yang bisa ia rubah. Sekarang Mikoto hanya bisa menatap suaminya dengan kasihan. Ia hanya bisa berharap waktu Fugaku di dunia ini masih panjang.

Ia sungguh berharap Fugaku bisa keluar dari kamar hotel ini dengan sehat. Sungguh. Jika pria itu pergi dari dunia ini sekarang... Ia tidak tahu lagi apa yang akan dilakukan kedua putranya untuk merebut Perusahaan Uchiha dari tangan Fugaku. Perang akan muncul dan Mikoto benar-benar belum siap untuk perang itu.  


Fugaku's Intravenous
Image source : peoplespharmacy.com , ozonetherapymalaysia.com
XXX

TBC

XXX


A/N:

Hi semuanya, terima kasih atas dukungan kalian untuk cerita ini. Sebelumnya aku ingin memberitahu lagi kalau cerita ini tidak akan mengarah ke Sasuke mencari wanita lain hanya karena Sakura hamil hahaha XD Mainly because I know Sasuke dan dia bukan seorang pria brengsek yang tidak tahu terimakasih. Namun cerita ini akan punya konfliknya sendiri.

Aku juga minta maaf karena aku akan hiatus sampai bulan November. Tahun ini adalah tahun terakhir kuliahku dan aku ingin memaksimalkan waktuku untuk itu. Aku juga ingin menghabiskan waktu terakhirku di Sydney dengan wisata kuliner sebelum aku benar-benar kembali ke Indonesia. Jadi waktu luangku tidak lagi untuk menulis, tapi untuk menikmati bulan-bulan terakhirku di Sydney.

Thank you so much for your support up till now! Sekarang blog dan instagram akan bergerak di food post untuk sementara. Namun November nanti aku akan update lagi. Terima kasih dan see you in November!

21 comments:

  1. Sasuke ternyata takut banget kehilangan sakura apalagi kenangan2 mereka '-')
    kalo inget nina bobo itu ntah kenapa kok aku ngakak sendiri XD ampun deh sasuke di chap itu kesannya aneh :'v *dihajar sasuke sekeluarga*
    But
    Semangat kuliahnya melisa san *O*
    Aku akan berusaha sabar nunggu sasusaku sama naruhina romantisan lagi #woi-__- di chap berikutnya >\\\<
    Sekali lagi semangat kuliah and belajarnya '-'
    Keep wringting ^-^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you so much yahhh !! Dukunganmu sangat berarti ! Iya Sasuke memang takut kehilangan Sakura dan kenangan merekaa! Pasti lahhh hahaha udah lama bersama XD Iya makasih banyak! aku akan terus semangat kuliah! See youu!

      Delete
  2. Makasih ka akhirnya up juga.
    Btw btw ka kalo mau hiatus ya di pasin gitu sampe chap ke 20. Biar enak. Habis lama bgt smle bulan november malah. Pas baca ampe sumringah bgy udah lanjut. Eh mau hiatus.. uhh jadi 😭😭😭😭😭
    Tapi gapp semangat ka buat liburannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa akhirnya up juga hehhee XD Waaa.. gppa lah 19 lah (Nawar aja) hehhee XD Iya nih november memang ckup lama yahh... Hehhe aku pasti semangat buat kuliah dan food blogging! Thank you for your support!

      Delete
  3. Akhirnyyaaa update juga #gulingguling

    What!!! November!? #jedderrr
    lama banget hiatusnya kak.. bakal kangen cerita kakak dan bang sasuke nih :'(
    jagain bang sasuke demi aku ya kak.. wkwkwk :v

    daannn... Selamat berjuang kak! Jangan lupa oleh2 untuk ku
    wkwkwk :v

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya sampai november nih hehe
      Wah makasih yah bakal kangen sama cerita ini :)
      I will miss your comments too!!

      Delete
  4. Kak, bagus bangeeettt!!! Tapi kenapa hiatusnya lamaaa??? Huaaaa!!! November itu... hampir mendekati tahun baru kak! Gilaaaa!!!

    ReplyDelete
  5. Tapi, semangat buat kuliah sama wisata kulinernya ya kak. Tapi kak, sekali-kali waktu luangnya untuk nulis dong kak. Paling nggak 1 atau 2 lembar gitu perhari, biar lama kelamaan banyak. Nyicil gitu loh kak, hehehehe... *nyuruh?*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha makasihh yahh udah bilang baguss!
      It means so much to me!!
      See you in November!

      Delete
  6. Hai kak! Aku Ayu.. salam kenal.. hehee..

    Akhirnya update juga..
    Padahal udah seneng banget liat chap ini..
    Ehh... malah mau hiatus sampai november.. * nangis di pojokan*
    .
    Ya udah deh.. semangat ya kak buat kuliahnya..
    Aku bakal nunggu sampai november..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Ayu! Salam kenal juga!
      Iya nihhh aku hiatus sampai november ;)
      Jangan nangis yahh cup cup...
      See yoouuu in November!

      Delete
  7. Ha?? Bakal kangen nih sama ceritanya . Tapi nggak papa deh, semoga bethasil ya di tahun terakhir kuliahnya. And have fun liburannya .

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya aku bakal berjuang di tahun terakhirku!
      See you! Aku bakal kangen juga nulis cerita ini hehhee
      Have a nice day yahh!

      Delete
  8. Sedih loh kak . Sedih banget malah ...������
    Knp hrs tergantung d sini coba ceritanya ..
    Aku pengen braca terus cerita kakak yg in ..
    Kakak jgn lama lama dong .
    Bulan november lama banget kak ..
    itu terlalu dekat dong dgn bulan lahir aku ..
    Serasa nunggu hari jadi ..����
    Kak update nya jgn lama lama yaa ..
    Aku pengen banget bacanya ...

    Yaah mau d apa ..
    Yg terjadi udah terjadi ...
    Maaf ya kak klw terlalu maksa ..
    ** tp jujur pengen tau lanjutannya . Lanjutannya sasuke jgn sampai cerai ya kak sama sakura .

    Kakak yg semangat yah kulianya ...
    Pasti bisa ..
    Dan terus nulis ya kak ...
    Aku mendukung ..
    GANBATE ..��������

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah dekat dengan ultahmu yaah?
      Can't wait to say happy birthday to you :)
      Hehehhee Iya makasih yahh sudah terus baca dan semangatin aku kuliah + nulis!
      Arigatou!

      Delete
  9. Yahhh kak aku penasaran banget ama kelanjutan ceritanya���� november kelamaan kak ���� apa aku harus pakai mesin waktunya doraemon dan loncat ke bulan november?!*canda* tapi ya udah deh kak, semangat buat kuliahnya sama food blogging ya kak aku bakal setia menunggu cerita ini update ��

    ReplyDelete
  10. Hi kak melissa!! Aduuh komennya telat ya haha maaf yaa kak aku bacanya sih udah lama tapi baru sempet komen sekarang aduuh maaf yaa... Ohiya kak kan november kakak bakal lanjutin ceritanya tapi tanggal berapa kak biar tepat wktu gitulooh ingin jadi komen pertama, yaudah deeh kak semangat yaa kuliahnya semoga sehat selalu yaa ganbatte!!! Daah arigatou!

    ReplyDelete
  11. Min kapan update lg? Ini udah november

    ReplyDelete
  12. Min chapter 20 mana?,udah November nih, udah kangen bangettt 😁😁😁😁

    ReplyDelete
  13. Hi kakak, masih inget aku? Devi Sidika yang di Bali. Aku nunggu up.a yg ke20 kak. Semoga lancar ya nulisnya :*

    ReplyDelete
  14. Min kok blm update jg si udah desember nih

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...