Haven Cafe

16:11 Melissa Gabriele 1 Comments


Haven is a wonderful cafe near Central Station. I love their glass doors and how easily it welcomes the sunlight in. If we're talking about the interior, it is very simple yet very warm. Their simplicity in decor, does not provide justice to their food. 


Truly, their egg waffle is quite a masterpiece. I love their green tea ice cream, red bean and green tea fondant. Since the ice cream is quite sweet and the green tea fondant is quite bitter, it blends very well together.

Egg Waffle

Cornfritters
I love their cold brew as it is rich in flavor and quite strong. The glass bottle also looks very antique and special. Creating a memorable coffee experience.

Cold Brew


Their flat white is very nice and I noticed that they always provide raisins on the side for every coffee they serve. The sweetness of the raisins contrasts the coffee, creating a wonderful balance.

Flat White


In summary, Haven is a wonderful cafe in terms of location, coffee and food. Their egg waffle is a must-try and their cold brew is top notch.

I hope you enjoy this review, have a wonderful day!

1 comments:

Acre Eatery

15:46 Melissa Gabriele 0 Comments

My Acre Eatery YouTube video is up on the link below, enjoy!




0 comments:

Marrying Uchiha Sasuke - Chapter 20

16:10 Melissa Gabriele 22 Comments

Marrying Uchiha Sasuke

Chapter 20

Love is Patient


Charles de Gauelle
Image source : pt.france

Disclaimer : I do not own Naruto

Uchiha Sakura menatap passportnya sambil menghela napasnya. Uchiha. Sebentar lagi nama itu akan hilang dari passportnya. Bukankah begitu? Sakura menatap Bandara Paris yang indah dan modern. Langit-langit Charles de Gaulle Airport terbuat dengan kaca bening. Sakura bisa melihat langit biru Kota Paris, Perancis. Sebenarnya, walau ia sudah ada di Kota Paris, hatinya masih ada di Santorini.

Ia masih belum berbicara banyak dengan Sasuke. Wajah suaminya tampak seperti pria yang dingin dan tidak punya semangat. Kemarin malam mereka berdua masih berdansa di kapal Santorini... Namun pagi ini, mereka berdua langsung terbang ke Paris karena Sasuke mendengar ayahnya sakit parah. Percakapan mereka tentang perceraian tidak lagi diungkit karena sakit parah Fugaku jauh lebih penting. Sangat penting, sampai-sampai mereka meninggalkan Naruto dan Hinata. Dengan cepat, Sasuke langsung mengatur penerbangan dari Santorini ke Paris lewat jet pribadinya. Kasihan sekali, entah kenapa masalah tidak pernah lepas dari hidup suaminya. Pertama masalah Sakura yang tidak bisa punya anak... kemudian ayahnya yang jatuh sakit.


Sakura's Burberry 2016/2017 Trench Cape, Sasuke's Burberry Wool Cashmere Coat
Image Source : burberry.com 
Sakura tahu, jika Fugaku meninggal... Sasuke dan Itachi akan memperebutkan perusahaan Uchiha. Ah... Jika saja Sakura bisa memberikan Sasuke seorang penerus... Pasti suaminya akan lebih sukses untuk menang dari Itachi. Sayangnya, Sakura tidak bisa melakukannya. Ia merasa tidak pantas menjadi istri Sasuke. Sungguh, ia benar-benar tidak ingin pergi ke Paris dan bertemu dengan Fugaku. Ia tidak punya muka untuk berhadapan dengan realita ini. 

Suaminya sama sekali tidak berbicara apa-apa. Sakura juga tidak bisa berbicara apa-apa. Mereka hanya bisa berdiam sambil berjalan keluar dari Bandara Paris. Entah kenapa Sakura sendiri juga sudah tidak bisa berbicara lagi kepada Sasuke. Ia terlalu takut untuk tahu isi hati suaminya. Ia merasa... sekarang, yang terbaik adalah kabur. Berharap, ia tidak ada di dalam masalah ini. Sasuke bisa mencari wanita lain dan wanita itu bisa membahagiakan Sasuke. Jujur saja, Sakura merasa dirinya tidak lagi mampu membahagiakan suami yang disayanginya itu.

Saat Sakura menoleh ke kanan, ia dapat melihat wajah suaminya dengan jelas. Ia dapat melihat kerutan tajam di kening sang suami. Sasuke terus menarik kopernya sambil menerawang jauh. Senyuman dan kebahagiaan sudah pergi jauh dari kehidupan mereka. Apa yang harus ia katakan? Biasanya Sakura selalu pintar mencari bahan untuk berbicara, tapi kepintaran itu seakan-akan hilang dalam sekejap. 

“Apakah ayahmu baik-baik saja?” Sakura akhirnya mencoba untuk berbicara.

“Ibuku menyembunyikan masalah ini dariku... Jika mata-mataku yang memberitahukan penyakit ini padaku, pasti penyakit ini sangat parah.”

“Sasuke... Maaf... Aku tidak bisa membantu apa-apa. Aku juga tidak bisa punya anak untukmu...”

“Kenapa kau selalu ingin membantuku?” Sasuke berjalan semakin cepat, “Apakah aku pernah meminta bantuanmu? Apakah aku pernah memaksamu untuk mempunyai anak? Kenapa kau terus mengambil kesimpulan sendiri?”

Kali ini Sakura semakin merasa sedih. Kata-kata pria itu selalu saja sangat tajam. Tentu saja, seorang istri ingin membantu suaminya! Bukankah itu hal yang wajar? Tentu saja Sakura ingin memberikan Sasuke seorang anak! Bukankah itu akan membantunya memenangkan perang bisnis ini? Sungguh, ia tidak mengerti dengan sifat dan pikiran suaminya. Sejak dulu sampai sekarang... Ia selalu dibuat pusing oleh Sasuke.

“Sakura...” Sasuke akhirnya berhenti berjalan, “Maaf....”

Raut wajah Sasuke berubah menjadi agak menyesal. Kelihatannya suaminya menyadari kesedihan di wajah Sakura.

Kemudian suaminya berbicara lagi, “Apapun yang keluar dari mulutku, lupakan saja. Aku sedang tidak bisa berpikir logis sekarang.”

“Sasuke.” Sakura menatap wajah suaminya dengan bingung, “Aku tidak bisa membaca pikiranmu... Kalau kau tidak berbicara apa-apa padaku, bagaimana caranya aku bisa membantumu? Katakan padaku sekarang. Sekarang juga aku akan membantumu!”

“Sakura... Apakah harus sekarang?” Sasuke kembali berjalan cepat, “Biarkanlah aku berpikir sendiri dulu.”

Sakura tidak mengerti... Apa maksud kata-kata Sasuke? Tentu saja Sakura ingin membantu Sasuke... Kenapa pria itu malah ingin sendirian?

Dalam sekejap, pria itu sudah jauh berada di depan Sakura. Ah. Jadi ini rasanya melihat pundak Sasuke. Beberapa hari ini, Sakura merasa sedang hidup di dalam bayangan suaminya. Ia tidak bisa melihat wajah Sasuke, hati Sasuke. Yang dapat Sakura lihat hanyalah pundak Sasuke. Dingin, jauh dan penuh dengan misteri. Jadi begini rasanya tidak dipedulikan? Jadi begini rasanya ditinggalkan? 

Sakura berhenti berjalan. Ia terdiam melihat suaminya yang terus berjalan dari kejauhan. Pundak dan koper Sasuke terlihat semakin jauh. Kerumunan orang mulai menutupi jalan. Luar biasa, Sasuke bahkan tidak sadar istrinya sudah tidak ada di sampingnya. Pria itu bahkan tidak menoleh kebelakang. Pria itu benar-benar tidak peduli padanya. Bukankah begitu?

Sudahlah, ia memang tidak pantas untuk berada di sisi suaminya. Lebih baik ia memang bercerai saja, jadi pria itu akan mendapatkan wanita yang lebih pantas. Lebih baik sekarang ia berjalan di lain arah. 

Tersesat di Paris sendirian... Mungkin begini lebih baik.

XXX


The Louvre
Image source :.dailymail.co.uk
Mantan pacar.

Mantan pacar Sai ada di hadapannya. 

Kenapa Sakura ada di Paris? 

Sai sekarang sedang berada di musium The Louvre. Pria dengan kulit putih porselen itu sedang berjalan ke luar dari gedung ini. Musium ini terdiri oleh beberapa gedung. Gedung yang ia tempati sekarang berbentuk seperti piramida kaca dan dikelilingi oleh kolam air mancur. Sedangkan gedung yang lain terlihat seperti istana dan terletak di sisi kanan dan kiri piramida kaca yang Sai tempati.

Ada banyak sekali kerumunan orang di kedua gedung ini, apalagi hari ini adalah akhir pekan. Sai yakin, jika ia berpura-pura tidak mengenali Sakura, pasti ia akan berhasil. Wanita itu tidak akan sadar Sai ada di musium itu. Ia hanya perlu berlari sekencang mungkin dan kembali ke kamar hotelnya.

Sai awalnya memutuskan untuk berjalan menjauh... Namun, setelah ia pikir-pikir secara logika. Ia merasa tidak apa-apa jika mereka berbicara sebentar. Hubungan mereka sudah berakhir dan Sakura sudah menikah. Ia seharusnya merasa tidak enak kalau kabur. Semakin dekat ia berjalan, semakin jelas wajah Sakura terlihat. Ah, sudah lama sekali ia tidak bertemu Sakura. 

Sakura's Self-Potrait Dress, Sai's Kingsman Suit
Image source : net-a-porter , mrporter.com

Waktu di Roma, ia sempat ingin berpacaran lagi dengan Sakura... Sayangnya, wanita itu sudah menikah dengan lelaki lain. Ia bukan orang yang suka merusak rumah tangga orang lain. Walau ia tidak bisa memiliki Sakura... Namun, ia menghormati keputusan wanita itu. Sekarang mereka hanya bisa berteman... Dan Sai tidak mengharapkan lebih. Sungguh. Bahkan ia jadi mengingat lagi hari dimana ia dan Sakura putus. Waktu itu Sakura mengatakan padanya bahwa wanita itu tidak percaya pada hubungan jarak jauh. Bahwa Sai lebih baik mencari wanita lain yang ada di Roma. Agar tidak menderita bersama Sakura yang jauh di Jepang. Entah kenapa alasan itu terkesan logis di benak Sai, tapi jujur saja... Jika Sakura tidak mengusulkannya, ia sendiri tidak akan memutuskan Sakura. Wanita itu adalah wanita yang baik. Namun, terkadang kebaikan Sakura malah melukai wanita itu sendiri. Ia hanya berharap, kesedihan di wajah Sakura hari ini bukanlah hasil dari diri Sakura sendiri.

Sai terus berjalan mendekati Sakura. Raut wajah Sakura yang sedih semakin jelas. Semakin dekat dan jelas sampai-sampai wanita berambut merah muda itu hampir menabraknya.

“Sai!” Suara Sakura terdengar jelas di telinga Sai, “Kau ada di Paris?”

“Kita selalu bertemu di dalam musium dan galeri seni.” Sai berusaha untuk tersenyum, “Suatu kebetulan yang aneh.”

“Tidak juga... Waktu itu kita sempat berpapasan di Ritz-Carlton Tokyo.” Sakura ikut tersenyum.

“Ah. Kau mengingatnya?” Sai tampak kaget, kejadian itu sudah lama sekali.

“Kenapa aku harus lupa?” Sakura tertawa kecil, “Saat itu kita sempat mulai makan duluan sebelum ada yang makan. Kemudian kita sempat berdansa sebentar, kemudian—”

“Kemudian suamimu datang,” Sai melanjutkan kata-kata Sakura.

Wanita itu langsung terdiam ketika kata-kata suami keluar dari mulut Sai. Kerutan kembali datang di dahi Sakura. Sebenarnya Sai tidak suka memotong pembicaraan orang lain. Ia selalu berhati-hati dalam berbicara. Namun, ia bukan tipe orang yang suka merusak rumah tangga orang lain. Ia hanya ingin menegaskan bahwa pertemuan ini hanyalah pertemuan biasa. Bahwa ia masih ingat Sakura adalah istri dari Uchiha Sasuke.

“Kelihatannya kami akan bercerai.” Sakura menghela napasnya.

Kali ini Sai dapat melihat keputusasaan di dalam wajah Sakura. Kemudian nada bicara wanita itu terdengar seperti prajurit yang kalah perang. Ia tidak bisa membaca pikiran Sakura, tapi ia tahu sebenarnya wanita itu tidak ingin bercerai. Namun, entah kenapa keputusan wanita itu sudah sangat bulat.

“Apa yang terjadi?” Sai benar-benar bingung.

Sakura berjalan perlahan-lahan menelusuri musium kaca itu sambil tersenyum pahit. “Ini adalah jalan terbaik untuk kami berdua.”

Ah. Kata-kata ini tidak asing di telinga Sai. Waktu mereka putus, Sakura juga mengatakan hal yang sama. Putus adalah jalan terbaik. Hubugan jarak jauh terlalu rumit. Sai seharusnya mendapatkan wanita yang lebih pantas dan Sakura sendiri juga tidak percaya hubungan jarak jauh. Jadi ini adalah jalan yang terbaik.... Ya jalan yang terbaik bagi Sakura, bukan bagi Sai. Padahal waktu itu Sai merasa ia masih bisa berjuang. Namun, Sai juga tahu... Ia tidak bisa berjuang sendiri. Kalau Sakura sudah putus asa, ia sebagai lelaki juga harus menghormati keputusan seorang wanita yang dikasihinya.

“Jalan yang terbaik untuk kalian berdua ya?” Sai berjalan sambil menghela napasnya, “Kata-kata itu pendapatmu saja atau pendapatmu dan Sasuke?”

“Aku rasa Sasuke juga merasa begitu.” Sakura kali ini berjalan ke luar musium.

Ternyata tebakannya benar. Kali ini Sakura mengambil kesimpulan sendiri. Sama seperti waktu mereka putus dulu. Entah kenapa Sai merasa kasihan kepada Sasuke. Ia merasa suami Sakura tidak diberikan kesempatan untuk membicarakan ini baik-baik... Sakura dengan cepat mengambil kesimpulan sendiri. Padahal belum tentu Sasuke berpikir begitu.

Sai mengikuti wanita itu keluar. Ia menelusuri jalanan yang berada di dekat kolam air dan hanya bisa terdiam sejenak. Sai ingin memberi nasihat sebagai seorang teman. Namun, ia juga tidak tega menatap wajah Sakura yang tambah lesu.

“Aku lelah Sai,” Sakura akhirnya berbicara lagi, “Aku lelah sekali menikah... Pernikahan itu tidak seromantis di film-film. Mereka semua bohong, tidak ada yang memberi tahu aku kalau menikah itu sangat sulit.”

“Kenapa sulit?” Sai benar-benar tulus untuk mencari nasihat dan jalan keluar. 

“Panjang ceritanya,” Sakura menjawab singkat.

“Apakah kau sudah makan siang?” Tanya Sai.

“Belum... Aku bahkan belum makan pagi.” Sakura tertawa pahit.

“Aku punya waktu.” Sai tersenyum prihatin, “Apakah kau ingin berbicara sambil makan?”

Sakura awalnya agak ragu, tapi ia akhirnya mengangguk.

XXX


Maison Blanche
Image source : pinterest
Uchiha Sakura tidak menyangka dirinya dan Sai akan duduk di teras restoran Maison Blanche sampai sore. Menara Eiffel terlihat jelas dari teras restoran. Maison Blanche terletak di atas Théâtre des Champs Elysées Avenue di Montaigne. Garis-garis sederhana dan desain yang didominasi oleh warna putih, membuat restoran ini tampak berkelas. Sebagian besar desainnya terinspirasi oleh wilayah Languedoc yang sederhana tapi kaya.

Ini seharusnya terkesan romantis, tapi anehnya Sakura tidak merasa begitu. Ia masih kesal soal Sasuke dan ia malah menggebu-gebu bercerita soal kisah dirinya dan suaminya. Mulai dari pernikahan palsu mereka, sampai keguguran Sakura, sampai rahimnya yang kering... sampai keputusannya untuk cerai karena ia tidak tahan. 

Meskipun Sai adalah mantan pacar Sakura, tapi mereka dulu sempat bersahabat baik sebelum berpacaran. Jadi, Sakura merasa Sai yang sekarang lebih mirip seperti sahabat daripada mantan pacar. Kenapa? Sakura butuh teman untuk mendengarkannya dan ia sudah kehilangan Ino. Jadi sisanya hanya Tsunade, Naruto dan Sai. Jika Sakura berbicara kepada Tsunade sekarang, pasti Tsunade sibuk...  Sedangkan Naruto sedang berbahagia dengan Hinata. Jadi daripada Sakura murung terus dan perang batin... Ia akhirnya membuka mulutnya dan berharap Sai akan bersikap netral dan menjaga rahasia Sakura.

“Aku mengatakan ini padamu, karena aku percaya padamu.” Sakura menghela napasnya, “Jadi... menurutmu bagaimana? Apakah pilihanku tepat?”

Kali ini Sai hanya menjawab dengan tenang, “Yang paling tahu dirimu adalah kamu dan yang paling tahu Sasuke adalah Sasuke sendiri. Tepat atau tidak... Itu harus diputuskan kedua belah pihak.”


Maison Blanche's dessert by Chef Paul Donore
Image source : maison-blanche.fr
“Tapi... Sai,” Sakura memotong kue kecil di piringnya sambil menghela napas, “Aku tidak bisa punya anak sekarang. Solusi kedokteran ada... Tapi itu semua butuh waktu dan prosedur yang lama. Sasuke pasti ingin punya anak secepatnya. Bahkan ayahnya sudah sekarat dan jika Sasuke ingin memenangkan posisinya, ia harus punya penerus secepatnya. Aku tidak pantas untuknya...”

“Apakah Sasuke berkata kepadamu bahwa kamu tidak pantas untuknya?” Sai menaikan satu alisnya.

“Tidak... Tapi sepertinya begitu.” Sakura menerawang jauh melihat menara Eiffel, “Aku ingin menghiburnya, tapi ia malah ingin sendirian. Tadi aku menghilang, tapi ia tidak mencari aku. Katakan padaku Sai, bukankah itu artinya sudah tidak sayang?”

“Setiap orang butuh waktu untuk sendirian Sakura, apalagi saat sedang marah atau sedih,” Sai menjawabnya dengan tenang, “Itu bukan hal yang aneh, tapi justru bijak. Lebih baik membahas saat pikiran tenang daripada langsung berbicara tapi isinya kata-kata bodoh dan tajam semua.”

“Itu... benar sih.” Sakura memakan potongan kuenya, “Lalu bagaimana dengan anak? Aku tidak bisa punya anak sekarang. Aku tahu secara kedokteran aku bisa berusaha dan akan ada presentase sukses. Namun, akan terlalu lama jika ia ingin menunggu hasil prosedur rumah sakit. Itu masalah besar bukan? Ia butuh penerus secepatnya. Ia harus mengalahkan Itachi.”

“Hal itu hanya Sasuke yang bisa menjawab.” Sai tersenyum tipis, “Aku bukan Sasuke, jadi jawaban apapun yang aku katakan, tidak akan berlaku juga.”

“Tapi... Aku sungguh-sungguh butuh nasihatmu Sai...” Sakura menghela napasnya.

“Nasihatku adalah.... berhenti mengambil kesimpulan terlalu cepat,” Sai menjelaskan dengan tenang, “Kau tidak bisa mengukur kebahagiaan orang lain, apa yang kau pikir baik untuk orang lain... bisa saja tidak baik sama sekali.”

“Jadi apa yang harus aku lakukan?”

“Bersabarlah... dan tanya di saat yang tepat.” Sai kembali menikmati makanannya, “Jika orang itu siap untuk menjawabmu, ia pasti akan menjawabmu. Ingat, semua ada waktunya.”

Benar juga. Selama ini Sakura terlalu cepat mengambil kesimpulan. Ia selalu berpikir bahwa ia tahu yang terbaik untuk Sasuke. Ia jadi ingat kata-kata Sasuke. Di bandara tadi, Sasuke bertanya padanya.

“Kenapa kau selalu ingin membantuku? Apakah aku pernah meminta bantuanmu? Apakah aku pernah memaksamu untuk mempunyai anak? Kenapa kau terus mengambil kesimpulan sendiri?”

“Sakura... ingat juga hal ini,” Sai berkata lagi, “Kau tidak bisa memaksa Sasuke untuk terus mengejarmu saat kamu ngambek dan menghilang tiba-tiba seperti ini. Paling tidak katakan padanya kau ada di mana dan kapan kau akan kembali.”

“Sai, kalau aku katakan padanya kapan dan dimana aku berada, itu artinya aku tidak ngambek...”

“Sebenarnya untuk apa kamu ngambek? Kau berharap suamimu mencarimu dan kau sekarang merasa ia mencintaimu?”

“Well.. Iya, bisa dibilang begitu.”

“Aku tidak tahu dengan pendapat Sasuke tapi menurutku, sifat ini sangat egois.” Sai merenung sejenak, “Di satu pihak kau ingin menyenangkan hati Sasuke menjadi istri yang baik. Namun, lihat lagi Sakura kamu malah ngambek agar Sasuke menyenangkan hatimu... Jadi kau ingin menyenangkan Sasuke atau dirimu sendiri? Lalu, apakah Sasuke memang ingin bercerai? Ataukah ini egoismemu sendiri yang ingin kabur dari masalah dan tanggung jawab?”

Kali ini Sakura diam seribu bahasa. Bukan karena ia bisu, tapi karena kata-kata Sai mengunci mulutnya seperti pisau. Rasanya pedas sekali karena kata-kata Sai benar. Ia sebenarnya ingin menyenangkan Sasuke atau dirinya sendiri? Selama ini Sakura egois... Ia tidak berpikir tulus untuk suaminya, ternyata secara tidak langsung ia juga berpikir untuk dirinya sendiri.

Sebenarnya ini sudah lama terjadi. Saat pesta dan Sakura berlari-lari di tengah hujan, ia pikir Sasuke tidak menginginkan anaknya... Ternyata tidak. Kemudian masih banyak hal-hal kecil lain yang tidak terhitung. Ya, sebenarnya ini sering terjadi. Padahal solusinya akan lebih mudah jika Sakura tidak ngambek dan mengambil kesimpulan sendiri. Akan jauh lebih mudah jika ia tenang dan membicarakan ini baik-baik.

“Maaf jika kata-kataku terlalu tajam.” Sai membungkuk, “Tapi aku yakin tidak ada manusia yang sempurna. Aku tidak, kamu tidak, Sasuke juga tidak. Jadi untuk apa kita mencari kesempurnaan dari seseorang yang tidak sempurna? Hanya Tuhan yang sempurna. Suamimu, tidak akan bisa menghasilkan cinta yang sesuai dengan setiap kebutuhanmu. Kamu juga sama. Namun, kalian bisa saling mengerti, memaafkan dan berbagi. Sisanya serahkan pada Tuhan. Bukankah begitu?” 

Kali ini Sakura terdiam. Kata-kata Sai benar. 

“Sejak kapan kau jadi bijak begini?” Sakura tertawa tipis.

“Sejak aku bertobat.”

“Serius?”

Kali ini Sai tertawa, “Setiap orang pasti berubah Sakura, orang yang tadinya sangat kau kenal bisa berubah. Entah menjadi jauh lebih baik atau lebih buruk.”

“Untungnya kau berubah jadi lebih baik ya.”

“Ya. Untungnya...” Sai menghela napasnya, “Kau harus berhati-hati juga jika bercerita kepada orang lain Sakura. Untungnya kau berbicara kepada orang yang memberi nasihat yang membangun. Kalau mereka malah menjatuhkanmu bagaimana?”

“Iya ya... Kau benar Sai...” 

“Intinya tenang saja... dan lakukan sesuatu setelah berpikir matang dan penuh rasa syukur.” Sai mengakhiri kalimatnya dengan mengancungkan jempol.

“Dan jangan ngambek lagi?” Sakura menaikan alisnya.

“Ya. Dan jangan ngambek lagi.”

Kemudian mereka berdua tertawa lepas.

XXX


1956 Black Porsche 356
Image source : fantasyjunction.com 
Uchiha Sakura duduk di dalam mobil mewah klasik 1956 Black Porsche 356. Ia sekarang sedang dalam perjalanan menuju ke hotel yang sudah disiapkan suaminya. Ia tidak pernah menyangka dirinya akan secepat ini berhenti ngambek. Ia melakukan apa yang disarankan Sai dan hatinya merasa jauh lebih tenang. Sakura melihat ponselnya lagi dan tersenyum membaca pesan singkatnya beberapa jam yang lalu kepada sang suami.

‘Maafkan aku Sasuke, tadi aku tidak memberi kabar karena aku punya sedikit masalah. Namun, aku sudah tidak apa-apa. Aku ada di restoran Maison Blanche dan akan segera kembali ke hotel dalam waktu tiga puluh menit. Bolehkah aku tahu hotel kita ada dimana agar kita bisa bertemu di lobi? Aku juga berharap ayahmu baik-baik saja.’

Ia tertawa kecil. Sebenarnya ia sempat kesal karena suaminya tidak dengan cepat menjawabnya. Kau bayangkan! Hanya di read saja. Namun, Sai mengatakan untuk bersabar. Bahwa kehidupan Sasuke tidak hanya berpusat pada Sakura saja. Apalagi Fugaku sedang sakit parah.

Karena Sai, Sakura jadi bersabar lagi dan tak lama kemudian pesan dari Sasuke datang. 

‘Sakura, maaf juga aku baru menjawab sekarang. Kondisi ayah kritis. Hotelnya Shangri-La Hotel Paris. Jika kau butuh supir aku akan mengirimkan orang untuk menjemputmu di restoran. Kemudian aku akan menunggumu di lobi.’

Ya. Karena Sasuke mengirim pesan itu, Sakura bisa duduk dengan nyaman di dalam mobil yang dikirim sang suami. Ternyata suaminya memang peduli kepadanya. Ia memang terlalu banyak pikiran. Untung saja Sakura memutuskan untuk mengirimkan pesan itu. Entah apa yang akan terjadi jika Sakura berkeliaran terus di Paris sendirian. Mungkin ia akan pingsan karena stress berlebih dan tubuh yang lemah. Mungkin ia akan terus berpikir untuk bercerai sepanjang hari untuk kesimpulan yang ia ambil dengan tergesa-gesa sendirian.


Shangri-La Paris
Image source: boris-victor.blogspot.com.au
Akhirnya, mobil mewah hitam itu berhenti di depan hotel Shangri-La Paris yang klasik dan megah. Sakura pikir hotelnya akan penuh dengan kaca dan modern, tapi ia salah. Hotelnya sangat kuno dan mirip dengan istana kecil. Batu-batunya berwarna krem, merepresentasikan kelembutan dan klasik. 

“Kita sudah sampai,” Supir itu berbicara, “Selamat menikmati hari anda.”

“Terima kasih!” Sakura tersenyum dan berjalan ke luar dari mobil.

Entah kenapa ada rasa ketidaksabaran untuk sampai ke lobi hotel itu. Sakura tahu Sasuke sudah menunggunya di dalam lobi.  Jadi meskipun ia sedang mengenakan hak tinggi, Sakura dengan bersemangat berlari masuk ke dalam hotel.

Orang-orang yang bekerja di sana tersenyum hangat membukakan pintu mewah klasik kontemporer untuk Sakura. Dengan penuh keceriaan, Sakura melihat kanan kiri, mencari suaminya.

Namun, ia belum bisa menemukan Sasuke.

Lobi itu besar— Sangat besar. Di tengah-tengah lobi ada ruang oval dengan chandelier di atasnya dan vas bunga megah di atas meja bundar. Lantainya terbuat dari marmer kualitas tinggi. Kemudian ada resepsionis ramah yang siap melayani Sakura di sebelahnya.


Shangri-La Hotel Lobby
Image source: lefigaro.fr
“Apakah ada yang bisa saya bantu?”

“Ah, aku tidak apa-apa. Suamiku sudah ada di sini.” Sakura tersenyum ramah.

Kali ini Sakura berjalan menuju ke lobi atas. Ia menelusuri tangga melingkar yang terbuat dari marmer dan dihiasi oleh karpet berwarna merah kecoklatan. Ia berjalan dengan anggun sambil berpegangan pada besi berwarna keemasan disekitar tangga. 


Shangri-La Hotel Stairs
Image source : pinterest.com
Di lantai dua, ia dapat melihat ruang duduk yang mewah dengan sofa keemasan dan langit-langit yang tinggi. Pilar-pilar marmer serta jendela kaca yang klasik menghiasi ruangan. Di dekat jendela, ia dapat melihat Sasuke sedang duduk sendirian dan merenung melihat lantai. Ia tidak pernah melihat Sasuke sesedih ini. Bahkan berita rahim kering Sakura saja tidak membuat wajah Sasuke sampai seperti itu.

Sakura yang masih berada di kejauhan hanya bisa menatap suaminya dengan bingung. Sekarang ia harus berbuat apa?

Sebelum ia berjalan mendekat, ibu Sasuke berjalan dari arah yang berbeda. Sakura yang kaget langsung bersembunyi di balik salah satu pilar besar di sana. Saat itu hotel sangat sepi. Ya. Sakura memutuskan untuk menguping, ia merasa penasaran untuk mendengar percakapan mereka. 

Sakura bisa mendengar suara Mikoto dengan jelas. Bahkan di saat seperti ini suara Mikoto terdengar dingin, sopan dan kaku.

“Kenapa kau ada di sini sendirian Sasuke?”

Bukannya menjawab pertanyaan Mikoto, Sasuke malah bertanya kembali, “Kenapa ibu tidak memberi tahu kabar ayah?”

“Ini yang terbaik untuk kalian berdua.”


Sasuke's Lanvin Suit, Mikoto's Marchesa S/S 2017
Image source : mrporter.com , vogue.com
Biasanya Sasuke hanya terdiam menanggapi jawaban Mikoto yang tegas. Kali ini suaranya tegas luar biasa. Seakan-akan apa yang Mikoto lakukan tidak salah. Bahwa sang ibu tidak merasa bersalah dirinya tidak memberi tahu kabar Fugaku. Sakura pikir Sasuke akan terdiam saja, seperti biasanya. Sasuke biasanya tidak ikut campur jika keputusan ibunya sudah mantap. Namun, Sakura kaget ketika mendengar Sasuke berbicara dan menanggapi ibunya dengan berani.

“Apa yang terbaik untuk ibu.... Mungkin bukan yang terbaik untuk kami semua.”

“Sasuke.” Kali ini suara Mikoto terdengar agak naik, “Ada banyak hal yang ibu perhitungkan. Bisnis keluarga kita, saham kita yang akan turun, kemudian kamu dan kakakmu. Jika kalian berdua tahu soal penyakit ini sekarang, kalian bisa berperang habis-habisan.”

“Apakah aku serendah itu?” Suara Sasuke terdengar agak lemas, “Apakah aku dan kakak serendah itu di matamu sampai-sampai kau pikir jabatan lebih penting untuk kami daripada keluarga?”

Kali ini ibunya terdiam sejenak. Kemudian Mikoto bersuara lagi, “Bukankah selama ini itu yang kalian lakukan? Bersaing untuk menjadi lebih sukses? Selama ini aku membesarkan kalian untuk sukses, aku tidak membesarkan kalian seperti keluarga normal lain. Kita punya tugas besar. Keluarga lain tidak punya perusahaan besar untuk dilindungi—”

“Aku berusaha untuk berprestasi, agar ayah dan ibu senang dengan apa yang kulakukan. Aku hanya ingin kalian bangga, agar kalian memperlakukanku seperti Itachi— Jujur saja aku tidak peduli lagi perusahaan kita seperti apa... Selama ini aku berjuang agar saat ayah pensiun aku bisa membuatnya bangga, karena itulah aku menunggu saat dimana ia memilihku, bukan Itachi. Aku menunggu ia bangga padaku saat pensiun... bukan meninggal!”

Sakura tidak pernah mendengar Sasuke seperti itu sebelumnya. Suara yang penuh kelemahan, tapi juga penuh keberanian. Penuh kejujuran, tapi juga penuh dengan rasa luka. Namun yang paling dapat Sakura dengar adalah... kasih sayang. Sasuke punya kasih sayang di dalam hatinya, bukan bisnis yang ada di benaknya— tapi perasaan seorang anak yang menyayangi ayahnya dan membuat ayahnya bangga.

Air mata turun di wajah Sakura. Ia merasa malu kepada dirinya sendiri. Ia juga sempat berpikir Sasuke ingin jabatan itu karena ia gila jabatan. Sakura pikir itu mimpi besar Sasuke. Di benaknya suaminya adalah seorang anak pengusaha sukses, bukan anak seorang ayah. Sakura malu karena persoalan rahim keringnya malah ia rubah jadi persoalan bisnis. Padahal mungkin, suaminya lebih peduli pada kondisi hati Sakura dan siap bersabar untuk menunggu anak mereka pada waktunya. Ya, pasti pria itu kecewa, tapi Sasuke masih ingin berdansa dengannya di Santorini... walau Sasuke pusing dan terdiam terus, itu pasti karena beban dari keluarga Sasuke. Sungguh, Sakura malu karena ia pikir Sasuke egois dan berambisi, padahal itu semua hanya kesimpulan yang dia ambil sendiri.

“Sasuke.” Suara Mikoto masih tenang dan tegas, “Sejak kapan kau menggunakan emosimu? Tenangkan hatimu dan susunlah rencana yang logis untuk perusahaan ini. Ibu permisi dulu, ada meeting penting.”

Kali ini Sasuke terdiam, Sakura juga. Apakah benar ada orang sedingin ini di dunia? Sebenarnya apa yang ada di dalam hidup Mikoto sampai-sampai wanita itu jadi sedingin es?

“Ibu. Kau tahu apa yang ayah katakan padaku dengan suaranya yang lemah tadi?” Sasuke terdengar serius, “Ia berkata padaku bahwa ia sayang padaku.”

“Begitukah?” Suara Mikoto terdengar terkejut, tapi ia menahan dirinya untuk tetap tenang.

“Proyekku masih banyak yang belum selesai, aku masih kalah dari Itachi... tapi aku dapat merasakan bahwa bagi ayah... itu cukup. Ia tidak berkata banyak, tapi aku tahu... baginya aku cukup, ia sayang padaku apa adanya. Untuk pertama kalinya... aku mengatakan padanya, bahwa aku juga sayang padanya.”

Selama ini Fugaku memang sibuk, pria tua itu juga tidak berkata banyak pada Sakura. Jujur saja, Sakura tidak kenal dekat dengan Fugaku. Pria itu selalu sibuk berkeliling dunia, bertemu orang penting dan mengelola bisnisnya. Mungkin karena kesibukannya itu, anak-anaknya dan istrinya jadi tidak begitu tahu sifat aslinya. Bahwa pria yang terkesan jauh dan misterius itu sebenarnya hanyalah seorang ayah biasa yang menyayangi anak-anaknya. Mereka saja yang terlalu cepat mengambil kesimpulan, padahal Fugaku pasti mencintai mereka apa adanya.

Kali ini Mikoto tidak berkata apa-apa lagi. Sakura hanya dapat mendengar suara hak tinggi yang bergema di atas lantai marmer yang mahal. Suara gemanya terdengar seperti irisan pisau yang tajam. Sakura tidak dapat membayangkan perasaan Sasuke ditinggal begitu saja oleh ibunya di saat kelam seperti ini. Bahkan diperintahkan untuk berfokus pada bisnis bukan penyakit sang ayah. 

Kali ini suara gema hak itu berhenti, kemudian suara Mikoto terdengar lagi.

“Sebenarnya ibu juga kasihan pada ayahmu, tapi Sasuke... Ibu punya tugas yang harus ibu lakukan. Pikirkan juga tugasmu.”

“Ibu... aku mengerti, itu memang sifat ibu,” Sasuke melanjutkan, “Tapi...”


Kali ini mereka terdiam sejenak.

“Tapi... aku sayang ibu.”

Sakura pikir Mikoto akan membalas kata-kata Sasuke. Namun, wanita itu tidak berkata apa-apa.  Kali ini suara lift berbunyi dan Sakura dapat mendengar suara pintu lift yang terbuka dan kemudian tertutup. Suara Mikoto sudah tidak terdengar lagi. Sakura berasumsi Mikoto pasti masuk ke lift itu dan sudah ada di lantai atas sekarang. 

Setelah memberanikan diri, Sakura akhinya berhenti bersembunyi dari pilar marmer yang besar. Ternyata benar, saat ia menoleh hanya ada Sasuke seorang diri di sana. Ia berjalan perlahan menuju ke arah Sasuke. Pria itu kali ini dengan mudah menyadari suara hak Sakura. Padahal awalnya sang suami hanya menatap lantai dengan murung.

“Sakura.” Suaminya menatap Sakura dengan lesu, “Aku dengar masalahmu sudah selesai. Maaf aku belakangan ini tidak bisa berbicara banyak untuk menghiburmu. Aku punya banyak pikiran di benakku.”

“Aku yang seharusnya minta maaf.” Sakura akhirnya duduk di samping suaminya, “Aku tidak peka akan apa yang terjadi. Aku pikir kau sangat menginginkan penerus untuk perusahaanmu. Aku pikir itu lebih penting daripada keluarga— daripada aku. Namun, aku salah. Kau bukan orang semacam itu.”

Kali ini Sasuke terdengar lebih lemas, “Kau mendengar semuanya?”

Sakura mengangguk, kemudian ia berkata, “Maaf.” 

“Tidak apa-apa.”

“Sasuke, aku pikir kau berhak mendapatkan wanita yang lebih baik dariku... karena itulah aku ingin bercerai. Namun aku belum bertanya apa yang sebenarnya kau pikirkan. Aku malah menarik kesimpulan sendiri.”

“Aku hanya ingin kau bahagia.” Sasuke menjawab dengan singkat.

“Namun perceraian mungkin saja akan membuatmu bahagia di masa depan,” Sakura melanjutkan, “Setidaknya itu yang aku pikirkan dulu.”

“Aku tidak tahu masa depanku akan seperti apa, orang selalu berubah. Mungkin saja itu akan membuatku senang, tapi...” Sasuke terdiam sejenak, “Tapi... sekarang, aku hanya ingin melihat orang yang aku cintai bahagia. Lakukan apa yang membuatmu bahagia Sakura.”

“Nyanyikan nina bobo.”

Kali ini Sasuke langsung menaikan satu alisnya, “Sakura... tidak ada guntur hari ini. Langit sangat cerah.”

Sakura tertawa dengan lega kemudian ia berkata pada Sasuke, “Kau bilang kau ingin membuatku bahagia bukan? Nyanyikan nina bobo.”

Suaminya tertawa kecil juga, kemudian suara rusak yang menyayat telinga itu terdengar juga. 

“Nina bobo... oh nina bobo.”

Tidak ada guntur sama sekali, tidak ada rasa takut di hati Sakura, tapi mendengar lagu itu... Sakura jadi bahagia. Sasuke yang kaku dan pintar rela untuk terlihat tidak keren untuk Sakura. Pria itu mengalah untuk menang. Menjadi lemah untuk kuat.

“Terima kasih.” Sakura tersenyum manis, “Sekarang giliranku... Apa yang bisa kulakukan untuk membuatmu bahagia?”

Sasuke kemudian berkata, “Tadi sudah kukatakan bukan?”

Kali ini Sakura terlihat bingung, “Apa?”

“Berbahagialah Sakura.” Sasuke berkata dengan tenang.

“Itu saja?”

“Aku tahu kau selalu ingin membantuku, menanyakan kabarku dan apa yang bisa kau lakukan untukku... tapi terkadang, aku tidak butuh itu.”

“Tapi... Sasuke, kau bisa bergantung padaku,” Sakura menepuk pundak suaminya, “Aku bisa membantumu.”

“Banyak orang yang membantuku, itu sering kudapatkan dalam dunia bisnis,” Sasuke berkata, “Terkadang aku hanya butuh melihat kau tertawa. Saat aku melihat itu, paling tidak aku tahu, jika istriku saja bisa berbahagia, maka cepat atau lambat aku juga pasti bisa berbahagia sepertimu. Jika kesedihan bisa berlalu di kehidupanmu, maka kesedihan juga bisa berlalu di kehidupanku.”

Kali ini Sakura hanya bisa menangis terharu. Seharusnya ia mencintai suaminya seperti ini juga. Kenapa ia malah mencintai dengan begitu egois? Selama ini meski Sasuke tidak sempurna, paling tidak pria itu selalu bersabar. Pria itu bersabar dalam berbicara... Saat Sasuke kesal dan marah, pria itu tidak dengan gegabah berkata-kata. Pria itu bersabar dalam mengambil keputusan... Saat Sakura ingin bercerai, pria itu meminta Sakura untuk memikirkan ini dengan lebih matang esok hari. Pria itu sabar menunggu... Saat Sakura tidak ingin berhubungan intim, saat Sakura ngambek, semuanya sabar pria itu tunggu.

“Jadi, kau akan sabar jika aku tidak bisa punya anak?” Sakura akhirnya bertanya, “Kau tidak sedih?”

“Awalnya pasti sedih, kecewa...” Sasuke akhirnya menghapus air mata istrinya dengan sapu tangan, “Namun, aku memutuskan untuk berdiam diri dan memikirkan perasaanmu juga. Aku tidak ingin kamu makin sedih juga Sakura. Yang paling penting harusnya kebahagiaanmu.”

“Sebenarnya aku bisa ikut program-program yang ditawarkan oleh rumah sakit, tapi ini akan memakan waktu yang sangat lama untuk punya anak... mungkin akan beberapa tahun atau puluhan tahun kedepan baru terlihat hasilnya.” Sakura tampak murung, “Aku tidak tahu, aku harus mengecek lagi dengan lebih detail.”

“Jadi ada jalan keluarnya?” Sasuke menghela napas lega, “Kalau begitu kita bisa sabar menunggu untuk anak kita.”

Kali ini Sakura tampak kaget. Ternyata benar, Sasuke lebih memprioritaskan keluarga dan kesabaran daripada bisnis. Awalnya mungkin pria itu terpuruk, tapi kata Sai benar... lebih baik diam dan berpikir daripada terburu-buru berbicara dan salah. Sasuke sabar juga... Pria itu menunggu di saat yang tepat untuk akhirnya membicarakan pendapatnya tanpa emosi. Mungkin bagi Sasuke, ia butuh ayahnya untuk akhirnya bersikap seperti ini. Sedangkan Sakura, butuh nasihat dari Sai untuk bersikap seperti ini. 

Bahkan Sasuke bisa bersabar kepada ibunya yang begitu dingin dan kejam di mata Sakura. Ya... Kenapa pria itu bisa seperti itu? Padahal jelas-jelas ibunya begitu tidak berperasaan kenapa Sasuke bisa mengatakan bahwa ia tetap sayang ibunya? Kenapa sekarang? Kenapa?

“Sasuke... untuk ibumu...” Sakura menatap suaminya dengan bingung, “Aku turut bersedih melihat ia memperlakukanmu seperti itu...”

“Mungkin ia lelah...” Sasuke menerawang jauh juga, “Selama ini aku selalu salah paham pada ayahku, aku pikir ia tidak sayang padaku— Tidak bangga padaku. Ia hanya sayang Itachi... Karena itulah aku selalu ingin menang, aku ingin ayah mengakuiku juga.”

“Sasuke...”

“Aku salah. Ayah hanya terlalu stress dan sibuk. Ternyata ia begitu sayang padaku, ia saja yang tidak bisa menjelaskannya kepadaku.”

“Benar Sasuke.” Sakura tersenyum,  “Kurasa pasti ayahmu sayang padamu...”

“Ya, aku tahu itu. Ia akhirnya mengatakan bahwa ia sayang padaku tadi...” Sasuke tersenyum juga, “Begitu pula ibuku. Aku yakin ia sayang padaku... Meski ia tidak bisa menjelaskannya dengan baik.”

Kali ini Sakura terdiam. Bagaimana mungkin seorang anak bisa begitu sabar ketika diperlakukan dengan begitu kejam oleh ibunya sendiri? Sakura sendiri masih kesal pada ayahnya yang meninggalkannya untuk wanita lain. Sampai sekarang Sakura masih merasa ayahnya tidak menyayanginya... Namun, bagaimana jika memang ayahnya sayang padanya... Hanya saja pria itu tidak bisa menjelaskan rasa sayangnya pada Sakura? Mungkin saja ayah Sakura punya luka yang disembunyikan dari Sakura... Mungkin saja ayah Sakura pun seperti ibu Sasuke.... Punya kelemahan dan sifat yang sulit untuk Sakura terka. 

“Aku juga mungkin tidak bisa mengungkapkan perasaanku dengan baik padamu Sakura,” Sasuke menepuk pundak istrinya, “Tapi aku sedang belajar untuk mengungkapkannya....”

Kali ini Sakura tertawa kecil. “Kau ingin belajar untuk mengungkapkan perasaanmu? Seorang Uchiha Sasuke? Luar biasa. Itu butuh kesabaran yang tinggi.” 

“Kalau begitu mari kita bersabar bersama,” Sasuke tersenyum dengan tulus.

Darimana kesabaran itu datang?

Cinta. Cinta itu sabar.

Pasti itu cinta yang sesungguhnya.

XXX

A/N:

Ini untuk kalian juga yang sudah sabar menunggu chapter ini. Aku menulis ini karena apapun yang kalian tunggu dalam hidup ini, baik itu perubahan, teman, pacar, pekerjaan atau mungkin hanya menunggu balasan line, bbm atau sms dari orang lain... itu semua ada baiknya dan ada pelajarannya. Justru saat menunggu, kita tidak menunggu. Namun, menikmati pengalaman hidup yang dapat kita nikmati dan pelajari. Bagiku, kesabaran itu bukan kemampuan atau skill. Kesabaran adalah hadiah untuk kita semua, hadiah dari rasa cinta pada sesama. Hadiah yang berasal Allah. Tuhan sangat menyayangi kita karena itulah, ia sabar ketika kita berbuat salah dan tidak pernah lelah mengajari kita dalam kehidupan ini.

Aku juga akhirnya sabar dan lulus kuliah dengan baik. Kabar baiknya adalah, aku memutuskan untuk lebih lama berdiam di Sydney. Aku ingin mendalami pekerjaanku di sini dan semoga saja petualanganku di Sydney semakin berwarna. 

I hope you guys love the chapter, let me know in the review box below!

22 comments:

My First Love is My Housekeeper - Chapter 7

16:10 Melissa Gabriele 0 Comments

My First Love is My Housekeeper

Chapter 7

Running away

The Sanchaya Hotel
Image source : theluxurylisting.com
Disclaimer : I do not own Naruto

Uzumaki Naruto punya rencana brilian! Ia akan menolong Hyuga Hinata dan membantu Sasuke untuk menyelamatkan bayi yang dikandung Sakura. Jika ia menyelamatkan bayi itu dari aborsi, maka Sasuke akan mencari bukti-bukti yang menyatakan bahwa Itachi memaksa Hinata memalsukan dokumen-dokumen hukum. Brilian bukan? Ternyata cintanya pada Hinata juga bisa membantu bayi yang tidak bersalah. Cinta memang sangat luar biasa.


Hinata's Zimmerman Dress, Naruto's asos top
Image source: net-a-porter , asos


Sakura's Luisa Beccaria Dress, Sasuke's Hugo Boss Blazer
Image source : modaoperandi , mrporter.com 
Karena cinta itu, Naruto berhasil mengumpulkan Sasuke, Sakura dan Hinata di tempat yang sama, The Sanchaya Hotel. Walau Naruto sempat dimarahi, dicacimaki dan ditolak oleh Sakura dan Sasuke. Namun, kedua manusia keras kepala itu akhirnya menyerah dan terbang bersama ke Pulau Bintan, Indonesia. Pulau ini sangat dekat dengan Singapura. Mereka berempat berlayar dengan kapal pribadi Naruto dan hanya butuh waktu dua jam dari Singapore ke Pulau Bintan.

Jerih payah Naruto tidak sia-sia. Ia memandang Hotel Sanchaya Bintan, dengan senang. Hotel yang bergaya rumah kolonial Inggris ini tampak sangat apik. Dinding putih, daun jendela dan beranda berwarna hitam-putih menghiasi resort itu. Kolam renang yang ada di depan hotel tampak menyatu dengan pantai berpasir putih. Pohon-pohon palem berayun-ayun karena angin pantai yang damai. Tempat ini sempurna! Menurut riset, liburan di tempat yang damai bisa membuat hati lebih tenang. Karena itulah Naruto yakin, tempat ini akan membuat Sakura setuju untuk tidak aborsi! Dengan begitu kasus Hinata juga akan selesai dengan bantuan Sasuke! Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Naruto memang pintar!

“Hinata… Kau tenang saja. Pangeranmu akan menyelamatkanmu dari kasus Itachi,” Naruto berbisik di telinga Hinata.

Bidadarinya itu tampak kaget dan langsung berjalan mundur lima langkah. Pipi wanita itu tampak merah merona. Bibir merah mudanya terbuka dengan perlahan, kemudian suara kecil yang damai terdengar dengan lembut.

“Naruto-kun, maafkan aku sudah merepotkanmu… Aku tidak pantas untuk dilindungi seperti ini…”

“Aku akan menyembunyikanmu dari dunia, dari ibuku dan dari media.” Naruto mengacungkan ibu jarinya, “Ya kan Sasuke? Sakura? Kalian akan menyembunyikan Hinata juga bukan?”

“Ini semua untuk Hinata, tapi ingat aku tidak bisa lama-lama di sini,” Sakura menjawab dengan terburu-buru, “Aku punya urusan lain.”

“Urusan lain itu bukan aborsi bukan?” Sasuke langsung menyeletuk, “Kita belum selesai membahas masalah ini bersama-sama.”

“Dengar ya Uchiha-san,” Sakura melanjutkan, “Yang akan memutuskan aborsi atau tidak itu aku, bukan kau. Lagipula aku ingin memikirkan masalah Hinata dulu. Aku tidak ingin sahabatku dipenjara karena kakakmu memaksa Hinata memalsukan dokumen hukum.”

“Aku bisa mencari bukti-bukti bahwa Hinata tidak sepenuhnya bersalah, tapi kau harus setuju untuk menyelamatkan bayi itu dulu.” Sasuke menatap Sakura dengan serius.

“Tidak mau.”

Kali ini Naruto menghela napasnya. Kedua orang itu masih keras kepala. Hinata juga tampak khawatir dan tidak bisa berbicara apa-apa. 

“Sakura-san. Kalau kau tidak mau bantuanku kenapa kau setuju untuk datang ke pulau ini?” Sasuke menaikan satu alisnya.

“Aku hanya ingin menemani Hinata,” Sakura menjawab pria itu dengan tegas, “Kau sendiri kenapa ada di sini? Kalau kau di sini berharap aku akan berubah pikiran soal aborsi, lebih baik kau pulang saja.”

Naruto menatap wajah Sasuke dengan pusing. Kelihatannya pria itu sama keras kepalanya dengan Sakura. Perselisihan mereka berlanjut lagi.

“Sakura-san. Kau luar biasa keras kepala ya… Jadi apa rencanamu menyelamatkan Hinata kalau aku tidak mau membantumu?” Sasuke menantang wanita itu.

“Aku punya caraku sendiri.” Sakura berjalan masuk ke villa dengan kesal, “Lebih baik kau pulang saja alien egois.”

“Aku egois?” Sasuke tertawa sinis, “Aku ingin menyelamatkan bayi, sedangkan kau ingin menyelamatkan karirmu sebagai artis. Kali ini siapa yang egois?”

Naruto mengerti, sebagai artis, hamil di luar nikah itu masalah serius. Jika Sakura aborsi, tidak akan ada yang tahu. Media akan damai dan Sakura bisa menjalankan hari-harinya seperti biasa. Jika Sakura memutuskan untuk tetap mempertahankan bayinya…. Karirnya pasti hancur.  Artis-artis lain seperti Yamanaka Ino pasti akan menang. Naruto tahu betapa cintanya Sakura terhadap karirnya sebagai artis, tapi Naruto tidak tahu cinta Sakura terhadap karir justru lebih besar daripada nyawa seorang bayi.

“Sasuke-san. Kau tidak mengerti apapun soal hidupku, jadi kau diam saja.” Suara Sakura tampak kesal, kemudian wanita itu pergi dan masuk ke resort sendirian.

Hinata yang tampak panik, langsung mengikuti sahabatnya dari belakang. Naruto ingin sekali ikut menenangkan Sakura… Namun ia yakin, Hinata pasti bisa membantu menenangkan hati wanita itu. Hinata adalah bidadari baik hati, jadi Naruto bisa tenang. Bidadari seperti Hianta pasti bisa membantu Sakura sadar!

“Sakura-chan memang keras kepala,” Naruto melanjutkan, “Kau sabar saja ya.”

“Naruto, kau sudah membuang waktuku di sini, kau ingin aku membantu Hinata atau tidak?” Sasuke tampak kesal, “Sadarkan Sakura secepatnya. Atau masalah Hinata akan tambah parah.”

“Apa maksudmu tambah parah?”

“Kau ini sebenarnya tahu masalah Hinata dengan jelas atau tidak?” Sasuke menaikan satu alisnya.

“Hinata dipaksa kakakmu memalsukan dokumen hukum, ditangkap polisi, dibebaskan karena bukti tidak ada, lalu sekarang Hinata kabur?”

“Benar, tapi bisa tambah parah.” Sasuke menghela napasnya, “Polisi membebaskan Hinata karena bukti tidak ada. Kakakku juga punya banyak pengacara hebat lain yang sudah menggantikan Hinata. Sekarang kasusnya masih damai-damai saja. Namun jika bukti pemalsuan dokumen itu sudah ditemukan Hinata bisa langsung dipenjarakan.”

“Gawat-ttebayo!” Naruto langsung panik.

“Percuma kau menyembunyikan Hinata di sini,” Sasuke melanjutkan, “Kalau bukti sudah ada, Hinata akan dicari oleh banyak polisi. Sekarang saja, sudah ada banyak spekulasi kalau Hinata bersalah.”

“Tapi Hinata tidak sepenuhnya bersalah! Ia dipaksa Itachi!” Naruto langsung menyeletuk, “Jadi kalau bukti dokumen palsu itu sudah ada, maka kita juga harus memberikan bukti bahwa ia dipaksa Itachi! Aku butuh bantuanmu Sasuke!”

“Bagus kalau kau tidak bodoh seperti Sakura,” Sasuke melanjutkan, “Sakura pikir ia bisa menyembunyikan Hinata selamanya… Tapi kau pintar. Kau tahu bahwa kau butuh bantuanku Naruto. Tenang saja aku akan membuat seakan-akan Hinata sama sekali tidak bersalah. Semua adalah salah Itachi.”

“Eh?”

“Ya…  Kali ini Itachi akan menjadi yang terjahat dari yang terjahat. Aku akan membuat seakan-akan Hinata benar-benar tidak bersalah.”

“Bagaimana caranya?”

“Semua… bisa direkayasa dengan uang Naruto.”

Naruto merasa janggal, ada perasaan tidak enak di hatinya. Namun, jika ini bisa menyelamatkan Hinata… Mungkin ini adalah hal yang baik. Kali ini Sasuke berjalan masuk ke hotel juga. Naruto semakin yakin, bahwa hari-hari di Pulau Bintan ini akan melelahkan dan memusingkan.

XXX


The Restaurant
Image source : lifestyleasia
Haruno Sakura menatap wajah sahabatnya dengan iba. Hyuga Hinata, begitu polos, baik hati dan lemah lembut… sekarang hanya bisa bersembunyi di tengah Pulau Bintan untuk mencari ketenangan. Polisi mencurigainya, tapi tidak bisa mendapat bukti kesalahannya. Itachi memanfaatkan kelemahan Hinata untuk melanggar hukum. Sedangkan media sekarang malah menyebutnya, gadis materialistis misterius yang dikencani Naruto. Entah bagaimana perasaan Hinata, pasti sedih sekali. Hebatnya gadis itu masih bisa tersenyum dengan hangat.

“Aku tahu aku tidak pantas mengatakan ini.” Hinata mengikuti Sakura yang berjalan mengelilingi hotel, “Namun sebenarnya aku juga tidak setuju dengan aborsi itu…”

Kali ini rasa iba Sakura terhadap Hinata berubah seratus delapan puluh derajat. Raut wajah Sakura berubah menjadi serius dan penuh dengan emosi. Ia kaget, Hinata yang biasanya diam dan selalu netral tiba-tiba setuju dengan keputusan Sasuke.

“Hinata masalahmu lebih penting,” Sakura menaikan nada bicaranya, “Tidak usah membahas aborsi, hal semacam itu bisa kuselesaikan sendiri.”

Kali ini Hinata terdiam. Sahabat Sakura itu hanya bisa mengangguk dan terus mengikuti Sakura. Entah kenapa, Sakura bisa melihat bahwa Hinata agak sedih mendengar kata-kata Sakura. 

Mereka berdua hanya terdiam terus. Suasananya jadi sangat canggung. Padahal Sakura setuju pergi ke sini untuk menemani Hinata, untuk menghibur sahabatnya itu. Bodohnya, sekarang justru ia yang membuat sahabatnya menjadi bersedih. Ah, ini semua karena masalah aborsi— seharusnya ia tidak perlu mengatakan keputusannya kepada Sasuke. Apa yang harus Sakura lakukan untuk menghibur Hinata sekarang?

Ah, makanan! Ia tahu Hinata suka memasak dan menikmati makanan. Sakura akhirnya berjalan masuk ke dalam restoran The Dining Room di dalam villa itu.

“Hinata kau mau makan?”

“Um… Boleh, tapi—”

Sakura menatap Hinata yang kebingunan mencari dompet di dalam tasnya.

Chloe Drew Bag
Image source : thegirlfrompanama
“Aku yang traktir,” Sakura memotong kata-kata Hinata, “Dulu kau juga sering mentraktirku, jadi tidak usah merasa tidak enak.”

Sakura langsung masuk ke dalam restoran dan memperhatikan sekelilingnya. Kelihatannya Naruto dan Sasuke sudah menyewa satu hotel, sampai ke restorannya juga. Daritadi semua kosong, tidak ada tamu lain selain mereka berempat. Restorannya hanya dipenuhi oleh waitress dan furnitur-furnitur bergaya Bistronomic. Kayu-kayu vintage, teleskop antik dan buku-buku tahun 1800-an tertata dengan apik. Sinar matahari juga masuk dengan mudah dari jendela-jendela kayu yang bergaya Inggris Kolonial. Restoran ini terlihat seperti restoran bersejarah yang dihiasi oleh sedikit sentuhan modern.

Saat mereka duduk bersama, Hinata langsung terlihat lebih tenang. Kesedihan di wajah gadis itu perlahan sirna. Sekarang mungkin adalah waktu yang tepat untuk mencari topik yang jauh dari aborsi. Sakura benar-benar tidak ingin orang lain ikut campur soal masalah ini. Meskipun orang itu adalah sahabatnya sendiri.

“Permisi,” suara waitress yang tenang mencairkan suasana, “Apakah ada yang bisa saya bantu?”

“Kami ingin memesan tiga makanan terbaik di tempat ini,” Sakura tersenyum hangat, “Kemudian untuk minumannya, bolehkan saya memesan Vodka Lemonade?”

Kali ini Hinata langsung berbicara dengan lembut, “Sakura… Vodka— alkohol tidaklah baik untuk… kondisimu sekarang.”

Sang artis kekinian itu langsung menghela napasnya, “Baiklah, Lemonade saja. Kau ingin minum apa Hinata?”

“Aku ingin air mineral saja,” Hinata berbicara dengan sopan, “Terima kasih.”

Setelah waitress itu pergi, Sakura jadi merasa kesal lagi. Padahal tadi mereka sudah hampir mengganti topik! Namun, masalah aborsi malah datang lagi. Itu semua karena Vodka Lemonade. 

“Oh ya Hinata,” Sakura langsung mendapat ide untuk mengganti topik dengan drastis, “Kau sebenarnya suka Naruto atau tidak?”

Kali ini wajah Hinata terlihat sedikit merona. Lesung pipitnya diwarnai merah muda. Wanita itu tampaknya sedikit malu, tapi senyumannya yang sopan tetap mewarnai wajahnya. Seperti biasa, Hinata selalu mencoba untuk menjaga postur tubuhnya yang tegak dan sifatnya yang lemah lembut. Meskipun ia malu, tapi ia masih terlihat seperti putri raja.

“Maaf…” Hinata akhirnya membuka mulutnya, “Aku rasa aku tidak pantas untuk menyukai Naruto-kun.”

Kali ini Sakura tertawa terbahak-bahak. “Yang tidak pantas itu Naruto, bukan kamu. Secara logika, Naruto yang seperti anak-anak begitu, seharusnya yang tidak pantas menyukai orang yang dewasa sepertimu.”

Hinata masih menjaga posturnya dengan sopan. Sahabatnya itu benar-benar sulit untuk berbicara dengan santai. Entah apakah si bodoh Naruto itu berhasil mencairkan dinding kesopanan Hinata ini. Sifat Naruto itu benar-benar berlawanan dengan sifat Hinata. 

“Aku justru merasa Naruto-kun adalah orang yang dewasa.”

Kali ini Sakura berhenti tertawa. Naruto? Dewasa? Ini benar-benar di luar dugaan Sakura. Entah apa yang Hinata lihat dari wajah si idiot itu...

“Naruto-kun berhasil mengejar mimpinya, menjadi artis dan menjadi pengusaha yang sukses,” Hinata tersenyum lembut, “Sedangkan aku justru lari dari mimpiku sendiri.”

“Jika kasus memalsukan dokumen ini tidak terungkap… Kau tetap saja berhasil menggapai mimpimu menjadi pengacara yang sukses Hinata,” Sakura menjelaskan, “Kau juga hebat.”

Kali ini makanan mereka datang. Hidangan-hidangan yang lezat mewarnai meja kayu mereka. Kambing yang dipenuhi bumbu-bumbu Indonesia. Kemudian Crème Brulee yang di hiasi oleh asap-asap dingin gastronomi… Semuanya tertata dengan indah.


Lamb & Creme Brulee
Image source : vanillaluxury
“Makanan punya seni yang indah ya….” Hinata menatap hidangan di meja dengan takjub, “Kau tahu bukan? Aku punya satu mimpi yang dulu kutinggalkan… Aku ingin mendalami dunia memasak.”

“Ah… Ya, dulu kau juga pernah ingin menjadi koki,” Sakura mengingat-ingat lagi, “Kau sempat belajar dari koki terkenal dunia bukan? Wanita yang bernama Mikoto kalau tidak salah.”

“Ya… Aku menyerah karena aku merasa apakah aku berhak punya dua mimpi?” Hinata tersenyum pahit, “Satu mimpi saja tidak bisa kujalankan dengan baik. Menjadi pengacara yang baik saja aku tidak bisa… Aku tidak sehebat kau dan Naruto-kun…”

Kali ini Sakura mengingat-ingat lagi perjuangannya menjadi seorang artis. Ia sendiri juga merasa ia tidak sehebat banyak orang. Ia masih harus berjuang melawan Yamanaka Ino, musuh terbesarnya di karir ini. Jika ia hamil, media akan mencaci-maki Sakura. Meskipun ia menikahi Sasuke… Media akan tahu bahwa pernikahannya itu hanyalah pernikahan karena hamil di luar nikah. Pernikahan terpaksa…. Karena kesalahan Sakura. Jadi aborsi adalah pilihan terbaik… Jika satu nyawa bisa dikorbankan untuk karir yang sudah Sakura perjuangkan. Apalah arti satu nyawa?

“Aku tidak sehebat yang kau kira Hinata.” Sakura tersenyum pahit, “Ada banyak hal yang harus kukorbankan untuk mempertahankan mimpiku.”

“Seperti satu nyawa?”

Kali ini suara Hinata terdengar lembut, tapi sangat tajam. Entah kenapa sahabatnya begitu mengerti akan dirinya. Ternyata, apa yang ada di hati Sakura, Hinata sudah tahu. 

“Aku tidak punya pilihan lain…” Suara Sakura semakin kecil dan perlahan semakin lemah.

“Kita semua punya pilihan.” Hinata melanjutkan, “Aku menyesali pilihanku untuk membantu Itachi-san. Jangan sampai kau juga menyesali pilihanmu untuk bayi ini.”

Sakura terdiam, hatinya terasa semakin ragu. Tadinya ia sudah yakin ingin mengaborsi bayi ini. Namun, perasaan bersalah, perasaan janggal semakin menyelimuti hatinya.

Nyawa.

Sakura membawa satu nyawa baru di dalam dirinya….

Mungkin saja, nyawa kecil ini bisa mengubah dunia, menjadi pengacara yang baik atau menjadi dokter yang mulia. Namun, Sakura tidak memberikan nyawa ini kesempatan untuk hidup. Apakah ini hal yang tepat? Apakah karir memang lebih penting dari nyawa kecil ini?

Sakura tidak tahu, ia benar-benar tidak tahu.

Apakah mimpi bisa dikabulkan atas dasar kebohongan, keraguan dan perasaan bersalah?

XXX


Mangrove Forest
kompasiana.com
Pasti ada manusia yang sedang berlari jauh hari ini. Naruto merasa, mungkin Hinata sedang berlari dari pekerjaannya sebagai pengacara. Sakura sedang berlari dari keputusan aborsi. Sedangkan Sasuke sedang berlari entah kemana. Semua orang punya masalah mereka sendiri. Naruto, sang artis kekinian sendiri…. Sedang berlari pagi di hutan Mangrove Pulau Bintan.

Ia berlari di atas jalanan yang terbuat dari kayu. Mata birunya memandang hutan bakau yang penuh dengan burung-burung yang berwarna-warni. Hutan ini sangat sejuk dan penuh dengan udara segar. Naruto bisa melihat akar-akar pohon bakau yang banyak dan kuat. Akar itu berfungsi untuk melindungi abrasi laut, menjaga kualitas air dan melindungi bencana alam seperti hempasan ombak atau badai. Naruto sungguh merasa kagum dengan akar pohon bakau. Akar ini saja bisa begitu kuat dan berguna… Apakah Naruto juga bisa seperti itu? Bisa berguna dan teguh?

Kali ini matanya yang berfokus pada hutan bakau langsung beralih ke titik fokus lain. Bidadari!!! Ada bidadari! Ia dapat melihat Hinata sedang beristirahat di gazebo kecil di dekat jalanan kayu hutan bakau ini.

Naruto's 2XU Sportwear, Hinata's Forever 21 Jumpsuit
Image source : mrporter , picvpic.com
Wanita itu tampak tenang dan sopan seperti biasa. Bajunya tampak sopan tapi praktikal. Walau hanya baju sederhana dan celana panjang, Hinata tetap terlihat mempesona. Mungkin ini adalah arti dari kata-kata, ‘simplicity wins.’

Hinata masih menerawang jauh ke daerah rawa, tidak menyadari bahwa Naruto sudah berjalan mendekat di belakangnya. Kali ini Naruto dengan iseng meniup udara di telinga kecil Hinata. Walau ia hanya iseng, tapi Hinata langsung terjatuh ke atas lantai karena kaget.

“Hinata!!! Maafkan aku-ttebayo!” Naruto menunduk untuk melihat keadaan Hinata, “Apakah kau baik-baik saja?”

Walau Naruto panik, tapi Hinata hanya tersenyum dengan sopan dan bangkit berdiri dengan tenang.

“Aku tidak apa-apa,” suara Hinata terdengar damai, “Pagi-pagi begini kau sudah bangun dan berjalan pagi?”

“Kau juga Hinata, kau justru lebih pagi lagi daripada aku.” Naruto tersenyum hangat, “Bagaimana kau suka pulau ini?”

“Aku suka.” Hinata ikut tersenyum hangat, “Namun, aku tidak bisa lari dari kenyataan selamanya… Soal kasus Itachi—”

“Aku akan membantu sebisaku-ttebayo!” Naruto langsung terdengar bersemangat.

“Sebenarnya… aku jadi lebih berpikir banyak tadi malam.” Hinata terdengar serius, “Sebagai pengacara yang baik, aku tidak bisa berbohong terus. Aku harus berbicara dengan Itachi dan bertanggung jawab.”

“Tapi ini bukan sepenuhnya salahmu-ttebayo!” Naruto langsung menaikan nadanya, “Aku dan Sasuke akan membuktikan bahwa Itachi yang memaksamu! Bahkan Sasuke bilang ia bisa merekayasa beberapa hal dengan uang, dan membuat seakan-akan Itachi yang salah total. Kamu bisa bebas Hinata…”

“Dan berbohong lagi?” Hinata tersenyum pahit, “Walau Itachi-san memaksaku, itu tetap salahku. Aku tetap memalsukan dokumen itu… Aku tidak ingin menyalahkan Itachi-san terus. Aku juga ingin bertanggung jawab.”

“Tapi bagaimana dengan mimpimu sebagai koki?”

“Naruto-kun… Aku juga punya mimpi ingin menjadi pengacara yang baik… Namun sekarang aku malah gagal total.”

“Aku bisa membantumu menggapai kedua mimpimu Hinata! Apapun yang terjadi, walau aku harus menyembunyikanmu, berbohong, berkorban—”

“Namun, apakah menggapai mimpi harus dengan hal-hal seperti itu?” Hinata tampak kecewa, “Saat aku kecil, aku pikir kerja keras yang paling penting... bukan tipu muslihat.”

“Hinata…”

“Saat aku melihat Sakura yang berusaha melindungi mimpinya sebagai artis… Ia bahkan sampai rela membunuh bayi yang tidak bersalah,” Hinata tampak semakin sedih, “Jangan-jangan aku juga seperti itu, melindungi mimpiku sebagai pengacara hebat dan sekarang berfokus menjadi koki… Semua dengan berbohong.”

Hinata akhirnya berjalan mengelilingi Hutan Bakau itu pelan-pelan. Wanita itu hanya terdiam. Naruto ikut berjalan di samping wanita itu, sambil berpikir juga… Sebenarnya apa yang ada di benak Hinata sekarang.

Ah. Akhirnya mulut kecil wanita itu terbuka lagi.

“Aku berbohong… Aku bilang aku tidak lulus SMA saat kita bertemu di apartemenmu, padahal aku lulus kuliah hukum.”

Ah… Iya, waktu itu Hinata memang berbohong, bahkan menuliskan kebohongannya dengan tulisan yang rapih dan jelas. 

“Kemudian kebohonganku berlanjut, semakin lama semakin banyak.”

Naruto jadi mengingat lagi, saat ibunya mengatakan rahasia Hinata. Bahwa Hinata mungkin adalah orang yang jahat. Sasuke mengatakan bahwa masalah hukum Hinata sebenarnya bisa berlanjut parah. Setiap kali ada kebohongan yang terungkap, wajah manis Hinata semakin terlihat lemas. 

“Naruto-kun, apakah tidak pernah terlintas di pikiranmu bahwa aku adalah orang yang jahat?”

Kali ini Naruto mengingat suara ngorok Darth Vader Hinata dan Naruto malah tertawa.

“Maaf Hinata, aku tidak bisa membayangkanmu sebagai orang yang jahat, tanpa mengingat suara ngorok Darth Vadermu.”

Kali ini wajah serius Hinata langsung berubah jadi merah merona. Telinga putih, wanita itu juga berubah kemerahan. Sang bidadari itu langsung menunduk karena malu. 

“Itu… Aku… Ah, lupakan saja.” Suara Hinata terdengar seperti hamster kecil yang sedang makan biji bunga matahari, “Intinya aku tidak ingin jahat lagi… Aku ingin kembali ke Jepang dan bertemu dengan Itachi. Aku ingin menjelaskan semua dengan mantan klienku dulu sebelum aku berhadapan dengan kepolisian. Aku tidak ingin berbohong lagi.”

Ini memang keputusan yang berat… Namun Naruto bisa melihat bahwa Hinata serius. Ia ingin berhenti berbohong, berhenti mencari alasan untuk meringankan beban… Berhenti untuk bergantung pada Naruto. Entah kenapa ia merasa Hinata jadi terlihat lebih tegar, lebih kuat. Seakan-akan Hinata sudah menjadi akar pohon bakau yang kuat.

Sebenarnya, Hinata berbohong atau tidak berbohong. Naruto sudah terlanjur menyukai Hinata… Namun ia baru tahu, justru ketika Hinata justru menjadi berani dan ingin mengakui kesalahannya…. Hinata justru jadi terlihat makin dewasa, makin mempesona…. Makin membuat Naruto kagum.

“Hinata… Sebelum kau kembali ke Jepang, aku boleh melakukan sesuatu tidak?”

Kali ini Hinata terlihat bingung, “Bolehkah aku tahu apa itu Naruto-kun?”

“Aku ingin membacakan puisi untukmu, aku baru saja membuatnya di benakku.”

Kali ini Hinata terdiam sebentar karena kaget. Kemudian wanita itu akhirnya mengangguk perlahan.

“Ehem. Ini adalah puisi dari Uzumaki Naruto untuk Hyuga Hinata.” Naruto menunjuk pohon bakau di tempat itu dengan percaya diri, “Judulnya Pohon Bakauku.”

“Eh?” Kali ini Hinata hampir tertawa, “Pohon Bakauku?”

“Dimana air laut dan air rawa bertemu,
Di sanalah kutemukan dirimu
Saat ombak lautan penuh amarah
Akar-akarmu tak pernah goyah
Di dunia ini, kaulah pohon bakauku
Melindungi ragaku, menyejukan jiwaku.”

Kali ini Naruto menatap Hinata dengan penuh harapan. Ia menunggu wanita itu merespon puisinya yang gombal. Namun, wanita itu hanya terdiam dengan wajah yang kebingungan. Entah salah tingkah atau hanya tidak punya jiwa seni. Naruto tidak tahu yang mana.

“Hinata… Kau tahu maksud puisinya bukan?” Naruto menggaruk-garuk kepalanya, “Maksudnya kau itu seperti pohon bakau, karena tidak mau kabur saat ombak dunia datang.”

Kali ini Hinata semakin terlihat aneh. Hinata jadi tidak bisa diam dan berjalan maju-mundur. Ah! Pasti salah tingkah! Itu pasti jawabannya! Hinata malu karena Naruto begitu romantis! Mungkin lingkaran friendzone ini akan segera berakhir!

“Hinata,” Naruto semakin mendekat, “Puisi ini kubuat hanya untukmu.”

“Iya… Tapi…” Hinata menunduk kebawah, “Pohon bakau itu sedikit… u-unik?”

Kali ini Naruto langsung meneliti puisinya sekali lagi. Tunggu dulu! Biasanya, puisi-puisi gombal ala sinetron berhubungan dengan bunga mawar! Kenapa Naruto malah memilih pohon bakau?! Argh…. Naruto benar-benar bukan pria yang romantis! Bodohnya ia malah merasa sangat romantis tadi…. Mungkin pemikiran Naruto masih harus lebih banyak di asah lagi.

“Ah! Maafkan aku Hinata, kurang romantis ya?” Naruto langsung tertawa malu, “Kelihatannya perjalanan friendzoneku masih jauh.”

Kali ini Hinata tertawa karena reaksi Naruto. Kemudian karena tawa Hinata, sang artis kekinian itu ikut tertawa juga.

“Pohon bakau ya…” Hinata tersenyum lagi, “Ya. Kurasa kita memang harus kuat seperti pohon bakau… Tidak terus berlari dan kabur… Namun berpegang teguh kepada apa yang benar.”


Bakau
Image source : thesanchaya.com

XXX

A/N:

It’s finally here again ☺ Terimakasih sudah menunggu chapter ini. Aku sangat suka dengan hutan bakau. Entah kenapa, aku sangat bangga menjadi orang Indonesia. Negara ini sebenarnya memiliki hutan bakau terbanyak di dunia. I think that’s pretty awesome. Hutan bakau punya banyak manfaat dan sangat penting untuk ekosistem. Perairan di dekat pohon bakau bisa dipakai untuk tempat tinggal kepiting, akarnya menahan abrasi dan ombak besar, kemudian bisa juga dipakai untuk tempat wisata.

Thank you so much for your support! Have a wonderful day

0 comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...