Marrying Uchiha Sasuke - Chapter 20

16:10 Melissa Gabriele 22 Comments

Marrying Uchiha Sasuke

Chapter 20

Love is Patient


Charles de Gauelle
Image source : pt.france

Disclaimer : I do not own Naruto

Uchiha Sakura menatap passportnya sambil menghela napasnya. Uchiha. Sebentar lagi nama itu akan hilang dari passportnya. Bukankah begitu? Sakura menatap Bandara Paris yang indah dan modern. Langit-langit Charles de Gaulle Airport terbuat dengan kaca bening. Sakura bisa melihat langit biru Kota Paris, Perancis. Sebenarnya, walau ia sudah ada di Kota Paris, hatinya masih ada di Santorini.

Ia masih belum berbicara banyak dengan Sasuke. Wajah suaminya tampak seperti pria yang dingin dan tidak punya semangat. Kemarin malam mereka berdua masih berdansa di kapal Santorini... Namun pagi ini, mereka berdua langsung terbang ke Paris karena Sasuke mendengar ayahnya sakit parah. Percakapan mereka tentang perceraian tidak lagi diungkit karena sakit parah Fugaku jauh lebih penting. Sangat penting, sampai-sampai mereka meninggalkan Naruto dan Hinata. Dengan cepat, Sasuke langsung mengatur penerbangan dari Santorini ke Paris lewat jet pribadinya. Kasihan sekali, entah kenapa masalah tidak pernah lepas dari hidup suaminya. Pertama masalah Sakura yang tidak bisa punya anak... kemudian ayahnya yang jatuh sakit.


Sakura's Burberry 2016/2017 Trench Cape, Sasuke's Burberry Wool Cashmere Coat
Image Source : burberry.com 
Sakura tahu, jika Fugaku meninggal... Sasuke dan Itachi akan memperebutkan perusahaan Uchiha. Ah... Jika saja Sakura bisa memberikan Sasuke seorang penerus... Pasti suaminya akan lebih sukses untuk menang dari Itachi. Sayangnya, Sakura tidak bisa melakukannya. Ia merasa tidak pantas menjadi istri Sasuke. Sungguh, ia benar-benar tidak ingin pergi ke Paris dan bertemu dengan Fugaku. Ia tidak punya muka untuk berhadapan dengan realita ini. 

Suaminya sama sekali tidak berbicara apa-apa. Sakura juga tidak bisa berbicara apa-apa. Mereka hanya bisa berdiam sambil berjalan keluar dari Bandara Paris. Entah kenapa Sakura sendiri juga sudah tidak bisa berbicara lagi kepada Sasuke. Ia terlalu takut untuk tahu isi hati suaminya. Ia merasa... sekarang, yang terbaik adalah kabur. Berharap, ia tidak ada di dalam masalah ini. Sasuke bisa mencari wanita lain dan wanita itu bisa membahagiakan Sasuke. Jujur saja, Sakura merasa dirinya tidak lagi mampu membahagiakan suami yang disayanginya itu.

Saat Sakura menoleh ke kanan, ia dapat melihat wajah suaminya dengan jelas. Ia dapat melihat kerutan tajam di kening sang suami. Sasuke terus menarik kopernya sambil menerawang jauh. Senyuman dan kebahagiaan sudah pergi jauh dari kehidupan mereka. Apa yang harus ia katakan? Biasanya Sakura selalu pintar mencari bahan untuk berbicara, tapi kepintaran itu seakan-akan hilang dalam sekejap. 

“Apakah ayahmu baik-baik saja?” Sakura akhirnya mencoba untuk berbicara.

“Ibuku menyembunyikan masalah ini dariku... Jika mata-mataku yang memberitahukan penyakit ini padaku, pasti penyakit ini sangat parah.”

“Sasuke... Maaf... Aku tidak bisa membantu apa-apa. Aku juga tidak bisa punya anak untukmu...”

“Kenapa kau selalu ingin membantuku?” Sasuke berjalan semakin cepat, “Apakah aku pernah meminta bantuanmu? Apakah aku pernah memaksamu untuk mempunyai anak? Kenapa kau terus mengambil kesimpulan sendiri?”

Kali ini Sakura semakin merasa sedih. Kata-kata pria itu selalu saja sangat tajam. Tentu saja, seorang istri ingin membantu suaminya! Bukankah itu hal yang wajar? Tentu saja Sakura ingin memberikan Sasuke seorang anak! Bukankah itu akan membantunya memenangkan perang bisnis ini? Sungguh, ia tidak mengerti dengan sifat dan pikiran suaminya. Sejak dulu sampai sekarang... Ia selalu dibuat pusing oleh Sasuke.

“Sakura...” Sasuke akhirnya berhenti berjalan, “Maaf....”

Raut wajah Sasuke berubah menjadi agak menyesal. Kelihatannya suaminya menyadari kesedihan di wajah Sakura.

Kemudian suaminya berbicara lagi, “Apapun yang keluar dari mulutku, lupakan saja. Aku sedang tidak bisa berpikir logis sekarang.”

“Sasuke.” Sakura menatap wajah suaminya dengan bingung, “Aku tidak bisa membaca pikiranmu... Kalau kau tidak berbicara apa-apa padaku, bagaimana caranya aku bisa membantumu? Katakan padaku sekarang. Sekarang juga aku akan membantumu!”

“Sakura... Apakah harus sekarang?” Sasuke kembali berjalan cepat, “Biarkanlah aku berpikir sendiri dulu.”

Sakura tidak mengerti... Apa maksud kata-kata Sasuke? Tentu saja Sakura ingin membantu Sasuke... Kenapa pria itu malah ingin sendirian?

Dalam sekejap, pria itu sudah jauh berada di depan Sakura. Ah. Jadi ini rasanya melihat pundak Sasuke. Beberapa hari ini, Sakura merasa sedang hidup di dalam bayangan suaminya. Ia tidak bisa melihat wajah Sasuke, hati Sasuke. Yang dapat Sakura lihat hanyalah pundak Sasuke. Dingin, jauh dan penuh dengan misteri. Jadi begini rasanya tidak dipedulikan? Jadi begini rasanya ditinggalkan? 

Sakura berhenti berjalan. Ia terdiam melihat suaminya yang terus berjalan dari kejauhan. Pundak dan koper Sasuke terlihat semakin jauh. Kerumunan orang mulai menutupi jalan. Luar biasa, Sasuke bahkan tidak sadar istrinya sudah tidak ada di sampingnya. Pria itu bahkan tidak menoleh kebelakang. Pria itu benar-benar tidak peduli padanya. Bukankah begitu?

Sudahlah, ia memang tidak pantas untuk berada di sisi suaminya. Lebih baik ia memang bercerai saja, jadi pria itu akan mendapatkan wanita yang lebih pantas. Lebih baik sekarang ia berjalan di lain arah. 

Tersesat di Paris sendirian... Mungkin begini lebih baik.

XXX


The Louvre
Image source :.dailymail.co.uk
Mantan pacar.

Mantan pacar Sai ada di hadapannya. 

Kenapa Sakura ada di Paris? 

Sai sekarang sedang berada di musium The Louvre. Pria dengan kulit putih porselen itu sedang berjalan ke luar dari gedung ini. Musium ini terdiri oleh beberapa gedung. Gedung yang ia tempati sekarang berbentuk seperti piramida kaca dan dikelilingi oleh kolam air mancur. Sedangkan gedung yang lain terlihat seperti istana dan terletak di sisi kanan dan kiri piramida kaca yang Sai tempati.

Ada banyak sekali kerumunan orang di kedua gedung ini, apalagi hari ini adalah akhir pekan. Sai yakin, jika ia berpura-pura tidak mengenali Sakura, pasti ia akan berhasil. Wanita itu tidak akan sadar Sai ada di musium itu. Ia hanya perlu berlari sekencang mungkin dan kembali ke kamar hotelnya.

Sai awalnya memutuskan untuk berjalan menjauh... Namun, setelah ia pikir-pikir secara logika. Ia merasa tidak apa-apa jika mereka berbicara sebentar. Hubungan mereka sudah berakhir dan Sakura sudah menikah. Ia seharusnya merasa tidak enak kalau kabur. Semakin dekat ia berjalan, semakin jelas wajah Sakura terlihat. Ah, sudah lama sekali ia tidak bertemu Sakura. 

Sakura's Self-Potrait Dress, Sai's Kingsman Suit
Image source : net-a-porter , mrporter.com

Waktu di Roma, ia sempat ingin berpacaran lagi dengan Sakura... Sayangnya, wanita itu sudah menikah dengan lelaki lain. Ia bukan orang yang suka merusak rumah tangga orang lain. Walau ia tidak bisa memiliki Sakura... Namun, ia menghormati keputusan wanita itu. Sekarang mereka hanya bisa berteman... Dan Sai tidak mengharapkan lebih. Sungguh. Bahkan ia jadi mengingat lagi hari dimana ia dan Sakura putus. Waktu itu Sakura mengatakan padanya bahwa wanita itu tidak percaya pada hubungan jarak jauh. Bahwa Sai lebih baik mencari wanita lain yang ada di Roma. Agar tidak menderita bersama Sakura yang jauh di Jepang. Entah kenapa alasan itu terkesan logis di benak Sai, tapi jujur saja... Jika Sakura tidak mengusulkannya, ia sendiri tidak akan memutuskan Sakura. Wanita itu adalah wanita yang baik. Namun, terkadang kebaikan Sakura malah melukai wanita itu sendiri. Ia hanya berharap, kesedihan di wajah Sakura hari ini bukanlah hasil dari diri Sakura sendiri.

Sai terus berjalan mendekati Sakura. Raut wajah Sakura yang sedih semakin jelas. Semakin dekat dan jelas sampai-sampai wanita berambut merah muda itu hampir menabraknya.

“Sai!” Suara Sakura terdengar jelas di telinga Sai, “Kau ada di Paris?”

“Kita selalu bertemu di dalam musium dan galeri seni.” Sai berusaha untuk tersenyum, “Suatu kebetulan yang aneh.”

“Tidak juga... Waktu itu kita sempat berpapasan di Ritz-Carlton Tokyo.” Sakura ikut tersenyum.

“Ah. Kau mengingatnya?” Sai tampak kaget, kejadian itu sudah lama sekali.

“Kenapa aku harus lupa?” Sakura tertawa kecil, “Saat itu kita sempat mulai makan duluan sebelum ada yang makan. Kemudian kita sempat berdansa sebentar, kemudian—”

“Kemudian suamimu datang,” Sai melanjutkan kata-kata Sakura.

Wanita itu langsung terdiam ketika kata-kata suami keluar dari mulut Sai. Kerutan kembali datang di dahi Sakura. Sebenarnya Sai tidak suka memotong pembicaraan orang lain. Ia selalu berhati-hati dalam berbicara. Namun, ia bukan tipe orang yang suka merusak rumah tangga orang lain. Ia hanya ingin menegaskan bahwa pertemuan ini hanyalah pertemuan biasa. Bahwa ia masih ingat Sakura adalah istri dari Uchiha Sasuke.

“Kelihatannya kami akan bercerai.” Sakura menghela napasnya.

Kali ini Sai dapat melihat keputusasaan di dalam wajah Sakura. Kemudian nada bicara wanita itu terdengar seperti prajurit yang kalah perang. Ia tidak bisa membaca pikiran Sakura, tapi ia tahu sebenarnya wanita itu tidak ingin bercerai. Namun, entah kenapa keputusan wanita itu sudah sangat bulat.

“Apa yang terjadi?” Sai benar-benar bingung.

Sakura berjalan perlahan-lahan menelusuri musium kaca itu sambil tersenyum pahit. “Ini adalah jalan terbaik untuk kami berdua.”

Ah. Kata-kata ini tidak asing di telinga Sai. Waktu mereka putus, Sakura juga mengatakan hal yang sama. Putus adalah jalan terbaik. Hubugan jarak jauh terlalu rumit. Sai seharusnya mendapatkan wanita yang lebih pantas dan Sakura sendiri juga tidak percaya hubungan jarak jauh. Jadi ini adalah jalan yang terbaik.... Ya jalan yang terbaik bagi Sakura, bukan bagi Sai. Padahal waktu itu Sai merasa ia masih bisa berjuang. Namun, Sai juga tahu... Ia tidak bisa berjuang sendiri. Kalau Sakura sudah putus asa, ia sebagai lelaki juga harus menghormati keputusan seorang wanita yang dikasihinya.

“Jalan yang terbaik untuk kalian berdua ya?” Sai berjalan sambil menghela napasnya, “Kata-kata itu pendapatmu saja atau pendapatmu dan Sasuke?”

“Aku rasa Sasuke juga merasa begitu.” Sakura kali ini berjalan ke luar musium.

Ternyata tebakannya benar. Kali ini Sakura mengambil kesimpulan sendiri. Sama seperti waktu mereka putus dulu. Entah kenapa Sai merasa kasihan kepada Sasuke. Ia merasa suami Sakura tidak diberikan kesempatan untuk membicarakan ini baik-baik... Sakura dengan cepat mengambil kesimpulan sendiri. Padahal belum tentu Sasuke berpikir begitu.

Sai mengikuti wanita itu keluar. Ia menelusuri jalanan yang berada di dekat kolam air dan hanya bisa terdiam sejenak. Sai ingin memberi nasihat sebagai seorang teman. Namun, ia juga tidak tega menatap wajah Sakura yang tambah lesu.

“Aku lelah Sai,” Sakura akhirnya berbicara lagi, “Aku lelah sekali menikah... Pernikahan itu tidak seromantis di film-film. Mereka semua bohong, tidak ada yang memberi tahu aku kalau menikah itu sangat sulit.”

“Kenapa sulit?” Sai benar-benar tulus untuk mencari nasihat dan jalan keluar. 

“Panjang ceritanya,” Sakura menjawab singkat.

“Apakah kau sudah makan siang?” Tanya Sai.

“Belum... Aku bahkan belum makan pagi.” Sakura tertawa pahit.

“Aku punya waktu.” Sai tersenyum prihatin, “Apakah kau ingin berbicara sambil makan?”

Sakura awalnya agak ragu, tapi ia akhirnya mengangguk.

XXX


Maison Blanche
Image source : pinterest
Uchiha Sakura tidak menyangka dirinya dan Sai akan duduk di teras restoran Maison Blanche sampai sore. Menara Eiffel terlihat jelas dari teras restoran. Maison Blanche terletak di atas Théâtre des Champs Elysées Avenue di Montaigne. Garis-garis sederhana dan desain yang didominasi oleh warna putih, membuat restoran ini tampak berkelas. Sebagian besar desainnya terinspirasi oleh wilayah Languedoc yang sederhana tapi kaya.

Ini seharusnya terkesan romantis, tapi anehnya Sakura tidak merasa begitu. Ia masih kesal soal Sasuke dan ia malah menggebu-gebu bercerita soal kisah dirinya dan suaminya. Mulai dari pernikahan palsu mereka, sampai keguguran Sakura, sampai rahimnya yang kering... sampai keputusannya untuk cerai karena ia tidak tahan. 

Meskipun Sai adalah mantan pacar Sakura, tapi mereka dulu sempat bersahabat baik sebelum berpacaran. Jadi, Sakura merasa Sai yang sekarang lebih mirip seperti sahabat daripada mantan pacar. Kenapa? Sakura butuh teman untuk mendengarkannya dan ia sudah kehilangan Ino. Jadi sisanya hanya Tsunade, Naruto dan Sai. Jika Sakura berbicara kepada Tsunade sekarang, pasti Tsunade sibuk...  Sedangkan Naruto sedang berbahagia dengan Hinata. Jadi daripada Sakura murung terus dan perang batin... Ia akhirnya membuka mulutnya dan berharap Sai akan bersikap netral dan menjaga rahasia Sakura.

“Aku mengatakan ini padamu, karena aku percaya padamu.” Sakura menghela napasnya, “Jadi... menurutmu bagaimana? Apakah pilihanku tepat?”

Kali ini Sai hanya menjawab dengan tenang, “Yang paling tahu dirimu adalah kamu dan yang paling tahu Sasuke adalah Sasuke sendiri. Tepat atau tidak... Itu harus diputuskan kedua belah pihak.”


Maison Blanche's dessert by Chef Paul Donore
Image source : maison-blanche.fr
“Tapi... Sai,” Sakura memotong kue kecil di piringnya sambil menghela napas, “Aku tidak bisa punya anak sekarang. Solusi kedokteran ada... Tapi itu semua butuh waktu dan prosedur yang lama. Sasuke pasti ingin punya anak secepatnya. Bahkan ayahnya sudah sekarat dan jika Sasuke ingin memenangkan posisinya, ia harus punya penerus secepatnya. Aku tidak pantas untuknya...”

“Apakah Sasuke berkata kepadamu bahwa kamu tidak pantas untuknya?” Sai menaikan satu alisnya.

“Tidak... Tapi sepertinya begitu.” Sakura menerawang jauh melihat menara Eiffel, “Aku ingin menghiburnya, tapi ia malah ingin sendirian. Tadi aku menghilang, tapi ia tidak mencari aku. Katakan padaku Sai, bukankah itu artinya sudah tidak sayang?”

“Setiap orang butuh waktu untuk sendirian Sakura, apalagi saat sedang marah atau sedih,” Sai menjawabnya dengan tenang, “Itu bukan hal yang aneh, tapi justru bijak. Lebih baik membahas saat pikiran tenang daripada langsung berbicara tapi isinya kata-kata bodoh dan tajam semua.”

“Itu... benar sih.” Sakura memakan potongan kuenya, “Lalu bagaimana dengan anak? Aku tidak bisa punya anak sekarang. Aku tahu secara kedokteran aku bisa berusaha dan akan ada presentase sukses. Namun, akan terlalu lama jika ia ingin menunggu hasil prosedur rumah sakit. Itu masalah besar bukan? Ia butuh penerus secepatnya. Ia harus mengalahkan Itachi.”

“Hal itu hanya Sasuke yang bisa menjawab.” Sai tersenyum tipis, “Aku bukan Sasuke, jadi jawaban apapun yang aku katakan, tidak akan berlaku juga.”

“Tapi... Aku sungguh-sungguh butuh nasihatmu Sai...” Sakura menghela napasnya.

“Nasihatku adalah.... berhenti mengambil kesimpulan terlalu cepat,” Sai menjelaskan dengan tenang, “Kau tidak bisa mengukur kebahagiaan orang lain, apa yang kau pikir baik untuk orang lain... bisa saja tidak baik sama sekali.”

“Jadi apa yang harus aku lakukan?”

“Bersabarlah... dan tanya di saat yang tepat.” Sai kembali menikmati makanannya, “Jika orang itu siap untuk menjawabmu, ia pasti akan menjawabmu. Ingat, semua ada waktunya.”

Benar juga. Selama ini Sakura terlalu cepat mengambil kesimpulan. Ia selalu berpikir bahwa ia tahu yang terbaik untuk Sasuke. Ia jadi ingat kata-kata Sasuke. Di bandara tadi, Sasuke bertanya padanya.

“Kenapa kau selalu ingin membantuku? Apakah aku pernah meminta bantuanmu? Apakah aku pernah memaksamu untuk mempunyai anak? Kenapa kau terus mengambil kesimpulan sendiri?”

“Sakura... ingat juga hal ini,” Sai berkata lagi, “Kau tidak bisa memaksa Sasuke untuk terus mengejarmu saat kamu ngambek dan menghilang tiba-tiba seperti ini. Paling tidak katakan padanya kau ada di mana dan kapan kau akan kembali.”

“Sai, kalau aku katakan padanya kapan dan dimana aku berada, itu artinya aku tidak ngambek...”

“Sebenarnya untuk apa kamu ngambek? Kau berharap suamimu mencarimu dan kau sekarang merasa ia mencintaimu?”

“Well.. Iya, bisa dibilang begitu.”

“Aku tidak tahu dengan pendapat Sasuke tapi menurutku, sifat ini sangat egois.” Sai merenung sejenak, “Di satu pihak kau ingin menyenangkan hati Sasuke menjadi istri yang baik. Namun, lihat lagi Sakura kamu malah ngambek agar Sasuke menyenangkan hatimu... Jadi kau ingin menyenangkan Sasuke atau dirimu sendiri? Lalu, apakah Sasuke memang ingin bercerai? Ataukah ini egoismemu sendiri yang ingin kabur dari masalah dan tanggung jawab?”

Kali ini Sakura diam seribu bahasa. Bukan karena ia bisu, tapi karena kata-kata Sai mengunci mulutnya seperti pisau. Rasanya pedas sekali karena kata-kata Sai benar. Ia sebenarnya ingin menyenangkan Sasuke atau dirinya sendiri? Selama ini Sakura egois... Ia tidak berpikir tulus untuk suaminya, ternyata secara tidak langsung ia juga berpikir untuk dirinya sendiri.

Sebenarnya ini sudah lama terjadi. Saat pesta dan Sakura berlari-lari di tengah hujan, ia pikir Sasuke tidak menginginkan anaknya... Ternyata tidak. Kemudian masih banyak hal-hal kecil lain yang tidak terhitung. Ya, sebenarnya ini sering terjadi. Padahal solusinya akan lebih mudah jika Sakura tidak ngambek dan mengambil kesimpulan sendiri. Akan jauh lebih mudah jika ia tenang dan membicarakan ini baik-baik.

“Maaf jika kata-kataku terlalu tajam.” Sai membungkuk, “Tapi aku yakin tidak ada manusia yang sempurna. Aku tidak, kamu tidak, Sasuke juga tidak. Jadi untuk apa kita mencari kesempurnaan dari seseorang yang tidak sempurna? Hanya Tuhan yang sempurna. Suamimu, tidak akan bisa menghasilkan cinta yang sesuai dengan setiap kebutuhanmu. Kamu juga sama. Namun, kalian bisa saling mengerti, memaafkan dan berbagi. Sisanya serahkan pada Tuhan. Bukankah begitu?” 

Kali ini Sakura terdiam. Kata-kata Sai benar. 

“Sejak kapan kau jadi bijak begini?” Sakura tertawa tipis.

“Sejak aku bertobat.”

“Serius?”

Kali ini Sai tertawa, “Setiap orang pasti berubah Sakura, orang yang tadinya sangat kau kenal bisa berubah. Entah menjadi jauh lebih baik atau lebih buruk.”

“Untungnya kau berubah jadi lebih baik ya.”

“Ya. Untungnya...” Sai menghela napasnya, “Kau harus berhati-hati juga jika bercerita kepada orang lain Sakura. Untungnya kau berbicara kepada orang yang memberi nasihat yang membangun. Kalau mereka malah menjatuhkanmu bagaimana?”

“Iya ya... Kau benar Sai...” 

“Intinya tenang saja... dan lakukan sesuatu setelah berpikir matang dan penuh rasa syukur.” Sai mengakhiri kalimatnya dengan mengancungkan jempol.

“Dan jangan ngambek lagi?” Sakura menaikan alisnya.

“Ya. Dan jangan ngambek lagi.”

Kemudian mereka berdua tertawa lepas.

XXX


1956 Black Porsche 356
Image source : fantasyjunction.com 
Uchiha Sakura duduk di dalam mobil mewah klasik 1956 Black Porsche 356. Ia sekarang sedang dalam perjalanan menuju ke hotel yang sudah disiapkan suaminya. Ia tidak pernah menyangka dirinya akan secepat ini berhenti ngambek. Ia melakukan apa yang disarankan Sai dan hatinya merasa jauh lebih tenang. Sakura melihat ponselnya lagi dan tersenyum membaca pesan singkatnya beberapa jam yang lalu kepada sang suami.

‘Maafkan aku Sasuke, tadi aku tidak memberi kabar karena aku punya sedikit masalah. Namun, aku sudah tidak apa-apa. Aku ada di restoran Maison Blanche dan akan segera kembali ke hotel dalam waktu tiga puluh menit. Bolehkah aku tahu hotel kita ada dimana agar kita bisa bertemu di lobi? Aku juga berharap ayahmu baik-baik saja.’

Ia tertawa kecil. Sebenarnya ia sempat kesal karena suaminya tidak dengan cepat menjawabnya. Kau bayangkan! Hanya di read saja. Namun, Sai mengatakan untuk bersabar. Bahwa kehidupan Sasuke tidak hanya berpusat pada Sakura saja. Apalagi Fugaku sedang sakit parah.

Karena Sai, Sakura jadi bersabar lagi dan tak lama kemudian pesan dari Sasuke datang. 

‘Sakura, maaf juga aku baru menjawab sekarang. Kondisi ayah kritis. Hotelnya Shangri-La Hotel Paris. Jika kau butuh supir aku akan mengirimkan orang untuk menjemputmu di restoran. Kemudian aku akan menunggumu di lobi.’

Ya. Karena Sasuke mengirim pesan itu, Sakura bisa duduk dengan nyaman di dalam mobil yang dikirim sang suami. Ternyata suaminya memang peduli kepadanya. Ia memang terlalu banyak pikiran. Untung saja Sakura memutuskan untuk mengirimkan pesan itu. Entah apa yang akan terjadi jika Sakura berkeliaran terus di Paris sendirian. Mungkin ia akan pingsan karena stress berlebih dan tubuh yang lemah. Mungkin ia akan terus berpikir untuk bercerai sepanjang hari untuk kesimpulan yang ia ambil dengan tergesa-gesa sendirian.


Shangri-La Paris
Image source: boris-victor.blogspot.com.au
Akhirnya, mobil mewah hitam itu berhenti di depan hotel Shangri-La Paris yang klasik dan megah. Sakura pikir hotelnya akan penuh dengan kaca dan modern, tapi ia salah. Hotelnya sangat kuno dan mirip dengan istana kecil. Batu-batunya berwarna krem, merepresentasikan kelembutan dan klasik. 

“Kita sudah sampai,” Supir itu berbicara, “Selamat menikmati hari anda.”

“Terima kasih!” Sakura tersenyum dan berjalan ke luar dari mobil.

Entah kenapa ada rasa ketidaksabaran untuk sampai ke lobi hotel itu. Sakura tahu Sasuke sudah menunggunya di dalam lobi.  Jadi meskipun ia sedang mengenakan hak tinggi, Sakura dengan bersemangat berlari masuk ke dalam hotel.

Orang-orang yang bekerja di sana tersenyum hangat membukakan pintu mewah klasik kontemporer untuk Sakura. Dengan penuh keceriaan, Sakura melihat kanan kiri, mencari suaminya.

Namun, ia belum bisa menemukan Sasuke.

Lobi itu besar— Sangat besar. Di tengah-tengah lobi ada ruang oval dengan chandelier di atasnya dan vas bunga megah di atas meja bundar. Lantainya terbuat dari marmer kualitas tinggi. Kemudian ada resepsionis ramah yang siap melayani Sakura di sebelahnya.


Shangri-La Hotel Lobby
Image source: lefigaro.fr
“Apakah ada yang bisa saya bantu?”

“Ah, aku tidak apa-apa. Suamiku sudah ada di sini.” Sakura tersenyum ramah.

Kali ini Sakura berjalan menuju ke lobi atas. Ia menelusuri tangga melingkar yang terbuat dari marmer dan dihiasi oleh karpet berwarna merah kecoklatan. Ia berjalan dengan anggun sambil berpegangan pada besi berwarna keemasan disekitar tangga. 


Shangri-La Hotel Stairs
Image source : pinterest.com
Di lantai dua, ia dapat melihat ruang duduk yang mewah dengan sofa keemasan dan langit-langit yang tinggi. Pilar-pilar marmer serta jendela kaca yang klasik menghiasi ruangan. Di dekat jendela, ia dapat melihat Sasuke sedang duduk sendirian dan merenung melihat lantai. Ia tidak pernah melihat Sasuke sesedih ini. Bahkan berita rahim kering Sakura saja tidak membuat wajah Sasuke sampai seperti itu.

Sakura yang masih berada di kejauhan hanya bisa menatap suaminya dengan bingung. Sekarang ia harus berbuat apa?

Sebelum ia berjalan mendekat, ibu Sasuke berjalan dari arah yang berbeda. Sakura yang kaget langsung bersembunyi di balik salah satu pilar besar di sana. Saat itu hotel sangat sepi. Ya. Sakura memutuskan untuk menguping, ia merasa penasaran untuk mendengar percakapan mereka. 

Sakura bisa mendengar suara Mikoto dengan jelas. Bahkan di saat seperti ini suara Mikoto terdengar dingin, sopan dan kaku.

“Kenapa kau ada di sini sendirian Sasuke?”

Bukannya menjawab pertanyaan Mikoto, Sasuke malah bertanya kembali, “Kenapa ibu tidak memberi tahu kabar ayah?”

“Ini yang terbaik untuk kalian berdua.”


Sasuke's Lanvin Suit, Mikoto's Marchesa S/S 2017
Image source : mrporter.com , vogue.com
Biasanya Sasuke hanya terdiam menanggapi jawaban Mikoto yang tegas. Kali ini suaranya tegas luar biasa. Seakan-akan apa yang Mikoto lakukan tidak salah. Bahwa sang ibu tidak merasa bersalah dirinya tidak memberi tahu kabar Fugaku. Sakura pikir Sasuke akan terdiam saja, seperti biasanya. Sasuke biasanya tidak ikut campur jika keputusan ibunya sudah mantap. Namun, Sakura kaget ketika mendengar Sasuke berbicara dan menanggapi ibunya dengan berani.

“Apa yang terbaik untuk ibu.... Mungkin bukan yang terbaik untuk kami semua.”

“Sasuke.” Kali ini suara Mikoto terdengar agak naik, “Ada banyak hal yang ibu perhitungkan. Bisnis keluarga kita, saham kita yang akan turun, kemudian kamu dan kakakmu. Jika kalian berdua tahu soal penyakit ini sekarang, kalian bisa berperang habis-habisan.”

“Apakah aku serendah itu?” Suara Sasuke terdengar agak lemas, “Apakah aku dan kakak serendah itu di matamu sampai-sampai kau pikir jabatan lebih penting untuk kami daripada keluarga?”

Kali ini ibunya terdiam sejenak. Kemudian Mikoto bersuara lagi, “Bukankah selama ini itu yang kalian lakukan? Bersaing untuk menjadi lebih sukses? Selama ini aku membesarkan kalian untuk sukses, aku tidak membesarkan kalian seperti keluarga normal lain. Kita punya tugas besar. Keluarga lain tidak punya perusahaan besar untuk dilindungi—”

“Aku berusaha untuk berprestasi, agar ayah dan ibu senang dengan apa yang kulakukan. Aku hanya ingin kalian bangga, agar kalian memperlakukanku seperti Itachi— Jujur saja aku tidak peduli lagi perusahaan kita seperti apa... Selama ini aku berjuang agar saat ayah pensiun aku bisa membuatnya bangga, karena itulah aku menunggu saat dimana ia memilihku, bukan Itachi. Aku menunggu ia bangga padaku saat pensiun... bukan meninggal!”

Sakura tidak pernah mendengar Sasuke seperti itu sebelumnya. Suara yang penuh kelemahan, tapi juga penuh keberanian. Penuh kejujuran, tapi juga penuh dengan rasa luka. Namun yang paling dapat Sakura dengar adalah... kasih sayang. Sasuke punya kasih sayang di dalam hatinya, bukan bisnis yang ada di benaknya— tapi perasaan seorang anak yang menyayangi ayahnya dan membuat ayahnya bangga.

Air mata turun di wajah Sakura. Ia merasa malu kepada dirinya sendiri. Ia juga sempat berpikir Sasuke ingin jabatan itu karena ia gila jabatan. Sakura pikir itu mimpi besar Sasuke. Di benaknya suaminya adalah seorang anak pengusaha sukses, bukan anak seorang ayah. Sakura malu karena persoalan rahim keringnya malah ia rubah jadi persoalan bisnis. Padahal mungkin, suaminya lebih peduli pada kondisi hati Sakura dan siap bersabar untuk menunggu anak mereka pada waktunya. Ya, pasti pria itu kecewa, tapi Sasuke masih ingin berdansa dengannya di Santorini... walau Sasuke pusing dan terdiam terus, itu pasti karena beban dari keluarga Sasuke. Sungguh, Sakura malu karena ia pikir Sasuke egois dan berambisi, padahal itu semua hanya kesimpulan yang dia ambil sendiri.

“Sasuke.” Suara Mikoto masih tenang dan tegas, “Sejak kapan kau menggunakan emosimu? Tenangkan hatimu dan susunlah rencana yang logis untuk perusahaan ini. Ibu permisi dulu, ada meeting penting.”

Kali ini Sasuke terdiam, Sakura juga. Apakah benar ada orang sedingin ini di dunia? Sebenarnya apa yang ada di dalam hidup Mikoto sampai-sampai wanita itu jadi sedingin es?

“Ibu. Kau tahu apa yang ayah katakan padaku dengan suaranya yang lemah tadi?” Sasuke terdengar serius, “Ia berkata padaku bahwa ia sayang padaku.”

“Begitukah?” Suara Mikoto terdengar terkejut, tapi ia menahan dirinya untuk tetap tenang.

“Proyekku masih banyak yang belum selesai, aku masih kalah dari Itachi... tapi aku dapat merasakan bahwa bagi ayah... itu cukup. Ia tidak berkata banyak, tapi aku tahu... baginya aku cukup, ia sayang padaku apa adanya. Untuk pertama kalinya... aku mengatakan padanya, bahwa aku juga sayang padanya.”

Selama ini Fugaku memang sibuk, pria tua itu juga tidak berkata banyak pada Sakura. Jujur saja, Sakura tidak kenal dekat dengan Fugaku. Pria itu selalu sibuk berkeliling dunia, bertemu orang penting dan mengelola bisnisnya. Mungkin karena kesibukannya itu, anak-anaknya dan istrinya jadi tidak begitu tahu sifat aslinya. Bahwa pria yang terkesan jauh dan misterius itu sebenarnya hanyalah seorang ayah biasa yang menyayangi anak-anaknya. Mereka saja yang terlalu cepat mengambil kesimpulan, padahal Fugaku pasti mencintai mereka apa adanya.

Kali ini Mikoto tidak berkata apa-apa lagi. Sakura hanya dapat mendengar suara hak tinggi yang bergema di atas lantai marmer yang mahal. Suara gemanya terdengar seperti irisan pisau yang tajam. Sakura tidak dapat membayangkan perasaan Sasuke ditinggal begitu saja oleh ibunya di saat kelam seperti ini. Bahkan diperintahkan untuk berfokus pada bisnis bukan penyakit sang ayah. 

Kali ini suara gema hak itu berhenti, kemudian suara Mikoto terdengar lagi.

“Sebenarnya ibu juga kasihan pada ayahmu, tapi Sasuke... Ibu punya tugas yang harus ibu lakukan. Pikirkan juga tugasmu.”

“Ibu... aku mengerti, itu memang sifat ibu,” Sasuke melanjutkan, “Tapi...”


Kali ini mereka terdiam sejenak.

“Tapi... aku sayang ibu.”

Sakura pikir Mikoto akan membalas kata-kata Sasuke. Namun, wanita itu tidak berkata apa-apa.  Kali ini suara lift berbunyi dan Sakura dapat mendengar suara pintu lift yang terbuka dan kemudian tertutup. Suara Mikoto sudah tidak terdengar lagi. Sakura berasumsi Mikoto pasti masuk ke lift itu dan sudah ada di lantai atas sekarang. 

Setelah memberanikan diri, Sakura akhinya berhenti bersembunyi dari pilar marmer yang besar. Ternyata benar, saat ia menoleh hanya ada Sasuke seorang diri di sana. Ia berjalan perlahan menuju ke arah Sasuke. Pria itu kali ini dengan mudah menyadari suara hak Sakura. Padahal awalnya sang suami hanya menatap lantai dengan murung.

“Sakura.” Suaminya menatap Sakura dengan lesu, “Aku dengar masalahmu sudah selesai. Maaf aku belakangan ini tidak bisa berbicara banyak untuk menghiburmu. Aku punya banyak pikiran di benakku.”

“Aku yang seharusnya minta maaf.” Sakura akhirnya duduk di samping suaminya, “Aku tidak peka akan apa yang terjadi. Aku pikir kau sangat menginginkan penerus untuk perusahaanmu. Aku pikir itu lebih penting daripada keluarga— daripada aku. Namun, aku salah. Kau bukan orang semacam itu.”

Kali ini Sasuke terdengar lebih lemas, “Kau mendengar semuanya?”

Sakura mengangguk, kemudian ia berkata, “Maaf.” 

“Tidak apa-apa.”

“Sasuke, aku pikir kau berhak mendapatkan wanita yang lebih baik dariku... karena itulah aku ingin bercerai. Namun aku belum bertanya apa yang sebenarnya kau pikirkan. Aku malah menarik kesimpulan sendiri.”

“Aku hanya ingin kau bahagia.” Sasuke menjawab dengan singkat.

“Namun perceraian mungkin saja akan membuatmu bahagia di masa depan,” Sakura melanjutkan, “Setidaknya itu yang aku pikirkan dulu.”

“Aku tidak tahu masa depanku akan seperti apa, orang selalu berubah. Mungkin saja itu akan membuatku senang, tapi...” Sasuke terdiam sejenak, “Tapi... sekarang, aku hanya ingin melihat orang yang aku cintai bahagia. Lakukan apa yang membuatmu bahagia Sakura.”

“Nyanyikan nina bobo.”

Kali ini Sasuke langsung menaikan satu alisnya, “Sakura... tidak ada guntur hari ini. Langit sangat cerah.”

Sakura tertawa dengan lega kemudian ia berkata pada Sasuke, “Kau bilang kau ingin membuatku bahagia bukan? Nyanyikan nina bobo.”

Suaminya tertawa kecil juga, kemudian suara rusak yang menyayat telinga itu terdengar juga. 

“Nina bobo... oh nina bobo.”

Tidak ada guntur sama sekali, tidak ada rasa takut di hati Sakura, tapi mendengar lagu itu... Sakura jadi bahagia. Sasuke yang kaku dan pintar rela untuk terlihat tidak keren untuk Sakura. Pria itu mengalah untuk menang. Menjadi lemah untuk kuat.

“Terima kasih.” Sakura tersenyum manis, “Sekarang giliranku... Apa yang bisa kulakukan untuk membuatmu bahagia?”

Sasuke kemudian berkata, “Tadi sudah kukatakan bukan?”

Kali ini Sakura terlihat bingung, “Apa?”

“Berbahagialah Sakura.” Sasuke berkata dengan tenang.

“Itu saja?”

“Aku tahu kau selalu ingin membantuku, menanyakan kabarku dan apa yang bisa kau lakukan untukku... tapi terkadang, aku tidak butuh itu.”

“Tapi... Sasuke, kau bisa bergantung padaku,” Sakura menepuk pundak suaminya, “Aku bisa membantumu.”

“Banyak orang yang membantuku, itu sering kudapatkan dalam dunia bisnis,” Sasuke berkata, “Terkadang aku hanya butuh melihat kau tertawa. Saat aku melihat itu, paling tidak aku tahu, jika istriku saja bisa berbahagia, maka cepat atau lambat aku juga pasti bisa berbahagia sepertimu. Jika kesedihan bisa berlalu di kehidupanmu, maka kesedihan juga bisa berlalu di kehidupanku.”

Kali ini Sakura hanya bisa menangis terharu. Seharusnya ia mencintai suaminya seperti ini juga. Kenapa ia malah mencintai dengan begitu egois? Selama ini meski Sasuke tidak sempurna, paling tidak pria itu selalu bersabar. Pria itu bersabar dalam berbicara... Saat Sasuke kesal dan marah, pria itu tidak dengan gegabah berkata-kata. Pria itu bersabar dalam mengambil keputusan... Saat Sakura ingin bercerai, pria itu meminta Sakura untuk memikirkan ini dengan lebih matang esok hari. Pria itu sabar menunggu... Saat Sakura tidak ingin berhubungan intim, saat Sakura ngambek, semuanya sabar pria itu tunggu.

“Jadi, kau akan sabar jika aku tidak bisa punya anak?” Sakura akhirnya bertanya, “Kau tidak sedih?”

“Awalnya pasti sedih, kecewa...” Sasuke akhirnya menghapus air mata istrinya dengan sapu tangan, “Namun, aku memutuskan untuk berdiam diri dan memikirkan perasaanmu juga. Aku tidak ingin kamu makin sedih juga Sakura. Yang paling penting harusnya kebahagiaanmu.”

“Sebenarnya aku bisa ikut program-program yang ditawarkan oleh rumah sakit, tapi ini akan memakan waktu yang sangat lama untuk punya anak... mungkin akan beberapa tahun atau puluhan tahun kedepan baru terlihat hasilnya.” Sakura tampak murung, “Aku tidak tahu, aku harus mengecek lagi dengan lebih detail.”

“Jadi ada jalan keluarnya?” Sasuke menghela napas lega, “Kalau begitu kita bisa sabar menunggu untuk anak kita.”

Kali ini Sakura tampak kaget. Ternyata benar, Sasuke lebih memprioritaskan keluarga dan kesabaran daripada bisnis. Awalnya mungkin pria itu terpuruk, tapi kata Sai benar... lebih baik diam dan berpikir daripada terburu-buru berbicara dan salah. Sasuke sabar juga... Pria itu menunggu di saat yang tepat untuk akhirnya membicarakan pendapatnya tanpa emosi. Mungkin bagi Sasuke, ia butuh ayahnya untuk akhirnya bersikap seperti ini. Sedangkan Sakura, butuh nasihat dari Sai untuk bersikap seperti ini. 

Bahkan Sasuke bisa bersabar kepada ibunya yang begitu dingin dan kejam di mata Sakura. Ya... Kenapa pria itu bisa seperti itu? Padahal jelas-jelas ibunya begitu tidak berperasaan kenapa Sasuke bisa mengatakan bahwa ia tetap sayang ibunya? Kenapa sekarang? Kenapa?

“Sasuke... untuk ibumu...” Sakura menatap suaminya dengan bingung, “Aku turut bersedih melihat ia memperlakukanmu seperti itu...”

“Mungkin ia lelah...” Sasuke menerawang jauh juga, “Selama ini aku selalu salah paham pada ayahku, aku pikir ia tidak sayang padaku— Tidak bangga padaku. Ia hanya sayang Itachi... Karena itulah aku selalu ingin menang, aku ingin ayah mengakuiku juga.”

“Sasuke...”

“Aku salah. Ayah hanya terlalu stress dan sibuk. Ternyata ia begitu sayang padaku, ia saja yang tidak bisa menjelaskannya kepadaku.”

“Benar Sasuke.” Sakura tersenyum,  “Kurasa pasti ayahmu sayang padamu...”

“Ya, aku tahu itu. Ia akhirnya mengatakan bahwa ia sayang padaku tadi...” Sasuke tersenyum juga, “Begitu pula ibuku. Aku yakin ia sayang padaku... Meski ia tidak bisa menjelaskannya dengan baik.”

Kali ini Sakura terdiam. Bagaimana mungkin seorang anak bisa begitu sabar ketika diperlakukan dengan begitu kejam oleh ibunya sendiri? Sakura sendiri masih kesal pada ayahnya yang meninggalkannya untuk wanita lain. Sampai sekarang Sakura masih merasa ayahnya tidak menyayanginya... Namun, bagaimana jika memang ayahnya sayang padanya... Hanya saja pria itu tidak bisa menjelaskan rasa sayangnya pada Sakura? Mungkin saja ayah Sakura punya luka yang disembunyikan dari Sakura... Mungkin saja ayah Sakura pun seperti ibu Sasuke.... Punya kelemahan dan sifat yang sulit untuk Sakura terka. 

“Aku juga mungkin tidak bisa mengungkapkan perasaanku dengan baik padamu Sakura,” Sasuke menepuk pundak istrinya, “Tapi aku sedang belajar untuk mengungkapkannya....”

Kali ini Sakura tertawa kecil. “Kau ingin belajar untuk mengungkapkan perasaanmu? Seorang Uchiha Sasuke? Luar biasa. Itu butuh kesabaran yang tinggi.” 

“Kalau begitu mari kita bersabar bersama,” Sasuke tersenyum dengan tulus.

Darimana kesabaran itu datang?

Cinta. Cinta itu sabar.

Pasti itu cinta yang sesungguhnya.

XXX

A/N:

Ini untuk kalian juga yang sudah sabar menunggu chapter ini. Aku menulis ini karena apapun yang kalian tunggu dalam hidup ini, baik itu perubahan, teman, pacar, pekerjaan atau mungkin hanya menunggu balasan line, bbm atau sms dari orang lain... itu semua ada baiknya dan ada pelajarannya. Justru saat menunggu, kita tidak menunggu. Namun, menikmati pengalaman hidup yang dapat kita nikmati dan pelajari. Bagiku, kesabaran itu bukan kemampuan atau skill. Kesabaran adalah hadiah untuk kita semua, hadiah dari rasa cinta pada sesama. Hadiah yang berasal Allah. Tuhan sangat menyayangi kita karena itulah, ia sabar ketika kita berbuat salah dan tidak pernah lelah mengajari kita dalam kehidupan ini.

Aku juga akhirnya sabar dan lulus kuliah dengan baik. Kabar baiknya adalah, aku memutuskan untuk lebih lama berdiam di Sydney. Aku ingin mendalami pekerjaanku di sini dan semoga saja petualanganku di Sydney semakin berwarna. 

I hope you guys love the chapter, let me know in the review box below!

22 comments:

  1. HAIIII KAK, AKHIRNYA RILIS!!! AKU SENANG SEKALI KARENA SELAMA NOVEMBER AKU BOLAK-BALIK CEK BLOG KAKAK UNTUK NUNGGU KELANJUTANNYA:""""

    Semoga bisa melanjutkan fanfic ini dengan lancar sampai selesai ya, Kak. Dan selamat berpetualang di Sydney. Semoga aku bisa nyusul. Amiiiin.

    PS: aku yang kirim e-mail ke kakak dengan subject Hello! :---)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haii!! thank you for your e-mail! Maaf aku baru sempat membalas sekarang :D Amin. Ayuk aku tunggu di Sydney. Have a Merry Christmas and Happy New Year!!!

      Delete
  2. congrats ya sudah lulus.
    chapter ini tetap keren, terasa nyata. ok keep writing

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you so much for this :D It made my day!! The latest chapter is now released! I hope you like it!

      Delete
  3. Aaaaaaa... Akhirnya Kak Melissa Update!! Seperti biasa, ceritanya Kakak selalu penuh makna dan always cool. Wah, kapan ya aku bisa nulis kayak Kak Mel... BTW, ditunggu ya next chapternya sama yg My First Love is MH Housekeeper nya juga...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you for your support !! I'm so touched :D Aku akan selalu menunggu commentmu juga di chapter berikutnya hehhe. Have a good day!

      Delete
  4. Akhirnyaaaa november telah tiba :D
    Betul kak sabar kunci keberhasilan. Dulu sebelum kakak putuskan akn update lama (Hampir setahun) aku masihlah seorang siswa SMA yg gk sabaran (Tiap hari ngecek blog kakak) dan sekarang aku uda jadi Mahawiswi yg penuh sabar :D
    Mahasiswa yg merantau dan jadi anak kos yg hidup serba pikir2 hahaha :v

    Selain kuliah aku juga jadi hobi berpetualang ditanah rantau kak..

    Congratulation atas wisudanya kak. Nantikan aku ditanah Sydney ya kak ;) (Amin)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aww... you're too sweet!! Iya kesabaran adalah menunggu dengan rasa syukur. I'm glad to know you and hope to see you too in Sydney!

      Delete
  5. Kak aku suka bngt ff kakak ini.. bener" bagus banget.. awalnya aku baca di fanfiction.net dan skrg aku bru nemu blog kakak jadi lebih suka baca di sni hehe soalnya suka sama gambar" yg kakak masukkin.. Salam kenal kak^^
    Congrats atas wisudanya..
    Suka bngt karakter sasuke di sni.. ditunggu kelanjutan nya ya ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aww thank you so much juga sudah membaca cerita ini! I just updated chapter 21. I hope you like it~

      Delete
  6. Kapan nih chapter 21 nyaaa ??? Hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku baru saja merilisnya hari ini! Thank you for your support :D

      Delete
  7. Kesabaran yang manis, makasih kak udah menuhin janji buat up lagi. Congrats juga buat graduate nya. Apapun yang terjadi jangan berhenti nulis ya karena aku satu dari sekian orang yang selalu nunggu karya kakak selanjutnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa makasih banyak atas supportnya! I always enjoy writing for everyone :D

      Delete
  8. Aaaaa selamat yaa kak buat kelulusannya!!! ceritanya meninspirasi banget teruama tentang kesabarann:3
    Sebagai pembaca yang baik aku akan nunggu kakak buat chapter selanjutnyaa:3 chap.21:3
    Btw aku emang suka sama sasuke, trus pas liat cerita ini tertarik gitu:3 makanya nyoba baca, suka, lanjut deh:3 sekarang jadi pembaca setia yang akan sabar nunggu kakak buat bikin ceritanya:3
    Sekali lagi selamat ya kak buat kelulusannya:3 omedetogozaimasu, melissa gabriele nee-san!
    Ditungggu chapter 21 nya, and keep writing! =)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Arigatou gozaimasu!! I'm so happy that it inspires you :D Chapter 21 is up and I hope you like it!

      Delete
  9. halo kak!!,akhirnya juga chapter ini keluar, aku tuh setiap hari selalu bolak balik liat blog ini terus dalam hati "udh keluar blm ya?" dan akhirnya keluar juga, aku terharu loh kak ngebaca fanfic kakak, pokoknya aku kasih jempol deh buat kakak!, Ganbatte! :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih banyak atas dukungan dan kesabaran kamu :D I'm so touched!! Arigatou gozaimasu!

      Delete
  10. Kak semoga kerjamu sukses ya dan jangan lupa untuk lanjut ceritaa ini ya aku bakal sabar menunggu lo kak 😘😘

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih banyak atas dukunganmuu~ Aku akan berjuang di dalam kerjaku lebih baik lagi setiap hari. Cerita ini sudah lanjut dan akhirnya chapter 21 sudah up. I hope you like it!

      Delete
  11. Halo kak! Aaaa.. Menurut aku ceritanya seru banget kak! Aku baru nemuin fanfic yang ceritanya cool and seru kaya ginii.. alurnya ngalir, g bikin kepala bolak-balik.. and congratulation buat kelulusannya :D semoga sukses selalu ya kak!! ;D semangat juga bikin fanficnya, jangan capek-capek ya kak.. hehehehe >///<

    ReplyDelete

  12. Do you mind if I quote a couple of your posts as long as I provide credit and sources back to your blog? My blog site is in the very same niche as yours and my visitors would genuinely benefit from a lot of the information you present here. Please let me know if this alright with you. Many thanks! sign in to gmail

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...