Marrying Uchiha Sasuke - Epilogue

04:49 Melissa Gabriele 9 Comments

Marrying Uchiha Sasuke

Epilogue

Tokyo Skytree
Image source : jpkedaibiao.com

Disclaimer : I do not own Naruto


Waktu adalah salah satu misteri dan hadiah yang begitu luar biasa. Satu jam bisa terasa seperti satu tahun, sedangkan satu tahun bisa terasa seperti satu hari. Entah kenapa, bagi Sakura, lima tahun telah berlalu dengan cepat. Seakan-akan kemarin Itachi baru saja menjabat menjadi penerus Perusahaan Uchiha. 

Uchiha Sakura memandang Ibukota Jepang dari ketinggian 634 m. Tokyo Skytree yang terdiri dari kaca-kaca besar memperlihatkan pemandangan gedung-gedung kota yang indah. Sakura telah lahir di sini, hidup di sini dan melewati banyak pergumulan di sini. Tentu saja, ia juga sempat berkeliling dunia dan melewati banyak rintangan, tapi Tokyo tetap memiliki tempat kecil di hati Sakura.

Jujur saja, berjalan-jalan bersama keluarga adalah salah satu impian setiap wanita. Namun, pagi itu, Sakura tersenyum tipis. Ia sedang berada di tempat ini sendirian, jauh dari suami, ayah, ibu dan mertuanya. Ia hanya menikmati waktunya sendirian dan untuk sejenak ia bersyukur... bahwa ia masih memiliki waktu untuk berdiam sendiri dan memikirkan tentang kehidupannya.

Ada banyak hal yang terjadi lima tahun ini. Ia berjuang untuk mengandung dan gagal berkali-kali. Ia berangkat ke luar negeri dan masih terus gagal untuk mendapatkan anak. Kemudian ia belajar untuk mensyukuri proses berat ini, berusaha untuk bersabar dan menghargai hidup. Sasuke dan dirinya akhirnya menyerah untuk memiliki anak di tahun kedua. Sakura sempat stress luar biasa dan berangkat ke Korea untuk mengambil jurusan Operasi Plastik lagi. Awalnya ia mengambil ini karena sejak lama, ia memang ingin berguru dengan pakar-pakar Korea. Untungnya, suaminya itu berangkat bersamanya dan mereka sempat menetap dua tahun di Korea. Jika ia berpikir-pikir lagi, ia bersyukur belum memiliki anak saat itu. Ia jadi bisa memiliki pengalaman yang tidak pernah ia bayangkan, bersekolah lagi di Korea.


Tokyo Skytree
Image source : tripadvisor.com
Jepang tidak banyak berubah. Namun, keluarga mereka berubah banyak. Mikoto tidak sedingin dulu, Fugaku sudah sering mengajak keluarganya makan malam dan berlibur bersama. Ayah Sakura sudah berani berbicara soal Konan. Ternyata selama ini ayahnya malu dan menyesal karena telah mencintai wanita yang lebih muda. Namun, pada akhirnya Sakura tetap menghargai keputusan ayahnya. Paling tidak sekarang ayahnya dan Konan hidup bahagia. Bersama dengan Konan, ayahnya menjadi lebih bersemangat dan memulai bisnis dengan lebih bekerja keras dan jujur. Oh ya, Ino sudah tidak lagi bersama dengan Kisame dan kembali berteman dengan Sakura. Wanita bermarga Yamanaka itu berkata, lebih baik single daripada berada di hubungan yang merusak dirinya. 

Apa lagi yang berubah? Ah, Hinata dan Naruto telah memiliki dua anak. Sakura sempat mengajarkan anak Hinata yang pertama melipat origami dan menulis kaligrafi. Ya, sekarang anak mereka yang pertama sudah bersekolah. Luar biasa bukan?

Walau ada banyak yang berubah, ada banyak hal yang tetap sama. Itachi tetap sibuk dan ambisius. Kisame tetap melakukan bisnis ilegal dan mengejar Konan. Sayangnya, Konan selalu menolak cinta Kisame. Kelihatannya wanita itu memang benar-benar mencintai ayah Sakura. 

Lalu bagaimana dengan Sakura dan Sasuke? Mungkin ini masuk ke kategori berubah dan tidak berubah. Yang berubah adalah komunikasi mereka. Sakura merasa mereka menjadi lebih dekat, lebih erat dan lebih dewasa secara emosional. Sekarang mereka bisa membicarakan masalah dengan lebih tenang. Mencari titik tengah dan saling mengerti satu sama lain. Mereka berdua memang melewati banyak masalah, tapi dalam setiap cobaan, mereka saling belajar dan membangun satu sama lain. 

Yang tidak berubah dari hubungan mereka? Ah. Sasuke masih tidak bisa bernyanyi dengan indah. Suara pria itu tetap sangat sumbang. Mungkin jika anak Naruto mendengar suaranya, anak itu akan segera menangis dan lari ketakutan. Entah kenapa Sakura hanya bisa tertawa jika membayangkan hal itu. Satu lagi yang tidak berubah adalah kesabaran Sasuke. Walaupun Sakura masih belum bisa memiliki anak, pria itu masih saja terus mengajarkan Sakura untuk bersyukur bersama. 


Sakura's Marchesa-Notte Resort 2017, Lanvin Resort 2017
Image source : marchesa.com , thedapifer.com 
“Apakah Anda tidak apa-apa?”

Suara seorang wanita paruh baya di sampingnya membuat Sakura menoleh ke samping.

Wajah ibu itu tampak khawatir. Sakura hanya bisa tersenyum tipis dan mengangguk.

“Wajahmu terlihat pucat,” ibu itu melanjutkan.

Sebenarnya Sakura merasa tidak enak badan dan agak mual. Tiga minggu ini Sakura terus mual dan muntah-muntah. Jika ini terjadi padanya dua tahun yang lalu, mungkin ia akan berpikir bahwa ini adalah gejala kehamilan. Sekarang ia tidak ingin berharap banyak. Mungkin ia hanya stress atau maag. Lima tahun menunggu kehamilan membuat Sakura terbiasa dengan harapan palsu.

“Aku tidak apa-apa.” Sakura tersenyum lagi, “Sungguh.”

Sakura akhirnya berjalan menuju ke lift Skytree Tokyo. Ia menekan tombol lift dan termenung sebentar sambil menunggu lift itu sampai ke lantai paling atas. 

“Bagaimana kalau aku benar-benar hamil?”

Sakura kali ini menatap lift itu dengan semakin bingung. Mungkin tidak ada salahnya ia pergi ke rumah sakit setelah ini. Walaupun jawabannya tidak hamil, Sakura merasa ia sudah cukup kuat untuk menerimanya. Ia sudah bersikeras apapun jawabannya, ia akan mengucap syukur. Ia masih hidup, masih memiliki ayah dan ibu. Suaminya sayang padanya, mertuanya juga baik padanya. Kurang apa lagi? Ya. Ia akan bersyukur, apapun jawabannya.

XXX


Armani Store, Ginza
Image source : japan-photo.de
Uchiha Sasuke melangkah masuk ke lantai sepuluh Armani Store di Ginza. Di lantai itu, terletak restoran mewah berbintang yang bernama Armani Ristorante. Restoran bergaya modern kontemporer itu memiliki unsur-unsur emas dan hitam. Ruangan itu terkesan mewah, tapi masih ada garis-garis kehangatan di setiap desainnya.


Armani Ristorante
Image source : e-architect.co.uk
Hangat seperti senyuman ayahnya dari kejauhan. Dengan sopan, Sasuke melambai ke meja di dekat jendela. Ayah dan ibunya sedang duduk berbincang-bincang di sana. Namun, Sasuke hanya bisa menatap ponselnya dan memikirkan istrinya. Sebenarnya Sasuke sudah setuju ingin mengantar Sakura ke rumah sakit, tapi wanita itu bersikeras tidak ingin membatalkan acara makan keluarga Sasuke.

Jujur saja, ia agak khawatir. Bagaimana jika Sakura kecewa lagi? Wanita itu sempat berkali-kali menahan tangis setiap kali dokter berkata bahwa tidak ada bayi di kandungannya. Kalau saja wanita itu mendengar kabar buruk lagi— Entah apa yang harus Sasuke lakukan. Mungkin malam ini, Sasuke akan membeli Apel Fuji favorit Sakura beserta Pocky rasa stroberi. Istrinya mungkin akan merasa lebih baik. Kekanak-kanakkan mungkin, tapi terkadang hal-hal simple bisa membawa senyuman di wajah istrinya.

“Sasuke, apa kabar?” Ayahnya bangkit dari tempat duduk dan menjabat tangan Sasuke, “Itachi tidak bisa datang hari ini, tapi ia menitipkan salam lewat telepon. Oh ya dimana Sakura?”


Fugaku's Maison Margiela, Sasuke's Ermenegildo Zegna
Image Source : mrporter.com , mrporter.com 
“Sakura ada urusan penting, tapi ia juga menitipkan salam. Aku baik, bagaimana dengan ayah?” Sasuke merasakan kehangatan dari sikap Fugaku.

“I’m good, Son,” Ayahnya tersenyum hangat, “Ibumu dan aku akan berjalan-jalan ke Machu Picchu besok.”

“Sounds like an adventure.” Sasuke langsung menatap ibunya dengan heran, “Sejak kapan Ibu suka mendaki gunung?”

“Ayahmu memaksaku berolahraga bersama setiap pagi,” Mikoto menghela napasnya, “Mungkin ia sudah lupa umur kita berapa.”

“Olahraga itu baik untuk kesehatanmu Ibu.” Sasuke akhirnya duduk dan merapihkan kemejanya, “Oh ya, apakah kalian sudah memesan makanan?”

“The usual degustation,” Mikoto berbicara dengan singkat dan sopan.

“Menu itu lagi?” Sasuke menghela napasnya, “Ibu tidak bosan?”


Armani's Degustation, Mikoto's Elizabeth Kennedy F/W 2017 Dress
Image source : pinterest.com , modaoperandi.com
“Ibumu tidak suka mencoba hal-hal baru.” Fugaku tersenyum hangat, “Mungkin ini salahku juga, karena saat kami muda dulu, aku terlalu sibuk bekerja.”

“Aku saja kaget ayah berhasil mengajak ibu pergi mendaki gunung.”

“Ia sudah menolak berkali-kali.” Fugaku meneguk air putihnya, “Untungnya aku tidak menyerah.”

“Kalian berhati-hati di Machu Picchu ya.” Sasuke tampak khawatir, “Ingat, jangan lupa stand by helikopter dan security. Ayah, kau memang sudah sehat sekali sekarang, tapi ingat kau pernah punya sejarah stroke. Ibu, kau juga hati-hati, kau tidak pernah mendaki gunung sebelumnya.”

“Sejak menikah dengan Sakura, kau jadi sangat perhatian dan cerewet.” Fugaku menjahili anaknya.

“Aku berlatih lebih bersuara agar tidak ada kesalahpahaman,” Sasuke melanjutkan.

“Well, that helps a lot,” Fugaku mengangguk, “Now, we know you care about us.”

“Hn.” 

Kali ini Sasuke terdiam sejenak. Walau ia sudah dewasa tapi agak malu juga mengakui bahwa ia semakin menyayangi orangtuanya. Yah, mau diapakan lagi, mungkin ini harga diri pria.

Kali ini ponsel Sasuke berdering. Ia tidak menggunakan silent mode karena ia khawatir akan ada sesuatu yang terjadi dengan istrinya. Benar saja, ternyata Sakura menelponnya saat ia dan keluarganya masih menunggu makanan.

“Ayah, ibu, sebentar ya, aku mengangkat telepon ini dulu.”

Setelah Sasuke ke luar restoran, ia langsung mengangkat teleponnya. Hatinya berdetak luar biasa keras. Entah kenapa ia khawatir, bercampur penasaran. Kenapa Sakura menelponnya?

“Halo? Sakura?”

“Sasuke, tadinya... aku ingin memberi tahu kabar ini sampai kita bertemu secara langsung, tapi—”

“Tapi?”

“Well, jadi aku ternyata sudah hamil hampir satu bulan.”

Kali ini Sasuke dapat merasakan kebahagiaan luar biasa meliputi seluruh jiwanya. Mungkin jika ia dapat melayang, ia sudah melayang sekarang. Ia akan menjadi ayah! Penantiannya selama lima tahun akhirnya datang. Ternyata memang benar, semuanya terjadi tepat pada waktunya. Jika ia bersabar dan bersyukur— penantian itu pasti akan datang sendiri.

“Sakura, aku sangat senang mendengarnya—”

“Jangan senang dulu.”

“Kenapa?”

Kali ini Sasuke dapat merasakan rasa khawatir di dadanya. Firasat buruk mulai menghiasi pikirannya.

“Ada kemungkinan aku bisa keguguran.”

“Apa ini karena usia?”

“Bukan soal itu sih—” Sakura terdengar agak percaya diri, “Aku sudah menjaga kesehatanku dan aku sudah mengikuti program agar janinku kuat... tapi—”

“Tapi?”

“Saat aku pulang dari rumah sakit. Aku menemukan Kisame pingsan di tengah jalan.”

“Lalu?”

“Aku berlari mengangkat Kisame yang pingsan ke dalam mobilku. Saat aku sampai di rumah sakit, aku khawatir janinku mungkin akan terganggu karena kontraksi yang berlebihan. Perutku terasa agak sakit.”

Kali ini Sasuke hanya bisa mendengar Kisame dan janin yang terganggu. Kenapa ada dua kombinasi aneh ini di satu kalimat yang sama? Pada tahun ketiga pernikahan mereka, Sakura bercerita soal kegugurannya yang dikarenakan oleh Kisame. Sebenarnya, Sasuke sudah memaafkan dan merelakan kejadian itu. Namun, kenapa Sakura harus bertemu dengan Kisame di saat penting seperti ini? Menyelamatkannya lagi. Bagaimana jika bayi mereka—

“Tapi, jangan khawatir.” Sakura terdengar lebih lembut dari biasanya, “Kau sendiri yang bilang, apapun yang terjadi kita harus bersyukur.”

“Sakura...”

“Aku akan tinggal di rumah sakit lebih lama lagi untuk pemeriksaan ulang. Kalau kau sudah selesai makan, boleh temui aku di rumah sakit?”

“Ya, tentu saja.” Sasuke menarik napasnya dalam-dalam, “Oh ya, Sakura...”

“Hm?”

“Stay strong. I’ll be there soon.”

Entah kenapa Sasuke bisa membayangkan senyuman wanita itu dari kejauhan.

XXX


University of Tokyo Hospital
Image source : u-tokyo.ac.jp
Uchiha Sakura dapat merasakan air mata turun dari wajahnya. Biasanya ia selalu menahan tangis, tapi kali ini ia tidak bisa menahannya. Sebenarnya ia sempat ragu ingin menyelamatkan Kisame. Pria itu telah melakukan banyak hal jahat padanya dan pada banyak orang. Namun, pria itu tergeletak di tepi jalan yang sepi dan wajahnya pucat. Jika Sakura tidak menolongnya, ia tidak tahu kapan orang lain akan segera menolongnya.

Sebagai seorang dokter, ia tahu tenaga medis harus bekerja dengan cepat... Jika tidak, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi pada pasien. Mungkin saja Kisame bisa meninggal dunia dan itu akan menjadi salah Sakura. Jika sudah melihat dan tidak menolong, apa bedanya Sakura dengan seorang pembunuh?

“Kenapa kau menangis?”

Kali ini suara suaminya membuat Sakura menghapus air matanya dengan cepat.


Sakura's Vilshenko pants, Sasuke's Ermenegildo Zegna
Image source : modaoperandi.com , mrporter.com
“Sasuke...”

“Apakah kau tidak apa-apa? Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi.”

“Aku menangis terharu.”

“Terharu?”

Sebenarnya Sakura tahu kemungkinan janinnya keguguran tidak sebesar Kisame meninggal. Masalahnya adalah apakah ia akan memilih kepentingannya sendiri atau kepentingan orang lain. 

Ia bersyukur ia akhirnya memilih untuk benar-benar memaafkan dan melakukan apa yang benar.

“Kisame hampir meninggal... Jika aku tidak datang tepat waktu, mungkin ia tidak akan ada di sini.”

“Bagaimana dengan anak kita?”

“Anak kita sehat. Dokter sudah melakukan pemeriksaan ulang dan janinku benar-benar masih kuat. Kata dokter, perasaan tidak enak di perut tadi, hanyalah faktor psikologis saja.”

“Sakura, that’s really good to hear.”

Kali ini suaminya memberikan sapu tangan dan menghapus air mata Sakura. Pria itu tampak lega dan turut berbahagia mendengar kabar dari istrinya. Akhirnya setelah sekian lama Sasuke dan Sakura akan menjadi orangtua. Penantian mereka, pengorbanan mereka, semuanya membuahkan hasil yang luar biasa.

“Aku bersyukur, aku tidak meninggalkan Kisame.” Sakura tersenyum tulus, “Kau tau apa kata-kata Kisame di ranjang rumah sakit tadi?”

“Apa?”

“Kisame berkata ia menyesal. Ia mengejar kekayaan, Konan, kekuasaan, tapi tidak merasa puas sampai sekarang. Aku dapat merasakan luka batin yang luar biasa di hati Kisame... Kemudian ia menangis, meminta maaf dan berterimakasih padaku.”

Kali ini Sakura menangis lagi. Ia tidak menyangka kata-kata itu akan keluar dari mulut Kisame. Ekspresi Kisame yang biasanya percaya diri berubah menjadi lemah dan tidak berdaya. Pria itu telah melewati begitu banyak hal di dalam kehidupannya.

“Kau tahu bahwa itu alasan ketiga aku menyukaimu bukan?”

“Eh?”

“Alasan ketiga adalah kau mau memaafkan.”

“Tapi waktu pertama kali menikah, aku masih belum memaafkanmu bukan?”

“Ya.” Sasuke mengangguk, “Tapi sebagian dari hatiku berpikir, kalau orang ini bisa memaafkan perbuatanku. Aku pasti akan mencintainya dengan segenap hatiku.”

Kali ini Sakura ikut mengangguk, “Semoga kita bisa mengajarkan itu pada anak kita, untuk saling memaafkan.”

Sakura mengelus perutnya dan berpikir sejenak. Sebenarnya selain bersyukur, ia belajar untuk memaafkan. Ia memaafkan ayahnya, Kisame dan Sasuke. Terlebih lagi, Sakura memaafkan dirinya sendiri dan masa lalunya yang penuh dengan kesalahan. Ia ingin bersyukur, menjalani hidupnya yang baru dengan penuh semangat.

Sebenarnya hidup ini seperti sebuah lomba lari, estafet. Kita hanya bisa berlari dengan sekuat tenaga dan memberikan baton kepada pelari berikutnya. Untuk saat ini, Sakura tahu pelari berikutnya adalah anaknya. Ia tidak lagi hidup untuk dirinya, tapi untuk masa depan sebuah generasi baru. Tidak hanya anaknya, tapi juga anak Naruto dan anak-anak negeri ini.

Apapun yang Sakura pelajari dan alami, akan menjadi elemen dalam hidup baru generasi berikutnya. Karena itulah ia hanya bisa terus belajar, bersyukur dan berlari sekuat tenaga.

Mungkin ini adalah alasan ia lama memiliki seorang anak. Ia harus dibuat dewasa dan matang terlebih dahulu. Ia juga dibuat lebih mudah berkomunikasi dengan Sasuke dan tidak lagi marah karena hal-hal kecil. Suaminya juga telah berubah menjadi lebih dewasa dan tidak lagi dingin dan jauh darinya. Sekarang Sasuke jauh lebih perhatian, tidak takut memberikan pendapatnya dan lebih hangat. Ia telah belajar untuk memaafkan dan bersyukur. Bahkan ia sudah menjadi lebih dekat dengan keluarganya dan mertuanya. Sekarang, jika anaknya lahir di kondisi seperti ini. Alangkah baiknya. 

Ia sadar sekarang...

Kita semua adalah bibit masa depan seseorang di luar sana.

We are building someone else’s future.

XXX

EPILOGUE END

XXX

A/N:

Thank you for reading this story until the end. Aku sangat senang kalian membaca cerita ini sampai epilog. Sebenarnya epilog ini terinspirasi dari kisah nyata. Temanku memiliki tante yang sangat sulit punya anak, kemudian saat punya anak, ia harus menyelamatkan temannya dan menggendong temannya ke rumah sakit. Ini bisa membahayakan kandungannya, tapi ia berdoa dan berserah pada Tuhan. Ia tahu bahwa meninggalkan temannya memang bisa membuat kandungannya aman, tapi itu adalah tindakan yang egois dan temannya bisa sekarat. Namun, ia akhirnya memilih tindakan yang benar. Ia mengedepankan kepentingan orang lain daripada kepentingannya sendiri dan menggendong temannya ke rumah sakit.

Tuhan baik dan mujizat sungguh nyata, tante ini sekarang punya dua anak kembar. Ia bersyukur juga lama baru bisa memiliki anak karena ia jadi lebih dewasa dan lebih bisa menghargai anaknya yang merupakan hadiah dari Tuhan.

Soal waktu, aku belajar banyak dari quotes orang bijak ini:

“New York memiliki perbedaan waktu 3 jam di depan California tetapi tidak berarti bahwa California lambat, atau bahwa New York lebih cepat. Keduanya bekerja berdasarkan waktu mereka sendiri "Time Zone."

Seseorang masih single. Seseorang menikah dan menunggu 10 tahun sebelum memiliki anak. Ada lagi yang punya bayi dalam waktu satu tahun pernikahan.

Seseorang lulus pada usia 22, namun menunggu 5 tahun sebelum mengamankan pekerjaan yang baik. Ada lagi yang lulus di 27 dan sudah bekerja di tempat impiannya. Seseorang menjadi CEO pada 25 dan meninggal pada 50, sementara yang lain menjadi CEO pada 50 dan hidup sampai 90 tahun.

Semua orang bekerja berdasarkan adanya 'Time Zone', Kolegamu, teman-temanmu, yang lebih muda mungkin "tampak" untuk mendahului kamu. Beberapa orang lain mungkin "tampak" di belakangmu. Ini hanyalah ‘Time Zone’
.
Kamu tidak terlambat ... Kamu tidak terlalu awal ... kau tepat waktu!
You are in your Time Zone.”


Dan aku juga jadi selalu belajar, aku sendiri juga tidak tahu hidupku akan menjadi seperti apa. Masa depan siapa yang akan terpengaruh oleh keputusan-keputusan hidupku. Aku hanya bisa terus berlari dan berusaha memilih yang tepat.

“He has made everything appropriate in its time. He has also set eternity in their heart, yet so that man will not find out the work which God has done from the beginning even to the end.” - Ecclesiastes 3:11 –

Sekali lagi terima kasih sudah membaca ini, aku belajar banyak dari menulis ini.  Saat aku awal menulis cerita ini aku masih SMA, masih banyak melakukan kesalahan dan harus banyak belajar. Aku merasa bertambah dewasa bersama dengan kalian. I can’t believe we’re already at the end of the story guys. Sungguh, kalian sangatlah berharga dan akan menaruh bibit dalam masa depan seseorang. Semua tindakan dan keputusan kalian bisa berpengaruh dalam kehidupan seseorang karena kalian penting, berharga dan luar biasa. You are loved, precious and gifted. 

Special thanks to my beloved best friend and beta reader: bitterchoco23.

Without her, I wouldn’t have made it this far. She is lovely, brave, an aspiring doctor-to-be and a life coach. Thank you for being my real life best friend, beta, I love you.

Once again thank you for your support dear readers and my beautiful beta reader! God bless!

<<Previous chapter

9 comments:

My First Love is My Housekeeper - Chapter 8

04:58 Melissa Gabriele 1 Comments

My First Love is My Housekeeper 

Chapter 8

Genmaicha

Tokyo Palace Hotel
Image source : visa.com

Disclaimer : I do not own Naruto


Uzumaki Naruto mengatur nafasnya dengan perlahan. Satu, dua, tiga, empat. Tarik napas pelan-pelan, keluarkan pelan-pelan. Ya. Ia yakin seratus persen, hal yang sedang ia lakukan sekarang bukanlah hal yang baik. Sejak kecil ia sudah ditanamkan nilai-nilai moral dari ibunya.

Tentu saja ia tahu bahwa menguping pembicaraan orang lain bukanlah hal yang patut untuk dilakukan. Namun, Hinata dan Itachi sedang berada di ruangan yang sama, berdua saja! Tentu saja Naruto harus mendengar pembicaraan mereka. 

Hinata pernah berbicara dengannya di Pulau Bintan mengenai hal ini. Wanita itu akan berbicara terlebih dahulu dengan Itachi mengenai keputusannya untuk menyerahkan diri ke kepolisian. 

Sebagai orang yang mencintai Hinata, tentu saja Naruto menghormati semua keputusan wanita itu. Di penjara pun, Naruto akan tetap mengunjungi Hinata. Siapa tahu dengan berjalanannya waktu, wanita itu akan mencintainya. Ia siap melewati segala rintangan untuk memperjuangkan gadis itu. Namun, perjuangan ini juga diliputi dengan rasa khawatir. Bagaimana jika ada hal yang buruk yang terjadi kepada Hinata?

Naruto menatap layar-layar CCTV yang ada di hapadannya dengan gugup. Sebenarnya ruangan VIP Palace Hotel, Tokyo tidak memiliki CCTV, tapi Naruto menyedikannya khusus untuk hari ini. Ia bekerja sama dengan pemilik hotel untuk mengurus semuanya. Ia melakukan ini untuk keamanan Hinata. 

Di balik layar CCTV, ruangan VIP itu terlihat dengan jelas. Sang artis kekinian dapat melihat dinding dan lantai kayu yang terlihat tradisional. Tirai-tirai kayu dan lentera kuno membuat ruangan itu terlihat kaku. Namun, ada sentuhan modern dari sofa dan jendela kaca yang memperlihatkan kota Tokyo. 

Sebenarnya ruangan ini mirip dengan Hinata... begitu tradisional, tapi juga begitu elegan dan modern. Wanita cantik itu tampak formal dengan blazer dan kemeja. Mungkin ini adalah pakaian yang biasa Hinata kenakan saat menjadi pengacara. Entah apa yang akan dikatakan pengacara cantik ini pada Itachi. Apakah Hinata akan mengeluarkan undang-undang hukum? Ataukah justru bernegosiasi soal kasus ini? Naruto sangat gugup menatap mereka berdua. Semoga saja, tidak ada hal buruk yang terjadi.

Hinata's Alexander McQueen Blazer & Itachi's Thom Sweeney Tux
net-a-porter.com , mrporter.com
“Itachi-san.” Suara Hinata yang halus bergema di ruangan CCTV, “Kau mungkin sudah mendengar bahwa kepolisian sedang mencurigaiku.”

Fokus Naruto langsung berpindah pada Itachi. Kakak laki-laki Sasuke itu sangat mirip dengan adiknya. Hanya saja kerutan di dahinya dan wajah yang cukup serius membuat pria itu tampak sedikit berbeda. 

“Apakah itu alasan kau menghilang dari Jepang?” 

Hinata menatap ke lantai dengan masam, kemudian ia menarik napas yang panjang.

“Ya.” Hinata tersenyum pahit, “Aku sudah gagal menjadi seorang pengacara.”

Kali ini Itachi mengangguk dan menatap Hinata dengan lebih lembut dari sebelumnya. Entah mengapa Naruto dapat merasakan rasa kasihan datang dari dalam hati pria itu. Meskipun Itachi terlihat seperti orang yang serius dan dingin, tapi kelihatannya pria ini lebih memiliki rasa empati daripada Sasuke.

“Kau tidak gagal.” Suara Itachi terdengar lebih lembut. 

“Jika aku menyerahkan diri ke kepolisian sekarang, karirku sebagai pengacara pasti akan berakhir...” Suara Hinata terdengar semakin samar-samar, “Namun, aku tahu... keputusan ini lebih baik daripada terus berlari dari kenyataan.”

“Kau tidak gagal,” Itachi melanjutkan, “Kau tahu kenapa?”

Kali ini Hinata terdiam. Meskipun ekspresi wajah gadis terlihat lesu, tapi Hinata masih mempertahankan tatapan matanya yang serius. Wanita itu masih mendengarkan Itachi dengan seksama... Entah kenapa Naruto merasa, ada sebagian dari diri wanita itu yang terus berharap. 

Harapan untuk terus menjadi seorang pengacara ada di bola mata hitamnya. Seakan-akan dokumen-dokumen palsu itu tidak ada. Seakan-akan Hinata bisa memulai lembaran yang baru. Tatapan itu sangat Naruto kenali. Tatapan itu adalah tatapan yang penuh dengan ambisi dan harapan.

Itachi melanjutkan, “Apakah kau tidak merasa aneh? Saat kau ditangkap waktu itu, polisi terus mencari bukti, tapi mereka tidak menemukan apa-apa.”

“Itu...”

“Saat kau dilepaskan dan kau kabur dari rumahmu, polisi tidak mengirim detektif untuk mencarimu.” Itachi terdengar semakin serius, “Kau hanya digosipkan di beberapa majalah dan tabloid, tapi namamu sama sekali tidak muncul di surat kabar.”

Kalau dipikir-pikir, Naruto tidak pernah mendengar kabar serius mengenai Hinata. Ia hanya tahu ada kasus semacam ini saat Kushina bertemu dengannya di Singapore. Sebenarnya kata-kata Itachi benar juga. Kenapa bisa seperti ini?

“Polisi tidak bisa menangkapmu, karena kau memang tidak bersalah.”

“Apa maksudmu Itachi-san?”

“Aku tidak jadi menyerahkan dokumen palsu itu ke pengadilan.  Semua sudah kubakar. Aku menjalankan proses hukum dengan jujur.”

Naruto dapat melihat kelegaan muncul di wajah Hinata. Sebenarnya latar belakang Naruto hanyalah sebagai artis dan pembisnis. Ia tidak tahu banyak soal hukum. Namun, secara logika... Jika tidak ada dokumen palsu di pengadilan, itu artinya Hinata tidak bersalah. Jika Hinata tidak bersalah itu artinya wanita itu bebas! Tidak perlu bersembunyi lagi, tidak perlu ditentang oleh Kushina lagi. 

Sekarang Naruto bisa dengan bebas mengejar wanita pujaannya! 

“Itachi-san.” Suara Hinata kembali terdengar, “Kenapa kau memutuskan untuk menjalani prosedur hukum dengan jujur? Bukankah dengan ini dendamu akan lebih besar?” 

“Hutang budi.”

“Atas?”

“Kau telah menyelamatkan nyawaku dulu. Ingat CPR yang kau berikan padaku?” Itachi melanjutkan, “Kau sebenarnya sangat baik Hinata-san. Maafkan aku, waktu itu aku terbawa emosi dan memaksamu.”

“Tidak. Aku tidaklah baik hati...” Hinata menutup matanya sejenak.

“Kalau kau tidak baik hati, aku apa?” Itachi menaikan satu alisnya, “Sudahlah, jika kasus ini selesai, aku harap kau bisa berhenti murung seperti itu.”

“Ah, maaf.” Hinata berhenti terlihat murung dan langsung memaksakan senyuman yang kaku.

“Untuk apa minta maaf?” Itachi menggelengkkan kepalanya, “Daripada tersenyum kaku, lebih baik kau pergi dan temui artis terkenal itu.”

“Naruto-kun?”

“Aku sudah mendengar gosipnya. Walau majalah hanya sempat memotret bayanganmu dari belakang. Namun aku tahu, wanita misterius Uzumaki Naruto itu kau bukan?”

“Aku tidak pantas untuk bersama dengannya. Aku bahkan tidak pernah berpacaran. CPR waktu itu adalah ciuman pertamaku. Aku tidak berhak untuk bersama dengan siapapun.”

Naruto langsung tersenyum senang. Jika CPR itu adalah ciuman pertama Hinata. Itu artinya... ciuman yang cepat dan dingin yang Hinata katakan waktu itu adalah CPR? Hanya prosedur kedokteran? Entah kenapa Naruto merasa sangat lega... Namun, di saat yang sama ia merasa kasihan. Meskipun Naruto tidak pernah berpacaran, itu karena ia memang cuek. Namun, Hinata berbeda. Wanita itu tidak pernah berpacaran, karena ia tidak punya kepercayaan diri. Hinata tidak mencintai dirinya sendiri. 

Apakah kita bisa menerima cinta orang lain, jika kita tidak mencintai diri kita sendiri terlebih dahulu? 

“Kau selalu seperti itu.” Itachi melipat tangannya dan menatap Hinata dengan serius.

“Seperti apa?”

“Menkritik dirimu sendiri, merasa tidak pantas, merasa tidak berhak untuk bersama dengan siapapun.”

Kali ini Naruto terdiam dan menatap Hinata dengan lembut. Sebenarnya kata-kata Itachi benar. Walaupun di Pulau Bintan, Hinata sudah terlihat lebih berani, tapi ternyata di hati Hinata masih ada rasa benci terhadap diri sendiri. Masih ada kritik yang begitu besar... Padahal di mata Naruto wanita itu begitu luar biasa.

“Itachi-san... aku memang tidak pantas dan tidak berhak untuk bersama dengan siapapun.”

“Lalu? Kita semua manusia. Kita tidak sempurna, tapi kita akan terus berkembang setiap hari.” Itachi mulai merapikan dasinya dan bangkit berdiri.

Pengacara itu terdiam sejenak. Entah kenapa ditegur oleh orang seperti Itachi tajam juga. Naruto merasa jika Itachi yang cukup jahat saja punya kepercayaan diri, masa seorang Hinata yang seperti bidadari itu malah membenci dirinya sendiri?

“Hinata-san, maaf tapi aku harus pergi setelah ini.” Itachi membungkuk, “Jangan terlalu banyak pikiran... Semoga saja setelah ini kau bisa menerima dirimu apa adanya.”

Ya... Jika saja Naruto bisa membuat Hinata melihat dirinya sendiri dengan lensa mata Naruto.  Mungkin wanita itu bisa melihat kebaikan hati, keberanian, kegigihan dan kelemah lembutan. Jika saja ia bisa meminjamkan bola mata ini... Wanita itu mungkin bisa melihat cahaya yang sebenarnya terpancar dari dalam diri Hinata. 

XXX

Naruto's Penthouse
Image source : interiii.com
Sang artis kekinian itu langsung kabur dari ruangan CCTV dan pulang ke rumah. Jika ia bertemu dengan Hinata di hotel, bisa rumit masalahnya nanti. Namun, jika dipikir lagi, ia jadi ingat percakapan di hotel tadi. Ia memandang dinding ruang tamunya dan menghela napas panjang. 

“Bagaimana caranya membuat orang lain percaya diri-ttebayo?” 

Naruto menaikan satu alisnya sambil berbicara sendirian.

Entah kenapa menyukai seseorang itu sangat memusingkan. Padahal ia pikir semuanya itu mudah, seperti di sinetron. Kalau sudah jatuh cinta, sudah melewati larangan ibu yang galak, kemudian melewati masa lalu yang kelam... Harusnya pasangan itu saling bersama bukan?

Naruto sudah jatuh cinta dengan Hinata, kemudian ia sudah menentang Kushina, Hinata juga sudah melewati jeratan hukum penjara. Sebenarnya Naruto harus bagaimana lagi? Semua rintangan sudah dilalui... Kenapa wanita itu masih tidak bisa menerima cintanya?

Apakah memang karena tidak percaya diri?

Kalau begitu harus bagaimana agar wanita itu percaya diri?

“Apakah aku harus terlihat bodoh?” 

Naruto menatap bayangannya di depan kaca, “Mungkin kalau aku terlihat bodoh, Hinata bisa lebih percaya diri.”

Ya, bisa juga bukan? Namun, selama ini Naruto sudah banyak berbuat hal bodoh. Lihat, wajahnya saja sudah cukup untuk membuat orang lain tertawa. Sebenarnya, peran-peran film Naruto juga rata-rata pasti punya unsur humornya. Jika dia sudah bodoh dan Hinata tetap tidak percaya diri.... Maka ia harus lebih bodoh lagi begitu?

“Argh! Tapi kalau aku tambah bodoh, nanti aku semakin tidak keren!” Naruto menggaruk-garuk rambutnya.

Ia sudah benar-benar pusing. Otaknya tidak pernah digunakan untuk mengejar wanita sebelumnya. Selama ini ia selalu mengikuti aba-aba dari direktur film dan membaca script. Ia benar-benar tidak tahu ternyata jatuh cinta di dunia nyata itu penuh dengan kegalauan.

Perlahan Naruto dapat mendengar suara pintu rumahnya terbuka. Kemudian ia langsung berlari ke pintu masuk, menunggu-nunggu Hinata yang baru pulang dari hotel.

Hinata's D&G Dress, Naruto's ASOS Shirt
Image source net-a-porter.com , asos.com
“Naruto-kun?”

Saat ia sampai di foyer, ia langsung menatap wanita pujaannya. Gadis itu sudah mengganti baju formal kantoran tadi dengan dress santai. Senyuman ringan di wajahnya terlihat lebih damai, berbeda sekali dengan ekspresi gugupnya sebelum berbicara dengan Itachi.

Sebenarnya kalau dilihat sekilas, Hinata yang elegan dan cantik memang terlihat percaya diri. Namun, kata orang memang benar, orang yang paling banyak tersenyum di depan umum.... biasanya paling sedih saat sendirian. Biasanya orang yang terlihat percaya diri, justru memiliki kegelisahan yang tinggi.

“Bagaimana percakapanmu dengan Itachi?”

Sebenarnya Naruto sudah tahu apa jawaban wanita itu, tapi rasanya aneh jika ia berkata ia menguping dari CCTV. Mungkin pengacara pintar ini justru yang akan membawa Naruto ke pengadilan. 

“Ternyata Itachi-san tidak menggunakan dokumen palsu yang kubuat, karena itulah selama ini polisi tidak mencariku.” Hinata tersenyum tipis, “Itu artinya aku masih bisa menjadi pengacara seperti dulu.”

“Lalu apa rencanamu sekarang-ttebayo?” 

Kali ini senyuman Hinata terlihat lebih cerah dari sebelumnya, “Paginya aku ingin menjadi pengacara dan saat pulang aku ingin terus bekerja di sini.”

“Kau masih ingin menjadi pengurus rumahku?” Naruto tersenyum senang.

“Iya bekerja di sini tetaplah kewajibanku. “ Hinata tersenyum, “Lagipula saat memasak di rumahmu, aku juga bisa mengolah resep baru.”

“Mengolah resep apa?”

“Aku ingin bereksperimen dengan teh dan mousse.”

“Teh dan tikus?!” Naruto langsung berteriak kaget, “Hinata kau ingin membuat teh yang diseduh dengan mayat tikus?!”

Kali ini Hinata menahan tawanya. Sang artis tidak tahu kenapa gadis itu ingin tertawa. Seingat Naruto mousse itu memang Bahasa Inggris dari tikus. 

“Naruto-kun... Mousse bukan mouse.” Hinata membetulkan.

“Memangnya berbeda ya?” Naruto menaikan satu alisnya.

“Mousse adalah makanan penutup yang bahan utamanya terbuat dari putih telur, krim dan gelatin.”

“Oh!”

Sekarang Naruto merasa dirinya bodoh sekali. Luar biasa, ia tidak mencoba untuk bodoh saja sudah bodoh. Jika ini tidak membuat percaya diri Hinata naik, ia tidak tahu ia harus menjadi sebodoh apa.

“Aku bisa memasak untukmu sekarang kalau kau mau.”

“Benarkah?” Naruto tersenyum lebar.

Hinata dengan cepat berjalan ke dapur. Wanita itu mulai membuka kulkas dan mengeluarkan beberapa bahan dasar seperti putih telur dan bahan-bahan lainnya. Eskpresi wajah wanita itu penuh dengan semangat. Jemari-jemari halus Hinata bekerja dengan cepat. Dalam sekejap bahan-bahan sudah tertata rapih di atas meja.

Seperti biasa, Naruto akan menonton televisi jika Hinata memasak. Dengan santai, Naruto memilih saluran televisi dengan remote control. Tidak ada acara yang menarik, sampai ia akhirnya menatap saluran televisi Uchiha.

“Hinata!” Naruto langsung berteriak kaget, “Sasuke telah menyiarkan Masterchef Selebriti!”

Acara itu sudah setengah jalan. Naruto dapat melihat Sasuke dan juri lainnya mulai mencicipi makanan-makanan peserta. Adegan Sakura dan Sasuke yang bertengkar langsung membuat Naruto kaget. Seingat Naruto, ia sudah meminta pihak televisi untuk memotong bagian pertunangan Sakura dan Naruto. Semoga saja adengan itu tidak disiarkan, kalau sampai disiarkan entah bagaimana jadinya.

“Ah, apakah itu Masterchef yang ada di Singapore waktu itu?” Hinata berbicara sambil mengocok telur.

“Iya.” Naruto langsung merasa lega, ternyata bagian pertunangan waktu itu dipotong.

Setelah banyak peserta dievaluasi, acara itu akhirnya selesai. Pemenangnya adalah pemenang yang waktu itu. Lucunya, jadi tidak ada sesi eliminasi. Sasuke telah membuat acara itu berakhir di satu episode saja.

Loh? Kenapa setelah ini malah ada ekstra klip? Naruto dapat melihat adegan terakhir Masterchef itu sekarang penuh dengan behind the scene. Di sana ada Naruto yang sedang bersin berkali-kali karena tepung terigu. Ah! Lagi-lagi dia sama sekali tidak keren! Bagaimana ini?

Kali ini Hinata tertawa kecil. Wanita itu melihat layar televisi sambil menata adonannya. Sebenarnya Naruto memang terlihat bodoh, tapi kalau kebodohannya bisa membuat gadis itu tertawa... Mungkin tidak apa-apa.

“Hinata, kalau kau tertawa kau terlihat lebih santai,” Naruto tersenyum hangat.

Kali ini Hinata tampak agak merona. Wanita itu langsung membungkuk dan mengucakan terimakasih. Lucu sekali!

Meringue
Image source : yuppiechef.com
Kali ini Naruto berjalan mendekati Hinata sambil menatap adonan mousse yang sedang dibuat. Adonan itu terdiri dari krim kocok yang kental, kemudian Hinata aduk dengan putih telur yang sudah naik. Putih telur yang mirip dengan awan itu Hinata aduk perlahan seakan-akan Naruto sedang melihat busa ringan dari wonderland.

“Wah seperti busa ya...” Naruto menatap adonan.

“Iya, mousse memiliki tekstur yang ringan dan halus.” Hinata menjelaskan, “Biasanya mousse dibuat dengan cokelat.”

“Loh, tapi hari ini kau membuatnya dengan teh bukan?”

“Iya, aku ingin bereksperimen dengan teh Gemaicha.” Hinata tersenyum hangat.

“Apakah ini teh yang kau suka?”

“Aku suka rasa dan sejarahnya... Apakah Naruto-kun tahu bahwa teh Genmacha dibuat secara tidak sengaja... Seorang pengerajin teh tanpa sengaja menjatuhkan beras di dalam teh hijaunya.”

Naruto dapat melihat tatapan Hinata semakin segar membahas teh ini. Kelihatannya teh Geinmacha ini sangat spesial.

“Teh ini lahir karena kecerobohan seseorang.” Hinata tersenyum hangat, “Terkadang apa yang dianggap kegagalan justru bisa membuahkan sesuatu yang baru dan indah.”

“Ah! Kau melakukannya lagi!” 

“Eh?” Hinata tampak bingung, “Bolehkah aku tahu apa yang aku lakukan?”

“Kau menatap ke langit pelan-pelan dengan wajah dreamy... Lalu mengatakan kata-kata mutiara.” 

“Ah. Maafkan aku.” Hinata langsung membungkuk.

“Tidak perlu minta maaf-ttebayo!” Naruto tertawa, “Justru menurutku kau terlihat seperti putri-putri dongeng ketika melakukannya.”

Kali ini wajah Hinata merona lagi.

“Sebenarnya hidup itu mirip Genmaicha.” Naruto mengambil serpihan daun teh itu dan menikmati aroma berasnya sejenak.

Genmaicha Tea
Image source : myjapanesegreentea.com
“Bolehkah aku tahu kenapa mirip?”

“Kita melewati banyak kegagalan... tapi di balik itu semua, kita justru menemukan hal baru yang indah.”

“Kau benar...”

“Contohnya aku gagal merapihkan rumah, jadi aku membutuhkan pengurus rumah. Lalu kau muncul Hinata. Kau adalah hal yang indah itu.”

Kali ini Hinata tidak berani menatap wajah Naruto... Mungkin ia malu. Mungkin saja kali ini kepercayaan Hinata bisa bangkit lebih tinggi lagi.

XXX

Minato telah menghabiskan waktu lima tahun untuk mencari anaknya. Keputusannya buat... ia akan menemukan anak itu. Sebenarnya ia mendengar bahwa mantan pacarnya, Kushina sebenarnya telah melahirkan di rumah sakit sahabatnya. Ia kenal sifat Kushina, ia tahu anak itu pasti miliknya.

Sebenarnya hatinya penuh dengan rasa khawatir. Bagaimana caranya Kushina tega tidak memberitahu padanya soal anak ini. Jika saja wanita itu mengatakan padanya, Minato pasti akan mengasuh anak itu.

Jujur saja cinta antara Minato dan Kushina tidak lagi ada. Minato sudah memiliki istri lain, walau hanya karena pernikahan bisnis. Namun, entah kenapa hatinya terus merindukan anak itu. 

“Bagaimana jika kau menemukan anak itu?” Detektif itu bertanya pada Minato.

“Aku akan melakukan segala cara untuk mendapatkannya kembali.”

XXX

TBC

XXX

1 comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...